Anda di halaman 1dari 5

Resensi Buku Filsafat Anti-Korupsi

Kehausan Hasrat Kuasa


(Resensi disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Bahasa Indonesia)

Dosen Pengampu: Dra. Siti Sahara

Disusun Oleh:
Zahra Azizah Anisah
11140162000051
Kimia 2 B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
Kehausan Hasrat Kuasa
Judul Buku : Filsafat Anti-Korupsi
Penulis : Reza A.A Wattimena
Penerbit : Kanisius
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 978-979-21-3362-2
Panjang Buku : 20,0 cm
Lebar Buku : 12,5 cm
Tebal Buku : 210 Halaman
Sampul Buku : Warna biru muda, ada gambar sumur
dan diatasnya terdapat timbaan yang disangga oleh
sebuah kayu, judul tulisan berwarna merah.

Organisasi Buku
Buku berjudul Filsafat Anti-Korupsi
karangan Reza A.A Wattimena ini terdiri dari 7 bab
yaitu:
Bab 1 Korupsi dan Hasrat Berkuasa Manusia
Bab 2 Korupsi dan Pemburuan Kenikmatan
Bab 3 Korupsi dan Sisi Hewani Manusia
Bab 4 Korupsi dan Sifat Wajar Kejahatan
Bab 5 Korupsi dan Simbolisme Kejahatan
Bab 6 Korupsi sebagai Kejahatan Sistematik
Bab 7 Korupsi dan Kekosongan Jiwa Manusia

Sinopsis Buku
Masalah korupsi saat ini masih cukup menarik untuk diperbincangkan.
Permasalahan korupsi telah banyak dibahas dari segi hukum, politik, ekonomi, agama,
sosial, psikologi, dan sebagainya. Namun, kali ini akan dikemukakan faktor penyebab
koruptor melakukan tindakan korupsi dari sudut pandang filsafat.
Aristoteles pernah berkata bahwa perbuatan korupsi bisa identik dengan dua hal,
yaitu kematian dan dekadensi moral yang identik dengan hedonisme, yaitu hidup yang
tujuan utamanya adalah mencari nikmat badaniah semata. Lalu, bagaimana
sesungguhnya pandangan para filosof tentang terjadinya tindakan korupsi dan kondisi
kemanusiaannya?
Pertama, korupsi adalah hasrat berkuasa manusia. Dalam pandangan Nietzsche
manusia memiliki hasrat yang kuat untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa adalah
akar dari kejahatan manusia sekaligus akar bagi kemampuan manusia untuk mencipta.
Sesungguhnya, kekuasaan bukan untuk diingkari, melainkan untuk diraih, dirayakan,
dan digunakan untuk mencipta, bukan untuk korup. Penerapan kehidupan untuk
berkuasa di dalam kehidupan idealnya memiliki aspek estetik yang tepat dan mendalam.
Keindahan ini meliputi desain kehidupan (termasuk rencana, tata kelola, evaluasi, dan
ciri fisik) dan fungsi kontrol yang sudah ada di dalam kekuasaan itu sendiri. Bukan
sebaliknya, kekuasaan untuk disalahgunakan semisal korupsi.
Kedua, korupsi adalah pemburuan kenikmatan. Adalah Marcuse de Sade yang
memberikan ide bahwa kenikmatan tertinggi yang bisa diraih manusia adalah
kenikmatan yang dibarengi rasa sakit. Meskipun tidak secara langsung, korupsi, bagi de
Sade, adalah bentuk konkret dari perburuan kenikmatan tanpa batas yang dilakukan
manusia yang selalu diselubungi kemunafikan penampilan dan pencitraan. Dengan kata
lain kecenderungan untuk bersikap korup sudah tertanam di dalam hasrat manusia untuk
merenggut kenikmatan ekstrem tanpa batas, dan sikap mendua atas hasrat-hasrat
pemburuan kenikmatan yang ada di dalam dirinya, namun secara diam-diam
menjadikannya (korupsi) bagian dari aktivitas kesehariannya.
Ketiga, korupsi adalah sisi hewani manusia. Elias Cametti berujar bahwa
kehendak untuk berkuasa, bertindak korup, menaklukan, dan perburuan kenikmatan bisa
dianggap sebagai ekspresi dari sisi-sisi hewani manusia (namun tidak semua manusia
menuruti sifat hewani di dalam kehidupannya) dan akar antropologis dari perilaku
korupsi. Dalam teorinya `massa dan kekuasaan' dapat disimpulkan bahwa manusia
adalah makhluk yang takut dengan sesuatu yang asing dalam dirinya. Namun, setelah
manusia berubah dan masuk menjadi massa bersama manusia-manusia lainnya, ia tidak
mengenal pribadinya. Sebaliknya manusia merasa nikmat bersentuhan dengan manusia
lainnya. Dengan kekuasaannya manusia menciptakan peran yang amat alamiah, yakni
peran pemangsa dan mangsanya. Jadi koruptor (pemangsa) merasa nikmat saja ketika
bisa mencuri uang negara/rakyat (maaf, mangsa).
Keempat, korupsi adalah sifat wajar kejahatan. Filosof wanita Hanna Arendt
dalam bukunya Einhmann in Jerusalam, A Report on the Banality of Evil,
mengemukakan bahwa manusia memiliki `banalitas kejahatan', yaitu suatu situasi
dimana kejahatan tidak lagi dirasakan sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang
biasa-biasa saja. Dengan merujuk kepada pemikiran Arendt, dapat dipahami bahwa akar
kejahatan tidak melulu kebencian, dendam, ataupun pikiran kejam, melainkan sikap
patuh buta pada sistem dan aturan, yang tidak disertai dengan sikap kritis maupun
reflektif. Demikian juga korupsi dipandang sebagai suatu perbuatan yang tidak lagi
dianggap suatu kejahatan.
Kelima, korupsi adalah simbolisme kejahatan. Berbeda dengan Arendt yang
menganggap bahwa kejahatan bukanlah kejahatan, sebaliknya Paul Ricoeur berkata
bahwa simbol kejahatan meliputi noda jiwa, dosa, dan rasa bersalah. Pertama, pada
simbol noda jiwa, kejahatan dihayati sebagai sesuatu yang ada pada dirinya. Bertindak
jahat (korupsi) berarti bertindak merusak tatanan dan harmoni yang ada. Kedua, pada
simbol dosa, yakni ketika manusia melakukan kejahatan di depan Tuhan.
Pada titik ini, bertindak jahat (termasuk korupsi) bukan saja melakukan tindakan yang
merusak tatanan, melainkan juga melakukan tindakan yang melanggar perintah Tuhan.
Ketiga, rasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul karena manusia menjadi fanatik
terhadap hukum-hukum dan aturan. Melalui fanatiknya, manusia menjadikan hukum
sebagai Tuhan. Sesungguhnya manusia tidak mampu untuk mematuhi hukum secara
mutlak. Ia selalu memiliki kelemahan. Maka, ketika manusia tidak mampu mematuhi
hukuman, ia menjadi bersalah pada dirinya sendiri. Ketika seseorang korupsi, ia merasa
ada kesalahan pada dirinya.
Keenam, korupsi sebagai kejahatan sistemik. Korupsi di Indonesia tidak hanya
persoalan ekonomi, politik, ataupun hukum semata, tetapi lebih dalam dari itu, yakni
soal kultural dan soal kondisi manusia (human condition). Inilah yang membuat korupsi
akhirnya bersifat sistemik. Artinya yang korup bukan hanya manusianya, tetapi juga
sistem yang dibuat oleh manusia tersebut yang memiliki skala yang lebih luas dan
dampak lebih besar. Dengan menggunakan analisa Theodor Adorno, saya akan
menyoroti korupsi sebagai suatu bentuk kejahatan sistemik. Menurut hemat saya,
berpijak dari pemikiran Adorno, korupsi juga lahir dari fokus manusia yang selalu
berlebihan pada akal budi instrumental. Akal budi instrumental berfokus pada efisiensi
dan efektifitas cara untuk mencapai tujuan. Dalam proses itu, segala aspek lainnya di
luar upaya untuk mencapai efektifitas dan efisiensi diabaikan, dianggap tidak relevan.
Aspek moralitas dan empati pada penderitaan serta kesulitan rakyat dianggap tidak
relevan bagi akal budi instrumental yang secara buta ingin mencapai tujuan, apa pun
bentuk tujuan itu. Oleh karena pola berpikir ini, korupsi menjadi `semangat zaman' yang
berjalan secara perlahan menjadi suatu bentuk kejahatan sistemik, sebagaimana
dipahamami Adorno.
Ketujuh, korupsi adalah kekosongan jiwa manusia. Menurut Savoj Zizek,
keinginan sesungguhnya adalah fiksi, karena tidak ada orang yang benar-benar
menyatakan apa yang menjadi hasrat terdalamnya. Di sisi lain, rasa kurang yang
menggerogoti manusia menjadikannya keluar dari isolasi diri, teralienasi, dan akhirnya
mengikuti dorongan purbanya, yakni dorongan untuk selalu merasa kurang, tanpa
pernah terpuaskan. Sifat rasa tidak puas inilah mendorong orang untuk melakukan
korupsi.

Keunggulan Buku
Adapun keunggulan dari buku ini adalah
1. Karya Reza ini dengan cerdas membidik hal lain fenomena korupsi ataupun
budaya korup masyarakat. Kasus korupsi tak saja menyangkut sistem
birokrasi bobrok yang membuka peluang terjadinya praktek korupsi aparat,
bukan pula karena produk hukum lemah menindak koruptor, melainkan juga
faktor "kedirian" seseorang ternyata juga mempengaruhi ia bertindak culas
(korupsi).
2. Ini adalah buku pertama yang tidak secara teknis mendekati korupsi dari
aspek hukum, politik, ataupun ekonomi, melainkan dari sisi-sisi terdalam
manusia yang melakukannya.
3. Buku ini mengupas akar-akar korupsi dari sudut pandang filsafat dengan
tujuan untuk mencegah dan kalau bisa melenyapkannya.
Kelemahan Buku
Adapun kelemahan dari buku ini adalah
1. Penulis tidak menerangkan tindakan seperti apa yang disebut korupsi atau
proses bagaimana persisnya korupsi dilakukan. Penulis juga tidak menjawab
pertanyaan apakah pemberian hadiah pada seseorang adalah suap yang
berarti korupsi? yang ia sendiri tanyakan di awal buku.
2. Penulis hanya menyebutkan di Indonesia pasal-pasal multitafsir dan
bertentangan amatlah banyak, tanpa memberi salah satu contohnya.
3. Penulis benar-benar hanya menekankan pada aspek filsafat. Penulis
membagi setiap bab menjadi tiga bagian sub-bab: biografi filsuf yang
pemikirannya akan dipakai, pemikiran filsuf tersebut, dan kesimpulan serta
catatan. Poin yang kedua ini menghabiskan lebih dari setengah total halaman
buku, pada poin kedua juga penjabaran penulis melebar kemana-mana,
bahkan sama sekali tidak terkait dengan topik utama korupsi, yang
membuat buku ini lebih pantas disebut Pengantar Pemikiran Nietzsche, De
Sade, Canetti, Arend, Ricoeur, Adorno, Dan Zizek. Sedangkan pembahasan
mengenai korupsi hanya ada pada Pendahuluan, dan kesimpulan serta
catatan dari masing-masing bab.

Saran dan Simpulan


Konsep transendensi diri yang digagas Reza tentu bukan tanpa alasan. Ini
didasari karena kegalauannya dalam melihat pelbagai kasus korupsi yang kian merebak
di Indonesia. Secara umum, konsep Reza sudah ideal, tapi bukan berarti tanpa
keluputan. Reza lupa bahwa transendensi diri belum tentu bisa memberantas korupsi
hinga ke akarnya, karena transendensi diri hanya mengandalkan potensi diri yang ada
pada manusia. Sementara Tuhan sama sekali tak ada celah untuk intervensi. Padahal jika
kita mau pikir lagi, manusia sehebat apapun hanya bisa berusaha dan merencanakan.
Sementara Tuhan-lah pengambil kebijakan utama.
Buku ini ditujukan untuk para praktisi hukum, politisi, mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi, dan orang-orang yang peduli pada upaya bangsa untuk
menghancurkan korupsi di berbagai bidang. Selamat membaca dan selamat tercerahkan.