Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini di negara berkembang telah terjadi pergeseran penyebab


kematian utama yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.
Kecenderungan transisi ini dipengaruhi oleh adanya perubahan gaya hidup,
urbanisasi dan globalisasi. Penyakit yang tergolong dalam penyakit tidak
menular salah satunya adalah penyakit kanker. Kanker merupakan penyakit
mematikan kedua didunia setelah penyakit jantung. Peningkatan jumlah pasien
kanker di dunia sebanyak 6,25 juta setiap tahunnya. Bahkan,data dunia
menyatakan bahwa sebanyak 11 12 juta orang saat ini merupakan pengidap
berbagai jenis kanker. (Wulandari, 2016).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004, menyatakan bahwa
terdapat 5 besar kanker di dunia adalah kanker paru-paru, kanker payudara,
kanker usus besar, kanker lambung, dan kanker hati.(Anggorowati,2013)
Kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara.
Kanker ini menempati urutan pertama pada wanita setelah kanker leher rahim.
Di Indonesia 96% tumor payudara justru dikenali oleh penderita itu sendiri
sehingga memudahkan dokter untuk mendeteksi kanker payudara. Kanker
payudara merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh kaum wanita, penyebab
kematian yang paling besar bagi perempuan berusia antara 18 hingga 54 tahun,
perempuan yang berusia 45 tahun memiliki resiko terjangkit kanker payudara
berjumlah 25% lebih tinggi dibandingkan perempuan yang lebih tua (Lee,
2008)

1
Angka kejadian atau prevalensi kanker payudara akan selalu bertambah
setiap tahun. Penyakit kanker adalah salah satu penyebab kematian di dunia.
Saat ini, kanker payudara memiliki peringkat 5%-10% dari seluruh jenis
kanker. Dilaporkan angka kejadian di seluruh dunia melonjak hingga 2 kali
lipat, ini merupakan tingkat kenaikan tertinggi sepanjang 30 tahun terakhir,
WHO (World Healthy Organization) memperkirakan angka kejadian dari tahun
2009 terdapat 11 juta yang terkena kanker dan tahun 2030 akan bertambah
menjadi 27 juta kematian akibat kanker dari 7 juta menjadi 17 juta, sehingga
akan didapatkan 75 juta orang yang hidup dengan kanker pada tahun 2030
nanti. Ditahun-tahun mendatang problem kesehatan yang khususnya bagi
Negara-negara berkembang adalah kanker payudara, dengan peningkatan
angka kejadian hingga 70%, dan pada tahun 2002 secara global tercatat 10,9
juta kasus kanker dengan angka kematian 6,7 juta orang(Lee, 2008,)
Kenaikan jumlah kasus kanker payudara terkait dengan kenaikan masa
hidup wanita di seluruh dunia dan pertumbuhan populasi, selain itu, faktor 1
Universitas Sumatera Utara kebiasaan merokok dan diet memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap terjadinya kanker payudara (Wibisono, 2009).
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membuat makalah
yang berjudul Kanker Payudara

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka penulis


membuat suau rumusan masalah agar penelitian ini mencapai sasarannya.

Adapun masalah masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana tanda dan gejala kanker payudara?


2. Apa saja faktor faktor penyebab kanker payudara?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya kanker payudara?
4. Bagaimana pecegahan dan pengobatan penderita kanker payudara?

2
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan yang hendak dicapai,
yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui gejala dari penyakit kanker payudara.
2. Mengetahui faktor faktor yang menjadi penyebab penyakit kanker payudara
3. Mengetahui proses terjadinya kanker payudara
4. Mengetahui cara pencegahan dan pengobatan penderita penyakit kanker
payudara

1.4 Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Sebagai bahan untuk mengembangkan ilmu pengetahahuan dan menambahan
wawasan mengenai kanker payudara.
2. Dapat mengetahui penyebab, gejala, dan pencegahan maupun pengobatan
mengenai kanker payudara.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Gejala Kanker Payudara


Gejala dan pertumbuhan kanker payudara tidak mudah dideteksi karena awal
pertumbuhan sel kanker payudara tidak dapat diketahui dengan mudah. Gejala
umumnya baru diketahui setelah stadium kanker berkembang agak lanjut, karena pada
tahap dini biasanya tidak menimbulkan keluhan. Penderita merasa sehat, tidak merasa
nyeri, dan tidak mengganggu aktivitas. Gejala-gejala kanker payudara yang tidak
disadari dan tidak dirasakan pada stadium dini menyebabkan banyak penderita yang
berobat dalam kondisi kanker stadium lanjut. Hal tersebut akan mempersulit
penyembuhan dan semakin kecil peluang untuk disembuhkan. Bila kanker payudara
dapat diketahui secara dini maka akan lebih mudah dilakukan pengobatan. Tanda yang
mungkin muncul pada stadium dini adalah teraba benjolan kecil di payudara yang tidak
terasa nyeri. . (Nurachmah,1999).
Gejala yang timbul saat penyakit memasuki stadium lanjut semakin banyak,
seperti:
a. Timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan, makin
lama benjolan ini makin mengeras dan bentuknya tidak beraturan.
b. Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri) saat
payudara ditekan karena terbentuk penebalan pada kulit payudara.
c. Bentuk, ukuran atau berat salah satu payudara berubah kerena terjadi
pembengkakan.
d. Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak atau timbul benjolan kecil
dibawah ketiak.
e. Bentuk atau arah puting berubah, misalnya puting susu tertarik ke dalam dan
yang tadinya berwarna merah muda dan akhirnya menjadi kecoklatan.

4
f. Keluar darah, nanah, atau cairan encer dari puting susu pada wanita yang
sedang tidak hamil. Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak
sembuh walau sudah diobati.
g. Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati.
h. Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peau dorange) akibat dari
neoplasma menyekat drainase limfatik sehingga terjadi edema dan pitting
kulit. Payudara yang mengalami peau dorange

Umumnya benjolan hanya dialami di satu payudara, dan bila diraba terasa
keras dan menggerenjil. Bila stadium kanker sudah lanjut, ada perubahan pada puting
dan daerah hitam di sekitar puting. Kulit putingnya bertambah merah, mengerut,
tertarik ke dalam, atau puting mengeluarkan cairan. (Nurachmah,1999).

2.2. Etiologi (Faktor risiko)


Etiologi pasti dari kanker payudara masih belum jelas. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa wanita dengan faktor risiko tertentu lebih sering untuk
berkembang menjadi kanker payudara dibandingkan yang tidak memiliki beberapa
faktor risiko tersebut.Beberapa faktor risiko tersebut :
Umur
Kemungkinan untuk menjadi kanker payudara semakin meningkat seiring
bertambahnya umur seorang wanita. Angka kejadian kanker payudara rata rata pada
wanita usia 45 tahun ke atas. Kanker jarang timbul sebelum menopause. Kanker dapat
didiagnosis pada wanita premenopause atau sebelum usia 35 tahun (Priyatin,2013)

Riwayat kanker payudara


Wanita dengan riwayat pernah mempunyai kanker pada satu payudara mempunyai
risiko untuk berkembang menjadi kanker pada payudara yang lainnya. (Priyatin,2013)

5
Riwayat Keluarga
Risiko untuk menjadi kanker lebih tinggi pada wanita yang ibunya atau saudara
perempuan kandungnya memiliki kanker payudara. Risiko lebih tinggi jika anggota
keluarganya menderita kanker payudara sebelum usia 40 tahun. Risiko juga meningkat
bila terdapat kerabat/saudara (baik dari keluarga ayah atau ibu) yang menderita kanker
payudara. (Priyatin,2013)

Perubahan payudara tertentu


Beberapa wanita mempunyai sel-sel dari jaringan payudaranya yang terlihat abnormal
pada pemeriksaan mikroskopik. Risiko kanker akan meningkat bila memiliki tipe-tipe
sel abnormal tertentu, seperti atypical hyperplasia dan lobular carcinoma in situ [LCIS].
(Priyatin,2013)

Perubahan Genetik
Beberapa perubahan gen-gen tertentu akan meningkatkan risiko terjadinya kanker
payudara, antara lain BRCA1, BRCA2, dan beberapa gen lainnya. BRCA1 and BRCA2
termasuk tumor supresor gen. Secara umum, gen BRCA-1 beruhubungan dengan
invasive ductal carcinoma,poorly differentiated, dan tidak mempunyai reseptor
hormon. Sedangkan BRCA-2 berhubungan dengan invasive ductal carcinoma yang
lebih well differentiated dan mengekspresikan reseptor hormon.Wanita yang memiliki
gen BRCA1 dan BRCA2 akan mempunyai risiko kanker payudara 40-85%. Wanita
dengan gen BRCA1 yang abnormal cenderung untuk berkembang menjadi kanker
payudara pada usia yang lebih dini. (Priyatin,2013)

6
Riwayat reproduksi dan menstruasi
Meningkatnya paparan estrogen berhubungan dengan peningkatan risiko untuk
berkembangnya kanker payudara, sedangkan berkurangnya paparan justru
memberikan efek protektif. Beberapa faktor yang meningkatkan jumlah siklus
menstruasi seperti menarche dini (sebelum usia 12 tahun), nuliparitas, dan menopause
yang terlambat (di atas 55 tahun) berhubungan juga dengan peningkatan risiko kanker.
Diferensiasi akhir dari epitel payudara yang terjadi pada akhir kehamilan akan memberi
efek protektif, sehingga semakin tua umur seorang wanita melahirkan anak
pertamanya, risiko kanker meningkat. Wanita yang mendapatkan menopausal hormone
therapymemakai estrogen, atau mengkonsumsi estrogen ditambah progestin setelah
menopause juga meningkatkan risiko kanker. (Priyatin,2013)

Ras
Kanker payudara lebih sering terdiagnosis pada wanita kulit putih, dibandingkan
wanita Latin Amerika, Asia, or Afrika. Insidensi lebih tinggi pada wanita yang tinggal
di daerah industrialisasi. (Priyatin,2013)

Overweight atau Obese setelah menopause


Kemungkinan untuk mendapatkan kanker payudara setelah menopause meningkat
pada wanita yang overweight atau obese, karena sumber estrogen utama pada wanita
postmenopause berasal dari konversi androstenedione menjadi estrone yang berasal
dari jaringan lemak, dengan kata lain obesitas berhubungan dengan peningkatan
paparan estrogen jangka panjang(Priyatin,2013)

Kurangnya aktivitas fisik


Wanita yang aktivitas fisik sepanjang hidupnya kurang, risiko untuk menjadi kanker
payudara meningkat. Dengan aktivitas fisik akan membantu mengurangi peningkatan
berat badan dan obesitas. (Priyatin,2013)

7
Diet
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang sering minum alkohol
mempunyai risiko kanker payudara yang lebih besar. Karena alkohol akan
meningkatkan kadar estriol serum. Sering mengkonsumsi banyak makan berlemak
dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar estrogen serum, sehingga akan
meningkatkan risiko kanker. (Priyatin,2013)

2.3. Mekanisme Terjadinya Kanker Payudara


Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak
terkendali. Sel kanker memiliki kemampuan untuk menyerang jaringan biologis
lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi)
atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak
terkendali tersebut disebabkan adanya kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen
vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi dibutuhkan untuk
mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi tersebut dapat diakibatkan oleh agen
kimia maupun agen fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan
ataupun diwariskan (mutasi germline) (Kumar dan Robin, 1995). Kanker disebabkan
adanya genom abnormal, terjadi karena adanya kerusakan gen yang mengatur
pertumbuhan diferensiasi sel. Gen yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel
disebut protooncogen dan tumor suppressor genes, dan terdapat pada semua kromosom
dengan jumlah yang banyak. Protooncogen yang telah mengalami perubahan hingga
dapat menimbulkan kanker disebut onkogen. Suatu pertumbuhan normal diatur oleh
kelompok gen, yaitu growth promoting protooncogenes, growth inhibiting cancer
supresor genes (antioncogenes) dan gen yang berperan pada kematian sel terprogram
(apoptosis). Selain ketiga kelompok gen tersebut, terdapat juga 13 kelompok gen yang
berperan pada DNA repair yang berpengaruh pada proliferasi sel. Ketidakmampuan
dalam memperbaiki DNA yang rusak menyebabkan terjadinya mutasi pada genom dan
menyebabkan terjadinya keganasan. Proses karsinogenesis merupakan suatu proses

8
multi tahapan dan terjadi baik secara fenotip dan genetik. Pada tingkat molekuler, suatu
progresi merupakan hasil dari sekumpulan lesi genetic (Tjahjadi,2003)
The six hallmark of cancer ( enam karakter sel kanker ) adalah kontek enam
perubahan mendasar dalam fisiologi sel yang secara bersama-sama menentukan
fenotipe keganasan (Karsono, 2006).
1. Growth signal autonomy
Sel normal memerlukan sinyal eksternal untuk pertumbuhan dan
pembelahannya, sedang sel kanker mampu memproduksi growth factors dan
growth factor receptors sendiri. Dalam proliferasinya sel kanker tidak
tergantung pada sinyal pertumbuhan normal. Mutasi yang dimilikinya
memungkinkan sel kanker untuk memperpendek growth factor pathways.
(Karsono, 2006).
2. Evasion Growth inhibitory signal
Sel normal merespon sinyal penghambatan pertumbuhan untuk mencapai
homeostasis. Jadi ada waktu tertentu bagi sel normal untuk proliferasi dan
istirahat. Sel kanker tidak mengenal dan tidak merespon sinyal penghambatan
pertumbuhan, keadaan ini banyak disebabkan adanya mutasi pada beberapa gen
(protoonkogen) pada sel kanker. (Karsono, 2006).
3. Evasion of Apoptosis Signal
ada sel normal kerusakan DNA akan dikurangi jumlahnya dengan mekanisme
apoptosis, bila ada kerusakan DNA yang tidak bisa lagi direparasi. Sel kanker
tidak memiliki kepekaan terhadap sinyal apoptosis. Kegagalan sel kanker
dalam merespon sinyal apoptosis lebih disebabkan karena mutasinya gen-gen
regulator apoptosis dan gen-gen sinyal apoptosis. (Karsono, 2006).

9
4. Unlimited replicative potential
Sel normal mengenal dan mampu menghentikan pembelahan selnya bila sudah
mencapai jumlah tertentu dan mencapai pendewasaan. Penghitungan jumlah sel
ini ditentukan oleh 15 pemendekan telomere pada kromosom yang akan
berlangsung setiap ada replikasi DNA. Sel kanker memiliki mekanisme tertentu
untuk tetap menjaga telomere yang panjang, hingga memungkinkan untuk tetap
membelah diri. Kecacatan dalam regulasi pemendekan telomere inilah yang
memungkinkan sel kanker memiliki unlimited replicative potential. (Karsono,
2006).
5. Angiogenesis (formation of blood vessel)
Sel normal memiliki ketergantungan terhadap pembuluh darah untuk
mendapatkan suplai oksigen dan nutrient yang diperlukan untuk hidup. Namun
bentuk dan karakter pembuluh darah sel normal lebih sederhana atau konstan
sampai dengan sel dewasa. Sel kanker mampu menginduksi angiogenesis, yaitu
pertumbuhan pembuluh darah baru di sekitar jaringan kanker. Pembentukan
pembuluh darah itu baru diperlukan untuk survival sel 16 kanker dan ekspansi
kebagian lain dari tubuh (metastase). Kecacatan pada pengaturan keseimbangan
induser angiogenik dan inhibitornya dapat mengaktifkan angiogenic switch.
(Karsono, 2006).
6. Invasion and metastasis
Sel normal berpindah ke lokasi lain di dalam tubuh. Perpindahan sel kanker dari
lokasi primernya ke lokasi sekunder atau tertiernya merupakan faktor utama
adanya kematian yang disebabkan karena kanker. Mutasi memungkinkan
peningkatan aktivitas enzim enzim yang terlibat invasi sel kanker (MMPs).
Mutasi juga memungkinkan berkurangnya atau hilangnya adhesi antar sel oleh
molekul-molekul adhesi sel, meningkatnya attachment, degradasi membran
basal, serta migrasi sel kanker (Karsono, 2006).

10
Ada perbedaan penting lainnya antara sel normal dan sel kanker yang
mencerminkan kekacauan siklus sel. Ketika sel kanker berhenti membelah,sel kanker
akan melakukannya pada titik titik yang acak dalam siklus sel ,bukan pada titik
pemeriksaan normal. Terlebih lagi, sel kanker dapat terus membelah tanpa henti dalam
kultur jika diberi suplai nutrien terus-menerus pada dasarnya, sel-sel itu abadi.
Perilaku abnormal dari sel kanker dapat membawa bencana jika terjadi dalam tubuh.
Masalah mulai timbul ketika satu sel tunggal dalam jaringan mengalami transformasi
(transformation), proses yang mengubah sel normal menjadi sel kanker. Sel
kekebalan tubuh biasanya mengenali sel yang tertransformasi sebagai sel yang tidak
normal dan menghancurkannya. Akan tetapi, jika berhasil menghindari penghancuran,
sel tersebut dapat memperbanyak diri dan membentuk tumor. Jika sel-sel abnormal
tetap berada di tempat asalnya, benjolan itu disebut tumor jinak (benign tumor).
Sebagian besar tumor jinak tidak menyebabkan masalah serius dan dapat dibuang
sepenuhnya melalui operasi. Sebaliknya, tumor ganas (malignant tumor) menjadi
cukup invasit hingga mengganggu fungsi satu atau lebih organ tubuh. Individu yang
memiliki tumor ganas disebut pengidap kanker. (Campbell, 2008)

2.3.1 Karsinogenesis
Kanker terjadi karena adanya kerusakan atau transformasi protoonkogen dan gen
penghambat tumor sehingga terjadi perubahan dalam cetakan protein dari yang telah
diprogramkan semula yang mengakibatkan timbulnya sel kanker. Karena itu terjadi
kekeliruan transkripsi dan translasi gen sehingga terbentuk protein abnormal yang
terlepas dari kendali normal pengaturan dan koordinasi pertumbuhan dan diferensiasi
sel. Pengaturan sifat individu dilakukan oleh gen (DNA) dengan pembentukan protein
melalui proses transkripsi dan translasi. Karsinogenesis merupakan suatu proses multi
tahap, dengan 3 tahapan (Schneider, 1997), yaitu
1. Inisiasi (Initiation)
Tahap pertama ialah permulaan atau inisiasi, dimana sel normal berubah
menjadi premaligna. Karsinogen harus merupakan mutagen yaitu zat yang 23

11
dapat menimbulkan mutasi gen. Pada tahap inisiasi karsinogen bereaksi dengan
DNA, menyebabkan amplifikasi gen dan produksi copy multiple
gen(Schneider, 1997)
2. Promosi (Promotion)
Promoter adalah zat non mutagen tetapi dapat meningkatkan reaksi karsinogen
dan tidak menimbulkan amplifikasi gen. Sifat-sifat promotor ialah: mengikuti
kerja inisiator, perlu paparan berkali-kali, keadaan dapat reversible, dapat
mengubah ekspresi gen seperti: hiperplasia, induksi enzim, induksi diferensiasi
(Schneider, 1997)
3. Progresi (Progression)
Pada progresi ini terjadi aktivasi, mutasi atau hilangnya gen. Pada progresi ini
timbul perubahan benigna menjadi pre-maligna dan maligna. Dalam
karsinogenesis ada 3 mekanisme yang terlibat:
a. Onkogen yang dapat menginduksi timbulnya kanker.
b. Antionkogen atau gen suppressor yang dapat mencegah timbulnya kanker.
c. Gen modulator yang dapat mempengaruhi eksperimen karakteristik gen yang
mempengaruhi penyebaran kanker.

Bila ada kerusakan gen, tubuh berusaha mereparasi atau memperbaiki


transkripsi gen yang rusak (DNA repair). Kerusakan transkripsi ini mungkin dapat dan
mungkin pula tidak dapat diperbaiki lagi. Bila transkripsi gen itu dapat diperbaiki
dengan sempurna, maka pada replikasi sel berikutnya terbentuklah sel baru yang
normal. Tetapi bila tidak dapat diperbaiki dengan sempurna akan terbentuk sel baru
yang defektif. Walaupun sel itu defektif masih tetap ada usaha mereparasi kerusakan
transkripsi. Bila berhasil akan terbentuk sel yang normal dan bila gagal akan terbentuk
sel yang abnormal, yaitu sel yang mengalami mutasi, atau transformasi, yang pada
akhirnya dapat menjadi sel kanker. Teori karsinogenesis untuk menerangkan
bagaimana kanker itu terjadi didasarkan atas:

12
1. Mutasi Somatik
Mutasi somatic yaitu perubahan urutan letak nukleotida dalam asam amino
rantai DNA, yang menyebabkan perubahan kode genetik. Menghasilkan
produksi protein yang abnormal, sehingga regulasi pertumbuhan dan
diferensiasi sel terganggu, sel menjadi otonom dan lepas dari regulasi normal
dan sel dapat tumbuh tanpa batas. (Schneider, 1997)

2. Penyimpangan Diferensiasi Sel (Teori Epigenetik),


Penyimpangan Diferensiasi Sel yaitu terjadinya gangguan system atau
mekanisme regulasi gen seperti represif, depresi serta ekspresi regulasi,
sehingga timbul gangguan pertumbuhan dan diferensiasi sel. Defek yang terjadi
karena mekanisme regulasi gen yang mengatur pertumbuhan, dan bukan pada
struktur gen itu sendiri, maka teori ini disebut teori epigenetik. (Schneider,
1997)

3. Aktivasi Virus
Aktivitas Virus masuk ke dalam inti sel dan berintegrasi dengan DNA penderita
serta mengubah fenotype sel dengan menyisipkan (insersi) informasi baru atau
mengubah transkripsi dan translasi gen. Virus DNA dapat secara langsung
berintegrasi dengan DNA inang dan ditularkan secara vertikal kepada anak-
anak sel inang, sedang virus RNA dengan bantuan enzim reverse transkriptase.
Menurut teori ini kanker terjadi karena ada infeksi virus yang menyisipkan
gennya ke dalam DNA inang yang dapat mengaktifkan protoonkogen menjadi
onkogen. (Schneider, 1997)

4. Seleksi Sel
Pada sel tubuh manusia diperkirakan terdapat lebih dari 50.000 gen dan
masing-masing gen mempunyai fungsi tersendiri. Di dalam tubuh setiap saat
ada sel yang mati dan ada pula sel baru yang terbentuk melalui proses mitosis.

13
Karena adanya mutasi maka timbul sel yang defektif dan akan mati atau tidak
dapat mengadakan mitosis lebih lanjut. Hanya sel-sel yang baik dan memenuhi
syarat tertentu yang akan dapat tetap bertahan hidup. Dalam menyeleksi sel
mana yang boleh terus hidup dan berkembang, terjadi kekeliruan. Di sini ada
sel yang mengalami mutasi atau transformasi yang lepas dari seleksi dan terus
berkembang menjadi sel kanker (Schneider, 1997)

Keganasan pada sel eukariota terjadi akibat adanya perubahan perilaku sel yang
abnormal, yaitu sel mempunyai kemampuan proliferasi dan diferensiasi yang sangat
tinggi. Perubahan perilaku tersebut terjadi karena sel mengekspresikan berbagai
protein yang abnormal. Berbagai protein abnormal muncul karena sel mengalami
mutasi/kecacatan gen, khususnya gen yang mengkode protein, yang sangat berperan
pada pengaturan siklus pembelahan sel. Contohnya adalah gen yang termasuk
kelompok protooncogen atau kelompok tumor suppressorgene, serta gen yang
mengatur dan menghambat pemendekan telomer pada ujung kromosom. Pertumbuhan
kanker merupakan proses mikroevolusioner yang dapat berlangsung beberapa bulan
atau beberapa tahun Proses pertumbuhan ini dinamakan karsinogenesis, dimulai dari
satu sel kanker yang memperbanyak diri dan membentuk satu koloni kecil dalam
jaringan yang sama. Selanjutnya perubahan genetik (misalnya aktivasi onkogen) terjadi
dalam koloni sel yang abnormal dan menjadi tumor ganas. Proses karsinogenesis
terjadi melalui beberapa fase yang meliputi fase inisiasi, fase promosi, fase progresi,
dan metastasis. Inisiasi merupakan fase pertama dan merupakan akibat adanya
perubahan genetik yang menyebabkan adanya proliferasi abnormal dari satu sel.
Promosi merupakan kelanjutan inisiasi, yaitu adanya pacuan dari faktor promosi tumor
yang menyebabkan pertumbuhan yang cepat dan pembentukan tumor benigna.
Progresi merupakan perubahan genetik semakin bertambah banyak sehingga akan
menambah koloni sel tumor. Tumor pada stadium ini bersifat invasif dan seringkali
diikuti dengan proses pembentukan pembuluh darah baru yang dinamakan
angiogenesis. Fase berikutnya adalah metastasis, yaitu perkembangan tumor yang

14
bersifat malignan dan terjadinya pelepasan sel-sel tumor ganas dari koloni primernya.
Sel-sel tumor ganas ini dapat memasuki saluran limfatik, sehingga dapat menyebar ke
seluruh tubuh dan berkembang di tempat yang jauh Kemampuan invasi sel kanker
dihubungkan dengan banyaknya produksi protease pada sel kanker ini. Protease akan
mempengaruhi interaksi sel dan memfasilitasi pergerakan sel kanker melalui matriks
ekstraseluler. Tahap metastasis merupakan tahap yang paling kritis yang menyebabkan
gejala klinis dan bahkan kematian(Schneider, 1997)

2.4 Pencegahan dan Penanganan Penyakit Kanker Payudara

2.4.1 Pencegahan Penyakit Kanker Payudara


Pencegahan merupakan suatu usaha mencegah timbulnya kanker payudara atau
mencegah kerusakan lebih lanjut yang diakibatkan kanker payudara. Usaha
pencegahan dengan menghilangkan dan melindungi tubuh dari karsinogen dan
mengelola kanker dengan baik. Usaha pencegahan kanker payudara dapat berupa
pencegahan primordial, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan
tertier. (Nurachmah,1999).
A. Pencegahan Primordial
Pencegahan sangat dini atau sangat dasar ini ditujukan kepada orang sehat yang
belum memiliki faktor risiko dengan memberikan kondisi pada masyarakat yang
memungkinkan penyakit tidak berkembang yaitu dengan membiasakan pola hidup
sehat sejak dini dan menjauhi faktor risiko changeable (dapat diubah) kejadian kanker
payudara. Pencegahan primordial yang dapat dilakukan antara lain:
1) Perbanyak konsumsi buah dan sayuran yang banyak mengandung serat dan vitamin
C, mineral, klorofil yang bersifat antikarsinogenik dan radioprotektif, serta antioksidan
yang dapat menangkal radikal bebas, berbagai zat kimia dan logam berat serta
melindungi tubuh dari bahaya radiasi. (Nurachmah,1999).
2) Perbanyak konsumsi kedelai serta olahannya yang mengandung fitoestrogen yang
dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara. (Nurachmah,1999).

15
3) Hindari makanan yang berkadar lemak tinggi karena dapat meningkatkan berat
badan menyebabkan kegemukan atau obesitas yang merupakan faktor risiko kanker
payudara. (Nurachmah,1999).
4) Pengontrolan berat badan dengan berolah raga dan diet seimbang dapat mengurangi
risiko terkena kanker payudara. (Nurachmah,1999).
5) Hindari alkohol, rokok, dan stress. (Nurachmah,1999).
6) Hindari keterpaparan radiasi yang berlebihan. Wanita dan pria yang bekerja di
bagian radiasi menggunakan alat pelindung diri. (Nurachmah,1999).

B. Pencegahaan Primer
Pencegahan primer adalah usaha mencegah timbulnya kanker pada orang sehat
yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Pencegahan primer dilakukan
terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Beberapa usaha
yang dapat dilakukan antara lain:

a) Penggunaan Obat-obatan Hormonal


1. Penggunaan obat-obatan hormonal harus sesuai dengan saran dokter.
2. Wanita yang mempunyai riwayat keluarga menderita kanker payudara
atau yang berhubungan, sebaiknya tidak menggunakan alat kontrasepsi
yang mengandung hormon seperti pil, suntikan, dan susuk KB.
(Nurachmah,1999).

b) Pemberian ASI
Memberikan ASI pada anak setelah melahirkan selama mungkin dapat
mengurangi risiko terkena kanker payudara. Hal ini di sebabkan selama proses
menyusui, tubuh akan memproduksi hormon oksitosin yang dapat mengurangi
produksi hormon estrogen. Hormon estrogen memegang peranan penting dalam
perkembangan sel kanker payudara. (Nurachmah,1999).

16
c) Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI).
Semua wanita di atas umur 20 tahun sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan
untuk menemukan ada tidaknya benjolan pada payudara. Sebaiknya SADARI
dilakukan pada waktu 5-7 hari setelah menstruasi terakhir ketika payudara sudah tidak
membengkak dan sudah menjadi lembut. Langkahlangkah SADARI dapat dilakukan
seperti pada gambar di bawah ini: Langkah-langkah pemeriksaan payudara sendiri
(SADARI) dapat di lakukan dengan 2 cara yaitu:

Tahap I
Melihat Perubahan di Hadapan Cermin Berdiri tegak dengan kedua tangan lurus ke
bawah dan perhatikan apakah ada kelainan lekukan, kerutan dalam, atau
pembengkakan pada kedua payudara atau puting. RahasiaMemperbesarPayudara.Com
20 Kedua tangan diangkat ke atas kepala periksa payudara dari berbagai sudut.
Tegangkan otot-otot bagian dada dengan meletakkan kedua tangan di pinggang.
Perhatikan apakah ada kelainan pada kedua payudara atau puting. Pijat puting payudara
kanan dan tekan payudara untuk melihat apakah ada cairan atau darah yang keluar dari
puting payudara. Lakukan hal yang sama pada payudara kiri . (Nurachmah,1999).

Tahap II
Melihat Perubahan dengan Cara Berbaring Letakkan bantal di bahu kanan dan letakkan
tangan kanan di atas kepala. Gunakan tangan kiri untuk memeriksa payudara kanan
untuk memeriksa benjolan atau penebalan. Raba payudara dengan gerakan melingkar
dari sisi luar payudara ke arah puting Buat sekurang-kurangnya dua putaran kecil
sampai ke puting payudara. Raba payudara dengan gerakan lurus dari sisi luar ke sisi
dalam payudara. Gunakan jari telunjuk,tengah, dan jari manis untuk merasakan
perubahan. Ulangi gerakan 1, 2, dan 3 untuk payudara kiri. (Nurachmah,1999).

17
d) Pemeriksaan Mammografi Pemeriksaan melalui mammografi memiliki akurasi
tinggi yaitu sekitar 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi
keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat
merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena hal
tersebut, menurut American Cancer Society mammografi dilaksanakan dengan
beberapa pertimbangan antara lain:
1) Untuk perempuan berumur 35-39 tahun, cukup dilakukan 1 kali mammografi.
2) Untuk perempuan berumur 40-50 tahun, mammografi dilakukan 1-2 tahun
sekali.
3) Untuk perempuan berumur di atas 50 tahun, mammografi dilakukan setiap
tahun dan pemeriksaan rutin. (Nurachmah,1999).

C. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan diagnosis dini terhadap
penderita kanker payudara dan biasanya diarahkan pada individu yang telah positif
menderita kanker payudara agar dapat dilakukan pengobatan dan penanganan yang
tepat. Penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara sesuai dengan
stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan, mencegah komplikasi penyakit, dan
memperpanjang harapan hidup penderita Pencegahan sekunder dapat dilakukan
dengan beberapa cara yaitu:
a) Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis di mulai dengan mewawancarai penderita kanker payudara,
pemeriksaan klinis payudara, untuk mencari benjolan atau kelainan lainnya,
insfeksi payudara, palpasi, dan pemeriksaan kelenjar getah bening regional atau
aksila. Dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang dilakukan dengan
menggunakan alat-alat tertentu antara lain dengan termografi, ultrasonografi,
scintimammografi, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis untuk
mendiagnosis secara pasti penderita kanker payudara. (Nurachmah,1999).

18
b) Penatalaksanaan Medis yang Tepat
Semakin dini kanker payudara ditemukan maka penyembuhan akan semakin
mudah. Penatalaksanaan medis tergantung dari stadium kanker didiagnosis
yaitu dapat berupa operasi/pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi
homonal. (Nurachmah,1999).

D. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier dapat dilakukan dengan perawatan paliatif dengan tujuan
mempertahankan kualitas hidup penderita dan memperlambat progresifitas penyakit
dan mengurangi rasa nyeri dan keluhan lain serta perbaikan di bidang psikologis,
sosial, dan spr itual. Untuk mengurangi ketidakmampuan dapat dikakukan Rehabilitasi
supaya penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali. Upaya rehabilitasi dilakukan
baik secara fisik, mental, maupun sosial, seperti menghilangkan rasa nyeri, harus
mendapatkan asupan gizi yang baik, dukungan moral dari orang-orang terdekat
terhadap penderita pasca operasi. (Nurachmah,1999).

2.4.2 Penanganan Dalam Penyakit Kanker Payudara


Ada beberapa penanganan kanker payudara yang tergantung pada stadium klinik
penyakitnya, yaitu:
1. Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pangengkatan payudara. Ada 3 jenis mastektomi,
yaitu:
a. Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara,
jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta
benjolan di sekitar ketiak.
b. Total (Simple) Mastectomy, yaitu pengangkatan di seluruh payudara saja,
tetapi bukan kelenjar ketiak.

19
c. Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara.
Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada bagian yang
mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara. (Nurachmah,1999).
2. Radiasi
Radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan
menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker
yang masih tersisa di payudara setelah operasi. (Nurachmah,1999).
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker atau sitokina dalam
bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel
kanker melalui mekanisme kemotaksis. Tidak hanya sel kanker di payudara, tapi
juga seluruh tubuh. (Nurachmah,1999).
4. Lintasan Metabolisme
Asam bifosfonat merupakan senyawa penghambat aktivitas osteoklas dan
resorpsi tulang yang sering digunakan untuk melawan osteoporosis yang
diinduksi oleh overian suppression, hiperkalsemia dan kelainan metabolisme
tulang, menunjukkan efektivitas untuk menurunkan metastasis sel kanker
payudara menuju tulang. Walaupun pada umumnya asupan asam bifosfonat
dapat ditoleransi tubuh, penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan
efek samping seperti osteonekrosis dan turunnya fungsi ginjal
(Nurachmah,1999).
Beberapa jenis makanan dan kandungan dalam makanan yang baik untuk menekan
angka pertumbuhan dari kanker payudara :

1. Selenium dan kanker


Berbagai bentuk selenium diketahui mampu membunuh sel-sel kanker dan
membatasi kemampuan sel-sel itu untuk memperbanyak diri. Meatbolit
selenium, metiselenol, memiliki efektifitas 3-4 kali lebih besar dalam
membunuh sel-sel kanker tertentu dan menghindari pecahnya DNA yang

20
berbahaya, dibandingkan senyawa-senyawa yang lain yang diteliti. Selenium
dapat ditemukan dalam serelia utuh, kacang-kacangan, kacang brasil, makanan
laut, daging tanpa lemak, telur dan buah serta sayuran yang tumbuh ditanah
yang kaya akan selenium (Nurachmah,1999).
2. Polifenol teh dan kanker
Polifenol teh adalah salah satu dari sedikit agen tampaknya mempengaruhi
karsinogen (zat penyebab kanker) pada tahap inisiasi, promosi dan progresi.
Kekuatan penghambat kanker ini telah cukup terbukti lewat penelitian cell line
hewan dan manusia. (Nurachmah,1999).
3. Buah-sayur dan kanker payudara
Kita semua tahu bahwa buah dan sayur (kaya akan vitamin, mineral, serat dan
fitokimia penting) menyehatkan. Sebagian vitamin , mineral dan fitokimia pada
buah dan sayur bertindak sebagai antioksidan yang menghambat sedikitnya satu
langkah dalam proses perkembangan kanker yaitu kerusakan DNA
4. Vitamin, antioksidan, karotenoid dan kanker payudara (Nurachmah,1999).
Banyak peneliti mencurigai adanya hubungan antara antioksidan, karotenoid
dan kanker payudara, tetapi penelitian yang telah dilakukan sejauh ini belum
dapat memastikannya. Mungkin kita perlu melihat efek antioksidan dan
karotenoid (dalam makanan) pada kanker payudara terhadap wanita
pramenopause saja. (Nurachmah,1999).

Para peneliti di harvard mempelajari data dari 2.697 wanita yang menderita
kanker payudara invasif (784 wanita menopause dan 1.913 pascamenopause) . mereka
menemukan hubungan antara asupan makanan yang mengandung karoten alfa dan beta
lutein / zeaksanitin, vitamin C dan vitamin A dalam kadar yang lebih tinggi dengan
resiko kanker payudara yang lebih rendahkhususnya antara wanita pramenopause
dengan riwayat kanker payudara didalam keluarga. (Nurachmah,1999).

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kanker payudara merupakan salah satu penyakit degenerative yang endemicpada wanita
hampir diseluruh dunia yang disebabkan oleh berbagai macam factor,diantaranya
faktor lifestyle dan gizi. Setiap orang di dunia ini memiliki resiko untuk terkena
kanker payudara, walaupun wanita lebih berresiko daripada laki-laki. Olehkarena itu,
sangat diperlukan pencegahan dini dimulai dari diri sendiri dengan SADARI,
memperbaiki pola makan/gizi dan gaya hidup/lifestyle. Karena menurutpenelitian
World Cancer Research Fund (WCRF), memperbaiki gizi dan lifestyledapat mencegah
kanker payudara hingga 42%

3.2 Saran
Dari pembahasan yang telah diuraikan diatas, penulis memberi saran agarsetiap
wanita dan laki-laki hendaknya menjaga kesehatan dengan mengurangi ataumenjauhi
factor resiko yang bisa menyebabkan kanker payudara danmenjaga/memperbaiki pola
makan/gizi serta gaya hidup. Pencegahan hendaknyadilakukan sejak dini, sebab
kebanyakan kanker payudara berkembang dalam jangkawaktu yang lama, dan sering
kali terlambat dideteksi karena jarang munculnya gejalapada stadium awal. Dalam
proses promotif, preventif dan protektif ini hendaknya adakerjasama antara individu,
keluarga, masyarakat, dan pemerintah serta komponenlainnya demi menurunkan
prevalensi di Indonesia mengingat kemungkinan keciluntuk sembuh total jika sudah
terkena penyakit ini.

22
DAFTAR PUSTAKA

Wulandari,Fitria.2016. Pemanfaatan Dau sirsak Sebagai Obat Anti Kanker.


Jurnal Nasional Ecopedon. Volume 3, Nomor 1 : 7276.
http://repository.politanipyk.ac.id/469/1/Jurnal%20Ecopedon%20FItria%20W
ulandari%20telah%20siap.pdf (Diakses 31 Desember 2016 pukul 19.00 WIB)

Anggorowati,Lindra.2013.Faktor Kanker Payudara Wanita. Jurnal Kesehatan


Masyarakat. Volume 8, Nomor 2 : 121-126.
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas. (Diakses 31 Desember 2016
pukul 20.00 WIB)

Lee, Jhon, R. 2008. Kanker Payudara Pencegahan dan Pengobatannya.


Jakarta: Daras Books. (Hal 38)

Wibisono, Nanny, 2009. Melawan Kanker Payudara Pencegahan dan


Pengobatannya. Jakarta : Restu Agung. (Hal 71)

Priyatin,Cici.2013.Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian


Kanker Payudara Di RSUP Dr. Karidadi Semarang.Jurnal Kebidanan.Volume
2, No5.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=380421&val=8457&title
=Faktor%20Risiko%20yang%20Berpengaruh%20terhadap%20Kejadian%20
Kanker%20Payudara%20di%20RSUP%20DR.%20Kariadi%20Semarang.(Di
akses 1 Januari 2017 pukul 13.00 WIB)

23
Robbins dan Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi 1. Edisi 4. Jakarta: EGC.(Hal
290- 293)

Tjahjadi, V. (2003). Kanker Payudara. Dikutip dari http: // bima.ipb.ac.id/-


wanita/ Kanker Payudara: htm diakses pada tanggal 6 Januari 2017.

Karsono, B. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,3rd.Jakarta : Pusat


Penerbit Departemen Penyakit Dalam FKUI

Campbell NA, Reece JB, Urry LA, Cain ML, Wasserman SA, Minorsky PV,et.
al. 2008. Biologi. 5th . Jakarta: Erlangga (Hal 259)

Schneider, K. A., 1997, Cancer Genetics, Encyclopedia of Human Biology,


2nd. New York : Academic Press.( Hal) 312-314

Nurachmah, E. (1999). Dampak Kanker Payudara dan Pengobatannya


Terhadap Aspek Bio-Psiko- Sosio- Spritual Klien yang Berpartisipasi Dalam
Kelompok Pendukung. Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol II: hal 186-194.
Jakarta: Universitas Indonesia.

24