Anda di halaman 1dari 25

KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

"Komplementer dalam NIC-NOC"

Oleh :

Kelompok 12

D-IV Keperawatan Tingkat III Semester V

Putu Yeni Yunitasari (P07120214004)


Ni Putu Erna Libya (P07120214014)
Ni Kadek Dian Inlam Sari (P07120214018)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2016

KATA PENGANTAR
Om Swastyastu

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang
Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
"Komplementer dalam NIC-NOC"mata kuliah Keperawatan Komplementer di
Politeknik Kesehatan Denpasar tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi berbagai
pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan yang telah membantu.

Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena


keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan makalah ini.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Denpasar, 17 November 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar ...................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................... iii

BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ...............................................................................................
1.4 Manfaat Penulisan .............................................................................................

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Terapi Komplementer .....................................................................
2.2 Klasifikasi dari Terapi Komplementer ..............................................................
2.3 Penggunaan Terapi Komplementer dalam Keperawatan ..................................
2.4 Jenis-Jenis Terapi Komplementer yang Diakses Keperawatan .........................
2.5 Penerapan Terapi Komplementer pada Perawatan Lansia ................................
2.6 Pengaplikasian Komplementer dalam NIC NOC ..............................................

BAB IIIPENUTUP
3.1 Simpulan ........................................................................................................... 44
3.2 Saran ................................................................................................................. 45

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam ilmu keperawatan terapi modalitas dikenal dengan terapi
komplementer, terapi alternative, terapi holistis, terapi nonbiomedis, pengobatan
integratif atau perawatan kesehatan, perawatan nanalopati, dan perawatan
nontradisional. Terapi komplementer atau terapi modalitas merupakan metode
pemberian terapi yang menggunakan kemampuan fisik atau elektrik. Terapi ini
bertujuan untuk membantu proses penyembuhan dan mengurangi keluhan yang
dialami klien (Lundy dan Jenes, 2009). Terapi komplementer atau terapi
modalitas di akui sebagai upaya kesehatan nasional oleh Nasional Center for
Complementary/ Alternative Medicine (NCCAM) di Amerika. Penggunaan
istilah komplementer disebabkan karena pemakaian bersama terapi lain, bukan
sebagai pengganti dan pengobatan biomedis.Terapi Komplementer merupakan
metode penyembuhan yang caranya berbeda dari pengobatan konvensional di
dunia kedokteran, yang mengandalkan obat kimia dan operasi, yang dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan. Banyak terapi modalitas yang digunakan pada
terapi komplementer mirip dengan tindakan keperawatan seperti teknik sentuhan,
massage dan manajemen stress. Terapi komplementer merupakan terapi
tambahan bersamaan dengan terapi utama dan berfungsi sebagai terapi suportif
untuk mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi
terhadap penatalaksanaan pasien secara keseluruhan.
Menurut WHO (World Health Organization), Pengobatan komplementer
adalah pengobatannon-konvensional yang bukan berasal dari negara yang
bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan
komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional
yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan
diturunkan secara turun temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina misalnya,
jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer. Dari hasil
penelitian pendapat mahasiswa perawat tentang terapi komplementer yang
direkomendasikan untuk perawat adalah : massage, terapi musik, diet, teknik
relaksasi, vitamin dan produk herbal. Di Amerika terapi komplementer
kedokteran dibagi empat jenis terapi : Chiropractic, teknik relaksasi, terapi
massage dan akupuntur serta menurut National Institute of Health (NIH), terapi
komplementer dikategorikan menjadi 5, yaitu : - Biological Based Practice :
herbal, vitamin, dan suplemen lain - Mind-body techniques : meditasi -
Manipulative and body-based practice : pijat, refleksi - Energy therapies : terapi
medan magnet - Ancient medical systems : obat tradisional chinese, aryuvedic,
akupuntur. Pada dasarnya, terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki
fungsi dari sistem-sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan
tubuh, agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena
tubuh kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya
sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan
asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat.
Bagi perawat yang tertarik mendalami terapi komplementer dapat
memulai dengan tindakan tindakan keperawatan atau terapi modalitas yang
berada pada bidang keperawatan yang dikuasai secara mahir berdasarkan
perkembangan teknologi terbaru. Jadi, Keperawatan komplementer adalah
cabang ilmu keperawaratan yang menerapkan pengobatan non konvensional
yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang berfungsi sebagai terapi
suportif untuk mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan
berkontribusi terhadap penatalaksanaan pasien secara keseluruhan, diperoleh
melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang
tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam
kedokteran konvensional. Dalam keperawatan komplementer tidak lepas juga
berkaitan dengan proses keperawatan didalamnya.
Seperti halnya keperawatan pada umumnya, proses keperawatan
merupakan suatu cara berpikir dan bertindak yang spesial (khusus) dalam
melakukan asuhan keperawatan. Dalam proses keperawatan, terdapat beberapa
tindakan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain yaitu: assessment
(pengkajian) yang berfungsi untuk mengetahui identitas pasien maupun keluhan-
keluhan pasien, diagnosis (penentuan diagnosa), perencanaan hasil (planning:
outcome), perencaan intervensi (planning: intervention), pelaksanaan
(implementation) sampai evaluasi (evluation). Dalam intervensi keperawatan
secara umum, dikenal terdapat istilah NIC dan NOC. Komplementer dalam NIC
NOC adalah bagaimana kita dapat mengetahui dan memilah-milah tindakan-
tindakan yang akan kita lakukan ke pasien dengan teknik non farmakologis.
Sebagai contoh Asuhan Keperawatan pasien dengan hipertensi. Sebelum itu
seperti biasa dalam proses keperawatan secara umum terlebih dahulu kita
melakukan pengkajian, kemudian merumuskan diagnosa, hingga sampai ke
perencanaan yang berisikan NIC dan NOC.
Misalnya penyakit hipertensi dengan diagnosa keperawatan nyeri akut,
dalam komplementer kita harus dapat memilah tindakan yang akan kita lakukan
ke pasien dengan teknik farmakologis dengan contoh Komplementer dan NIC
NOC untuk penyakit hipertensi (Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi 1 Nyeri
akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. NOC : 1.
Mampu mengontrol nyeri 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 3. Menyatakan
rasa nyaman setelah mengalami penurunan intensitas nyeri. NIC : 1. Lakukan
pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, dan kualitas nyeri. 2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan. 3. Menganjurkkan tirah baring selama fase akut. 4. Pilih dan
lakukan penanganan nyeri dengan teknik farmakologi dan non farmakologi
(terapi komplementer : akupresure dan akupunktur, pemberian ramuan jamu :
jamu daun seledri, teh herbal bawang berlian) 5. Observasi tanda-tanda vital.).
Dan Setelah itu terapi berlanjut hingga bagaimana pelaksanaannya ke pasien
hingga hasil akhir yaitu evaluasi (bagaimana keadaan pasien setelah
mendapatkan tindakan, apakah ada perubahan ke arah yang lebih baik).
Dalam terapi komplementer proses keperawatan juga sangat penting, kita
harus dapat mengetahui dan dapat memilah-milah rencana tindakan apa yang
akan kita berikan kepada pasien berkaitan dengan keperawatan komplementer itu
sendiri. Makadari itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang
komplementer dalam NIC NOC.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah pengertian dari terapi komplementer?
1.2.2 Apa sajakah klasifikasi dari terapi komplementer?
1.2.3 Bagaimanakah penggunaan terapi komplementer dalam keperawatan?
1.2.4 Apa sajakah jenis-jenis terapi komplementer yang dapat diakses
keperawatan?
1.2.5 Bagaimanakah penerapan terapi komplementer pada perawatan lansia?
1.2.6 Bagaimanakah pengaplikasian komplementer dalam NIC NOC?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari terapi komplementer.
1.3.2 Untuk mengetahui klasifikasi dari terapi komplementer.
1.3.3 Untuk mengetahui penggunaan terapi komplementer dalam keperawatan.
1.3.4 Untuk mengetahui jenis-jenis terapi komplementer yang dapat diakses
keperawatan.
1.3.5 Untuk mengetahui penerapan terapi komplementer pada perawatan lansia.
1.3.6 Untuk mengetahui pengaplikasian komplementer dalam NIC NOC.

1.4 Manfaat Penulisan


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Terapi Komplementer


Istilah terapi modalitas dalam ilmu keperawatan lebih dikenal dengan terapi
komplementer, terapi alternative, terapi holistis, terapi nonbiomedis, pengobatan
integratif atau perawatan kesehatan, perawatan nanalopati, dan perawatan
nontradisional. Terapi modalitas merupakan metode pemberian terapi yang
menggunakan kemampuan fisik atau elektrik. Terapi modalitas bertujuan untuk
membantu proses penyembuhan dan mengurangi keluhan yang dialami klien (Lundy
dan Jenes, 2009). Terapi komplementer adalah istilah untuk terapi yang bukan bagian
dari terapi medis konvensional.
Terapi komplementer atau terapi modalitas di akui sebagai upaya kesehatan
nasional oleh nasional center for complementary/ alternative medicine (NCCAM) di
Amerika. Penggunaan istilah komplementer disebabkan karena pemakaian bersama
terapi lain, bukan sebagai pengganti dan pengobatan biomedis. Terapi komplementer
juga digunakan dalam praktik keperawatan profesional sebagai terapi alternative di
beberapa klinik keperawatan, misalnya latihan relaksasi otot progresif pada
penanganan klien dengan epilepsi yang menyertai penggunaan obat antiepilepsi.
Study menunjukkan bahwa penggunaan relaksasi otot progresif dapat meningkatkan
kontrol kejang (Whaitma dkk, 1990). Namun demikian, terapi komplementer dapat
digunakan mandiri atau tidak berhubungan dengan terapi biomedis karena di
posisikan sebagai upaya promosi kesehatan, misalnya klien dipijat secara rutin untuk
mencegah munculnya stres.
Terapi komplementer merupakan terapi holistis atau terapi nonbiomedis.
Hasil penelitian tentang psikoneuroimunologi mengungkapkan bahwa proses
interaktif pada manusia dengantubuh, pikiran, dan interaksi sosial mempengaruhi
kesejahteraan seseorang. NCCAM menetapkan bahwa terapi komplementer secara
garis besar di dasarkan sebagai kategori terapi pikiran penghubung tubuh (mind
body terapies) sementara terapi biomedis lebih banyak mempengaruhi seluruh tubuh
dan berfokus pada dampak terapi terhadap pengobatan atau penanganan masalah
fisik. Sebagai contoh, pada terapi biomedis, evaluasi efek obat antihipertensi hanya
ditentukan melalui tekanan darah dan tidak memperhatikan bagaimana obat
mempengaruhi alam rohani dan psikologis. NCCAM mendefinisikan terapi
komplementer adalah suatu penyembuhan yang mencakup sistem kesehatan, modalis,
praktik dan teori serta keyakinan dari masyarakat atau budaya dalam periode secara
tertentu.

2.2 Klasifikasi Terapi Komplementer


Terdapat lebih dari 1800 terapi komplementer yang diidentifikasi
berdasarkan sistem perawatan , terapi yang cukup dikenal luas dan digunakan, variasi
dari terapi, praktik budaya asli yang tidak dikenal, dan mekanisme yang mendasari
tindakan terapi yang tidak diketahui.
Kategori terapi komplementer menurut NCCAM adalah sebagai berikut :
1. Terapi pikiran, tubuh ( mind body terapies)
2. Terapi berbasis biologi ( biologokalli based terapies)
3. Terapi manipulatife dan berbasis tubuh(manipulatife and body based terapies)
4. Terapi energi yang termasuk dalam kategori energi hayati bioelektro magnetic
(energi and biofild terapies)
Menurut NCCAM terapi komplementer menjadi pengobatan untuk kondisi
tertentu dan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan termasuk
profesi perawat. Basis filosofi yang mendasari penggunaan terapi komplementer
berbeda dengan modal biomedis konfensional. Biomedis berusaha menghilangkan
dan memperbaiki etiologi atau masalah yang mendasari serta menekankan pada
pengobatan trauma maupun situasi darurat lainya (Weil, 1995).
Sementara itu tujuan terapi komplementer dalam sistem keperawatan adalah
untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan dalam diri seseorang. Zollman dan
Vickers (1999)menyatakan tujuan dari intervensi terapeutik adalah untuk
mengembalikan keseimbangan dan memfasilitasi respon tubuh daripada
menyembuhkan proses penyakit atau penghentian gejala. Oleh karena itu, perawat
memberikan perawatan yang mencakup modifikasi gaya hidup, perubahan diet, olah
raga, pengobatan khusus, konseling, latihan, bimbingan, pada pernafasan, relaksasi,
serta resep herbal. Konsep ini menekankan pentingnya sistem perawatan yang
menerapkan pendekatan kepedulian holistik terhadap perawatan klien yang akan
meningkatkan pelayanan kesehatan.

2.3 Penggunaan Terapi Komplementer


Faktor yang mempengaruhi perkembangan atau penggunaan terapi
komplementer antara lain:
1. Adanya kenyakinan bahwa terapi biomedis tidak menyentuh seluruh dominan
yang dimiliki individu;
2. Adanya efek biomedis yang dianggap lebih buruk daripada efek terapi yang
diharapkan;
3. Konsumen menginginkan penyedia layanan kesehatan yang peduli (caring);
4. Konsumen menginginkan pengakuan dan perlakuan secara utuh atau holistis;
5. Konsumen menginginkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan untuk
menangani masalah kesehatan yang di hadapi.
6. Faktor lain yang telah meningkatkan penggunaan terapi komplementer adalah
peningkatan pergeseran budaya yang menggunakan pelayanan kesehatan selain
sistem biomedis.
Terapi komplementer keperawatan Nightingale menyerahkan penggunaan
terapi komplementer dalam perawatan klien. Fundamental of nursing menjelaskan
beberapa penggunaan prinsip terapi komplementer seperti pijat (massage), panas dan
dingin, dan gizi. Pada akhir 1950-an, proses keperawatan diperkenalkan dengan
menggunakan 5 langkah pendekatan pemecahan masalah untuk keperawatan yaitu
pengakajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, intervensi, dan evaluasi.
Keterampilan pengakajian sangat penting karena berkaitan dengan langkah
selanjutnya, yaitu intervensi. Perbedaan dalam menyusun intervensi dipengaruhi oleh
pengelompokan yang meliputi tindakan dependen (dependent), kolaborasi
(interdependent), maupun mandiri (independent).
Perawat memiliki otonomi yang luas dalam memberikan intervensi, terutama
tindakan mandiri, sebagai tindakan profesi yang ditunjang pendidikan tinggi. Kondisi
ini memberikan kesempatan kepada perawat untuk dapat memberikan praktik
keperawatan komplementer. Menurut Sydner, Bulechek, dan McCloskey (1985),
beberapa intervensi keperawatan mandiri yang termasuk terapi komplementer antara
lain musik, imagery, relaksasi otot progesif, dan pijat. Idetifikasi dan klasifikasi
intervensi keperawatan oleh Internasional Council of Nurses Poject (ICNP) dan
National Intervention Classification project (NIC) telah memperluas ruang lingkup
intervensi yang mencangkup seluruh kegiatan keperawatan. Dengan demikian,
berdasarkan konsep keperawatan, istilah intervensi tidak membedakan terapi
komplementer dengan tindakan keperawatan lainnya seperti pemantauan status
perawatan klien. Perawat harus menggunakan terapi komplementer yang lebih
banyak untuk membantu klien mencapai hasil kesehatan yang lebih optimal.

2.4 Jenis-jenis Terapi Komplementer yang Dapat Diakses Keperawatan


Beberapa terapi dan teknis medis alternatif dan komplementer bersifat umum
dan menggunakan proses alami (pernapasan, pikiran dan konsentrasi, sentuhan
ringan, pergerakan, dan lain-lain) untuk membantu individu merasa lebih baik dan
beradaptasi dengan kondisi akut maupun kronis. Berikut jenis-jenis terapi yang dapat
diakses keperawatan, yaitu :
1. Terapi Relaksasi
Respon relaksasi merupakan bagian dari penurunan umum kognitif, fisiologis,
dan stimulasi perilaku. Relaksasi juga melibatkan penurunan stimulasi. Proses
relaksasi memperpanjang serat otot, mengurangi pengiriman impuls neural ke
otak, dan selanjutnya mengurangi aktivitas otak juga sistem tubuh lainnya.
Relaksasi membantu individu membangun keterampilan kognitif untuk
mengurangi cara yang negatif dalam merespon situasi dalam lingkungan mereka.
Keterampilan kognitif adalah seperti sebagai berikut :
a. Fokus (kemampuan untuk mengidentifikasi, membedakan, mempertahankan
perhatian, dan mengembalikan perhatian pada rangsangan ringan untuk
periode yang lama).
b. Pasif (kemampuan untuk menghentikan aktivitas analisis dan tujuan yang
tidak berguna).
c. Kesediaan (kemampuan untuk menoleransi dan menerima pengalaman yang
tidak pasti, tidak dikenal, atau berlawanan).
d. Tujuan dari relaksasi jangka panjang adalah agar individu memonitor dirinya
secara terus-menerus terhadap indikator ketegangan, serta untuk
membiarkan dan melepaskan dengan sadar ketegangan yang terdapat di
berbagai bagian tubuh.

2. Meditasi dan Pernapasan


Meditasi adalah segala kegiatan yang membatasi masukan rangsangan
dengan perhatian langsung pada suatu rangsangan yang berulang atau tetap
(Rakel dan Faas, 2006). Menurut Benson, komponen relaksasi sangat sederhana,
yaitu : (1) ruangan yang tenang, (2) posisi yang nyaman, (3) sikap mau
menerima, dan (4) fokus perhatian. Praktik meditasi tidak membutuhkan seorang
pengajar, banyak individu mempelajari prosesnya dari buku atau kaset, dan
mudah untuk diajarkan (Fontaine, 2005). Sebagian besar teknik meditasi
melibatkan pernapasan, biasanya pernapasan perut yang dalam, relaks, dan
perlahan. Meditasi menimbulkan keadaan santai, menurunkan konsumsi oksigen,
mengurangi frekuensi pernapasan dan denyut jantung, serta menghasilkan
laporan penurunan kecemasan.Ada banyak indikasi untuk meditasi, diantaranya
adalah sebagai berikut :
a. Kecemasan atau suasana yang menegangkan
b. Rasa kehilangan yang kronis
c. Sindroma kelelahan kronis
d. Rasa nyeri kronis
e. Penyalahgunaan obat (alkohol atau tembakau)
f. Hipertensi
g. Kegelisahan
h. Harga diri rendah atau menyalahkan diri
i. Depresi ringan
j. Gangguan tidur

3. Imajinasi
Imajinasi atau teknik visualisasi yang menggunakan kesadaran pikiran
untuk menciptakan gambaran mental agar menstimulasi perubahan fisik dalam
tubuh, memperbaiki kesejahteraan, dan meningkatkan kesadaran diri. Biasanya
imajinasi dikombinasi dengan beberapa bentuk latihan relaksasi yang
memfasilitasi efek dari teknik relaksasi. Imajinasi bersifat ditujukan pada diri, di
mana individu menciptakan gambaran mental dirinya sendiri, atau bersifat
terbimbing, dimana selama seorang praktisi memimpin individu melalui skenario
tertentu.
Imajinasikan sering menimbulkan respons psikofisiologis yang kuat seperti
perubahan dalam fungsi imun (Fontaine, 2005). Banyak teknik imajinasi
melibatkan imajinasi visual, tapi mereka juga melibatkan indera pendengaran,
pengecap, dan penciuman. Visualisasi kreatif adalah satu bentuk imajinasi yang
ditujukan pada diri yang didasari pada prinsip hubungan tubuh-pikiran. Imajinasi
telah digunakan untuk visualisasi sel kanker yang telah dihancurkan oleh sel
sistem imun, untuk mengontrol atau mengurangi rasa nyeri, dan untuk mencapai
ketenangan dan ketentraman. Imajinasi juga membantu dalam pengobatan
kondisi kronis seperti asma, hipertensi, gangguan fungsi berkemih, sindrom
prementasi dan menstruasi, gangguan gastrointestinal ulceratif colotis, dan
rheumatoid arthritis.

4. Hypnotouch Nursing.
Hypnotouch Nursingmerupakansuatu intervensi keperawatan dengan
sentuhan hypnosis. Konsep ini adalah konsep yang hanya dimiliki dan
dikembangkan hanya oleh INC (Indonesia Nursing Center) dengan
program Hypnotouch Nursingnya. Hypnotouch Nursing penting diterapkan para
perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Hypnotouch
Nursing merupakan alternatif intervensi keperawatan dari diagnosis keperawatan
NANDA, berdasarkan NIC (Nursing Intervention Classification/klasifikasi
intervensi keperawatan) dan menggunakan konsep teori "comfort" Kolcaba.
Saat ini, beberapa diagnosis keperawatan (NANDA) yang dapat
diaplikasikan hipnosis sebagai intervensinya adalah sebagai berikut :
a. Nyeri : Pain control with Hypnotouch
b. Inefektif breastfeeding : Hypnotouch Breastfeeding
c. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh : Hypnotouch
Slimming
d. Perubahan proses keluarga : Hypnotouch Parenting
e. Fear, anxietas, harga diri rendah, berduka disfungsional, Chronic
Sorrow : Hypnotouch Motivation
f. Persalinan rilex tanpa nyeri : Hypnotouch For Birthing
g. Gangguan citra tubuh : Hypnotouch Beauty

2.5 Penerapan Terapi Komplementer pada Perawatan Lansia


A. Gangguan Sistem Muskuloskeletal dan Integumen : Osteoporosis
1. Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan pada klien dengan osteoporososis meliputi :
a. Pengobatan
1) Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yang dapat
meningkatkan pembentukan tulang adalah Na-fluorida dan
steroid anabolik
2) Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat
mengahambat resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin,
estrogen dan difosfonat
b. Pencegahan
Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar
seperti:
Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
Latihan teratur setiap hari
Hindari:
Makanan tinggi protein
Minuman beralkohol
Merokok
Minum kopi

2. Teknik Terapi Komplementer


a. Menjaga Kebugaran Jasmani
Kebugaran jasmani adalah suatu aspek fisik dari kebugaran
menyeluruh. Kebugaran jasmani pada lansia adalah kebugaran yang
berhubungan dengan kesehatan yaitu kebugaran jantung-paru dan
peredaran darah serta kekuatan otot dan kelenturan sendi.
b. Mengangkat dan Mengangkut
Melihat berbagai perubahan karena penuaan, cara mengangkat dang
mengakut yang efektif, efisien, dan aman merupakan kebutuhan
bagi lansia. Untuk menunjang prinsip kinetic dalam mengangkat
dan mengangkut dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Pegangan harus tepat, kerja statis local dihindari
2) Pegangan/tangan berada sedekat mungkin dengan tubuh
3) Punggung harus lurus
4) Dagu (kepala) diusahakan segera ke posisi tegak
5) Kaki diusahakan sedemikian rupa sehingga keseimbangannya
kuat.
6) Memanfaatkan berat badan sebagai gaya tarik/dorong
7) Beban berada sedekat mungkin dengan garis vertical yang
melalui pusat gravitasi tubuh.
c. Perlindungan sendi
Usaha perlindungan sendi dapat dilakukan dengan menghindari
pemakaian sendi secara berlebihan, menghindari trauma,
mengurangi pembebanan, berusaha menggunakan sendi yang lebih
kuat atau lebih besar, dan istirahat sejenak disela-sela aktivitas.
d. Konservasi Energi
Konservasi energy adalah suatu cara melakukan aktivitas dengan
energy yang relative minimal, namun dapat memperoleh hasil
aktivitas yang baik. Teknik konservasi energy dapat dicapai apabila
dalam setiap aktivitas memperhatikan hal-hal berikut :
1) Rencanakan aktivitas yang akan dilakukan sehingga tidak ada
gerakan kejut yang akan meningkatkan stres fisik atau
emosional.
2) Atur lingkungan aktivitas sedemikian rupa sehingga pada
waktu melaksanakan aktivitas, energy dapat digunakan secara
efisien
3) Jika mungkin, aktivitas dilakukan dalam posisi duduk
4) Jangan menjinjing atau mengangkat barang jika dapat
didorong atau digeser.
5) Gunakan alat aktivitas yang relatif ringan
6) Lakukan aktivitas dengan cara yang sama karena akan
membuat lebih efisien.
7) Dalam setiap aktivitas, harus sering diselingi istirahat. Salah
satu pedoman adalah sepuluh menit istirahat untuk setiap satu
jam bekerja.
8) Bagi aktivitas menjadi beberapa bagian kemudian kerjakan
pada waktu yang berbeda.
e. Peningkatan Kekuatan Otot
Peningkatan kekuatan otot pada lansia lebih ditujukan agar mampu
melakukan gerak fungsional tanpa adanya hambatan. Dalam latihan
ini, jenis latihan yang dianjurkan adalah latihan isotonic, dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) Tentukan kemampuan otot maksimal
2) Latihan pada 60%-80% kemampuan otot maksimal
3) Ukur ulang setiap minggu
4) 3 x seri latihan, tiap seri 8-10 ulangan
5) Istirahat 1-2 menit diantara seri
6) Lakukan 3x seminggu, minimal selama 8 minggu

B. Gangguan Persepsi-Sensori : Demensia


1. Penatalaksanaan Medis
Penanganan yang bisa dilakukan:
a. Farmakologis (dengan obat): hal ini perlu pemeriksaan dan pertimbangan
secara individual.
b. Non-Farmakologis (tanpa obat): hal ini bisa dilakukan oleh semua warga
senior tanpa ada pertimbangan baik sebagai upaya promotif, prefentif
maupun kuratif.

Penanganan secara farmakologis yang dilakukan (Yatim, 2003) diantaranya:


a. Mengobati penyakit-penyakit yang memperberat kejadian demensia.
b. Mengobati gejala-geja gangguan jiwa yang mungkin menyertai demensia.
c. Mengatasi masalah penyimpangan perilaku dengan obat-obat penenang
(tranzquillizer dan hypnotic) serta memberikan obat-obatan anti kejang
bila perlu.
d. Intervensi lain yaitu dengan antipsykotics, Anxiiolitycs, Selegiline,
Antimanic drugs, Acetlcholinesterase inhibit ( Gaskel, 2007)
Konsep penanganan Non-farmakologis menggunakan rekreasi terapeutik.
Konsep ini bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan
kebutuhan psikososial warga senior serta bertujuan meningkatkan dan
mempertahankan kepercayaan diri, motivasi, mobilitas tantangan, interaksi
sosial dan kebugaran mental.
Aktivitas-aktivitas yang memiliki dampak terapeutik (Kusumoputro &
Sidiarto, 2006) diantaranya:
a. Reminisensi
b. Orientasi realitas
c. Stimulasi kognitif
d. Stimulasi sensorik
e. Stimulasi fisik (berupa gerak dan latihan otak, GLO)
Selain aktivitas rekreasi terapeutik ini juga dilakukan stimulasi kognitif
disebut juga memory training, memory retraining atau cognitive rehabilitation.
Aktivitas ini perlu ditambah dengan aktivitas fisik seperti senam ataupun
menurut selera masing-masing. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kerja
jantung dan paru untuk mengalirkan darah yang penuh oksigen ke bagian-
bagian tubuh terutama otak selain itu juga memiliki tujuan renovasi sel tubuh.
Dalam jurnal yang meniliti melalui efek dari terapi musik terhadap lansia
penderita demensia (Wall, & Duffy, 2010). Dalam jurnal tersebut dijelaskan
melalui kebiasaan mendengarkan music walaupun secara singkat akan sangat
sbermanfaat untuk melatih ingatan para lansia penderitanya. Tingkat
kegelisahannya pun akan menurun, termasuk perilaku agresif verbal maupun
non-verbalnya.

Terapi life review


Life review terapi adalah suatu fenomena yang luas sebagai gambaran
pengalaman kejadian, dimana didalamnya seseorang akan melihat secara
cepat tentang totalitas riwayat kehidupan.Terapi tersebut akan membawa
seseorang untuk bisa menjadi lebih akrab pada realita kehidupan. Terapi ini
membantu seseorang untuk mengaktifkan ingatkan jangka panjang dimana
akan terjadi mekanisme recall tentang kejadian pada kehidupan masa lalu
hingga sekarang. Dengan ini lansia akan lebih mengenal siapa dirinya dan
dapat mempertimbangkan kualitas hidup menjadi lebih baik dibandingkan
sebelumnya.

C. Gangguan Konsep Diri : Depresi


1. Penatalaksanaan
a. Terapi Medis
1) Obat Anti Depresan golongan serotonin Selektif Reuptake Inhibitor
(SSRI) dan Serotonin Norephinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI)
2) Benzodiazepine (obat penenang)
3) Alphrazolam, Lorazepam, (anti cemas)
b. Terapi Komplementer
1) Terapi rekreasi
Terapi rekreasi adalah kegiatan penyegaran kembali tubuh dan
pikiran dan kegiatan yang menggembirakan hati seperti hiburan atau
piknik. Rekreasi dapat meningkatkan daya kreasi manusia dalam
mencapai kesinambungan antara bekerja dan beristirahat.
Terapi rekreasi yang diberikan kepada lansia akan memengaruhi
kondisi fisik dan psikis lansia. Secara fisik terapi rekreasi mampu
membantu lansia dalam mengembalikan atau memperbaiki kondisi
fisik yang sudah lama jarang digerakkan akibat hospitalisasi yang
lama.
Secara psikis terapi rekreasi akan mempengaruhi psikis lansia
seperti membantu menyegarkan otak dan pikiran, membuat perasaan
menjadi tenang, senang, serta nyaman. Dan demikian, lansia tidak
akan merasa cemas, stress maupun depresi.
Tujuan terapi rekreasi
o Menciptakan dan membina hubungan manusia.
o Mempertahankan nilai nilai budaya.
o Menimbulkan kesenangan dan kepuasan karena dapat memenuhi
rasa ingin tahu.
o Memulihkan kesehatan jasmani dan rohani.

Indikasi terapi rekreasi


o Lansia yang baru keluar dari rumah sakit setelah perawatan
selama lebih dari 2 minggu.
o Lansia yang sedang mengalami cemas, stress, maupun depresi.
o Lansia yang mempunyai penyakit kronis.

Kontraindikasi terapi rekreasi


o Lansia yang kondisinya harus tirah baring total msalnya sroke
atau pasca operasi tumor otak.
o Lansia yang mengalami demensia, ganguan jiwa, dan
ketergantungan total.

D. Gangguan Sistem Pencernaan : Gastritis


1. Penatalaksanaan Medis
Untuk mengurangi gejala iritasi dinding lambung oleh asam lambung,
penderita gastritis lazim diberi obat yang menetralkan atau mengurangi asam
lambung, misalnya (Mayo Clinic,2007) :
a. Antasid : Obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan
merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan.
Antasida menetralkan asam lambung sehingga cepat mengobati gejala
antara lain promag, mylanta, dll.
b. Penghambat asam (acid blocker) : Jika antasid tidak cukup untuk
mengobati gejala, dokter biasanya meresepkan obat penghambat asam
antara lain simetidin, ranitidin, atau famotidin.
c. Proton pump inhibitor (penghambat pompa proton) : Obat ini bekerja
mengurangi asam lambung dengan cara menghambat pompa kecil dalam
sel penghasil asam. Jenis obat yang tergolong dalam kelompok ini adalah
omeprazole, lanzoprazole, esomeparazol, rabeprazole, dll. Untuk
mengatasi infeksi bakteri H. pylori, biasanya digunakan obat dari
golongan penghambat pompa proton, dikombinasikan dengan antibiotika.

2. Pengobatan dengan terapi komplementer :


Terapi Relaksasi Nafas Dalam
Menurut brunner & suddart (2002), relaksasi nafas adalah pernafasan
abdomen dengan frekuensi lambat atau perlahan, berirama dan nyaman yang
dilakukan dengan memejamkan mata.

Teori Terapi Relaksasi Nafas Dalam


Teknik relaksasi meliputi berbagai metode untuk perlambatan bawah
tubuh dan pikiran. Meditasi, relaksasi otot progresif, latihan pernafasan,
petunjuk gambar merupakan teknik relaksasi yang sering digunakan dalam
pengaturan klinis klien untuk membantu reaksi stres dan mengatur
kesejahteraan secara keseluruhan.
Distraksi atau pengalihan perhatian akan menstimulasi kontrol desenden,
yaitu suatu sistem serabut yang barasal dari dalam otak bagian bawah dan
bagian tengah dan berakhir pada serabut interneural inhibitor dalam
kornudorsalis dari medulla spinalis, yang mengakibatkan berkurangnya
stimulasi nyeri yang ditransmisikan ke otak (smeltzher, 2002)

Manfaat Terapi Relaksasi Nafas Dalam


a. Lansia mendapatkan perasaan yang nyaman dan tenang
b. Mengurangi nyeri
c. Lansia tidak mengalami stress
d. Melemaskan otot untuk menurunkan ketegangan dan kejenuhan yang
biasanya menyertai nyeri
e. Mengurangi kecemasan yang memburuk persepsi nyeri
f. Relaksasi nafas dalam mempunyai efek distraksi atau pengalihan
perhatian.

Indikasi Terapi Relaksasi Nafas Dalam


a. Lansia yang mengalami nyeri akut tingkat ringan sampai dengan sedang
akibat penyakit yang kooperatif
b. Lansia dengan nyeri kronis (nyeri punggung)
c. Nyeri pasca operasi
d. Lansia yang mengalami stress

Kontraindikasi terapi relaksasi nafas dalam


Terapi relaksasi nafas dalam tidak diberikan pada klien yang mengalami
sesak nafas

Teknik Terapi relaksasi nafas dalam


Menurut earnest (1989), teknik terapi relaksasi nafas dalam dijabarkan
sebagai berikut :
a. Klien menarik nafas dalam dan mengisi paru dengan udara, dalam tiga
hitungan (hirup, dua, tiga)
b. Udara dihembuskan perlahan-lahan sambil membiarkan tubuh menjadi
relaks dan nyaman. Lakukan pengitungan bersama klien (hembuskan, dua,
tiga)
c. Klien bernafas beberapa kali dengan irama normal
d. Ulangi kegiatan menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Biarkan
hanya kaki dan telapak kaki yang relaks. Perawat meminta klien
mengonsentrasikan pikiran pada kakinya yang terasa ringan dan hangat.
e. Klien mengulangi lang ringan dan hangat.
f. Klien mengulangi langkah keempat dan mengonsentrasikan pikiran pada
lengan, perut, punggung dan kelompok otot yang lain.
g. Setelah seluruh tubuh klien merasa relaks, anjurkan untuk bernafas secara
perlahan-lahan. Bila nyeri bertambah hebat, klien dapat bernafas secara
dangkah keempat dan mengonsentrasikan pikiran pada lengan, perut,
punggung dan kelompok otot yang lain.
h. Setelah seluruh tubuh klien merasa relaks, anjurkan untuk bernafas secara
perlahan-lahan. Bila nyeri bertambah hebat, klien dapat bernafas secara
dangkal dan cepat.

Kriteria evaluasi
a. Catat skala nyeri yang dirasakan klien sesudah tindakan
b. Catat ekspresi klien sesudah tindakan
c. Catat tanda-tanda vital klien.

2.6 Pengaplikasian Komplementer dalam NIC NOC


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan materi diatas, dapat disimpulkan bahwa
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3, Gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta:


Rajawali Pers.
Kusumanto, R., Iskandar, Y., 1981. Depresi, Suatu problema Diagnosa dan Terapi
pada praktek umum. Jakarta: Yayasan Dharma Graha
Martono, Hadi dan Kris Pranarka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu
Kesehatan Usia Lanjut), Edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Maryam, R.Siti. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba
Medika
Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
Mubarak, Wahid Iqbal. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan
Aplikasi.Jakarta : Salemba Medika
Pudjiastuti, Sri Surini dan Budi Utomo. 2003. Fisioterapi Pada Lansia. Jakarta : EGC
Setyoadi, Kushariyadi. 2011. Terapi Modalitas keperawatan pada klien psikogeriatik.
Jakarta : Salemba medika
Stockslager, Jaime L. 2007. Buku Saku Asuhan Keparawatan Geriatrik. Edisi
II.Jakarta : EGC
Tarigan, C., Julita 2003. Perbedaan Depresi Pada Pasien Dispepsia Fungsional dan
Dispepsia Organik. Diakses dalam http://www.usu.go.id.
Watson, Roger. 2003. Perawatan Pada Lansia. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2005. Nursing Diagnosis Handbook With NIC Interventions
and NOC Outcomes. USA : Pearson Printice Hall.