Anda di halaman 1dari 2

Sinus paranasal

Sinus
Rongga udara yang teralkasi di daerah tulang frontal, ethmoidal, dan sphenoidal dari
kranium dan tulang maxilaris dari wajah dikatakan sebagai sinus paranasal dikarenakan
formasi dari mukosa hidung dan kesinambungan dengan fossa hidung (gambar 22-1 dan
22-2). Walaupun fungsi dari sinus itu sendiri tidak disepakati oleh para ahli anatomis,
rongga ini dipercaya mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai ruang penghantar suara
2. Menurunkan beban dari tengkorak dengan berisikan udara
3. Membantu menghangatkan dan melembabkan udara
4. Bertindak sebagai peredam langsung dari trauma (seperti kantong udara di mobil)
5. Kemungkinan mengontrol sistem imun

Sinus mulai berkembang sejak masa awal kehidupan fetal, pertama kali muncul sebagai
kantong kecil mukosa meatus hidung dan relung. Sebagai kantong, tumbuh secara
bertahap membentuk tulang yang berhubungan sebagai sinus udara dan sel. Sinus
maxilaris biasanya berkembang cukup baik dan dianginkan saat lahir dibuktikan dengan
radiografi. Sinus lainnya berkembang lebih lambat, sehingga pada usia 6 atau 7 tahun
sinus frontal dan sphenoidal dibedakan dari sel udara sphenoidal, yang menyerupai baik
dalam ukuran dan posisi. Sel udara ethmoidal berkembang ketika masa pubertas, dan
sinus tidak berkembang sepenuhnya sampai 17 atau 18 tahun masa kehidupan. Ketika
berkembang secara sepenuhnya, masing masing sinus berkesinambungan dengan satu
sama lainnya dengan rongga hidung.
Pemahaman tentang ukuran, bentuk dan posisi sebenarnya dari sinus dalam tulang
tengkorak dimungkinkan dengan mempelajari sinus pada CT Scan kepala. (gambar 22-2)

Sinus maxillaris
Sinus terbesar, yaitu sinus maxillaris, dipasangkan dan terlokalisasi di bagian maxilla
(gambar 22-1 dan 22-2). Walaupun sinus maxillaris berbentuk persegi panjang pada
gambaran lateral, terlihat kurang lebih seperti bentuk piramid dan mempunyai 3 dinding.
Puncaknya diarahkan secara inferior dan lateral. Kedua sinus maxillaris bervariasi dalam
ukuran dan bentuk tetapi biasanya simetris. Pada dewasa, masing masing sinus maxillaris
berukuran 3,5 cm tingginya dan 2,5 - 3 cm lebarnya. Sinus ini sering dikelompokan
dalam subkompartmen dengan septa parsial, dan terkadang terbagi dalam 2 sinus dengan
septum lengkap. Dasar sinus menyajikan beberapa elevasi yang sesuai dengan akar gigi
yang terletak di bawah. Sinus maksimalisasi berhubungan dengan meatus hidung tengah
di aspek superior dari sinus.

Sinus frontal
Sinus frontal, sinus terbesar kedua, dipasangkan dan normalnya terletak diantara meja
dari plat vertikal dari tulang frontal (gambar 22-1 dan 22-2). Sinus frontal sangat
bervariasi dalam ukuran dan bentuk. Terkadang tdk ada. Satu atau keduanya
kemungkinan berukuran sekitar 2-2,5 cm dalam dimensi lateral atau vertikal. Sinus sering
melampaui daerah tulang frontal, paling sering pada plat orbital. Septum intensinus
biasanya deviasi dari garis tengah, untuk alasan ini sinus frontal jarang simetris. Septa
multipel biasanya nampak. Seperti sinus maxillaris, sinus frontal mengalir ke meatus
tengah.

Sinus ethmoidal
Kedua sinus ethmoidal terlokasi di dalam massa lateral dari labirin tulang ethmoid.
Terdiri dari beragam jumlah sel udara yang terbagi dalam 3 kelompok utama: Anterior,
tengah, posterior (gambar 22-1 dan 22-2). Ruang ethmoid anterior dan dan tengah
beragam jumlah dari 2-8, dan setiap grup terbuka ke meatus hidung. Ruang posterior
beragam jumlah dari 6 atau lebih dan mengalir ke meatus hidung superior.

Sinus sphenoidalis
Sinus sphenoidalis normalnya terletak dan menempati bagian tulang sphenoid (gambar
22-1 dan 22-2). Ahli anatomis mengemukakan bahwa hanya 1 sinus sphenoidalis yang
sering tampak: tetapi tidak pernah 2 - atau lebih sinus sphenoid tidak pernah tampak.
Sinus sphenoidalis bervariasi dalam bentuk dan ukuran dan biasanya asimetris. Mereka
terletak dibawah sella turcica dan meluas antara dorsum sella dan ruang udara ethmoidal
posterior. Sinus sphenoidalis terbuka ke dalam ruang phenoethmoidal dari ruang hidung.