Anda di halaman 1dari 25

WRAP UP SKENARIO 2

BLOK KEDOKTEAN KELUARGA

KEMBUNG PADA ANAK

KELOMPOK A-03

KETUA : KARTIKA PRADIPTA (1102013144)

SEKRETARIS : CAMELIA FARAHDILA MUSAAD (1102013061)

ANGGOTA : ADITYA PRATAMA SAANIN (1102013006)

DEA ARDELIA PUTRI (1102012050)

ADITYA SURYA PRATAMA (1102013009)

CHYNTIA MONICA (1102013062)

CITA PRATIWI (1102013065)

ELI SUSANTI (1102013095)

FAUZAN EMIR HASSAN (1102013109)

INTAN MEILA TRIA LESTARI (1102013137)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

JAKARTA
2016/2017

SKENARIO 2

KUNJUNGAN RUMAH PASIEN

Seorang dokter berkunjung ke rumah pasien laki - laki, umur 50 tahun yang sebelumnya
sudah berulang kali berkunjung ke klinik dengan keluhan batuk berulang. Pasien mengeluh pen-
yakitnya ini menganggu pekerjaannya sebagai guru honorer yang menyebabkan dia tidak bisa
mengajar. Keluhan seperti ini timbul terutama saat malam hari dan musim hujan atau cuaca dingin,
dokter mendiagnosis pasien dengan asma bronkial, karena sering berulang dan tibul hampir setiap
hari dokter ingin mengunjungi rumah pasien dan mengetahui lebih lanjut tentang kondisi pasien
dan keluarganya.
Pasien mempunyai kebiasaan merokok 1 bungkus per hari, menggunakan motor sebagai
sarana transportasi untuk menuju tempat kerja yang jaraknya sekitar 25 km dari rumah.
Pasien tinggal di sebuah rumah di kawasan padat penduduk dengan ukuran 6x10 m ber-
sama keluarganya. Keluarga ini terdiri dari orangtua pasien, istri, dan dua orang anak, yang per-
tama berumur 17 tahun dan yang kedua berumur 13 tahun. Anak kedua menderita asma sama
seperti ibu pasien atau neneknya. Kondisi dalam rumah kurang pencahayaan dan ventilasi.
Sebagai dokter keluarga bagaimana pandangan saudara terhadap keluarga ini, dan
bagaimana kaitannya dengan penyakit yang diderita anggota keluarga tersebut?
Sebagai dokter muslim, bagaimana pandangan saudara terhadap keluarga ini dan
bagaimana hak dan kewajiban pasien baik sebagai individu maupun sebagai anggota
keluarga.
Kata Sulit:

1. Keluarga : Kumpulan 2 orang atau lebih yang hidup bersama dengan ikatan aturan dan emo-
sional.

Pertanyaan :
1. Mengapa sesak nafas dan batuk terjadi berulang?
2. Mengapa keluhan timbul terutama malam hari, cuaca dingin dan musim hujan?
3. Apakah peranan keluarga dalam masalah kesehatan?
4. Apa tindakan yang harus dilakukan saat dokter berkunjung ke rumah pasien?
5. Apa hubungan antara keluhan pasien dengan kondisi rumahnya? Jelaskan!
6. Apa sajakah faktor resiko yang dapat menyebabkan timbulnya gejala seperti pada pasien?
7. Apakah kebiasaan merokok berpengaruh pada penyakit yang diderita pasien?

Jawaban :
1. Karena belum ada perbaikan kondisi lingkungan rumah dan gaya hidup yang dilakukan oleh
pasien.
2. Cuaca dingin, malam hari dan musim hujan merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya
asma bronkial.
3. Untuk memberi asuhan, pencegahan, dan menjaga lingkungan keluarga.
4. Melakukan penyuluhan tentang lingkungan yang sehat dan melakukan konseling pengobatan
5. Karena rumah pasien kurang pencahayaan dan sirkulasi udara yang kurang baik sehingga
menimbulkan sesak nafas.
6. Faktor lingkungan, ekonomi, pendidikan, gaya hidup tidak sehat, dan genetik.
7. Iya, karena merokok berhubungan langsung dengan paru - paru sehingga dapat
mempengaruhi penyakit yang diderita pasien.
Hipotesis
Keluarga adalah kumpulan 2 orang atau lebih yang hidup bersama dengan ikatan aturan
dan emosional. Keluarga merupakan tempat untuk saling mengayomi, memberikan pendidi-
kan, sebagai tempat berlindung dan kasih sayang, dan sebagainya. Dalam kasus, keluarga ini
terdiri dari keluarga inti disertai kakek, nenek, om dan tante sehingga dapat digolongkan se-
bagai keluarga extended. Permasalahan yang terjadi dalam keluarga ini meliputi masalah faktor
internal berupa genektik atau keturunan asma, serta faktor eksternal seperti paapran asap ro-
kok, rumah dengan lingkungan padat penduduk, ventilasi yang kurang memadai, pencahayaan
yang kurang untuk mematikan bakteri, serta aliran udara yang buruk. Oleh karena itu, anak
menjadi sakit.

Peran keluarga dalam kesehatan dan Islam untuk menghadapinya yaitu dengan memberi
asuhan yang baik, melakukan pencegahan terhadap timbulnya penyakit, menjaga lingkungan
keluarga, serta menciptakan keluarga yang samawa. Karena fungsi keluarga sendiri adalah
tempat untuk saling mengayomi, memberikan pendidikan, sebagai tempat berlindung dan
kasih sayang, dan sebagainya. Peranan yang dilakukan seorang dokter keluarga adalah
melakukan pencegahan berupa edukasi keluarga, demonstrasi, dan penyuluhan kesehatan,
serta paya kuratif dan evaluasi.

Sasaran Belajar
1. Memahami dan Menjelaskan Keluarga
1.1 Definisi Keluarga
1.2 Fungsi Keluarga
1.3 Siklus Kehidupan Keluarga
1.4 Dinamika Keluarga
2. Memahami dan Menjelaskan 5 Aspek Diagnosis Holistik
3. Memahami dan Menjelaskan Penerapan Diagnostik Holistik Pada Kasus Ini
4. Memahami dan Menjelaskan Hak dan Kewajiban Keluarga dalam Sudut Pandang Islam
I. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KELUARGA
I.1. Definisi Keluarga
Duvall dan Logan (1986) : Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawi-
nan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya,
dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota
keluarga.
Bailon dan Maglaya (1978) : Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam
satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka sal-
ing berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan mencip-
takan serta mempertahankan suatu budaya.
Departemen Kesehatan RI (1988) : Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat
yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

I.2. Fungsi keluarga


Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) bahwa fungsi
keluarga dibagi menjadi 8. Fungsi keluarga yang dikemukakan oleh BKKBN ini senada
dengan fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994, yaitu :

1. Fungsi Keagamaan
Dengan memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam ke-
hidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan bahwa ada kekuatan lain
yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
2. Fungsi Sosial Budaya
Dilakukan dengan membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku
sesuai dengan tingkat perkembangan anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga,

3. Fungsi Cinta Kasih


Diberikan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman, serta memberikan per-
hatian diantara anggota keluarga.

4. Fungsi Melindungi
Bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik, sehingga anggota
keluarga merasa terlindung dan merasa aman.

5. Fungsi Reproduksi
Merupakan fungsi yang bertujuan untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesar-
kan anak, memelihara dan merawat anggota keluarga.

6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan


Merupakan fungsi dalam keluarga yang dilakukan dengan cara mendidik anak sesuai dengan
tingkat perkembangannya, menyekolahkan anak. Sosialisasi dalam keluarga juga dilakukan
untuk mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.

7. Fungsi ekonomi
Adalah serangkaian dari fungsi lain yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah keluarga. Fungsi
ini dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa datang.

8. Fungsi Pembinaan Lingkungan


Memberikan kepada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras,
seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis.

Menurut Undang-Undang 1992 membagi Fungsi Keluarga sebagai berikut


1) Fungsi keagamaan
membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota
keluarga,
menerjemahkan ajaran dan norma agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari bagi
seluruh anggota keluarga,
memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengalaman ajaran
agama,
melengkapi dan menambah proses belajar anak tentang keagamaan yang tidak/kurang
diperoleh disekolah atau masyarakat,
membina rasa, sikap ,dan praktik kehidupan beragama.
Fungsi Budaya adalah
membina tugas keluarga sebagai sarana untuk meneruskan norma budaya masyarakat
dan bangsa yang ingin dipertahankan,
membina tugas keluarga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai,
membina tugas keluarga sebagai saran anggota nya untuk mencari pemecahan masa-
lah dari berbagai pengaruh negatif globalisasi dunia,
membina tugas keluarga sebagai sarana bagi anggotanya untuk mengadakan kom-
promi/adaptasi dan praktik (positif) serta globalisasi dunia ,
membina budaya keluarga yang sesuai ,selaras , dan seimbang dengan budaya
masyarakat /bangsa untuk menunjang terwujudnnya norma keluarga kecil bahagia dan
sejahtera.
Fungsi Cinta kasih adalah
menumbuhkembangkan potensi simbol cinta kasih sayang yang telah ada diantara
anggota keluarga dalam simbol yang nyata, seperti ucapan dan tingkah laku secara
optimal dan terus menerus ,
membina tingkah laku ,saling menyayangi diantara anggota keluarga maupun antara
keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif.
membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan uhkrawi dalam keluarga
secara serasi, selaras , dan seimbang,
membina rasa ,sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan
menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan
sejahtera.
2) Fungsi perlindungan
memenuhi kebutuhan akan rasa aman diantara anggota keluarga.Bebas dari rasa tidak
aman yang tumbuh dari dalam maupun dari luar keluarga,
membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman
dan tantangan yang datang dari luar maupun dalam,
membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
3) Fungsi reproduksi
membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi
anggota keluarga maupun keluarga sekitarnya.
memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembetukan keluarga dalam hal usia ,
kedewasaan fisik dan mental,
mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan dengan jangka
waktu melahirkan, jarak antara kelahiran dua anak , dan jumlah ideal anak yang di-
inginkan dalam keluarga,
mengembang kan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
4) Fungsi sosialisasi
menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana pen-
didikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama,
menyadari ,merencanakan , dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat tem-
pat anak dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai konflik dan permasalahan
yang dijumpainya baik lingkungan masyarakat maupun sekolahnya. Membina proses
pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal yang perlu dilakukannya untuk mening-
katkan kemantangan dan kedewasaan baik fisik maupun mental, yang tidak/kurang
diberikan lingkungan sekolah maupun masyarakat.
membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak
saja bermamfaat positif bagi anak, tetapi juga orang tua untuk perkembangan dan ke-
matangan hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
5) Fungsi Ekonomi adalah melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam ke-
hidupan keluarga dalam rangka menopang perkembangan hidup keluarga, mengelola
ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian , keselamatan dan keseimbangan antara
pemasukan dan pengeluaran keluarga, mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua
diluar rumah dan perhatiaanya terhadap anggota rumah tangga bejalan serasi , selaras
,dan seimbang , membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk
mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
6) Fungsi pelestarian lingkungan adalah membina kesadaran dan praktik kelestarian ling-
kungan internal keluarga , membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian ling-
kunga hidup yang serasi , selaras, dan seimbang antara lingkungan keluarga dan ling-
kungan hidup sekitarnya.

1. Peran Anggota Keluarga


Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal yang berhubungan
dengan posisi dan situasi tertentu. Berbagai peran ayng terdapat dalam keluarga adalah se-
bagai berikut:
o Peran ayah sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman,
kepala rumah tangga, anggota dari kelompok sosialnya dan anggota masyarakat.
o Peran ibu sebagai isteri, ibu dari anaknya, mengurus rumah tangga, pengasuh, pen-
didik dan pelindung bagi anak-anaknya, anggota kelompok social dan anggota
masyarakat serta berperan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarga.
o Peran anak-anak sebagai pelaksana peran psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangan baik fisik, mental dan spiritual.
Friedman (2002) membagi lima peran kesehatan dalam keluarga yaitu :
o Mengenal gangguan perkembangan kesehatan tiap anggota
o Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
o Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit, dan yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda
o Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkem-
bangan kepribadian anggota keluarga
o Mempertahankan hubungan kepribadian anggota keluarga dan lembaga-lembaga
kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas
kesehatan yang ada

2. Struktur Keluarga
1) Dominasi jalur hubungan darah
a) Patrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah. Suku-suku di Indonesia
rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal.
b) Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku padang salah satu
suku yang yang mengunakan struktur keluarga matrilineal.
2) Dominasi keberadaan tempat tinggal
a) Patrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak
suami.
b) Matrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak
istri.
3) Dominasi pengambilan keputusan
a) Patriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.
b) Matriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri. (Setiawati & Dermawan, 2008)
Ciri-ciri struktur keluarga
1) Terorganisasi
Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga memiliki
peran dan pungsi masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai. Organisasi yang
baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara anggota sebagai bentuk saling
ketergantungan dalam mencapai tujuan.
2) Keterbatasan
Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya
masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak semena-mena, tetapi
mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing anggota
keluarga.
3) Perbedaan
Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing anggota
keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas seperti halnya peran ayah se-
bagai pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak.

3. Hak dan Kewajiban Keluarga


Hak dan Kewajiban anatara orang tua dan anak serta hak kewajiban antara orang tua menurut
undang RI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan
Pasal 45
1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-
baiknya.
2) Kewajiban orang tua yang di maksud ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak ini
kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban mana berlaku terus meskipun
perkawinan antara kedua orang tua putus.
Pasal 46
1) Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik.
2) Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya,orang tua
dan keluarga dalam garis lurus ke atas,bila mereka itu memerlukan bantuannya.
Pasal 47
1) Anak yang belum mencapai umur 18(delapan belas) tahun atau belum pernah
melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka
tidak di cabut dari kekuasaannya.
2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan di
luar pengadilan.
Pasal 48
1) Orang tua tidak di perbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-
barang tetap yang di miliki anaknya yang belum berumur 18(delapan belas) tahun
atau belum melangsungkan perkawinan kecuali apabila kepentingan anak itu
menghendakinya.
Pasal 49
1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat di cabut kekuasaannya terhadap seorang
anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain
keluarga anak dalam garis lurus keatas dan saudara kandung yang telah dewasa
atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal:
a. Ia sangat melalaikan kewajiban nya terhadap anaknya;
b. Ia berkelakuan buruk sekali.
2) Meskipun orang tua di cabut kekusaannya, mereka masih berkewajiban untuk
memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.
4. Bentuk Keluarga
1. TRADISIONAL :
a. The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat wak-
tunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear
family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll)
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya
melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat
tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada
saat akhir pekan (week-end)
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu
rumah
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling
menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, tel-
evisi, telpon, dll)
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak
dari perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisa-
han (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati

2. NON-TRADISIONAL :
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orangtua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup
bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosial-
isasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-
istri (marital partners)
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa
telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan mem-
besarkan anaknya
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan
saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung ja-
wab membesarkan anaknya
i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara,
pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis
personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emo-
sional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan
kriminal dalam kehidupannya.

I.3. Siklus keluarga

Menurut Duval (Niacholas 1984) ada 8 tingkat/siklus perkembangan keluarga


1. Tahap I, Keluarga pemula (pasangan pada tahap pernikahan)
2. Tahap II,Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi-30 bln).
3. Tahap III, Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berusia 2-6 tahun).
4. Tahap IV, Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6-13 tahun)
5. Tahap V, Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13-20 tahun).
6. Tahap VI, Keluarga melepas anak usia dewasa muda (anak yang meninggalkan ru-
mah).
7. Tahap VII, Orangtua usia pertengahan (pensiunan).
8. Tahap VIII, Keluarga dalam masa pensiun dan lansia.
Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk meng-
gambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga
sepanjang hidupnya. Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan
yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan
variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan
status pekerjaan kepala keluarga.
Menurut Duvall (1977) terdapat 8 tahapan perkembangan keluarga (Eight-Stage Family
Life Cycle) dan setiap tahap perkembangan keluarga mempunyai tugas tersendiri:
1. Married couples (without children) (Pasangan nikah dan belum memiliki anak).
a. Membina hubungan intim dan memuaskan.
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak.Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga
keluarga, yakni: keluarga suami, keluarga istri, dan keluarga sendiri.
2. Childbearing Family (oldest child birth-30 month) (Keluarga dengan seorang anak
pertama yang baru lahir).
a. Persiapan menjadi orang tua.
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan seksual, dan
kegiatan.
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3. Families with preschool children (oldest child 2,5-6 years) (Keluarga dengan anak
pertama yang berusia prasekolah).
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan
rasa aman.
b. Membantu anak untuk bersosialisasi
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga harus
terpenuhi.
d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam keluarga maupun dengan masyara-
kat.
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak.
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.
4. Families with School Children (Oldest child 6-13 years ) (Keluarga dengan anak yang
telah masuk sekolah dasar).
a. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebu-
tuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga. Pada tahap ini anak perlu
berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dalam
aktivitas baikdi sekolah maupun di luar sekolah.
5. Families with teenagers (oldest child 13- 20 years) (Keluarga dengan anak yang telah
remaja).
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab.
b. Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
c. Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perde-
batan, kecurigaan dan permusuhan.
d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga. Tahap ini meru-
pakan tahap paling sulit karena orangtua melepas otoritasnya dan membimbing anak un-
tuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan anaknya yang berusia
remaja.
6. Families launching young adults (first child gone to last childs leaving home)
(Keluarga dengan anak yang telah dewasa dan telah menikah).
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Membantu orang tua memasuki masa tua.
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
7. Middle Aged Parents (empty nest to retirement) (Keluarga dengan orang tua yang te-
lah pensiun).
a. Mempertahankan kesehatan.
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak.
c. Meningkatkan keakraban pasangan. Fokus utama dalam usia keluarga ini antara lain:
mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang, olah raga rutin, menik-
mati hidup, pekerjaan dan sebagainya.
8. Aging family members (retirement to death of bothspouse) (Keluarga dengan orang
tua yang telah lanjut usia).
a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
b. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.
c. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
e. Melakukan life review.
f. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada
tahap ini.
Struktur Keluarga
A. Elemen struktur keluarga menurut Friedman
1. Struktur peran keluarga
Menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga baik didalam keluarganya sendiri
maupun peran dilingkungan masyarakat.
2. Nilai atau norma keluarga
Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini dalam keluarga.
3. Pola komunikasi keluarga
Menggambarkan bagaimana cara pola komunikasi diantara orang tua, orang tua dan anak,
diantara anggota keluarga ataupun dalam keluarga.
4. Struktur kekuatan keluarga
Menggamgarkan kemampuan anggota keluarga untuk mengendalikan atau mempengaruhi
orang lain dalam perubahan perilaku ke arah positif.
B. Ciri-ciri struktur keluarga
1) Terorganisasi
Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga memiliki
peran dan pungsi masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai. Organisasi yang
baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara anggota sebagai bentuk saling
ketergantungan dalam mencapai tujuan.
2) Keterbatasan
Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya
masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak semena-mena, tetapi
mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing anggota
keluarga.
3) Perbedaan
Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing anggota
keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas seperti halnya peran ayah
sebagai pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak.
C. Dominasi struktur keluarga
1. Dominasi jalur hubungan darah
a) Patrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah. Suku-suku di Indonesia
rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal.
b) Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku padang salah satu
suku yang yang mengunakan struktur keluarga matrilineal.
2. Dominasi keberadaan tempat tinggal
a) Patrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak
suami.
b) Matrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak
istri.
3. Dominasi pengambilan keputusan
a) Patriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.
b) Matriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri.
(Setiawati & Dermawan, 2008)
Bentuk Keluarga
Menurut Sudiharto (2007), beberapa bentuk keluarga adalah sebagai berikut:
1. Keluarga Inti (nuclear family)
keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami,
istri, dan anak- anak baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
2. Keluarga asal (family of origin)
suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.

3. Keluarga Besar (extended family)


keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek,
bibi, paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal, keluarga tanpa
anak, serta keluarga pasangan sejenis (guy/lesbian families).
4. Keluarga Berantai
keluarga yang terbentuk karena perceraiandan/atau kematian pasangan yang dicintai dari
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.
5. Keluarga duda atau janda (single family)
keluarga yang terjadi karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
6. Keluarga komposit ( composite family)
keluarga dari perkawinan poligami dan hidup bersama.
7. Keluarga kohabitasis ( Cohabitation )
dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indo-
nesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan bertebtangan budaya timur. Namun, lambat laun,
keluarga kohabitasi ini mulai dapat diterima.
8. Keluarga inses (incest family)
seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh informasi yang sangat dahsyat,
dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan ayah
kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung laki-laki, paman menikah dengan kepona-
kannya, kakak menikah dengan adik dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan
anak perempuan tirinya. Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah
keluarga inses semakin hari semakin besar. Halini dapat kita cermati melalui pemberitaan
dari berbagai media cetak dan elektronik.
9. Keluarga tradisional dan nontradisional
dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, se-
dangkan keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional
adalah ayah-ibu dan anak hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional
adalah sekelompok orang tinggal di sebuah asrama

GENOGRAM
Genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah keluarga
pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan informasi tentang
nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga. Genogram adalah biop-
sikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan keluarga, riwayat sakit di dalam
keluarga serta hubungan antar anggota keluarga.
Di dalam genogram berisi: Nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak,
keluarga satu rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan. Juga ter-
dapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota keluarga, hubungan
penting dengan profesional yang lain serta informasi-informasi lain yang relevan. Dengan genogram
dapat digunakan juga untuk menyaring kemungkinan adanya kekerasan (abuse) di dalam keluarga.
Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan selalu dilengkapi (update)
setiap ada informasi baru tentang anggota keluarga pada kunjungan-kunjungan selanjutnya. Dalam
teori sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai sistem yang saling berinteraksi dalam suatu
unit emosional. Setiap kejadian emosional keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya
3 generasi keluarga. Sehingga idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3 generasi.
Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk:
Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara kesehatan
fisik dan mental di dalam keluarga
Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi
I.4. Dinamika keluarga

Adanya interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga tersebut


dapat diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga mau-
pun kelompok sosial yang sama.
Dinamika keluarga adalah interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluar-
ganya dan juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan seki-
tarnya. Keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesem-
buhan pasien.
Ada empat aspek yang selalu muncul dalam dinamika keluarga
- Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri
sendiri yang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem.
- Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat
dan pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi.
- Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana
mereka seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai sistem
nilai keluarga.
- Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang
luar dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.

II. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN 5 ASPEK DIAGNOSIS HOLISTIK

(1) Aspek Personal: alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran dan persepsi pasien
(2) Aspek Klinis: Masalah medis, diagnosis kerja berdasarkan gejala dan tanda
(3) Aspek risiko internal : seperti pengaruh genetik, gaya hidup, kepribadian, usia, gen-
der
(4) Aspek risiko eksternal dan psikososial: berasal dari lingkungan (keluarga, tempat
kerja, tetangga, budaya)
(5) Derajat Fungsional: Kualitas Hidup Pasien . Penilaian dengan skor 1 5, berdasarkan
disabiltas dari pasien

A. Aspek Personal
1. Keluhan utama (reason of encounter) /simptom/ sindrom klinis yang ditampilkan
2. Apa yang diharapkan pasien atau keluarganya
3. Apa yang dikhawatirkan pasien atau keluarganya

B. Aspek Klinis
1. Diagnosis klinis biologis, psikologis, intelektual, nutrisi, sertakan derajat kepara-
han
2. Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan diagnosis kerja/ diag-
nosis banding
3. Diagnosis berdasarkan ICD 10, dan ICPC-2
C. Aspek Risiko Internal
1. Perilaku individu dan gaya hidup (life style) pasien, kebiasaan yang menunjang
terjadinya penyakit, atau beratnya penyakit
2. kebiasaan merokok
3. kebiasaan jajan, kebiasaan makan
4. kebiasaan individu mengisi waktu dengan perihal yang negatif
5. (dietary habits;tinggi lemak, tinggi kalori)
D. Aspek risiko eksternal dan psikososial
1. Pemicu biopsikososial keluarga dan lingkungan dalam kehidupan pasien hingga
mengalami penyakit seperti yang ditemukan
2. Dukungan keluarga (family support)
3. Tidak ada bantuan/perhatian/ perawatan/ suami & istri, anak, menantu, cucu atau
pelaku rawat lainnya
4. Perilaku makan keluarga (tak masak sendiri), menu keluarga yang tak sesuai kebu-
tuhan
5. Perilaku tidak menabung / perilaku konsumtif
6. Tidak adanya perencanaan keluarga (tak ada pendidikan anak , tak ada pengarahan
pengembangan karier, tak ada pembatasan jumlah anak )
7. Masalah perilaku keluarga yang tidak sehat
8. Masalah ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap penyakit/masalah kesehatan
yang ada
9. Akses pada pelayanan kesehatan yang mempengaruhi penyakit (jarak/trans-
portasi/asuransi)
10. Pemicu dari lingkungan fisik (debu, asap rokok)
11. Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi penyakit/ma-
salah kesehatan yang ada

E. Derajat Fungsional
1. Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik secara fisik
maupun emosional di dalam dan di luar ruangan.
2. Ada 5 tingkatan, mulai dari dapat melakukanaktivitas sampai sangat sulit melakuka-
naktivitas sehari-hari (FKUI).
Skala 1-5
Aktivitas menjalankan fungsi so- score Keterangan
sial dalam kehidupan

Mampu melakukan pekerjaan seperti 1 Mandiri dalam perawatan diri,


sebelum sakit bekerja di dalam dan luar rumah

Mampu melakukan pekerjaan rin- 2 Mulai mengurangi aktivitas kerja


gan sehari-hari di dalam dan luar kantor
rumah

Mampu melakukan perawatan diri, 3 Mandiri dalam perawatan diri,


tapi tidak mampu melakukan peker- tidak mampu bekerja ringan
jaan ringan
Dalam keadaan tertentu masih 4 Tidak melakukan aktivitas kerja,
mampu merawat diri, tapi sebagian tergantung pada keluarga
besar aktivitas hanya duduk dan ber-
baring

Perawatan diri oleh orang lain, 5 Tergantung pada pelaku rawat


hanya berbaring pasif

III. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PENERAPAN DIAGNOSTIK HOLISTIK


DALAM KASUS INI.
ASPEK PERSONAL
Keluhan utama: batuk berulang, keluhan timbul terutama saat malam hari dan musim
hujan atau cuaca dingin
Yang diharapkan pasien atau keluarga: kesembuhan pasien
Yang dikhawatirkan pasien atau keluarga: penyakit dapat mengganggu pekerjaan
pasien sebagai guru honorer

ASPEK KLINIS
Diagnosis klinis: asma bronkial

ASPEK RISIKO INTERNAL


Jenis kelamin: laki-laki
Umur: 50 tahun
Penyakit keturunan: ibu pasien memiliki asma
Kebiasaan yang menunjang dan memperberat terjadinya penyakit: merokok 1
bungkus sehari, menggunakan motor untuk menuju tempat kerja yang berjarak jauh.

ASPEK EKSTENAL
Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi penyakit: Pasien
tinggal di kawasan padat penduduk dengan ukuran 6x10 meter yang dihuni oleh 3 generasi
(extended family). Kondisi rumah kurang pencahayaan dan ventilasi.
Masalah ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap penyakit: pekerjaan pasien
yang hanya sebagai guru honorer tidak memungkinkan pasien untuk memiliki tempat ting-
gal yang ideal serta mencukupi kebutuhan nutrisi keluarga.

ASPEK FUNGSIONAL
Derajat fungsional 2: Mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-hari di dalam dan di
luar rumah serta mulai mengurangi aktivitas kerja kantor.
IV. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HAK DAN KEWAJIBAN KELUARGA
Keluarga muslim adalah keluarga yang meletakkan segala aktivitas pembentukan keluar-
ganya sesuai dengan syariat Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Keluarga ter-
sebut dibangun di atas aqidah yang benar dan semangat untuk beribadah kepada Allah serta
semangat untuk menghidupkan syiar dan adab-adab Islam Islam sebagaimana telah dicon-
tohkan Rasulullah SAW. Menurut HammudahAbdul Al-Ati dalam bukunya The Family
Structure in Islam definisi keluarga dilihat secara operasional adalah: Suatu struktur yang
bersifat khusus yang satu sama lain mempunyai ikatan khusus, baik lewat hubungan darah
atau pernikahan. Perikatan itu membawa pengaruh pada adanya rasa saling berharap (mu-
tual expectation) yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan kekuatan hukum
serta secara individual saling mempunyai ikatan batin.

Bentuk keluarga yang paling sederhana adalah keluarga inti yang terdiri atas suami istri
dan anak-anak yang biasanya hidup bersama dalam suatu tempat tinggal. Namun demikian
menurut Abdul Al Ati pengertian keluarga tidaklah dibatasi oleh kerangka tempat tinggal.
Sebab anggota sebuah keluarga tidaklah selalu menempati tempat tinggal yang sama.
Adanya rasa saling harap sebagai unsur dalam perikatan keluarga itu lebih penting dari unsur
tempat tinggal.
Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat
adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya
telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan
tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia men-
cipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa ten-
tram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Ruum [30]: 21)

Tugas Suami

Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah
secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan
buntu. Terlalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membeng-
kokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik.
Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk ada-
lah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan sean-
dainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR.
Bukhari, Muslim).
Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kes-
empitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi
kebaikan niscaya akan banyak sekali. Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut.
Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-
sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan
patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu
tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa' [4]:
19)

Tugas Istri

Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri menge-
tahuikewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelin-
dung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta
suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri
dan rumahnya. Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di ru-
mah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan
suami dan tiada mengingkari kebaikannya.
Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan ber-
perilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi. Dalam hadits:
"Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk
surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah).
Ada juga yang mengungkapkan beberapa karakteristik yang harus terwujud dalam sebuah
keluarga yang menjadikannya layak disebut sebagai model keluarga muslim. Karakteristik
tersebut adalah:
Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Islam.
Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah, dalam
bentuk dan skala apapun.
Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah tangga.
Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak).
Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).

V. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FUNGSI DAN KEWAJIBAN KELUARGA DA-


LAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG SAKIT
Ada dua hak orang sakit yang harus dipenuhi oleh anggota masyarakat atau keluarganya.
Hak orang sakit yang pertama dan utama adalah bebas dari segala tanggung jawab social
yang normal. Artinya orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak melakukan peker-
jaan sehari-hari yang biasa dia lakukan. Hal ini boleh dituntut, namun tidaklah selalu mutlak,
tergantung tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari penyakit tersebut. Apabila tingkat
keparahan sakitnya rendah maka orang tersebut mungkin saja tidak perlu menuntut haknya.
Dan seandainya menuntut haknya harus tidak secara penuh. Maksudnya, ia tetap dalam po-
sisinya tetapi perannya dikurangi, dalam arti volume dan frekuensi kerjanya dikurangi.
Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya, misalnya
menderita penyakit menular. Hak tersebut haruslah dituntut karena bila tidak akan dapat
menimbulkan konsekuensi ganda, yaitu disamping produktivitas kerja menurun atau bahkan
dapat menambah beratnya penyakit.
Hak yang kedua adalah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan kepada orang lain.
Didalam masyarakat yang sedang sakit berada dalam posisi yang lemah, lebih-lebih bila sa-
kitnya berada dalam derajat keparahan yang tinggi. Anggota keluarga dan anggota masyara-
kat berkewajiban untuk membantu dan merawatnya. Oleh karena tugas penyembuhan dan
perawatan memerlukan keahlian tertentu, maka tugas ini didelegasikan kelpada lembaga-
lembaga masyarakat atau individu tertentui seperti dokter, perawat, bidan dan petugas
lainnya.

Kewajiban keluarga merawat orang sakit :


1. Mengenal gangguan kesehatan setiap anggotanya. Keluarga mempunyai
peranan yang amat penting dalam mengembangkan, mengenal, dan
menemukan masalah kesehatan dalam keluarga sebagai antisipasi menjaga
kesehatan dalam keluarganya
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. Keluarga meru-
pakan pusat pengambilan keputusan terpenting, termasuk membuat kepu-
tusan tentang masalah kesehatan keluarga. Keluarga dalam tugasnya
mengambil keputusan bagi anggota keluarga disebut sebagai pelayanan ru-
jukan kesehatan primer
3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda
4. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga
5. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga
kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas
kesehatan yang ada

BIMBINGAN TERHADAP PASIEN YANG SAKARATUL MAUT


Orang sakit biasanya mengalami krisis psikologis dalam dirinya, oleh karena itu hendaknya
didampingi dan diberi perhatian lebih, serta dorongan motivasi untuk kesembuhannya. Doa-
doa serta dzikir dirasa mampu mengurangi rasa sakit orang yang merasakannya. Karena da-
lam doa dan dzikir tersebut terdapat ilmu ikhlas sebagai hamba Allah swt yang tidak mempu-
nyai daya dan upaya dihadapan-nya. Kita dapat mendampinginya sebagai wujud bertawaqal
dan menyerahkan diri kepada Allah swt dan menyadari segalanya kembali atas kehendaknya.
Mati adalah kata yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Banyak yang menghindar
darinya. Kematian itu sendiri tentunya lebih ditakuti dari sekadar kata mati. Tidak hanya oleh
manusia, binatang pun takut mati. Seakan tidak ada yang sudi mati. Hal ini wajar bagi ma-
khluk yang bernyawa, karena mati merupakan sebab berpisahnya seorang dari hal yang ia
senangi, berpisah dari dunia dan segala isinya. Sementara manusia memang mencintai dunia
dan seisinya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wata'ala, yang artinya;
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga). (QS. Al-Imran: 14)
Di sisi lain, ada yang menyangka bahwa kematian menjanjikan ketenangan. Karenanya, kita
sering mendengar kasus bunuh diri. Orang itu mengira kematian merupakan solusi ampuh
untuk mengatasi semua masalah. Ada juga golongan manusia yang sepanjang harinya ber-
maksiat, seakan-akan maut tidak akan menjemputnya.