Anda di halaman 1dari 20

TUGAS REMEDIASI BADAN AIR DAN PESISIR KELAS A

BIOFILTRASI SEBAGAI METODE REMEDIASI LIMBAH


ORGANIK PADA AIR TERKONTAMINASI

Nama Dosen: Bieby Voijant Tangahu ST, MT, PhD

Disusun oleh:

Marisa Dian Novita 3315 100 013

Dewi Erianik 3315 100 037

Atika Rizqi Syavira 3315 100 101

DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

2017
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kontaminasi bahan pencemar yang berasal dari aktivitas industri, pertanian,
peternakan, maupun kegiatan rumah tangga telah menyebabkan terjadinya penurunan
kualitas air yang signifikan pada badan air seperti sungai, danau dan waduk. Walaupun
saat ini telah diberlakukan berbagai macam kebijakan dan peraturan terkait dengan
pengendalian pencemaran air, diantaranya: PP No. 82 tahun 2001 dan Permen LH No.
13 Tahun 2010, namun lemahnya praktik pengawasan dan penegakan hukum
menyebabkan penurunan kualitas air di badan air terus berlangsung. Status Lingkungan
Hidup Indonesia (KLH, 2010) melaporkan bahwa sekitar 74% sungai-sungai besar di
Pulau Jawa tidak memenuhi Kriteria Air Kelas II. Selain itu, data hasil pemantauan 29
sungai di Jakarta menunjukkan bahwa 24 sungai telah mempunyai nilai Indeks Kualitas
Air (IKA) yang buruk, dan hanya 5 sungai mempunyai nilai IKA sedang (BPLHD DKI
Jakarta, 2002). Kondisi yang sama juga ditunjukkan dari hasil pemantauan 40 situ di
Jakarta dimana didapatkan 83% situ di DKI Jakarta juga mempunyai nilai IKA yang
buruk (Diana 2005). Artinya, badan air, yaitu sungai dan danau telah dijadikan sebagai
tampungan berbagai macam limbah dan telah mengalami penurunan kualitas air yang
signifikan. Hal ini menandakan diperlukannya upaya yang berkesinambungan dalam
rangka pengendalian dan pencegahan pencemaran air melalui upaya teknologi
pencegahan dan penanggulangan pencemaran air yang sesuai dengan UU No:7/2004
tentang sumber daya air (SDA), pasal 20 ayat 1 dan 2 yang menyatakan bahwa
konservasi SDA dilakukan untuk menjaga daya tampung dan fungsi SDA sehingga
diharapkan sumber daya air yang ada dapat dimanfaatkan secara efisien dan
berkelanjutan.
Saat ini upaya pengendalian pencemaran air pada umumnya dilakukan melalui
teknologi pencegahan dan penanggulangan pencemaran air dengan pemilihan teknologi
yang mempertimbangkan karakteristik air limbah dan standar kualitas efluen-nya.
Teknologi yang dipilih diharapkan mampu mengubah kualitas efluen (effluent-standard)
sehingga dapat memenuhi standar kualitas badan air penerima (stream-standard) yang
dapat diaplikasikan secara maksimal agar dapat melindungi lingkungan serta
memberikan toleransi bagi pembangunan industri. Acuan stream standard saat ini
adalah standar yang ditetapkan pada badan air sesuai dengan peruntukannya, yaitu PP
No. 82 Th. 2001, sedangkan acuan effluent standard adalah Baku Mutu yang ditetapkan
pada limbah yang telah diolah dari unit-unit IPAL atau keseluruhan unit-unit IPAL yang
mengacu pada Kep.Men LH No. 51/MENLH/10/1995. Namun demikian, karena
mengingat pengolahan air limbah yang dilakukan pada umumnya melalui penambahan
bahan kimia (misalnya bahan koagulan) yang harganya semakin meningkat dan
dikhawatirkan adanya resiko dan sejumlah hasil akhir yang tidak dikehendaki maka
alternatif penambahan koagulan yang berasal dari mikroorganisme bisa dijadikan pilihan
(Buthelezi et al., 2009). Pada perkembangannya, perencanaan teknologi effluent-
standard dan stream-standard mulai memperkenalkan metoda bioremediasi yang cukup
efisien, mudah, dan ekonomis. Sehingga tulisan ini bertujuan untuk mengulas proses
bioremediasi dalam rangka teknologi pengendalian badan air tercemar dengan metode
biofiltrasi dimana digunakan alat biofilter atau dengan prinsip reaktor biologis.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa yang dimaksud dengan sistem biofiltrasi?
1.2.2. Bagaimana prinsip kerja sistem biofiltrasi?
1.2.3. Bagaimana tingkat efisiensi dari sistem biofiltrasi?
1.2.4. Apa sajakah kelebihan dan kelemahan sistem biofiltrasi?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui definisi sistem biofiltrasi
1.3.2. Untuk mengetahui prinsip kerja sistem biofiltrasi
1.3.3. Untuk mengetahui tingkat efisiensi sistem biofiltrasi
1.3.4. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan sistem biofiltrasi
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Badan Air


Menurut Effendi (2003) badan air dicirikan oleh tiga komponen utama yaitu
komponen hidrologi, komponen fisika-kimia, dan komponen biologi. Penilaian kualitas
suatu badan air harus mencakup ketiga komponen tersebut.

A. Air Permukaan (Surface Water)


Air tawar berasal dari dua sumber, yaitu air permukaan (surface water) dan air
tanah (ground water). Air permukaan adalah air yang berada di sungai, danau,
waduk, rawa, dan badan air lain, yang tidak mengalami infiltrasi ke bawah tanah.
Areal tanah yang mengalirkan air ke suatu badan air disebut watersheds atau
drainage basins. Air yang mengalir dari daratan menuju suatu badan air disebut
limpasan permukaan (surface run off); dan air yang mengalir di sungai menuju laut
disebut aliran air sungai (river run off). Sekitar 69% air yang masuk ke sungau
berasal dari hujan, pencairan es/salju (terutama untuk wilayah ugahari), dan sisanya
berasal dari air tanah. Wilayah di sekitar daerah aliran sungai yang menjadi
tangkapan air disebut catchment basin.
Air hujan yang jatuh ke bumi dan menjadi air permukaan memiliki kadar
bahan-bahan terlarut atau unsur hara yang sangat sedikit. Air hujan biasanya
bersifat asam, dengan nilai pH sekitar 4,2. Hal ini disebabkan air hujan melarutkan
gas-gas yang terdapat di atmosfer, misalnya gas karbondioksida, sulphur, dan
nitrogen oksida yang dapat membentuk asam lemah (Novotny dan Olem, 1994)
setelah jatuh ke permukaan bumi, air hujan mengalami kontak dengan tanah dan
melarutkan bahan-bahan yang terkandung di dalam tanah.

B. Air Tanah (Groundwater)


Air tanah (groundwater) merupakan air yang berada di bawah permukaan
tanah. Air tanah ditemukan pada akifer. Pergerakan air tanah sangat lambat;
kecepatan arus berkisar antara 10-20 10-3 m/detik dan dipengaruhi oleh porositas,
permebilitas dari lapisan tanah, dan pengisian kembali air (recharge). Karakteristik
utama yang membedakan air tanah dari air permukaan adalah pergerakan yang
sangat lambat dan waktu tinggal (residence time) yang sangat lama, dapat
mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Karena pergerakan yang sangat lambat
dan waktu tinggal yang lama tersebut, air tanah akan sulit untuk pulih kembali jika
mengalami pencemaran.

2.2. Kualitas Air


Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen lain di dalam air. Kualitas air juga merupakan istilah yang menggambarkan
kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya air minum,
perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya.
Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air
tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik biologi atau uji fisik
(baud an warna). Kualitas air dapat dinyatakan dengan beberapa parameter, yaitu
parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut, dan sebagainya), parameter kimia
(pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam, dan sebagainya) dan parameter biologi
(keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya).

2.3. Kriteria Baku Mutu Air


Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau
komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya di dalam air. Untuk itu agar kualitas air tetap terjaga maka setiap
kegiatan yang menghasilkan limbah cair yang akan dibuang ke perairan umum atau
sungai harus memenuhi standar baku mutu atau kriteria mutu air sungai yang akan
menjadi tempat pembuangan limbah cair tersebut, sehingga kerusakan air atau
pencemaran air sungai dapat dihindari atau dikendalikan.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menyebutkan bahwa
klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas yaitu:
1. Kelas Satu
Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau
peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
2. Kelas Dua
Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau
peruntukkan lain yang sama dengan kegunaan tersebut.
3. Kelas Tiga
Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudayaan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang sama
dengan kegunaan tersebut.
4. Kelas Empat
Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi

2.4. Pencemaran Air


Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Jadi
pencemaran air tanah adalah suatu keadaan air tersebut telah mengalami
penyimpangan dari keadaan normalnya. Keadaan normal air masih tergantung pada
faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air (Wardhana, 1995).
Pencemar air dapat menentukan indikator yang terjadi pada air lingkungan.
Pencemar air dikelompokkan sebagai berikut:
1. Bahan buangan organik
Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau
terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga hal ini dapat mengakibatkan semakin
berkembangnya mikroorganisme dan mikroba patogen pun ikut juga berkembang
biak di mana hal ini dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit.
2. Bahan buangan anorganik
Bahan buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak dapat
membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila bahan buangan
anorganik ini masuk ke air lingkungan maka akan terjadi peningkatan jumlah ion
logam di dalam air, sehingga hal ini dapat mengakibatkan air menjadi bersifat sadah
karena mengandung ion kalsium (Ca) dan ion magnesium (Mg). Selain itu ion-ion
tersebut dapat bersifat racun seperti timbal (Pb), arsen (As) dan air raksa (Hg) yang
sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
3. Bahan buangan zat kimia
Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya seperti bahan pencemar air yang
berupa sabun, bahan pemberantas hama, zat warna kimia, larutan penyamak kulit
dan zat radioaktif. Zat kimia ini di air lingkungan merupakan racun yang
mengganggu dan dapat mematikan hewan air, tanaman air dan mungkin juga
manusia.

2.5. Limbah
Limbah adalah zat, energi, dan atau komponen lain yang dikeluarkan atau dibuang
akibat sesuatu kegiatan baik industri maupun non-industri (Peraturan Daerah Propinsi
Daerah Tingkat I Bali, 1988).
Buangan industri adalah bahan buangan sebagai hasil sampingan dari proses
produksi industri yang dapat berbentuk benda padat, cair maupun gas yang dapat
menimbulkan pencemaran.
Buangan non-industri adalah bahan buangan sebagai hasil sampingan bukan dari
industri, melainkan berasal dari rumah tangga, kantor, restoran, tempat hiburan,
pasar, pertokoan, rumah sakit dan lain-lain yang dapat menimbulkan pencemaran.

Limbah yang dihasilkan oleh suatu kegiatan baik industri maupun nonindustri
dapat menimbulkan gas yang berbau busuk misalnya H`S dan amonia akibat dari proses
penguraian material-material organik yang terkandung di dalamnya. Selain itu, limbah
dapat juga mengandung organisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit dan
nutrien terutama unsur P dan N yang dapat menyebabkan eutrofikasi. Karena itu,
pengolahan limbah sangat dibutuhkan agar tidak mencemari lingkungan.

2.6. Indikator Pencemar


Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya
perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui (Wardhana, 2004):
1. Adanya perubahan suhu air
2. Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion hidrogen
3. Adanya perubahan warna, bau, dan rasa air
4. Timbulnya endapan, koloidal, bahan pelarut
5. Adanya mikroorganisme
6. Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan

Pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan kualitas air


dapat digolongkan menjadi pengamatan secara fisis, kimia, dan biologis (Warlina,
2004). Parameter yang umum digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran air
yaitu antara lain:
a. Suhu
b. Padatan tersuspensi (Total Suspended Solid/TSS)
c. pH atau konsentrasi ion hidrogen
d. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO)
e. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
f. COD (Chemical Oxygen Demand)
g. Nitrogen (N)
h. Fosfor (P)
i. Besi
j. Kromium
k. Bakteri Coliform total

2.7. Bioremediasi
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih untuk
ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan kadar polutan
tersebut. Pada saat proses bioremediasi berlangsung, enzim-enzim yang diproduksi
oleh mikroorganisme memodifikasi struktur polutan beracun menjadi tidak kompleks
sehingga menjadi metabolit yang tidak beracun dan berbahaya.
Sehubungan dengan bioremediasi, Pemerintah Indonesia telah mempunyai
payung hukum yang mengatur standar baku kegiatan Bioremediasi dalam mengatasi
permasalahan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan perminyakan serta bentuk
pencemaran lainnya (logam berat dan pestisida) melalui Kementerian Lingkungan
Hidup, Kep Men LH No. 128 tahun 2003, tentang tatacara dan persyaratan teknis dan
pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah terkontaminasi oleh minyak bumi secara
biologis (Bioremediasi) yang juga mencantumkan bahwa bioremediasi dilakukan dengan
menggunakan mikroba lokal.
Pada dasarnya, pengolahan secara biologi dalam pengendalian pencemaran air,
termasuk upaya bioremediasi, dengan memanfaatkan bakteri bukan hal baru namun
telah memainkan peran sentral dalam pengolahan limbah konvensional sejak tahun
1900-an (Mara, Duncan and Horan, 2003). Saat ini, bioremediasi telah berkembang
pada pengolahan air limbah yang mengandung senyawa-senyawa kimia yang sulit
untuk didegradasi dan biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri, antara lain
logam-logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik
terhalogenasi seperti pestisida dan herbisida (Tortora, 2010), maupun nutrisi dalam air
seperti nitrogen dan fosfat pada perairan tergenang (Great Lakes Bio Systems. Inc. Co
Orb-3.com/). Pengembangan IPTEK dalam bioremediasi untuk detoksifikasi atau
menurunkan polutan dalam pengendalian pencemaran air telah menjadikan metoda ini
menjadi lebih menguntungkan dibandingkan dengan metoda yang menggunakan bahan
kimia. Bahkan, saat ini, flokulan umum yang berbahan baku Alum untuk menurunkan
bahan pencemar air sungai telah bisa digantikan dengan bioflokulan yang
mikroorganismanya diisolasi dari proses lumpur aktif dan diketahui dapat menurunkan
turbiditi sebesar 84-94% (Buthelezi et al, 2009). Selain itu, kehandalan mikroba
termasuk diantaranya bakteri, jamur, dan protozoa dalam pengolahan air limbah dan
peranannya dalam menjaga keseimbangan ekologis perairan sudah banyak dielaborasi
(Gerardi., 2006).
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1. Definisi Biofiltrasi


Secara etimologis, biofiltrasi terdiri dari dua kata yaitu bio dan filtrasi. Bio yang artinya
makhluk hidup dan filtrasi adalah metode pemisahan fisik, yang digunakan untuk
memisahkan antara cairan (larutan) dan padatan. Cairan yang telah melalui proses
filtrasi/penyaringan disebut filtrat, sedangkan padatan yang tertumpuk di penyaring
disebut residu.
Biofiltrasi merupakan salah satu proses pengolahan air limbah secara biologis yang
pada prinsipnya melibatkan mikroba sebagai media penghancur bahan-bahan
pencemar tertentu terutama senyawa organik. Biofiltrasi berbeda dengan filtrasi biasa.
Karena pada filtrasi hanya menyaring kotoran yang melayang. Sedangkan pada
biofiltrasi menggunakan mikroorganisme untuk menyaring kotorannya.
Biofilter adalah sistem pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme
yang tumbuh dan berkembang terlekat pada permukaan media kontak sebaga media
kontak.
Filtrasi merupakan proses pemisahan padatan material tersuspensi yang ada di
dalam air dengan melewatkannya melalui media berpori (Montgomery, 1985). Adanya
bahan organik dan akivitas biologis menyebabkan terjadinya perubahan sifat pelekatan
material tersuspensi terhadap media filter.
Aplikasi metode biofiltrasi telah banyak dilaporkan khususnya dalam pengolahan
limbah cair, seperti limbah cair industri tahu tempe (BPPT, 1997a), limbah cair rumah
sakit (BPPT, 1997b), air buangan industri (Darmawan, 1998), air sungai yang sangat
kotor (Laura, 1995; Hadi dan Santoso, 2000), limbah pabrik alkohol (Suwarno et al,
2003). Menurut Young (1991) dan Rittmann dan McCarty (2001), biofiltrasi juga dapat
diaplikasikan dalam pengolahan limbah cair bahan-bahan kimia, domestik, bahan
makanan, soft drink, landfill leachate, dan industri farmasi.

3.2. Prinsip Kerja Biofiltrasi

Biofilter merupakan suatu reaktor biologis film-tetap (fixed-film) menggunakan


packing berupa kerikil, plastik atau bahan padat lainnya dimana limbah cair dilewatkan
melintasinya secara kontinu. Adanya bahan isian padat menyebabkan mikroorganisme
yang terlibat tumbuh dan melekat atau membentuk lapisan tipis (biofilm) pada
permukaan media tersebut (MetCalf dan Eddy, 2003). Biofilter berupa filter dari medium
padat tersebut diharapkan dapat melakukan proses pengolahan atau penyisihan bahan
organic terlarut dan tersuspensi dalam limbah cair.

Media kontak terendam dalam air yang dialirkan secara kontinu melewati celah atau
rongga antar media. Secara alamiah mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang
melekat pada permukaan media dan membentuk lapisan lendir yang dikenal sebagai
lapisan biofilm. Media filter berupa media padat dan atau berongga, bersifat tidak toksik
pada mikroorganisme. Bahan media dapat berasal dari bahan alami (batu-batuan, kayu)
maupun pabrikasi (keramik dan plastic). Proses biofiltrasi dapat dilakukan secara
aerobic, anaerobic dan aerobic-anaerobic.

a. Biofilter Anaerobik
Biofilter anaerobic memiliki kelebihan mampu mengolah air limbah
dengan kandungan organic yang tinggi dan tahan terhadap perubahan
konsentrasi serta debit aliran secara mendadak. Young dan Mc Carty
menggunakan system biofilter anaerobic dalam proses pengolahan limbah
cair organic dan mendapatkan bahwa biofilter mampu mendegradasi
kandungan organic limbah. Sistem biofilter anaerob merupakan
pengembangan dari system pengolahan limbah anaerob dengan biakan
tersuspensi, dimana adanya filter tersebut konsentrasi padatan biologis
(biomassa) dapat dipertahankan. Dengan penahanan padatan biologis ini
diperoleh Sludge Retention Time (SRT) yang lebih lama meskipun aliran
limbah cair besar. (Bal an Dhagat, 2001).
Sistem pengolahan limbah cair biofilter anaerob dengan biakan
terendam dapat dioperasikan dengan berbagai cara, antara lain aliran ke atas
(upflow), aliran ke bawah (downflow) atau gabungan keduanya, unggun
terekspansi dan unggun terfluida(Ritmann dan McCarty, 2001).
Kelebihan pada proses anaerobic adalah lumpur biologis yang
dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan proses aerobic. Kelemahan
proses ini kadang menimbulkan bau akibat produksi gas H2S ataupun asam -
asam organic.
Gambar 3.1 Diagram Proses Pengolahan Air Limbah dengan Biofilter Anaerobic Up
Flow
b. Biofilter Aerobic
Biofilter aerobic dioperasikan dengan tambahan pasokan oksigen melalui
kompresor atau blower. Udara diinjeksikan pada bagian media filter dengan
tekanan tertentu lewat media porous (unit diffuser) atau pipa berlubang
(perforated pipe). Biofilter aerobic dioperasikan dengan beban pengolahan lebih
rendah oleh karena itu selalu diletakkan setelah proses anaerobic.
Mekanisme proses metabolisme di dalam sistem biofilter secara aerobik
secara sederhana dapat diterangkan seperti pada Gambar 3.2 Gambar tersebut
menunjukkan suatu sistem biofilm yang terdiri dari media penyangga, lapisan
biofilm yang melekat pada media, lapisan air limbah dan lapisan udara yang
terletak di luar. Senyawa pencemar yang terletak di dalam air limbah misalnya
senyawa organik (BOD, COD), ammonia, phospor dan lainnya akan terdifusi ke
dalam lapisan atau film biologis yang melekat pada permukaan media. Pada saat
yang bersamaan dengan menggunakan oksigen terlarut di dalam air limbah
senyawa pencemar tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di
dalam lapisan biofilm dan energi yang dihasilkan akan diubah menjadi biomassa.
Suplai oksigen pada lapisan biofilm dapat dilakukan dengan beberapa cara
misalnya pada sistem RBC yakni dengan cara kontak dengan udara luar, pada
sistem trickling filter dengan aliran balik udara, sedangkan pada sistem biofilter
tercelup dengan menggunakan blower udara atau pompa sirkulasi.

Jika lapisan mikrobiologis cukup tebal, maka pada bagian luar lapisan
mikrobiologis akan berada dalam kondisi aerobik sedangkan pada bagian dalam
biofilm yang melekat pada medium akan berada pada kondisi anaerobik. Pada
kondisi anaerobik akan terbentuk gas H2S, dan jika konsentrasi oksigen terlarut
cukup besar maka gas H2S yang terbentuk tersebut akan diubah menjadi sulfat
(SO4) oleh bakteri sulfat yang ada didalam biofilm. Selain itu pada zona aerobik
nitrogen-ammonium akan diubah menjadi nitrit dan nitrat dan selanjutnya pada
zona anaerobik nitrat yang terbentuk mengalami proses denitrifikasi menjadi gas
nitrogen. Oleh karena di dalam sistem biofilm terjadi kondisi anaerobik dan
aerobik pada saat yang bersamaan maka dengan sistem tersebut proses
penghilangan senyawa nitrogen menjadi lebih mudah.

Gambar 3.2 Mekanisme proses metabolisme di dalam proses dengan sistem Biofilm

Faktor yang mempengaruhi kinerja biofilter aerobic :

a. Beban Organik (organic loading)


b. Beban hidrolis (hydraulic loading)
c. Kebutuhan Oksigen (DO)
d. Logam Berat

C. Biofilter Anaerobik-aerobik

Pada proses biofilter anaerob, polutan organic yang ada dalam air limbah
akan terurai menjadi gas CO2 dan methan (CH4) tanpa menggunakan energy
(blower udara), tetapi ammonia (NH4) dan gas hydrogen sulfida (H2S) tidak
hilang. Oleh karena itu jika hanya menggunakan proses biofilter anaerob saja
hanya dapat menurunkan polutan organic (BOD dan COD) dan padatan
tersuspensi(TSS)
Agar hasil air olahan dapat memenuhi baku mutu maka air olahan proses dari
proses biofilter aerob. Dengan proses biofilter aerob, polutan organic yang masih
tersisa akan terurai menjadi gas karbon dioksida (CO2) dan air (H2O), ammonia
dan teroksidasi menjadi nitrit selanjutnya akan menjadi nitrat, sedangkan gas H2S
akan diubah menjadi sulfat.

Pertama air limbah dialirkan masuk ke bak pengendap awal, untuk


mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran organik tersuspesi. Selain
sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak pengontrol aliran, serta
bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion
(pengurai lumpur) dan penampung lumpur. Air limpasan dari bak pengendap awal
selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari atas ke
bawah, dan dari bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi
dengan media dari bahan plastik tipe sarang tawon. Jumlah bak kontaktor anaerob
terdiri dari dua buah ruangan. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air
limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau fakultatif aerobik. Setelah beberapa
hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikro-
organisme. Mikro-organisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang
belum sempat terurai pada bak pengendap.

Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor aerob. Di
dalam bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan pasltik tipe rarang
tawon, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga mikro organisme
yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh
dan menempel pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak
dengan mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel
pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi
penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga
efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses ini sering di namakan
Aerasi Kontak (Contact Aeration).

Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur
aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali
ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air
limpasan (over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air
limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh micro-organisme
patogen. Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat
langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses
anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD),
ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat dan lainnya.

Gambar 3.3 Pengolahan air limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob.

3.3. Tingkat Efisiensi Biofiltrasi


Tingkat efisiesnsi biofiltrasi berdasarkan studi kasus :
INFO METRO - Kondisi 13 sungai dan puluhan waduk di Jakarta memiliki tingkat
pencemaran tinggi, sehingga tidak bisa digunakan dalam proses pengolahan air bersih.
Melihat kondisi ini, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) mulai memikirkan bagaimana bisa
mengolahya.
Palyja pun mengadakan kompetisi inovasi setiap tahunnya untuk menampung ide-ide
karyawan. Salah satu hasil yang bisa dibanggakan adalah kehadiran Biofiltrasi yang
efeknya dapat langsung dirasakan pelanggannya. Dalam pengembangannya, Palyja
melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Pusat Penelitian
Internasional Suez Environeement (CIRSEE) selaku prinsipal dan konsultan.
Dengan Biofiltrasi, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota yang sejak 1998 tidak
dapat beroperasi karena sumber air bakunya yang berasal dari Cengkareng drain sudah
tidak layak digunakan, sudah dapat dibuka kembali pada 2007. Dalam mekanisme
pengolahan air bersih di IPA Taman Kota, teknologi Biofiltrasi ini difungsikan sebagai
proses pretreatment. Dengan teknologi ini, air dari sungai Cengkareng drain yang
tingkat pencemarannya tinggi dapat diubah menjadi air baku.
Hasilnya, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota dapat memproduksi air bersih
sebanyak 150 lps. Kualitas air yang dihasilkan di instalasi ini pun telah sesuai dengan
standar Permenkes No. 582 tahun 1995. Kualitas air di jaringan juga telah sesuai
dengan Permenkes No. 492 tahun 2010.
Teknologi Biofiltrasi ini memanfaatkan mikroorganisme alami yang hidup dalam air,
untuk menurunkan kadar polutan yang terlarut seperti ammonium, mangan, detergen,
besi dan organik. Keuntungan lain yang didapat dari penggunaan teknologi Biofiltrasi ini
adalah dapat menekan penggunaan bahan kimia Klorin. Hingga kini, Palyja masih
menjadi satu-satunya operator pengolahan air bersih di Indonesia yang menggunakan
teknologi Biofiltrasi ini. (Tempo.Co, 4 Juni 2015)
Biofiltrasi telah diaplikasikan di PAM Taman Kota, Jakarta. Instalasi pengolahan air
itu memakai air dari kawasan Pesanggrahan yang berwarna hitam dan kualitasnya
buruk. Selama bertahun-tahun, PDAM tersebut non aktif.
"PAM itu tutup, tidak berani dioperasikan. Kalau dioperasikan airnya pun kotor
sehingga masyarakat komplain. Berkat biofiltrasi ini, PAM itu bisa beroperasi lagi,"
papar Rudy saat ditemui Kompas.com, Rabu (12/9/2012).
Pusat Teknologi Lingkungan memulai riset aplikasi biofiltrasi untuk pengolahan air
sejak tahun 2008. Tanggal 25 Juni 2012 lalu, uji perdana dilakukan. Sementara 6
September 2012 lalu, penggunaan biofiltrasi diresmikan dalam pengolahan air di
Jakarta diresmikan oleh PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA). (Kompas.com, 2012)
Biofiltrasi merupakan teknologi menggunakan mikroorganisme pemakan ammonia.
Terdapat bak-bak biofiltrasi yang dialiri dengan air baku. Bak-bak terlindungi dengan
besi-besi penghalang di atas bak. Tampilannya berbeda dengan proses sedimentasi
dengan air yang tenang. Di tahap biofilterasi ini air dialirkan terus menerus. Tujuannya
untuk menumbuhkan mikroorganisme 'pemakan' amonia dan deterjen. Inilah teknologi
biofiltrasi, amonia diuraikan dengan menggunakan bakteri. Dengan teknologi ini, mampu
menurunkan hingga 87% kadar amonia. Bakteri tumbuh di media crosspacknya yang
dialiri air baku. Berarti berbeda dengan di IPA Kanal Barat yang menggunakan sarana
meteor. Teknologinya sama-sama menggunakan bakteri 'baik' pemakan amonia.
Sementara di IPA Cilandak menggunakan teknologi moving bed bio-film reactor(MBBR).
MBBR ini, teknologi pengolahan air bersih terbaru yang pertama diterapkan di
Indonesia, bahkan di Asia.
"Crosspack ini berbentuk lembaran. Di bawahnya ada hembusan udara," jelas Vita.
Kandungan amonia tinggi di IPA Taman Kota cukup tinggi, mencapai 8 ppm. Polutan
utamanya dari limbah rumah tangga. Teknologi menggunakan mikroorganisme alami ini,
digunakan setelah produksi IPA Taman Kota dihentikan sejak 2007 lalu.
Pengembangan teknologi biofiltrasi yang dilakukan Palyja, SUEZ sebagai induk
perusahaan bersama BPPT berlanjut Juli 2012 setelah ditemukan teknologi biofiltrasi
tersebut. Cuma teknologi tersebut sangat rentan terhadap air laut yang bisa
menyebabkan mikroorganisme mati. Karena 'bakteri baik' itu hanya bisa hidup di air
tawar. Dan kejadiannya, pernah dialamai tahun lalu, saat IPA menghentikan
produksinya karena adanya aliran balik dari laut yang membuat tingginya tingkat
keasinan (salinitas) dan total dissolved solid. Akibatnya IPA Taman Kota tidak sanggup
mengolah.
"Banyak bakteri yang mati. Kami hentikan instalasi sekitar lebih dari dua minggu,"
kata Vita.
Setelahnya pemulihan dilakukan dengan dialiri air sungai. Terus menerus. Hingga
kondisi biofiltrasi normal dan bisa dilakukan produksi kembali. Selanjutnya Palyja
mengembangkan teknologi pendeteksi air laut di pintu air, yakni Total Dissolve Solid
(TDS) Online Analyzer. Ini dilakukan seperti di intake Cengkareng Drain. Teknologi itu
memberikan sinyal saat air laut menapai intake. Jika sinyal/alert berbunyi, maka operasi
pengolahan air bisa segera dihentikan. Mikroorganisme bisa selamat dari pembunuh,
yakni air laut. (Kompasiana, 2016)
Selain itu, contoh hasil penelitian pengolahan air limbah industri kecil pencelupan
jean dengan Proses Biofilter Anaerob-Aerob dapat diketahui bahwa semakin pendek
waktu tinggal hidrolis di dalam reaktor biofilter efisiensi penghilangan menjadi semakin
kecil. Selain itu semakin besar beban organik efisiensi penghilangan menjadi semakin
kecil. Untuk beban BOD sebesar 1,225 kg/m3.hari efisiensi penghilangan BOD
mencapai 92 %, sedangkan untuk beban BOD 3,658 kg/m3.hari efsiensi penghilangan
BOD turun menjadi 85,9 %.

3.4. Kelebihan dan Kelemahan Biofiltrasi


a. Kelebihan Biofiltrasi
Pengelolaan mudah
Tidak perlu lahan luas
Biaya operasi rendah
Dapat menghilangkan nitrogen dan phosphor yang dapat menyebabkan
eutrofikasi
Suplai udara untuk aerasi relative kecil
Dapat digunakan untuk air dengan beban BOD yang cukup besar
Dapat menghilangkan TSS dengan baik
Dapat menekan penggunaan bahan kimia klorin
b. Kekurangan Biofiltrasi
Jika mikrooganisme yang menempel pada media filter bersifat pathogen maka
akan menyebabkan air olahan terkontaminasi penyakit
Media filter perlu diganti atau dibersihkan secara berkala agar tidak terjadi
akumulasi biomassa dan zat organik
Tidak dapat berfungsi jika terdapat air laut yang masuk kaena akan
membunuh bakteri.
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
a. Biofiltrasi merupakan salah satu proses pengolahan air limbah secara biologis yang
pada prinsipnya melibatkan mikroba sebagai media penghancur bahan-bahan
pencemar tertentu terutama senyawa organik. Biofiltrasi berbeda dengan filtrasi
biasa. Karena pada filtrasi hanya menyaring kotoran yang melayang. Sedangkan
pada biofiltrasi menggunakan mikroorganisme untuk menyaring kotorannya.
b. Biofilter merupakan suatu reaktor biologis film-tetap (fixed-film) menggunakan
packing berupa kerikil, plastik atau bahan padat lainnya dimana limbah cair
dilewatkan melintasinya secara kontinu. Adanya bahan isian padat menyebabkan
mikroorganisme yang terlibat tumbuh dan melekat atau membentuk lapisan tipis
(biofim) pada permukaan media tersebut. Biofilter berupa filter dari medium padat
tersebut diharapkan dapat melakukan proses pengolahan atau penyisihan bahan
organik terlarut dan tersuspensi dalam limbah cair. Proses biofiltrasi dapat dilakukan
secara aerobic, anaerobic dan aerobic-anaerobic.
c. Hasil penelitian pengolahan air limbah industri kecil pencelupan jean dengan Proses
Biofilter Anaerob-Aerob dapat diketahui bahwa semakin pendek waktu tinggal hidrolis
di dalam reaktor biofilter efisiensi penghilangan menjadi semakin kecil. Selain itu
semakin besar beban organik efisiensi penghilangan menjadi semakin kecil. Untuk
beban BOD sebesar 1,225 kg/m3.hari efisiensi penghilangan BOD mencapai 92 %,
sedangkan untuk beban BOD 3,658 kg/m3.hari efsiensi penghilangan BOD turun
menjadi 85,9 %.
d. Metode biofiltrasi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
BAB 5
DAFTAR PUSTAKA

Buthelezi, S. P., Olaniran, A. O. and Pillay, B. 2009. Turbidity and microbial load removal from river
water using bioflocculants from indigenous bacteria isolated from wastewater in South Africa,
African Journal of Biotechnology Vol. 8 (14), pp. 3261-3266Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas
Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius
BPPT. 1997a. Teknologi Pengolahan Limbah Tahu-Tempe Dengan Proses Biofilter Anaerob dan
Aerob. http://www.enviro.bppt.go.id/~Kel-1/ (tgl. 17 April 2006)
BPPT. 1997b. Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit dengan Sistem Biofilter Anaerib.
Laporan Kegitan. Kelompok Teknologi Pengolahan Air Bersih & Limbah Cair, BPPT
Darmanwan, B. 1998. Studi Penggunaan Bahan Media Biofilter Untuk Menurunkan Material Organik
Pada Pengolahan Buangan industry. Majalah IPTEK Vol. 11 No. 3 pp: 133-139
Gerardi, M.H. 2006. Wastewater Bacteria. New Jersey: John Willey
Great Lakes Bio Systems. Inc. .co Orb- 3.com/LakeAndPond Orb-3 Professional Enzymes & Bacteria
are the total solution
Hadi, W. dan Santoso B. 2000. Biofiltrasi Air Kali Tengah Sebagai Alternatif Peningkatan Kualitas
Sumber Daya Air. Majalah IPTEK, Vol. 11 No.3 pp: 133-139
Laura, G. M.,1995. Studi Kemampuan Roughing Filter dalam Menurunkan Kadar BOD dan COD Air
Kali Surabaya. Tugas Akhir. JUrusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS Surabaya.
Mara, Duncan and Horan N.J. 2003. Handbook of water and wastewater microbiology. Elsevier: ISBN
0-12- 470100-0
Metcalf and Eddy. 2003. Wastewater Engineering: Treatment, Disposal and Reuse, 4th Edition. New
York: McGraw Hill Book Co.
Montgomery, J. Consulting Engineers Inc. 1975. Water Tretment Principles and Design. New York:
Wiley Interscience
Novotny, V., and H. Olem. 1994. WATER QUALITY: Prevention, Identification and Management of
Diffuse Pollution. New York: Van Nostrand-Reinhold Publication
Rittmann, B. E. and McCarty P. L. 2001. Environmental Biotechnology: Principles and Applications.
New York: McGraw Hill Book Co.
Suwarno, J., Tiarisipeni, dan Adillah A. 2003. Penurunan Kadar Fenol Secara Biologis Dalam Reaktor
Filter Anaerob Dua Tahap. Majalah IPTEK Vol.14 No.2 pp: 65-72
Tortora, Gerard J., Berdell R. Funke, and Christine L. Case. - 10th ed. 2010. Microbiology: an
introduction. New York: McGraw Hill Publishing
Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset
Warlina, Lina. 2004. Pencemaran Air: Sumber, Dampak, dan Penanggulangannya. Maklah Pengantar
ke Falsafah Sains. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Young, J. C. 1991. Factors Affecting the Design and Performance of Upflow Anaerobic Filters. New
York: McGraw Hill Book Co.