Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengingat tingginya investasi awal dalam aktifitas operasi perusahaan, entitas
perlu mempertimbangkan sumber pendanaan yang tepat berdasarkan kinerja keuangan
perusahaan. Menurut Subramanyam dan Wild (2010) aktivitas bisnis dapat didanai
dengan kewajiban atau ekuitas, atau keduanya. Dimana kewajiban merupakan utang
untuk mendapatkan pendanaan yang membutuhkan pembayaran dimasa depan dalam
bentuk uang, jasa, atau aset lainnya. Kewajiban (liabilities) dapat berupa pendanaan
atau operasi dan biasanya didahulukan daripada pemegang ekuitas. Kewajiban
pendanaan merupakan seluruh bentuk pendanaan kredit seperti salah satunya adalah
sewa.
Kegiatan leasing secara resmi diperbolehkan beroperasi di Indonesia setelah
keluar surat keputusan bersama antara Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan
Menteri Perdagangan Nomor Kep. 122/MK/IV/2/1974, Nomor 32/M/SK/2/74 dan
nomor 30/Kpb/I/74 tanggal 7 Febuari 1974. Sejak saat itu, perkembangan sewa di
Indonesia dapat terlihat dari munculnya perusahaan-perusahaan sewa guna usaha yang
ada di Indonesia, dan sampai saat ini kegiatan sewa guna usaha di Indonesia dapat
dijadikan sebagai salah satu bentuk pendanaan untuk mendanai investasi aset operasi
perusahaan. Dengan melakukan kegiatan leasing, perusahaan dapat mengurangi
pengeluaran investasi awal yang besar dan sebagai gantinya pelunasan lease dapat
dilakukan bertahap selama perioda yang telah ditentukan. Selain itu, penggunaan
alternatif pembiayaan dengan cara leasing dapat memberikan keuntungan yang lebih
besar bagi perusahaan di Indonesia dibandingkan dengan penggunaan alternatif
pembiayaan untuk penyediaan barang modal lainnya seperti kredit dari bank maupun
pembiayaan modal sendiri. Dengan kata lain, leasing dapat dijadikan sebagai salah
satu kegiatan ekonomi yang signifikan bagi banyak perusahaan di Indonesia.
Subramanyam dan Wild (2010) mengungkapkan bahwa pendanaan sewa dapat
dikatakan menguntungkan karena beberapa hal. Pertama, penjual menggunakan sewa
untuk meningkatkan penjualan dengan menyediakan pendanaan bagi pembeli.
Pendapatan bunga dari sewa sering kali menjadi sumber pendapatan utama bagi
penjual tersebut. Di sisi lain, sewa merupakan cara yang nyaman bagi pembeli untuk
mendanai pembelian asetnya. Pajak juga menjadi pertimbangan dalam sewa.
Pembayaran pajak secara keseluruhan dapat dikurangi jika kepemilikan berada di
pihak yang berada dalam golongan pajak yang lebih tinggi.
Perusahaan pada umumnya memiliki aktiva tetap dan melaporkannya di
neraca, tetapi sesungguhnya penggunaan aktiva tetap (seperti bangunan dan peralatan)
itulah yang penting, bukan kepemilikannya. Salah satu cara untuk dapat menggunakan
aktiva adalah dengan membelinya, sementara cara lainnya adalah dengan me-lease atau
menyewa guna usaha aktiva tersebut. Sebelum tahun 1950-an, leasing umumnya
dikaitkan dengan real estate-tanah dan bangunan. Akan tetapi, dewasa ini sudah bisa
dikatakan bahwa semua jenis aktiva dapat dilease, dan pada tahun 1997 sekitar 30
persen dari semua peralatan modal baru diperoleh perusahaan dengan cara lease.
Kontrak sewa guna telah lama menjadi alternative kepemilikan suatu aktiva.
Sebagai misal, seseorang mungkin memilih menyewa rumah daripada memilikinya.
Demikian juga perusahaan mungkin memilih untuk menyewa suatu aktiva daripada
membelinya. Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa dalam analisis ekonomi tentang
sewa guna, hendaknya kita tetap memisahkan keputusan investasi dari keputusan
pendanaan. Kekisruhan pemisahan tersebut akan mengakibatkan kita melakukan
pembandingan yang salah antara keputusan menyewa/memiliki ataukah keputusan
menyewa/meminjam.

B. Rumusan Masalah
Masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
a) Apa pengertian dari Leasing ?
b) Apa saja Jenis-jenis Leasing ?
c) Bagaimana Mekanisme Leasing ?
d) Bagaimana Penggolongan Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing) ?
e) Apa Saja Kriteria Yang Berlaku Baik Bagi Lesse Maupun Lessor ?
f) Apa Manfaat dan Kekurangan Leasing?
g) Bagaimana Pengaruh Leasing terhadap Laporan Keuangan?
C. Tujuan Penulisan
a) Mengetahui arti dari Leasing.
b) Mengetahui jenis-jenis Leasing.
c) Mengetahui Mekanisme Leasing
d) Mengetahui Penggolongan Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing)
e) Mengetahui Kriteria Yang Berlaku Baik Bagi Lesse Maupun Lessor
f) Mengetahui Manfaat dan Kekurangan Leasing
g) Mengetahui Pengaruh Leasing terhadap Laporan Keuangan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN LEASING
Menurut PSAK No. 30 paragraf 4 (IAI, 2012) sewa pembiayaan (finance
lease) adalah sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat
yang terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat dialihkan
atau dapat juga tidak dialihkan. Sewa operasi (operating lease) adalah sewa selain
sewa pembiayaan. Berdasarkan PSAK No. 30 paragraf 7 dan PSAK No. 30 paragraf 8
(IAI, 2012), klasifikasi sewa yang digunakan dalam pernyataan ini didasarkan atas
sejauh mana risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset sewaan berada
pada lessor atau lessee. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika
sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait
dengan kepemilikan aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa
tidak mengalihkan secara substansial risiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan aset.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
1169/KMK.01/1991 tentang kegiatan sewa guna usaha (leasing), sewa guna usaha
(leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik
secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha
tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu
tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.
Leasing bukan merupakan fenomena baru, namun di negara-negara berkembang,
inisiatif menawarkan leasing bagi usaha kecil dan mikro masih sangat jarang. Hal ini
sangat mengejutkan mengingat leasing memiliki manfaat besar atas kredit. Manfaat
yang paling penting adalah bahwa pengusaha dapat memulai peralatan sebelum mereka
benar-benar memilikinya. Artinya, selama periode pembayaran angsuran leasing,
pengusaha telah dapat merealisasikan pendapatan ekstra melalui penggunaan peralatan
tersebut.
Lessor adalah perusahaan pembiayaan atau perusahaan sewa-guna-usaha yang
telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan dan melakukan kegiatan sewa-
guna-usaha. Lessor hanya diperkenankan memberikan pembiayaan barang modal
kepada lessee yang telah memiliki NPWP, mempunyai kegiatan usaha dan atau
pekerjaan bebas. Lessor wajib menempelkan plakat atau etiket pada barang modal yang
disewa-guna-usahakan dengan mencantumkan nama dan alamat lessor serta pernyataan
bahwa barang modal dimaksud terikat dalam perjanjian sewa-guna-usaha. Plakat atau
etiket ini harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dengan mudah barang modal
tersebut dapat dibedakan dari barang modal lainnya yang pengadaannya tidak dilakukan
secara sewa-guna-usaha. Selama masa sewa-guna-usaha, lessee bertanggung jawab
untuk memelihara agar plakat atau etiket ini tetap melekat pada barang modal yang
disewa-guna-usaha.
Lessee adalah perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal
dengan pembiayaan dari lessor. Lessee dilarang menyewa-guna-usahakan kembali
barang modal yang disewa-guna-usaha kepada pihak lain, kecuali Lessee yang memang
bergerak di bidang usaha persewaan. Dalam hal lessee memilih untuk memperpanjang
jangka waktu perjanjian sewa-guna-usaha, maka nilai sisa barang modal yang disewa-
guna-usahakan digunakan sebagai dasar dalam menetapkan piutang sewa-guna-
usaha. Pada saat berakhirnya masa sewa-guna-usaha dari transaksi sewa-guna-usaha
dengan hak opsi, lessee dapat melaksanakan opsi yang telah disetujui bersama pada
permulaan masa sewa-guna-usaha. Dalam hal lessee menggunakan hak opsi membeli
maka dasar penyusutannya adalah nilai sisa barang modal. Opsi untuk membeli
dilakukan dengan melunasi pembayaran nilai sisa barang modal yang disewa-guna-
usaha.

B. JENIS JENIS LEASING


a) Finance Leasing (sewa guna usaha pembiayaan)
Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah
pihak yang membiayai penyediaan barang modal. Penyewa guna usaha (lessee)
biasanya memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas nama perusahaan
sewa guna usaha, sebagai pemilik barng modal tersebut, melakukan pemesanan,
pemeriksaan dan pemeliharaan barang modal yang menjadi objek transaksi
leasing.
Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut
kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada lessee.
Sebagai imblan atau jasa penggunaan barang tersebut lesse akan membayar
secara berkala kepada lessor sejumlah uang yang beruba uang rental untuk
jangka waktu tertentu yang telah disepakati bersama.

b) Operating lease (sewa menyewa biasa)


Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha membeli
barang modal dan selanjutnya disewagunakan kepada penyewa guna usaha.
Berbeda dengan finance lease, jumlah seluruh pembayaran sewa guna usaha
berkala dalam operating lease tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan
untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan bunganya. Perbedaan
ini disebabkan perusahaan sewa guna usaha mengharapkan keuntungan justru
dari penjualan barang modal yang disewa guna usahakan atau melalui beberapa
kontrak sewa guna usaha lainnya.
Perusahaan sewa guna usaha dalam operating lease biasanya
bertanggung jawab atas biaya biaya pelaksanaan sewa guna usaha seperti
asuransi, pajak maupun pemeliharaan barang modal yang bersangkutan.

c) Sales Typed Lease (sewa guna usaha penjualan)


Suatu transaksi sewa guna usaha, dimana produsen atau pabrikan juga
berperan sebagai perusahaan sewa guna usaha sehingga jumlah traksaksi
termasuk bagian laba sudah diperhitungkan oleh produsen atau pabrikan.

d) Leveraged Lease
Suatu transaksi sewa guna usaha, selain melibatkan lessor dan lessee
juga melibatkan bank atau kreditor jangka panjang yang membiayai bagian
terbesar transaksi.

e) Cross Border Lease


Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang
dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor
dan lesse yang dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian
antara lessor dan lesse terletak pada dua negara berbeda.
C. MEKANISME LEASING
Dalam transaksi leasing sekurang-kurangnya melibatkan 4 pihak yang
berkepentingan,
antara lain:

a) Lessor
Yaitu perusahaan leasing atau pihak yang memberikan jasa pembiyaan
kepada pihak lesse dalam bentuk barang modal. Dalam finance lease, lessor
bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan untuk
membiayai penyediaan barang modal dengan mendapatkan keuntungan.
Sedangkan dalam operating lease, lessor bertujuan untuk mendapatkan
keuntungan dari penyediaan barang dan pemberian jasa-jasa yang berkenaan
dengan pemeliharaan dan pengoperasian barang modal tersebut.

b) Lesse
Yaitu perusahaan atau pihak yang memperoleh pembiyaan dalam bentuk
barang modal dari lessor. Dalam finance lease, lesse bertujuan untuk
mendapatkan pembiyaan berupa barang atau peralatan dengan cara pembayaran
angsuran atau secara berkala. Sedangkan dalam operating lease, lesse bertujuan
dapat memenuhi peralatannya disamping tenaga operator dan perawatan alat
tersebut tanpa resiko bagi lesse terhadap kerusakan.

c) Pemasok
Yaitu perusahaan atau pihak yang mengadakan atau menyediakan barang
untuk dijual kepada lesse dengan pembayaran secara tunai oleh lessor. Dalam
finance lease, pemasok langsung menyerahkan barang kepada lesse tanpa
melalui pihak lessor sebagai pihak yang memberikan pembiyaan. Sedangkan
dalam operating lease, pemasok menjual barangnya langsung kepada lessor
dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak secara tunai
maupun secara berkala.

d) Bank atau Kreditor


Dalam suatu perjanjian kontrak leasing, pihak bank atau kreditor tidak
terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut tetapi bank memegang peranan
dalam hal penyediaan dana kepada lessor. Dalam hal ini, tidak menutup
kemungkinan pemasok menerima kredit dari bank.

Keterangan gambar:
1. Lesse menghubungi pemasok untuk pemilihan dan penentuan jenis barang,
spesifikasi, harga, jangka waktu penagihan, dan jaminan purna jual atas barang yang
akan disewa.
2. Lesse melakukan negosiasi dengan lesor mengenai kebutuhan pembiyaan barang
modal. Dalam hal ini, lesse dapat meminta lease quotation yang tidak mengikat dari
lessor. Dalam quotation terdapat sayrat-syarat pokok pembiyaan leasing, antara lain:
keterangan barang, harga barang, cash security deposit, residual value, asuransi, biaya
administrasi, jaminan uang sewa (lease rental), dan persyaratan lainnya.
3. Lessor mengirimkan letter of offer atau commitment letter kepada lesse yang berisi
syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayai barang modal yang
dibutuhkan lesse menandatangani dan mengembalikannya kepada lessor.
4. Penandatangan kontrak leasing setelah semua persyaratan dipenuhi lesse dimana
kontrak tersebut mencakup hal-hal: pihak-pihak yang terlibat , hak milik, jangka waktu,
jasa leasing, opsi bagi lesse, penutupan asuransi, tanggung jawab atas objek leasing,
perpajakan jadwal pembayaran angsuran sewa dan sebagainya.
5. Pengiriman order beli kepada pemasok disertai instruksi pengiriman barang kepada
lesse sesuai dengan tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui.
6. Pengiriman barang dan pengecekan barang oleh lesse sesuai peranan serta
menandatangani surat tanda terima dan perintah bayar yang selanjutnya diserahkan
kepada pemasok.
7. Penyerahan dokumen oleh pemasok kepada lessor termasuk faktur dan bukti-bukti
kepemilikan barang lainnya.

PROSEDUR MEKANISME LEASING


Dalam melakukan perjanjian leasing terdapat prosedur dan mekanisme yang
harus dijalankan yang secara garis besar dapat diuraikan sebaga berikut :
1. Lessee bebas memilih dan menentukan peralatan yang dibutuhkan, mengadakan
penawaran harga dan menunjuk supplier peralatan yang dimaksudkan.
2. Setelah lessee mengisi formulir permohonan lease, maka dikirimkan kepada lessor
disertai dokumen lengkap.
3. Lessor mengevakuasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk memberikan fasilitas
lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui lessee (lama kontrak pembayaran sew
lease), setelah ini maka kontrak lease dapat ditandatangani.

4. Pada yang sama, lessee dapat menandatangani kontrak asuransi untuk peralatan yang
dilease dengan perusahaan asuransi yang disetujui lessor, seperti yang tercantum dalam
kontrak lease. Antara lessor dan perusahaan asuransi terjalin perjanjian kontrak utama.
Kontrak pembelian peralatan akan ditandatangani lessor dengan supplier peralatan
tersebut.
5. Supplier dapat mengirimkan peralatan yang dilease ke lokasi lesse Untuk
mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut, supplier akan
menandatangani perjanjian purna jual.
6. Lessee menandatangani tanda terima peralatan dan menyerahkan kepada supplier.
7. Supplier menyerahkan tanda terima (yang diterima dari lesse), bukti pemilikan dan
pemindahan pemilikan kepada supplier.
8. Lessor membayar harga peralatan yang dilease kepada supplier.
9. Lesse membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal pembayaran yang
telah ditentukan dalam kontrak lease.
Perjanjian yang dibuat antara lessor dengan lessee disebut lease agrement, dimana
didalam perjanjian tersebut memuat kontrak kerja bersyarat antara kedua belah pihak.
Isi kontrak yang dibuat secara umum memuat antara lain:
1. Nama dan alamat lease
2. Jenis barang modal yang diinginkan
3. Jenis atau jumlah barang yang dileasekan
4. Syarat syarat pembayaran
5. Syarat kepemilikan atau syarat lainnya
6. Biaya biaya yang dikenakan
7. Sangsi sangsi apabila lesse ingkar janji

Setiap fasilitas leasing yang diberikan oleh perusahaan leasing kepada pemohon
(Lessee) akan dikenakan berbagai macam biaya yang dibebankan terhadap lesse
tidaklah sama.
D. PENGGOLONGAN PERUSAHAAN SEWA GUNA USAHA (LEASING)
a) Independent Leasing Company
Perusahaan sewa guna usaha merupakan suatu perusahaan yang berdiri
sendiri, tidak terkait dengan suatu produsen barang modal sehingga dalam
pembiayaan barang modal yang dilakukan oleh independent leasing company ini
dapat beragam ( tidak terfokus kepada satu merek barang modal, tetapi dapat
terdiri dari berbagai merek maupun jenisnya).

b) Non Independent Leasing Company


Perusahaan sewa guna usaha ini merupakan suatu perusahaan yang
mempunyai hubungan langsung dengan produsen barang modal, dimana
pendirian perusahaan sewa guna usaha untuk meningkatkan penjualan barang
modal yang diproduksi oleh produsen yang bersangkutan.

c) Captive lessor
Sering juga disebut two party lessor yang melibat dua pihak.

d) Lease broker atau packager


Berfungsi mempertemukan calon lesse dengan pihak lessor yang
membutuhkan suatu barang modal dengan cara leasing tetapi lease broker ini
tidak memiliki barang atau peralatan untuk menangani transaksi leasing untuk
atas namanya.

E. KRITERIA YANG BERLAKU BAIK BAGI LESSE MAUPUN LESSOR :


1. Lease tersebut mengalihklan pemilikan harta kepada lesse pada ahir periode lease.
2. Lease tersebut memuat opsi pembelian dengan harga murah.
3. Jangka Lease sama dengan atau lebih dari 75% taksiran umur ekonomis harta
yang lease.
4. Nilai sekarang pembayaran Lease mnimum, tidak termasuk bagian yang
merupakan biaya eksekutori, sama dengan atau lebih besar daripada 90% nilai
pasar wajar harta.

Kriteria tambahan yangh berlaku bagi lessor :


1. Ketertagihan (collectibility) pembayaran lease minimum cukup dapat diramalkan.
2. Biaya yang masih akan dikeluarkan oleh lessor telah diketahui.

F. MANFAAT DAN KEKURANGAN LEASING


a) Manfaat Leasing
Pembiayaan melalui leasing memberikan beberapa keuntungan anatar lain:
Menghemat modal
Untuk memulai usaha, lessee tidak perlu menyediakan dana
dalam jumlah besar untuk menyiapkan barang-barang modal, dana yang
tersedia dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih urgent.
Diversifikasi sumber-sumber pembiayaan
Adanya sumber pembiyaan selain dari bank akan memberikan
keleluasaan dan alternatif untuk membiayai usahanya tanpa khawatir
adanya kebijaksanaan pengetatan ekspansi kredit perbankan yang akan
membahayakan kelanjutan usahanya.
Persyaratan yang kurang ketat dan lebih fleksibel
Dipandang dari sisi perjanjiannya, leasing lebih luwes karena
dapat dengan lebih mudah menyesuaikan dengan keadaan keuangan
lessee.
Biaya lebih murah
Penggunaan suatu brang atau peralatan melalui metode leasing
jauh lebih murah dibandingkan dengan kredit bank berdasarkan
perhitungan nilai sekarang (presen value)
Di luar neraca (off-balance sheet)
Tidak adanya ketentuan yang mengharuskan untuk
mencantumkan transaksi leasing dalam neraca perusahaan, member daya
tarik tersendiri bagi lessee yang berartiprosedur pembelian aktiva tidak
perlu dipenuhi secara terperinci karena masih dalam batas kewenangan
direksi.
Menguntungkan arus kas
Keluwesan pengaturan pembayaran sewa sangatlah penting
dalam perencanaan arus dana kerena pengaturan ini akan mempunyai
dampak yang berarti bagi pendapatan lessee.
Proteksi inflasi
Leasing dapat memberikan perlindungan terhadap inflasi dimana
dalam tahun-tahun berikutnya setelah kontrak leasing dilakukan
khususnya apabila leasing berdasarkan suku bunga tetap maka lessee
membayar dengan jumlah tetap atas sisa kewajibannya yang berasal dari
pelunasan pembelian yang dilakukan dimasa lalu.
Perlindungan akibat kemajuan teknologi
Dengan memanfaatkan leasing, lessee dapat terhindar dari
kerugian akibat barang yang disewa tersebut mengalami ketinggalan
model atau system yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan
teknologi.
Sumber pelunasan kewajiban
Pembatasan pembelanjaan dalam perjanjian kredit dapat diatasi
melalui leasing karena pelunasan atau pembayaran sewa hampir selalu
diperkirakan berasal dari modal kerja yang dihasilkan oleh adanya aktiva
yang disewa.
Kapitalisasi biaya
Adanya biaya-biaya tambahan selain harga perolehan seperti
biaya penyerahan, intalasi, pemeriksaan, konsultan, percobaan, dan
sebagainya dapat dipertimbangkan sebagai biaya modal yang dapat
dibiayai dalam leasing dan dapat disusutkan berdasarkan lamanya masa
leasing.
Risiko keuangan
Dalam keadaan yang serba tidak menentu, operating lease yang
berjangka waktu relatif singkat dapat mengatasi kekhawatiran lessee
terhadap risiko keuangan. sehingga lessee tidak perlu
mempertimbangkan risiko pada tahap dini yang mungkin terjadi.

b) Kekurangan Leasing
Pembiayaan secara leasing merupakan sumber pembiayaan yang relatif
mahal bila dibandingkan dengan kredit investasi dari bank. Hal ini terjadi
karena sumber dana lessor pada umumnya dari bank atau lembaga
keuangan bukan bank.
Barang modal yang dilease tidak dapat dicantumkan sebagai unsur aktiva
lesee untuk tujuan "Collateral Credit" dari Bank, yaitu "Trade Creditor"
mungkin akan menilai perusahaan tersebut memiliki posisi keuangan
yang lemah.
Bagi para perusahaan tertentu kadang-kadang timbul masalah prestise
antara memiliki barang modal sendiri atau lease.
Resiko yang lebih besarpada lessor, artinya adanya tanggung jawab yang
menuntut pihak ketiga jika terjadi kecelakaan atau kerusakan atas barang
orang lain yang disebabkan oleh "lease property" tersebut, dan juga
lessor belum tentu yakin bahwa barang lease tersebut bebas dari
berbagai ikatan seperti "liens" (gadai) "preferences","priorities",
charges" atau kepentingan-kepentingan lainnya.
G. PENGARUH LEASING TERHADAP LAPORAN KEUANGAN
Pembayaran lease data dicatat sebagai beban operasi pada laporan rugi-rugi
perusahaan, tetapi dalam keadaan tertentu, baik aktiva lease maupun kewajiban lease
sesuai kontrak lease tidak muncul dalam neraca perusahaan. Karena itu, leasing
seringkali disebut pembiayaan di luar neraca (off balance sheet financing).
Suatu lease harus diklasifikasikan sebagai lease modal, dan karenanya
dikapitalisasikan dan langsung disajikan di neraca, jika terdapat salah satu dari kondisi
berikut :
1. Berdasarkan syarat-syarat lease, pemilikan atas property secara efektif berpindah
dari lessor kepada lessee.
2. Lessee dapat membeli property tersebut atau memperbarui perjanjian lease dengan
harga yang lebih rendah daripada harga pasar wajar pada saat perjanjian lease
berakhir.
3. Lease itu berlaku untuk periode yang sama atau lebih lama daripada 75 persen dari
umur aktiva. Jadi, jika suatu aktiva berumur 10 tahun dan lease ditulis untuk peride
lebih dari 7,5 tahun, maka lease tersebut harus dikapitalisasi.
4. Nilai sekarang pembayaran lease adalah sama atau lebih besar daripada 90 persen
dari nilai awal aktiva tersebut.
Jadi, lease pada dasarnya diakui sama seperti utang, dan mempunyai pengaruh yang
sama seperti utang terhadap tingkat pengembalian yang disyaratkan atas perusahaan.
Oleh karena itu, leasing pada umumnya tidak akan membungkinkan suatu perusahaan
untuk menggunakan leverage keuangan yang lebih besar daripada yang dapat
diperolehnya dari utang konvensional.
Kapitalisasi operating lease berdampak signifikan terhadap aspek likuiditas
perusahaan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan ketika perusahaan menggunakan
operating lease, nilai liabilitas lancar yang disajikan pada laporan posisi keuangan
menjadi lebih rendah dari yang seharusnya. Perusahaan hanya mengakui beban sewa
periodik pada laporan laba rugi tanpa mengakui bagian liabilitas sewa yang harus
diselesaikan dalam periode yang bersangkutan (liabilitas lancar) pada laporan posisi
keuangan. Sehingga, hal tersebut akan meningkatkan rasio likuiditas perusahaan.
Kapitalisasi operating lease berdampak signifikan terhadap aspek aktivitas
perusahaan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan nilai total aset yang disajikan pada
laporan posisi keuangan ketika perusahaan menggunakan operating lease menjadi lebih
rendah dari seharusnya, sebab perusahaan tidak mengakui aset sewa yang dimilikinya
sebagai bagian dari aset perusahaan sehingga rasio aktivitas perusahaan akan
meningkat.
Kapitalisasi operating lease berdampak signifikan terhadap aspek solvabilitas
(leverage) perusahaan di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena, dengan
menggunakan operating lease, perusahaan tidak harus mengakui liabilitas sewa dalam
laporan posisi keuangan perusahaan. Dengan demikian, nilai liabilitas lancar maupun
tidak lancar yang dilaporkan menjadi lebih rendah dari seharusnya. Sehingga, akan
mengurangi rasio solvabilitas (leverage) perusahaan.
Kenaikan rasio solvabilitas (leverage) yang tinggi pada suatu perusahaan
merupakan perkembangan yang merugikan bagi suatu perusahaan. Perusahaan dengan
rasio debt to equity yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam memperoleh dana
tambahan dari pihak kreditor bahkan perusahaan terancam melanggar perjanjian utang
(Priantinah, 2009). Akibatnya, investor mungkin akan menarik kembali investasi
mereka pada perusahaan, sedangkan kreditor mungkin akan menarik kembali pinjaman
(atau menolak untuk memperpanjang kredit) yang mereka berikan kepada perusahaan.
Selain itu, pemegang saham juga mungkin akan menjual saham mereka, sehingga harga
saham akan menurun.
Kapitalisasi operating lease tidak berdampak signifikan terhadap aspek
profitabilitas perusahaan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya perubahan
signifikan yang terjadi pada tingkat pengembalian atas aset dan modal yang
diinvestasikan oleh perusahaan akibat kapitalisasi operating lease. Kondisi ini
disebabkan oleh adanya pengurangan nilai beban sewa periodik atas operating lease
pada beban operasi perusahaan ketika kapitalisasi dilakukan, yang disertai dengan
adanya penambahan beban penyusutan atas aset sewa dan beban bunga atas liabilitas
sewa pada laporan laba rugi perusahaan. Sehingga, tidak memberikan pengaruh yang
besar terhadap laba bersih. Dengan demikian, kapitalisasi operating lease tidak
memberikan dampak signifikan terhadap profitabilitas perusahaan.
Penggunaan operating lease tidak mengindikasikan adanya tindakan income
minimization yang dilakukan oleh perusahaan. Akan tetapi, perusahaan dapat
memanfaatkan accounting choice atas penggunaan operating lease untuk meningkatkan
kinerja perusahaan, terutama dalam hal meningkatkan rasio likuiditas dan aktivitas serta
menurunkan rasio hutang atau solvabilitas perusahaan.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perusahaan sewa guna menyediakan dana untuk membeli aktiva yang diperlukan
perusahaan, meskipun secara resminya perusahaan sewa gunalah yang memiliki aktiva
tersebut. Perusahaan yang memakai aktiva tersebut hanyalah menyewaaktiva tersebut.
Posisi yang unik ini akan membawa dampak pajak bagi lessor dan lessee. Karena
penyusutan dapat dipergunakan untuk mengurangi beban pajak, maka pihak yang
diizinkan untuk menyusut aktiva tersebut akan memperoleh manfaat dalam bentuk
penghematan pajak.
Bagi perusahaan, alternatif leasing hendaknya dibandingkan dengan alternatif
debt financing. Hal ini disebabkan karena baik leasing maupun debt financingakan
menimbulkan beban finansial tetap. Karenanya tingkat bunga yang relevan adalah biaya
hutang setelah pajak. Analisis dari sisi lessor dan lessee menunjukkan bahwa perbedaan
tarif pajak yang ditanggung oleh lessor dan lessee memungkinkan lessor menawarkan
sewa guna yang lebih kompetitip daripada pinjaman bank.
Tingkat pengungkapan laporan keuangan yang telah diaudit seharusnya lebih
baik dibandingkan sebelum diaudit, namun pada kenyataannya, berdasarkan hasil
analisis terhadap tingkat pengungkapan informasi mengenai operating lease pada
perusahaan berdasarkan PSAK nomor 30 revisi 2011, masih terdapat beberapa
perusahaan yang belum melakukan pengungkapan sesuai dengan standar yang
seharusnya. Hal ini dapat menjadi masukan bagi auditor dalam melakukan peninjauan
dan pengawasan terhadap penerapan standar akuntansi oleh suatu perusahaan,
khususnya penerapan PSAK nomor 30 atas transaksi sewa yang dimiliki perusahaan.
Auditor perlu mengawasi kesesuaian penerapan dan pengungkapan atas
transaksi sewa dengan PSAK nomor 30, apakah PSAK tersebut sudah diterapkan dan
dijalankan oleh perusahaan tersebut atau belum, dan khususnya bagi perusahaan yang
memiliki transaksi operating lease, apakah perusahaan telah melakukan pengungkapan
yang memadai terkait dengan kebijakan akuntansi yang digunakan serta kesesuaian
pengungkapan atas pembayaran sewa minimum masa depan. Dengan demikian,
informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan dapat diperoleh sehingga bisa
memudahkan pengguna laporan keuangan untuk menganalisa hal-hal yang berkaitan
dengan operating lease.
Bagi investor, ada baiknya untuk melihat dan menganalisis laporan keuangan
perusahaan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi,
karena hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan diindikasikan
menggunakan operating lease untuk menutupi hidden leverage yang dimiliki oleh
perusahaan. Sehingga, kinerja keuangan perusahaan akan terlihat baik, terutama dalam
aspek likuiditas, aktivitas, dan solvabilitas.
DAFTAR PUSTAKA

Brigham, F. Eugene., and Houston, J. Joel. 2001. Manajemen Keuangan.Jakarta :


Penerbit Erlangga.
Husnan, Suad. 1998. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka
Pendek). Yogyakrta : BPFE-Yogyakarta.
Simatupang, Richard Burton. 2003. Aspek Hukum dalam Bisnis. Jakarta: Rineka Cipta
Asyhadie, Zaeni. 2009. Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di
Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers

Hartanto, Dicki. 2012.Bank dan Lembaga Keuangan Lain Konsep Umum dan Syariah.
Aswaja Pressindo, Yogyakarta

Wijaya, Farid. Perkreditan, bank, dan Lembaga keuangan . BPFE- Yogyakarta,


Yogyakarta

Simorangkir, O.P.2004. Pengantar lembaga keuangan dan non bank. Ghalia Indonesia,
Bogor

Kasmir.2001. Bank dan lembaga keuangan lainnya.raja grafindo persada, Jakarta

Suyatno ,Thomas,Kelembagaan Perbangkan.,Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,


1999

S. Muharam, SM franchise, Istilah Istilah dalam Waralaba, Oktober.

http://esenha.wordpress.com/2012/04/05/leasing-sebagai-salah-satu-lembaga-
pembiayaan

http://jokosunarto27.blogspot.com/2012/06/leasing-sewa-guna-usaha.html