Anda di halaman 1dari 4

Tahukah kamu kalau kasus HAKI kerap kali terjadi di Indonesia?

Banyak kasus serta


kejadian yang terjadi berkaitan dengan HAKI, salah satunya adalah kasus mengenai TCL
Indonesia mengajukan gugatan pembatalan pendaftaran hak cipta logo cap Jempol atas nama
Junaide Sungkono.

PT TCL Indonesia yang merupakan pabrikan produk ektronik asal China menilai
pendaftaran hak cipta logo Cap Jempol di bawah No.043944 tertanggal 11 September 2007 milik
Junaide dilandas itikad buruk. Diketahui Logo Cap Jempol dengan tanda jempol dan lingkaran
dasar berwarna merah telah digunakan oleh TCL Indonesia sejak November 2003. Dimana TCL
Indonesia telah mengumumkan dan menggunakan logo tersebut secara luas untuk produk
elektroniknya termasuk mesin cuci dan AC. Walaupun begitu PT. TCL Indonesia sendiri tidak
pernah mendaftarkan logo Cap Jempol ini ke Ditjen HAKI. Meski demikian, walaupun faktanya
TCL Indonesia belum pernah mendaftarkan logo tersebut tidak menghilangkan haknya sebagai
pencipta dan pemegang hak cipta sebagaimana dengan yang tertera dalam UU No.19 Tahun
2002 pasal 5 yang berbunyi :

1) Kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai pencipta adalah:


a orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal; atau
b orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu
Ciptaan.

2) Kecuali terbukti sebaliknya, pada ceramah yang tidak menggunakan bahan Tertulis dan tidak
ada pemberitahuan siapa Penciptanya, orang yang Berceramah dianggap sebagai Pencipta
ceramah tersebut.

Analisis kasus:
Kasus ini mencuat saat Junaedi selaku pemegang sertifikat hak cipta logo Cap Jempol
keberatan dengan logo tersebut dipakai oleh TCL Indonesia tanpa izin dan meminta ganti rugi
sebesar 12 miliyar plus pembayaran royalty dalam jumlah yang sama. Juanide pun sempat
melayangkan dua kali somasi yang ditunjukan ke PT Arisa Mandiri Pratama, distributor TCL di
Indonesia menuntut ganti rugi sebelum akhirnya membawa sengketa ini ke Pengadilan Niaga
Jakarta Pusat. Putusan majelis hakim yang diketuai Herdy Agusten menyatakan Junaide
Sungkono adalah pemilik hak cipta dan pencipta yang sah dari logo cap jempol yang menjadi
objek sengketa. Namun, pihak TCL Indonesia melalui kuasa hukumnya menyadari terdapatnya
double standard yang diterapkan oleh majelis hakim.Di satusisi, majelis menyatakan PT TCL
Indonesia bukan pencipta karena tidak ada perjanjian tertulis dengan para pembuat logo yaitu
Hilal Hendana dan Robert Adrianto.Sementara tidak terdapat ketentuan dalam UU No.19 tahun
2002 tidak dicantumkan adanya kewajiban perjanjian tertulis antara yang membuat ciptaan
dengan perusahaan tempat dia bekerja.Undang-undang hanya mengharuskan adanya perjanjian.
Dalam persidangan, Hilal dan Robert mengatakan ada perjanjian lisan dengan PT TCL
Indonesia.

Namun, di sisilain, majelis justru membenarkan Junaide sebagai pencipta. Padahal tidak
ada perjanjian tertulis antara Junaide dengan Hilal dan Robert.Padahal menurut pengakuan PT
TCL Indonesia,Logo Cap Jempol dibuat oleh Hilal dan Robert yang saat itu merupakan staf tim
marketing PT TCL. Logo dibuat di bawah pengawasan dan pimpinan Hu Ziyong selaku Senior
Marketing Manager PT TCL Indonesia.Di persidangan pun, Hilaldan Robert selakupembuat logo
cap jempol menyatakan dengan tegas bahwa pencipta logo cap jempol adalah PT TCL Indonesia.
Karenanya, Andi mengajukan kasasi terhadap putusan majelis hakim Pengadilan Niaga
Jakarta.Karena hal ini bertentangan dengan UU No.19 Tahun 2002,yaitu :

Pasal 8
1) Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam Lingkungan
pekerjaannya, Pemegang HakCipta adalah pihak yang untuk Dan dalam dinasnya Ciptaan itu
dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara Kedua pihak dengan tidak mengurangi hak
Pencipta apabila penggunaan Ciptaan itu diperluas sampai keluar hubungan dinas
2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Ciptaan Yang dibuat pihak
lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam Hubungan dinas.
3) Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan,pihak yang membuat
karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta, kecuali apabila
diperjanjikan lain antara kedua pihak.

Apalagi diketahui juga bahwa Junaide ini sebenarnya pemilik dua perusahaan PT Tri
mitra Cemerlang, dan PT Trimitra Cakra Lestari yang sejak tahun 2001 sampai 2007 merupakan
distributor produk TCL. Disampingitu, Junaide merupakan salah satu direktur dan pemegang
saham dari TCL Indonesia.Tapi pada 11 April 2007, TCL Overeas Marketing (TCL China)
menghentikan kerjasama denganTrimitra Cakra dan Trimitra Cemerlang dan posisi distributor
digantikan PT ArisMandiri Pratama.
Bukan Pencipta

Tanda cap jempol itu bukan diciptakan penggugat, melainkan tim marketing PT TCL
Indonesia pada 2003. Tanda itu kemudian dipakai secara terus menerus sehubungan dengan
pemasaran produk elektronik merek TCL. Logo itu diciptakan sebagai simbol garansi dalam
rangka program pembentukan image. Tanda cap jempol itu dicirikan dengan warna dasar
lingkaran merah sebagai simbol memperkuat image keyakinan atas produk TCL.

Hak cipta cap jempol itu melekat pada perusahaan. Sesuai Pasal 8 ayat (3) UU No.
19/2002 tentang Hak Cipta, ciptaan yang dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan,
maka pihak pembuat dianggap sebagai pencipta dan pemegang hak cipta, kecuali diperjanjikan
lain. Sejak 2003 hingga kini, pengumuman cap jempol itu tak pernah menyebutkan nama
anggota tim marketing PT TCL.

Tim marketing PT TCL sendiri membuat pernyataan yang mengakui cap jempol itu
diciptakan untuk TCL. Dengan begitu, PT TCL merupakan pencipta dan pemegang hak
cipta, meskipun perusahaan tersebut tidak pernah mendaftarkan cap jempol itu sebagai
ciptaannya.

Menurut kuasa hukum PT Arista, pendaftaran hak cipta tidak semerta seseorang dapat
mengklaim sebagai pencipta. Hak cipta tidak timbul karena pendaftaran seperti halnya
merek.
Pendaftaran hak cipta cap jempol atas nama Junaide dinilai dilandasi itikad buruk.
Junaide adalah mantan direktur dan pemegang saham PT TCL sejak perusahaan berdiri hingga
22 Agustus 2008. Setelah keluar dari PT TCL, Junaide mendaftarkan hak cipta cap jempol atas
namanya sendiri.

Apalagi somasi penghentian penggunaan cap jempol baru dilayangkan pada 30 Maret
2010, jauh setelah logo tersebut pertama kali diumumkan PT TCL. Hanya, somasi dilayangkan
pada distributor TCL China PT Arisa bukan ke PT TCL Indonesia.

PT Arisa selaku distributor tidak boleh memodifikasi produk dan kemasan produk TCL.
Salah satunya, penggunaan tanda cap jempol pada kemasan. Hal itu sesuai denganExclusive
Agreement antara TCL China dan PT Arisa pada 1 Januari 2010. Dengan demikian penggunaan
tanda cap jempol tidak melanggar hak cipta. Karena itu, tuntutan ganti rugi Junaide dinilai
mengada-ada.
Jadi hasil Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 928 K/Pdt .Sus / 2 010
Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa Mahkamah Agung

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas penggugat mohon kepada Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar memberikan putusan berikut :
1) Mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya.
2) Menyatakan penggugat sebagi pencipta dan pemegang hak cipta atas logo cap jempol
3) Menyatakan tergugat telah mendaftarkan logo cap jempol berjudul Garansi dengan itikad
buruk sebagaimana Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 043944 tanggal 11 September 2009.
4) Membatalkan Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 043944 tanggal 11 September 2009 atas nama
tergugat.
5) Mmerintahkan turut tergugat untuk menghapus Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 043944
tanggal 11 September 2009 dari daftar umum ciptaan.
6) Memerintahkan turut tergugat untuk melakukan segala hal yang diperlukan untuk secara efektif
menghapuskan Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 043944 tanggal 11 September 2009 dari daftar
umum ciptaan dan membatalkan Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 043944 tanggal 11
September 2009 dan untuk tunduk terhadap putusan perkara aquo untuk sisanya dan .
7) Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara.
Bahwa terhadap gugatan tersebut Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta pusat telah
menjatuhkan putusan, yaitu putusan Nomor : 40/HAK CIPTA/2010/PN.NIAGA.JKT PST
tanggal 11 agustus 2010 yang amarnya sebagai berikut :
Menolak gugatan Pengggugat untuk seluruhnya
Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.841.000 (delapan ratus
empat puluh satu ribu rupiah)
MENGADILI :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PT TCL INDONESIA tersebut. Menghukum
Pemohon Kasasi/ penggugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi yang
ditetapkan sebesar Rp.5.000.000,00 (Lima Juta Rupiah). Demikianlah diputuskan dalam rapat
permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Rabu tanggal 23 Maret 2011 oleh H.M.Taufik,
SH,MH hakim agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai ketua majelis
H.Suwardi, SH,MH dan H Djafni Djamal SH,MH hakim-hakim agung masing-masing sebagai
anggota dan diucapkan dalam siding terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh ketua majelis
tersebut, dengan dihadiri oleh hakim-hakim anggota serta Enny Indriyastuti SH M.HUM
panitera pengganti dengan tanpa dihadiri oleh kedua belah pihak.
Sumber :
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4c45c8b53c942/penggugat-perkara-logo-cap-jempol-
siap-ajukan-kasasi
http://chaeroniachmad.blogspot.co.id/2011/04/contoh-kasus-hak-cipta.html
http://nasional.kontan.co.id/news/tcl-indonesia-gugat-pembatalan-hak-cipta-logo-cap-jempol-1
Hasil putusan Mahkamah Agung :
(https://www.dropbox.com/s/5e07nkgpyxg0m2q/928_K_PDT.SUS_2010.pdf)