Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Banyak transaksi yang diproses melalui suatu proses pembelian
tertentu yang melibatkan pengakuan suatu biaya dan Liabilitas secara
bersamaan. Sebagai akibatnya, auditor seharusnya memahami konsep yang
mendasari pengakuan dan biaya dalam rangka untuk mengaudit proses
pembelian. FASB Concept Statement No. 6, Element of Financial
Statement, mendefinisi biaya dan liabilitas sebagai berikut:
Biaya adalah arus kas keluar atau penggunaan yang lain aset
atau terjadinya liabilitas (atau kombinasi keduanya) dari pengiriman atau
produksi barang, pengadaan jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang
merupakan kegiatan operasi utama atau pusat yang terus menerus dari
suatu perusahaan.
Liabilitas adalah kemungkinan pengorbanan dimasa depan atas
manfaat ekonomis yang muncul dari kewajiban saat ini dari suatu
perusahaan tertentu untuk mentrasfer aset atau menyediakan jasa pada
perusahaan lain dimasa depan sebagai akibat transaksi atau peristiwa
masa lalu.
Kebijakan pengakuan biaya suatu perusahaan dan jenis biaya yang
terlibat memengaruhi bagaimana transaksi dicatat dan dihitung dalam
laporankeuangan. FASBStatement of Financial Accounting Concept No. 5,
Recognition and Measurement in Financial Statementf of Business
Enterprise, mengindikasikan bahwa biaya dapat diklasifikasikan ke
dalam tiga kategori:
1. Biaya tertentu dapat dibandingkan secara langsung dengan transaksi
atau peristiwa tertentu dan diakui sebagai pendapatan. Jenis biaya ini
disebut sebagai biaya produk dan memasukkan biaya seperti Harga
Pokok Penjualan.

1
2. Banyak biaya yang diakui selama periode dimana kas dikeluarkan
atau liabilitas terjadi untuk barang dan jasa yang digunakan saat itu
atau tidak lama sesudahnya. Biaya semacam ini tidak dapat secara
langsung dikaitkan dengan transaksi tertentu dan diasumsikan tidak
menyediakan manfaat dimasa depan. Biaya ini disebut sebagai biaya
periode. Contoh biaya semacam ini meliputi biaya gaji administrasi
dan biaya sewa.
3. Banyak biaya yang diakui selama periode dimana kas dikeluarkan
atau liabilitas terjadi untuk barang dan jasa yang digunakan saat itu
atau tidak lama sesudahnya. Biaya semacam ini tidak dapat secara
langsung dikaitkan dengan transaksi tertentu dan diasumsikan tidak
menyediakan manfaat dimasa depan. Biaya ini disebut sebagai biaya
periode. Contoh biaya semacam ini meliputi biaya gaji administrasi
dan biaya sewa.

Secara umum, liabilitas yang biasanya terjadi sebagai bagian dari


proses pembelian adalah utang dagang. Biaya lain yang terjadi adalah yang
masih harus dibayar sebagai liabilitas jangka pendek setiap periode
akuntansi. Sebagian besar biaya yang diakui adalah biaya produk atau
periode.
Hutang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar terbesar dalam
neraca dan merupakan faktor yang signifikan dalam mengevaluasi solvensi
jangka pendek perusahaan. Hutang usaha biasanya juga dipengaruhi oleh
volume transaksi yang tinggi dan karenanya sangat rentan terhadap salah
saji. Audit atas hutang lebih ditekankan pada asersi kelengkapan karena
jika manajemen termotivasi untuk memanipulasi hutang maka ia cendrung
menetapkan hutang terlalu rendah agar dapat melaporkan posisi keuangan
yang lebih menguntungkan.
Penggunaan substantif atas utang usaha ditujukkan untuk
meperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan utang usaha, membuktikan keberadaan utang usaha

2
dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan utang usaha yang
dicantumkan di neraca, membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat
dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo utang usaha yang disajikan
neraca, membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca,
membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang usaha di
neraca. Untuk mencapai tujuan audit tersebut auditor harus dapat
menempuh berbagai prosedur audit.Aktiva tetap memiliki karakteristik
yang berbeda dengan aktiva lancar, yang berdampak terhadap pengujian
substantif terhadap aktiva tetap. Karena perbedaan karakteristik tersebut,
mengakibatkan perbedaan pengujian substantif terhadap kedua macam
aktiva tersebut.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang diatas, maka kami dapat mengambil rumusan
masalah sebagai berikut:
1.3.1 Deskripsi Utang Usaha
1.3.2 Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Utang Lancar
1.3.3 Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Utang Usaha
1.3.4 Program Pengujian Substantif Terhadap Utang Usaha

1.3 TUJUAN
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah
diuraikan sebelumnya. Maka tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini
adalah untuk:
1. Mengetahui deskripsi tentang utang usaha.
2. Mengetahui prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian
unsur utang usaha dalam neraca
3. Mengetahui tujuan dari audit terhadap utang usaha.
4. Mengetahui perancangan program pengujian substantif terhadap
utang usaha.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
2.1.1 Deskripsi Utang Usaha
Utang usaha termasuk sebagai unsure utang lancer. Utang lancer
meliputi semua kewajiban yang akan dilunasi dalam periode jangka
pendek (satu tahun atau kurang dari tanggal neraca atau dalam siklus
kegiatan normal perusahaan) dengan cara mengurangi aktiva yang
dikelompokkan dalam aktiva lancer atau dengan cara menimbulkan utang
lancer yang lain. Utang lancer digolongkan menjadi 6 kelompok berikut
ini :
1. Utang usaha yang timbul dari pembelian bajan baku dan bahan
penolong, suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik (factory
supplies).
2. Utang jaminan masuk dari pelanggan.
3. Utang yang timbul dari berlalunya waktu (accrued payable).
4. Utang yang timbul kepada pihak ketiga karena perusahaan ditunjuk
sebagai pemungut pajak atau iuran yang lain, seperti utang Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), utang Pajak Penghasilan Karyawan (PPh
Pasal 25), utang dana pensiun, utang asuransi karyawan.
5. Accrual yang timbul dari kegiatan usaha perusahaan meskipun:
a. Jumlah utang tersebut harus ditaksir seperti utang bonus.
b. Krediturnya tidak diketahui seperti utang biaya reparasi untuk
produk perusahaan yang dijual dengan garansi.
c. Utang yang jumlahnya harus diukur dari transaksi sekarang,
mislanya utang sewa, pendapatan yang diterima di muka, utang
yang jumlahnya dihitung dari besarnya deplesi sumber alam.
6. Utang lain yang diperkirakan akan dilunasi dalam jangka waktu
pendek seperti utang bank (kredit modal kerja misalnya), utang

4
jangka panjang yang segera jatuh tempo, utang pajak penghasilan,
utang dividen.

2.1.2 Perbedaan Karakteristik Utang Lancar dengan Karakteristik Aktiva


Lancar
Utang lancar memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancar.
Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan di dalam pengujian
substantifnya.
Perbedaan karakteristik utang lancar dengan aktiva lancar adalah sebagai
berikut :
1. Dalam menyajikan aktiva lancar, klien berkecendrungan umum
untuk menyajikan aktiva tersebut lebih tinggi dari jumlah yang
senyatanya. Kecendrungan ini seringkali didorong oleh motif untuk
memberikan gambaran modal kerja yang lebih baik, sehingga
kelihatannya perusahaan memiliki likuiditas yang baik. Gambaran
modal kerja yang lebih baik dapat ditempuh dengan cara
menurunkan jumlah utang lancar, yaitu dengan cara tidak mencatat
utang lancar sehingga terdapat utang yang tidak dicatat pada
tanggal neraca (unrecorded liabilities).
2. Dalam menyajikan aktiva lancar, klien menghadapi masalah
penilaian unsur - unsur aktiva lancar per tanggal neraca. Kas harus
disajikan pada nilai kursnya pada tanggal neraca, jika kas tersebut
berupa valuta asing; piutang harus disajikan pada nilai bersih yang
dapat ditagih pada tanggal neraca, sediaan harus dihitung kuantitas,
ditentukan kualitas, dan kondisinya untuk dapat disajikan pada
nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal neraca. Di lain
pihak, dalam penyajian utang lancar, klien tidak menghadapi
masalah penentuan nilai utang lancar tersebut pada tanggal neraca.
Apa yang menjadi kewajiban perusahaan pada tanggal neraca tidak
perlu ditentukan nilainya. Klien menhadapi fakta di dalam
menyajikan utang lancar.

5
2.1.3 Perbedaan Pengujian Substantif terhadap Utang Lancar dengan
Pengujian Substantif terhadap Aktiva Lancar
Karakteristik yang berbeda antara uang lancar dengan karakteristik
aktiva lancar tersebut berpengaruh terhadap pengujian substantif
terhadap kedua objek audit tersebut. Perbedaan pengujian substantif
terhadap utang lancar dengan pengujian substantif terhadap aktiva
lancar adalah sebagai berikut:
1. Pengujian Substantif terhadap utang lancar ditujukan untuk
menemukan adanya penyajian utang lancar yang lebih rendah dari
jumlah yang seharusnya (understatement utang lancar), sedangkan
pengujian substantif terhadap aktiva lancar ditujukan untuk
menemukan adanya penyajian aktiva lancar yang lebih tinggi dari
jumlah yang seharusnya (overstatment aktiva lancar). Dalam
pengujian substantif terhadap kas, auditor melakukan penghitungan
fisik kas; dalam pengujian substantif terhadap sediaan, auditor
melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan yang
dilakukan oleh klien. Berbagai prosedur audit tersebut ditujukan
untuk menemukan adanya overstatment aktiva lancar. Di lain
pihak, pengujian substantif terhadap utang lancar ditujukan untuk
menemukan adanya utang yang belum dicatat (unrecorded
liabiliies) pada tanggal neraca. Hal ini dimaksudkan oleh auditor
untuk mendeteksi adanya kemungkinan penyajian utang lancar
yang lebih rendah dari saldo yang seharusnya (understatement
utang lancar).
2. Dalam pengujian substantif terhadap aktiva lancar, auditor
menghadapi masalah penentuan kewajaran nilai aktiva lancar (nilai
bersih yang dapat direalisasikan) yang dicantumkan dalam neraca.
Penentuan nilai aktiva lancar ini menyangkut penaksiran apa yang
akan terjadi di masa yang akan datang, Dalam pengujian substantif
terhadap aktiva lancar auditor memverifikasi nilai kas yang

6
disajikan dalam neraca, menguji kewajaran nilai piutang yang
diperkirakan dapat ditagih pada tanggal neraca, dan menguji
kewajaran nilai sediaan dengan melakukan hitung uji (test count),
pengujian kompilasi (compilation test), dan pengujian harga
(pricing test). Di lain pihak, dalam pengujian substantif terhadap
utang lancar, auditor menghadapi fakta, menghadapi data historis
mengenai kewajiban perusahaan yang terjadi di masa yang lalu,
yang dalam jangka pendek harus dilunasi. Oleh karena itu,
pengujian substantif terhadap utang lancar memerlukan waktu yang
relatif lebih pendek bila dibandingkan dengan pengujian substantif
terhadap aktiva lancar.

2.2 PRINSIP AKUNTANSI BERTERIMA UMUM DALAM PENYAJIAN


UTANG LANCAR DI NERACA
Prinsip akuntansi berterima umum yang berlaku di Indonesia dalam
penyajian utang lancar di neraca adalah sebagai berikut:
1. Setiap jenis utang lancar harus disajikan secara terpisah, jika jumlahnya
material.
2. Utang kepada perusahaan afiliasi, pemegang saham, dan karyawan
perusahaan harus dipisahkan dari utang kepada pihak ketiga yang
independen.
3. Aktiva yang dijaminkan dalam penarikan utang lancar harus
diungkapkan dalam laporan keuangan.
4. Aktiva dan utang tidak boleh digabungkan penyajiannya dalam jumlah
neto.
5. Utang bersyarat harus dijeaskan dalam nerca.

2.3 TUJUAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP UTANG USAHA


Tujuan audit terhadap utang usaha adalah:

7
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan utang usaha.
2. Membuktikan keberadaan utang usaha dan keterjadian transaksi yang
berkaitan dengan utang usaha yang dicantumkan di neraca.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan
akuntansi dan kelengkapan saldo utang usaha yang disajikan di neraca.
4. Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang usaha di
neraca.

Keberadaan
Kewajiban Penyajian dan
atau keterjadian Kelengkapan Penilaian
Pengungkapan

Saldo Akun Utang Saldo Akun Utang


Usaha Usaha yang
Sesungguhnya Disajikan dalam
Laporan Keuangan

Prosedur Audit
Awal Prosedur
Analitik Verifikasi Penyajian
Pengujian Terhadap Pengujian Terhadap dan Pengungkapan
Transaksi Rinci Saldo Akun Rinci

Rerangka tujuan pengujian substantif terhadap utang usaha


dilukiskan pada gambar di atas. Dalam gambar tersebut terlihat bahwa
tujuan utama pengujian substantif terhadap utang usaha adalah
membuktikan bahwa Saldo Akun Utang Usaha yang dicantumkan dalam
neraca mencerminkan saldo Akun Utang Usaha yang sesungguhnya pada
tanggal neraca tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut dirancang

8
pengujian substantif yang digolongkan ke dalam lima kelompok: (1)
prosedur audit awal, (2) prosedur analitik, (3) pengujian terhadap transaksi
rinci, (4) pengujian terhadap saldo akun rinci, (5) verifikasi terhadap
penyajian dan pengungkapan. Kelima kelompok pengujian substantif
tersebut ditujukan untuk memverifikasi lima asersi manajemen yang
terkandung dalam akun Utang Usaha: (1) keberadaan dan keterjadian, (2)
kelengkapan, (3) penilaian, (4) kewajiban, dan (5) penyajian dan
pengungkapan.

Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi


yang bersangkutan dengan utang usaha. Sebelum auditor melakukan
pengujian mengenai kewajaran saldo utang usaha yang dicantumkan
dalam neraca, ia harus memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan
keandalan catatan akuntansi yang mendukung informasi utang usaha yang
disajikan dalam neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara
saldo utang usaha yang dicantumkan dalam neraca dengan akun Utang
Usaha dalam buku besar dan selanjutnya ke register bukti kas keluar dan
register cek.

Membuktikan asersi keberadaan dan keterjadian utang usaha


yang dicantumkan di neraca. Dalam pengujian substantive terhadap
utang pada umumnya, pengujian ditujukan untuk menemukan
kemungkinan adanya unrecorded liabilities. Untuk membuktikan asersi
keberadaan aktiva dan keterjadian transaksi yang bersangkutan dengan
utang lancar, auditor melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini:
1. Pengujian analitik.
2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang
usaha.
3. Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan utang usaha.
4. Konfirmasi piutang usaha.

9
5. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang
yang diterima oleh klien dari krediturnya.

Membuktikan asersi kelengkapan utang usaha yang


dicantumkan di neraca. Seperti tersebut dalam prinsip akuntansi
berterima umum, utang usaha harus disajikan di neraca pada fakta pada
tanggal neraca atau dengan kata lain sebesar jumlah yang menjadi
kewajiban klien kepada kreditur pada tanggal neraca. Tidak seperti halnya
dengan piutang usaha yang disajikan di neraca dalam jumlah bruto
dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang usaha, utang
usaha disajikan di neraca pada jumlah kewajiban klien pada tanggal
neraca. Dengan demikian tujuan pembuktian asersi penilaian tidak berlaku
terhadap saldo utang usaha pada tanggal neraca. Pembuktian asersi
kelengkapan utang usaha lebih ditujukan untuk mencari adanya
unrecorded liabilities pada tanggal terebut. Untuk membuktikan bahwa
utang usaha yang dicantumkan di neraca mencakup semua kewajiban klien
kepada kreitur pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang
berkaitan dengan utang usaha dalam tahun yang di audit, auditor
melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini:
1. Pengujian analitik.
2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang
usaha.
3. Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan utang usaha.
4. Konfirmasi piutang usaha.
5. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang
diterima oleh klien dari krediturnya.
Transaksi yang berkaitan dengan timbul dan berkurangnya utang
usaha mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perhitungan saldo
utang usaha pada tanggal neraca, sehingga ketidaktepatan alam penetapan
pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan utang usaha akan
berdampak langsung terhadap perhitungan akun Utang Usaha dan

10
Pembelian (purchase). Oleh Karen itu salah satu pengujian substantif
untuk membuktikan asersi kelengkapan utang usaha adalah pemerikdaan
trhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan utang
usaha.

Membuktikan asersi kewajiban klien atas utang usaha yang


dicantumkan di neraca. Utang usaha yang ada pada tanggal neraca
merupakan kewajiban klien kepada kreditur pada tanggal tersebut. Untuk
membuktikan kewajiban klien yang tercermin dalam utang usaha yang
dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantive berikut
ini:
1. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang
usaha.
2. Konfirmasi piutang usaha.
3. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang
diterima oleh klien dari krediturnya

Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan utang


usaha di neraca. Penyajian dan pengungkapan unsur-unsur laporan
keuangan harus didasarkan pada prinsip akuntansi berterima umum.
Pengujian substantif terhadap utang usaha diarahkan untuk mencapai salah
satu tujuan untuk membuktikan apakah unsur utang usaha telah disajikan
dan diungkapkan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi
berterima umum. Pengujian substantive untuk membuktikan asersi
penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca adalah:
1. Konfirmasi utang usaha.
2. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang
diterima oleh klien dari krediturnya
3. Pembandingan penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip
akuntansi berterima umum yang diaudit dengan prinsip akuntansi
berterima umum.

11
2.4 PROGRAM PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP UTANG
USAHA
Program pengujian substantive terhadap utang usaha berisi prosedur audit
yang dirancang untuk mencapai tujuan audit seperti yang telah diuraikan.
Tahap-tahap prosedur audit dimulai dari pemeriksaan yang bersifat luas dan
umum sampai ke pemeriksaan yang bersifat rinci. Berbagai prosedur audit
dilaksanakan dalam lima tahap berikut ini:
1. Prosedur audit awal.
2. Prosedur analitik.
3. Pengujian terhadap transaksi rinci.
4. Pengujian terhadap saldo akun rinci.
5. Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan.
Berikut adalah gambaran Program Pengujian Substantif terhadap Utang
Usaha:
Tgl.
Kertas Pelaksa-
Prosedur Audit Pelaksa-
Kerja naan
naan
Prosedur Audit Awal
1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun
utang usaha yang akan diuji lebih lanjut.
a. Usut saldo utnag usaha yang tercantum
di dalam neraca saldo akun utang usaha
yang bersangkutan di dalam buku besar.
b. Hitung kembali saldo akun utang usaha
di dalam buku besar.
c. Lakukan review terhadap mutasi luar
biasa dalam jumlah dan sumber posting
dalam akun Utang Usaha.
d. Usut saldo awal akun Utang Usaha ke
kertas kerja tahun yang lalu.

12
e. Usut posting pendebitan akun Utang
Usaha ke dalam jurnal yang
bersangkutan.
f. Lakukan rekonsiliasi akun control Utang
Usaha dalam buku besar ke buku
pembantu utang usaha.

Prosedur Analitik
2. Lakukan prosedur analitik:
a. Hitung ratio berikut ini :
1) Tingkat perputaran utang usaha
2) Ratio utang usaha dengan utang
lancar
b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik
dengan harapan yang didasarkan pada
data masa lalu, data industry, jumlah
yang dianggarkan, atau data lain.
c. Bandingkan akun biaya dengan akun
biaya yang sama tahun lalu atau biaya
yang dianggarkan untuk mendapatkan
indikasi kemungkinan adanya
understatement utang lancar.

Pengujian terhadap Transaksi Rinci


3. Periksa sample transaksi utang usaha yang
tercatat ke dokumen yang mendukung
timbulnya utang usaha.
a. Periksa pengkreditan akun utang usaha
ke dokumen pendukung: bukti kas
keluar, laporan penerimaan barang,

13
surat order pembelian, atau dokumen
pendukung lain.
b. Periksa pendebitan akun utang usaha ke
dokumen pendukung: bukti kas masuk,
memo debit untuk retur pembelian.

4. Lakukan verifikasi pisah bata (cutoff) transaksi


pembelian
a. Periksa dokumen yang mendukung
transaksi pembelian dalam minggu
terakhir tahun yang diaudit dan minggu
pertama setelah tanggal neraca.
5. Lakukan verifikasi pisah bata (cutoff) transaksi
pengeluaran kas.
a. Periksa dokumen yang mendukung
transaksi pembayaran utang usaha
dalam minggu terakhir tahun yang
diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal nerca.
6. Lakukan pencarian utang yang belum dicatat.
a. Periksa bukti-bukti yang mendukung
transaksi pengeluaran kas yang dicatat
setelah tanggal neraca.
b. Periksa bukti kas keluar yang dibuat
setelah tanggal neraca.
c. Periksa catatan sediaan barang
konsinyasi masuk.
d. Pelajari peraturan perpajakan yang
menyangkut bisnis klien.
e. Lakukan review terhadap anggaran

14
modal (capital budget), perintah kerja
(work order), dan kontrak pembangunan
untuk memperoleh bukti adanya utang
yang belum dicatat.
Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci
7. Lakukan konfirmasi utang.
a. Lakukan identifikasi penjual besar
dengan me-review register bukti kas
keluar atau buku pembantu utang, arsip
induk utang, dan kirimkan konfirmasi
kepada kreditur yang akan utang klien
kepadanya memiliki karakteristik
berikut ini: (1) bersaldo besar, (2)
terdapat kegiatan pembelian yang luar
biasa, (3) bersaldo kecil atau nol, (4)
bersaldo debit.
b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan
jika terjadi perbedaan.
c. Periksa dokumen yang mendukung
pembayaran Utang Usaha setelah
tanggal neraca.
8. Lakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak
dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan
yang diterima oleh klien dari kreditur.

Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan


9. Bandingkan penyajian utang usaha dengan
prinsip akuntansi berterima umum
a. Periksa klasifikasi utang usaha di
neraca.

15
b. Periksa pengungkapan yang
bersangkutan dengan utang usaha.
c. Periksa pengungkapan yang
bersangkutan dengan utang non usaha.
d. Mintalah informasi dari klien untuk
menemukan komitmen yang belum
diungkapkan dan utang bersyarat dan
periksa penjelasan yang bersangkutan
dengan utang tersebut.
Pada tahap awal, auditor menempuh prosedur audit untuk
memperoleh keyakinan bahwa informasi yang disajikan oleh klien dalam
laporan keuangan didukung dengan catatan akuntansi. Pada tahap
berikutnya, dalam prosedur analitik, auditor mengumpulkan berbagai ratio
dan perbandingan untuk memfokuskan kemana pengujian terhadap
transaksi dan saldo akun rinci diarahkan. Pada tahap-tahap akhir, auditor
melaksanakan pengujian terhadap transaksi dan saldo akun rinci, serta
verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan saldo akun dalam laporan
keuangan.

2.4.1 Prosedur Audit Awal


Sebelum membuktikan apakah saldo utang usaha yang dicantumkan oleh
klien di dalam neracanya sesuai dengan utang usaha yang benr-benar ada
pada tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi
utang usaha yang dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang
mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor
memperoleh keyakinan bahwa informasi utang usaha yang dicantumkan
di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dipecaya. Oleh karena
itu, audior melakukan enam prosedur audit berikut di dalam ini dalam
melakukan rekonsiliasi informasi utang usaha di neraca dengan catatan
akuntansi yang bersangkutan:

16
1. Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun
Utang Usaha yang bersangkutan di dalam buku besar.
2. Hitung kembali saldo akun Utang Usaha di buku besar.
3. Usut saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun yang lalu.
4. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan
sumber posting dalam akun Aktiva Tetap dan Akumulasi
Depresiasinya.
5. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Utang Usaha ke
jurnal yang bersangkutan.
6. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan control
Utang Usaha di buku besar.
Prosedur awal dalam pengujian substantive terhadap utang usaha.

Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun


Utang Usaha yang bersangkutan di dalam buku besar. Untuk
memperoleh keyakinan bahwa saldo utang usaha yang tercantum di
neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya
kebenaran mekanisme pencatatanya, maka saldo utang usaha yang
dicantumkan di neraca diusut ke akun buku besar berikut ini:
Utang Usaha
Akun ini digunakan untuk menampung transaksi timbulnya utang dari
transaksi pembelian berbagai golongan sediaan dan pelunasannya. Jika
perusahaan mengunakan sitemb bukti kas keluar (voucher system) dalam
pengendalian kasnya, akun Utang Usaha ini disebut dengan akun Bank
Kas Keluar yang Akan Dibayar (Vouvher Payable).
Uang Wesel
Utang Wesel merupakan utang yand dibuktikan dengan surat berharga
(berupa serifikat wesel) yang dipegang oleh kreditur sehingga kreditur
dapat menjualnya kepada pihak lain. Utang ini timbul dari transaksi
pembelian berbagai golongan sediaan. Utang wesel dibagi menjadi dua
golongan: utang wesel berbunga dan utang wesel tidak berbunga.

17
Hitung kembali saldo akun Utang Usaha di buku besar. Untuk
memperoleh keyakian mengenai ketelitian penghitungan saldo akun
Utang Usaha, auditor menghitung kembali saldo akun Utang Usaha dan
Utang Wesel dengan cara menambah saldo awal dengan jumlah
pengkreditan dan menguranginya dengan jumlah pendebitan tiap-tiap
akun tersebut.
Usut saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun yang lalu.
Sebelum auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang
menyangkut akun Utang Usaha, ia perlu memperoleh keyakinan atas
kebenaran saldo awal akun tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, auditor
melakukan pengusutan saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja
tahun yang lalu. Kertas kerja tahun lalu dapat menyediakan informasi
tentang berbagai koreksi yang diajukan oleh auditor dalam audit tahun
yang lalu,sehingga auditor dapat mengevaluasi tindak lanjut yang telah
ditempuh oleh klien dalam menanggapi koreksi yang diajukan oleh
auditor.

Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan


sumber posting dalam akun Utang Usaha. Ketidakberesan dalam
transaksi pembelian, pelunasan utang usaha dengan ditemukan melalui
review atas mutasi luar biasa, baik dalam jumlah maupun sumber posting
dalam akun Utang Usaha.

Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Utang Usaha ke


jurnal yang bersangkutan. Untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi
penambahan dan pengurangan utang usaha berasal dari jurnal-jurnal yang
bersangkutan, pengkreditan di dalam akun Utang Usaha diusut ke jurnal
pembelian atau register bukti kas keluar dan pendebitan ke akun tersebut
diusut ke jurnal pengeluaran kas atau check register dan jurnal umum
(untuk transaksi retur pembelian).

18
Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun
kontrol Utang Usaha di buku besar. Saldo akun kontrol Utang Usaha
di buku besar tersebut kemudian dicocokkan dengan jumlah saldo akun
pembantu utang usaha atau ke dalam arsip bukti kas keluar yang belum
dibayar untuk memperoleh keyakinan bahwa catatan akuntansi klien
yang bersangkutan dengan utang usaha dapat dipercaya ketelitiannya.

2.4.2 Prosedur Analitik


Pada tahap awal pengujian substantif terhadap utang usaha, pengujian
analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis
klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih
insentif. Untuk itu, auditor melakukan perhitungan berbagai ratio berikut
ini:
Ratio Formula
Tingkat perputaran
Pembelian + Rerata utang usaha
utang usaha
Rasio utang usaha
Saldo utang usaha + Utang lancar
dengan utang lancar

Rasio yang dihitung tersebut kemudian dibandingkan dengan


harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau
ratio yng dianggarkan. Perbandingan ini membantu auditor untuk
mengungkapkan: (1) peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, (2)
perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha, (4) fluktuasi acak, atau (5)
salah saji.

2.4.3 Pengujian terhadap Transaksi Rinci


Karena hampir semua saldo utang lancar, seperti utang usaha dan utan
wesel, didukung dengan dokumen yang berasal dari pihak luar, maka
keberadaaan saldo akun utang dan keterjadian transaksi yang berkaitan

19
dengan akun tersebut dibuktikan oleh auditor dengan melakukan
pemeriksaan terhadap dokumen pendukung transaksi tersebut. Dalam
memverifikasi saldo utang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan
dengan akun tersebut, auditor memeriksa arsip surat order pembelian,
laporan penerimaan barang, dan faktur dari pemasok. Dalam
memverifikasi utang wesel, meskipun sertifikat wesel berada di tangan
kreditur, namun biasanya klien memiliki copy sertifikat wesel tersebut.
Dengan demikian, verifikasi keberadaan utang wesel dilakukan oleh
auditor dengan memeriksa copy sertifikat wesel yang disimpan oleh
klien. Dalam memverifikasi keberadaan utang bank, auditor meminta
surat perjanjian penarikan kredit dari bank untuk membuktikan eksistensi
utang tersebut serta untuk memperoleh informasi mengenia syarat-syarat
kredit dan jumlah pokok pinjaman, kekayaan yang dijaminkan, serta tarif
bunga.
Keandalan saldo utang usaha sangat ditentukan oleh keterjadian
transaksi yang dikredit dan didebitkan ke dalam akun Utang Usaha
berikut ini:
a. Transaksi pembelian kredit
b. Transaksi retur pembelian
c. Transaksi pembayaran kas untuk pelunasan utang usaha.
Di samping itu, keandalan saldo utang usaha ditentukan pula oleh
ketepatan pisah batas yang digunakan untuk mencatat berbagai transaksi
tersebut di atas. Oleh karena itu, auditor melakukan pengujian substantif
terhadap transaksi rinci yang mengkredit dan mendebit akun Utang
Usaha dan pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat
transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut.

Periksa Sample transaksi yang Tercatat dalam Akun Utang Usaha


ke Dokumen yang Mendukung Timbulnya Transaksi Tersebut
Prosedur audit ini dimulai oleh auditor dari buku pembantu utang usaha.
Pengujian dilaksanakan dengan mengambil sample berikut ini.

20
1. Sampel akun debitur yang akan diperiksa transaksi mutasinya.
2. Sample transaksi yang dicatat dalam akun kreditur pilihan.
Periksa pengkreditan akun utang usaha ke dokumen pendukung: bukti
kas keluar (voucher), laporan penerimaan barang, dan surat order
pembelian. Auditor mengambil sample transaksi yang dicatat di sebelah
kredit akun kreditur yang terpilih dalam sample, kemudian melakukan
prosedur audit berikut ini:
1. Mengambil dari arsip klien bukti kas keluar beserta dokumen
pendukungnya: laporan penerimaan barang, faktur pembelian dari
pemasok, dan surat order pembelian.
2. Memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung bukti kas
keluar.
3. Memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam bukti kas keluar
dan dokumen pendukungnya.
4. Memeriksa kebenaran data yang di-posting ke dalam akun kreditur
berdasarkan bukti kas keluar.
5. Memastikan bahwa semua bukti kas keluar yang disample telah
dicatat di sebelah kredit akun kreditur.

Periksa pendebitan akun utang usaha ke dokumen pendukung: bukti


kas keluar, memo debit untuk retur pembelian. Auditor mengambil
sample transaksi yang dicatat di sebelah debit akun kreditur yang terpilih
dalam sample, kemudian melakukan prosedur audit berikut ini:
1. Mengambil dari arsip klien bukti bukti kas keluar dan memo debit
beserta dokumen pendukungnya: surat tagihan, atau kuitansi dari
kreditur, dan laporan pengiriman barang (untuk retur pembelian).
2. Memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung bukti kas keluar
dan memo debit.
3. Memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam bukti kas keluar
dan memo debit dan dokumen pendukungnya.

21
4. Memeriksa kebenaran data yang di-posting ke dalam akun kreditur
berdasarkan bukti kas keluar dan memo debit.
5. Memastikan bahwa semua bukti kas keluar dan memo debit yang
disample telah dicatat di sebelah debit akun kreditur.

Lakukan Verifikasi Pisah Batas (Cutoff) Transaksi Pembelian dan


Retur Pembelian
Verifikasi pisah batas dimaksudkan untuk membuktikan apakah klien
menggunakan pisah batas yang konsisten dalam memperhitungkan
transaksi pembelian dan retur pembelian yang termasuk dalam tahun
yang diaudit dibanding dengan tahun sebelumnya. Jika klien tidak
menggunakan tanggal pisah batas yang konsisten, akibatnya adalah
transaksi pembelian yang seharusnya diakui sebagai unsur penentuan kos
barang yang dijual (cost of goods sold) tahun berikutnya, dicatat oleh
klien sebagai unsur kos barang yang dijual tahun yang diaudit. Di lain
pihak, transaksi pembelian tahun yang diaudit dapat diakui oleh klien
sebagai unsur kos barang yang dijual tahun berikutnya. Dengan demikian
jika klien tidak konsisten dalam menggunakan tanggal pisah batas,
perhitungan rugi laba tahun yang diaudit akan terpengaruh langsung.
Oleh karena itu, auditor melakukan pemeriksaan terhadapa transaksi
pembelian dan retur pembelian, serta transaksi pengeluaran kas untuk
pembayaran utang usaha yang terjadi dalam beberapa minggu sebelum
dan sesudah tanggal neraca, untuk menetukan perlakuan yang tepat
terhadap pengakuan kos barang yang dijual dan pencatatan transaksi
pengurangan utang usaha.

Periksa dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha dalam


minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal neraca. Untuk membuktikan bahwa klien menggunakan pisah
batas yang konsisten terhadap transaksi pembelian, auditor memeriksa
bukti kas keluar dan dokumen pendukungnya yang dibuat dan dicatat

22
oleh klien dalam periode sebelum dan sesudah tanggal neraca. Dengan
membandingkan tanggal bukti kas keluar, faktur pembelian dari kreditur,
tanggal laporan peneriman barang, dan syarat pembelian yang digunakan,
auditor dapat membuktikan apakah transaksi pembelian dan timbulnya
utang ang terjadi dalam periode sebelum dan sesudah tanggal neraca,
telah dicatat dalam periode akuntansi yang seharusnya.

Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya utang usaha


dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama
setelah tanggal neraca. Untuk membuktikan ketepatan pisah batas
dalam transaksi berkurangnya utang usaha karena pembayaran kas
kepada kreditur, auditor memeriksa dokumen bukti kas keluar dan
kuitansi penerimaan kas dari kreditur yang dipakai sebagai basis
pencatatan ke di dalam kartu utang. Dari pemeriksaan ini, auditor dapat
membuktikan ketepatan pisah batas yang dipakai oleh klien dalam
mencatat pengurangan utang usaha dari pembayaran kas kepada kreditur.

Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pengeluaran kas.


Untuk membuktikan ketepatan pisah batas transaksi pengeluaran kas,
auditor melakukan observasi terhadap semua cek yang dibayarkan pada
hari terakhir tahun yang diaudit untuk membuktikan ketepatan pencatatan
pengeluaran kas dalam periode akuntansi yang seharusnya.

Periksa Adanya Utang Usaha yang tidak Dicatat


Sebagaimana telah dijelaskan dalam karakteristik utang usaha, klien
memiliki kecendrungan untuk melakukan understatement utang usaha
dengan cara tidak mencatat kewajiban klien pada tanggal neraca. Oleh
karena itu, focus auditor dalam pengujian substantif terhadap utang usaha
adalah menemukan adanya unrecorded transactions yang berkaitan
dengan utang usaha.

23
Utang yang belum dicatat pada tanggal neraca dapat timbul sebagai
akibat dari berbagai keadaan berikut ini:
1. Adanya dokumen-dokumen (misalnya surat order pembelian, laporan
penerimaan barang dan faktur pembelian dari pemasok) yang belum
diproses untuk pembayaran pada tanggal neraca, dan baru dibuatkan
bukti kas keluar setelah tanggal neraca.
2. Adanya barang-barang yang diterima sebelum tanggal neraca, namun
faktur dari pemasok baru diterima setelah tanggal neraca.
3. Klien menggunakan basis tunai (cash basis) dalam melaksanakan
system bukti kas keluarnya (voucher system).
4. Adanya jas ayang telah dinikmati oleh klien sebelum tanggal neraca,
namun penjual jas abaru menagih harga jasa tersebut setelah tanggal
neraca (misalnya biaya iklan bulan Oktober sampai Desember, baru
ditagih oleh perusahaan surat kabar bulan Januari tahun berikutnya).
Prosedur audit untuk menemukan adanya utang yang belum dicatat pada
tanggal neraca:
1. Periksa bukti-bukti yang mendukung transaksi pengeluaran kas yang
dicatat setelah tanggal neraca. Seperti telah dijelaskan, pemeriksaan
dokumen yang mendukung pembayaran utang lancar setelah tanggal
neraca merupakan salh satu prosedur audit untuk membuktikan
eksistensi utang lancar pada tanggal neraca. Di samping itu, prosedur
audit ini dapat pula digunakan untuk menemukan adanya utang yang
belum dicatat pada tanggal neraca. Jika perusahaan menggunakan
ledgerless bookkeeping, periksa arsip bukti kas keluar yang telah
dibayar (paid voucher file) dan pilihlah bukti kas keluar yang
dibayarkan setelah tanggal neraca. Periksa bukti pendukungnya
mengenai kemungkinan adanya utang yang belum dicatat pada
tanggal neraca. Sebagai contoh, dari pemeriksaan terhadap bukti kas
keluar yang dibayar setelah tanggal neraca dan laporan penerimaan
barang yang melampiri bukti kas keluar tersebut dapat diketahui
bahwa barang telah diterima oleh klien sebelum tanggal nerca,

24
sehingga pembayaran tersebut merupakan pembayaran utang yang
ada pada tanggal neraca. Karena bukti kas keluar tersebut baru dibuat
setelah tanggal neraca, maka utang tersebut seharusnya merupakan
kewajiban klien yang pada tanggal neraca belum dicatat.
2. Periksa bukti kas keluar yang dibuat setelah tanggal neraca. Untuk
menemukan adanya utang yang blum dicatat pada tanggal, auditor
dapat memeriksa bukti kas keluar yang dibuat setelah tanggal neraca.
Dengan memeriksa dokumen yang mendukung bukti kas keluar
tersebut, auditor dapat menemukan adanya unrecorded liabilities.
3. Periksa catatan sediaan barang konsinyasi masuk. Jika klien menjual
barang titipan milik perusahaan lain, pemeriksaan catatan sediaan
barang konsinyasi akan dapat menunjukkan berapa jumlah barang
konsinyasi yang telah dijual, namun oleh klien belum dikirimkan
hasil penjualannya kepada perusahaan yang menitipkan barang
tersebut. Jumlah tersebut merupakan utan klien kepada perusahaan
penitip barang.
4. Pelajari peraturan perpajakan yang menyangkut bisnis klien.
Kemungkinan klien mempunyai kewajiban pajak yang belum diakui
di dalam catatan akuntansinya pada tanggal neraca. Untuk
menemukan hal ini, auditor harus memahami peraturan perpajakan
yang menimbulkan kewajiban pajak bagi klien.
5. Lakukan review terhadap anggarna modal (capital budget), perintah
kerja (work order), dan kontrak pembangunan untuk memperoleh
bukti adanya utang yang belum dicatat. Dengan me-review berbagai
dokumen tersebut, auditor akan dapat menemukan kewajiban
sehubungan dengan pembelian aktiva tetap, perintah kerja, dan
kontrak pembangunan, yang telah menjadi kewajiban klien pada
tanggal neraca, namun belum dicatat dan disajikan oleh klien.
Jika auditor menemukan adanya utang yang pada tanggal neraca
belum dicatat dan tidak disajikan di neraca, ada dua jalan yang datap
ditempuh oleh auditor, yaitu: (1) mengusulkan adjustment kepada klien

25
untuk mencatat uang tersebut, (2) tidak mengusulkan adjustment kepada
klien, dan membiarkan utang tersebut tetap tidak tercatat. Kriteria yang
umumnya dipakai oleh auditor untuk memutuskan apakah akan
mengusulkan adjustment mengenai utang yang belum dicatat tersebut
adalah:
1. Apakah dengan tidak dicatatnya utang tersebut, penentuan laba-rugi
di dalam tahun yang diaudit akan terpengaruh secara material? Jika
jawabannya ya, maka auditor harus mengusulkan kepada klien
untuk mencatat utang yang belum dicatat tersebut.
2. Apakah dengan tidak dicatatnya utang tersebut akan mempengaruhi
jumlah modal kerja secara material? Jika jawabnnya ya maka
auditor harus mengusulkan jurnal adjustment untuk mencatat utang
tersebut.
Contoh berikut ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai
bagaimana auditor memperlakukan utang yang belum dicatat pada
tanggal neraca.
Contoh:
Suatu perusahaan memiliki total aktiva sebesar Rp 10 milyar, dan laba
menurut perhitungan perusahaan sebesar Rp 500 juta.

Kasus 1
Auditor menemukan sebuah faktur sebesar Rp 7.000.000,
bertanggal 30 Desember 20X2, dengan syarat pembelian FOB shipping
point. Barang telah dikirim oleh pemasok pada tanggal 30 Desember
20X2, tetapi baru diterima oleh klien pada tanggal 04 Januati 20X3 dan
dicatat oleh klien sebagai pembelian pda tanggal 04 Januari 20X3.
Jika auditor menemukan utang yang belum dicatat pada tanggal
neraca seperti kasus 1 tersebut, auditor tidak akan mengusulkan adanya
jurnal adjustment untuk mencatat utang tersebut, karena jika utang
tersebut diusulkan untuk di adjust, maka jurnal adjustment-nya adalah
sebagai berikut:

26
Pembelian Rp 7.000.000
Utang Usaha Rp 7.000.000

Kasus 2
Auditor menemukan sebuah faktur pembelian sebesar Rp
20.000.000, bertanggal 30 Desember 20X2, dengan syarat pembelian
FOB shipping point. Barang telah diterima pada tanggal 31 Desember
20X2 dan telah diikut sertakan dalam penghitungan fisik sediaan pada
tanggal neraca tersebut. Faktur baru diterima oleh klien pada tanggal 08
januari 20X3 dan dicatat sebagai transaksi pembelian tahun 20X3.
Jika auditor menemukan utang yang belum dicatat pada tanggal
neraca seperti pada kasus 2 tersebut, ia akan mengusulkan adanya
adjustment untuk mencatat utang tersebut karena:
1. Pembelian dicatat terlalu rendah, sehingga mengakibatkan kos
barang yang dijual (cost of good sold) disajikan oleh klien terlalu
rendah dan laba bersih tahun 20X2 dihitung terlalu tinggi.
2. Sediaan telah dicatat dari hasil penghitungan fisik sediaan, tetapu
utang usaha belum dicatat, sehingga hal ini mengakibatkan modal
kerja bersih pada tanggal neraca terlalu tinggi.

Kasus 3
Faktur pembelian aktiva tetap sebesar Rp 70.000.000, bertanggal
31 Desember 20X2 diterima oleh klien pada tanggal 15 Januari 20X3.
Aktiva tetap telah diterima oleh klien tanggal 31 Desember 20X2.
Jika utang pembelian aktiva tetap tersebut tidak dicatat pada
tanggal neraca, akibatnya adalah modal kerja bersih akan terpengaruh,
tetapi tidak mempengaruhi penentuan laba klien. Umumnya dalam
menghadapi utang ini, auditor tidak menyarankan jurnal adjustment.

27
Kasus 4
Auditor menemukan faktur sebesar Rp 15.000.000, bertanggal 31
Desember 20X2 untuk biaya iklan bulan Oktober, November, dan
Desember 20X2. Oleh klien, faktur ini baru dicatat pada tanggal 15
Januari 20X3.
Utang biaya iklan ini seharusnya telah dicatat pada tanggal neraca,
sehingga biaya iklan tidak disajikan terlalu rendah di dalam laporan rugi
laba tahun 20X2. Jika utang ini tidak dicatat, akibatnya adalah penentuan
laba terlalu tinggi, dan modal kerja bersih terlalu besar. Auditor akan
mengusulkan jurnla adjustment untuk mencatat adanya utang biaya iklan
pada tanggla neraca.

2.4.4 Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci


Tujuan pengujian saldo akun Utang Usaha rinci adalah untuk
memverifikasi:
a. Keberadaan atau keterjadian
b. Kelengkapan
c. Kewajiban
d. Penyajian dan Pengungkapan
Keberadaan, kelengkapan, kewajiban, serta penyajian dan
pengungkapan utang usaha di nerca dibuktikan oleh auditor dengan
mengirimkan surat konfirmasi kepada debitur dan rekonsiliasi utang
usaha yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang
diterima oleh klien dari kreditur.
Lakukan Konfirmasi Utang Usaha
Konfirmasi dalam pengujian substantif terhadap utang usaha merupakan
prosedur yang tidak harus ditepuh (bukan merupakan mandatory
procedure) seperti halnya dengan konfirmasi piutang usaha. Ada tiga
sebab mengapa prosedur konfirmasi bukan merupakan mandatory
procedure dalam pengujian substantif terhadap utang usaha:

28
1. Tujuan utama pengujian substantif terhadap utang usaha untuk
menemukan adanya unrecorded liabilities. Konfirmasi utang usaha
pada utang usaha yang telah tercatat, sehingga konfirmasi tidk dapat
menemukan keberadaan utang usaha yang belum dicatat pad
atanggal neraca.
2. Konfirmasi dilakukan untuk memperoleh bukti dari pihak luar yang
dapat dipercaya. Dalam pengujian substantif terhadap utang usaha,
auditor dapat memperoleh bukti-bukti dari pihak luar, seperti faktur
dari pemasok dan pernyataan piutang dari kreditur.
3. Kebanyakan utang usaha yang tercatat pada tanggal neraca telah
dibayarkan oleh klien sebelum auditor menyelesaikan pekerjaan
lapangannya. Pembayaran ini merupakan nukti adanya utang usaha
pada tanggal neraca.
Prosedur konfirmasi utang usaha ditempuh oleh auditor jika dua kondisi
berikut ini terdapat di dlaam perusahaan yang diaudit, yaitu: (1)
pengendalian terhadap utang usaha lemah, (2) dalam pengujian substantif
tidak dapat dijumpai adanya pernyataan piutang dari kreditur.
Jika prosedur konfirmasi ini dilaksanakan oleh auditor, kreditur yang
dipilih untuk dikirimi surat konfirmasi adalah: (1) kreditur yang
melakukan penjualan yang besar kepada klien dalam tahun yang diaudit,
(2) kreditur yang memiliki akun berisi transaksi yang luar bias sifatnya,
(3) krediturnya mempunyai hubungan istimewa dengan klien (misalnya
hubungan antara induk dengan anak perusahaan).
Berikut adalah contoh surat konfirmasi utang usaha :
Kepada PT. Eliona
Jln. Sawa CT VIII/94 Karanggayam
Yogyakarta

Kami meminta dengan hormat Saudara mengirimkan kepada akuntan


public kami, Rimendi & Rekan, pernyataan rinci mengenai jumlah utang

29
kami kepada Saudara per 31 Desember 202 berikut ini :
Jumlah utang kami yang belum jatuh Rp _______________
tempo Rp _______________
Jumlah utang kami yang sudah jatuh tempo Rp _______________
Jumlah komitmen pembelian Rp _______________
Jumlah surat berharga yang Saudara
pegang sebagai jaminan utang kami
Jawaban segera atas surat kami ini sangat kami harapkan. Terima kasih.

Oki Sasongko
_______________
Direktur Keuangan

Periksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Pembayaran Utang


Usaha Setelah Tanggal Neraca
Pembayaran utang usaha yang dilakukan oleh klien dapat memberikan
petunjuk mengenai keberadaan kewajiban klien tersebut. Oleh karena itu,
untuk membuktikan keberadaan utang usaha pada tanggal neraca, auditor
melakukan pemeriksaan terhadap dokumen yang mendukung transaksi
pembayaran utang usaha yang terjadi setelah tanggal neraca, yang dicatat
dalam register cek tersebut, auditor dapat memperoleh keyakinan bahwa
utang usaha yang tercantum di neraca benar-benar ada dan adanya utang
usaha yang tidak dicatat pada tanggal neraca.

Lakukan Rekonsiliasi Utang Usaha yang Tidak Dikonfirmasikan Ke


Pernyataan Piutang Bulanan yang Diterima oleh Klien dari Kreditur
Utang klien kepada debitur yang tidak dikonfirmasi dapat diverifikasi
keberadaannya melalui rekonsiliasi akun utang kepada kreditur dengan
surat pernyataan piutang (account receivable statement) yang diterima
secara bulanan dari kreditur. Dari rekonsiliasi ini, auditor dapat
memperoleh keyakinan bahwa utang usaha yang tercantum di neraca

30
benar-benar ada dan adanya utang usaha yang tidak dicatat pada tanggal
neraca.

2.4.5 Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan


Periksa Klasifikasi Utang Usaha Di Neraca
Unsur utang lancar harus disajikan di neraca menurut urutan jatuh
temponya. Jika jumlahnya material, utang usaha harus disajikan di neraca
menjadi tiga golongan: (1) utang usaha kepada kreditur usaha, (2) utang
usaha kepada perusahaan afiliasi, dan (3) utang usaha kepada direksi,
pemegang saham utama, manager, dan karyawan perusahaan. Auditor
harus memeriksa saldo debit akun Utang Usaha dan jika perlu melakukan
jurnal penggolongan kembali. Saldo debit utang usaha dapat terjadi
karena klien membayarkan persekot pembelian dan mencatat persekot ini
dengan cara mendebit akun Utang. Saldo debit akun Utang Usaha juga
dapat timbul karena adanya retur pembelian. Jika jumlahnya material,
saldo debit akun Utang Usaha ini harus dikelompokkan sebagai unsur
aktiva lancar, tidak boleh dikurangkan dari utang usaha. Oleh karena itu,
auditor berkewajiban menggolongkan kembali akun Utang Usaha yang
bersaldo debit besar ke dalam kelompok aktiva lancar. Utang Usaha
harus disajikan secara terpisah dari utang nonusaha. Jika klien
mempunyai komitmen yang akan menimbulkan kewajiban dalam periode
akuntansi berikutnya, ia harus mengungkapkan mengenai hal ini di
neraca. Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo harus
digolongkan ke dalam kelompok uang lancar.

Periksa Pengungkapan yang Bersangkutan dengan Utang Nonusaha


Jika utang jangka panjang yang segera jatuh tempo dilunasi dengan
aktiva tidak lancar (misalnya dari dana pelunasan utang jangka
panjang/sinking fund), maka jumlah utang ini tetap disajikan di neraca
dalam kelompok utang jangka panjang, bukan utang lancar untuk

31
menghindari pengaruh signifikan terhadap perhitungan perubahan posisi
keuangan (modal kerja).

Periksa Pengungungkapan yang Bersangkutan dengan Utang Usaha


Utang usaha yang dijamin dengan aktiva harus diungkapkan secara
memadai di neraca atau dalam penjelasan laporan keuangan. Begitu pula
aktiva yang dijaminkan dalam utang usaha harus diungkapkan secara
memadai. Utang usaha harus selalu dinyatakan dalam jumlah bersih
setelah dikurangi dengan trade discounts. Potongan tunai dapat
dikurangkan atau dapat pula tidak dikurangkan dari utang usaha,
tergantung atas prosedur pencatatan utang usaha yang digunakan oleh
klien.
Mintalah Informasi dari Klien untuk Menemukan Komitmen yang
Belum Diungkapkan dan Utang Bersyarat da Periksa Penjelasan
yang Bersangkutan dengan Utang Tersebut
Sebenarnya kewajiban perusahaan tidak hanya terdiri dari utang yang
nyata telah terjadi, tetapi juga meliputi kewajiban yang secara potensial
akan terjadi, yang berupa komitmen dan utang bersyarat. Pemakaian
laporan keuangan berkepentingan untuk mengetahui informasi mengenai
komitmen yang telah dibuat oleh klien dan kewajiban bersyarat yang ada
pada tangal neraca, di samping informasi mengenai utang yang benar-
benar telah merupakan kewajiban perusahaan pada tanggal tersebut. Oleh
karena itu, dalam pengujian substantif terhadap utang usaha, auditor
berkewajiban untuk menentukan ada atau tidaknya komitmen yang tidak
diungkapkan dan utang bersyarat pada tanggal neraca, dan jika ada,
apakah klien telah mengungkapkan secara memadai mengenai utang
tersebut.
Utang bersyarat (contingent liabilities) merupakan kewajiban potensial
yang mempunyai kemungkinan akan sungguh-sungguh menjadi utang
atau akan dapat diselesaikan tanpa pengeluaran uang di masa yang akan
datang. Utang bersyarat berbeda dengan utang yang belum dicatat pada

32
tanggal neraca (unrecorded liabilities). Unrecorded liabilities ini pada
tanggal neraca sudah benar-benar merupakan kewajiban perusahaan,
tetapi belum dicatat. Di lain pihak, pada tanggal neraca utang bersyarat
belum merupakan kewajiban. Apakah suatu utang bersyarat akan menjadi
utang atau tidak, sangat tergantung dari kejadian di masa yang akan
datang. Setelah tanggal neraca, utang bersyarat dapat benar-benar
menjadi utang, tetapi dapat juga tidak.
Contoh utang bersyarat adalah piutang wesel yang didiskontokan ke
bank, Jika klien menjual wesel tagih ke bank beberapa hari menjelang
tanggal neraca, maka pada tanggal neraca klien mempunyai utang
bersyarat. Jika pihak yang mengeluarkanwesel gagal melunasi
kewajibannya pada saat jatuh tempo wesel, maka bank akan menagih
nominal wesel tersebut kepada klien. Dengan demikian, pada tanggal
neraca klien mempunyai utang bersyarat, yaitu kewajiban yang potensial
akan menjadi utang, jika pihak yang mengeluarkan wesel tidak dapat
melunasi kewajiban pada saatnya. Contoh lain utang bersyarat adalah:
biaya/denda pengadilan, tambahan pengenaan pajak, klaim dari pembeli,
biaya reparasi produk yang dijual dengan garansi.
Utang bersyarat ini harus dicantumkan di neraca dengan salah satu dari
tiga cara berikut ini:
1. Utang bersyarat dicantumkan di dalam tanda kurung, dalam
kelompok utang lancar. Jumlah utang bersyarat ini tidak
ditambahkan kepada utang lancar yang lain.
2. Utang bersyarat dicantumkan di bawah judul Utang Bersyarat di
neraca. Jumlah utang bersyarat tidak diperhitungkan dalam
menjumlah utang lancar.
3. Juka memerlukan penjelasan yang panjang, utang bersyarat disajikan
di bagian penjelasan laporan keuangan (notes to financial statement).
Untuk menentukan macam utang bersyarat dan cukup atau tidaknya
penjelasan terhadap utang tersebut, auditor menempuh cara pemeriksaan
berikut ini:

33
1. Pelajari notulen rapat direksi sampai dengan tanggal penyelesaian
pekerjaan lapangan.
2. Periksa kontrak-kontrak pembelian, penjualan, dan kontrak yang
lain.
3. Mintalah informasi dari pengacara klien mengenai perkara
pengadilan yang melibatkan klien.
4. Kirimkan konfirmasi ke bank.
5. Pelajari arsip korespondensi klien dengan lembaga keuangan.

Pelajari notulen rapat direksi sampai dengan tanggal penyelesaian


pekerjaan lapangan. Notulen rapat yang diselenggarakan oleh direksi
akan dapat menunjukkan kontrak-kontrak penting yang akan
ditandatangani oleh klien, perkara pengadilan yang melibatkan klien,
keputusan-keputusan yang menyangkut anak perusahaan, yang
kesemuanya ini berpotensi akan menimbulkan utang bersyarat.

Periksa kontrak-kontrak pembelian, penjualan, dan kontrak yang


lain. Setiap kontrak yang ditandatangani oleh klien menimbulkan
komitmen (kesanggupan, keterikatan) di pihak klien untuk melakukan
sesuatu di masa yang akan datang seperti yang tertulis di dalam kontrak.
Di dalam kontrak pembelian misalnya, klien mempunyai komitmen
untuk melakukan pembelian sediaan di masa yang akan datang sejumlah
dan pada harga yang telah disetujui di dalam kontrak. Komitmen lain
adalah antara lain: kontrak pembangunan pabrik dan gedung, program
pensiun atau program pembagian laba, kontrak karya jangka panjang
dengan karyawan inti. Semua komitmen yang melibatkan jumlah rupiah
yang material perlu dijelaskan di bagian Penjelasan Laporan Keuangan di
bawah judul Utang Bersyarat.

34
Mintalah informasi dari pengacara klien mengenai perkara
pengadilan yang melibatkan klien. Informasi yang diperlukan dari
pengacara klien meliputi:
a. Gambaran perkara pengadilan yang melibatkan klien yang ditangani
oleh pengacara yang bersangkutan.
b. Suatu penilaian terhadap kemungkinan keputusan pengadilan yang
tidak menguntungkan klien akibat perkara yang digambarkan
tersebut.
c. Suatu taksiran kerugian yang mungkin diderita oleh klien akibat
perkara pengadilan tersebut atau suatu pernyataan dari pengacara
bahwa taksiran kerugian tidak mungkin dilakukan oleh pengacara.
d. Suatu pernyataan jumlah honorarium pengacara yang belum ditagih.

Kirimkan konfirmasi ke bank. Auditor meminta informasi dari bank


mengenai kewajiban bersyarat yang menjadi tanggung jawab klien pada
tanggal neraca.

Pelajari arsip korespondensi klien dengan lembaga keuangan. Arsip


korespondensi klien dengan lembaga keuangan akan memberikan
informasi mengenai persetujuan pemberian jaminan terhadap utang yang
ditarik oleh perusahaan lain dan penjualan piutang usaha. Kedua jenis
transaksi tersebut mempunyai kemungkinan menimbulkan kewajiban
bagi klien, jika perusahaan yang dijamin atau kreditur tidak memenuhi
kewajibannya kepada lembaga keuangan.

35
BAB III
KESIMPULAN

Utang lancar memiliki karakteristrik yang berbeda dengan karakteristik


aktiva lancar, yang berdampak terhadap pengujian substantif terhadap utang
lancar. Dalam menyajikan aktiva lancar, klien berkecendrungan umum untuk
menyajikan aktiva tersebut lebih tinggi dari jumlah yang senyatanya. Di lain
pihak, dalam menyajikan utang lancar, klien berkecendrungan umum untuk
menyajikan utang tersebut lebih rendah dari jumlah yang senyatanya.
Kecendrungan ini di dorong oleh keinginan untuk menyajikan gambaran model
kerja perusahaan yang lebih baik. Oleh karena itu, pengujian substantif terhadap
utang lancar di tujukan untuk menemukan adanya penyajian utang lancar yang
lebih rendah dari jumlah yang seharusnya (understatment utang lancar).
Pengujian substantif terhadap utang usaha di tujukan untuk memperoleh
keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi bersangkutan dengan utang usaha,
membuktikan keberadaan utang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan
dengan utang usaha yang dicantumkan di neraca, membuktikan kelengkapan
transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi serta membuktikan kewajaran
penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca.

36
DAFTAR PUSTAKA

Mulyadi.2008. Auditing Buku 2 Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat

Messier, William F. Stefen M. Glover. Douglas F. Prawitt. 2014. Jasa Audit dan
Assurance Pendekatan Sistematis Edisi 8 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat

37