Anda di halaman 1dari 15

Nama :Ayub L.R.

Pasolang

NIM :A31114329

Teori-teori Psikologi Perkembangan

Dalam memahami perkembangan manusia, teori mempunyai peranan yang sangat penting.
Teori dapat membantu kita memahami gejala-gejala dan membuat ramalan tentang
bagaimana kita berkembang serta bagaimana kita berperilaku. Dalam pembahasan tentang
perkembangan manusia, terdapat banyak teori, mulai dari sederhana dan sistematis sampai
pada yang rumit. Berikut akan dibahas tentang teori-teori perkembangan, diantaranya
psikodinamis, kognitif, teori kontekstual, serta teori behavior dan belajar social.

1. Teori Psikodinamik

Teori psikodinamik adalah teori yang menjelaskan tentang perkembangan kepribadian.


Unsur-unsurnya adalah aspek-aspek internal manusia seperti emosi, motivasi, dan aspek
internal lainnya. Asumsi teori ini adalah adalah kepribadian berkembang ketika terjadi
konflik-konflik dari aspek-aspek psikologi, yang umumnya terjadi sejak masa bayi. Pada
masing-masing tahap, individu mengalami konflik internal yang harus diselesaikan sebelum
memasuki tahap berikutnya. Teori ini banyak dipengaruhi oleh Sigmud Freud dan Erick
Erikson.
Freud berfokus pada masalah alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian
manusia. Freud menyebutkan bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting,
yaitu id, ego, dan superego. Id berisi segala sesuatu yang secara psikologis telah ada sejak
manusia lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan tempat berkumpulnya energi psikis
dan menyediakan seluruh daya untuk menggerakkan kedua struktur kepribadian lainnya. Ego
adalah struktur kepribadian yang berkaitan dengan realita dan membuat keputusan-keputusan
rasional. Sedangkan superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah,
sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui masyarakat.
Kemudian tiga komponen kepribadian ini berkembang melahui tahap-tahap perkembangan
psikoseksual dan setiap tahap perkembangan tersebut individu mengalami kenikamatan pada
satu bagian tubuh lebid daripada bagian tubuh lainnya.
Erick Erikson adalah salah satu seorang teoritis ternama dalam bidang perkembangan rentang
kehidupan.salah satu sumbangannya yang terbesar dalam psikologi perkembangan adalah
psikososial. Istilah psikososial berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir
sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh social yang berinteraksi dengan suatu
organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis (Hall & Lidzye, 1993). Masing-
masing tahap tahap memiliki tugas perkembangan yang khas, dan mengharuskan individu
menghadapi dan menyelesaikan krisis. Untuk setiap krisis, selalu ada pemecahan yang
positif dan negative, pemecahan yang positif akan menghasilkan kesehatan jiwa, sedangkan
pemecahan yang negative akan membentuk penyesuaian yang buruk

2. Teori Kognitif
Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kogntif merupakan sesuatu yang
fundamental dan yang membimbing tingkah laku individu. Teori kogntif menekankan pada
pikiran-pikiran sadar. Saat ini sering dibahas dua teori tentang perkembangan, yaitu teori
perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi.
Piaget menyebutkan bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau
periode-periode yang terus bertambah kompleks.

Teori pemrosesan informasi (information processing theory) menekankan pentingnya proses-


proses kognitif dengan tiga asumsi, yaitu (1) pikiran dipandang sebagai suatu system
penyimpanan atau pengembalian informasi, (2) individu-individu memproses informasi dari
lingkungan, (3) terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang
individu )Zigler & Stevenson, 1993). Berdasarkan asumsi tersebut, dapat dipahami bahwa
teori pemrosesan informasi lebih menekankan pada bagaimana individu memproses
informasi tentang dunia mereka, bagaimana informasi masuk kedalam pikiran, bagaimana
informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk
melaksanakan aktifitas-aktifitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan berpikir.
Model kognisi dari teori pemrosesan informasi, diadaptasi dari Seifer & Haffnung, 1994)

3. Teori Kontekstual
Teori kontekstual memandang perkembangan sebagai proses yang terbentuk dari transaksi
timbale balik antara anak dan konteks perkembangan system fisik, sosial, kutural, dan
histories dimana interaksi tersebut terjadi. Ada dua teori kontekstual, yaitu teori etologis dan
teori ekologis.
Pendekatan etologi difokuskan pada asal usul evolusi dari tingkah laku dan menekankan
tingkah laku yang terjadi dalam lingkungan alamiah. Teori etologi mengenai perkembangan
menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait dengan evolusi, dan
ditandai oleh periode-periode krisis atau sensitive (Santrok, 1998).
Berbeda dengan teori etologis, teori ekologis memberikan penekanan pada system
lingkungan. Tokoh utama teori ekologi adalh Urie Brofenbrenner. Pendekatan ekologi
terhadap perkembangan mengajukan bahwa konteks dimana berlangsung perkembangan
individu, baik kognitifnya, sosioemosional, kapasitas dan karakteristik motivasional, maupun
partisipasi aktifnya merupakan unsur-unsur penting bagi perkembangan (Seifert & Hoffnung,
1994). Brofenbrenner menggambarkan empat kondisi lingkungan dimana perkembangan
terjadi, yaitu mikrosistem, mesositem, ekositem, dan makrosistem.
a. Mikrosistem
Menunjukkan situasi dimana individu hidup dan saling berhubungan dengan orang lain.
Kontek ini meliputi keluarga, teman, sebaya, sekolah, dan lingkungan sosial lainnya. Dalam
mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling langsung dengan agen-agen social.
b. Mesositem
Menunjukkan hubungan antara dua atau lebih mikrositem atau hubungan beberapa
konteks. Misalnya hubungan antara rumah dan sekolah.
c. Ekositem
Terdiri dari setting social dimana individu tidak berpartisipasi aktif, tetapi keputusan
penting yang diambil memiliki dampak terhadap orang-orang yang berhubungan langsung
dengannya. Misalnya tempat orang tua bekerja, dewan sekolah, pemerintah lokal.
D. Makrosistem
Meliputi cetak biru pembentukan social dan kebudayaan untuk menjelaskan dan
mengoragnisir institusi kehidupan. Makrosistem direfleksikan dalam pola lingkan
mikrosistem, mesositem, dan ekosistem yang dicirikan dari sebuah subkultur, kultur, atau
konteks sosial lainnya yang lebih luas. Misalnya system kepercayaan bersama tentang umat
manusia.

4. Teori Behavior dan Belajar Sosial


Teori behavior (teori tingkahlaku) mula-mula dikembangkan oleh J.B.Watson (1878-
1958), asumsinya adalah perilaku dapat diamati, dipelajari melalui pengalaman dan
lingkungan. Berikut ada tiga versi tentang pembentukan perilaku, yaitu Pavlov dengan
kondisioning klasik, Skinner dengan kondisoning operan, dan Bandura dengan teori belajar
sosial.

macam teori psikologi menurut aliran

1. Psikoanalisis
Salah satunya tokoh psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856 1939). Nama asli Freud
adalah Sigismund Scholomo. Namun sejak menjadi mahasiswa Freud tidak mau
menggunakan nama itu karena kata Sigismund adalah bentukan kata Sigmund. Freud lahir
pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia. Saat itu Moravia merupakan bagian dari kekaisaran
Austria-Hongaria (sekarang Cekoslowakia). Pada usia empat tahun Freud dibawa hijrah ke
Wina, Austria (Berry, 2001:3). Kedatangan Freud berbarengan dengan ramainya teori The
Origin of Species karya Charles Darwin (Hall, 2000:1).
Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran
dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di
Wina (Freud, terj.,1991:4). Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang
menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan
Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki
penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O. Selama
penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O.
Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang
membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan
ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.
Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain
mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari.
Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan-keinginannya. Karena tidak bisa
tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur,
ketika kontrol ego lemah.
Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun
yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat
peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita
akses(preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam
tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita,
yaitu:
1. Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
2. Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari
lingkungannya.
3. Ego, adalah pengawas realitas.
Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara yang diserahi mengelola
uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai. Idmengatakan pada Anda: Pakai saja uang itu sebagian,
toh tak ada yang tahu!. Sedangkan ego berkata:Cek dulu, jangan-jangan nanti ada yang
tahu!. Sementara superego menegur:Jangan lakukan!.
Pada masa kanak-kanak kira dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud
disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak
menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak
mendapat dot misalnya).
Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada
orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahapsecondary process thinking. Manusia sudah dapat
menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin
menabung misalnya). Walau begitu kadangkala pada orang dewasa muncul sikap
seperti primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong
sampah karena merasa jengkel akibat dimarahi bos di kantor misalnya).
Proses pertama adalah apa yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan proses kedua
adalah IQ (intelligence quotient) dan proses ketiga adalah SQ (spiritual quotient).

2. Behaviourisme
Aliran ini sering dikatkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir
abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya
pada tahun 1940 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains
hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja. Sedangkan jiwa
tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi.
Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan
perilakunya melalui suatu pelaziman(conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-
menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Salah
satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan
anjing eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak
mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing
tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging
disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan
maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur
anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.
Percobaan yang hampir sama dilakukan terhadap seorang anak berumur 11 bulan dengan
seekor tikus putih. Setiap kali si anak akan memegang tikus putih maka dipukullah sebatang
besi dengan sangat keras sehingga membuat si anak kaget. Begitu percobaan ini diulang terus
menerus sehingga pada taraf tertentu maka si anak akan menangis begitu hanya melihat tikus
putih tersebut. Bahkan setelah itu dia menjadi takut dengan segala sesuatu yang berbulu:
kelinci, anjing, baju berbulu dan topeng Sinterklas.
Ini yang dinamakan pelaziman dan untuk mengobatinya kita bisa melakukan apa yang
disebut sebagai kontrapelaziman(counterconditioning).

3. Psikologi Humanistis
Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini
dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah. Aliran ini
biasa disebut mazhab ketiga setelah Psikoanalisa dan Behaviorisme.
Salah satu tokoh dari aliran ini Abraham Maslow mengkritik Freud dengan mengatakan
bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa
setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.
Salah satu bagian dari humanistic adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang
mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna).
Pandangan ini berprinsip:
a. Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.
b. Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.
c. Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami
bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.
Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi
Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia mengalami dan menyaksikan penyiksaan-
penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan
yang putus asa dan para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang
perkasa. Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada
hidupnya.
Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan
situasi-situasi berikut ini:
a. Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sadi (seorang penyair besar dari
Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus.
Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang
berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut
tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih
kehilangan sepatunya sementara ada orang yang masih bisa tersenyum walau kehilangan
kedua kakinya.
b. Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika
seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja
bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta
menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia
kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan
pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia
putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama
keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.
c. Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat
jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna
yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga
ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian,
dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.
d. Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang
bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil
menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan
keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam
hidupnya.
e. Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia
fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah
pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita.
4. Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti menggambarkan konfigurasi atau
bentuk yang utuh. Suatu gestalt dapat berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-
bagiannya. Semua penjelasan tentang bagian-bagian objek akan mengakibatkan
hilangnya gestalt itu sendiri. Sebagai contoh, ketika melihat sebuah persegi panjang maka hal
ini dapat dipahami dan dijelaskan sebagai persegi panjang berdasarkan keutuhannya atau
keseluruhannya dan identitas ini tidak bisa dijelaskan sebagai empat garis yang saling tegak
lurus dan berhubungan.
Sejalan dengan itu, gestalt menunjukkan premis dasar sistem psikologi yang
mengonseptualisasi berbagai peristiwa psikologis sebagai fenomena yang terorganisasi, utuh
dan logis. Pandangan ini menjelaskan integritas psikologis aktivitas manusia yang jelas.
Menurut para gestaltis, pada waktu itu psikologi menjadi kehilangan identitas jika dianalisis
menjadi komponen-komponen atau bagian-bagian yang telah ada sebelumnya.
Psikologi gestalt adalah gerakan jerman yang secara langsung menantang psikologi
strukturalisme Wundt. Para gestaltis mewarisi tradisi psikologi aksi dari Brentano, Stumpf
dan akademi Wurzburg di jerman, yang berupaya mengembangkan alternatif bagi model
psikologi yang diajukan oleh model ilmu pengetahuan alam reduksionistik dan analitik dari
Wundt.
Gerakan gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam filsafat jerman yakni aktivitas
mental dari pada sistem Wundt. Psikologi gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori
nativistik yang mengatakan bahwa organisasi aktivitas mental membuat individu berinteraksi
dengan lingkungannya melalui cara-cara yang khas. Sehingga tujuan psikologi gestalt adalah
menyelidiki organisasi aktivitas mental dan mengetahui secara tepat karakteristik interaksi
manusia-lingkungan.
Hingga pada tahun 1930, gerakan gestalt telah berhasil menggantikan model wunditian dalam
psikologi Jerman. Namun, keberhasilan gerakan tersebut tidak berlangsung lama kerena
munculnya hitlerisme. Sehingga para pemimpin gerakan tersebut hijrah ke Amerika.
Psikologi gestalt diawali dan dikembangakan melalui tulisan-tulisan tiga tokoh penting,
yaitu Max Wertheimer, Wolfgang Kohler danKurt Koffka. Ketiganya dididik dalam
atmosfer intelektual yang menggairahkan pada awal abad 20 di Jerman, dan ketiganya
melarikan diri dari kejaran nazi dan bermigrasi ke Amerika.
Tetapi di Amerika psikologi gestalt tidak memperoleh dominasi seperti di Jerman. Hal ini
dikarenakan psikologi Amerika telah berkembang melalui periode fungsionalisme dan pada
tahun 1930-an didominasi oleh behaviorisme. Oleh karena itu, kerangka psikologi gestalt
tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan di Amerika.

5. Psikologi Transpersonal
Kata transpersonal berasal dari kata trans yang berarti melampaui dan persona berarti topeng.
Secara etimologis, transpersonal berarti melampaui gambaran manusia yang kelihatan.
Dengan kata lain, transpersonal berarti melampaui macam-macam topeng yang digunakan
manusia.
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa diartikan sebagai ilmu yang
menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Psikologi transpersonal merupakan salah satu
bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan
kekayaan-kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari
psikologi transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap
bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan
kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu kesatuan.
Perintisan psikologi transpersonal diawali dengan penelitian-penelitian tentang psikologi
kesehatan pada tahun 1960-an yang dilakukan oleh Abraham Maslow (Kaszaniak,2002).
Perkembangan psikologi transpersonal lebih pesat lagi setelah terbitnya Journal of
Transpersonal Psychology pada tahun 1969 dimasa disiplin ilmu psikologi mulai
mengarahkan perhatian pada dimensi spiritual manusia. Penelitian mengenai gejala-gejala
ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, exctasy, keadaran ruhaniah,
pengalaman transpersonal, aktualisasi dan pengalaman transpersonal mulai dikembangkan.
Aliran psikologi yang memfokuskan diri pada kajian-kajian transpersonal menamakan
dirinya aliran psikologi transpersonal dan memproklamirkan diri sebagai aliran ke empat
setelah psikoanalisis, behaviourisme dan humanistic. Psikologi transpersonal memfokuskan
diri pada bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASCs (Altered States
of Consciosness). Sejak 1969, ketika Journal of Transpersonal Psychology terbit untuk
pertamakalinya, psikology mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi spiritual manusia.
Penelitian yang dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience,
pengalaman mistis, ekstasi, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal pengalaman spiritual
dan kecerdasan spiritual (Zohar,2000).
Aliran psikologi Transpersonal ini dikembangkan oleh tokoh psikologi humanistic antara lain
: Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa aliran
ini merupakan perkembangan dari aliran humanistic. Sebuah definisi kekemukakan oleh
Shapiro yang merupakan gabungan dari pendapat tentang psikologi transpersonal : psikologi
transpersonal mengkaji tentang poitensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan
penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran
transendensi.
Menurut Maslow pengalaman keagamaan meliputi peak experience, plateu, dan farthes
reaches of human nature. Oleh karena itu psikologi belum sempurna sebelum memfokuskan
kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Maslow menulis (dalam Zohar, 2000).
I should say also that I consider Humanistic, Third Force psychology, to be trantitional, a
preparation for still higher Fourth Psychology, a transpersonal, transhuman centered in the
cosmos rather than in human needs and interest, going beyond humanness, identity, self
actualization, and the like.
Psikologi transpersonal lebih menitikberatkan pada aspek-aspek spiritual atau transcendental
diri manusia. Hal inilah yang membedakan konsep manusia antara psikologi humanistic
dengan psikologi transpersonal. McWaters (dalam Nusjirwan, 2001) membuat sebuah
diagram yang berbentuk lingkaran dimana setiap lingkaran mewakili satu tingkat
berfungsinya menusia dan tingkat kesadaran diri manusia.
Tiap tingkat dari bagian diatas menunjukan tingkat fungsi dan tingkat kesadaran manusia.
Lingkaran 1,2 dan 3 yang berturut-turut mewakili aspek fisikal, aspek emosional dan aspek
intelektual dari kekuatan batin individu. Lingkaran 4 menggambarkan pengintegrasian dari
lingkaran 1, 2 dan 3 yang memungkinkan individu berfungsi secara harminis pada tingkat
pribadi. Keempat lingkaran ini termasuk dalam kawasan personal manusia.
Tingkatan berikutnya termasuk dalam kategori wilayah transpersonal manusia. Lingkaran 5
mewakili aspek intuisi. Pada aspek ini mulai samara-samar menyadari bahwa ia bisa
mempersepsi tanpa perantara panca indra (extra sensory perception). Lingkaran 6 mewakili
aspek energi psikis (kekuatan bathiniah) di mana individu secara jelas menghayati dirinya
sebagai telah mentransedir/melewati kesadaran sensoris dan pada saat yang sama menyadari
pengintegrasian dirinya dengan medan-medan energi yang lebih besar. Fenomena-fenomena
para psikologi dapat dialami pada tingkat kesadaran ini. Lingkaran 7 mewakili bentuk
penghayatan paling tinggi-penyatuan mistis atau pencerahan, dimana diri seseorang
mentransendir dualintas dan menyatu dengan segala yang ada. Melewati ke tujuh tingkat
yang disebutkan itu, dikatakan lagi tingkat pengembangan potensial dimana semua tingkat
dihayati secara simultan.
Konsep dari McWater ini dapat menjelaskan bagaimana seseorang mencapai kualitas diri
melalui metode tafakur. Ketika seseorang berada pada fase pertama dalam bertafakur berarti
dia berada pada dunia fisik yaitu pengetahuan yang didapat dari fungsi indera. Sebuah
kejadian akan dipresepsi secara empiris yang langsung melalui pendengaran, penglihatan atau
alat indera lainnya, atau secara tidak langsung seperti pada fenomena imajinasi, pengetahuan
rasional yang abstrak, yang sebagaian pengetahuan ini tidak ada hubungannya dengan emosi.
Jika seseorang memperdalam cara melihat dan mengamati sisi-sisi keindahan, kekuatan, dan
keistimewaan lainnya yang dimiliki sesuatu, berarti ia telah berpindah dari pengetahuan yang
indrawi menuju rasa kekaguman ( tadlawuk) dimana pada tahap ini adalah tahap
bergejolaknya perasaan, disini kita melihat bahwa tahap ini sesuai dengan tahap kedua dari
McWater yaitu emosional. Pada tahap selanjutnya, dengan bertafakur aktiitas kognitif
seseorang muali delibtkan, disinilah tafakur sangat berperan dalam proses pengintegrasian
ketiga komponen tadi yaitu fisik, dmosi dan intelektual.
Kemudian jika hasil pengintegrasian seseorang ini ditransendensikan kepada Allah maka
kualitas seseorang tadi akan meningkat dari personal menuju transpersonal. Badri (1989)
mencontohkan seseorang yang sudah pada tahap transpersonal ini perasaan kagum manusia
terhadap keindahan dan keagungan penciptaan serta perasaan kecil dan hina di tengah malam,
yang ia saksikan merupakan fitrah yang sudah diberikan Allah kepada manusia untuk dapat
melihat semua yang ada di langit dan di bumi sehingga ia dapat menemukan sang pencipta,
merasakan khusuk terhada-Nya, dan dapat menyembah-Nya. Baik karena takut atau karena
cinta. Dari ungkapan tersebut dapat dita lihat bahwa seseorang yang mengakui bahwa
keindahan itu adalah ciptaan Allah maka berarti dia sudah memasuki dunia transpersonal.

6. Psikologi Positif
Psikologi yang berkembang dewasa ini dapat disebut sebagai psikologi negatif, karena
berkutat pada sisi-negatif manusia. Psikologi, karena itu, paling banter hanya menawarkan
terapi atas masalah-masalah kejiwaan. Padahal, manusia tidak hanya ingin terbebas dari
problem, tetapi juga mendambakan kebahagiaan. Adakah psikologi jenis lain yang menjawab
harapan ini?
Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori revolusi dalam
bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan dengan psikologi negatif,
sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-
potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan
berkelanjutan.
Dalam buku revolusioner yang ditulis dengan gaya populer ini, Seligman memperkenalkan
prinsip-prinsip dasar Psikologi Positif, ciri-ciri kebahagiaan yang autentik, dan faktor-faktor
pendukungnya. Dengan metode-metode praktis yang dirumuskannya, Anda dapat
memanfatkan temuan-temuan terbaru dari sains kebahagiaan untuk mengukur dan
mengembangkan kebahagiaan dalam hidup Anda.
Psikologi positif adalah cabang baru psikologi yang bertujuan diringkas pada tahun 2000
oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi Kami percaya bahwa psikologi positif
akan muncul fungsi manusia yang mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk
membangun berkembang dalam individu, keluarga, dan masyarakat. Psikologi positif
mencari untuk mencari dan membina jenius dan bakat , dan untuk membuat kehidupan
normal lebih memuaskan , tidak hanya untuk mengobati penyakit mental. Pendekatan ini
telah menciptakan banyak menarik di sekitar subjek, dan pada tahun 2006 studi di Universitas
Harvard yang berjudul Psikologi Positif menjadi kursus semester yang paling populer
semester.
Beberapa Psikolog Humanistik, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erick Fromm
mengembangnak teori dan praktek yang melibatkan kebahagiaan manusia. Baru-baru ini teori
yang dikembangkan oleh para psikolog humanistik ini telah menemukan dukungan empiris
dari studi oleh para psikolog positif, meskipun penelitian ini telah banyak dikritik. Teori ini
lebih berfokus pada kepuasan dengan sumber filosofismenya keagamaan dan psikologi
humanistic.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan perilaku manusia dalam kehidupan
sehari-hari. Dan selama ini yang kita ketahui, bidang psikologi selalu menghadapi hal-hal
yang berhubungan dengan jiwa seseorang, misalnya penyebab orang mengalami gangguan
jiwa, mengapa orang bisa mengalami stress, dan lain-lain. Yang selalu berhubungan dengan
sisi negatif seseorang.
Tetapi selami ini kita mengenal yang nama nya psikologi positif, yaitu lebih menekankan apa
yang benar/baik pada seseorang, dibandingkan apa yang salah/buruk. Sebelumnya, psikologi
biasanya selalu menekankan apa yang salah pada manusia, seperti soalan stress, depresi,
kegelisahan dan lain lain.
Itulah sebabnya, ada aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi
positif. Menurut Seligman, Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan
kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan
bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa
yang terbaik yang ada dalam diri kita. Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi,
dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif,
yang berfokus pada kelebihan manusia.
Berfokus terhadap penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi.
Sejak dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Sejak awal mula
munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai suatu
mekanik yang penuh dengan banyak masalah. Mashab ini kemudian melihat masalah yang
ada pada manusia, belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang melihat kenangan masa lalu
sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Apapun itu, psikologi yang berkembang
selama bertahun-tahun lamanya lebih memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang
ada pada manusia. Itulah sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut
sebagai psikologi negatif.
Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan,
humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Sebelumnya, psikologi lebih banyak
membahas hal-hal patologis dan gangguan-gangguan jiwa juga emosi negatif, seperti marah,
benci, jijik, cemburu dan sebagainya. Dalam Richard S. Lazarus, disebutkan bahwa emosi
positif biasanya diabaikan atau tidak ditekankan, hal ini tidak jelas kenapa demikian.
Kemungkinan besar hal ini karena emosi negatif jauh lebih tampak dan memiliki pengaruh
yang kuat pada adaptasi dan rasa nyaman yang subyektif dibanding melakukan emosi positif.
Contohnya, pada saat kita marah, maka ada rasa nyaman yang terlampiaskan, rasa superior,
dan sebagainya. Ada suatu penelitian mengatakan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari,
sehingga dia akan cenderung untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman.
Psikologi positif tidak bermaksud mengganti atau menghilangkan penderitaan, kelemahan
atau gangguan (jiwa), tapi lebih kepada menambah khasanah atau memperkaya, serta untuk
memahami secara ilmiah tentang pengalaman manusia.
Jadi intinya saat ini kita sudah mengenal yang nama nya psikologi positif, ada baiknya kita
merubah diri kita sedikit demi sedikit. Sebisa mungkin kita lebih mengeluarkan emosi positif
kita dibandingkan emosi negatif kita. Maka hasilnya pun akan positif.

7. Psikologi Lintas Budaya (Cross Culture Psychology)


Kata budaya sangat umum dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Paling sering budaya
dikaitkan dengan pengertian ras, bangsa atau etnis. Kata budaya juga kadang dikaitkan
dengan seni, musik, tradisi-ritual, atau peninggalan-peninggalan masa lalu. Sebagai sebuah
entitas teoritis dan konseptual, budaya membantu memahami bagaimana kita berperilaku
tertentu dan menjelaskan perbedaan sekelompok orang. Sebagai sebuah konsep abstrak, lebih
dari sekedar label, budaya memiliki kehidupan sendiri, ia terus berubah dan tumbuh, akibat
dari pertemuan-pertemuan dengan budaya lain, perubahan kondisi lingkungan, dan
sosiodemografis. Budaya adalah produk yang dipedomani oleh individu-individu yang
tersatukan dalam sebuah kelompok. Budaya menjadi pengikat dan diinternalisasi individu-
individu yang menjadi anggota suatu kelompok, baik disadari maupun tidak disadari. Pada
awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru
sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas
budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan
peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu
psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002)
misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas
budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.
Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan budaya? Secara sederhana Triandis
(1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku sosial,
Ekologi budaya sosialisasi kepribadian perilaku. Sementara itu Berry, Segall, Dasen,
& Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah
perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya.
Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan
fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan sosial-politik dan adaptasi biologis dan
adaptasi kultural merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga
hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan
pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter
psikologis tertentu.
Pada umumnya penelitian psikologi lintas budaya dilakukan lintas negara atau lintas etnis.
Artinya sebuah negara atau sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya. Dari
sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan persoalan,
apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya bila didalamnya ada
ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi seperti itu, penggunaan bahasa nasional
yakni bahasa indonesia menjadi dasar untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke
dalam satu kelompok budaya. Pada akhirnya tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan
untuk melakukan pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan
ras, etnis, bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain atau
malah kurang relevan.
Sebuah definisi mengenai budaya dalam konteks psikologi lintas budaya diperlukan guna
pemahaman yang sama mengenai apa yang dimaksud budaya dalam psikologi lintas budaya.
Culture as the set of attitudes, values, belifs, and behaviors shared by a group of people, but
different for each individual, communicated from one generation to the next (Matsumoto,
1996). Definisi Matsumoto dapat diterima karena definisi ini memenuhi semua perdebatan
sebelumnya; budaya sebagai gagasan, baik yang muncul sebagai perilaku maupun ide seperti
nilai dan keyakinan, sekaligus sebagai material, budaya sebagai produk (masif) maupun
sesuatu (things) yang hidup (aktif dan menjadi panduan bagi individu anggota kelompok.
Selain itu, definisi tersebut menggambarkan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial
sekaligus konstruk individu.
Psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada
pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang
dari berbagai budaya yang berbeda. Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya secara
sederhana hanya berarti dilibatkannya partisipasian dari latar belakang kultural yang berbeda
dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara para partisipan
tersebut.
Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran
dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya)
ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya
tertentu) (Matsumoto, 2004).
Menurut Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah
mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu
dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Pengertian ini
mengarahkan perhatian pada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia di dunia, dan
kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat perilaku terjadi. Terdapat
beberapa definisi lain (menekankan beberapa kompleksitas), antara lain:
a. Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian
suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan
metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi
pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi
universal.
b. Menurut Brislin, Lonner, dan Thorndike, 1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya
ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki
perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat
diramalkan dan signifikan.
c. Triandis (1980) mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian
sistematik mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam
budaya yang berbeda, yang dipengaruhi budaya atau mengakibatkan perubahan-perubahan
dalam budaya yang bersangkutan.
Setiap definisi dari masing-masing ahli di atas, menitikberatkan ciri tertentu, seperti misalnya
pertama, gagasan kunci yang ditonjolkan ialah cara mengenali hubungan sebab-akibat antara
budaya dan perilaku. Kedua, berpusat pada peluang rampat (generalizabiliti) dari
pengetahuan psikologi yang dianut. Ketiga lebih menitikberatkan pengenalan berbagai jenis
pengalaman budaya. Kempat, mengedepankan persoalan perubahan budaya dan hubungannya
dengan perilaku individual. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat ditarik
suatu kesimpulan bahwa psikologi lintas budaya adalah psikologi yang memperhatikan
faktor-faktor budaya, dalam teori, metode dan aplikasinya.
Bentuk bentuk dari teori Psikodinamik, Kognitif, Kontekstual, Behavioral, dan Sosial
Belajar

a. Bentuk dari teori Psikodinamik yaitu:


Bahwa teori Psikodinamik dalam psikologi perkembangan banyak dipengaruhi oleh bentuk
teori lain yaitu:
a) Teori Psikoseksual Freud
Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pelopor teori psikodinamik. Teori ini berfokus
pada masalah alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian seseorang. Freud yakin
bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting, yaitu id, ego dan super ego. Id
merupakan struktur kepribadian yang asli, yang berisi segala sesuatu yang secara psikologis
telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan severvoir energy psikis dan
meyediakan seluruh daya untuk menggerakkan kedua struktur kepribadian lainnya.
Ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realitas. Ego di sebut
sebagai "executive branch" (badan pelaksana) kepribadian karena ego membuat keputusan-
keputusan rasional dan memiliki fungsi tertentu. Superego adalah struktur kepribadian yang
merupakan badan moral kepribadian. Perhatian utamanya adalah memutuskan apakah sesuatu
itu benar atau salah, sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang
diakui oleh masyarakat.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa id, ego dan superego adalah suatu konsep
untuk menjelaskan komponen-komponen perkembangan biologis (id), psikologis (ego) dan
social (superego).

b) Teori Psikoseksual Freud


Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pelopor teori psikodinamik. Teori ini berfokus
pada masalah alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian seseorang. Freud yakin
bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting, yaitu id, ego dan super ego. Id
merupakan struktur kepribadian yang asli, yang berisi segala sesuatu yang secara psikologis
telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan severvoir energy psikis dan
meyediakan seluruh daya untuk menggerakkan kedua struktur kepribadian lainnya.
Ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realitas. Ego di sebut
sebagai "executive branch" (badan pelaksana) kepribadian karena ego membuat keputusan-
keputusan rasional dan memiliki fungsi tertentu. Superego adalah struktur kepribadian yang
merupakan badan moral kepribadian. Perhatian utamanya adalah memutuskan apakah sesuatu
itu benar atau salah, sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang
diakui oleh masyarakat.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa id, ego dan superego adalah suatu konsep
untuk menjelaskan komponen-komponen perkembangan biologis (id), psikologis (ego) dan
social (superego).
c) Teori Psikososial Erikson
Erik Erikson (1902-1994) adalah salah seorang teoritis ternama bidang perkembangan
rentang-hidup. Erikson mengatakan bahwa individu berkembang dalam tahap-tahap
psikososial, yang berbeda dengan tahap-tahap psikoseksual.
Menurut teori psikosoaial Erikson, kepribadian terbentuk ketika seseorang melewati
tahap psikososial sepanjang hidupnya. Perkembangan manusia dibedakan berdasarkan
kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Empat tahap pertama terjadi pada masa
bayi dan masa kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolesan, dan tiga thap terakhir pada
masa dewasa dan usia tua. Dari delapan tahap perkembangan tersebut, Erikson lebih
memberikan penekanan pada masa adolesen.
Walau begitu, cara pendekatan yang bersifat normopsikologis ditinjau dari pendekatan
psikologi sepanjang hidup cukup relevan untuk ditinjau sejenak. Erikson membagi hidup
manusia menjadi beberapa fase atas dasar proses proses tertentu beserta akibat akibatnya.
Proses- proses tadi dapat berakhir baik atau tidak baik. Bila berakhir baik dapat
memperlancar perkembangan, bila tidak baik maka akan menghambatnya. Dari segi
pandangan psikologi perkembangan, maka pada setiap fase seseorang mempunyai tugas
yang harus diselesaikan dengan baik.1[4]
b. Bentuk dari teori Kognitif
Dalam hal ini studi tentang perkembangan kognitif didominasi oleh dua bentuk teori, yaitu
teori perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi.
a) Teori Kognitif Piaget
Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan
bagaimana anak beradaptasi dengan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di
sekitarnya. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusun
pengetahuannya mengenai realitas dengan kemampuan berupa tindakan yang termotivasi
secara sendirinya terhadap lingkungan.2[5] Piaget percaya bahwa pemikiran anak-anak
berkembang menurut tahap-tahap atau periode yang terus bertambah kompleks.
Untuk menunjukkan struktur kognitif yang mendasari pola-pola tingkah laku yang
terorganisir, piaget menggunakan istilah skema dan adaptasi. Skema adalah proses atau cara
mengorganisir dan merespons berbagai pengalaman dengan kata lain skema adalah suatu pola
sistematis dari tindakan, perilaku, pikiran dan strategi pemecahan masalah yang memberikan
suatu kerangka pemikiran dalam menghadapi berbagai tantangan dan jenis situasi. Adaptasi
adalah sebuah istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan pentingnya pola hubungan
individu dengan lingkungannya dalam proses perkembangan kognitif.
Menurut Piaget adaptasi terdiri dari dua proses yang saling melengkapi, yaitu asimilasi
dari sudut biologi adalah intregasi Antara elemen-elemen eksternal terhadap struktur yang
sudah lengkap pada organisme. Akomodasi adalah menciptakan langkah baru atau
memperbarui istilah lama untuk menghadapi tantangan baru. Jadi, kalau pada asimilasi terjadi
perubahan pada objeknya, sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan objek yang ada di luar
dirinya.
b) Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi merupakan teori alternative terhadap teori kognitif Piaget.
Teori pemrosesan informasi ini didasari atas tiga asumsi umum, pertama, pemikiran
dipandang sebagai suatu system penyimpanan dan pengembalian informasi. Kedua, individu-
individu memproses informasi dari lingkungan, dan ketiga, terdapat keterbatasan pada
kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu (Zigler & Stevenson, 1993).
c. Bentuk dari teori kontekstual
Dalam teori kontekstual ini ada beberapa bentuk teori yang mempengaruhi, yaitu:
a) Teori Etologis
Etologi merupakan studi tentang perkembangan perilaku evolusi spesies dalam
lingkungan alamiahnya. Teori etologi mengenai perkembangan menekankan bahwa perilaku
sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait dengan evolusi dan ditandai oleh periode-periode
kritis atau sensitive. Dengan demikian, pendekatan etologi difokuskan pada asal-usul evolusi
dari tingkah laku dan menekankan tingkah laku yang terjadi dalam lingkungan alamiah.
Pendekatan etologis menetapkan metode-metode observasi yang dapat meningkatkan
kualitas studi tentang perekmbangan manusia.
b) Teori Ekologis
Teori Ekologis lebih menekankan pada system lingkungan menurut Urie Brofenbrenner
terhadap perkembangan mengajukan bahwa konstek di mana berlangsung perkembangan
individu, baik kognitif, sosioemosional, kapsitas dan karakteristik motivasional, maupun
partisipasi aktifnya, merupakan unsur-unsur penting bagi perubahan perkembangan. Dalam
teori ekologisnya, Brofenbrenner menggambarkan empat kondisi lingkungan di mana
perkembangan terjadi, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem dan makrosistem.
d. Bentuk dari teori Behavioral, dan Sosial Belajar
Dalam teori Behavioral ada tiga versi tradisi behavioral, yaitu Pavlov dan kondisioning
klasik, B.F. Skinner dan kondisioning operant, serta Bandura dan teori belajar sosial.
a.) Pavlov dan Kondisioning Klasik
Paradigma kondisioning klasik merupakan karya besar Ivan P. Pavlov (1849 1936)
ilmuan Rusia yang mulai mengembangkan teori melalui percobaannya tentang anjing dan air
liurnya. Proses yang ditemukan oleh Pavlov adalah perangsang yang asli dan netral atau
rangsangan biasanya secara berulang ulang dipasangkan dengan unsur penguat, akan
menyebabkan suatu reaksi. Perangsang netral tadi disebut perangsang bersyarat atau US
(unconditioned stimulus). Reaksi alami (biasa) atau reaksi ynag tidak dipelajari disebut reaksi
bersyarat atau CR (conditioned response). Pavlov mengaplikasikan istilah istilah tersebut
sebagai berikut: suatu penguat ialah setiap agen, seperti makanan yang biasa mengurangi
sebagian dari suatu kebutuhan.

b.) B.F. Skinner dan Kondisioning Operant


B.F. Skinner adalah seorang psikolog dari Harvard yang telah berjasa mengembangkan
teori perilaku dari Watson. Pandangannnya tentang kepribadian disebut dengan
behaviorisme radikal. Behaviorisme menekankan studi ilmiah tentang respons perilaku
yang dapat diamati dan determinan lingkungan. Dalam behaviorisme Skinner, pikiran, sadar
atau tidak sadar, maka tidak akan diperlukan untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan.
Bagi Skinner perkembangan adalah perilaku. Oleh karena itu para behavioris yakin bahwa
perkembangan dipelajari dan sering berubah sesuai dengan pengalaman pengalaman
lingkungan.
c.) Bandura dan Teori Belajar Sosial
Untuk menjelaskan bagaimana perilaku sosial belajar anak, Bandura menggunakan
prinsip prinsip pengkondisian klasik dan pengkondisian operan. Bandura yakin bahwa anak
belajar tidak hanya melalui pengalamannya tetapi juga melalui pengamatan, yakni mengamati
apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar mengamati, yang disebut juga
modeling atau imitasi, individu secara kognitif menampilkan tingkah laku orang lain dan
kemudian barangkali mengadopsi tingkah laku tersebut dalam dirinya sendiri.
Model belajar terbaru yang dikembangkan Bandura meliputi tingkah laku, pribadi dan
lingkungan. Hubungan timbal balik antara perilaku, pengaruh lingkungan dan kognisi adalah
faktor kunci dalam memahami bagaimana individu belajar. Faktor faktor perilaku, kognitif
dan perilaku lainnya, serta pengaruh lingkungan, bekerja secara interaktif. Perilaku dapat
mempengaruhi kognisi dan sebaliknya kegiatan kognitif seseorang dapat mempengaruhi
lingkungan, pengaruh lingkungan dapat mengubah proses pemikiran seseorang dan
seterusnya