Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ANALISIS POTENSI PENGHEMATAN ENERGI PADA


BOILER DI PABRIK TEKSTIL

Kelompok 1 :

M. Hanif Fatin 061440410777


Rizki Meilani 061440410782
Weny Septiani 061440410786
Yosirham Abdu Salam 061440410788

Kelas : 6 EG.A

Dosen Pembimbing : Zurohaina, S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PRODI D-IV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Analisis
Potensi Penghematan Energi pada Boiler di Pabrik Tekstil. Kami juga
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah
Manajemen Energi Politeknik Negeri Sriwijaya yang sudah memberikan
kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini. Kami sangat berharap
makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan juga
wawasan menyangkut potensi penghematan pada boiler.
Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan
adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua orang
khususnya bagi para pembaca.Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika
terdapat kata-kata yang kurang berkenan.

Palembang, April 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul................................................................................................ i

Kata Pengantar ............................................................................................... ii

Daftar Isi......................................................................................................... iii

Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 2

1.3 Tujuan ............................................................................................... 2

1.4 Manfaat ............................................................................................. 2

Bab 2 Pembahasan

2.1 Boiler ................................................................................................. 3

2.2 Audit Energi pada Boiler .................................................................. 4

2.3 Metode Audit Energi pada Boiler ..................................................... 5

2.4 Pembahasan Audit Energi pada Boiler ............................................. 7

Bab 3 Penutup

3.1 Kesimpulan ....................................................................................... 15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejalan dengan meningkatnya pembangunan yang diikuti dengan


pertumbuhan dan perekembangan perekonomian Indonesia, kebutuhan
energinasional juga semakin meningkat. Penyediaan energi nasional saat ini
sangat terbatas karena sumber energi utama bahan bakar fosil yaitu minyak, gas
danbatubara yang sifatnya dapat diperbarui semakin berkurang emisi gas rumah
kacasemakin banyak yang berakibat meningkatnya pemanasan global dan
berdampakpada perubahan iklim. Dalam Kebijakan Energi Nasional yang
dituangkan dalam Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006, salah satu kebijakan
utamanya adalah konservasi energi. Adapun salah satu tergetnya adalah
menurunkan elastisitas energi sebesar kurang dari satu pada tahun 2025.
Elastisitas energi adalah perbandingan antara pertumbuhan energi terhadap
pertumbuhan ekonomi. Elastisitas energi adalah salah satu indicator konservasi
energi, semakin kecil nilai elastisitas energi berarti semakin efisien. Salah satu
upaya yang paling cepat untuk mengatasi keterbatasan pasokan energi dan
penurunan gas rumah kaca yang sesuai denagan kebijakan energi nasional adalah
dengan melakukan langkah-langkah konservasi energi antara lain melalui audit
energi dan implementasi hasil-hasilnya. Peluang konservasi energi di Indonesia
sangat besar. Dari hasil survai bahwa sektor industri mempunyai potensi
penghematan sekitar 10-30%. Beberapa perusahan telah melakukan upaya
peningkatan efisiensi energi terutama berkaitan dengan penggantian peralatan dan
pengoperasian peralatan. Namun demikian dalam penerapannya masih banyak
dijumpai hambatan karena belum dilakukannya audit energi dan penerapan
efisiensi energi dilakukan berdasarkan perkiraan saja.
Disamping itu maslah pendanaan merupakan hambatan yang cukup besar
dalam melakukan upaya efisiensi energi Untuk mengatasi permasalahan di atas,
pada tahun 2003 pemerintah meluncurkan program kemitraan konservasi energi.
Program kemitraan ini merupakan kesepakatan sukarela antara pihak industri
yang berminat dalam implementasi konservasi energi dengan pemerintah,

1
lembaga finansial dan pemasok peralatan hemat energi untuk melakukan audit
energi dan implementasi rekomendasi hasil-hasilnya. Dalam hal ini pemerintah
menyediakan pelayanan audit energi secara gratis kepada perusahaan yang telah
mendatangani surat komitmen untuk dilakukan audit energi dan penurunan gas
kaca. Program kemitraan ini merupakan insentif dari pemerintah untuk
mendorong sektor industri melaksanakan program konservasi energy dan Industri
dapat melakukan audit energy sendiri.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan boiler dan kenapa perlu dilakukan audit
energi?
2. Apa saja tahap-tahap yang harus dilakukan dalam mengaudit energi dan
bagaimana caranya?
3. Apa saja yang harus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dari boiler?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian boiler dan kenapa perlu untuk dilakukan
audit energi.
2. Untuk mengetahui tahap-tahap dan cara dalam melakukan audit energi.
3. Untuk mengetahui apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
efisiensi dari boiler.

1.4 Manfaat

Dari pembuatan makalah audit energi pada boiler ini diharapkan dapat
bermanfaat bagi pembaca guna menambah pengetahuan dalam memenuhi bahan
pembelajaran mata kuliah Manajemen Energi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Boiler

Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air


sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu
kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media
yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air
dididihkan sampai menjadi steam, volumnya akan meningkat sekitar 1.600 kali,
menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak,
sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan
sangat baik.
Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan
bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai
dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan
dan perbaikan. Sistem steam engumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam
boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada
keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan
alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang
digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang
dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada
jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem.
Air yang disuplai ke boiler untuk dirubah menjadi steam disebut air umpan.
Dua sumber air umpan adalah: (1) Kondensatatau steam yang mengembun yang
kembali dari proses dan (2) Air makeup (air baku yang sudah diolah) yang harus
diumpankan dari luar ruang boiler dan plant proses. Untuk mendapatkan efisiensi
boiler yang lebih tinggi, digunakan economizer untuk memanaskan awal air
umpan menggunakan limbah panas pada gas buang.

3
2.2 Audit Energi pada Boiler

Boiler sebagai penghasil uap merupakan komponen penting dalam suatu


proses industri, salah satunya pada industri tekstil. Boiler membutuhkan banyak
energi dan dalam pengoperasiannya masih terdapat kehilangan-kehilangan energi
yang mengakibatkan kinerja boiler menjadi tidak optimal. Dalam proses produksi
dari air menjadi uap, dapat terjadi kehilangan panas atau rugi-rugi seperti
kehilangan panas berupa udara berlebih dan temperatur yang tinggi pada gas
buang di cerobong. Selain itu, terdapat pula kerugian karena bahan bakar yang
tidak terbakar dalam cerobong dan abu serta kehilangan dari blowdown dan
kondensat. Dan juga kehilangan akibat konveksi, radiasi, dan penguapan air yang
terbentuk karena H2 dalam bahan bakar. Untuk mengoptimalkan pengoperasian
boiler, maka sangat penting untuk melakukan identifikasi sumber-sumber
pemborosan atau kehilangan energi tersebut. Kehilangan yang banyak ditemukan
pada proses produksi uap adalah gas buang yang bisa mencapai 10-30 % dari total
kerugian, yang memiliki temperatur berkisar 150-250 C. Oleh karena itu,
pemanfaatan gas buang ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi boiler,
dengan demikian didapatkan penghematan energi. Salah satu cara untuk
mendapatkan efisiensi boiler yang lebih tinggi digunakan economizer untuk
memanaskan awal air umpan menggunakan limbah panas pada gas buang.
Pada industri tekstil, untuk menyuplai kebutuhan uap peralatan mesin-mesin
produksi, maka dilengkapi dengan 2 unit boiler, masing-masing berkapasitas 10
ton/jam dan 5 ton/jam. Kedua boiler ini memiliki tipe yang sama, yaitu 3 pass flue
& smoke tube type pada tekanan gauge 0,8 Mpa (kerja) dan desain gauge 0,8 Mpa.
Bahan bakar yang digunakan pada boiler ini adalah gas. Berdasarkan informasi
bahwa boiler ini boros menggunakan gas untuk memproduksi uap, sehingga
diperlukan audit energi. Audit energi adalah suatu kegiatan untuk
mengidentifikasi dimana dan berapa energi yang digunakan serta berapa potensi
penghematan energi yang mungkin diperoleh dalam suatu fasilitas pengguna
energi, yang dalam hal ini adalah boiler. Pabrik ini merupakan pabrik tekstil yang
memproduksi bahan jadi berupa kain katun. Dalam proses produksi membutuhkan
uap yang berasal dari boiler

4
2.3 Metode Audit Energi pada Boiler

Untuk menentukan performance boiler maka diperlukan beberapa kegiatan


seperti persiapan, penentuan parameter,titik ukur, dan pelaksanaan pengukuran.
Kemudian evaluasi data hasil pengukuran dan anilisis data disertai identifikasi
potensi penghematan. Berikut adalah alur tahapan penelitian :

Paramater-parameter pengukuran yang diperlukan dari suatu boiler tergantung


pada batas yang ditetapkan, peralatan ukur yang tersedia, dan kondisi pengukuran.
Akan tetapi secara umum data-data yang diperlukan di dalam melakukan
pengukuran pada boiler adalah :

Parameter Data yang harus diambil

Bahan bakar Laju alir (m3/h), temperatur (oC),


tekanan (kg/cm2)

Gas Buang Laju alir gas buang (m3/h), temperatur


(oC), komposisi gas buang (% CO2, %
CO, % O2,% SO2)

Air Pengisi Boiler laju air (m3/h), jumlah bahan padat


yan terlarut (TDS), tekanan (kg /cm2)

Udara pembakaran temperatur ambient (oC), bola basah


(oC), temperatur bola kering (oC)

Air Blowdown laju air (m3/h), jumlah bahan padat


yang terlarut (TSD), temperatur (oC).

Dinding boiler temperatur (oC), luas permukaan (m3)

5
Uap laju air (m3/h), temperatur(oC),
tekanan, kualitas uap

Perlengkapan pengukuran atau instrumen pengukuran yang diperlukan


diantaranya adalah :
a. Pengukuran temperatur : termokopel dan thermometer bola basah dan bola
kering
b. Pengukuran laju air : Pilot tube, Fan whell, Orifice, Ultrasonic flowmeter
c. Pengukuran tekanan : Manometer
d. Pengukuran komposisi gas buang : Gas analyser
e. Pengukuran jumlah bahan padat yang terlarut : TDS meter
Menentukan titik pengukuran, langkah yang perlu diperhatikan dalam
melakukan persiapan pengukuran adalah :
a. Menentukan batas system boiler yang akan diukur yaitu dengan menyusun atau
menggambarkan blok diagram system tersebut.
b. Menentukan titik-titik pengukuran dari blok diagram sistem boiler ,seperti
diperlihatkan pada Gambar 2 berikut :

c. Instalasi instrument-instrumen pengukuran. Instalasi dilakukan pada saat boiler


tidak/sedang beroperasi. Pembacaan dan pengambilan data dapat pula

6
dilakukan dari alat ukur yang telah terpasang, dengan memastikan bahwa alat
ukur tersebut tidak rusak dan masih dapat dipercaya pembacaan meternya.
d. Pengukuran dilakukan dalam kondisi tunak (steady), yaitu suatu kondisi
dimana beban pembakaran boiler tidak berubah terhadap waktu untuk setap
masing-masing beban boiler yang diukur.
e. Pengambilan data dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan data yang dapat
mewakili operasi boiler.

2.4 Pembahasan Audit Energi pada Boiler

Dalam melakukan perhitungan digunakan beberapa data komposisi dan nilai


kalor bahan bakar. Perhitungan disini dimaksudkan untuk mengetahui distribusi
energi di boiler, kebutuhan udara pembakaran, faktor kelebihan udara, dan
efisiensi boiler. Efisiensi boiler didefinisikan sebagai persentase jumlah masukan
panas efektif yang digunakan digunakan untuk menghasilkan uap. Ada dua
metode yang biasa digunakan untuk menentukan efisiensi boiler yaitu metode
langsung (input & output heat method) dan metode tidak langsung (heat loss
method).
Metode langsung : Dimana energi yang didapat dari fluida kerja (air dan
uap) dibandingkan dengan kandungan energi dari bahan bakar boiler.
Persamaan yang digunakan adalah :

Dimana :

W = volume uap yang dibangkitkan [kg]


hs = Entalpi dari uap [kkal/kg]
hw = Entalpi air yang diumpankan [kkal/kg]
Hl = Nilai kalori dari bahan bakar [kkal/liter atau kg]

7
Metode tidak langsung : efisiensi boiler dihitung berdasarkan pengurangan
jumlah uap panas yang dihasilkan dengan rugi rugi panas yang
terjadi.Metode perhitungan efisiensi tidak langsung pada boiler
menggunakan standar British Standard, BS 845: 1987 dan Amerika Serikat
Standar ASME PTC-4.1. Metode tidak langsung juga disebut metode
kehilangan panas. Efisiensi boiler dapat dihitung dengan cara jumlah uap
panas yang dihasilkan dikurangi dengan rugi rugi panas yang terjadi.

Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak dan dapat
dihindarkan. Audit energi merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi
kehilangan yang dapat dihindari untuk meningkatkan efisiensi energi. Beberapa
rugi-rugi pada boiler yang biasa terjadi dapat dihindari atau dikurangi.
Hal tersebut akan mengakibatkan anatara lain pertama kehilangan gas
buang pada cerobong: Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang
tergantung dari teknologi burner, kontrol operasi dan pemeliharaan) dan
temperatur gas buang di cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan
(pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler). Kedua,
kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu
(mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih baik).
Ketiga, kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang
kondensat). Keempat, kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin
kondensat). Kelima, kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi
boiler yang lebih baik) dan yang keenam terjadi penguapan air yang terbentuk
karena H2 dalam bahan bakar.
Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan yang
disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar, dan tidak
dapat dikendalikan dari desainnya. Data-data yang dibutuhkan untuk menghitung
efisiensi boiler metode tidak langsung adalah : Analisis ultimate bahan bakar (H2,
O2, S, C, kadar air, kadar abu): Satu, persentase oksigen atau CO2 dalam gas
buang. Dua, temperatur gas buang dalam oC (Tf). Tiga, temperatur ambien dalam

8
oC (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara kering. Empat, GCV bahan
bakar dalam kkal/kg. Lima, persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu
(untuk bahan bakar padat). Enam, GCV abu dalam kkal/kg (untuk bahan bakar
padat).

Prosedur rinci untuk perhitungan efisiensi boiler menggunakan metode


tidak langsungdisajikan berikut ini.

Tahap 1:Menghitung kebutuhan udara teoritis (TA)

Tahap 2: Menghitung persen kelebihan udara yang dipasok (EA)

Tahap 3:Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok/kg bahan bakar


(AAS)

Tahap 4:Memperkirakan seluruh kehilangan panas (THL)

9
Tahap 5: Menghitung efisiensi boiler dan rasio penguapan boiler

Data-data yang dikumpulkan berupa data spesifikasi, bahan bakar,


temperatur dan pengukuran gas buang untuk masing-masing boiler. Hasil
pengukuran temperatur gas buang boiler 1 adalah 270oC lebih rendah bila
dibandingkan dengan temperatur boiler 2 yaitu 350oC. Prosentasi O2 pada gas

10
buang sama yaitu 8%. Data spesifikasi, bahan bakar, temperatur dan pengukuran
gas buang untuk masing- masing boiler secara detail diperlihatkan pada Tabel 1.

Berdasarkan hasil survei dan pengumpulan data, maka ada beberapa peluang
penghematan energi yang dapat dilakukan antara lain : perbaikan pembakaran
dengan mengontrol rasio udara pembakaran dan pemanfaatan gas buang untuk
pemanasan udara pembakaran. Pada Boiler 1 ada beberapa potensi

11
yang dapat dilakukan unutk meningkatkan efisiensi boiler yaitu pengaturan
udara umpan dan bahan bakar, dan pemanfaatan gas buang untuk pemanasan
udara bakar dengan memasang preheater. Hasil perhitungan perbaikan efisiensi
pada boiler dapat dilihat pada Tabel 2.

12
Salah satu hal yang sangat penting untuk mengoptimalkan dan
penyempurnakan pembakaran di dalam burner boiler adalah sistem pengendalian
air ratio pada sistem pembakaran (combustion control system) Sistem tersebut
memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan efisiensi dari boiler
serta berfungsi menjaga komposisi aliran udara dan aliran bahan bakar yang
tepat sehingga tarjadi proses pembakaran sempurna. Berdasarkan hasil
pengamatan pengendalian rasio udara dan bahan bakar yang ada di pabrik ini
dilakukan secara manual oleh operator dengan mengamati kandungan kadar
oksigen (O2) dan memperhatikan asap yang keluar dari stack (cerobong).
Selain itu, kadar O2 yang berfungsi sebagai indikatorsempurna-tidaknya
proses pembakaran mengalami fluktuasi. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio
aliran udara dan aliran bahan bakar serta sistem pengendalian yang ada masih
belum optimal. Oleh karena itu direkomendasikan untuk memasang sistem
pengendalian rasio udara dan bahan bakar pada pembakaran boiler, serta mencari
rasio dari aliran udara dan aliran bahan bakar yang optimal. Hal ini akan
menurunakan kadar oksigen dari 8% menjadi 4,5%. Dengan demikian excess air
ratio dapat diturunkan 1,6 menjadi 1,27. Hal ini akan meningkatkan efisiensi
boiler dari 80,6% menjadi 84%, atau naik 4,2%.
Sementara peningkatan efisiensi pada boiler 2 dapat dilkukan dengan cara
perbaikan pembakaran dengan mengontrol air ratio, dan pemanfaatan gas buang
untuk pemanasan awal udara pembakaran dan pemansangan economizer.
Ringkasan hasil perhitungan peningkatan efisiensi boiler 2 dapat dilihat pada
Tabel 3.

13
14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air


sampai terbentuk uap atau steam. Dalam pabrik tekstil, uap dari boiler digunakan
dalam proses produksi bahan jadi berupa kain katun. Pada pabrik tekstil tersebut
terdapat 2 unit boiler dengan bahan bakar berupa gas. Berdasarkan informasi
diketahui bahwa boiler tersebut boros dalam menggunakan gas untuk
memproduksi uap, sehingga perlu dilakukannya audit energi pada boiler tersebut.
Tahap-tahap yang dilakukan untuk melakukan audit energi pada boiler
diantaranya persiapan, pengumpulan data dan pengukuran, analisis data, dan
identifikasi potensi penghematan. Untuk menentukan efisiensi boiler terdapat dua
metode , yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Pada metode tidak
langsung, efisiensi boiler dihitung berdasarkan pengurangan jumlah uap panas
yang dihasilkan dengan rugi-rugi panas yang terjadi. Peningkatan efisiensi boiler
dapat diperoleh dengan jalan mengontrol komposisi udara dan bahan bakar,
pemanfaatan gas buang untuk memanaskan udara pembakaran, dan pemasangan
economizer.

15
DAFTAR PUSTAKA

Sudrazat, Dzat. 2013. Boiler (Ketel Uap), (Online)


,(https://www.scribd.com/document/194493053/Boiler, diakses 27 April 2017).

Palaoi, Sudirman. 2014. Analisis Potensi Penghematan Energi pada Boiler di


Pabrik Tekstil. Yogyakarta. Balai Besar Teknologi Energi (B2TE).

Budiharti, Tri Reni. 2012. Peluang dan Tantangan Konservasi Energi di Sektor
Industri. Jakarta. Kementrian Perindustrian

16