Anda di halaman 1dari 8

Pancasila dan Penistaan Agama

Senin, 7 November 2016 - 07:15 WIB

No. 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, merupakan produk undang-undang yang


semestinya ditegakkan dengan tegas oleh para negarawan.

TEMPO
Brigjen Kamil Razak, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Mabes Polri menunjukkan
foto pelaku pengina Presiden Joko Widodo di Bareskrim Mabes Polri 29 Oktober 2014.Pelaku
Muhamad Arsad, 23 tahun langsung tersangka

KESADARAN untuk melindungi agama dan umat beragama di negara ini terhitung masih
lemah. Setidaknya indikasi itu dilihat dari belum adanya respon dari penegak hukum yang
memuaskan dalam kasus penistaan Ahok terhadap al-Quran.

Hingga terjadilah aksi damai terbesar dalam sejarah Indonesia yang diikuti sekitar satu juta umat,
Jumat 4 November 2016 lalu. Kasus ini terbilang lambat. Sebab, pelaporan dilakukan sudah
lebih dari satu bulan lalu.

Lambatnya penanganan kasus satu ini tentu berbeda dengan kasus-kasus korupsi yang menjerat
sejumlah pejabat tinggi negara dan pemimpin daerah. Seorang menteri dan mantan menteri
pernah langsung ditangkap dan ditahan. Seorang Gubernur juga pernah langsung ditetapkan
sebagai tersangka, meski masih diduga.
Kasus korupsi dan kejahatan agama tentu saja kasus yang sama penting untuk ditangani. Tetapi,
para pejabat, penegak hukum dan Presiden mestinya tahu bahwa kejahatan yang terkait dengan
agama sifatnya lebih sensitif. Mesti ada skala prioritas dalam hal ini.

Sebabnya, negara ini berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara ini bukan ateis. Makanya,
komunisme juga resmi dilarang di negeri ini. Negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa itu tidak boleh ada blasphemy (pelecehan agama). Dalam undang-undang negara blasphemy
adalah kejahatan atau kriminal.

Hukum negara telah mengatur melalui UU No. 1/PNPS/Tahun 1965 tentang Pencegahan
Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Pasal 1 UU menerangkan tentang larangan melakukan
pendodaan agama dalam bentuk apapun. Bunyi pasal tersebut adalah: Setiap orang dilarang
dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan
umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau
melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari
agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Pelanggaran terhadap UU di atas diancam hukum lima tahun. Sebagaimana diatur dalam Pasal 2
ayat 3: Maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota Pengurus Organisasi yang
bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

Sementara KUHP pasal 156 juga menegaskan, pelaku penistaan agama diancam hukuman
penjara lima tahun penjara. Pasal 156 a KUHP berbunyi: Dipidana dengan pidana penjara
selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan
perasaan atau melakukan perbuatan: (a) yang pada pokoknya bersifat permusuhan,
penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; (b) dengan
maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan
Yang Maha Esa.

Karena itu, penista agama itu tidak berjiwa Pancasila. Seharusnya yang bisa menjadi pejabat
negara itu orang yang berjiwa Pancasila dan taat undang-undang. Tetapi persoalannya lagi-lagi
ada pada etika politik yang buruk.

Perilaku politik para politikus masih seperti perdagangan atau jual beli. Ada tawar menawar,
kesepakatan dan daftar harga barang. Dalam sistem yang demikian, Pancasila, undang-undang
dan konstitusi tidak berfungsi dengan baik (off).

Politik dagang (trade politic) demikian sama sekali tidak konstitusional dan tidak beretika. Di
sini kapitalisme berkuasa, bukan partai politik. Bahkan seorang pemimpin negara pun bisa tidak
berkutik.

Apa sebab? Para kapitalis memainkan peran sebagai pemodal politikus. Tentu tujuannya adalah
hegemoni ekonomi dan mengamankan kerajaan bisnisnya. Politikus diberi modal untuk membeli
kursi jabatan. Lihat saja fenomena pilkada. Siapa bermodal bersar, dia yang berpeluang besar
menang. Seperti kata pepatah tak ada fulus, mampus.
Pun ada tawar menawar. Bila ada uang banyak, maka mudah untuk mendapatkan barang yang
berharga. Modal pas-pasan bisa mendapatkan kursi yang mahal, asalkan pintar dalam menawar.

Di sinilah terjadi kerja sama saling menguntungkan dalam menutup aib-aib politiknya. Sama-
sama mengamankan posisi antara politikus dan pemodal kapitalis. Asalkan sama-sama aman,
jalan terus.

Seorang politikus sering terpenjara oleh tawar-menawar ini. Bila keluar dari kesepakatan dengan
pemodal, ia bisa dibuka aibnya. Resikonya, karirnya tumbang. Maka, mereka memilih menjadi
orang jahat asalkan aman, daripada orang sholih tapi dihancurkan hidupnya. Penjahat bisa
menjadi pejabat. Dan Pejabat bisa mendadak menjadi penjahat. Atau minimal menjadi pelindung
penjahat. Jadi, ini memang sudah sedemikian rusaknya etika politik kita.

Tentu saja tidak semua berperilaku seperti itu. Masih banyak yang baik dan sholih. Berjiwa
pejuang, Pancasilais dan taat agamanya. Namun, seberapa besar pengaruh politikus yang baik ini
dalam menentukan kebijakan negara? Kita semua berdoa, semoga yang baik menang dan yang
jahat kalah.

Seorang pejabat yang terpenjara oleh trade politic itu tentu saja bisa lolos dari ancaman
pemodal kapitalis bila didukung rakyat.

Dalam kasus penistaan al-Quran ini seyogyanya Presiden kembali kepada Pancasila dan
konstitusi. Saat ini, jutaan rakyat tersakiti oleh pelaku penista agama. Sakitnya rakyat ini terobati
bila Pancasila dan konstitusi ditegakkan. Tetapi, bila Presiden meremehkan rakyat yang
mayoritas Muslim ini, maka resiko politik Presiden sangat besar. Seharusnya isu agama itu tidak
bisa ditawar dengan kepentingan politik tertentu.

Andaikan para pejabat sadar dengan sejarah pendirian Indonesia. NKRI ini tegak dengan darah
para ulama dan santri. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran ulama tidak bisa
diabaikan. Konon, pada detik-detik menjelang pengumuman kemerdekaan, Bung Karno tak
melupakan ulama untuk diminta nasihatnya.

Di Cianjur ia menemui dua ulama besar, yaitu KH. Abdul Mukti dari Muhammadiyah, dan KH.
Hasyim Asyari dari NU untuk meminta masukan tentang kemerdekaan Indonesia.

Pada zaman perang kemerdekaan, KH. Hasyim Asyari meminta agar umat Islam Indonesia ikut
serta berkontribusi untuk Indonesia. Sebagai komponen terbesar, Muslim Indonesia harus berada
pada peran vital. Baginya, Indonesia harus dibangun oleh para cerdik pandai Muslim, bukan
orang asing.

Pada tahun 1945, para kiai NU se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya mengadakan
pertemuan khusus yang dimpimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. Dalam kesempatan itu, KH.
Hasyim Asyari mengeluarkan tausiyah tentang kewajiban umat Islam dalam memperjuangkan
kemerdekaan. Berpijak dari tausiyah itu, maka pertemuan tersebut mengeluarkan resolusi yang
dikenal dengan Resolusi Jihad.
Hasyim Asyari adalah pejuang yang dikenal tidak pernah mau tunduk kepada penjajah Belanda
dan Jepang. Ia sering dibujuk Belanda untuk tunduk, namun selalu ditolaknya. Akibat sikapnya
yang non-kooperatif terhadap Belanda ini, pesantren Tebuireng pernah dihancurkan Belanda.

Kiai Hasyim pernah menyampaikan pidato tegas dalam acara pertemuan ulama seluruh Jawa
Barat di Bandung. Ia mengatakan: Kita seharusnya tidak lupa bahwa pemerintahan dan
pemimpin mereka (Belanda) adalah Kristen dan Yahudi yang melawan Islam. Memang benar,
mereka seringkali mengklaim bahwa mereka akan netral terhadap berbagai agama dan mereka
tidak akan menganak emaskan satu agama, akan tetapi jika seseorang meneliti berbagai usaha
mereka untuk mencegah perkembangan Islam pastilah tahu bahwa apa yang mereka katakana
tidak sesuai dengan apa yang mereka praktekkan. Kita harus ingat bahwa Belanda berusaha agar
anak-anak kita menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran Islam dan mencekoki mereka dengan
kebiasaan buruknya. Belanda telah merusak kehormatan Negara kita dan mengeruk kekayaan.
Belanda telah mencoba memisahkan ulama dari umat. Dalam berbagai hal, Belanda telah
merusak kepercayaan umat terhadap ulama dengan berbagai cara (Soeara Masjoemi 15 Agustus
1944 dalam Samsul Maarif, Mutiara-Mutiara Dakwah KH. Hasyim Asyari, hal. 294).

Jendral A. H. Nasution dalam sebuah pidato peringatan 18 Tahun Piagam Jakarta 22 Juni 1963 di
Jakarta mengatakan, bahwa rumusan dasar negara muncul di antaranya karena inisiatif para alim
ulama yang mengirimkan surat berisi usulan tentang bentuk dan ketentuan-ketentuan yang
digunakan bagi Indonesia merdeka. Surat yang dikirim dari berbagai alim ulama itu berjumlah
52 ribu surat yang terdaftar (Endang Saifuddin Anshari, Piagama Jakarta 22 Juni 1945, hal. 29-
30).

Inilah cara para pendiri bangsa agar karakter bangsa tidak ditelan oleh imperialisme baru. Seperti
ungkapan KH. Muhammad Isa Anshori, : Pancasila harus hidup dengan teman-temannya sila
yang lain, seribu satu sila yang tersebar dalam lembaran ajaran Islam. Bila Pancasila tidak dijaga
dengan cara seperti itu, maka akan ditelan oleh imperialisme dan komunisme.

Adanya Pancasila merupakan dasar konstitusional melindungi agama dan umat beragama. UU
negara semuanya berdasarkan Pancasila ini. Tidak terkecuali undang-undang yang mengatur
hubungan antar agama, penistaan agama dan lain-lain.

No. 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, merupakan produk undang-undang yang


semestinya ditegakkan dengan tegas oleh para negarawan. Karena UU tersebut merupakan
amanah pendiri bangsa, agar Indonesia tetap pada koridor Pancasila. Berarti, siapa yang menista
agama, maka dia tidak Pancasilais.*

Penulis anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Jawa Timu

GIB: 3 Sila Pancasila Telah Dilanggar Ahok


karena Ucapannya Soal Al-Maidah
Sabtu, 8 Oktober 2016 - 07:00 WIB
Gerakan Indonesia Beradab mendesak Ahok agar meminta maaf kepada publik dan tidak
mengulangi perbuatannya. Atau Ahok sebaiknya melepaskan jabatannya.

youtube
Video Ahok bilang Jangan Percaya Dibohongi Pakai Surat Al-Maidah.

Hidayatullah.com Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah melanggar
setidaknya 3 sila dalam Pancasila. Demikian menurut Gerakan Indonesia Beradab (GIB)
menyikapi kasus ucapan Ahok yang menyebut jangan percaya dibohongi pakai Surat Al-
Maidah ayat 51.

Pernyataan (Ahok) tersebut telah melanggar minimal 3 sila dari Pancasila. Yaitu, Ketuhanan
Yang Maha Esa, karena melecehkan kitab suci agama Islam; Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab, karena ucapan itu tidak pantas diucapkan; dan Persatuan Indonesia karena ucapan itu
akan memicu perpecahan dalam masyarakat Indonesia, ujar Ketua Presidium GIB Bagus
Riyono dalam pernyataannya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Jumat (07/10/2016).

Oleh karena itu, GIB menyampaikan sangat berkeberatan, menolak, dan menyayangkan
pernyataan Ahok tersebut.

GIB pun menuntut Ahok untuk mencabut dan meminta maaf atas pernyataannya.

Meminta saudara Basuki Tjahaja Purnama untuk menghentikan ucapan, sikap, kebijakan
dan/atau tindakan, baik disadari atau tidak disadari, yang telah dan dapat mengeskalasi
perpecahan di antara anak bangsa, atau akibat-akibat buruk lainnya, ujarnya.
GIB pun meminta Ahok untuk berkomitmen dengan adab-adab, logika, dan kepatutan dalam
berucap, bersikap, berkeputusan, dan bertindak, sebagai bangsa Indonesia dan sebagai manusia.
Baik dalam kapasitas pribadi, maupun dan terutama sebagai pejabat publik.

Jika atas alasan karakter kepribadian, kebiasaan, dan keyakinannya, lanjut GIB, Ahok tak
mampu melakukan 3 tuntutan dan permintaan itu, Maka kami menyarankan agar saudara
Basuki Tjahaja Purnama melepaskan jabatan publiknya, demi kehidupan berbangsa dan
bernegara yang lebih baik, ujarnya.

Pernyataan Ahok Menyesatkan

GIB menjelaskan, dalam keyakinan seorang Muslim adalah mustahil hati kecil dan nurani dapat
dibohongi. Sehingga, pernyataan Ahok tersebut adalah salah secara logika dan menyesatkan
secara agama.

Pernyataan Ahok itu, jelasnya, secara konotatif berpotensi menggeneralisir bahwa mereka yang
tak memilih non-Muslim sebagai pemimpin berdasarkan al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51
adalah terbohongi. Baik oleh ayat Al-Quran, oleh ulama yang menafsirkannya, atau oleh orang
yang menyampaikannya.

Pada acara di Kepulauan Seribu itu, diketahui, Ahok juga mengatakan, Jadi kalau bapak ibu
perasaan nggak bisa pilih (Ahok) nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, nggak
apa-apa. Karena ini, kan, panggilan pribadi bapak ibu.

Bagi GIB, Bahwa ketakutan akan masuk neraka karena sebuah keputusan politik adalah bentuk
pembodohan, merupakan sebuah kesimpulan yang sangat gegabah dan penghinaan yang sangat
serius terhadap keyakinan dan keputusan pribadi maupun umat beragama, khususnya Muslim.

GIB menegaskan, pernyataan-pernyataan Ahok yang disampaikan dalam forum publik terbuka
serta disaksikan oleh kalangan dengan berbagai pemahaman, interpretasi dan keyakinan itu,
dapat menimbulkan kebingungan, kegelisahan, kemarahan, dan penyesatan.

Bahwa pernyataan-pernyataan tersebut dapat menyebabkan dan memicu perpecahan bermuatan


SARA bagi keutuhan bangsa indonesia. Baik internal umat seagama, antar umat beragama dan
antar golongan.

(Yang mana perpecahan itu) sebagai sebuah kerugian sangat besar yang tak ternilai, serta tak
sebanding dengan sehebat apapun sebuah prestasi pembangunan, imbuh GIB.*

PANCASILA BERSIFAT HIRARKIS DAN BERBENTUK PIRAMIDAL

oleh athoullah mondir


Pancasila merupakan suatu ideologi yang dianut oleh negara Indonesia sebagai
pandangan dan pedoman bagi bangsa Indonesia. Pancasila ini telah terbentuk sejak Indonesia
merdeka yang disusun oleh presiden pertama sekaligus proklamator negara Indonesia yaitu
almarhum Ir. Soekarno.
Pancasila sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu panca yang dalam bahasa
Indonesia bermakna 5 (lima) dan syila yang bermakna batu sendi / alas / dasar, dari dua kata
itulah pancasila tersusun. Pancasila memiliki arti lima dasar yaitu meliputi :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Setiap sila yang berasal dari pancasila ini memiliki arti sendiri pada setiap silanya yaitu
sila ke-1 memiliki arti bahwa setiap rakyat Indonesia wajib beragama karena sejak dahulu
Indonesia telah mengenal agama dan dalam agama pasti diajarkan hal-hal baik yang berkaitan
dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila ke-2 memiliki arti setiap rakyat Indonesia wajib
mempunyai adab atau bisa juga diartikan sebagai sifat menghargai dalam berbagai hal antar
sesama makhluk hidup. Sila ke-3 memiliki arti setiap rakyat Indonesia wajib mengutamakan
persatuan dan kesatuan Indonesia. Sila ke-4 memiliki arti setiap suatu permasalahan yang
dialami bangsa maupun negara Indonesia wajib diselesaikan dengan kepala dingin menggunakan
cara bermusyawarah yang menghasilkan solusi yang bisa menguntungkan pihak-pihak yang
terlibat dan tidak menggunakan cara kekerasan. Sila ke-5 memiliki arti setiap rakyat Indonesia
berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan seadil-adilnya.
Hal yang dimaksud dengan pancasila bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal adalah
dalam pancasila ini berarti memiliki hubungan antara kelompok sila yang ada dalam pancasila
dan bersifat erat. Hirarkis sendiri memiliki arti yaitu pengelompokan / penggolongan.
Pancasila yang terdiri dari 5 sila itu saling berkaitan yang tak dapat dipisahkan:
Sila pertama menjelaskan bahwa pada sila pertama itu meliputi dan menjamin isi sila 2, 3, 4, dan
5, artinya dalam segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara
harus dijiwai nilai-nilai ketuhanan Yang Maha Esa.
Sila kedua tertulis kemanusiaan yang adil dan beradab yang diliputi sila ke-1 dan isinya meliputi
sila 3, 4, dan 5, dalam sila ini terkandung makna bahwa sangat menjunjung tinggi harkat dan
martabat manusia sebagai makhluk tuhan yang beradab, maka segala hal yang berkaitan dengan
kehidupan berbangsa dan bernegara harus mencerminkan bahwa negara ini mempunyai
peraturan yang menjunung tinggi harkat dan martabat manusia.
Sila ketiga tertulis persatuan Indonesia yang diliputi dan dijiwai sila 1, 2 yang meliputi dan
menjiwai isi dari sila 4, dan 5, sila ini mempunyai makna manusia sebagai makhluk sosial wajib
mengutamakan persatuan negara Indonesia yang disetiap daerah memiliki kebudayaan-
kebudayaan maupun beragama yang berbeda.
Sila keempat diliputi dan dijiwai sila 1, 2, 3 yang meliputi dan menjiwai isi dari sila kelima. Sila
ini menjelaskan bahwa negara Indonesia ini ada karena rakyat maka dari itu rakyat berhak
mengatur kemana jalannya negara ini.

Sila kelima yang bertuliskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu diliputi dan dijiwai
oleh isi dari sila 1, 2, 3, dan 4. Sila ini mengandung makna yang harus mengutamakan keadilan
bersosialisasi bagi rakyat Indonesia ini sendiri tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada.