Anda di halaman 1dari 3

BAB I

A. Latar belakang

Keindahan alam yang berlimpah, tidak dapat dipungkiri menjadikan negeri ini memiliki
banyak daerah tujuan wisata yang layak dibanggakan. Laut, pantai, gunung, sungai, lembah,
dataran tinggi, hutan, dan sawah berderet dari Sabang sampai Merauke saling berebut
menampakan kemolekannya. Tapi dibalik semua pesona alam tersebut, Indonesia adalah
kawasan rawan bencana. Lalu bagaimana keterkaitannya dengan pariwisata?
Letak Indonesia yang tepat berada di atas deretan cincin gunung api, menjadikan
Indonesia negeri yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi,
kebakaran hutan, banjir bandang, angin topan, dan tsunami. Sejarah juga telah
membuktikan bahwa hampir tiap tahun Indonesia selalu mengalami bencana yang sifatnya
berulang. Ada beberapa bencana yang sifatnya memang alamiah dalam artian bencana
tersebut tak dapat dicegah, seperti letusan gunung berapi dan gempa bumi. Sementara di
sisi lain ternyata lebih banyak lagi bencana yang sebenarnya merupakan ulah dari manusia
itu sendiri yang seharusnya bisa dicegah, seperti banjir bandang, kebakaran hutan, dan
tanah longsor . Sektor pariwisata menurut Naisbitt (1994), merupakan salah satu industri
besar yang akan berkembang pada abad millenium ke-3, setelah telekomu-nikasi dan
transportasi. Sektor pariwisata telah menjadi roda penggerak utama bagi pertumbuhan
sosial maupun ekonomi dunia.
Sejarah menunjukkan bahwa industri pariwisata juga mengalami dampak yang
signifikan akibat kejadian bencana, contohnya saat tsunami di Aceh pada Tahun 2004.
Sering kali kejadian bencana mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan yang datang ke
daerah tersebut akibat ketakutan para wisatawan terhadap suatu bencana. Hal ini tidak
mengherankan karena menurut World Tourism Organization (2003), faktor keamanan
merupakan faktor utama pertimbangan para wisatawan untuk memilih tempat tujuan
wisata.
Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang tekenal akan keindahannya,
sehingga tidak heran banyak wisatawan baik domestik hingga international datang ke Bali
untuk menikmati indahnya pulau Bali. Namun di lihat dari letak geografis Pulau Bali, Pulau
Bali sendiri rawan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Secara regional, Daerah
Bali, berdasarkan pada karakteristik kegempaan dan tektonik, serta ditunjang dengan
karakteristik data geofisika yang ada, maka sumber gempa bumi yang mempengaruhi

1
kawasan Bali dan sekitarnya dapat dibagi atas 2 bagian, yaitu zona penyusupan lempeng
Australia di selatan Bali dan patahan naik busur belakang di utara Bali. Gempa bumi yang
terjadi pada zona penyusupan lempeng di Bali umumnya dipisahkan atas dua kelompok,
yaitu gempa bumi megathrust yang merupakan gempa bumi akibat penyusupan dangkal
dan gempa bumi Benioff Zone yang merupakan gempa akibat penyusupan dalam
(Hamilton, 1979). Ada 2 generator gempa significant di Bali, yaitu a) Di Selatan akibat
penyusupan Lempeng Indo-Australia yang menyusup masuk ke bawah lempeng Euro-Asia
secara relatif, zona tumbukan terjadi di Samudera Hindia Selatan Bali (Kerawanan
Pertama); b) Akibat hujaman lempeng tersebut, di Utara Bali muncul patahan - patahan
belakang naik aktif (back arc thrust) yg merupakan generator gempa merusak di Bali
(Kerawanan Kedua). Selain Posisi Bali yang lokasinya berhadapan dengan Samudera
Hindia berada di antara lokasi pembangkit tsunami Sumbawa (1977) dan tsunami
Banyuwangi (1994) memiliki peluang yang tinggi terhadap ancaman tsunami, karena
kawasan ini dikatakan sebagai zona kesenjangan gempa bumi tsunami (tsunamigenic
earthquake). Tsunami bisa terjadi apabila gempa bumi yang terjadi memiliki magnitudo di
atas 6.5 Skala Richter, memiliki kedalaman kurang dari 30 kilometer yang terjadi di zona
megathrust yang kaya gempa bumi dangkal di zona kontak antar lempeng. Salah satu
Kabupaten di Bali yang letak geografisnya berhadapan dengan Samudera Hindia adalah
Kabupaten Klungkung, di Klungkung sendiri terdapat berbagai tujuan pariwisata yang
dituju oleh wisatawan domestik maupun intersional. Salah satunya adalah Pura Goa Lawah
yang bertempat di desa pesinggahan, kecamatan dawan, kabupaten klungkung. Pura Goa
Lawah sendiri rawan terhadap bencana karena letak dan lokasinya dekat dengan pantai
serta pusat gempa.
Saat ini wacana manajemen risiko bencana untuk sektor pariwisata sudah banyak
dikembangkan. Manajemen risiko ini membutuhkan peta tematik kebencanaan sebagai
informasi kebencanaan. Peta tematik kebencanaan ini juga merupakan informasi yang
sangat dibutuhkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pariwisata. Dari peta
tematik kebencanaan tersebut nantinya dapat digunakan oleh badan kebencanaan di tingkat
lokal maupun nasional serta para pelaku pariwisata di daerah yang bersangkutan untuk
menyusun rencana aksi dalam rangka mitigasi bencana.

2
B. Rumusan masalah

1. Bagaimana letak geografis dan bencana yang rawan terjadi di Indonesia sebagai tempat
wisata?
2. Dimana letak geografis Bali dan bencana yang rawan terjadi sebagai tempat destinasi
wisata?
3. Dimana letak geografis dan demografi kabupaten Klungkung ?
4. Bagaimana kawasan rawan bencana di kabupaten Klungkung?
5. Goa lawah di desa pesinggahan kecamatan Dawan ?
6. Bagaimana sejarah pura goa lawah?
7. Bagaimana analisis risiko bencana di desa pesinggahan khususnya goa lawah?

C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengentahui dimana letak geografis dan bencana yang rawan terjadi di
Indonesia sebagai tempat wisata
2. Untuk mengetahui dimana letak geografis Bali dan bencana yang rawan terjadi sebagai
tempat destinasi wisata
3. Untuk mengetahui dimana letak geografis dan demografi kabupaten Klungkung
4. Untuk mengetahui kawasan rawan bencana di kabupaten Klungkung
5. Untuk menegtahui tempat pariwisata di desa pesinggahan kecamatan Dawan
6. Untuk mengetahui sejarah pura goa lawah
7. Untuk mengetahui cara menganalisis risiko bencana di desa pesinggahan khususnya
goa lawah

D. Manfaat penulisan
Agar mengetahui secara umum mengenai letak geografis serta kawasan rawan
bencana di daerah Klungkung khususunya Pura goa lawah serta mengetahui cara
menganalisis resiko bencanan di desa pesinggahan