Anda di halaman 1dari 4

1.

Definisi Kode Etik


Kode Etik berasal dari dua kata, yaitu Kode dan Etik, yaitu kode yang berarti tulisan yang
mempunyai arti atau maksud tertentu. Sedangkan etik, berarti aturan tata susila, sikap atau
akhlak. Dengan demikian, kode etik secara kebahasaan berarti ketentuan atau aturan yang
berkenaan dengan tata susila atau akhlak.
Sedangkan menurut Bertens, kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan
diterima oleh kelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada
anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu profesi itu dimata
masyarakat.

2. Definisi Kode Etik Notaris


Kode etik notaris menurut definisi Ikatan Notaris Indonesia (INI) adalah seluruh kaedah
moral yang ditentukan oleh perkumpulan yang berlaku bagi seluruh anggota
perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris
baik dalam pelaksanaan jabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik notaris
memuat unsur material tentang kewajiban, larangan, pengecualian dan sanksi yang
akan dijatuhkan terhadap seorang notaris yang terbukti melakukan pelanggaran Kode
etik, selain itu diatur juga mengenai tata cara penegakan kode etik.1

Kode etik Notaris adalah tuntunan, bimbingan, pedoman moral atau kesusilaan Notaris baik
selaku pribadi maupun pejabat umum yang diangkat oleh pemerintah dalam rangka
memberikan pelayanan kepada masyarakat umum khususnya dalam bidang pembuatan
akta.(lihat Liliana Tedjosaputro. Etika Profesi Notaris Dalam Penegakan Hukum Pidana,
Bigraf Publishing, Yogyakarta. 1995, him 29.)

3. Mengapa Kode etik itu Penting


Sumaryono menjelaskan beberapa fungsi kode etik yaitu:
- Sebagai sarana Kontrol Sosial. Kode etik memberikan semacam kriteria prinsip
profesional yang telah digariskan.
- Mencegah pengawasan atau campur tangan pihak lain. Kode etik profesi telah
menentukan standarisasi kewajiban profesional anggota kelompok profesi, sehinggga
pemerintah atau masyarakat tidak perlu lagi campur tangan untuk menentukan
bagaiamana seharusnya anggota kelompok profesi melaksanakan kewajibannya.
- Untuk meningkatkan tingkat profesionalitasi (Sumaryono mengistilahkan patokan
kehendak yang tinggi) guna peningkatan mutu pelayanan yang baik kepada masyarakat
umum yang membutuhkan jasa mereka.

1
Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia. Jati diri Notaris Indonesia dulu, sekarang, dan di masa
datang. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hlm.194.
4. Apa yang dimaksud dengan hakikat manusia?
Hakikat manusia maksudnya adalah esensi dari entitas manusia. Hakikat manusia adalah
ciptaan Allah subhanahu wa taala yang paling sempurna karena dilengkapi oleh
Penciptanya dengan akal. Dengan akal manusia dapat mempelajari, memahami dan
mengikuti dengan baik kebenaran yang bersumber dari Sang Pencipta, yaitu Al-Quran dan
Hadits, serta berusaha mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan. Adapun akal
harus disyukuri keberadaannya dan ditempatkan pada tempatnya, yaitu tepat dibelakang
kebenaran yang bersumber dari Sang Pencipta, artinya selama tidak melanggar hal tersebut
maka silahkan berpedoman pada akalnya. Pemikiran manusia berbeda-beda antara satu
manusia dengan manusia lainnya, terlebih lagi berpedoman pada perasaan, yang lebih
banyak unsur subjektif dan biasnya. Hakikat manusia adalah hamba dari Sang Pencipta, oleh
karena itu kebenaran tetaplah kebenaran walaupun akal manusia menganggapnya buruk,
sebaliknya, keburukan tetaplah keburukan walaupun akal manusia menganggapnya baik.

5. Mengapa hakikat manusia itu penting dalam mata kuliah Kode Etik
Karena esensi dari kode etik adalah bagaimana agar anggota kelompok profesi, yaitu
manusia, bisa mencapai ketentraman dan keteraturan dalam menjalani profesi tersebut.
Hakikat manusia sesuai dengan fitrah dan kodratnya adalah suka dengan ketentraman,
kebermanfaatan dan keteraturan, yang tujuannya adalah kebahagiaan. Bagaimana supaya
manusia dapat mencapai kebahagiaan itu dalam menjalankan profesinya, menjadi isu yang
penting dalam Membahas Kode Etik Profesi.

6. Sebutkan Persamaan dan Perbedaan antara: Etika, Moral dan Agama


Persamaan:
Pada sasarannya, yaitu meletakkan dasar atau fundamen agar manusia dapar membedakan
mana perbuatan atau tindakan yang baik dan mana yang buruk
Perbedaannya:
1. Perbedaan Etika dan Moral
De Vos (1987) menyatakan, Etika adalah ilmu pengetahuan tentang moral. Etika adalah
ilmu pengetahuan dan moral adalah objek ilmu pengetahuan. Moral mengajarkan
bagaimana seharusnya hidup sedangkan etika bertindak sesuai dengan apa yang telah
diajarkan dalam pendidikan moral. Moral menyediakan rel kehidupan sedangkan etika
berjalan di atas rel kehidupan.
2. Perbedaan Etika/Moral dan Agama
Etika/Moral adalah kepercayaan yang tidak mengandung unsur pengabdian atau
peribadatan, sedangkan agama adalah kepercayaan yang mengandung unsur
pengabdian atau peribadatan.
Etika/Moral mempersoalkan kehidupan manusia di dunia, sedangkan agama
mengajarkan adanya dua macam kehidupan yaitu dunia dan akhirat.
Etika/Moral bersumber dari hasil pemikiran dan pengalaman manusia, sedangkan agama
bersumber dari Tuhan yang Maha Esa.
7. Sebutkan 3 Jenis Pekerjaan dan Sebutkan Kriterianya masing-masing!
1. Akuntan Publik
Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik
-Memiliki sertifikat tanda lulus ujian profesi akuntan publik yang sah;
-Berpengalaman praktik memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3;
-Berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
-Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
-Tidak pernah dikenai sanksi administratif berupa pencabutan izin Akuntan Publik;
-Tidak pernah dipidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun
atau lebih;
-Menjadi anggota Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang ditetapkan oleh Menteri; dan
-Tidak berada dalam pengampuan

2. Hakim Agung Karier (UU MA)


- warga negara Indonesia;
-bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
-berijazah magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain
yang mempunyai keahlian di bidang hukum;
-berusia sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) tahun;
-mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
-berpengalaman paling sedikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim, termasuk paling
pernah menjadi hakim tinggi; dan
-tidak pernah dijatuhi sanksi pemberhentian sementara akibat melakukan
pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim

3. Konsultan HaKI
Pasal 3 PP 2/2005 tentang Konsultan Hak kekayaan Intelektual:
a. warga negara Republik Indonesia;
b. bertempat tinggal tetap di wilayah Negara Republik Indonesia;
c. berijazah sarjana S1;
d. menguasai bahasa Inggris;
e. tidak berstatus sebagai pegawai negeri;
f. lulus pelatihan Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (beserta ujiannya).

Kemudian calon konsultan HKI haruslah mengajukan permohonan tertulis kepada


Menteri Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal HKI untuk dapat diangkat menjadi
konsultan HKI (lihat Pasal 2 ayat (1) PP 2/2005).

Permohonan menjadi Konsultan HKI

Permohonan harus dibuat dalam rangkap 6 (enam), dengan melampirkan (lihat Pasal 2
ayat (2) PP 2/2005):
a. Daftar Riwayat Hidup;
b. fotokopi kartu tanda identitas yang sah;
c. pasfoto terbaru sebanyak 6 (enam) lembar ukuran 2x3 centimeter dan 7 (tujuh)
lembar ukuran 3x4 centimeter;
d. fotokopi ijazah yang dilegalisir;
e. keterangan lulus tes bahasa Inggris setara dengan TOEFL Internasional dengan nilai
minimal 400; dan
f. surat pernyataan bahwa tidak berstatus sebagai pegawai negeri.

Calon konsultan HKI yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut di atas


dapat diangkat menjadi Konsultan HKI dengan Keputusan Menteri Hukum dan HAM.