Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH KIMIA AMAMI

PEMERIKSAAN KIMIA ANALISA AIR

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3 TINGKAT IIA
Dianah Rezqi Salsabila P07234016009
Monica Pudji Astuti P07234016017
Nur Masyitah P07234016025
Ofi Maisanur Ramadana P07234016026
Ragil Maulana P07234016028
Sofyan Hadi Chandra P07234016035

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena rahmat dan
karunia Nya, penulis dapat menyusun makalah tentang Pemeriksaan Kimia Analisis
Air. Hal yang paling mendasar yang mendorong kami menyusun makalah ini adalah
tugas dari mata kuliah Kimia AMAMI untuk mencapai nilai yang memenuhi syarat.

Penyusun makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak baik secara
langsung maupun tidak langsung, sehingga makalah ini dapat terselesaikan oleh
penyusun. Penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan maka dari itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca, agar dapat
menjadi bahan pertimbangan dan perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya penyusun untuk
menambah wawasan.

Samarinda, 09 September 2017

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencemaran terjadi di berbagi tempat, termasuk di lingkungan kita berada.
Kecenderungan pencemaran terjadi sejak perang dunia ke dua yang mengarah
pada dua hal yaitu pembuangan senyawa kimia tertentu yang makin meningkat,
terutama akibat kegiatan industri dan transportasi dan akibat penggunaan bahan-
bahan berbahaya oleh manusia. Kegiatan industri, transportasi, dan aktivitas
manusia yang banyak mengeluarkan bahan pencemaran seringkali merusak
keadaan lingkungan, salah satunya adalah air (Achmad, 2004).
Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan manusia
dan mahluk hidup lainnya dan fungsinya bagi kehidupan tidak akan dapat
digantikan dengan senyawa lainnya (Achmad, 2004). Air yang tidak berbau dan
berwarna merupakan air yang baik, sebaliknya air yang mempunyai warna
tertentu pasti mengandung bahan kimia. Demikian pula dengan bau, bila air
berbau biasanya mengandung bahan-bahan organik. Menurut Freedman dalam
Suyanta (2002), kualitas air ditentukan oleh kandungan ion logam dan non logam
dalam air, seperti logam-logam perak (Ag), kadmium (Cd), krom (Cr), kobalt
(Co), tembaga (Cu), besi (Fe), merkuri (Hg), molibdenum (Mo), nikel (Ni),
timbal (Pb), timah (Sn), Seng (Zn), Aluminium (Al), arsen (As), dan selenium
(Se). Adanya anion-anion seperti klorida (Cl-), sulfat (SO42-) dan nitrat (NO3-)
juga dapat menyebabkan rendahnya kualitas air. Selain itu kualitas air juga
ditentukan oleh beberapa faktor fisik seperti temperatur, rasa, dan total padatan
terlarut (TDT).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pemeriksaan kimia analisa air?
2. Apa saja bahan-bahan kimia dalam perairan?
3. Apa saja parameter kimia dalam analisa air?
4. Apa saja jenis-jenis pemeriksaan kimia dalam analisa air?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari pemeriksaan kimia analisa air.
2. Untuk mengetahui apa saja bahan-bahan kimia dalam perairan.
3. Untuk mengetahui apa saja parameter kimia dalam analisa air.
4. Untuk mengetahui jenis-jenis pemeriksaan kimia dalam analisa air.

D. Manfaat
1. Mengetahui pengertian dari pemeriksaan kimia analisa air.
2. Mengetahui apa saja bahan-bahan kimia dalam perairan.
3. Mengetahui apa saja parameter kimia dalam analisa air.
4. Mengetahui jenis-jenis pemeriksaan kimia dalam analisa air.
BAB II
ISI

A. Pengertian Pemeriksaan Kimia Analisa Air

Salah satu sumber daya alam yang paling penting bagi hidup manusia adalah
sumber daya air. Air merupakan kebutuhan pokok manusia sehari-hari, sehingga
dapat dikatakan manusia tidak dapat hidup tanpa air, oleh karena itu perlu
dipelihara kualitasnya agar tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia
serta makhluk lainnya. Diperkirakan dari tahun ke tahun kebutuhan akan air
semakin meningkat, bukan hanya disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk
akan tetapi disebabkan oleh kebutuhan per kapita yang meningkat sesuai dengan
perkembangan pola hidup manusia.
Standard kualitas air memberikan batas konsentrasi maksimum yang
dianjurkan dan diperkenankan bagi berbagai parameter kimia, karena pada
konsentrasi yang berlebihan kehadiran unsur-unsur tersebut di dalam air akan
memberikan pengaruh-pengaruh yang negatif, baik bagi kesehatan maupun dari
segi pemakaian lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan kimia air
dengan menggunakan parameter kimia. Kualitas bahan kimia yang digunakan
untuk analisis harus dipilih berdasarkan tingkat kepentingan analisis dan harga
analisis tersebut. Suatu analisis untuk kepentigan penelitian, pemeriksaan air
minum, air limbah dan air alami biasanya menggunakan bahan berkualitas p.a.
beberapa bahan tertentu, atau untuk analisis rutin yang tidak berkenan dengan
kesehatan masyarakat atau dana yang tersedia sangat sedikit, maka bahan kimia
murni dapat digunakan untuk menggantikan bahan pro analisis.
Kehadiran senyawa organik dalam air menyebabkan beberapa problem
antara lain, 1) menyebabkan perubahan warna pada air, 2) menyebabkan bau dan
rasa yang tidak enak, 3) pembentukan senyawa-senyawa organohalogen apabila
air tersebut didesinfeksi dengan halogen, 4) mempengaruhi proses pengolahan
selanjutnya.
Adapun bahan-bahan yang terdapat di perairan dapat dikelompokkan
sebagai berikut.
1. Gas, terdiri atas karbondioksida, nitrogen, amonia, hidrogen sulfida, dan
metana.
2. Elemen atau unsur, terdiri atas aluminium, zinc, copper, molibdenum,
kobalt, karbon, fosfor, nitrogen, sulfur, klor, fluor, iodin, boron, dan silikon.
Elemen-elemen tersebut terdapat sebagai ion atau senyawa organik dan
anorganik kompleks.
3. Bahan organik terlarut, berupa gula, asam lemak, asam humus, tanin,
vitamin, asam amino, peptida, protein, pigmen tumbuhan, urea, dan
sebagainya.
4. Bahan anorganik tersuspensi, berupa koloid lumpur dan partikel tanah.
5. Bahan organik tersuspensi. misalnya fitoplankton. zooplankton jamur atau
fungi, bakteri, dan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang telah mati.

B. Bahan-Bahan Kimia dalam Perairan


Air merupakan pelarut yang sangat baik bagi banyak bahan. Oleh karena itu
badan-badan air atau air permukaan banyak mengandung bahan-bahan kimia yang
terlarut maupun dalam bentuk tersuspensi.
Beberapa bahan-bahan kimia tersebut antara lain:
1. SILIKON DALAM AIR
Silikon merupakan unsur kedua terbanyak di kerak bumi setelah
oksigen yaitu sebesar 27,7%. Hal ini menyebabkan silikon tersebar luas
dalam air. Konsentrasi normal dari silikon dalam air berkisar antara 1
sampai 30 mg/l sebagai SiO2, meskipun kadang kala mencapai 100 mg/l.
Suatu fenomena yang menarik adalah air laut di bagian permukaan
umumnya konsentrasi silikonnya sangat rendah karena unsur ini
digunakan oleh kerang dan pembentukan tulang organisme laut.

Silika dalam air dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari sumber
pencernaan. Senyawa silikat digunakan dalam pembuatan senyawa
detergen dan sebagai anti karat. Oleh karena itu silikon atau ion dari
senyawa silikon terdapat banyak dalam air buangan baik limbah industri
maupun limbah domestik.

2. BELERANG DALAM AIR


Secara umum sebagian besar belerang yang terdapat dalam air adalah
S(IV) dalam ion sulfat SO42-. Dalam kondisi anaerobik SO42- dapat
direduksi oleh aktivitas bakteri menjadi H2S yang direduksi sulfat
tersebut menyebabkan bau telur busuk yang dikeluarkan oleh banyak
air yang tergenang dan air-air tanah. Adanya perbedaan jenis belerang
(bilangan oksidasinya) dalam air menggambarkan adanya hubungan
antara pH air, potensial oksidasi, dam aktivitas bakteri.

Dalam air ion sulfat dapat berasal dari banyak sumber. Sulfat dapat
berasal dari hasil pencucian mineral utama gips, CaSO4.2H2O. Oksidasi
dari mineral sulfide yang dipengaruhi oleh mikroorganisme, seperti pyrit,
FeS2 menghasilkan sulfat. Garam sulfat digunakan dalam pembuatan
detergent dan dalam banyak hasil industri seperti industri pupuk ZA,
maka ion sulfat merupakan komponen yang umum dari air buangan.

3. KLORIDA DAN FLOURIDA DALAM AIR


Senyawa halida, klorida, dan flourida merupakan senyawa-senyawa
umum yang terdapat pada perairan alami. Senyawa-senyawa tersebut
mengalami proses disosiasi dalam air membentuk ion-ionnya. Ion klorida
pada tingkat sedang relatif mempunyai pengaruh kecil terhadap sifat-sifat
kimia dan biologi perairan. Kation dari garam-garam klorida dalam air
terdapat dalam keadaan mudah larut, dan ion klorida secara umum tidak
membentuk senyawa kompleks yang kuat dengan ion-ion logam. Ion ini
juga tidak dapat dioksidasi dalam keadaan normal dan tidak bersifat
toksik. Tetapi kelebihan garam-garam klorida ini dapat menyebabkan
penurunan kualitas air yang disebabkan oleh tingginya salinitas. Air ini
tidak layak untuk air pengairan dan keperluan rumah tangga.

Ion flourida jauh lebih penting dalam air dari pada ion-ion klorida.
Flour adalah salah satu unsur halogen yang paling tinggi dibandingkan
unsur-unsur halogen lainnya. Dalam media asam, ion flourida membentuk
asam hidroflourat, yang mengion. Dalam kebanyakan air tawar ion
flouride umumnya terdapat dalam konsentrasi kurang dari 1 mg/l.
Konsentrasi yang melebihi 10 mg/l jarang ditemukan. Flourida
ditambahkan pada banyak air untuk keperluan air minum rumah tangga
untuk mencegah kerusakan gigi dengan konsentrasi kurang lebih 1 mg/l.

4. KALSIUM DAN MAGNESIUM DALAM AIR


Secara umum dari kation-kation yang ditemukan dalam banyak
ekosistem air tawar kalsium mempunyai konsentrasi tinggi. Kalsium
adalah unsure kimia yang memegang peranan penting dalam banyak
proses geokimia. Ion kalsium (Ca2+) mempunyai kecenderungan relatif
kecil untuk membentuk ion kompleks. Dalam kebanyakan system
perairan air tawar, jenis kalsium yang pertama-tama larut yang ada adalah
Ca2+. Oleh karena itu pada konsentrasi HCO3- yang sangat tinggi,
pasangan ion, Ca2+ - HCO3- dapat terbentuk dalam jumlah cukup banyak.

Berbeda dengan kalsium yang densitas muatan dari ion Ca2+ relatif
lebih kecil dibandingkan dengan ion logam-logam divalen lainnya, maka
densitas muatan ion Mg2+ jauh lebih besar dan ikatan yang lebih kuat
dengan air untuk melakukan hidrasi. Magnesium dalam air terutama
terdapat sebagai ion Mg2+ HCO3- dan Mg2+ SO4- terjadi bila konsentrasi
bikarbonat dan sulfat yang tinggi. Pada umumnya konsentrasi magnesium
dalam air tawar lebih kecil dibandingkan kalsium. Telah diteliti bahwa
dilarutan magnesium dalam bentuk larutan lebih lama dari kalsium. Hal
ini disebabkan senyawa Mg2+ mengendap lebih lambat dibandingkan
senyawa Ca2+.

5. LOGAM ALKALI DALAM AIR


Natrium umumnya terdapat dalam konsentrasi yang lebih tinggi di
dalam air tawar dibandingkan dengan kalium. Ion natrium, sama dengan
ion klorida, bersosiasi dengan salinitas yang berlebihan yang dapat
menyebabkan penurunan kualitas air yang cukup serius.

Kalium dalam perairan alami relatif rendah konsentrasinya dari natrium


karena unsur ini tidak mudah dilepaskan dari sumbernya dan unsur ini
mudah sekali diarbsorbsi oleh mineral-mineral. Jenis sumber alami dari
kalium adalah feldspar, esensial dan bergabung ke dalam bahan tanaman.
Sebagai konsekuensinya bila terjadi kebakaran hutan dimana sering
mengandung konsentrasi kalium yang tinggi. Suatu kenyataan bahwa
hasil pencucian dari abu banyak digunakan oleh pioneer-pioneer sebagai
sumber dari kalium hidroksida untuk pembuatan sabun.

6. MANGAN DALAM AIR


Toksisitas Mangan (Mn), relatif sudah tampak pada konsentrasi
rendah. Dengan demikian tingakat kandungan Mn yang diizinkan dalam
air yang digunakan untuk keperluan domestik sangat rendah, yaitu
dibawah 0,05 mg/l. Dalam kondisi aerob mangan dalam perairan terdapat
dalam bentuk kekurangan oksigen (DO rendah). Oleh karena itu
pemakaian air yang berasal dari dasar suatu sumber air, sering ditemukan
mangan dalam konsentrasi tinggi.
Air yang berasal dari sumber tambang asam dapat mengandung
mangan terlarut, dan pada konsentrasi kurang lebih 1 mg/l dapat
ditemukan pada perairan dengan aliran yang berasal dari tambang asam.
Pada Ph yang agak tinggi dan kondisi aerob terbentuk mangan yang tidak
larut seperti, MnO2, Mn3O4, atau MnCO3 meskipun oksidasi dari MN2+ itu
berjalan relatif lambat.

C. Parameter Kimia dalam Analisa Air


1. pH dan Asiditas
Pada dasamya, asiditas (keasaman) tidak sama dengan pH Asiditas
melibatkan dua komponen, yaitu jumlah asam, baik asam kuat maupun asam
lemah (misalnya asam karbonat dan asam asetat), dan konsentrasi ion
hidrogen. Menurut APHA (1976), pada dasarnya asiditas menggambarkan
kapasitas kuantitatif air untuk menetralkan basa hingga pH tertentu, yang
dikenal dengan sebutan base-neutralizing capacity (BNC), sedangkan Tebbut
(1992) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion
hidrogen.
Mackereth et al. (1989) berpendapat bahwa pH juga berkaitan erat dengan
karbondioksida dan alkalinitas Pada pH <5, alkalinitas dapat mencapai nol.
Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin
rendah kadar karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH rendah)
bersifat korosif pH juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia.
Senyawa amonium yang dapat terionisasi banyak ditemukan pada perairan
yang memiliki pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik (innocuous).
Namun, pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak ditemukan amonia
yang tak terionisasi (unionized dan bersifau toksik. Amonia tak terionisasi ini
lebih mudah terserap ke dalam tubuh organisme akuatik dibandingkan
dengan amonium (Tebbut, 1992).
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempenganuhi proses
biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH
rendah. Toksisitas logam memperlihatkan peningkatan pada pH rendah
Novotny dan Olem, 1994). Pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati
karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah. Namun, algae
Chlamydomonas acidophila masih dapat bertahan hidup pada pH yang sangat
rendah yaitu 1 dan algae Euglena masih dapat bertahan hidup pada pH 1,6
(Haslam, 1995).

2. Oksigen Terlarut
Atmosfer bumi mengandung oksigen sekitar 210mlliter oksigen
merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang
terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas,
turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian
(altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut
semakin kecil. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, tekanan
atmosfer semakin rendah. Setiap peningkatan ketinggian suatu tempat sebesar
100 m diikuti dengan penurunan tekanan hingga 8 mm Hg-9 mm Hg. Pada
kolom air, setiap peningkatan kedalaman sebesar 10m disertai dengan
peningkatan tekanan sekitar 1 atmosfer (Cole, 1988). Kadar oksigen terlarut
juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada
percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) masa air, aktivitas
fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air.
Peningkatan suhu sebesar 1C akan meningkatkan konsumsi oksigen
sekitar 10%. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat
mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (anaerob).
Kadar oksigen jenuh akan tercapai jika kadar oksigen yang terlarut di
perairan sama dengan kadar oksigen yang terlarut secara teoretis. Kadar
oksigen tidak jenuh terjadi jika kadar oksigen yang terlarut lebih kecil dari
pada kadar oksigen secara teoretis. Kadar oksigen yang melebihi nilai jenuh
disebut lewat jenuh (super saturasi). Kejenuhan oksigen di perairan nyata.
Kadar oksigen jenuh di perairan berada dalam kesetimbangan dengan kadar
oksigen di atmosfer. Pada kondisi jenuh tersebut, tidak ada yang mengalami
difusi dari udara ke dalam air dan sebaliknya. Transfer oksigen dari udara ke
perairan terjadi melalui proses difusi dan penghilangan oksigen dari perairan
ke udara akan teriadi jika kondisi jenuh belum tercapai. Semakin tinggi
tekanan air, kelarutan oksigen semakin tinggi. Sifat kelarutan gas oksigen
lebih rendah daripada sifat kelarutan gas nitrogen. Demikian juga, kelarutan
gas oksigen diperairan lebih rendah daripada kelarutan gas nitrogen.
Sumber oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di
atmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan
fitoplankton (Novotny dan Olem, 1994). Difusi oksigen dari atmosfer ke
dalam air dapat terjadi secara langsung pada kondisi air diam. Difusi juga
dapat terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya
gelombang atau ombak dan air terjun. Di perairan danau, oksigen lebih
banyak dihasilkan oleh fotosintesis algae yang banyak terdapat pada mintakat
epilimnion. Pada perairan tergenang yang dangkal dan banyak ditumbuhi
tanaman air pada zona litoral, keberadaan oksigen lebih banyak dihasilkan
oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air. Kadar oksigen terlarut yang tinggi
tidak menimbulkan pengaruh fisiologis bagi manusia. Ikan dan organisme
akuatik lain membutuhkan oksigen terlarut dengan jumlah cukup. Kebutuhan
oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu, dan bervariasi antar-organisme.
Keberadaan logam berat yang berlebihan perairan mempengaruhi sistem
respirasi organisme akuatik sehingga pada saat kadar oksigen terlarut rendah
dan terdapat logam berat dengan konsentrasi tinggi, organisme akuatik
menjadi lebih menderita.
3. Karbondioksida
Atmosfer bumi mengandung karbondioksida dengan persentase yang
relatif kecil, yakni sekitar 0,033% 6.7, Akan tetapi, dari tahun ke tahun,
kadar memperlihatkan kecenderungan peningkatan, sebagai hasil dari
penggundulan hutan dan pembakaran bahan bakar fosil, misalnya minyak
bumi dan batu bara. Sekitar setengah dari karbondioksida yang merupakan
hasil pembakaran ini berada di atmosfer dan setengahnya lagi tersimpan di
laut dan digunakan dalam proses fotosintesis oleh diatom dan algae laut lain.
Sumber karbon utama di bumi adalah atmosfer dan perairan, terutama
lautan. Laut me ngandung karbon lima puluh kali lebih banyak daripada
karbon di atmosfer. Perpindahan karbon dari atmosfer ke laut terjadi melalui
proses difusi. Karbon yang terdapat di laut cenderung mengatur
karbondioksida di atmosfer. Karbon yang terdapat di atmosfer dan perairan
diubah menjadi karbon organik melalui proses fotosintesis, kemudian masuk
kembali ke atmosfer melalui proses respirasi dan dekomposisi yang
merupakan proses biologis makhluk hidup. Melalui proses kimia yang
berlangsung sangat lama, karbon yang terdapat di atmosfer dan laut dapat
berubah menjadi bahan organik yang berupa bahan bakar fosil atau menjadi
bahan anorganik, misalnya batuan karbonat. Pengembalian karbon ke
atmosfer juga dilakukan oleh aktivitas lain yang bukan aktivitas biologis,
misalnya pembakaran bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi). Selain
dalam bentuk karbondioksida, lapisan bumi mengandung deposit karbon
dalam bentuk karbon anorganik, misalnya batuan kapur dan karbon organik
berupa bahan bakar fosil.
Pelapukan dan batuan, pelarutan batuan karbonat, dan aktivitas vulkanik
juga berperan untuk mengembalikan karbon dalam bentuk karbondioksida,
asam karbonat karbondioksida, dan asam karbonat ke atmosfer dan perairan.
Pembakaran bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi) oleh kendaraan
bermotor dan kegiatan industri yang sangat intensif akhir-akhir ini dipercaya
telah meningkatkan kadar karbondioksida di atmosfer. Karbondioksida
merupakan salah satu gas yang memiliki efek rumah kaca (green house
effect) yaitu gas yang menyerap panas yang dilepaskan oleh cahaya
matahari. Oleh karena itu, peningkatan kadar karbondioksida berkorelasi
secara positif dengan peningkatan suhu bumi, yang dikenal dengan istilah
pemanasan global (global warming).
Karbondioksida yang terdapat di perairan berasal dari berbagai sumber
yaitu sebagai berikut.
a. Difusi dari atmosfer. Karbondioksida yang terdapat di atmosfer
mengalami difusi secara langsung ke dalam air.
b. Air hujan. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi secara teoretis
memiliki kandungan karbondioksida sebesar 0,55 0,60 mg/liter, berasal
dari karbondioksida yang terdapat di atmosfer
c. Air yang melewati tanah organik. Tanah organik yang mengalami
dekomposisi mengandung relatif banyak karbondioksida sebagai hasil
proses dekomposisi. Karbondioksida hasil dekomposisi ini akan larut ke
dalam air.
d. Respirasi tumbuhan, hewan, dan bakteri aerob maupun anaerob.
Respirasi tumbuhan dan hewan mengeluarkan karbondioksida.
Dekomposisi bahan organik pada kondisi aerob menghasilkan
karbondioksida sebagai salah satu produk akhir. Demikian juga,
dekomposisi anaerob karbohidrat pada bagian dasar perairan akan
menghasilkan karbondioksida sebagai produk akhir.

4. Alkalinitas
Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam, atau
dikenal dengan sebutan acid-neutralizing capacity (ANC) atau kuantitas
anion di dalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas juga
diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan
pH perairan. Penyusun alkalinitas perairan adalah anion bikarbonat (HCO3-),
karbonat (CO32-) dan hidroksida (OH-). Borat (H2BO3-), silikat (HSiO3-),
fosfat (HPO42- dan H2PO4-), sulfida (HS-), dan amonia (NH3) juga
memberikan konstribusi terhadap alkalinitas. Namun, pembentuk alkalinitas
yang utama adalah bikarbonat, karbonat, dan hidroksida. Di antara ketiga ion
tersebut, bikarbonat paling banyak terdapat pada perairan alami.
Bikarbonat, karbonat, dan asam karbonat merupakan sumber utama
karbon anorganik di perairan Karbon anorganik di rerairan dapat berasal dari
beberapa sumber yaitu atmosfer, batuan karbonat, siklus biologi karbon, dan
sumber allocthonous (dari luar perairan). Pada awalnya, akalinius adalah
gambaran pelapukan batuan yang terdapat pada sistem drainase Alkalinitas
dihasilkan dari karbondioksida dan air yang dapat melarutkan sedimen
banuan karbonat menjadi bakarbonat. Nilai aikalinitas di perairan berkisar
antara 5 hingga ratusan mg/liter CaCO3.
Nilai alkalinitas pada perairan alami adalah 40 mg/liter CaCO3. Perairan
dengan nilai alkalinitas 40 mg/liter CaCO3, disebut perairan sadah (hard
water), sedangkan perairan dengan nilai alkalinitas 40 mg/liter disebut
perairan lunak (soft water). Perairan dengan nilai alkalinitas tinggi lebih
produktif daripada perairan dengan nilai alkalinitas rendah. Tingkat
produktivitas perairan ini sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan
nilai alkalinitas, tetapi berkaitan dengan keberadaan fosfor dan elemen
esensial lain yang kadamya meningkat dengan meningkatnya nilai
alkalinitas.
Alkalinitas berperan dalam hal-hal sebagai berikut.
a. Sistem penyangga (bufer)
Bikarbonat yang terdapat pada perairan dengan nilai alkalinitas
total tinggi berperan sebagai penyangga (byter capacit) perairan
terhadap perubahan pH yang drastis. Jika basa kuat ditambahkan ke
dalam perairan maka basa tersebut akan bereaksi dengan asam
karbonat membentuk garam bikarbonat dan akhirnya menjadi
karbonat. Jika asam ditambahkan ke dalam perairan maka asam
tersebut akan digunakan untuk mengonversi karbonat menjadi
bikarbonat dan bikarbonat menjadi asam karbonat. Fenomena inilah
yang menjadikan perairan dengan nilai alkalinitas total tinggi tidak
mengalami perubahan pH secara drastis.
b. Koagulasi kimia
Bahan kimia yang digunakan dalam proses koagulasi air atau
air limbah bereaksi dengan air membentuk presipitasi hidroksida
yang tidak larut. Ion hidrogen yang dilepaskan bereaksi dengan ion-
ion penyusun alkalinitas, sehingga alkalinitas berperan sebagai
penyangga untuk mengetahui kisaran pH yang optimum bagi
penggunaan koagulan. Dalam hal ini nilai alkalinitas sebaiknya
berada pada kisaran optimum untuk mengikat ion hidrogen yang
dilepaskan pada proses koagulasi.
c. Pelunakan air (water softening)
Alkalinitas adalah parameter kualitas air yang harus
dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soda abu dan kapur
yang diperlukan dalam proses pelunakan (softening) dengan metode
presipitasi. Pelunakan air bertujuan untuk menurunkan kesadahan.

5. Kesadahan
Kesadahan (hardness adalah gambaran kation logam divalen (valensi
dua). Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun (soap) membentuk
endapan (presipitasi) maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air
membentuk endapan atau karat pada peralatan logam. Pada perairan tawar,
kation divalen yang paling berlimpah adalah kalsium magnesium, sehingga
kesadahan pada dasarnya ditentukan oleh jumlah kalsium dan magnesium.
Kalsium dan magnesium berikatan dengan anion penyusun alkalinitas, yaitu
bikarbonat dan karbonat. Keberadaan kation yang lain, misalnya strontium,
besi valensi dua (kation ferro), dan mangan juga memberikan kontribusi bagi
nilai kesadahan total, meskipun peranannya relatif kecil, Aluminium dan
besi valensi tiga (kation ferri) sebenarnya juga memberikan kontribusi
terhadap nilai kesadahan. Namun demikian, mengingat sifat kelarutannya
yang relatif rendah pada pH netral maka peran kedua kation ini sering kali
diabaikan.
Perairan dengan nilai kesadahan tinggi pada umumnya merupakan
perairan yang berada di wilayah yang memiliki lapisan tanah pucuk (top
soil) tebal dan batuan kapur. Perairan lunak berada pada wilayah dengan
lapisan tanah atas tipis dan batuan kapur relatif sedikit atau bahkan tidak ada.
Kesadahan diklasifikasikan berdasarkan dua cara, yaitu berdasarkan ion
logam (metal) dan berdasarkan anion yang berasosiasi dengan ion logam.
Berdasarkan ion logam (metal) kesadahan dibedakan menjadi kesadahan
kalsium dan kesadahan magnesium. Berdasarkan anion yang berasosiasi
dengan ion logam, kesadahan dibedakan menjadi kesadahan karbonat dan
kesadahan non-karbonat.
a. Kesadahan Kalsium dan Magnesium
Kesadahan perairan dikelompokkan menjadi kesadahan
kalsium dan kesadahan magnesium karena pada perairan alami
kesadahan lebih banyak disebabkan oleh kation kalsium dan
magnesium. Kesadahan kalsium dan magnesium sering kali perlu
diketahui untuk menentukan jumlah kapur dan soda abu yang
dibutuhkan dalam proses pelunakan air (lime-soda ash softening).
b. Kesadahan Karbonat dan Non-karbonat
Pada kesadahan karbonat, kalsium dan magnesium berasosiasi
dengan ion CO32- dan HCO3-. Pada kesadahan non-karbonat,
kalsium dan magnesium berasosiasi dengan ion SO42-, Cl-, dan NO3-
. Kesadahan karbonat sangat sensitif terhadap panas dan mengendap
dengan mudah pada suhu tinggi. Oleh karena itu, kesadahan
karbonat disebut juga kesadahan sementara. Kesadahan non-
karbonat disebut kesadahan permanen karena kalsium dan
magnesium yang berikatan dengan sulfat dan klorida tidak
mengendap dan nilai kesadahan tidak berubah meskipun pada suhu
yang tinggi.
Nilai kesadahan air diperlukan dalam penilaian kelayakan perairan
untuk kepentingan domestik dan industri. Tebbut (1992) mengemukakan
bahwa nilai kesadahan tidak memiliki implikasi langsung terhadap kesehatan
manusia. Kesadahan yang tinggi dapat menghambat sifat toksik dari logam
berat karena kation-kation penyusun kesadahan (kalsium dan magnesium)
membentuk senyawa kompleks dengan logam berat tersebut. Misalnya,
toksisitas 1 mg/liter timbal pada perairan dengan kesadahan rendah (soft
waters) dapat mematikan ikan. Akan tetapi, toksisitas 1 mg/liter timbal pada
perairan dengan kesadahan 150 mg/liter CaCO3, terbukti tidak berbahaya
bagi ikan.
Air permukaan biasanya memiliki nilai kesadahan yang lebih kecil dari
pada air tanah. Perairan dengan nilai kesadahan kurang dari 120 mg/liter
CaCO3, dan lebih dari 500 mg/liter Caco dianggap kurang baik bagi
peruntukan domestik, pertanian, dan industri. Namun, air sadah lebih disukai
oleh organisme daripada air lunak.

6. Bahan Organik
Semua bahan organik mengandung karbon (C) berkombinasi dengan
satu atau lebih elemen lainnya. Bahan organik berasal dari tiga sumber
utama sebagai berikut:
a. Alam, misalnya fiber, minyak nabati dan hewani, lemak hewani,
alkaloid, selulosa, kanji, gula, dan sebagainya.
b. Sintesis, yang meliputi semua bahan organik yang diproses oleh
manusia.
c. Fermentasi, misalnya alkohol, aseton, gliserol, antibiotika, dan asam
yang semuanya diperoieh melalui aktivitas mikroorganisme.
Karakteristik bahan organik yang membedakannya dari bahan anorganik
adalah sebagai berikut:
a. Mudah terbakar.
b. Memiliki titik beku dan titik didih rendah.
c. Biasanya lebih sukar larut dalam air.
d. Bersifat isomerisme: beberapa jenis bahan organik memiliki rumus
molekul yang sama.
e. Reaksi dengan senyawa lain berlangsung lambat karena bukan terjadi
dalam bentuk ion, melainkan dalam bentuk molekul.
f. Berat molekul biasanya sangat tinggi, dapat lebih dari 1.000.
g. Sebagian besar dapat berperan sebagai sumber makanan bagi bakteri.

D. Jenis-Jenis Pemeriksaan Kimia dalam Analisa Air


1. Penentuan pH
Bertujuan untuk mengetahui kadar keasaman dan kebasaan sampel air.
Pembatasan pH dilakukan karena pH akan mempengaruhi rasa, korosivitas air
dan efisiensi chlorinasi. Ke dalam gelas piala 150 mL dimasukkan 100 mL
sampel kemudian dicelupkan elektroda dari pH-meter, dan dibaca nilai pH
pada alat.
2. Penentuan Nitrat
Penentuan nitrat dilakukan dengan metode reduksi kadmium. Dibuat deret
standard larutan pembanding yang diketahui nilai konsentrasinya dan kedalam
botol sampel dimasukkan 25 mL sampel air kemudian di tambahkan reagen
NitraVer 5 Nitrate lalu dikocok selama 1 menit dan didiamkan selama 5
menit, kemudian dianalisis menggunakkan spektrofotometer Uv-Vis pada
panjang gelombang 500 nm. Mula-mula dimasukkan botol blanko dan bacaan
pada alat dan alat diset pada angka nol. Selanjutnya botol blanko digantikan
dengan botol deret standard kemudian dilanjutkan dengan botol sampel dan
konsentrasi nitrat dalam mg/L ditunjukkan langsung pada alat.
3. Penentuan Nitrit
Penentuan nitrit dilakukan dengan metode ferrosulfat. Pada botol sampel
dimasukan 10 mL sampel air kemudian ditambahkan reagen NitriVer 2 Nitrite
lalu dikocok sampai larut dan didiamkan selama 10 menit. Pada botol blanko
dimasukkan 10 mL sampel. Konsentrasi nitrit dianalisis dengan
spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 585 nm. Mula-mula
dimasukkan botol blanko kemudian diset pada nilai nol dan larutan deret
standar serta larutan sampel, kemudian konsentrasi nitrit dalam mg/L
ditunjukkan langsung pada alat.
4. Penentuan Klorida
Penetuan kadar klorida dilakukan dengan metode argentometri. Sampel air
sebnayak 50 mL dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 mL, kemudian
ditambahkan 0,5 mL larutan dikromat 5 % dan dikocok. Larutan ini kemudian
dititrasi dengan larutan AgNO3 0,0141 N sampai terbentuk warna merah
kecoklat-coklatan. Banyak volume AgNO3 yang digunakan pada buret dicatat
dan perlakuan ini dilakukan juga pada larutan blanko bebas klorida, kemudian
dilakukan perhitungan kadar klorida sebagai berikut (Anonim, 1994).
5. Penentuan Sulfat
Penentuan sulfat dilakukan dengan metode Sulva Ver 4. Sampel air
dimasukkan ke dalam erlenmeyer sebanyak 25 mL, kemudian diatambahkan
reagen Sulva Ver 4 lalu dikocok dan didiamkan selama 5 menit, kemudian
dimasukkan kedalam kuvet. Pada blanko dan deret standard ditambahkan juga
reagen SulvaVer 4 ini dan dikocok, kemudian dianlisa dengan menggunakan
spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 450 nm. Mula-mula
larutan blanko dimasukkan kemudian disetel pada angka nol. Selanjutnya
dimasukkan larutan deret standard dan dilanjukan dengan larutan sampel.
Konsentrasi sulfat dalam mg/L ditunjukkan pada alat.
6. Penentuan Besi dan Mangan
Penentuan besi dan mangan dilakukan dengan cara pengasaman sampel
dengan ditambahkannya larutan asam nitrat pada sampel dan kemudian
diasring dengan kertas saring 0,45 mikron dan dilakukan pembacaan
menggunakan alat ICPE, nilai konsentrasi besi dan mangan dalam satuan
mg/L ditunjukkan pada alat.
7. Alkalinitas
Alkalinitas air biasanya oleh karbonat, bikarbonat dan hidroksida yang
terdapat dalam air. Nilai alkalinitas dapat ditentukan dengan cara titrasi
menggunakan larutan asam mineral kuat standar dengan indikator tertentu.
Phenolphtalein cukup memuaskan sebagai indikator dalam penentuan
alkalinitas yang disebabkan hidroksida dan karbonat (pH t g,3) dan metil
orange cocok sebagai indikator dalam penentuan alkalinitas yang disebabkan
oleh bikarbonat (pH + 4,5).
8. Kesadahan
Bertujuan ntuk mengetahui kadar Ca2+ dan Mg2+ dalam sampel air.
Dengan cara melakukan titrasi menggunan EDTA 0,01 M dan indikator EBT
sampai terjadi perubahan warna dari merah tua menjadi biru laut pada
kesadahan total. Sedangkan pada kesadahan kalsium dilakukan titrasi dengan
EDTA 0,01 M dan dengan penambahan indikator muxeida hingga terjadi
perubahan warna dari merah menjadi lembayung.
9. Koagulasi dan Fluokolasi
Bertujuan untuk menentukan dosis koagulan (tawas) secara pembubuhan
koagulan dengan variasi konsentrasi terhadap sampel air.
10. Permanganat
Bertujuan untuk memperoleh nilai permanganat dalam sampel air yang
mempunyai kadar khlorida kurang dari 300 mg/l dengan metode oksidasi
dalam suasana asam.
11. Oksigen Terlarut
Bertujuan ntuk mengetahui kadar oksigen terlarut dalam sampel air. Bahan
yang digunakan antara lain larutan MnSO4, larutan Natrium tiosulfat 0,025N,
larutan alkali iodida azida, larutan Indikator Amylum, H2SO4 pekat dan
sampel air.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemeriksaan kimia analisa air diperlukan untuk menguji kualitas air minum,
air limbah dan air alami guna penelitian dan uji kelayakan bagi kesehatan
masyarakat. Pengujian dilakukan dengan menggunakan bahan bahan kimia
dalam mengidentifikasi kandungan zat organik dan kimiawi dalam sampel air.
Bahan bahan kimia dalam perairan tersebut diantaranya ialah silikon,
belerang, klorida, kalsium, logam alkali dan mangan.
Sedangkan parameter kimia dalam analisa air ialah pH dan asiditas, oksigen
terlarut, karbondioksida, alkalinitas, kesadahan, dan bahan organik.
Dan jenis-jenis pemeriksaan kimia dalam analisa air diantaranya ialah
penentuan pH, penentuan Nitrat, penentuan Nitrit, penentuan Klorida, penentuan
Sulfat, penentuan Besi dan Mangan, Alkalinitas, kesadahan, koagulasi dan
fluokulasi, permanganat dan oksigen terlarut.

B. Saran
Kami menyarankan kepada pembaca untuk mencari referensi lain agar lebih
menambah wawasan. Serta setelah mendapatkan materi dari makalah ini maka
sebaiknya segera dilakukan praktikum agar mahasiswa lebih memahami dan
mampu mempraktikkannya.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: C.V ANDI OFFSET


Azhari, Achmad Rizki. dkk. 2016. Laporan Praktikum Pemeriksaan Kualitas Air.
Semarang: Universitas Diponegoro.
http://www.academia.edu/26062216/Laporan_Praktikum_Pemeriksaan_Kualit
as_Air diunduh pada 09 September 2017
Budiyono. dkk. 2015. Petunjuk Praktikum: Pemeriksaan Kualitas Air Edisi ke-Dua.
Semarang: Universitas Diponegoro.
http://www.academia.edu/24283353/Petunjuk_Praktikum_Pemeriksaan_Kuali
tas_Air diunduh pada 09 September 2017
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan. Yogyakarta: Kanisius.
Naibaho, Benika. 2006. Analisis Kualitas Fisik dan Kimia Air di Daerah Medan
Sekitarnya.
http://akademik.uhn.ac.id/portal/public_html/JURNAL/JURNAL_BENIKA_
NAIBAHO_PDF/Analisis_Kualitas_Fisik.pdf diunduh pada 09 September
2017
Tambunan, Martin Aprilino. dkk. 2015. Analisis Fisika-Kimia Air Sumur di Tempat
Pembuangan Akhir Sumompo Kecamatan Tuminting Manado. Jurnal MIPA
Unsrat Online, 4 (2): 153-156, dalam
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=377006&val=1014&title
=Analisis%20Fisika-
Kimia%20Air%20Sumur%20Di%20Tempat%20Pembuangan%20Akhir%20S
umompo%20Kecamatan%20Tuminting%20Manado diunduh pada 09
September 2017