Anda di halaman 1dari 10

Kecerdasan Spiritual Dan Caring Petugas Kesehatan Terhadap

Kepatuhan Pasien TB. Paru Dalam Pengobatan


Rospa Hetharia
Dosen Jurusan Keprawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta I
Email : paroshetharia@gmail.com

Abstrak Kata kunci: Caring, Kecerdasan spiritual,


Kepatuhan, Pengobatan TB paru.
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan
hipotesa adanya hubungan kecerdasan spiritual Abstract
dan caring petugas kesehatan terhadap
kepatuhan pasien TB paru dalam pengobatan This study aimed to prove the hypotheses of
di Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur. Desain relationship between spiritual intelligence and
penelitian ini adalah deskriptif analisis caring behavior of health worker, to and patient
menggunakan pendekatan cross sectional compliance to the treatment of pulmonary
dengan model restrospektif. Uji Chi-Square tuberculosis in East Jakarta Djatinegara Health
digunakan untuk mengidentifikasi hubungan Center. The desain of this study was a
faktor karakteristik penguat dan pemungkin descriptive analyses using a cross sectional
sikap caring dan nilai kecerdasan spiritual approach and retrospective model. A Chi-square
petugas kesehatan serta sikap positif pasien TB test was used to identify the correlation
paru dalam pengobatan di Puskesmas Jatinegara between the amplifier and the enabling
Jakarta Timur. Uji Regresi Logistik digunakan characteristics of caring attitudes and values of
untuk menganalisa variabel independen yang spiritual intelligence of health workers and
paling berhubungan dengan kepatuhan pasien positive attitude of patients with pulmonary TB
TB dalam pengobatan. Sampel penelitian ini to the treatment at a health center in
berjumlah 40 orang petugas kesehatan yang Djatinegara, East Jakarta. A logistic regression
kontak langsung dengan pasien TB paru serta test was used to analyze the independent
sampel penelitian sikap positif pasien TB paru variables which were the most correlated with
yang telah sembuh total tahun 2011 di patient compliance in the treatment of
Puskesmas Kec. Jatinegara Jakarta Timur. tuberculosis. The number of sample was 40
Instrumen dikembangkan dari teori caring dan health workers who had direct contact with
kecerdasan spiritual untuk melihat nilai patients with pulmonary tuberculosis and a
kecerdasan spiritual yaitu kejujuran, keikhlasan, positive attitude sample of pulmonary TB
kesabaran, keadilan dan sikap caring yaitu patients who had fully recovered in 2011 in the
perhatian, kasih sayang petugas kesehatan dan district health center, Djatinegara East Jakarta.
PMO serta untuk melihat perilaku pasien The instrument was developed from the theory
berobat yaitu, sikap, disiplin dan komitmen. of caring and spiritual intelligence to see the
Hasil uji Chi-Squre terhadap variabel value of honesty, sincerit , patience, justice, and
kecerdasan spiritual menghasilkan tidak ada caring attitude includes attention, affection and
hubungan, variabel caring dan PMO, serta PMO health workers, and to see the behavior of
perilaku pasien yang memiliki hubungan patients to treatment, includes attitude,
bermakna dengan kepatuhan pasien TB dalam discipline, commitment.The result of Chi -
pengobatan yaitu perhatian, kasih sayang square test showed no significant relationship
petugas, PMO, perilaku pasien yaitu sikap against spiritual intelligence variables produced
positif, disiplin, komitmen pasien. Uji Regresi no relationship , caring and PMO variables, as
Logistik menunjukkan komitmen pasien well as the behavior of patients who have a
merupakan variabel yang sangat berhubungan significant relationship with patient compliance
dengan kepatuhan pasien untuk berobat. in the treatment of tuberculosis, namely
Rekomendasi dari penelitian ini ialah agar attention, affection officer, PMO, patient
penelitian selanjutnya menggunakan metodologi behavior is a positive attitude, discipline,
case kontrol dan kohort. commitment to the patient. A logistic

124
125 Jurnal Health Quality Vol. 4 No. 2 Mei 2014,Hal.77-141

Regression test conducted to determine the Indonesia. Program itu merupakan strategi
patient 's commitment variable is a variable that control.5 Pada tahun 2010, kebijakan
is highly correlated with patient adherence to Pemerintah Indonesia melalui Pedoman
treatment . In the discussion it was found that Nasional Pengendalian TB paru dengan strategi
discipline and commitment were highly DOTS (Directly Observed Treatment Short-
correlated with patient compliance in the course) masa tahun 2010-2014 meliputi
treatment of pulmonary tuberculosis. This gives komitmen politik, penemuan kasus melalui
a different picture of the respondents who have pemeriksaan dahak, pengobatan standar dengan
a commitment to treatment with those who are supervisi dan dukungan bagi pasien, sistem
less committed to treatment. From this research pengelolaan dan ketersediaan OAT (Obat Anti
can recomended that further research should be Tuberkulosis), kelima Sistem monitoring
use the case controle studies as methodology. pencatatan dan pelaporan serta kinerja program
Keywords : Caring, Compliance, Spiritual dari layanan kesehatan yang benar.5 Hasil
intelligence, Treatment of pulmonary penelitian Hema Malik dkk di RS Dr M Djamil
tuberculosis Padang Tahun 2009 tentang hubungan
kecerdasan spiritual dengan perilaku caring
Pendahuluan perawat bahwa Perilaku Caring masih buruk
dan kecerdasan spiritual masih sebatas
Masalah pengobatan penyakit pengetahuan12. Menurut Hanani bahwa petugas
Tuberkulosis (TB) paru merupakan masalah kesehatan dalam pelayanan dan pengobatan
kesehatan yang harus dihadapi masyarakat terhadap pasien tuberkulosis paru perlu
dunia. Indonesia merupakan negara dengan mengedepankan keyakinan dan nilai-nilai
pasien TB paru terbanyak ke-5 setelah RRC, kecerdasan spiritual. Disamping itu, perlu
India, Afrika Selatan, dan Nigeria, yaitu 5,8 % adanya pendampingan spiritual dengan harapan
dari jumlah total pasien TB paru di dunia. program pengobatan akan berhasil bila terdapat
Diperkirakan setiap tahun ada 429.730 kasus keseimbangan antara program pengobatan
baru dan kematian 62.246 orang di seluruh medis dan kecerdasan spiritual (nilai-nilai
dunia. Selain itu, insiden kasus Tuberkulosis agama) terhadap penyakit TB paru. 7 Vence
paru positif yang berjumlah 102/100.000 dalam penelitiannya di Midwestern Community
penduduk diantaranya merupakan usia Nursing tentang sikap caring petugas
produktif (15-50 tahun).5 Pemerintah Indonesia kesehatan terhadap pasien berpenyakit TB paru
melalui pembangunan Nasional jangka panjang menemukan bahwa petugas kesehatan masih
2005-2015 menyatakan penyakit TB paru mengandalkan terapi medis. 5 Temuan ini
merupakan target prioritas dan sekaligus diperkuat oleh Pargament yang membenarkan
merupakan tujuan pembangunan MDG bahwa dalam intervensi keperawatan petugas
(Mellinium Development Goals).5 Namun, kesehatan, harus menunjukkan rasa empati,
beberapa kendala pengobatan TB paru masih sabar, kasih sayang pada pasien sebagai obyek
terjadi yaitu lama pengobatan 6-8 bulan, pelayanan kesehatan sehingga perilaku caring
kemiskinan, kegagalan menjalani program TB, merupakan motivasi pasien untuk menerima
perubahan demografi, pasien tidak memahami kondisi sakitnya. 15 Perilaku pasien banyak
pentingnya program dan aturan pengobatan dipengaruhi oleh keyakinan termasuk agama
penyakit TB, pekerjaan, biaya transportasi yang menjadi arahan setiap individu dalam
menuju layanan kesehatan. Disamping itu, menghadapi masalah dalam kehidupannya.
munculnya resistensi Obat Anti TB paru Richard Bewes menjelaskan bahwa agama
(OAT) / Multi Drug Resisten (MDR), lebih berperan dalam memperhatikan aspek
kurangnya pengawasan pemerintah terhadap kesehatan, terutama pada aspek pelayanan
program pengobatan dan budaya masyarakat kesehatan dan pencegahan penyakit 3,
yang menganggap penyakit tuberkulosis paru sedangkan Leininger berpendapat seseorang
adalah penyakit keturunan, atau penyakit akan dipengaruhi oleh budaya kepercayaan
kutukan, kesemuanya mengakibatkan dengan sikap ikhlas, jujur, sabar, adil, sikap
terjadinya peningkatan angka kematian. Oleh perhatian, kasih sayang, kepedulian dan
karena itu, untuk mempercepat penyembuhan kerjasama yang merupakan sikap perilaku
pasien tuberkulosis paru maka sejak tahun caring dalam kecerdasan spiritual.11
1994 WHO meluncurkan program DOTS
dengan melibatkan peran pemerintah
Rospa Hetharia, Alasan Spiritual dan Caring Petugas 126

Metode Hasil

Penelitian ini merupakan penelitian Hasil penelitian pada pasien TB paru yang telah
kuantitatif dengan rancangan cross sectional sembuh dengan usia produktif (15- 54 tahun),
model restrospektif bersifat backward pendidikan minimal SD dan maksimal SMA.
looking untuk melihat gambaran kebelakang Pekerjaan pada pasien TB paru ini adalah
tentang pasien TB paru berusia produktif (15-50 pekerjaan kasar dan berkelompok sehingga
tahun) yang telah sembuh sebanyak 40 pasien mempermudah penularan, mempunyai
dan petugas kesehatan maupun Pengawas kebiasaan makan minum satu tempat antar
Minum Obat (PMO) yang kontak langsung teman dengan alasan solidaritas, bertempat
dengan pasien TB paru sebanyak 40 orang yang tinggal di lokasi padat penduduk dan rata-rata
dirawat jalan sejak bulan Januari tahun 2011 penduduk musiman sehingga bila responden
sampai bulan Desember tahun 2011 di tidak bekerja akan pulang kampong dan
Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta mayoritas responden beragama Islam. Variabel
Timur.Kriteria inklusi meliputi mampu independen yang digunakan dalam penelitian ini
berkomunikasi baik dan bersedia adalah kecerdasan spiritual (meliputi kejujuran,
menandatangani informed consent.Analisa keikhlasan, kesabaran, keadilan), perilaku
bivariat menggunakan uji Chi-square dan caring petugas (meliputi perhatian, kasih
analisa multivariat dengan menggunakan uji sayang, pengawasan minum obat), dan perilaku
Regresi logistik dengan tingkat kemaknaan pasien (meliputi sikap, disiplin, komitmen).
=0.05 dan interval kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil kuesioner yang disebar
kepada 40 responden, didapat hasil sebagai
berikut :

I. Analisis Univariat : Analisis univariat didapatkan hasil sebagai berikut :


Tabel 1: Analisa univariat Variabel Independen (kejujuran, keikhlasan,kesabaran, keadilan,
perhatian,,kasih sayang,PMO, Sikap, disiplin, komitmen) terhadap variabel dependen ( kepatuhan
pasien TB paru untuk berobat di Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur (N=40)

Var. Independen Jumlah Persentase


Ya 26 65.0%
Kejujuran
Tidak 14 35.0%
Ya 26 65.0%
Keikhlasan
Tidak 14 35.0%
Ya 28 70.0%
Kesabaran
Tidak 12 30.0%
Ya 23 57.5%
Keadilan
Tidak 17 42.5%
Ya 20 50.0%
Perhatian
Tidak 20 50.0%
Kasih Ya 20 50.0%
Sayang Tidak 20 50.0%
PMO Ya 20 50.0%
Tidak 20 50.0%
Ya 14 35.0%
Sikap
Tidak 26 65.0%
Ya 13 32.5%
Disiplin
Tidak 27 67.5%
Ya 17 42.5%
Komitmen
Tidak 23 57.5%
127 Jurnal Health Quality Vol. 4 No. 2 Mei 2014,Hal.77-141

II. Analisis Bivariat

Tabel 2 : Hubungan antara kecerdasan spiritual dengan kepatuhan pasien TB Paru untuk berobat di
puskesmas Kec. Jatinegara tahun 2012 (N=40)
Patuh Tidak Patuh Odds
No Var. Independen p-value 95% CI
n % n % Ratio
1 Kejujuran
Ya 5 71.4% 21 63.6% 0.695 1.429 0.239 - 8.528
Tidak 2 28.6% 12 36.4%
2. Keikhlasan
Ya 3 42.9% 23 69.7% 0.176 0.326 0.061 - 1.734
Tidak 4 57.1% 10 30.3%
3 Kesabaran
Ya 6 85.7% 22 66.7% 0.318 3.000 0.320 - 28.10
Tidak 1 14.3% 11 33.3%
4 Keadilan
Ya 2 28.6% 21 63.6% 0.088 0.229 0.038 - 1.364
Tidak 5 71.4% 12 36.4%
(=0.05)

Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa tidak memiliki p-value 0.695 (=0.05), keikhlasan
terdapat hubungan antara ke 4 variabel memiliki p-value 0.176 (=0.05), kesabaran
(kejujuran, keikhlasan, kesabaran dan memiliki p-value 0.318 (=0.05) dan keadilan
keadilan) dengan kepatuhan pasien TB Paru memiliki p-value 0.088 (=0.05).
dalam pengobatan. Variabel kejujuran

Tabel 3. Hubungan antara Perilaku Caring Petugas kesehatan dengan Kepatuhan pasien Tb Paru untuk
berobat di puskesmas Kec. Jatinegara tahun 2012 (N=40)
Odds
No Var. Independen Patuh Tidak Patuh p-value 95% CI
Ratio
1.Perhatian
Ya 6 85.7% 14 42.4% 0.037 8.143 0.878 - 75.48
Tidak 1 14.3% 19 57.6%
2. Kasih Sayang
Ya 6 85.7% 14 42.4% 0.037 8.143 0.878 - 75.48
Tidak 1 14.3% 19 57.6%
3. PMO
Ya 6 85.7% 14 42.4% 0.037 8.143 0.878 - 75.48
57.6%
Tidak 1 14.3% 19

(=0.05)

Data pada tabel 3 diatas menunjukkan bahwa nilai p-value = 0.037 (=0.05), Kasih Sayang:
perilaku caring yaitu perhatian dan kasih sayang p-value 0.037 (=0.05) dan pengawas minum
petugas kesehatan terhadap pasien serta Obat (PMO) memiliki nilai p-value 0.037
pendamping PMO memiliki hubungan sangat (=0.05).
signifikan dimana variabel perhatian memiliki
Rospa Hetharia, Alasan Spiritual dan Caring Petugas 128

Tabel 4 : Hubungan antara perilaku pasien ( Sikap, disiplin, komitmen ) dengan kepatuhan pasien TB
paru untuk berobat di Puskesmas Kec. Jatinegara tahun 2012 (N=40)

Var. Tidak Odds


No Patuh p-value 95% CI
Independen Patuh Ratio
1 Sikap
Ya 5 71.4% 9 27.3% 0.026 6.667 1.091 - 40.73
Tidak 2 28.6% 24 72.7%
2 Disiplin
Ya 5 71.4% 8 24.2% 0.015 7.813 1.261 - 48.36
Tidak 2 28.6% 25 75.8%
3 Komitmen
Ya 6 85.7% 11 33.3% 0.011 12.000 1.281 - 112.4
66.7%
Tidak 1 14.3% 22

(=0.05)

Tabel 4 diatas menunjukkan Uji Chi-Square metode Regresi Logistik menggunakan


terhadap variabel sikap dengan nilai p-value = metode Enter, yaitu dengan cara
0.026 (=0.05), disiplin memiliki p-value memasukkan secara bersamaan (sekaligus)
0.015 (=0.05) dan komitmen dengan p-value variabel hasil analisis bivariat yang
0.01 (=0.05) dan memiliki hubungan memiliki p-value < 0.25 ke dalam model
signifikan dengan kepatuhan pasien untuk regresi, kemudian dilakukan seleksi dengan
berobat. mengeluarkan variabel penelitian satu
persatu dari model, yaitu variabel yang
III. Analisa Multivariat memiliki p-value > 0.05.
Analisis multivariat dimulai dari Analisis model pertama hubungan /
pemilihan kandidat model, pemilihan model pengaruh 7 variabel independen, yaitu
terbaik, penilaian interaksi, dan penentuan Keadilan, Perhatian, Kasih Sayang,
model akhir dilakukan dengan melihat dari Pengawasan Minum Obat (PMO), Sikap,
10 variabel independen (variabel bebas) Disiplin, dan Komitmen, ternyata beberapa
yaitu kejujuran, kesabaran, keikhlasan, variabel yang memiliki p-value > 0.05,
keadilan, perhatian, kasih sayang, dengan yang paling besar adalah Disiplin,
pengawasan minum obat (PMO), sikap, yaitu sebesar 0.908. Oleh karena itu
disiplin, dan komitmen yang di perkirakan variabel Disiplin dikeluarkan dari model.
berhubungan / memiliki pengaruh terhadap Kemudian diproses lagi dengan hanya
kepatuhan dalam pengobatan ternyata ada 7 mengikut sertakan variabel perhatian,
yaitu Keadilan, Perhatian, Kasih Sayang, keadilan,kasih sayang, PMO, komitmen
Pengawasan Minum Obat (PMO), Sikap, terhadap kepatuhan variabel dependen, hasil
Disiplin, dan Komitmen yang berpengaruh model tanpa variabel disiplin terlihat pada
terhadap variabel dependen (kepatuhan) tabel berikut ini:
menjalani pengobatan. Untuk Pemilihan
Model Penentu Analisis dilakukan dengan
129 Jurnal Health Quality Vol. 4 No. 2 Mei 2014,Hal.77-141

Tabel 5 : Tabel Penentu Analisa Multivariat Pembuatan Model Variabel Kecerdasan Spiritual,
Caring terhadap Kepatuhan Pasien TB untuk berobat di Puskesmas Kecamatan Jatinegara
Jakarta Timur

Variabel Koefisien S.E p-value OR


Keadilan -0.58 1.267 0.646 0.559
Perhatian 3.026 1.784 0.090 20.617
Kasih Sayang 1.311 2.789 0.638 3.710
PMO 1.568 3.359 0.641 4.796
Sikap -0.496 1.982 0.802 0.609
Komitmen 3.368 1.903 0.077 29.027
Konstanta -7.262 3.222 0.024 0.001
-2 Log likelihood = 19.856, G = 17.242

Dari hasil analisa regresi logestik diatas value > 0.05 ). Kemudian dilakukan seleksi
ternyata beberapa variabel independen dengan mengeluarkan variabel penelitian
memiliki p-valut 0.05; yaitu keadilan , satu persatu dari model, yaitu variabel yang
kasih sayang, perhatian, sikap, PMO, memiliki p-value > 0.05 (variabel yang
dikeluarkan dari model, dan hasilnya dapat memiliki tanda bintang).
dilihat pada tabel: 5 Setelah itu dilakukan uji Regresi dengan
Analisa multivariat untuk menguji beberapa memasukan 4 variabel independen
variabel 7 variabel independen kecerdasan kecerdasan spiritual untuk dianalisis yaitu
spiritual dan 3 variabel independen perilaku keadilan, perhatian, kasih sayang,
pasien yang berhubungan / pengaruh atau tidak pengawasan minum obat (PMO), 3 variabel
terhadap kepatuhan pasien TB paru untuk independen pasien sikap, disiplin, dan
berobat. Analisa mulitivariat diawali dengan
komitmen dengan hasil sebagai berikut ;
memilih variabel dalam analisa bivariat yang
menunjukkan p-value < 0.25 yaitu variabel keadilan p-value 0,646, perhatian p-value
kecerdasan spiritual; nilai kejujuran p-value 0.090 , kasih sayang p-value 0.638,
0,695 OR 1,239, keikhlasan p-value 0,276 pengawasan minum obat (PMO) p-value
dan OR 0.326, sedangkan analisa bivariat 0.641, sikap p-value 0.802, disiplin p-value
menunjukan nilai p-valute > 0.05 kesabaran 0.908, dan komitmen p-value 0.077. dengan
p-value 0.318 dan OR 3.000, keadilan* p- konstanta 0.024 dan OR 0.001 konstanta
value 0.088 dan OR 0,229, variabel pada regresi menyatakan koefisien dari
independen perilaku caring petugas faktor-faktor lain yang tidak terdapat pada
kesehatan yaitu perhatian* p-value 0.037 data ( -2 Log likelihood = 19.859. G =
dan OR 8.143, kasih sayang *p-value 0.037 17.242 berhubungan dengan besarnya
dan OR 8.143 , PMO* p-value 0.037 dan variasi dari data yang dapat dijelaskan oleh
OR 8.143,dan variabel perilaku pasien model regresi logistik).
Hasil analisis regresi logistik di atas ternyata
yaitu, sikap* p-value 0.026 dan OR 6.667
terdapat variabel yang memiliki p-value > 0.05.
disiplin* p-value 6.667 dan OR 7.813 yaitu variabel Sikap, PMO, Keadilan, Kasih
komitmen* p-value 0.011 dan OR 12.000 Sayang dikeluarkan dari model.
(variabel bertanda bintang memiliki nilai p-
Rospa Hetharia, Alasan Spiritual dan Caring Petugas 130

Tabel 6 : Hasil akhir Analisa Multivariat Pengaruh Kecerdasan Spiritual dan Caring
Petugas kesehtan dan sikap pasien terhadap Kepatuhan Pasien TB dalam pengobatan
di Puskesmas kecamatan Jatinegara Jakarta Timur
Var Independen Koefisien S.E p-value OR
Komitmen 2.485 1.142 0.029 12.000
Konstanta -3.091 1.022 0.003 0.045
-2 Log likelihood = 30.301, G = 6.797

Hasil penelitian pada sikap pasien dalam pasien dalam kepatuhan selama menjalani
menjalani pengobatan memiliki komitmen pengobatan pada analisa keeratan variabel
untuk patuh 85,7% dan tidak patuh 14,3 % OR 12.000 ( 95 % CI 1.261 -48.16 ) yang
dalam menjalani pengobatan uji statestik artinya pasien TB memiliki kecenderungan
diperoleh p- 0.011 (0.05) artinya ada untuk berkomitmen 12.000 kali lebih besar
pengaruh yang siknifikan antara komitmen untuk patuh menjalani pengobatan.
bijaksana, prinsip hidup dan harus tertanam
Pembahasan kuat dan subur dalam jiwa petugas kesehatan 2
Peneliti berpendapat bahwa kejujuran adalah
Setelah dilakukan analisis terlihat karya Allah dalam kehidupan insan petugas
beberapa sub variabel tidak memiliki kesehatan sehingga setiap petugas kesehatan
hubungan yang terlihat pada variabel menjadikan jujur sebagai gaya hidup kapan
kecerdasan spiritual yaitu : kejujuran, saja dan dimana saja.
keikhlasan, kesabaran. Pada analisis bivariat Hasil analisis keikhlasan pada 40
didapatkan kejujuran pada 40 responden responden, terlihat 26 responden
dimana 26 responden jujur diantaranya 21 ikhlas,diantaranya 23 responden (88.5%)
responden (80.8%) tidak patuh dan 5 tidak patuh dan 3 responden patuh (11.5%),
responden lainnya patuh (19.2%), sedangkan sedangkan 14 responden yang tidak ikhlas
pada 14 responden tidak jujur diantaranya terdapat 10 responden (71.4%) tidak patuh dan
terdapat 12 responden (85.7%) tidak patuh dan 4 responden patuh (28.6%). Hasil Chi-Square
2 responden patuh (14.3%). Uji Chi-Square Tests nilai Sig. (p-value) 0.176 > 0.05.
Tests didapatkan p-value 0.695 p= > 0.05. Ikhlas merupakan sikap tulus hati
Sikap responden yang memiliki memurnikan niat untuk melakukan pelayanan
kejujuran dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. Ikhlas memiliki arti memurnikan
kesehatan merupakan sifat ruhaniah dan tujuan dan diwajibkan bagi setiap mukmin
Ilahiah yang dapat dibentuk dan memiliki sifat ikhlas.15 Agama apapun
dikembangkan oleh petugas kesehatan asalkan mengajarkan pada umatnya untuk melakukan
ada kemauan yang kuat. Sikap jujur petugas setiap pekerjaan dengan ikhlas, maka akan
kesehatan akan dapat memberikan motivasi memberikan makna sejati bagi pasien TB Paru
dan disiplin unktuk pasien agar patuh untuk akan merasakan kebaikan amal budi dari
berobat.9 Kejujuran menrupakan akhlak terpuji pertugas kesehatan. Berdasarkan hasil
yang dianjurkan oleh islam, seorang Mukmin penelitian tentang keikhlasan dapat
yang jujur dicintai disisi Allah Taala dan disimpulkan bahwa petugas kesehatan telah
disisi manusia memiliki kecerdasan spiritual (keikhlasan)
Sikap ketidak jujuran petugas dalam pelayanan walaupun belum menunjukan
kesehatan mengakibatkan ketidakdisiplinan kepatuhan dalam pelayanan.
pasien untuk berobat.15 Agama apapun tidak Hasil analisis kesabaran pada 40
membenarkan sikap ketidak jujuran 15 responden terlihat 28 responden sabar,
Goleman dan Sutarno mengatakan kejujuran diantaranya 22 responden (78.6%) tidak patuh
merupakan unsur penting dalam kecedasan dan 6 responden patuh (21.4%), sedangkan
spiritual kejujuran merupakan sikap arif dan dari 12 responden tidak sabar diantaranya 11
131 Jurnal Health Quality Vol. 4 No. 2 Mei 2014,Hal.77-141

responden (91.7%) tidak patuh dan 1 menghadapi segala macam aspek kehidupan
responden patuh (8.3%). Hasil Chi-Square sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah
Tests nilai p-value sebesar 0.318 > 0.05. subhanahu wa Taala yang disifati dengan al-
Kesabaran merupakan suasana batin Shabur atau Maha Sabar, serta menjadikan
yang tetap dalam setiap insan petugas sabar dan sholat sebagai penolong. Kesabaran
kesehatan dalam mengembankan tugas dengan petugas kesehatan merupakan faktor
hati yang tabah optimis sehingga pendukung dalam pengobatan sehingga pasien
menimbulkan keyakinan bahwa Allah tidak mengalami kesembuhan. Walaupun hasil
akan memberi beban melewati penelitan menunjukan tidak ada hubungan
kemampuan.15Kamarullah menjelaskan dalam keadilan terhadap kepatuhan pasien untuk
risetnya bahwa pelayanan kesehatan berobat namun membuktikan bahwa petugas
membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi kesehatan memberikan pelayanan secara adil
untuk mampu memahami apa yang dialami tidak membeda-bedakan suku agama dan
oleh pasien. Kesabaran (makrothumia) tingkat sosial
merupakan sikap dari Allah. Hasil analisis keadilan pada 40
Sabar merupakan sifat seseorang yang responden terlihat 23 responden adil
bertaqwa, sesungguhnya hanya orang- orang diantaranya 21 responden (91.3%) tidak patuh
yang bersabarlah yang dicukupkan pahala dan 2 responden patuh (8.7%) dan 17
tanpa batas dan bagi mereka yang sabar responden yang tidak adil diantaranya 12
dalampenderitaan, kesempitan, mereka itulah responden (70.6%) tidak patuh dan 5
orang benar imannya dan orang yang responden patuh (29.4%). Hasil Chi-Square
bertaqwa.15 Dwidiyanti menjelaskan bahwa Tests didapatkan nilai. p-value 0.088 > 0.05.
petugas kesehatan merupakan profesi yang Berdasarkan hasil analisa Bivariat maupun uji
mulia memerlukan kesabaran dan ketenangan Chi-Square diperoleh bahwa petugas
dalam melayani pasien dengan sepenuh hati kesehatan yang memiliki nilai kecerdasan
Sikap sabar petugas keshatan spiritual tidak memiliki hubungan dengan
sebenarnya secara langsung berpengaruh pengobatan pasien TB paru, hasil uji statestik
terhadap kepatuhan pasien, dan menjadi faktor untuk masing masing variabel diperoleh p-
pendukung dalam kesembuhan, melayani value > 0.05%. Hasil ini berbeda dengan
dengn kesabaran membutuhkan kerjasama konsep Hawari tentang dimensi religius dalam
antara pasien TB paru dengan petugas praktik keperawatan bahwa petugas kesehatan
kesehatan sangat mempengaruhi kepatuhan mempunyai tanggung jawab spiritual untuk
pasien untuk minum obat 15 Petugas kesehatan merubah pola pikir pasien dengan merujuk
tergolong hamba Allah yang selalu sabar pada kecerdasan spiritual1
Hasil analisis Perhatian didapatkan untuk patuh dibandingkan dengan pasien yang
pada 40 petugas kesehatan, 20 orang memiliki kurang mendapat perhatian.
perhatian diantaranya 14 orang (70.0%) tidak Hasil penelitian tentang Kasih sayang
patuh dalam memberikan perhatian dan 6 didapatkan dari 40 orang petugas kesehatan
orang lainnya patuh untuk memberikan diantaranya 20 responden yang memiliki kasih
perhatian (30.0%), sedangkan dari 20 petugas sayang, diantaranya 14 orang (70.0%) tidak
kesehatan tidak memiliki perhatian, 19 orang patuh menerapkan perilaku kasih sayang dan 6
(95.0%) tidak patuh untuk memberikan orang petugas kesehatan (30.0%) patuh
perhatian dan 1 orang (5.0%) patuh. menerapkan perilaku kasih sayang. Sedangkan
memberikan perhatian. Hasil Chi-Square Tests dari 20 petugas kesehatan yang kurang
nilai p-value 0.037 < 0.05. Data tersebut memiliki kasih sayang, 19 orang (95.0%) tidak
menunjukkan adanya hubungan/pengaruh patuh menerapkan perilaku kasih sayang dan 1
antara Perhatian petugas kesehatan dengan orang (5.0%) patuh menerapkan perilaku kasih
kepatuhan pasien selama menjalani sayang. Uji Chi-Square Tests nilai p-value
pengobatan. Risk Estimate nilai O R sebesar 0.037 < 0.05. Hal ini berarti adanya hubungan
8.143. Artinyapasien TB paru yang mendapat / pengaruh kasih sayang petugas kesehatan
perhatian dari petugas kesehatan/perawat dengan kepatuhan pasien TB paru dalam
memiliki kecenderungan 8.143 kali lebih besar pengobatan,dengan Risk
Estimate nilai OR 8.143, artinya pasien TB besar untuk patuh dibandingkan dengan
paru yang mendapat kasih sayang dari petugas responden yang kurang mendapat kasih
kesehatan/perawat cenderung 8.143 kali lebih
Rospa Hetharia, Alasan Spiritual dan Caring Petugas 132

Hasil Penelitian PMO dari 40 Pengawasan Minum Obat (PMO) dengan


responden 20 ( 50% ) responden mendapat kepatuhan pasien selama menjalani
pengawasan minum obat 14 ( 42,4%) pengobatan. Risk Estimate nilai Odds Ratio
responden tidak patuh dan 6 responden ( (OR) 8.143 artinya pasien TB paru yang
85,7%) patuh sedangkan 20 responden yang mendapat pengawasan minum obat memiliki
kurang mendapatkan pengawasan minum obat kecenderungan 8.143 kali lebih besar untuk
19 responden ( 57,6%) tidak patuh dan hanya patuh dibandingkan dengan pasien TB paru
1 responden ( 14,3% ) termasuk patuh. Hasil yang kurang mendapat pengawasan minum
Chi-Square Tests nilai p-value 0.037 < 0.05, obat.
artinya ada hubungan/pengaruh antara
Analisis sikap pasien dari 40 pasien 14 Hasil Chi-Square Tests nilai p-value 0.011 <
pasien Tb paru bersikap baik, diantaranya 9 0.05 artinya ada hubungan/pengaruh antara
orang (64.3%) tidak patuh dan 5 orang (35.7%) Komitmen dengan kepatuhan pasien selama
patuh. Sedangkan dari 26 pasien TB paru yang menjalani pengobatan Hasil ini sejalan dengan
bersikap kurang baik, diantarnya 24 orang Inriantorobahwa komitmen adalah karakteristik
(92.3%) tidak patuh dan 2 orang (7.7%) patuh. seseorang yang tercermin pada keyakinan yang
Uji Chi-Square Tests nilai p-value 0.026 < kuat, keinginan pasti dan kesediaan diri pasien
0.05. Artinya ada hubungan/pengaruh antara untuk patuh (kalimat dimodifikasi )11 Risk
Sikap dengan kepatuhan pasien selama Estimate nilai OR 12.000 artinya pasien yang
menjalani pengobatan. Risk Estimate nilai OR memiliki komitmen, memiliki kecenderungan
6.667. Artinya pasien TB paru yang bersikap 12.000 kali lebih besar untuk patuh
baik memiliki kecenderungan 6.667 kali lebih dibandingkan dengan responden yang kurang
besar untuk patuh dibandingkan dengan memiliki komitmen.
responden yang bersikap kurang baik.Hal ini Petugas kesehatan yang memiliki
membuktikan tulisan Snewe Telly dalam Niven perilaku caring (Perhatian dan kasih sayang
sejauh pasien patuh menuruti/ ketentuan serta PMO) saat uji statistik diperoleh nilai yang
petugas kesehatan maka akan mengalami sama yaitu p- 0.037 (< 0.05.) artinya ada
penyembuhan 12 hubungan caring dengan pasienTB paru dalam
Analisis Disiplin dari 40 pasien 13 menjalani pengobatan dan pada masing
pasien disiplin, diantaranya 8 orang (61.5%) didapatkan Risk Estimate (OR) sebesar 8.143
tidak patuh dan 5 orang (38.5%) patuh, yang artinya petugas kesehatan dalam
sedangkan 27 pasien kurang pelayanan dengan memberikan sikap perhatian,
disiplin,diantaranya 25 orang (92.6%) tidak kasih sayang dan pengawasan minum obat
patuh dan 2 orang (7.4%) patuh. Hasil Chi- memiliki kecenderungan 8.143 kali lebih besar
Square Tests nilai p-value 0.015 < 0.05. dari pada petugas kesehatan yang kurang
Artinya ada hubungan/pengaruh antara Disiplin memberikan perhatian, kasih sayang dan
dengan kepatuhan pasien selama menjalani pengawasan minum obat pada pasien TB paru.
pengobatan. Risk Estimate nilai OR 7.813 Hasil analisis penelitian pada sikap
artinya pasien TB paru yang disiplin memiliki pasien dalam menjalani pengobatan memiliki
kecenderungan 7.813 kali lebih besar untuk disiplin untuk patuh 75,8 % dan tidak patuh
patuh dibandingkan dengan responden yang 28,2 % dalam menjalani pengobatan uji statistik
kurang disiplin. diperoleh p- 0.015 (0.05) artinya ada pengaruh
Dari 40 pasien 17 Pasien TB paru yang yang bermagna antara disiplin pasien dalam
memiliki komitmen; diantaranya 11 orang kepatuhan menjalani pengobatan dan taraf
(64.7%) tidak patuh dan 6 orang (35.3%) patuh, signifikani kesalahan p- <0.05 = 0.005 dan
sedangkan 23 pasien TB paru yang kurang analisa keeratan dua variabel OR 7.813 yang
memiliki komitmen, diantaranya 22 orang artinya
(95.7%) tidak patuh dan 1 orang (4.3%) patuh.
pasien TB memiliki kecenderungan 7,813 kali
lebih besar untuk patuh menjalankan
pengobatan.
Hasil ini sama dengan pendapat pasien merasakan ada perilaku adil baik dalam
Dwidiyanti bahwa keadilan yang diterapkan bentuk komunikasi maupun pendekatan
oleh petugas kesehatan terhadap pasien pelayanan langsung dengan tidak membeda-
Tuberkulosis merupakan sikap sejati ketika bedakan suku, agama, tingkat sosial maupun
133 Jurnal Health Quality Vol. 4 No. 2 Mei 2014,Hal.77-141

warna kulit. Hal ini sama dengan pernyataan teratur. Selain itu seluruh pasien tuberkulosis
Dwidiyanti dalam bukunya caring kunci paru yang dirawat jalan di Puskesmas Kec.
sukses bahwa prinsip keadilan harus Jatinegara telah sembuh bukan karena sikapnya
memperhatikan pasien sederajat dan tidak yang baik, tetapi berdasarkan takut terhadap
sederajat harus mendapatkan perhatian yang ancaman untuk mengembalikan biaya
sama.6 pengobatan senilai 5 juta rupiah dengan
Hasil penelitian tentang perhatian demikian pasien TB bertekat untuk komitmen
petugas kesehatan menunjukan bahwa petugas dalam pengobatan.
kesehatan memiliki perhatian pada pasien
tuberkulosis paru namun tidak memberi Kepustakaan
pengaruh pada pasien untuk patuh dalam
1. Alkitab Perjanjian Baru I Korintus (Jakarta:
pengobatan walaupun demikian pasien tetap Lembaga Alkitab Indonesia 2000)
menjelankan pengobatan Hal ini berbeda 2. Alquran al.Baqarah:
dengan Pargament bahwa dalam intervensi 3. Bewes, Richard, Talking About Prayer Published by
pelayanan kesehatan harus menunjukan rasa Cristian fokus Publications ( scotland: Gianies Hause,
2005)
empati pada pasien sebagai obyek kesehatan 4. Damayanti, Mike , Ikhlas (Jakarta :Mediatama
terutama bagi pasien yang membutuhkan Publising Group, 2010 )
pengobatan yang lama seperti pasien 5. Departemen Kesehatan Pedomman Nasional
tuberkulosis paru 5. Penanggulangan Tuberkulosis ( Jakarta Depkes RI
2010)
-------------Departemen Kesehatan Pedomman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis ( Jakarta
Kesimpulan Depkes RI 2010)
------------Departemen Kesehatan Pedomman Nasional
Pengobatan Tuberkulosis paru Penanggulangan Tuberkulosis ( Jakarta Depkes RI
2011)
membutuhkan waktu yang lama sehingga ada 6. D.L. Vence Nurses Attitude Towards Spirituality
rasa bosan, serta efek samping obat anti and Patient care Medical Surgical Nursing 10 (5) (
Tuberkulosis paru menyebabkan sikap ketidak 2001)
patuhan pasien tuberkulosis (TB) paru untuk 7. Dwidiyanti, Meidiana .Aplikasi Model Konseptual
berobat. Selain itu sikap pasien yang kurang Keperawatan Edisi 1. Semarang (Akper Depkes
Semarang 1998)
baik menunjang untuk ketidak patuhan pasien 8. Hanani, Silfia, Mengenali Interaksi Sosial dan Agama,
dalam pengobatan. Kepatuhan pasien untuk Bandung: Humaniora, 2011
berobat berdasarkan sangsi dalam program 9. Hall, Stuart The Question of Cultural Identity
pengobatan TB paru dengan menekankan pada Modernity and is Future Camridge. Polity Press in
association with Open University
pengembalian biaya pengobatan bagi pasien 10. Hawari D. Dimensi Religi dalam Praktik keperawatan
yang tidak patuh menjalani program pengobatan Psikhiatri dan Psykologi. Jakarta FK UI, 2002
dengan nilai 5 juta rupiah. 11. Machfoedz, Ircham . Metode Penelitian Kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian kecerdasan Yogyakarta: Fitramaya, 2009
spiritual petugas kesehatan terhadap kepatuhan 12. M. Farlan dan Leininger,M. Transcultural, Nursing,
Consept,Theories, Research & Practice MC.Grow:
pasien tuberkulosis paru dalam pengobatan Hill Companies,2002.
memiliki kesimpulan: Caring memiliki sifat 13. Malini, Hema.dkk Hubungan Kecerdasan Spiritual
yang sama dengan nilai kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat di RS. DR M. Djamil
namun petugas kesehatan belum dapat merubah Padang Padang 2099 Penelitian di Padang
14. Myrna Nurahma dan Iriantora, Tindakan Supervisi
perilaku pasien Tb paru untuk berobat di dan Kepuasan Kerja Jurnal 2000,
Puskesmas Kec.Jatinegara Jakarta Timur 15. vol 3 No 1
walaupun demikian Petugas kesehatan yang 16. Pargament, I.K., Spiritually Integrated Psychotherapy:
memiliki akan memiliki kesempatan yang lebih Understanding and addressing the sacred. New York:
luas untuk memberikan pelayanan yang optimal Guilford Preess,2007
17. Snewe Telly, Faktor Yang mempengaruhi Kepatuhan
bagi pasien tuberkulosis ( TB) paru. Kepatuhan berobat Penderita Tuberkulosis,
pasien TB paru untuk berobat tidak terlepas dari 18. 1997 Penelitian kesehatan
PMO yang merupakan pendampingan memiliki 19. 17. Sutarna , Cermin Citra Diri ( Jakarta: Jala Permata,
konstribusi, memberi dukungan moral sehinnga 2006)
pasien TB patuh menjalani pengobatan dengan