Anda di halaman 1dari 23

BUKU PANDUAN

PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI FITOKIMIA

Disusun oleh :
Dr. Yustina Sri Hartini, Apt.
Dr. Erna Tri Wulandari, Apt.

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2016

0
DAFTAR ISI

Sampul
Daftar Isi 1
Kata Pengantar 2
Tata Tertib dan Penilaian 3
Jadwal Praktikum 5
Acara I. Asistensi 6
Acara II. Pembuatan Simplisia 7
Acara III. Pembuatan Serbuk Simplisia 10
Acara IV. Presentasi dan Diskusi 11
Acara V. Karakterisasi Simplisia dan Pembuatan Ekstrak
Acara VI. Identifikasi Kandungan Kimia Simplisia
Acara VII. Fraksinasi Ekstrak dan Identifikasi Kandungan Kimia Ekstrak dan
Fraksi
Acara VIII. Uji Antioksidan Ekstrak dan Fraksi

1
Kata Pengantar

Praktikum Farmakognosi Fitokimia merupakan bagian dari kegiatan matakuliah


Farmakognosi Fitokimia yang menyelenggarakan praktik penelitian fitokimia. Kegiatan
praktikum dimulai dari melakukan sortasi terhadap tanaman segar, ekstraksi, fraksinasi, uji kualitas
dan kandungan kimiawi serta uji aktivitas famakologisnya. Dengan menempuh praktikum ini
diharapkan mahasiswa peserta kuliah Farmakognosi Fitokimia mampu:
1. menyiapkan simplisia/bahan baku obat ataupun bahan penelitian berupa tanaman,
2. melakukan karekterisasi simplisia,
3. melakukan penyarian (ekstraksi) dari simplisia, dan pemisahan (fraksinasi) kandungan
kimia dalam ekstrak tanaman,
4. melakukan uji aktivitas farmakologi dari dengan bahan uji berupa ekstrak dan fraksi
tersebut.
Bahan yang dipilih dalam praktikum ini berupa rimpang/rhizoma dari tanaman kunyit
(Curcuma domestica Val.), karena ketersediaan bahan tersebut berlimpah, mudah tumbuh di
Indonesia, banyak digunakan sebagai bahan obat tradisonal baik oleh masyarakat secara mandiri
maupun oleh industri obat tradisional. Kurkumin yang merupakan senyawa identitas dari tanaman
tersebut memiliki banyak aktivitas farmakologis, pada praktikum ini dipilih uji aktivitas antioksidan
sebagai model bagi pembuktian aktivitas farmakologis tanaman dengan metode ilmiah.
Panduan ini disusun oleh tim yang terdiri dari dosen dan asisten dosen pendamping praktikum
Farmakognosi Fitokimia, untuk itu ucapan trima kasih kepada : Dr. Erna Tri Wulandari, Apt.,
Anisetus Ratnasari Jebarus, S.Farm., Rafaella Daramika Dwi Esti, Ardini Angelina Papulung,
Rianti Putri Kinanti, Eugenia Clarisa Giastini Kerans, Violeta Jesmile, Agatha Herny Sekar Natalia,
Yohanes Bintang Pambudi, Deriven Tawang, Edwin Tesalonika, dan Asti Aprilia; atas kerjasama dan
kerja kerasnya sehingga panduan praktikum ini terwujud. Semoga panduan ini dapat bermanfaat
untuk kelancaran praktikum. Panduan praktikum Farmakognosi Fitokimia ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu saran demi perbaikan naskah ini sangat kami harapkan.

Yogyakarta, Agustus 2016


Koordinator praktikum,
Dr. Yustina Sri Hartini, Apt.

2
TATA TERTIB DAN PENILAIAN
A. Tata Tertib
1. Sebelum melakukan praktikum, praktikan harus sudah mempersiapkan diri untuk memahami
materi yang akan dipraktikumkan dan membuat skema kerja pada buku kerja (log book).
2. Praktikan harus sudah hadir paling lambat lima menit sebelum praktikum dimulai dan
langsung bon perlengkapan yang diperlukan. Apabila datang terlambat lebih dari 15 menit
tidak diperkenankan mengikuti praktikum pada hari itu dan tidak bisa pindah ke kelompok
lainnya.
3. Tidak diadakan praktikum susulan ataupun perorangan. Bagi yang tidak dapat mengikuti
suatu acara karena alasan harus ada surat keterangan (sakit dari dokter atau tugas dari
fakultas ) dan menggantikannya dengan mengikuti praktikum kelompok lain untuk acara
yang sama setelah mendapatkan ijin dari koordinator praktikum.
4. Sebelum dan sesudah praktikum, praktikan harus membersihkan meja dan membereskan
peralatan praktikum kemudiaan mengembalikan peralatan praktium kepada Laboran .
5. Praktikan yang merusakkan atau menghilangkan inventaris harus menggantinya dengan jenis
sama, nilai praktikum tidak akan keluar apabila belum diberesi.
6. Hasil praktikum ditulis dalam log book dan dimintakan pengesahan dosen atau asisten dosen
setelah praktikum selesai.
7. Selama praktikum berlangsung, tidak diperkenankan melakukan perbuatan yang dapat
mengganggu kelancaran jalannya praktikum dan tidak diperkenankan meninggalkan
laboratorium tanpa seijin dosen atau asisten jaga praktikum.
8. Praktikan diwajibkan membawa perlengkapan praktikum yang tidak disediakan oleh
labotarium, misalnya: lap, kertas tissue, gunting kecil, dan alat tulis.
9. Laporan awal berupa laporan hasil praktik acara 2 dan 3 disusun dengan format tertentu,
dipresentasikan bersama dengan rencana kerja acara 5 sampai 8.
10. Laporan akhir berupa Laporan dari kegiatan praktikum acara 5, 6, 7, dan 8 disusun dengan
format tertentu, merupakan sebagai salah satu bahan ujian akhir semester/responsi.
Demikian tata tertib ini dibuat untuk ditaati bersama demi kelancaran jalannya praktikum.

B. Penilaian
1. Nilai Praktikum Farmakognosi Fitokimia merupakan 35% dari total nilai Matakuliah
Farmakognosi Fitokimia, setelah nilai praktikum digabung dengan nilai kuliah kemudian
dikonversi ke nilai huruf.

3
2. Komponen penilaian praktikum adalah sebagai berikut :
Komponen Proporsi Rentang nilai 0-100
(%)
Pre test (acara 2, 3, 5, 6, 7, 8) 5
Jumlah nilai tiap acara dibagi
Aktivitas praktik (acara 2, 3, 5, 6, 7, 8) 5
6
Diskusi (acara 2, 3, 5, 6, 7, 8) 5
Laporan awal & diskusi (acara 4) 5 Nilai laporan awal & diskusi
Laporan akhir (laporan acara 5,6,7,8) 5 Nilai laporan akhir
Ujian Akhir Semester/Responsi (acara 5-8) 10 Nilai presentasi dan tanya
jawab

Yogyakarta, Agustus 2016


Koordinator Praktikum

4
Jadwal Praktikum Farmakognosi Fitokimia Semester Gasal TA 2016/2017
(22 Agustus 2 Desember 2016)

KELAS Dosen: Yustina, Erna,


(1 kelas = 2 golongan = 6 kelompok) D A C B Sari
mgg HARI PRAKTIK
Asisten dosen: Rafaella,
ke SENIN RABU KAMIS JU'MAT Rianti, Ardini, Eugenia,
WAKTU: Total 330 menit/5,5 jam Violeta, Agatha, Deriven,
(6 jp=300 menit/5jam+ istirahat 30 menit) Bintang, Edwin, Asti
08:00-13:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30
Materi Gol Kelengkapan:
Acara 1: Asistensi 22 Agt 24 Agt 25 Agt 26 Agt
1 Tempat: ruang diskusi
Tata tertib, penilaian, materi 09:45-11:45 10:00-12:30 11:00-13:30 11:00-13:30
1 Lab. Farmakognosi
praktik, format log book & 22 Agt 24 Agt 25 Agt 26 Agt Fitokimia
laporan, dan pustaka acuan 2
11:45-13:45 13:00-15:30 14:00-16:30 14:00-16:30
Log book: per orang
Acara 2: 1 29 Agt 31 Agt 1 Sep 2 Sep
08:00 -10:30 10:00-12:30 11:00-13:30 11:00-13:30 Isi: skema kerja
Pembuatan simpisia: sortasi (sebelum praktik) &
2
basah, pencucian, perajangan, 29 Agt 31 Agt 1 Sep 2 Sep hasil kerja (setelah
dan pengeringan 2 praktik) acara praktik
11:00 13:30 13:00-15:30 14:00-16:30 14:00-16:30
minggu ybs
Acara 3: 5 Sep 7 Sep 8 Sep 9 Sep
1
Pembuatan serbuk : sortasi 08:00 -10:30 10:00-12:30 11:00-13:30 11:00-13:30
3 Log book
kering, penyerbukan, 5 Sep 7 Sep 8 Sep 9 Sep
2
pengayakan, dan penimbangan 11:00 13:30 13:00-15:30 14:00-16:30 14:00-16:30
Acara 4: Laporan awal & Diskusi libur 14 Sep 15 Sep 16 Sep Menyerahkan 2 eks.
1 laporan acara 2 & 3
Hasil pembuatan simplisia (ganti hari) 10:00-12:30 11:00-13:30 11:00-13:30
4 (per 2 kelompok).
Rencana kerja praktik acara 5 libur 14 Sep 15 Sep 16 Sep Log book, tayangan
2
sampai 8 (ganti hari) 13:00-15:30 14:00-16:30 14:00-16:30 presentasi

5 Acara 5: 1 19 Sep 21 Sep 22 Sep 23 Sep


08:00-10:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30
Karakterisasi simplisia
6 Pembuatan ekstrak 2 26 Sep 28 Sep 29 Sep 30 Sep Log book
11:00-13:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30

7 Acara 6: 1 3 Okt 5 Okt 6 Okt 7 Okt


11:00-16:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30
Identifikasi kandungan kimia Log book
8 2 24 Okt 26 Okt 27 Okt 28 Okt
simplisia 11:00-16:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30
9 Acara 7: 1 31 Okt 2 Nov 3 Nov 4 Nov
Fraksinasi ekstrak 11:00-16:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30
Log book
10 Identifikasi kandungan kimia 2 7 Nov 9 Nov 10 Nov 11 Nov
ekstrak dan fraksi 11:00-16:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30

11 1 14 Nov 16 Nov 17 Nov 18 Nov


Acara 8: 11:00-16:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30
Uji aktivitas ekstrak dan fraksi- Log book
12 2 21 Nov 23 Nov 24 Nov 25 Nov
fraksi 11:00-16:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30

13 1 21 Nov 23 Nov 24 Nov 25 Nov Menyerahkan 2 eks.


08:00-13:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30 laporan acara 5-8 (per
Acara 9: Laporan akhir & 2 kelompok) seminggu
14 UAS/responsi 2 28 Nov 29 Nov 1 Des 2 Des sebelum UAS
08:00-13:30 10:00-15:30 11:00-16:30 11:00-16:30 Log book, tayangan
presentasi

5
ACARA I
ASISTENSI

1. Setiap praktikan wajib mengikuti asistensi dan mengikuti tata tertib yang ada.
2. Setiap praktikan wajib memiliki buku panduan praktikum.
3. Perkenalan, pengelompokan, koordinasi, dll
4. Penjelasan tata tertib, penilaian, format log book, laporan awal, dan laporan akhir:
a. Log book
Satu mahasiswa peserta praktikum mempunyai 1 log book
Bentuk : buku tulis ukuran A4, sampul hard cover, warna sampul log book
tertentu yakni untuk Klas D warna merah, klas A hijau, klas C biru, dan klas B
ungu.
Pada sampul ditulis identitas mahasiswa yakni nama, NIM, dan golongan
praktikum.
Sebelum praktikum: log book berisi : Judul Acara, Tujuan, Alat dan Bahan, dan
Skema Kerja
Setelah praktikum : log book berisi Hasil Praktik
b. Laporan awal
Laporan praktikum acara 2 dan 3
Dua kelompok praktikum ( 1 meja) menyusun 1 laporan awal
Bentuk : ditulis pada kertas HVS A4 dan dijilid, sampul mika bening
Halaman pertama berisi : judul praktik yakni : Pembuatan Simplisia..dst dan
nama (NIM) penyusun
Halaman berikutnya berisi : Judul, Tujuan, Tinjauan pustaka, Alat dan bahan,
Cara Kerja, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Daftar pustaka, dan Lampiran
c. Laporan akhir
Laporan praktikum acara 5, 6, 7, dan 8
Dua kelompok praktikum ( 1 meja) menyusun 1 laporan awal
Bentuk : ditulis pada kertas HVS A4 dan dijilid, sampul mika bening
Halaman pertama berisi : judul praktik yakni : Skrining Fitokimia dan Uji
Aktivitas..dst dan nama (NIM) penyusun
Halaman berikutnya berisi : Judul, Tujuan, Tinjauan pustaka, Alat dan bahan,
Cara Kerja, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Daftar pustaka, dan Lampiran
Diserahkan ke laoratorium seminggu setelah praktikum acara 8
5. Pustaka acuan praktikum

6
ACARA II
PEMBUATAN SIMPLISIA
A. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu melakukan pembuatan simplisia.
B. Tinjauan Pustaka
Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan
dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan tidak lebih
dari 60oC (BPOM, 2014).
Jenis-jenis simplisia:
1. Simplisia nabati: simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau
eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang secara spontan keluar
dari tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya
dan belum berupa senyawa kimia murni
2. Simplisia hewani
3. Simplisia pelikan (mineral)
Simplisia yang aman dan berkhasiat adalah simplisia yang tidak mengandung bahaya
kimia, mikrobiologis, dan bahaya fisik, serta mengandung zat aktif yang berkhasiat. Ciri
simplisia yang baik adalah dalam kondisi kering (kadar air < 10%), untuk simplisia daun,
bila diremas bergemerisik dan berubah menjadi serpihan, simplisia bunga bila diremas
bergemerisik dan berubah menjadi serpihan atau mudah dipatahkan, dan simplisia buah
dan rimpang (irisan) bila diremas mudah dipatahkan. Ciri lain simplisia yang baik adalah
tidak berjamur, dan berbau khas menyerupai bahan segarnya (Herawati, Nuraida, dan
Sumarto, 2012).
Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang menentukan mutu
simplisia dalam berbagai artian, yaitu komposisi senyawa kandungan, kontminasi dan
stabilitas bahan. Namun demikian simplisia sebagai produk olahan, variasi senyawa
kandungan dapat di perkecil, diatur atau dikonstankan (Depkes RI, 2000).
Dalam hal simplisia sebagai bahan baku dan produk siap konsumsi langsung dapat
dipertimbangkan 3 konsep untuk menyusun parameter standar umum:
1. Simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya memenuhi 3 parameter mutu umum
suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari
kontaminasi kimia dan biologis) serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan
transportasi).

7
2. Simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan
memenuhi 3 paradigma produk kefarmasian, yaitu QualitySafety-Efficacy (mutu-
aman-manfaat).
3. Simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap
respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis
dan kadar ) senyawa kandungan. (Depkes RI, 2000).
Standarisasi suatu simplisia tidak lain pemenuhan terhadap persyaratan sebagai bahan
dan penetapan nilai berbagai parameter dari produk seperti yang ditetapkan sebelumnya.
Standarisasi simplisia mempunyai pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan
yang tercantum dalam monografi terbitan resmi Departemen Kesehatan (Materia Medika
Indonesia). Sedangkan sebagai produk yang langsung dikonsumsi (serbuk jamu dsb.)
masih harus memenuhi persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan peraturan yang
berlaku. (Depkes RI, 2000).
Pada umumnya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut:
1. Pengumpulan bahan baku: kualitas bahan baku simplisia sangat dipengaruhi beberapa
faktor, seperti : umur tumbuhan atau bagian tumbuhan pada waktu panen, bagian
tumbuhan, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh.
2. Sortasi basah: Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan
asing lainnya setelah dilakukan pencucian dan perajangan.
3. Pencucian: dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih.
4. Perajangan
5. Pengeringan: mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan
simplisia.
6. Sortasi kering: tujuannya untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian
tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan
tertinggal pada simplisia kering.
7. Pengepakan
8. Penyimpanan dan pemeriksaan mutu (Depkes, 1985).

Rimpang kunyit adalah rimpang Curcuma domestica Val., suku Zingiberaceae,


mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 3,02% v/b dan kurkuminoid tidak kurang
8
dari 6,60% dihitung kurkumin. Simplisia dari rimpang kunyit memiliki kepingan ringan,
rapuhm warna kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga
kecokelatan; bau khas, rasa agak pahit, agak pedas, lama kelamaan menimbulkan rasa
tebal; bentuk hamper bundar sampai bulat panjang, kadang-kadang bercabang; lebar 0,5-3
cm, panjang 2-6 cm, tebal 1-5 mm; umumnya melengkung tidak beraturan, kadang-
kadang terdapat pangkal upih daun dan pangkal akar. Batas korteks dan silinder pusat
kadang-kadang jelas. Bekas patahan agak rata, berdebu, warna kuning jingga sampai
cokelat kemerahan (MenKes, 2009).

C. Cara Kerja
1. Pengumpulan rimpang kunyit yang akan dijadikan sebagai bahan baku simplisia
2. Dilakukan sortasi basah untuk memisahkan kotoran dari rimpang
3. Rimpang kunyit dicuci bersih dengan air mengalir
4. Rimpang kunyit yang telah bersih dirajang 1mm
5. Setelah dirajang, rimpang dikeringkan menggunakan wadah

D. Pustaka acuan :
1. BPOM, 2014, Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik
Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, Bpom:
Jakarta.
2. Depkes RI, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-16.
3. Depkes RI, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Depkes: Jakarta.
4. Herawati, Nuraida, dan Sumarto, 2012, Cara Produksi Simplisia Yang Baik, Seafast
Center, Bogor, 10-11.
5. MenKes, 2009, Keputusan Menteri Kesehatan RI No 261 tentang Farmakope Herbal
edisi pertama, Jakarta.

Catatan: - Setiap praktikan menyiapkan bahan simplisia dan alat yang akan digunakan.
- Simplisia yang telah dirajang dimasukkan ke dalam lemari pengeringan/ruang
pengeringan.
- Harus melakukan pengecekan terhadap simplisia selama proses pengeringan.
- Saat pembuatan simplisia, sebagian simplisia disimpan untuk uji bahan organik
asing.
- Pustaka lain yang disarankan : World Health Organization, 2003, WHO guidelines
on good agricultural and collection practices (GACP) for medicinal plants,
Geneva.

9
ACARA III
PEMBUATAN SERBUK SIMPLISIA
A. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu melakukan pembuatan serbuk dari
simplisia.
B. Tinjauan Pustaka
Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan
dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan tidak lebih
dari 60C (BPOM, 2014). Serbuk adalah sediaan obat tradisional berupa butiran homogen
dengan deraiat halus yang cocok; bahan bakunya berupa simplisia sediaan galenik, atau
campurannya (DepKes RI, 1994). Serbuk Simplisia adalah sediaan Obat Tradisional
berupa butiran homogen dengan derajat halus yang sesuai, terbuat dari simplisia atau
campuran dengan Ekstrak yang cara penggunaannya diseduh dengan air panas (BPOM,
2014).
Serbuk dari simplisia memiliki beberapa persyaratan yaitu:
1. Kadar air. Tidak lebih dari 10 %.
2. Angka lempeng total. Tidak lebih dari 10
3. Angka kapang dan khamir. Tidak lebih dari 10
4. Mikroba patogen. Negatif.
5. Aflatoksin. Tidak lebih dari 30 bpj.
Untuk penggunaan bahan tambahan seperti pengawet, serbuk dengan bahan baku
simplisia dilarang ditambahkan bahan pengawet. Wadah dan penyimpanan untuk
serbuk simplisia ialah dalam wadah tertutup baik; disimpan pada suhu kamar,
ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari (DepKes RI, 1994).

C. Cara Kerja
1. Simplisia yang telah dibuat dipastikan kering, dipastikan dengan hasil rajangan mudah
diremah dan mudah patah.
2. Simplisia yang telah kering lalu didisortasi kering untuk menghilangkan kotoran yang
masih ada.
3. Simplisia ditimbang kemudian dibuat menjadi serbuk menggunakan alat penyerbukan
hingga halus.
3. Serbuk yang telah halus diayak kemudian ditimbang dan dimasukkan dalam wadah,
diberi label.
10
D. Pustaka acuan :
1. BPOM, 2014, Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik
Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, BPOM:
Jakarta, hal 3,11.
2. DepKes RI, 1994, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor:661/Menkes/Sk/Vii/1994 Tentang Persyaratan Obat Tradisional, DepKes:
Jakarta.

Catatan : - Memastikan apakah simplisia yang telah dikeringkan sudah kering.


- Sisihkan sebagian simplisia untuk uji bahan organik asing.
- Pustaka lain yang disarankan : World Health Organization, 2003, WHO guidelines
on good agricultural and collection practices (GACP) for medicinal plants,
Geneva.

ACARA IV
PRESENTASI DAN DISKUSI
A. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu merencanakan cara dan atau urutan
kerja penelitian bidang fitokimia.
B. Ketentuan:
1. Bahan diskusi mengacu pada pustaka terkait tema: simplisia, skrining fitokimia,
ekstraksi, fraksinasi, isolasi senyawa dari tanaman, serta uji aktivitas antioksidan dari
bahan tanaman.
2. Menyerahkan laporan awal.
Laporan awal dikumpulkan ke asisten dosen sebanyak 2 eksemplar menjelang acara
diskusi.
3. Presentasi hasil pembuatan simplisia.
Log book dibawa ke ruang diskusi pada saat presentasi
4. Presentasi rencana kerja (tujuan, alat & bahan, cara kerja) yang akan dilakukan pada
acara 5 sampai 8.

Catatan : - viewer siap di ruang diskusi, mahasiswa menyiapkan laptop untuk menayangkan
presentasinya.
- Presentasi per 2 kelompok (1 meja) bergantian, mahasiswa lain sebagai peserta
diskusi

11
ACARA V

KARAKTERISASI SIMPLISIA
A. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu melakukan karakterisasi simplisia dan
pembuatan ekstrak tanaman.
B. Tinjauan Pustaka
.

C. Pustaka acuan :
1.
2.
3. dst

Catatan : -

12
ACARA VI
IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA
A. Tujuan

Setelah melakukan praktikum para mahasiswa diharapkan mampu melakukan


indentifikasi kandungan kimia ekstrak tanaman berupa identifikasi kandungan :
1. Senyawa golongan flavonoida
2. Senyawa golongan antrakinon
3. Senyawa golongan saponin (steroid dan triterpenoid)
4. Senyawa golongan alkaloida
5. Senyawa golongan fenolik dan polifenolik
6. Senyawa Minyak atsiri
B. Tinjauan Pustaka
.

C. Pustaka acuan :
1.
2.
3. dst

Catatan : -

13
ACARA VII
FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA
A. Tujuan
Setelah melakukan praktikum para mahasiswa diharapkan mampu melakukan:
1. melakukan pemisahan/fraksinasi ekstrak tanaman untuk mendapat senyawa aktif
2. melakukan monitoring kandungan kimia ekstrak dan fraksi-fraksi dari ekstrak dengan
metode kromatografi lapis tipis (KLT)
B. Tinjauan Pustaka
Fraksinasi merupakan proses untuk memisahkan komponen campuran dari ekstrak
menjadi berbagai kelompok dengan karakteristik fisikokimia yang sama. Pengelompokan
dapat berdasarkan kelarutan, ukuran, muatan suatu senyawa dan beberapa fitur lainnya. .
Metode fraksinasi dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain presipitasi, ekstraksi
pelarut, dialisis, elektroforesis dan menggunakan prosedur kromatografi (Houghton and
Raman, 1998). Fraksinasi umumnya dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi
seperti Vacuum Liquid Chromatography (VLC), Column Chormatography (CC), dan Size-
Exclusion Chromatography (SEC) (Sarker, et. al., 2006).
Vacuum liquid chromatography (VLC) merupakan metode pemisahan kromatografi
yang menggunakan vakum untuk mempercepat kecepatan alir dari fase gerak. Kromatografi
vakum cair memiliki beberapa keunggulan, seperti peralatan yang sederhana, waktu
pemisahan yang cepat, resolusi yang lebih baik dan kapasitas pemisahan besar. VLC
menggunakan kolom berukuran pendek, kolom kromatografi dikemas dengan dry adsorbent.
(Xu, et al, 2012).
Fase diam yang digunakan dalam VLC pada umumnya menggunakan teknik dry
packing. Dry packing merupakan metode yang efektif untuk mengemas fase diam dalam
sistem kromatografi dan umumnya digunakan untuk fase diam berupa silica gel. Fase gerak
yang dianjurkan adalah kombinasi pelarut dengan polaritas yang berbeda untuk mendapatkan
hasil fraksinasi yang lebih baik terutama untuk ekstrak bahan alam (Sarker, et. al., 2006).
Kromatografi lapis tipis (KLT) telah banyak digunakan dalam analisis ekstrak suatu
bahan alam dan juga memainkan bagian penting dalam fraksinasi, isolasi
dan deteksi senyawa aktif hadir dalam ekstrak tanaman mentah. Dibandingkan dengan
metode kromatografi lainnya, KLT merupakan metode sederhana dan murah untuk
mendeteksi adanya senyawa aktif dalam suatu tanaman tanaman, sampel dan peralatan yang
dibutuhkan juga sedikit dan tidak membutuhkan waktu analisis yang lama. Secara umum,

14
sampel jarang memerlukan persiapan atau derivatisasi sebelum TLC dan bisa langsung
ditotolkan atau hanya memerlukan pengenceran sebelum TLC. Hanya nanoliters untuk
mikroliter volume standar dan larutan yang harus ditotolkan pada plat KLT kemudian
dielusikan (Wagner dan Bladt, 1996).
Dalam mengidenfikasi adanya suatu senyawa kimia yang terdapat dalam suatu
ekstrak hanya valid bila memenuhi kriteria berikut ini :
1. Senyawa aktif dan senyawa yang berperan sebagai pembanding menunjukkan
nilai Rf yang sama di setiap sistem KLT yang dilakukan.
2. Beberapa metode deteksi yang digunakan dan senyawa yang diuji dan senyawa
pembanding memiliki reaksi yang sama pada semua metode deteksi yang
dilakukan.
3. Sekurang-kurangnya 5 metode fase gerak digunakan untuk menentukan rentang
nilai Rf.
Reagen semprot dapat digunakan untuk senyawa yang dapat memberikan reaksi berupa
perubahan warna dan dapat digunakan setelah senyawa ditotolkan pada plat KLT.
Penggunaan marker yang ditotolkan bersama dalam plate KLT perlu untuk dilakukan
untuk mengidentifikasi senyawa, dengan nilai Rf sekitar 0,5, ditotolkan disamping sampel,
dan menunjukan nilai Rf pada semua senyawa relatif pada marker. Setelah di running, bila
nilai Rf senyawa yang diuji sama dengan marker maka disebut 1. Bila lebih tinggi diatasnya
disebut >1 bila kurang dibawahnya disebut <1. Nilai Rf relatif lebih reliabel dibandingkan
nilai Rf absolut dalam membandingkan hasil KLT senyawa (Houghton and Rahman, 1998)

C. Cara Kerja
1. Fraksinasi Ekstrak
Sintered Glass Buchner dan Erlenmeyer serta vakum yang digunkaan untuk
fraksinasi dipasang,. Kertas saring dimasukkan ke dalam kolom sesuai diameter
kolom. Sebanyak 5 cm Sillica Gel GF 254 dimasukkan ke dalam kolom sedikit
demi sedikit sambil di vakum sebagai fase diam. Kemudian Sillica Gel GF 254
disiapkan lagi kemudian dicampurkan dengan ekstrak kering menggunakan mortir
dan stamper sambil diaduk perlahan hingga didapatkan campuran homogen dan
kering (free flowing). Serbuk ektrak free flowing dipindahkan sedikit demi sedikit ke
dalam sintered glass Buchner diatas fase diam dengan permukaan atas diusahakan rata
sambil divakum. Dua lembar kertas saring sebesar diameter kolom dimasukkan diatas
serbuk ekstrak free flowing. Pelarut dituangkan secara perlahan pada permukaan
15
kertas saring melalui dinding. Proses fraksinasi berlangsung hingga tidak ada lagi
larutan yang menetes ke erlenmeyer. Hasil dari fraksinasi dituangkan ke dalam cawan
porselen dan diberi label sesuai urutan fraksi.
2. Monitoring Fraksi dan Ekstrak dengan KLT
Monitoring KLT untuk mengetahui kandungan senyawa dalam fraksi
digunakan standar pembanding senyawa yang bersangkutan kemudian dibandingkan
nilai Rf nya. Fraksi dan ekstrak yang telah diperoleh dimonitoring dengan KLT
menggunakan sistem yang sama. Setelah dilakukan monitoring dengan KLT fraksi
dikeringkan lalu dilakukan penimbangan tiap-tiap fraksi.

D. Pustaka acuan :
1. Houghton P.J., Raman A., 1998, Laboratory Handbook for the Fractionation of
Natural Extracts, 1st ed., Chapman and hall, pp 54-55,120.
2. Sarker, S.D., et al, 2006, Methods in Biotechnology : Natural Products Isolation,
2nd ed, Humana Press : New Jersey, pp 7-8, 32.
3. Xu, R., Yang, Y., Weimin, Z., 2012, Introduction to Natural Product Chemistry,
CRC Press, Taylor and Francis Group, USA, p 15.
4. Wagner H., Sabine, B., 1996, Plant Drug Analysis, Thin Layer Chromatography
Atlas, 2nd ed, Springer, New York, pp. 4, 126, 196.

Catatan : -

16
ACARA VIII
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAN FRAKSI
A. Tujuan
Setelah melakukan praktikum mahasiswa diharapkan mampu melakukan uji aktivitas
antioksidan dengan bahan uji berupa ekstrak dan fraksi bahan alam, dan menentukan nilai
IC50 ekstrak dan fraksi bahan alam.

B. Tinjauan Pustaka
Senyawa aktif yang terkandung dalam bahan alam dapat diperoleh dengan cara
isolasi yang meliputi tahapan ekstraksi dan fraksinasi. Dengan proses fraksinasi, senyawa-
senyawa yang ada dalam ekstrak dipisahkan dalam kelompok-kelompok yang kemudian
disebut sebagai fraksi. Senyawa yang terkandung dalam ekstrak maupun fraksi tersebut
dapat diuji aktivitasnya dengan menggunakan metode tertentu. Salah satu fungsi senyawa
aktif yang banyak ditemukan dan diisolasi dari bahan alam adalah antioksidan atau
penangkal radikal bebas. Antioksidan adalah senyawa yang dapat menetralisasi atau
mencegah kerusakan oksidatif pada molekul target. Antioksidan dapat menetralkan
radikal bebas dengan mendonorkan elektronnya. Vitamin A, C, dan E merupakan
antioksidan eksogen yang terdapat pada tumbuhan sayur dan buah (Sen, et. al., 2010).
Radikal bebas adalah molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak
berpasangan pada orbital terluarnya, bersifat sangat reaktif dan tidak stabil. Radikal bebas
mencapai kestabilannya melalui reaksi dengan atom atau molekul di sekitarnya untuk
memperoleh pasangan elektron. Reaksi ini akan menimbulkan reaksi berantai yang
mampu merusak struktur sel, bila tidak dihentikan akan menimbulkan berbagai penyakit
seperti kanker, jantung, katarak, penuaan dini, serta penyakit dengeratif lainnya (Hamid,
et al., 2010).
Kemampuan senyawa antioksidan dalam bahan alam untuk menangkal radikal bebas
dapat diketahui dengan melakukan uji aktivitas antioksidan baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Salah satu uji aktivitas antioksidan secara kuantitatif adalah dengan melakukan
uji penangkapan radikal bebas (radical scavenging test). Pada metode ini dilakukan
pengukuran penangkapan radikal bebas sintetik dalampelarut organik polar seperti
metanol atau etanol dalam suhu kamar. Sumber radikal bebas yang digunakan dapat
berupa senyawa DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazil) atau ABTS (2,2-azinobis (3-ethyl
benzotiazolin-asamsulfonat)). Prinsip uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
adalah penghilangan warna untuk mengukur kapasitas antioksidan pada panjang
17
gelombang 517 nm menggunakan spektrofotometer UVVisibel. Radikal DPPH dengan
nitrogen organik terpusat adalah radikal bebas stabil dengan warna ungu gelap yang ketika
direduksi menjadi bentuk non radikal oleh antioksidan dan berubah menjadi warna kuning
(Yu, 2008).
DPPH merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar dan sering
digunakan untuk menilai aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau ekstrak bahan alam.
Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen
pada DPPH yang akan menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH (Gurav, et. al.,
2007).

Aktivitas antioksidan suatu senyawa dapat diketahui dengan adanya penurunan absorbansi
DPPH yang terjadi akibat penambahan senyawa tersebut. Parameter yang digunakan untuk
pengukuran aktivitas antioksidan pada metode DPPH adalah IC 50, yaitu bilangan yang
menunjukkan konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat aktivitas suatu radikal sebesar
50%. Berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
aktivitas antioksidan suatu senyawa, maka semakin rendah nilai IC 50 yang dihasilkan
(Molyneux, 2004).

C. Cara Kerja :
1. Pembuatan larutan DPPH
Sebanyak 10 mg DPPH ditimbang dan dilarutkan dengan metanol pa ke dalam labu takar
100,0 mL kemudian ditambahkan hingga batas tanda lalu dikocok sampai homogen hingga
didapatkan larutan DPPH 100 g/mL. Larutan DPPH ini disimpan dalam wadah yang telah
dilapisi aluminium foil agar terlindung dari cahaya. Larutan ini dibuat baru setiap kali akan
digunakan.

18
2. Pembuatan larutan stok kurkumin 1000g/mL
Sebanyak 10 mg kurkumin ditimbang dan dilarutkan dengan pelarut p. a dalam labu takar
10,0 mL. Ditambahkan pelarut p a hingga tanda batas, kemudian dikocok sampai
homogen.
3. Pembuatan larutan standar kurkumin (seri)
Larutan stok konsentrasi 1000g/mL dipipet sebanyak 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1 mL, kemudian
dimasukkan masingmasing ke dalam labu takar 10 mL. Ditambahkan pelarut hingga tanda
batas, kemudian dikocok sampai homogen. Diperoleh larutan seri kurkumin dengan kadar
20; 40; 60; 80; 100 g/mL.
4. Pembuatan larutan uji
Masing-masing ekstrak dan fraksi ditimbang sebanyak 20 mg, ditambahkan pelarut yang
sesuai (DMSO) hingga 10,0 mL. Dari larutan tersebut kemudian diambil 0,1 ; 0,2 ; 0,3 ; 0,5
; 0.7 mL kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL.
5. Optimasi metode
a. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum ( maks.) larutan DPPH
Larutan DPPH dengan kadar 100 g/mL yang telah dibuat sebelumnya diukur
serapannya pada panjang gelombang 200800 nm, kemudian ditentukan panjang
gelombang maksimumnya, dengan melihat panjang gelombang dimana terjadinya
serapan maksimum.
b. Penentuan reaction time
Sebanyak 5,0 mL larutan DPPH 100g/mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi bertutup
dan telah dilapisi alumunium foil, kemudian ditambahkan larutan stok kurkumin
1000g/mL sebanyak 5,0 mL. Campuran tersebut dikocok sampai homogen. Campuran
tersebut diukur serapannya setiap 5 menit, selama 45 menit.
6. Validasi metode DPPH
a. Akurasi
Akurasi metode dilakukan dengan mengukur %recovery (perolehan kembali) dari
sampel. % recovery dapat diperoleh dengan melakukan adisi larutan standar pada
sampel ekstrak. Sebanyak 5 mL ekstrak dimasukkan ke dalam labu takar 10,0 mL,
kemudian ditambahkan 5 mL larutan seri dengan konsentrasi 20; 60; dan 80 g/mL.
Larutan diukur absorbansinya pada maksimum dengan spektrofotometer UV-Visibel.

19
b. Presisi
Presisi metode dilakukan dengan menghitung nilai CV. Nilai CV diperoleh dengan cara
mengukur absorbansi larutan adisi masing-masing konsentrasi sebanyak tiga kali. Hasil
tersebut kemudian dihitung standar deviasinya (SD) dan dibagi dengan rata-rata.
c. Linearitas dan Rentang
Linearitas dan rentang metode dapat ditentukan dengan melihat persamaan regresi yang
diperoleh dari kurva baku hasil pengurkuran serapan larutan seri kurkumin. Nilai r
yang diperoleh dari persamaan regresi tersebut menunjukkan linearitas metode.
7. Pengukuran absorbansi larutan uji
Sebanyak 5,0 mL larutan DPPH 100g/mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi bertutup
dan telah dilapisi aluminium foil, kemudian ditambahkan larutan seri larutan sampel
ekstrak dan fraksi masingmasing sebanyak 5,0 mL. Campuran tersebut dikocok sampai
homogen, didiamkan selama reaction time. Campuran tersebut diukur serapannya dengan
spektrofotometer UV-Visibel pada maksimum.
8. Analisis hasil
a. Aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH (%S) dihitung dengan rumus :
% aktivitas antioksidan (% S) =

Buat hubungan regresi linier antara konsentrasi larutan sampel ekstrak dan fraski dengan
nilai % S, yang kemudian digunakan untuk menentukan IC50.
b. Akurasi suatu metode dapat dilihat dari % recovery (perolehan kembali) sampel yang
digunakan. % recovery dapat dihitung dengan rumus :
% recovery =

Xn = Konsentrasi larutan n setelah adisi


Xo = Konsentrasi tanpa adisi
X = Konsentrasi (jumlah) adisi
c. Presisi suatu metode dapat dilihat dari nilai CV. Nilai CV diperoleh dengan membagi
nilai Standar Deviasi (SD) dengan rata-rata.

SD = standar deviasi
x = kadar sampel
= kadar sampel rata-rata
n = jumlah sampel

20
d. Linearitas suatu metode dapat dilihat dari nilai koefisien korelasinya (r). Nilai r yang
baik adalah mendekati 1, hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan konsentrasi akan
selalu diiringi peningkatan absorbansi.

D. Pustaka acuan :
1. Gurav, S., Deshkar, N., Gulkari, V., Duragkar, N., Patil, A., Road, A., and Road, H.,
2007. Pharmacologyonline 2: 245-253 (2007), 253, 245253.
2. Hamid, A.A., Aiyelaagbe, O.O., Usman, L.A., Ameen, O.M., and Lawal, A., 2010.
Antioxidants: Its medicinal and pharmacological applications. African Journal of Pure
and Applied Chemostry, 4 (8), 142151.
3. Molyneux, P., 2004. The Use of the Stable Free Radical Diphenylpicryl-hydrazyl
(DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin Journal of Science and
Technology, 26 (December 2003), 211219.
4. Sen, S., Chakraborty, R., Sridhar, C., Reddy, Y. S. R., and De, B., 2010, Free Radicals,
Antioxidants, Disease and Phytomedicines: Current Status and Future Prospect.
International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 3 (1), 91-93.
5. Yu, L., 2008. Wheat Antioxidant. Vol.45, John Wiley & Sons, New York, USA, 174.

Catatan : -

21
ACARA IX
UJIAN AKHIR SEMESTER / RESPONSI
A. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu melakukan penelitian, menyusun
laporan, dan mempresentasikan hasil penelitian bidang fitokimia.
B. Ketentuan:
1. Menyerahkan laporan akhir.
Laporan akhir dikumpulkan ke laboratorium sebanyak 2 eksemplar seminggu setelah
pelaksanaan praktikum acara 8.
2. Presentasi hasil praktikum acara 5, 6, 7, dan 8; pembahasan; dan kesimpulannya
3. Log book dibawa ke ruang ujian
4. Pustaka yang diacu dibawa (dapat berupa hard atau soft copy).

Catatan : - viewer siap di ruang diskusi, mahasiswa menyiapkan laptop untuk menayangkan
presentasinya.
- Presentasi per 2 kelompok (1 meja) bergantian, sesuai jadwal yang telah
ditentukan

22