Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Metode Gravity merupakan perpaduan antara geologi dan gravitasi untuk


menyelesaikan kasus-kasus kebumian contonhnya eksploarasi bencana alam dan
sumber daya alam. Metode ini paling diunggulkan karena biayanya yang murah
serta tidak memilikidampak negativ terhadap lingkungan.
Pada dasarnya metode gravity adalah suatu metode eksplorasi yang
mengukur pada medan gravitasi pada kelompok kelompok titik pada lokasi
yang berbeda dalam suatu area tertentu. Pengukuran metode ini memberikan
informasi mengenai densitas batuan bawah tanah sehingga terdapat rentang
densitas yang amat lebar diantara berbagai jenis batuan bawah tanah, oleh karena
itu seorang ahli geologi dapat melakukan interferensi atau deduksi mengenai
strata atau lapisan lapisan batuan berdasarkan data yang diperoleh. Patahan
yang umumnya membuat terjadi lompatan pada penyebaran densitas batuan,
dapat teramati dengan metoda ini.
Objek dari gravitasi merupakan seluruh benda yang ada dipermukaan bumi,
sehingga batuuan yang ada dipermukaan bumi juga akan menjadi objek dalam
metode gravity ini.

1.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dalam mempelajari metode gravity ini adalah :
1. Mengetahui variabel apa saja yang akan berpengaruh ketika
menggunakan metode gravity.
2. Mendapat suatu pemahaman yang lebih baik mengenai lapisan bawah
permukaan
3. Mengetahui perbandingan elevasi peta topografi dengan peta ABL

1
BAB 2
DASAR TEORI
1. Sejarah Hukum Gravitasi Newton
Sir Isaac Newton adalah ahli fisika, matematika, astronomi, kimia dan
ahli filsafat yang lahir di Inggris. Buku yang ditulis dan dipublikasikan pada
tahun 1687, Philosophs Naturalis Principia Mathematica, dikatakan sebagai buku
yang paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan.
Karyanya ini menjelaskan tentang hukum gravitasi dan tiga asas (hukum)
pergerakan, yang mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam
selama tiga abad kedepan dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern.
Ketika wabah sedang melanda kota Cambridge, Inggris pada tahun 1666,
Isaac Newton memutuskan mengungsi sementara di luar kota. Suatu hari, ketika
dia sedang berjalan-jalan di taman, dia melihat sebuah apel jatuh. Apel tersebut
jatuh begitu saja, seolah-olah diraih dari bawah oleh sebuah tangan tidak
kelihatan. Versi lain dari cerita ini, yang lebih dramatis, apel tersebut jatuh ke
atas kepala Newton ketika dia sedang tertidur di bawah sebatang pohon. Mana
yang benar kita tidak tahu. Yang kita tahu, cerita tersebut dianggap menginspirasi
Newton menemukan hukum gravitasi.
Newton sendiri mengakui dia harus berpikir terus menerus selama
bertahun-tahun untuk merumuskan hukum gravitasi. Kita mengenal Newton
sebagai sosok jenius, tetapi di masa mudanya, para teman-temannya
mengenalnya sebagai sosok yang gigih luar biasa. Newton menghabiskan
sebagian besar hidupnya untuk berpikir dan berpikir. Tidak ada seorang pun yang
berpikir sekeras Newton di jamannya. Bahkan bila dia tidak dipaksa
melakukan percobaan untuk membuktikan teori-teorinya, teman-temannya kuatir
dia akan meninggal karena belajar dan berpikir tanpa henti, dan lupa menjaga
tubuhnya. Dia bahkan sering lupa untuk makan, dan dia juga benar-benar lupa
untuk menikah karena Newton hidup melajang sampai akhir hayatnya.

2
2. Hukum Gravitasi Newton

Hukum tarik-menarik gravitasi Newton dalam


bidang fisika berarti gaya tarik untuk saling mendekat satu sama lain. Dalam
bidang fisika tiap benda dengan massa m1 selalu mempunyai gaya tarik menarik
dengan benda lain (dengan massa m2 ). Misalnya partikel satu dengan partikel
lain selalu akan saling tarik-menarik. Contoh yang dikemukakan oleh Sir Isaac
Newton dalam bidang mekanika klasikbahwa benda apapun di atas atmosfer
akan ditarik oleh bumi, yang kemudian banyak dikenal sebagai fenomena benda
jatuh.

Gaya tarik menarik gravitasi ini dinyatakan oleh Isaac Newton melalui
tulisannya di journal Philosophi Naturalis Principia Mathematicapada tanggal
5 Juli 1687 dalam bentuk rumus sebagai berikut:

di mana:

F adalah besarnya gaya gravitasi antara dua massa tersebut,


G adalah konstante gravitasi,
m1 adalah massa dari benda pertama
m2 adalah massa dari benda kedua, dan
r adalah jarak antara dua massa tersebut.

Teori ini kemudian dikembangkan lebih jauh lagi bahwa setiap benda
angkasa akan saling tarik-menarik, dan ini bisa dijelaskan mengapa bumi harus
berputar mengelilingimatahari untuk mengimbangi gaya tarik-
menarik gravitasi bumi-matahari. Dengan menggunakan fenomena tarik
menarik gravitasi ini juga, meteor yang mendekat ke bumi dalam perjalanannya
di ruang angkasa akan tertarik jatuh ke bumi.

3
3. Medan Gravitasi

Sebagaimana telah kita singgung pada awal bab ini bahwa benda akan
tertarik oleh gaya gravitasi benda lain atau planet jika benda tersebut berada
dalam pengaruh medan gravitasi. Medan gravitasi ini akan menunjukkan
besarnya percepatan gravitasi dari suatu benda di sekitar benda lain atau planet.
Besar medan gravitasi atau percepatan gravitasi dapat dirumuskan sebagai
berikut.

Keterangan:
g : medan gravitasi atau percepatan gravitasi (m/s2)
G : tetapan gravitasi (6,672 10-11 N.m2/kg2)
M : massa dari suatu planet atau benda (kg)
r : jarak suatu titik ke pusat planet atau pusat benda (m)

Hal yang perlu diperhatikan dalam membahas medan gravitasi atau percepatan
gravitasi adalah konsep bahwa massa benda dan berat benda tidaklah sama.
Massa benda di mana pun tetap, namun berat benda di berbagai tempat belum
tentu sama atau tetap. Besar percepatan gravitasi yang dialami semua benda di
permukaan planet adalah sama. Jika selembar kertas jatuh ke tanah lebih lambat
dari sebuah kelereng, bukan disebabkan karena per cepatan gravitasi di tempat
tersebut berbeda untuk benda yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh adanya
hambatan udara yang menahan laju kertas tersebut.

Hukum Newton juga menunjukkan bahwa pada umumnya jika sebuah


benda (misalnya planet) bergerak mengelilingi pusat gaya (misalnya matahari),
benda akan ditarik oleh gaya yang berubah sebanding dengan . Lintasan benda
tersebut dapat be rupa elips, parabola, atau hiperbola.

4
Hukum gravitasi Newton juga dapat diterapkan pada gerak benda-benda
angkasa. Sebelum masuk ke penerapan tersebut, kita pelajari terlebih dahulu
tentang pergerakan benda-benda angkasa. Pergerakan benda-benda angkasa telah
dipelajari oleh Johanes Kepler dan dinyatakan dalam hukum-hukum Kepler.
4. Faktor yang mempengaruhi Percepatan gravitasi
a. Elevasi
Elevasi berpengaruh karena elevasi berpengaruh pada nilai jarak
antara inti bumi dengan keberadaan benda yang ada dibagian lain dari
inti bumi yang memeiliki elevasi tertentu.
b. Pengaruh Luar Angkasa
Pengaruh luar angkasa di pengaruhi oleh benda luara angkasa, yang
paling besar pengaruhnya adalah matahari dan bulan. Karena 2 objek
tersebut juga memiliki nilai gaya tarik terhadap benda lain termasuk
bumi.
c. Posisi Garis Lintang
Seluruh permukaan bumi dibagi-bagi menurut jaring-jaring derajat.
Jaring-jaring derajat itu dinamakan garis lintang dan garis bujur. Garis
lintang adalah garis yang sejajar dengan garis tengah
khatulistiwa,sedang garis bujur adalah garis yang sejajar dengan garis
tengah kutub. Arah rotasi bumi sama dengan arah revolusinya, yakni
dari barat ke timur. Itulah sebabnya matahari selalu terbit di timur
terbenam di barat. Orang-orang yang berada di daerah timur akan
mengamati matahari terbit dan matahari terbenam lebih cepat dari
pada daerah yang berada di sebelah barat. Wilayah yang berada pada
sudut 15 0 lebih ke timur akan mengamati matahari terbit lebih cepat
satu jam.

Namun, ada waktu yang berlaku secara international yang disebut


waktu GMT (Greenwich Mean Time ) sebagai waktu pangkal yang
berada pada garis bujur nol derajat yang melalui kota Greenwich di

5
London. Sebagai contoh Indonesia memiliki tiga bujur standar yaitu
1050, 1200, 1350 Bujur Timur, dengan demikian waktu lokalnya
berturut-turut adalah waktu Greenwich ditambah 7 jam, 8 jam, dan 9
jam. Jika letak bujur standar itu disebelah barat bujur nol, maka
waktunya dikurangi, dan jika letak bujur standar itu di sebelah timur
bujur nol, maka waktunya bertambah.
d. Medan Sekitar
Medan sekitar yang dimaksud adalah skala besar, contohnya gravitasi
yang adalah dipegunungan dan di padang pasir tentu akan berbeda.
e. Batuan
Batuan yang memilki massa jenis lebih besar akan memiliki
percepatan gravitasi yang lebih besar.

6
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Diagram Alir Pengolahan Data

Data Ms.Excel

Koordinat X, Y, Z Lintang Selatan

Koreksi Bouger FAC Lintang Selatan

Pengolahan dengan Surfer

Peta Topografi Peta ABL

Analisis

Hasil dan
Pemabahsan

Kesimpulan

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengolahan Data ABL


Line 1

Line 2

Line 3

8
Line 4

Line 5

Line 6

9
Line 7

4.3. Peta Topografi

Peta diatas menunjukkan warna putih memiliki nilai elevasi yang


maksimum, sedangkan warna ungu memiliki nilai elevasi yang rendah atau
minimum pada peta topografi diatas.

10
Peta diatas dibuat dapat ditampilkan dengan memasukkan data X, Y, Z.
Peta tersebut menunjukkan daerah ini memiliki nilai elevasi yang rendah, sedang
hingga tinggi.
4.4 Peta ABL

Peta ABL diatas menunjukkan warna putih memiliki nilai ABL yang
tinggi atau maksimum, sedangkan warna ungu muda menunjukkan nilai ABL
yang rendah atau minimum.
Peta diatas dapat ditampilkan dengan memasukkan data X, Y, dan nilai
ABL. Peta diatas menunjukkan daerah ini memiliki nilai ABL yang rendah,
sedang dan tinggi.

11
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Metode Gravity merupakan perpaduan antara geologi dan gravitasi untuk
menyelesaikan kasus-kasus kebumian contonhnya eksploarasi bencana alam dan
sumber daya alam. Metode ini paling diunggulkan karena biayanya yang murah
serta tidak memilikidampak negativ terhadap lingkungan.
Pada dasarnya metode gravity adalah suatu metode eksplorasi yang
mengukur pada medan gravitasi pada kelompok kelompok titik pada lokasi
yang berbeda dalam suatu area tertentu.
Seorang ahli geologi dapat memanfaatkan data bwah permukaan yang
didapatkan dari metode gravity untuk melakukan interpretasi data bawah
permukaan yang akan diolah lebih lanjut sehingga berguna dalam proses
eksplorasi.
Sehingga dapat disimpulkan dari data yang telah diolah, hubungan dari
peta topografi dan dan peta ABL relalif memiliki hasil elevasi yang relatif sama,
yaitu dari elevasi rendah, sedang hingga tinggi.

5.2 Saran
Hendaknya ditampilkan data yang benar yang telah diolah sebagai acuan
dalam pengerjaan oleh praktikan.

12