Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salah satu proses biologi untuk mempertahankan kelestarian spesies adalah
proses reproduksi yang menghasilkan keturunan. Keturunan dari semua hewan,
tumbuhan, manusia bahkan pada bakteripun senantiasa akan menunjukkan
persamaan spesies dengan induknya. Keturunan tersebut ada yang mempunyai
sifat-sifat yang sama atau mirip dengan sifat-sifat induknya dan ada pula
disamping persamaan atau kemiripan terdapat juga perbedaan-perbedaan malah
ada kalanya ditemukan sifat-sifat baru yang tidak dimiliki oleh induknya
(Rondonuwu, 1989).
Saat ini telah dikenal beragam cara pewarisan sifat pada mahkluk hidup,
salah satunya adalah pewarisan sifat yang terpaut kromosom kelamin X (pautan
kelamin). Teori pautan kelamin pertama kali ditemukan oleh T.H Morgen dan
C.B.Bridges pada tahun 1910. Teori ini diperoleh dari pengamatan terhadap strain
Drosophila melanogaster saat strain mata merah betina (N ) disilangkan dengan
strain mata putih jantan (w ) diperoleh keturunan pertama (hasil F1) semuanya
strain mata merah baik jantan maupun betina. Namun pada keturunan kedua,
diperoleh hasil F2 75% strain mata merah betina (N ) dan 25% strain jantan
dimana sebagian mata merah (N ) dan sebagian lainnya mata putih (w ). Hasil
ini bertentangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan kebakaan Mendel.
Penyimpangan pautan kelamin tersebut kemudian dijelaskan oleh Morgan
sebagai Teori Gagal Berpisah (non-disjuntion) pada Kromosom Kelamin X.
Sejauh perkembangan ilmu pengetahuan kala itu, gagal berpisah hanya terjadi
pada gamet betina saat kromosom X diploid gagal berpisah ketika menuju kutub
dalam pembelahan meiosis, tepatnya pada metafase I. Kegagalan ini menyebabkan
salah satu dari dua kutub memiliki dua kromosom X dan yang satunya lagi tidak
memiliki kromosom X. Dari persilangan tersebut ternyata juga terdapat
penyimpangan pada keturunan berikutnya dan pada persilangan resiproknya.
Peristiwa gagal berpisah dibedakan menjadi gagal berpisah primer dan
sekunder. Contoh gagal berpisah primer adalah sebagaimana yang telah
dikemukakan. Gagal berpisah sekunder ditemukan oleh Lilian V. Morgan (Istri
dari T.H.Morgan) pada tahun 1992. Peristiwa gagal berpisah itu disebut sebagai
gagal berpisah sekunder karena kejadianya berlangsung pada turunan dari individu
betina, yang keberadaanya merupakan produk gagal berpisah primer. Dalam hal
ini individu betina termaksud memiliki dua kromosom kelamin X dan satu
kromosom kelamin Y. Frekuensi kejadian gagal berpisah sekunder adalah sekitar
100 kali lebih tinggi (1dalam 25 turunan) daripada frekuensi gagal berpisah primer
(1 dalam 2000 turunan) (Corebima,2003).
Berdasarkan pernyataan di atas maka perlu dilakukan penelitian dengan
judul Fenomena Gagal Berpisah (non-disjunction) pada Drosophila
melanogaster Strain N >< we , strain N >< m Beserta Resiproknya.
Alasan ilmuwan terdahulu menggunakan Drosophila melanogaster sebagai
penelitian karena populasi Drosophila. melanogaster yang sangat besar,
mempunyai daur hidup yang sangat cepat, memiliki tingkat kesuburan yang tinggi
dan individu betina menghasilkan ratusan telur (Kimball, 1989).

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah fenotip F1 pada persilangan D. melanogaster strain N >< we
dan N >< m beserta resiproknya?
2. Adakah fenomena gagal berpisah (nondisjuction) pada persilangan D.
melanogaster strain N >< we dan N >< m beserta resiproknya?
3. Adakah perbedaan tipe persilangan D. melanogaster strain N >< we dan
N >< m beserta resiproknya terhadap fenomena gagal berpisah
(nondisjuction)?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui fenotip F1 pada persilangan D. melanogaster strain N ><
we dan N >< m beserta resiproknya.
2. Untuk mengetahui fenomena gagal berpisah berpisah (nondisjuction) pada
persilangan D. melanogaster strain N >< we dan N >< m beserta
resiproknya.
3. Untuk mengetahui perbedaan tipe persilangan D. melanogaster strain N ><
we dan N >< m beserta resiproknya terhadap fenomena gagal berpisah
(nondisjuction).
1.4 Manfaat
1. Mengetahui fenotip beserta rasio F1 yang muncul pada persilangan Drosophila
melanogaster strain N >< we dan N >< m beserta resiproknya.
2. Menambah pemahaman mengenai matakuliah genetika I khususnya fenomena
gagal berpisah (nondisjunction),
3. Memberikan informasi mengenai fenomena gagal berpisah pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N >< we dan N >< m beserta
resiproknya.
1.5 Asumsi Penelitian
1. Faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya
dianggap sama dan tidak berpengaruh terhadap persilangan D. melanogaster
selama penelitian.
2. Faktor internal seperti umur D. melanogaster yang digunakan dalam penelitian
dan aspek biologis setiap individu, khususnya saat persilangan dianggap sama.
3. Kondisi medium sebagai tempat perkembangbiakan D. melanogaster dianggap
sama selama penelitian.

1.6 Batasan Masalah


1. Penelitian ini dibatasi pada persilangan D. melanogaster strain N >< we dan
N >< m beserta resiproknya.
2. D. melanosger yang disilangkan maksimal berusia 3 hari.
3. Data yang diambil pada jumlah fenotipnya hanya sampai F1 pada setiap
persilangan.
4. Ciri fenotip yang diamati meliputi warna mata, warna badan, dan keadaan
sayap.
5. Pengambilan data dari hari menetesnya pupa yang dihitung sebagai hari ke 1-7
6. Indikator terjadinya gagal berpisah dilihat dari munculnya strain yang
menyimpang dari yang seharusnya muncul.

1.7 Definisi Istilah


1. Fenotip adalah karakter yang dapat diamati dari suatu individu yang
merupakan hasil interaksi antara genotip dan lingkungan tempat hidup dan
berkembang (Corebima, 2003).
2. Genotip adalah keseluruhan jumlah informasi genetik yang terkandung dari
suatu makhluk hidup (Corebima, 2003).
3. Perkawinan resiprok adalah perkawinan kebalikan dari perkawinan yang
semula dilakukan (Suryo, 1996).
4. Gagal berpisah (non-disjunction) adalah gagalnya kedua kromososm X untuk
memisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama,
sehingga terbentuklah telur yang memiliki dua kromososm kelamin X dan
yang tidak memiliki kromososm X (Corebima, 2003).
5. Frekuensi gagal berpisah adalah banyaknya individu dari Drosophila
melanogaster yang muncul pada F1 dan mengalami penyimpangan
dibandingkan dengan jumlah keseluruhan individu yang dihasilkan.
6. Autosom adalah kromosom tubuh (Suryo, 1996).
7. Meiosis adalah pembelahan sel dengan tahapan tertentu pada organisme yang
bereproduksi secara seksual untuk menghasilkan gamet dengan separuh
jumlah kromosom sel induk (Campbell, 2002).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif
kualitatif karena tidak diberikan perlakuan pada obyek. Persilangan Drosophila
melanogaster strain N >< we dan strain N >< we beserta resiproknya
sebanyak tiga ulangan untuk mendapatkan keturunan pertama atau (hasil F1).
Pengambilan data dilakukan secara langsung dengan menghitung jumlah hasil
anakan F1 dan mencatat semua fenotip yang muncul. Diduga dalam persilangan
Drosophila melanogaster strain N >< we dan strain N >< we beserta
resiproknya muncul fenomena gagal berpisah (non-disjunction) dari kromosom
kelamin X.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari Mei 2017. Tempat pelaksaan
kegiatan penelitian mulai dari peremajaan, penyilangan, dan pengamatan fenotip
dilakukan di laboratorium genetika ruang 301 gedung O5 jurusan Biologi FMIPA
UM

3.3 Populasi dan Sampel


Populasi yang kami dapatkan adalah Drosophila melanogaster yang
didapatkan dari laboratorium genetika jurusan Biologi FMIPA UM. Sampel yang
kami dapatkan yaitu D.melanogaster strain N, m, we .

3.4 Alat dan Bahan


1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian meliputi botol selai, spons, kertas
pupasi, selang bening dengan ukuran yg berbeda, neraca/timbangan, blender,
kompor, panic, pengaduk, pisau, wadah penyimpanan medium, mikroskop
stereo, plastic bening, kertas label, alat tulis
2. Bahan
Bahan yang digunakan meliputi: pisang raja mala, tape, gula merah, air,
fermipan.

3.5 Prosedur Kerja


a. Pengamatan fenotip
1. Semua strain (N><we dan N><m) yang didapatkan dari
laboratorium diamati fnotipnya dibawah mikroskop. Pengamatan meliputi
warna tubuh, warna mata, faset mata, dan sayap
b. Pembuatan medium
Untuk satu resep medium, digunakan prosedur sebagai berikut:
1. Disiapkan bahan yang akan digunakan untuk membuat medium meliputi
700 gram pisang raja mala, 200 gram tape, dan 100 gram gula merah
2. Pisang dipotong kecil-kecil kemudian diblender bersama dengan tape,
ditambahkan air secukupnya dan dihaluskan (diblender) hingga halus
3. Dipanaskan gula merah hingga mencair diatas kompor menggunakan panic
dan ditambahkan air secukupnya
4. Dimasukkan pisang dan tape yang sudah dihaluskan ke dalam panci berisi
gula merah cair
5. Diaduk perlahan diatas kompor dengan nyala api sedang selama 45 menit.
c. Peremajaan
1. Botol dan spons difiksasi terlebih dahulu diatas api beberapa detik
2. Dimasukkan medium baru ke dalam botol dan ditutup dengan spons,
ditunggu hingga dingin kemudian dimasukkan kertas pupasi dan 4 butir
fermipan. Ditutup kembali dengan spons
3. Dimasukkan Drosophila melanogaster yang akan diremajakan sesuai
dengan strainnya
d. Pengampulan pupa dari tiap strain
1. Dipotong selang bening dengan panjang sekitar 5 cm
2. Posing dipotong sesuai dengan lubang selang. Pemotongan dengan cara
menekan tepi selang pada pisang dan didorong ke tengah-tengah selang
sehingga terbagi menjadi dua bagian
3. Dimasukkan pupa D. melanogaster kedalam kedua sisi selang yang dibatasi
dengan pisang dan ditutup kedua ujung selang dengan spons kecil
e. Persilangan P1
1. Disiapkan medium baru yang telah diberi yeast dan kertas pupasi
2. Ampulan yang sudah menetas dan siap disilangkan dari masing-masing
strain dimasukkan ke dalam botol selai. Strain lalat yang disilangkan antara
lain N><we dan N><m beserta resiproknya
3. Diberi label botol A pada masing-masing persilangan dan memberi tanggal
4. Persilangan P1 dilakukan sebanyak 6 kali ulangan pada tiap persilangan
5. Induk jantan dilepas setelah 2 hari persilangan
6. Pada tiap ulangan betina yang telah bertelur dipindahkan ke botol
selanjutnya yaitu botol B. setelah bertelur, betina dipindahkan ke botol C dan
yang terakhir ke botol D
7. Membiarkan pupa sampai menghitam dan menetas
8. Setelah menetas dihitung sebagain hari 1 dan diamati fenotip anakannya
sampai hari ke 7 pada masing-masing botol
f. Pengamatan fenotip
1. Mengambil F1 dari hasil persilangan masing-masing strain dan dimasukkan
ke dalam kantong plastic
2. Mengamati F1 dan jantan betinanya serta cirri-ciri yang dimilki oleh masing-
masing hasil persilangan
3. Mencatat hasil pengamatan ke dalam tabel

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara
pengamatan fenotip berdasarkan jenis kelamin F1 dari hasil persilangan N>
<we dan N><m beserta resiproknya dari setiap ulangan selama 7 hari setelah
penetasan pertama dengan table sebagai berikut:
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex Total
1 2 3

we

N >< w e

N


we

w >< N
e

N


m

N >< m

N


m

N >< m

N

3.7 Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan untuk melihat fenotip pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N><we dan N><m beserta resiproknya
adalah dengan membuat rekonstruksi kromosom kelamin yang mengalami
nondisjunction, sedangkan frekuensi nondisjunction dihitung dengan rumus :

Frekuensi nondisjunction : x 100 %
BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
4.1. Data
a. Hasil Pengamatan Fenotip
Dalam penelitian ini kami menggunakan 3 macam strain Drosophila
melanogaster, yaitu strain N, we , dan m. berdasarkan pengamatan fenotip
menggunakan mikroskop stereo, diketahui karakteristik morfologi dari masing-
masing strain adalah sebagai berikut:
Strain N
Warna mata : merah
Warna tubuh : kuning
kecoklatan
Faset mata : halus
Sayap : lebih panjang dari
panjang tubuhnya
Strain we
Warna mata : putih tulang
Faset : halus
Warna tubuh : kuning
kecokelatan
Sayap : melebihi tubuh

Strain m
warna mata : mata merah
sayap : tidak melebihi
ukuran tubuh
faset : halus
warna tubuh : kuning
kecokelatan
b. Hasil pengamatan jumlah keturunan dan fenotip F1 Drosophila
melanogaster
a. Persilangan N >< we
Ulangan
Persilangan Fenotipe Sex Total
1 2 3
N 0 0 0 0
N 47 80 62 189
N >< we 368
we 47 70 59 176
we 1 2 0 3

b. Persilangan N >< wa
Ulangan
Persilangan Fenotipe Sex Total
1 2 3
N 31 73 85 195
N 73 66 85 224
N >< we 419
we 0 0 0 0
we 0 0 0 0

c. Persilangan N >< m
Ulangan
Persilangan Fenotipe Sex Total
1 2
N 0 0 0
N 58 31 89
N >< m 196
m 77 29 106
m 0 1 1

d. Persilangan N >< m
Ulangan
Persilangan Fenotipe Sex Total
1 2
N 19 50 70
N 32 48 80
N >< m 150
m 0 0 0
m 0 0 0
4.2 Analisis Data

1. Rekonstruksi kromosom Drosophila melanogaster strain w >< N , m


>< N beserta resiproknya.
a. Persilangan antara N >< we
Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction
P1 : N >< we
w+
Genotip : ><

Gamet : we +, ; we , we

we we

we + + +
(N) (N)


(we) (we)

Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction

P1 : N >< we
+
Genotip : ><


Gamet : we +, ; we , , 0

we 0

we+ + + we+
(N) ( N super) ( N steril)
0

0
(we) (we)
(letal)

b. Persilangan antara N >< we
Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction
P1 : N x we
+
Genotip : + ><

Gamet : we +, we +; we ,

we+ we+

we + +
(N) (N)

+ +
(N) (N)

Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction


P1 : N >< we
+
Genotip : + ><

Gamet : we +, we + ; , 0 , we ,


we+ we+

we + we+
(N) (N)
we

we+ we
(N)
+ +
(N)

+ we+
(N) (N)

0 we+ +
(N steril) (N steril)
0 0
c. Persilangan antara N >< m
Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction
P1 : N >< m
+
Genotip : ><

Gamet : m+, ; m, m

m m

m+ + +
(N) (N)


(m) (m)

Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction


P1 : N >< m
+
Genotip : ><


Gamet : m+, ; m, , 0



m- 0

+ m m+ m+
m+ (N) ( N super) (N steril)
0

mm 0
(m) (m) (letal)

d. Persilangan antara N >< m
Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction
P1 : N >< m
+
Genotip : + ><

Gamet : m+, m+ ; m,

m+ m+

m- + +
(N) (N)

+ +
(N) (N)

Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction


P1 : N >< m
+
Genotip : + ><
+
Gamet : m +, m+ ; , 0 , m,


m+ m+

m- + +
(N) (N)
m

+ +
(N) (N)

0 + +
( N steril) ( N steril)
0 0

+ + + + +
(N) (N)

2. Analisis Data Frekuensi Nondisjunction
Analisis data frekuensi non-disjunction dari persilangan N >< we
dan strain N >< m beserta resiproknya menggunakan rumus:
NDJ
Frekuensi NDJ (%) = X 100%
Total keturunan

a. Persilangan N >< we
Persilangan Ulangan Keturunan NDJ Frekuensi (%)
1 1 0,2717391304%
N >< we 2 2 0,5434782609%
3 0 0,00%

b. Persilangan N >< m
Persilangan Ulangan Keturunan NDJ Frekuensi (%)
1 0 0,00%
N >< m
2 1 0,5102040816 %

Analisis data penelitian ini menggunakan uji chi-square, namun karna data
yang diperoleh kurang lengkap dengan kata lain tidak memenuhi untuk uji chi-square
maka analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif presentase.

Berdasarkan rekonstruksi dan table diatas dapat diketahui bahwa fenomena


non-disjunction dapat terjadi di semua persilangan. Namun dalam penelitian yang kami
lakukan, persilangan yang mengalami fenomena non-disjunction hanya persilangan
dari strain N >< we dan strain N >< m.
Tabel hasil pengamatan persilangan N >< we

Botol Hari ke- Jumlah


Persilangan Ulangan Fenotip
ke 1 2 3 4 5 6 7

N - - - - - - - 0

N 3 22 3 1 1 4 2 36
A
we 1 17 8 3 2 2 5 38
we 1 - - - - - - 1

N - - - - - - - 0

N 10 - - - - - - 10
B
we 9 - - - - - - 9
we - - - - - - - 0
1
N - - - - - - - 0

N 1 - - - - - - 1
C
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0
N >< w e D
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N - - - - - - -

N 20 17 8 - 23 6 1 75
A
we 16 20 9 - 13 5 - 63
we - - - - - - -
2 N - - - - - - - 0

N 2 1 1 - - - - 4
B
we 2 - 2 - - - - 4
we - - - - - - - 0
C N - - - - - - - 0
N - - 1 - - - - 1
we 1 - - 1 1 - - 3
we - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0
D
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N 14 6 10 6 - 2 - 38
A
we 7 6 10 9 - 2 - 34
we - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N 21 - - - - - - 21
B
we 18 - - - - - - 18
we - - - - - - - 0
3
N - - - - - - - 0

N - - 2 1 - - - 3
C
we 2 - 1 - 2 1 1 7
we - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0
D
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0
b. Tabel hasil pengamatan persilangan we >< N

Botol Hari ke- Jumlah


Persilangan Ulangan Fenotip
ke 1 2 3 4 5 6 7

N 1 7 2 1 - - - 11

N 3 14 10 9 - - - 36
A
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N 6 1 2 - 3 - - 12

N 17 2 2 - 2 - 4 27
B
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0
1
N - - 3 - - - - 3

N 3 2 3 - - - - 7
C
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N 1 2 - - 1 1 - 5

N - - 1 - 2 - - 3
we >< N D
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N 1 8 20 - 16 - - 55

N 1 10 16 - 11 - - 38
A
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0
2 N 8 - 3 - - - - 11

N 13 - 2 - - - - 16
B
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0
C N 1 1 - 2 1 - - 5
N 3 - - 3 2 - 1 8
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N 1 - - - 1 - - 2

N 2 - 2 - - - - 4
D
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N 3 2 25 - 25 - 7 67

N 4 3 27 - 26 - 4 64
A
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N 15 - - - - - - 15

N 20 - - - - - - 20
B
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0
3
N 1 - 1 - - 1 - 3

N - - - 1 - - - 1
C
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0
D
we - - - - - - - 0
we - - - - - - - 0
c. Tabel hasil pengamatan persilangan N >< m

Botol Hari
Persilangan Ulangan Fenotip Jumlah
ke 1 2 3 4 5 6 7

N - - - - - - - 0

N 1 4 4 5 - - - 14
A
m 2 3 3 10 5 - - 23
m - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N 9 10 10 10 - - - 39
B
m 10 10 10 13 - - - 43
m - - - - - - - 0
1
N - - - - - - - 0

N 1 - - - - - - 1
C
m 2 - 1 1 2 - 2 8
m - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0
N >< m
N 1 2 - - - - - 4
D
m 1 1 - - 1 1 - 3
m - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N 2 - 2 - - - - 4
A
m 3 - 3 - 5 - - 11
m - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0
2
N 5 10 10 - - - - 25
B
m 5 - 5 - - - - 10
m 1 - - - - - - 1

N - - - - - - - 0
C
N - - - 1 - - - 1
m 2 - 1 - 3 1 - 7
m - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N 1 - - - - - - 1
D
m 1 - - - - - - 1
m - - - - - - - 0

d. Tabel persilangan N >< m

Botol Hari
Persilangan Ulangan Fenotip Jumlah
ke 1 2 3 4 5 6 7

N - 3 2 3 - - - 8

N 4 7 5 6 2 - - 24
A
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0

N 2 1 2 - - - - 5

N 2 2 1 - - - - 5
B
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0
1
N 1 - 1 1 1 - - 4
N >< m
N - - - 2 - - - 2
C
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0

N 1 - - - 1 - - 2

N - 1 - - - - - 1
D
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0

N 2 9 3 6 - - - 20
2 A
N 7 11 2 4 - - - 24
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0

N 8 - 6 - - - 14 28

N 4 - 3 - - - 7 14
B
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0

N - - - 2 - - - 2

N 1 1 - - 2 - 4 8
C
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0

N - - - - - - - 0

N 2 - - - - - - 2
D
m - - - - - - - 0
m - - - - - - - 0
Campbell, Neil A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga

Corebima, A.D. 2003. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press.

Corebima, A.D. 2003. Genetika Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press.

Kimball, John W. 1989. Biologi edisi kelima. Surabaya: Erlangga.


Novitasari, Dewi. 1997. Perbedaan Frekuensi dan Kecenderungan Waktu Munculnya
Berpisah Sekunder Kromosom Kelamin X antara Drosophila melanogaster
Strain Yellow dan White Apricot. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM
Rondonuwu, Suleman. 1989. Dasar-Dasar Genetika.Jakarta: Debdikbud
Suryo. 2005. Genetika Strata 1. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press