Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

GASTROENTERITIS AKUT

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
Gastroenteritis Akut adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan
oleh berbagai bakteri, virus, dan pathogen parasitic. Gastroenteritis Akut (GEA)
diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan /
setengah cair (setengah padat) dengan demikian kandungan air pada tinja lebih
banyak dari biasanya berlangsung kurang dari 7 hari, terjadi secara mendadak.
Dengan kata lain Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada daerah
usus yang menyebabkan bertambahnya keenceran dan frekuensi buang air besar
(BAB) lebih dari 3 kali perhari yang dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi
adalah suatu keadaan kekurangan atau kehilangan cairan tubuh yang berlebihan.
Secara klinis Gastro Enteritis dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
a. Gastro Enteritis Desentriform
Disebabkan oleh antara lain: Shigella, Entamoeba Hystolitica.
b. Gastro Enteritis Koleriform
Disebabkan oleh antara lain: Vibrio, Klastrida, atau Intoksikasi makanan.

2. Etiologi
Menurut Ngastiyah (2005), faktor penyebab gastroeneteritis akut pada
bayi/anak yaitu:
a. Faktor infeksi : Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus
(Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).
b. Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-
anak).
c. Faktor malabsorbsi : Karbihidrat, lemak, protein.
d. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran
dimasak kutang matang.
e. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.

3. Klasifikasi
a. Diare Akut

1
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat
dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.

b. Diare Kronis.
Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu (pada
orang dewasa) sedangkan pada bayi dan anak-anak ditetapkan batas waktu 2
minggu.

Klasifikasi diare menurut derajat dehidrasi adalah sebagai berikut:


Ringan Sedang Berat
BB 4-5 6-8 9-10
( % kehilangan )
Keadaan Umum Haus, sadar Haus, gelisah,Mengantuk, dingin,
letargi berkeringat
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Turgor jaringan Normal Tidak ada Tidak ada
Membran mukosa Basah Kering Sangat kering
Tekanan darah Normal Normal / rendah< 90mmHg, mungkin tidak
dapat diukur
BAK Normal Menurun /Oliguria
keruh
Nadi Normal Cepat Cepat, lemah, mungkin tidak
teraba
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Fontanela anterior Normal Cekung Sangat cekung
Defisit cairan ( ml/ kg ) 40-50 60-90 >100

a. Dehidrasi ringan : turgor kulit menurun, takhikardi, haus Defisit cairan 5 %


dari berat badan.
b. Derajat sedang : turgor kulit jelas turun,hipotensi,takikardi,nadi lemah,sangat
haus defisit 0 % berat badan.
c. Derajat berat : turgor kulit sangat menurun, hipotensi, stupor sampai koma,
mata cowong,nadi lemah atau hilang tak teraba,sianosis ujung ektermitas,
renjatan/shock defisit cairan > 10 %.

2
4. Pathway
Fakt Faktor MalAbsorbsi Fakt Faktor Makanan Fakt Faktor Psikologi
Karbohidrat - Makanan Besi Rasa takut
Lemak - Beracun Cemas
Protein
- Alergi Makanan

Penyerapan sari-sari makanan dalam


Saluran pencernaan tidak adekuat

Terdapatnya zat-zat Penyerapan sari-sari makanan Gangguan


yang tidak diserap dalam saluran pencernaan tidak motilitas asus
adekuat
Tekanan osmotif
meningkat Peradangan isi usus Hiperperistltik

Reabsorbsi didalam Gangguan sekresi


usus besar terganggu Penurunan
Sekresi air dalam elektrolit kesempatan usus
dalam usus meningkat menyerap
makan

3
Merangsang usus mengeluarkan
isinya

DIARE

BAB sering dengan Inflamasi saluran pencernaan


konsistensi cair

Kulit disekitar anus Cairan yang Frekuensi defekasi Mual dan muntah
lecet dan teriritasi keluar banyak agen pirogenic anoreksia

Kerusakan
Dehidrasi BAB encer dengan Suhu tubuh Nutrisi
integritas kulit atau tanpa darah meningkat kurang dari
kebutuhan
4. Patofisiologi
tubuh
Patofisiologi dari Gastroenteritis adalah meningkatnya motilitas dan
Gangguan
Gangguan
pemenuhan
cepatnya cairan
pengosongan pada intestinal
eliminasi merupakan
BAB : akibatHipertermi
dari gangguan absorbsi
dan elektrolit
diare
dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan, cairan sodium, potasium dan
bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler kedalam tinja, sehingga
mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis
metabolik.
Diare yang terjadi merupakan proses dari transpor aktif akibat rangsangan
toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus, sel dalam mukosa intestinal
mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme
yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga mengurangi fungsi
permukaan intestinal. Perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi
cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk
mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-bahan makanan ini terjadi pada
sindrom malabsorbsi. Peningkatan motilitas intestinal dapat mengakibatkan
gangguan absorbsi intestinal.

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ada 3 macam yaitu:


a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan dalam rongga yang tidak dapat diserap akan

4
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang
berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.
b. Gangguan sekresi akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding
usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus
dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri kambuh berlebihan, selanjutnya timbul
diare pula.

5. Manifestasi Klinik
a. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang.
b. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.
c. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
d. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih
asam akibat banyaknya asam laktat.
e. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun),
ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan
berat badan.
f. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut
jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen,
sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik.
g. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
i. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat
dan dalam. (Kusmaul).

6. Penatalaksanaan
a. Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
1) Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah
pemberiannya.
a) Cairan per oral

5
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa
cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO 3 dan glukosa. Untuk diare akut
dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak
dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium
50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula
garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak
mengandung NaCl dan sukrosa.
b) Cairan parentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian
sebagai berikut:
(1) Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set
berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20
tetes).
7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset
berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20
tetes).
16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
(2) Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15
tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
(3) Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15
tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15
tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
6 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
(4) Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24
jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO 3
1 %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6
tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
(5) Untuk bayi berat badan lahir rendah
Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4
bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 %).
2) Pengobatan dietetik

6
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat
badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak
tak jenuh
Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)
Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan
misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang
berantai sedang atau tak jenuh.
3) Obat-obatan
Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan
yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.

b. Keperawatan
Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya
gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa
aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit.
Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan
lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.

7. Komplikasi
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,
perubahan pada elektro kardiagram).
d. Hipoglikemia.
e. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena
kerusakan vili mukosa, usus halus.
f. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
a. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
mengalami kelaparan.

8. Prognosa
Penyebab gastroenteritis akut mendadak tersering adalah virus, maka tidak
ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan

7
sendirinya setelah beberapa hari. Diare akut dapat disembuhkan dengan pemberian
makanan seperti biasa dan minuman/cairan yang cukup saja. Mencoba untuk
menyembuhkan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan
keluar menyebabkan aliran balik dan akan memperbanyak salauran tersebut.
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin. Biodata orang tua perlu
dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama, umur,
agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.

b. Riwayat Keperawatan
1) Awal kejadian: Awalnya suhu tubuh anak meningkat, anoreksia kemudian
timbul diare.
2) Keluhan utama : Feses semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak air
dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Turgor kulit
berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari
4 kali dengan konsistensi encer.

c. Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
1) Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial): berhubungan dengan
kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
2) Gerakan motorik halus: berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan
koordinasi yang cermat, misalnya menggambar, memegang suatu benda,
dan lain-lain.
3) Gerakan motorik kasar: berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Bahasa: kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan.

d. Riwayat sosial

8
1) Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji
siapakah yang mengasuh anak?
2) Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya?
e. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana?
Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :
1) Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang
kesehatan, pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan
tindakan medis?
Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan
kesehatan yang diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang
sakit, penggunaan obat-obatan pertolongan pertama.
2) Pola nutrisi
Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana
kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak?
Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak? Bagaimana selera
makan anak? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya per hari?
3) Pola Eliminasi
BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis
ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah? Serta
ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak kencing.
BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak? Bagaimana
konsistensinya lunak, keras, cair atau berlendir?
4) Pola aktivitas dan latihan
Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya ?
Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam? Aktivitas apa yang
disukai?
5) Pola tidur/istirahat
Berapa jam sehari tidur? Berangkat tidur jam berapa? Bangun tidur jam
berapa? Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang?

Pemeriksaan Fisik Keperawatan

9
1) Keadaan umum:
Anak tampak lemah.

2) Sistem pernafasan
Pernafasan lebih cepat dan dalam (kusmaul) karena asidosis metabolik.
Keadaan ini terjadi pada pasien yang mengalami diare berat dan
mengalami gangguan biokimiawi akibat menurunnya ion HCO3- dan H+.

3) Sistem kardiovaskuler
Nadi cepat > 160 x/mnt dan lemah, TD menurun < 90 mmHg, muka pucat,
akral dingin dan kadang sianosis (waspada syok).

4) Sistem neurologi
Penurunan kesadaran bila sudah terjadi dehidrasi berat, kejang karena
terjadi penumpukan natrium dalam serum.

5) Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, warna urine kuning keruh, konsistensi pekat (jika
terjadi syok hipovolemik).

6) Sistem pencernaan
Mual muntah, diare >3x sehari encer mungkin bercampur lendir /darah,
bising usus meningkat, distensi abdomen, nyeri perut, perut teraba keras
(kram abdomen).

7) Sistem integument
Turgor kulit menurun, selaput mukosa dan bibir kering, kulit didaerah
perianal merah, lecet.

8) Sistem musculoskeletal
Kelemahan pada ekstremitas.

Diagnostik Test

10
1) Pemeriksaan tinja
a) Makroskopis: memeriksa bakteri atau kuman penyebab diare tanpa
pewarnaan.
b) Mikroskopis: memeriksa kuman penyebab diare dengan pewarnaan dan
dengan menggunakan mikroskop mikro.
Contoh: diare yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang tidak dapat
dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa.
2) Berat jenis plasma untuk menentukkan deficit cairan akibat diare.
3) Pemeriksaan kadar elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium
dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).
4) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah (Analisa Gas
Darah) mendeteksi adanya asidosis metabolik.
5) Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
6) Pemeriksaan Darah
7) pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium
dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.
8) Doudenal Intubation
Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif,
terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
a. Diare berhubungan dengan malabsorbsi
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif
c. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status
metabolic
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
penurunan intake cairan

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Nursing Care Plan
Nursing
Diagnosis
No. Nursing Outcomes Interventions
Kperawatan Rasional
Classification (NOC) Classification
(NIC)
1. Diare Bowel elimination 1. Observasi tanda- 1. Bradikardi, demam
Fliud balance
berhubungan tanda vital dapat menunjukkan
Hydration
dengan Electrolyte and acid respon terhadap

11
malabsorbsi base balance 2. Ajarkan pasien kehilangan cairan.
2. Untuk pertolongan
Kriteria hasil : untuk
pertama jika diare
Feses berbentuk menggunakan obat
Menjaga rectal dari timbul kembali.
anti diare
iritasi 3. Instruksikan
3. Untuk mengetahui
Tidak mengalami
keluarga untuk
tingkat dehidrasi anak.
diare
mencatat warna,
Mempertahankan
jumlah, dan
turgor kulit
frekuensi keluaran
feses
4. Evaluasi intake
4. Memberikan informasi
makanan masuk
tentang keseimbangan
cairan serta
merupakan pedoman
5. Observasi turgor
dalam penggantian
kulit secara rutin
cairan.
5. Mengetahui adanya
6. Ukur BB tiap hari
kehilangan cairan
7. Atur tetesan infus
berlebihan.
sesuai indikasi 6. Indikator cairan dan
8. Kolaborasi :
status nutrisi.
Berikan obat sesuai 7. Mempertahankan
indikasi penggantian cairan
8. Menurunkan
kehilangan cairan dari
usus.
2. Defisit volume Fluid balance 1. Pertahankan intake 1. Memberikan
cairan Hydration dan output cairan informasi tentang
Ntritional status
berhubungan keseimbangan cairan
:food and fluid
dengan serta merupakan
intake
kehilangan pedoman dalam
Kriteria hasil : 2. Monitor tanda-
cairan secara penggantian cairan.
Mempertahankan tanda vital
2. Bradikardi, demam
aktif
urine output sesuai dapat menunjukkan
dengan umur 3. Kolaborasi
respon terhadap

12
Tanda tanda vital pemberian cairan kehilangan cairan.
3. Mempertahankan
dalam batas normal IV
Tidak ada tanda 4. Motivasi keluarga penggantian cairan.
tanda dehidrasi untuk membantu
4. Agar tidak terjadi
Turgor kulit bai
pasien makan.
malnutrisi pada anak.
3. Resiko Tissue integrity : skin 1. Anjurkan pasien 1. Untuk membantu
kerusakan and mocus membranes menggunakan meningkatkan
integritas kulit Kriteria hasi : pakaian loggar kehilangan panas jika
berhubungan Pertahankan anak demam.
2. Jaga kebersihan
2. Agar tidak terjadi
dengan integritas kulit
dan kelembapan
Tidak ada lesi kulit infeksi.
perubahan
Perfusi jaringan baik kulit
status Tidak ada 3. Monitor mobilisasi 3. Untuk mencegah
metabolik hypertermi dan aktivitas kelemahan pada anak.
pasien
4. Agar tidak terjadi
4. Monitor status
kekurangan nutrisi
nutrisi pasien
yang berlebih.
4. Ketidak Nutritional status 1. Monitor turgor 1. Mengetahui adanya
seimbangan Nutritional status : kulit kehilangan cairan
nutrisi kurang food and fluid intake 2. Monitor mual dan berlebihan.
2. Untuk mengetahui
dari kebutuhan Nutritional status :
muntah
nutrient intake output oral.
berhubungan 3. Monitor
Weight control 3. Untuk mengetahui
dengan pertumbuhan dan
Kriteria hasil : keseimbangan umur
penurunan perkembangan
Berat badan ideal dan perteumbuhan
intake cairan
sesuai dengan tinggi serta perkembangan
4. Monitor pucat,
badan pada anak.
Mampu kemerahan pada 4. Untuk mengetahui
mengidentifikasi konjungtiva status nutrisi anak.
5. Monitor
kebutuhan nutrisi 5. Untuk meningkatkan
Tidak ada penurunan lingkungan saat
nafsu makan anak.
berat badan yang makan
6. Monitor kalori dan
berarti 6. Mengawasi masukan
intake nutrisi
kalori atau kualitas
konsumsi makanan

13
4. IMPLEMENTASI
Implementasi yang akan dilakukan disesuaikan dengan masalah yang ada
berdasarkan perencanaan yang telah disusun atau dibuat (Doenges M.E,2001).

5. EVALUASI
Evaluasi berdasarkan tujuan dan outcome.

14
DAFTAR PUSTAKA

Capernito. 2007. Diagnosa Keperawatan edisi 8. Jakarta : EGC.

Mansjoer Arif. 2006. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI.

Mayers,2008. Buku saku keperawatan. Edisi 2. Jakarta, EGC

Ririn. 2015. LP GEA Pada Anak. https://id.scribd.com/document/264625378/Lp-


Gea-Pada-Anak, diakses pada tanggal 21 September 2017

Whaley & Wongs,2007. Fisiologo manusia dan mekanisme penyakit .Ed.3. Jakarta.
EGC

15