Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan Fitri Nafisa (51424013)

Pada percobaan kali ini kami melakukan proses sterilisasi untuk mengetahui kinetika kematian
mikroba. Teknik sterilisasi yang digunakan yaitu sterilisasi continue dan sterilasasi batch. Media yang
digunakan adalah media pertumbuhan untuk bakteri Saccharomyces cereviciae, yaitu glukosa sebagai
sumber C, pepton sebagai sumber nutrisi dan yeast ekstrak sebagai sumber N. Pada teknik sterilisasi secara
kontinyu kami menghitung jumlah sel yang hidup dan jumlah sel yang mati dibawah mikroskop dengan
bantuan metylen blue sebagai penunjuk sel yang hidup dan sel yang mati. Sel hidup warna didalam sel tetap
bening, sedangkan sel yang sudah mati dinding selnya rusak sehingga sel berubah menjadi warna biru.
Semua proses yang dilakukan harus dengan cara aseptis agar sampai tidak terkontaminasi.
Pada sterilisasi continue, media dialirkan pada coil yang berada pada suhu sterilisasinya, jadi
selama proses sterilisasi berlangsung, media yang akan disterilisasi masuk dan keluar coil secara continue,
sehingga diperlukan laju alir media dalam pompa. Laju alir yang digunakan yaitu 5ml/s ; 10ml/s ; dan 15
ml/s. Suhu sterilisasi yang digunakan adalah pada suhu 50 oC, 60 oC, dan 70 oC. Semakin cepat laju alir
media dalam coil, hal ini mempengaruhi waktu tinggal media dalam suhu sterilisasinya. Berikut hasil dari
pengolahan data Kinetika Kematian Mikroba dan Sterilisai continue:

T (OC)
D( )

50 57.0
60 39.3
70 33.7

Suhu yang semakin tinggi pada proses sterilisasi maka nilai decimal reductionnya semakin kecil,
artinya semakin tinggi suhu maka waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi jumlah sel vegetative atau
spora hingga mikroba yang bertahan berkurang menjadi 1/10 pun lebih cepat. Pengaruh waktu sterilisasi
terhadap jumlah spora yang bertahan menunjukan karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik mikroba
atau termofilik pada awal proses sterilisasi mengalami peningkatan populasi spora kemudian dengan
bertambahnya waktu sterilisasi spora yang hidup semakin berkurang. Panas yang diberikan pada awal
proses justru akan meningkatkan populasi mikroba termofil dan setelah temperature pemanasan mencapai
temperature yang mengakibatkan kematian mikroba (lethal temperature), maka secara perlahan jumlah
mikroba yang hidup berkurang.
Dari grafik yang telah dibuat maka didapat nilai Kd sebesar :

T (OC) Kd
50 0.0404
60 0.0586
70 0.0683

1
Berdasarkan persamaan Arrhenius yaitu ln = ln 0 semakin tinggi suhu maka nilai Kd

semakin besar. Hal tersebut sesuai dengan data yang diperoleh, karena semakin tinggi suhu maka konstanta
laju kematian mikroba akan semakin cepat. Setelah diperoleh nilai Kd, dapat dihitung nilai Ed dengan
membuat grafik ln Kd terhadap 1/T sehingga berdasarkan hasil perhitungan dari grafik diperoleh nilai Ed,
yakni = 7,58 J.
Pada percobaan kedua kami melakukan proses sterilisasi untuk mengetahui kinetika
kematian mikroba dengan sterilisasi batch. Tujuannya dari percobaan ini adalah untuk mengetahui
pengaruh suhu dan waktu sterilisasi pada sterilisasi batch. Pada teknik sterilisasi secara batch kami
menghitung jumlah sel yang hidup dan jumlah sel yang mati sebelum dan sesudah mengalami
proses pemanasan dan pendinginan. Sampel berisi biakan dipanaskan pada temperature yang
berbeda-beda yaitu : 50oC, 60oC, 70oC dan rentang waktu yang berbeda yaitu 5 menit, 10 menit,
dan 15 menit. Perhitungan jumlah sel dilakukan menggunakan mikroskup dengan bantuan
methylen blue sebagai penunjuk sel yang hidup dan sel yang mati. Berdasarkan percobaan, jumlah
sel yang mati semakin bertambah seiring dengan bertambahnya suhu pemanasan, namun jumlah
sel yang mati naik-turun, seharusnya semakin bertambah seiring bertambahnya waktu.
Berdasarkan grafik, diperoleh nilai Kd 0,248 pada suhu 50oC, pada suhu 60oC dengan nilai
Kd 0,28 dan pada suhu 70oC dengan nilai Kd 0.08. Nilai Kd bergantung kepada suhu sterilisasinya.
Berdasarkan persamaan semakin besar suhu sterilisasi maka nilai Kd akan semakin besar, namun
nilai Kd yang diperoleh pada percobaan ini naik-turun. Ketidaksesuaian hasil percobaan dengan
teori bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang aseptisnya proses yang berlangsung,
terkontaminasinya media yang digunakan, dan kurang tepatnya pengambilan bidang pengamatan
yang dihitung sel hidup dan matinya. Adapun nilai Ed pada praktikum sterilisasi batch yaitu
sebesar 8,60 J.
Berdasarkan hasil pengamatan kinematika kematian mikroba dengan menggunakan
sterilisasi batch dan sterilisasi kontinyu. Hasil yang didapatkan yang sesuai dengan teori adalah sterilisasi
dengan menggunakan sterilisasi kontinyu. Kekurangan dari sterilisasi batch ini adalah tingkat panas
menyebabkan kerusakan pada komponen-komponen yang dibutuhkan serta proses pemanasan
berlangsung lambat hingga mencapai lethal temperature juga pendinginan berlangsung lambat.
Sedangkan Sterilisasi Kontinyu memiliki keunggulan dibandingkan Sterilisasi Batch antara lain:
Kualitas media dapat dipertahankan, peningkatan skala yang relative mudah, pengendalian secara
otomatis relative lebih mudah dan kapasitas steam yang digunakan dan waktu siklus sterilisasi
lebih rendah. Mikroba yang membentuk spora lebih tahan terhadap pemanasan yang paling tinggi
jika dibandingkan dengan beberapa jenis mikroba yang lain.