Anda di halaman 1dari 14

TUGAS HASIL-HASIL PERIKANAN

ABALON

Disusun oleh :

M.ROSIKHUL ILMI H.A. (26030115130074)

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2016
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah laut yang lebih
besar daripada luas daratannya. Total panjang garis pantainya adalah 81.000 km yang
merupakan garis pantai terpanjang yang dimiliki suatu negara. Kekayaan akan jenis
biota laut di Indonesia juga sangat besar dan beragam. Moluska merupakan kelompok
yang mendominasi perairan setelah kelompok ikan, jumlahnya mencapai 1500 jenis
siput dan 1000 jenis kerang. Salah satu jenis siput yang dapat dijumpai di perairan
Indonesia adalah abalon (Nontji, 1987 dalam Litaay, et al., 2011).

Abalon merupakan salah satu jenis moluska yang mempunyai nilai gizi yang
cukup tinggi dengan kandungan protein 71,99 %, lemak 3,20 %, serat 5,60 %,
abu11,11 % dan kadar air 0,60 %. Selain itu, cangkangnya mempunyai nilai estetika
yang dapat digunakan untuk perhiasan dan berbagai kerajinan, yang sangat berpotensi
untuk dikembangkan (Sofyan,et al., 2012 dalam Suminto, et al., 2009) daging abalon
juga dapat dijadikan makanan tambahan "food supplement dan di Jepang dianggap
mampu menyembuhkan penyakit ginjal (Litaay, et al., 2011).

pada kegiatan budidaya abalon ini tergolong sulit dan lama, maka pada teknik
pembenihannya dilakukan pemijahan buatan. Hal ini dikarenakan keberhasilan
Fertilisasi dan daya tetas telur abalon tergantung pada gamet dan gonad induk yang
baik serta pengaturan kualitas air yang baik. Pada makalah ini akan dibahas mengenai
segala aspek dari Kerang Abalon.
II. ISI

A. Habitat

Kerang Abalone biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang sekaligus
dipergunakan sebagai tempat menempel. Kerang abalone bergerak dan berpindah
tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lambat
sangat memudahkan predator untuk memangsanya.

Pada siang hari atau suasana terang, kerang abalone lebih cenderung
bersembunyi di karang-karang dan pada suasana malam atau gelap lebih aktif
melakukan gerakan berpindah tempat. Ditinjau dari segi perairan, kehidupan kerang
abalone sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Secara umum, spesies kerang abalone
mempunyai toleransi terhadap suhu air yang berbeda-beda, contoh; H. kamtschatkana
dapat hidup dalam air yang lebih dingin sedangkan H. asinina dapat hidup dalam air
bersuhu tinggi (300C). Parameter kualitas air yang lainnya yaitu, pH antara 7-8,
Salinitas 31-32 ppt, H2S dan NH3 kurang dari 1ppm serta oksigen terlarut lebih dari
3ppm.

Penyebaran kerang abalone sangat terbatas. Tidak semua pantai yang


berkarang terdapat kerang abalone. Secara umum, kerang abalone tidak ditemukan di
daerah estuaria yaitu pertemuan air laut dan tawar yang biasa terjadi di muara sungai.
Ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adanya air tawar sehingga
fluktuasi salinitas yang sering terjadi, tingkat kekeruhan air yang lebih tinggi dan
kemungkinan juga karena konsentrasi oksigen yang rendah Miner et al., (2007).

B. Cara Makan

Makanan kerang terutama terdiri atas plankton dan bahan organik terlarut,
karena itu diperlukan penjagaan dan perlindungan terhadap ekosistem mangrove
sebagai habitatnya. Kerang memperoleh makanan dengan cara filter feeder yang
berupa fitoplankton dan zooplankton kecil. Kerang aktif menyaring makanan dari
kolom air dengan insangnya (Rizal S. Dan Jailani, 2013). Kerang abalone merupakan
hewan herbivore, yaitu hewan pemakan tumbuh-tumbuhan dan aktif makan pada
suasana gelap. Jenis makanannya adalah seaweed yang biasa disebut makro alga.
Jenis seaweed/makro alga yang tumbuh dilaut sangat beraneka ragam. Secara garis
besar ada 3 golongan seaweed/makro alga yang hidup di laut, yaitu; 1) makro alga
merah (Red seaweeds), 2) alga coklat (Brown seaweeds), dan 3) alga hijau (Green
seaweed). Ketiga golongan tersebut terbagi atas beberapa jenis dan beraneka ragam.
Keragaman tersebut tidak semuanya dapat dimanfaatkan kerang abalone sebagai
makanannya. Berikut ini spesies/jenis seaweed yang dapat dimanfaatkan kerang
abalone sebagai makanannya, yaitu:

a. Makro alga merah, yaitu:

Corallina, Lithothamnium, Gracilaria, Jeanerettia, Porphyra.

b. Makro alga coklat:

Ecklonia, Laminaria, Macrocystis, Nereocystis, Undaria, Sargasum.

c. Makro alga hijau, seperti Ulva

C. Reporduksi

Abalone tergolong hewan berumah dua atau diocis, yaitu betina dan jantan
terpisah. Kematangan gonad induk jantan maupun betina berlangsung sepanjang
tahun dengan puncak musim memijah terjadi pada bulan-bulan Juli dan Oktober.
Telur yang siap dipijahkan berdiameter 100 m, di laboraturium telur yang
dipijahkan berdiameter rata-rata 183 m. Menurut Litay M (2005) bahwa pada abalon
yang berukuran besar dengan telur yang berdiameter rata-rata 250 m diharapkan
memperlihatkan karakter reproduksi yang baik (dari berbagai sumber). Variabel
kualitas telur merupakan salah satu faktor pembatas pada keberhasilan produksi
massal dari benih atau nener ikan dan spesies kultur lainnya untuk tumbuh mencapai
ukuran pasar
Proses pemijahan abalone umumnya berlangsung pada malam hari, yakni
sekitar pukul 23.00 06.00. Pemijahan ditandai dengan induk jantan mengeluarkan
sperma dan kemudian diikuti oleh induk betina dengan mengeluarkan sel telur.
Abalone yang akan melakukan pemijahan merayap ke permukaan bak, kemudian
sperma dan sel telur di semprotkan ke badan air. Air akan berubah menjadi bau amis
dan menjadi keruh akibat pengaruh dari sperma dan sel telur yang dikeluarkan. Selain
itu, juga terdapat gelembung-gelembung pada permukaan air. Proses embryogenesis
berlangsung selama 5 6 jam dari proses pemijahan, telur akan berubah
menjadithrocophor yang akan melayang-layang (planktonis) di badan air. Larva
throcophor akan berkembang menjadi larva veliger dan menumbuhkan statosis
setelah 30 jam dari proses pemijahan. Menurut Sudarmawan et al (2013)mengatakan
belum ditemukan perbandingan jantan dan betina yang optimal dalam pemijahan
abalon. Kendala produksi abalon yang lain adalah pertumbuhan relatif lambat. Laju
pertumbuhan abalon sekitar 2 - 3 cm/th, tingkat kelangsungan hidup benih abalon
sekitar 0,6-1,0%.

D. Produksi

Abalon merupakan salah satu jenis kerang yang menjadi komoditi perikanan
dunia yang saat ini sedang mengalami peningkatan permintaan terutama dari pasar
intenasional. Pasar utama abalon adalah China, Jepang, Taiwan, Korea, Singapore,
Jepang, Australia, Amerika Serikat, Spanyol, Netherlands, Canada, dan Thailand.
Negara produsen abalon terbesar adalah Cina, Taiwan, dan Jepang (Cook dan
Gordon, 2010).

Data Produksi Abalon di Dunia dari Sektor Akuakultur (Aquaculture


Production) dan Penangkapan di Alam (Fishery Landings) (Cook dan Gordon, 2010)

Menurunnya populasi abalon di alam akibat tekanan penangkapan terjadi dari


tahun ke tahun. Sementara jumlah tangkapan menurun, permintaan abalon terus
mengalami peningkatan. Hal itu mendorong berkembangnnya budidaya akuakultur
abalon. Sehingga saat ini kebutuhan abalon dunia lebih banyak dipenuhi dari sektor
budidaya. Produksi dari Sektor Akuakultur Abalon di Dunia (Cook dan Gordon,
2010)

Cina merupakan negara produsen utama abalon dari sektor akuakultur dengan
pelaku mencapai 300 usaha budidaya dan produksi mencapai 1.000 juta ton/ tahun.
Spesies utama yang dibudidayakan adalah H. diversicolor supertexta, dengan harga
mencapai US$15/Kg. Harga ini memang lebih rendah dibandingkan dengan H.
laevigata, dari Australia yang dapat mencapai US$30/Kg. Perbedaan harga tersebut
disebabkan karena ukuran H. laevigatayang jauh lebih besar. Pada umumnya harga
abalon sangat ditentukan oleh ukurannya. Oleh karena itu, harga abalon tropis lebih
rendah dibandingkan dengan harga abalon temperate. Statistik Permintaan (Demand)
dan Persediaan (Supply) Abalon di Dunia (Cook dan Gordon, 2010)

Produk abalon Bentuk produk abalon yang berada dipasaran saat ini adalah
produk fillet segar dan beku (frozen), kering (dried), kering dan telah melalui proses
penggaraman (salted), serta dalam bentuk produk dalam kemasan kaleng (canned).

Terdapat sekitar lebih dari 100 jenis abalon di dunia. Sebagian besar tersebar
di perairan Samudera Pasifik, Atlantik, dan Hindia. Abalon ditemukan di sepanjang
pantai wilayah subtropik dan tropik kecuali Amerika Selatan dan Timur Amerika
Utara. Abalon ditemukan sepanjang pantai barat Amerika Utara (Baja California
sampai Alaska) dan sepanjang timur dan selatan. Pantai di Asia (USSR, Korea,
Jepang, Cina, Taiwan, Kalimantan, Malaysia Timur, Tournotus, Australia, New
Zealand, Afrika, Mesir, Tanzania, Mosambika, Madagaskar, Tanjung Harapan, Gold
Coast) dan Pulau-pulau di Madeira dan Eropa (Prancis, Spanyol, Italia, Yugoslavia
dan Yunani) (Leighton et al., 2008).

Populasi terbesar, baik dalam hal jumlah individu maupun jenis spesies,
ditemukan pada perairan Australia, Jepang, dan bagian barat Amerika Utara. H.
Rufescens merupakan jenis abalon yang terdapat di California yang diketahui
memiliki ukuran paling besar, yaitu dapat mencapai 18-23 cm diameter cangkang
(Cox, 1962). Pada umumnya abalon yang habitatnya di daerah temperate memiliki
ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan abalon pada daerah tropis.
Abalon tropis umumnya hanya memiliki ukuran 7-10 cm, sedangkan abalon
temperate rata-rata dapat mencapai ukuran 15-20 cm (Estes et al., 2005). Hal itulah
yang menyebabkan harga jual abalon temperate jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan jenis abalon tropis. Walaupun demikian, dari segi kecepatan pertumbuhan,
abalon tropis memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan
abalon temperate, sehingga lebih cepat mencapai ukuran komersil (ukuran pasar).

Di indonesia terdapat tujuh spesies, yaitu H. asinina, H. varia, H. squamosa,


H. ovina, H. glabra, H. planata, dan H. crebrisculpta (Dharma, 1988 dalam Setyono,
2006). H. asinina, H. ovina, H. squamata dan H. varia merupakan jenis abalon tropis
yang terdapat di Indonesia yang telah memiliki pasar internasional, terutama China,
Taiwan, dan Korea. Bukan hanya di Indonesia, persebaran spesies- spesies tersebut
cukup besar, yaitu mencapai perairan Indo-Malay, bagian timur samudera Hindia dan
Barat Samudera Pasifik. Namun, dari keempat jenis abalon tersebut, jenis H. asinina
dan H. squamata merupakan yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia.
Kelebihan H. asininadibading H. ovina dan H. varia adalah karena proporsi
dagingnya lebih besar, yaitu H. asinina 85%, H. ovina 40%, dan H. varia 30%
(Singhagraiwan dan Doi, 1993 dalam Praipue et al., 2010). Sehingga H. asinina
memiliki potensi pasar untuk jenis cocktail size (40-70 mm) dengan ukurannya
yang kecil dibandingkan dengan jenis temperate. Selain Indonesia, H. asinina juga
banyak ditemukan, Thailand, Filipina, Malaysia Australia, Vilipinan, dan Myanmar.
Budidaya H. asinina telah berhasil dilakukan di negera-negara tersebut dengan skala
massal.

E. Cara Penanganan Abalone

Ketika abalone telah ditangkap. Sesampainya di hetchery, tahapan tahapan yang di


lakukan terhadap induk antara lain :
a. Malakuka proses aklimatisasi pada induk sampai di hatchery dengan cara
meletakkan toples di bawah kran air laut. Kemudian mengalirkan air laut ke
dalam toples secara perlahan lahan selama lebih kurang 30 menit.

b. Mempersiapkan keranjang pemeliharaan induk. Membersihkan dan menjemur


keranjang di bawah sinar matahari sebelumnya.

c. Maletakkan shelter ke dalam keranjang pemeliharaan induk sebanyak satu


pasang. Shelter yang digunakan berupa genting berukuran 30 x 22 cm serta potongan
pipa 8 inci berwarna hitam dengan panjang 30 40 cm.

d. Memasukkan induk sebanyak 30 35 ekor pada setiap keranjang


pemeliharaan.

e. Memasukkan keranjang keranjang ke dalam bak pemeliharaan induk.

f. Meletakkan 5 6 buah keranjang dalam setiap bak pemeliharaan induk.

g. Mangalirkan air dalam bak pemeliharaan sampai ketinggian lebih kurang 50


cm.

h. Melakukan pergantian air dalam bak pemeliharaan setiap hari selama masa
pemeliharaan.

i. Memasang aerasi dalam bak pemeliharaan induk sebanyak delapan titik


aerasi dan jarak antar titik 50 cm.

j. Memberi pakan induk baru dengan Gracillaria sp. yang masih segar dengan dosis
12 - 15 % dari berat total induk dalam bak.

k. Membersihkan bak pemeliharaan induk setiap satu atau dua hari sekali dengan cara
menguras seluruh air dalam bak, kemudian memindahkan keranjang keranjang
pemeliharaan induk menuju bak pemeliharaan lainnya yang sudah
dibersihkan sebelumnya.
L. Menyikat seluruh permukaan bak pemeliharaan sehingga kotoran yang
menempel bersih, kemudian mengeringkan bak pemeliharaan satu sampai dua hari.

m. Setiap hari selalu melakukan pengecekan kesehatan induk pada setiap keranjang
pemijahan. Kemudian memindahkan induk yang telah mati dari keranjang.

F. Nilai Nutrisi abalone

Ditinjau dari kandungan gizinya, zat gizi dalam abalon terbagi menjadi dua
kelompok besar, yaitu zat gizi makro- dan zat gizi mikro. Zat gizi makro- merupakan
zat gizi yang membentuk bagian utama makanan yang dibutuhkan tubuh dalam
jumlah yang lebih banyak, sedangkan zat gizi mikro- dibutuh-kan tubuh dalam
jumlah sedikit (mikrogram atau miligram per hari). Zat gizi makro- berup-a
karbohidrat, protein, dan lemak, sedangkan zat gizi mikro- berupa vitamin dan
mineral untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan. Mineral yang dibutuhkan
tubuh terdiri dari mineral makro- dan minera-l mikro-. Mineral makro- adalah
mineral yang menyusun hampir 1% dari total berat badan manusia dan dibutuhkan
dengan jumlah lebih dari 1000 mg/hari. Sedangkan mineral mikro- merupakan
mineral yang dibutuhkan dengan jumlah kurang dari 100 mg /hari dan menyusun
lebih kurang dari 0,01% dari total berat badan. Yang termasuk kategori minera-l
makro- utama di antaranya Magnesium (Mg), Kalium (K), dan Natrium (Na).

G. Pemanfaatan Abalone

Abalone hanya dapat ditemui di kedalaman laut tertentu. Ia merupakan hewan


herbivora, yaitu hewan pemakan tumbuh-tumbuhan dan aktif makan pada suasana
gelap. Abalone memakan seaweed/makro alga yang tumbuh di laut, yaitu makro alga
merah (Red seaweeds), alga coklat (Brown seaweeds), dan alga hijau (Green
seaweed). Tak hanya daging abalone saja yang berkualitas dunia, cangkangnya yang
berwarna warni pun mempunyai nilai estetika tinggi. Banyak digunakan untuk
perhiasaan, kancing baju, dan berbagai bentuk barang kerajinan lainnya dari
cangkang abalone. Manfaat lain dari abalone adalah untuk produk kecantikan, untuk
revitalisasi kulit, mengurangi kerutan, membantu memutihkan wajah, menjaga
kelembaban sel-sel kulit wajah, serta membantu pemulihan sel. Beberapa dibuat
dalam bentuk cream, atau campuran bahan kecantikan.

H. Persyaratan Mutu

Produk perikanan memiliki sifat cepat mengalami kemunduran mutu. Hal ini
disebabkan karena sebagian besar kandungan daging ikan merupakan substrat yang
baik untuk pertumbuhan bakteri. Daging ikan sebagian besar terdiri dari protein dan
air. Tingginya kadar air dalam ikan inilah yang menyebabkan ikan mudah sekali
mengalami pembusukan karena bakteri.

Mutu kerang Abalon (Haliotis Squamata) dapat diuji dengan pengujian


organoleptik. Uji organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses
penginderaan. Uji organoleptik merupakan penilaian subyektif yang dilakukan secara
individu dengan mengandalkan indera manusia sebagai alat utama (Irianto dan
Giyatmi 2009). Parameter yang diamati dalam mengamati kemunduran mutu Abalon
(Haliotis Squamata) adalah penampakan, bau, dan tekstur. Berikut ini adalah hasil
pengamatan kemunduran mutu pada Abalon (Haliotis Squamata) (Anadara granosa).

Penampakan

Laju kemunduran mutu Abalon (Haliotis Squamata) dipengaruhi oleh suhu,


lingkungan, pH, dan faktor internal dari Abalon (Haliotis Squamata) tersebut.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, perlakuan suhu kamar mengakibatkan
kemunduran mutu pada Abalon (Haliotis Squamata) lebih cepat terjadi dibandingkan
dengan Abalon (Haliotis Squamata) yang diberi perlakuan suhu chilling. Selain itu
Abalon (Haliotis Squamata) dalam kondisi utuh juga lebih cepat mengalami
kemunduran mutu dibandingkan dengan Abalon (Haliotis Squamata) yang dalam
keadaan tanpa jeroan. Hal ini disebabkan di dalam jeroan terdapat banyak
mikroorganisme yang berperan aktif untuk perombakan dan mempercepat peristiwa
pembusukan pada tubuh Abalon (Haliotis Squamata).

Suhu ruangan dapat mempengaruhi proses cepat berlangsungnya oksidasi lemak pada
Abalon (Haliotis Squamata) sehingga Abalon (Haliotis Squamata) lebih cepat
mengalami kemunduran mutunya, sedangkan pada suhu chilling laju kemunduran
mutunya lebih lambat karena pada suhu dingin kerja enzim lebih terhambat. Selain
itu, mikroorganisme yang terdapat pada saluran pencernaan (jeroan) mengakibatkan
Abalon (Haliotis Squamata) dalam kondisi utuh lebih cepat mengalami proses
kemunduran mutunya karena bakteri dalam jeroan dengan cepat menyerang bagian-
bagian tubuh biota tersebut (Irianto dan Giyatmi 2009).

Bau

Bau merupakan parameter untuk menilai laju kemunduran mutu Abalon (Haliotis
Squamata). Berdasarkan pengamatan laju kemunduran mutu bau pada Abalon
(Haliotis Squamata) semakin hari laju kemunduran mutunya semakin menurun dan
baunya semakin membusuk. Bau yang timbul diakibatkan oleh terakumulasinya basa-
basa yang menguap hasil proses dekomposisi oleh mikroorganisme seperti senyawa-
senyawa sulfur, alkohol aromatik (fenol, kresol), serta senyawa-senyawa heterosiklik
seperti indol dan skatol (Nurjanah et.al. 2004). Bau pada Abalon (Haliotis Squamata)
utuh suhu kamar lebih cepat berbau busuk karena adanya bakteri yang
mendekomposisi senyawa-senyawa sederhana hasil perombakan enzim menjadi
senyawa-senyawa basa menguap yang baunya menyengat sehingga terjadi
kemunduran mutu.

Tekstur

Kemunduran mutu tekstur pada Abalon (Haliotis Squamata) ditandai dengan semakin
melunaknya daging. Kemunduran mutu Abalon (Haliotis Squamata) yang
berpengaruh pada tekstur daging adalah penurunan pH yang mengakibatkan enzim-
enzim yag bekerja pada pH rendah menjadi aktif. Katepsin, yaitu enzim proteolitik
yang berfungsi menguraikan protein menjadi senyawa sederhana, merombak jaringan
otot menjadi lebih longgar yang mengakibatkan daging pada biota hasil perairan
menjadi lunak. Proses perombakan oleh enzim tersebut disebut dengan autolisis
(Diniah et.al. 2006).
III. PENUTUP

KESIMPULAN

Kerang Abalone biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang sekaligus
dipergunakan sebagai tempat menempel. Kerang abalone bergerak dan berpindah
tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lambat
sangat memudahkan predator untuk memangsanya. Makanan kerang terutama terdiri
atas plankton dan bahan organik terlarut, karena itu diperlukan penjagaan dan
perlindungan terhadap ekosistem mangrove sebagai habitatnya. Kerang memperoleh
makanan dengan cara filter feeder yang berupa fitoplankton dan zooplankton kecil.
Menurunnya populasi abalon di alam akibat tekanan penangkapan terjadi dari tahun
ke tahun. Sementara jumlah tangkapan menurun, permintaan abalon terus mengalami
peningkatan. Hal itu mendorong berkembangnnya budidaya akuakultur abalon.
Sehingga saat ini kebutuhan abalon dunia lebih banyak dipenuhi dari sektor budidaya.
Produksi dari Sektor Akuakultur Abalon di Dunia (Cook dan Gordon, 2010).

Ditinjau dari kandungan gizinya, zat gizi dalam abalon terbagi menjadi dua
kelompok besar, yaitu zat gizi makro- dan zat gizi mikro. Zat gizi makro- merupakan
zat gizi yang membentuk bagian utama makanan yang dibutuhkan tubuh dalam
jumlah yang lebih banyak, sedangkan zat gizi mikro- dibutuh-kan tubuh dalam
jumlah sedikit (mikrogram atau miligram per hari). Abalone hanya dapat ditemui di
kedalaman laut tertentu. Ia merupakan hewan herbivora, yaitu hewan pemakan
tumbuh-tumbuhan dan aktif makan pada suasana gelap. Abalone memakan
seaweed/makro alga yang tumbuh di laut, yaitu makro alga merah (Red seaweeds),
alga coklat (Brown seaweeds), dan alga hijau (Green seaweed).
Daftar Pustaka

Anonim. 2013. https://abalonecommunity.wordpress.com/2013/02/17/sedikit-


gambaran- mengenai-produksi-abalon-di-pasar-dunia/. Diakses tanggal 1
November 2016

Diniah, Lismawati,D., Martasuganda,S. 2006. Uji coba dua jenis bubu penangkap
keong macan di perairan Karang Serang kabupaten Tanggerang. Jurnal
Mangrove dan Pesisir Vol. VI No.2/2006.

Irianto,H.E. dan Giyatmi,S. 2009. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Jakarta :


Universitas Terbuka.

Litaay M. 2005. Peranan Nutrisi Dalam Siklus Reproduksi Abalon. Jurnal Oseaana.
3(30) : 1-7.

Miner, C.M., J. M. Altstatz, P. T. Raimondi, T. E. Minchinton. 2006. Recruitment


Failure And Shifts In Community Structure Following Mass Mortality Limit
Recovery Prospects Of Black Abalone. Marine Ecology Progress Series. Vol.
327: 107117.

Nurjanah, Setyaningsih,I., Sukarno, Muldani,M. 2004. Kemunduran mutu ikan Nila


merah (Oreochromis sp.) selama penyimpanan pada suhu ruang. Buletin
Teknologi Hasil Perikanan. Volume VII Nomor 1 tahun 2004.

Rizal S. dan Jailani. 2013. Analisis Kelimpahan Plankton Dan Pertumbuhan Kerang
Kepah Polymesoda Erosa (Solander, 1786) Yang Dipelihara Pada Tambak Di
Delta Mahakam. Jurnal Ilmu Peikanan tropis. 1(19) : 67-74.

Sudarmawan R. A., S. Hilyana, dan N. Cokrowati. 2013.Pengaruh Seks Rasio


Tingkat Keberhasilan pemijahan Pada Kawin Silang Haliotis asinina Dengan
Haliotis squamata. Jurnal Kelautan. 1 (6): 57-66.