Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM III

PENGENALAN ALAT DAN PENGELOLAAN PRAKTIKUM


SEDERHANA

Oleh:
Nurhalimah (1522810008)

Dosen Pembimbing:
Yustina Hapida, M.Kes

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Alat adalah suatu benda yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu untuk
mencapai maksud atau tujuan tertentu. Alat-alat praktikum sederhana dapat
membantu kita dalam mempermudah praktikum atau pun penelitian.
Contohnya ketika kita melakukan pengamatan pada hewan yang berjarak jauh
kita membutuhkan teropong untuk membantu kita mengamatinya agar
tampak jelas.
Menurut Gerthsen (1996) lensa objektif pada teropong memiliki jarak
fokus yang besar. Lensa itu membentuk bayangan benda yang jaraknya
sangat jauh menjadi bayangan real di bidang fokusnya dan dalam hal ini
lensa okuler berfungsi sebagai lup penangkap bayangan real tersebut.
Perbesaran bayangan benda pada teropong dapat dipastikan akan berbeda dari
persamaan karena perbandingan antara sudut sapuan penglihatan dengan
teropong dengan sudut sapuan berkas cahaya dengan benda yang berjarak
sangat jauh tanpa teropong, misalnya melihat menara masjid dengan dan
tanpa teropong, berbeda.
Adapun alat-alat praktikum sederhana yang akan dibahas kali ini
diantaranya yaitu GPS, kaca pembesar, teropong binokuler, lux meter, salino
meter, respirometer, kamera trap, ph meter, opti lab, hemositometer,
haemometer, soilmeter, dan termometer analog.
Mengenal beberapa alat lab ini , fungsi dan cara penggunaannya,
sangatlah penting karena apabila kita tidak mengetahui cara penggunaan alat-
alat sederhana tersebut kita akan sulit melakukan penelitian atau praktikum
yang perlu mengunnakan alat-alat tersebut. Melalui praktikum ini kita akan
belajar untuk mengenal alat-alat tersebut dan mengetahui cara penggunaan
serta fungsinya.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
1. Mengetahui fungsi alat dan mampu menggunakannya secara langsung.
2. Perbedaan pokok antara alat dan bahan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alat-Alat Laboratorium


1. Kamera
Kamera juga termasuk alat optik, kamera dapat digunakan untuk
memfoto suatu benda. Ketika memotret suatu benda, cahaya memantul
dari benda tersebut, masuk lewat lensa kamera, lalu menabrak film di
dalam kamera. Cahaya mengubah bahan-bahan kimia dalam film. Ketika
film itu diproses gambar akan muncul (Hasanah, 2010).
Bagian terpenting sebuah kamera adalah lensa, suatu kotak kedap
cahaya (light-tight) dan suatu film untuk menerima bayangan. Medan
pandangan untuk kamera biasanya meliputi sudut 50 derajat atau lebih.
Disamping itu aperture lensa yaitu garis tengah lensa, harus besar agar
dapat mengumpulkan cahaya dalam jumlah yang cukup untuk pemotretan
yang cepat. Kombinasi antara medan yang lebar dan aperture yang besar
mempersulit koreksi aberasi pada lensa fotografi. Meskipun demikian
lensa kamera yang paling sederhana selalu dikoreksi terhadap aberasi
kromatik dan lengkungan medan. Hampir semua lensa kecepatan tinggi,
dan jarak fokus pendek merupakan modifikasi sistem lensa Zeiss-Tessar.
Daya kumpul cahaya suatu lensa obyektif fotografi biasanya dinyatakan
dengan angka f, yang menyatakan garis tengah aperture (lubang) pada
diafragma di dalam kamera ( Sutrisno, 1980).
2. Kaca pembesar
Kaca pembesar adalah suatu alat optik yang akan membuat benda-
benda kecil menjadi terlihat besar. Hal ini disebabkan karena kaca
pembesar terbuat dari lensa cembung ( Hasanah, 2010).
Suatu benda tampak besar atau kecil bergantung pada besar atau
kecilnya bayangan yang terbentuk pada retina. Sedangkan besar bayangan
yang terbentuk pada retina tergantung pada besar sudut yang dibentuk oleh
sinar datang dengan sumbu lensa. Jika kita mengamati suatu benda yang
kecil, kita dekatkan benda tersebut pada mata kita, agar sudut yang
terbentuk menjadi besar, dan bayangan yang terbentuk diretina menjadi
lebih besar juga. Akan tetapi mata tidak dapat membentuk bayangan tegas
pada retina untuk benda-benda yang lebih dekat dari titik dekat mata,
sehingga sudut yang terbentuk untuk suatu benda mempunyai harga
maksimum jika benda terletak pada titik dekat. Jika benda kita pasang
lebih dekat lagi, benda akan tampak kabur. Dengan memasang suatu lensa
konvergen di depan mata daya akomodasi mata dapat diperbesar lagi,
sehingg obyek yang lebih dekat dari titik dekat dapat diamati, dan sudut
pandangan yang terbentuk menjadi lebih besar lagi. Lensa yang
dipergunakan untuk ini disebut lensa pembesar. Lensa ini membentuk
bayangan maya dari suatu obyek, dan mata melihat pada bayangan maya
ini. Karena dengan akomodasi, suatu mata yang normal dapat membentuk
bayangan yang tegas untuk benda yang terletak antara titik dekat dan jarak
tak berhingga, maka bayangan virtuil (maya) yang dibentuk oleh lensa
akan tampak tajam asal bayangan ini terbentuk di dalam jangkau di atas.
Jika bayangan yang terbentuk oleh lensa dibuat agar terletak pada jarak tak
berhingga, maka mata akan melihat bayangan ini tanpa akomodasi, artinya
mata tidak tegang ( Sutrisno,1980).
3. Teropong
Lensa objektif pada teropong memiliki jarak fokus yang besar. Lensa
itu membentuk bayangan benda yang jaraknya sangat jauh menjadi
bayangan real di bidang fokusnya dan dalam hal ini lensa okuler
berfungsi sebagai lup penangkap bayangan real tersebut. Perbesaran
bayangan benda pada teropong dapat dipastikan akan berbeda dari
persamaan karena perbandingan antara sudut sapuan penglihatan dengan
teropong dengan sudut sapuan berkas cahaya dengan benda yang berjarak
sangat jauh tanpa teropong, misalnya melihat menara masjid dengan dan
tanpa teropong, berbeda (Gerthsen dkk, 1996).
4. Lux meter
Luxmeter adalah alat yang mengubah energi cahaya menjadi
energi listrik kemudian energi listrik dalam bentuk arus digunakan
untuk menggerakkan jarum skala sehingga hasilnya langsung dapat
terbaca (Aziz dan Ikhwanudin, 2013).
5. Termometer
Terdapat dua jenis termometer yang umum digunakan antara lain
termometer air raksa yang mengembang seiring kenaikan suhu dan
termometer digital yang memiliki pendeteksi elektronik dan layar digital
(Limited, 2009).
6. GPS (Global positioning system)
Global positioning system (GPS), memberikan informasi posisi yang
akurat secara terus menerus pada siapapun yang memiliki alat kompak dan
tidak mahal, yang dapat digenggam atau ditempelkan dimobil atau kapal.
Setiap satelit mengorbit sekali dalam 24 jam dan memancarkan sinyal
identifikasi yang khas seperti serangkaian sinyal waktu terus-menerus.
Alat yang dipakai pengguna mendeteksi sinyal waktu yang sangata akurat
dari empat satelit manapun yang berada di atas cakrawala dalam satu
waktu. Satu satelit memberikan sinyal petunjuk, ketiga satelit lainnya
memberikan sinyal pembawa. Komputer dalam alat pengguna menghitung
posisi dari selisih waktu yang sangat kecil yang diperlukan sinyal untuk
sampai dari satelit berbeda. Alat genggam member tahu pengguna ini
lokasi tepat dirinya karena adanya satelit GPS(Global positioning system).
Sinyal tepat waktu dari beberapa satelit yang mengorbit diubah menjadi
garis lintang dan garis bujur. Arah dan jarak ke tujuannya dapat juga
dihitung dan ditampilkan (Clark, 2001).
7. pH meter
Instrumen pH meter adalah peralatan laboratorium yang digunakan
untuk menentukan pH atau tingkat keasaman dari suatu sistem larutan.
Tingkat keasaman dari suatu zat, ditentukan berdasarkan keberadaan
jumlah ion hidrogen dalam larutan (Beran, 1996).
Menurut Iqmal Tahir (2008), Pengukuran sifat keasaman dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Kertas lakmus, terdapat dua jenis kertas lakmus, yaitu kertas lakmus
merah dan kertas lakmus biru. Penggunaan kertas lakmus hanya sekali
pakai. Nilai pH yang terukur hanya bersifat pendekatan, jika suatu
senyawa merubah warna kertas lakmus merah menjadi biru, maka dia
bersifat basa, sedangkan jika suatu senyawa merubah warna kertas
lakmus biru menjadi merah, maka ia bersifat asam. Pengukuran hanya
bersifat kualitatif, hasil yang diperoleh relatif tidak begitu akurat.
Kertas lakmus dengan kombinasi beberapa indikator ada yang dapat
digunakan yakni dengan pencocokan skala, kertas lakmus jenis ini
mengkombinasikan 4 indikator yang berbeda warna. Kombinasi warna
yang berbeda diberi skala 1-14 sesuai dengan pH sistem yang diukur.
2. pH meter, keuntungan dari penggunaan pH meter dalam menentukan
tingkat keasaman suatu senyawa adalah:
Pemakaiannya bisa berulang-ulang
Nilai pH terukur relatif cukup akurat
Instrumen yang digunakan dalam pHmeter dapat bersifat analog
maupun digital. Sebagaimana alat yang lain, untuk mendapatkan hasil
pengukuran yang baik, maka diperlukan perawatan dan kalibrasi pH meter
(Tahir, 2008).
Pada penggunaan pH meter, kalibrasi alat harus diperhatikan
sebelum dilakukan pengukuran. Seperti diketahui prinsip utama pH meter
adalah pengukuran arus listrik yang tercatat pada sensor pH akibat suasana
ionik di larutan. Stabilitas sensor harus selalu dijaga dan caranya adalah
dengan kalibrasi alat (Tahir, 2008).
pH meter bekerja berdasarkan prinsip elektrolit atau konduktivitas
suatu larutan. Cara kerja pH meter ini adalah dengan cara
mencelupkan probe dari pH meter kedalam larutan yang akan diukur
(kira-kira kedalaman 5cm) dan secara otomatis alat bekerja mengukur.
pH meter memiliki ketelitian yang lebih baik yaitu memiliki
sensitivitas 0.01 pH. Meskipun demikian, pH meter masih mempunyai
kekurangan, yaitu perubahan yang lambat dan berosilasi, yang
merupakan masalah yang penting dalam menentukan skala yang valid
(Matiin dkk.2012).
8. Hemocytometer
Cara penggunaan hemocytometer ini yaitu dengan cara meneteskan
kultur sel yang akan dianalisa kepadatan selnya sebanyak satu tetes ke
masing-masing dua bagian hemocytometer. Tutup dengan menggunakan
slide. Hemocytometer ini dilengkapi dengan mikroskop. Hemocytometer
yang telah diberikan kultur sel diletakkan dibawah lensa objektif dan
difokuskan hingga terlihat kisi-kisi tempat perhitungan sel yang terdiri dari
lima kisi perhitungan (Chalid, 2003).
9. Salinometer
pada umumnya salinometer mempunyai ketelitian yang lebih baik
dibandingkan dengan alat ukur kelompok lain. Pemakaian salinometer
dalam pengukuran sailinitas memerlukan adanya contoh air laut, umumnya
berkisar antara 50 ml hingga 100 ml. Umumnya contoh air laut yang
dikumpulkan selama suatu kegiatan lapangan meliputi contoh air laut di
bagian permukaan air dan pada beberapa kedalaman tertentu. Pengambilan
air laut tersebut dilakukan dengan menggunakan alat khusus terutama
untuk contoh air bukan pada permukaan air. Contoh alat khusus tersebut
diantaranya botol Nansen. Seringkali disebabkan oleh adanya berbagai
keterbatasan kerja di lapangan, contoh air laut yang diambil tidak langsung
diukur salinitasnya melainkan diukur setelah beberapa hari sejak
pengambilannya. Oleh karena itu contoh air laut biasanya disimpan dalam
botol gelas yang tertutup rapat untuk menghindarkan terjadinya
penguapan. Perubahan nilai salinitas akibat penyimpanan air laut tersebut
biasanya masih dalam batas ketelitian yang dikehendaki oleh maksud
pengukuran salinitas tersebut (Arief, 1984).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum yang berjudul pengenalan alat dan pengelolaan praktikum
sederhana, dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 20 November 2015 pukul
13.30-15.30 WIB. Bertempat di Labortorium Biologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

3.2 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
a. Lux meter
b. Ph meter
c. Soil meter
d. Respirometer
e. Siano meter
f. Termometer
g. Kaca pembesar
h. Teropong binokuler
i. Hemositometer
j. Haemometer
k. GPS
l. Opti lab
m. Kamera trap

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja dalam praktikum ini yaitu:
1. Amatilah alat-alat yang ada di depan, kemudian gambar atau foto menjadi
suatu objek
2. Tuliskan fungsi dan nama alat tersebut
3. Buat karakteristik untuk bidang apa saja penelitian biologi yang
menggunakan alat sederhana.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel Hasil Pengamatan Alat-Alat

No Gambar Keterangan

Nama alat: GPS


Fungsi:
digunakan untuk
1
menandai lokasi
atau mengetahui
lokasi.

Nama alat: Kaca


pembesar
Fungsi:
2 digunakan untuk
melihat benda-
benda yang
berukuran kecil.

Nama alat:
Teropong
Fungsi:
digunakan untuk
3
melihat dan
mengamati
aktivitas jarak
jauh.
No Gambar Keterangan

Nama alat:
Kamera trap
4 Fungsi: untuk
mengamati
aktivitas hewan.

Nama alat: ph
meter
Fungsi: untuk
5
mengukur kadar
keasaman suatu
larutan.

Nama alat: Opti


lab
Fungsi: untuk
menggantikan
6
lensa okuler
mengamati benda
di bawah
mikroskop.
No Gambar Keterangan

Nama alat: Lux


meter
Fungsi: dapat
7 digunakan untuk
mengukur
intensitas cahaya
matahari.

Nama alat:
Salino meter
Fungsi: untuk
8
mengukur kadar
garam dalam
suatu larutan.

Nama alat:
Respirometer
Fungsi: untuk
9
mengukur
aktivitas
respirasi.
No Gambar keterangan

Nama alat:
Haemometer
Fungsi: untuk
10 menghitung
kadar
hemoglobin
dalam darah.

Nama alat:
Hemocytometer
Fungsi: untuk
11
menghitung sel
eritrosit dalam
tubuh.

Nama alat:
Soilmeter
Fungsi: untuk
12
mengukur
kelembapan ph
suatu tanah.
No Gambar Keterangan

Nama alat:
Termometer
analog
13 Fungsi: untuk
mengukur suhu
atau temperatur
suatu larutan.
4.2 Pembahasan
Dalam melakukan suatu penelitian biasanya membutuhkan beberapa
alat-alat sederhana. Jadi kita harus mengetahui beberapa alat sederhan
tersebut antara lain yaitu, GPS alat ini bentuknya mirip seperti handphone
memiliki beberapa tombol yang mempunyai fungsi tersendiri.
Menurut John O.E Clark (2001), alat ini berfungsi untuk memberikan
informasi posisi yang akurat. contohnya dalam melakukan penelitian kita
perlu GPS untuk menandai lokasi-lokasi yang akan diteliti.
Kaca pembesar merupakan alat yang digunakan untuk melihat benda
atau mahluk hidup yang berukuran kecil. Kaca pembesar mempunyai titik
fokus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan diperbesar terletak di
dalam titik fokus kaca pembesar itu atau jarak benda ke lensa kaca pembesar
tersebut lebih kecil dibandingkan jarak titik fokus kaca pembesar ke lensa
kaca pembesar tersebut. Bayangan yang dihasilkan bersifat tegak, nyata, dan
diperbesar.
Menurut Lilik Hasanah (2010), Kaca pembesar adalah suatu alat optik
yang akan membuat benda-benda kecil menjadi terlihat besar. Hal ini
disebabkan karena kaca pembesar terbuat dari lensa cembung
Teropong binokuler adalah alat yang digunakan untuk mengamati
aktivitas yang berjarak jauh. Misalnya kita melakukan pengamatan di dalam
hutan untuk melihat aktivitas hewan dari jarak jauh kita dapat menggunakan
teropong.
Menurut Gerthsen (1996), lensa objektif pada teropong memiliki jarak
fokus yang besar. Lensa itu membentuk bayangan benda yang jaraknya
sangat jauh menjadi bayangan real di bidang fokusnya dan dalam hal ini
lensa okuler berfungsi sebagai lup penangkap bayangan real tersebut.
Perbesaran bayangan benda pada teropong dapat dipastikan akan berbeda dari
persamaan karena perbandingan antara sudut sapuan penglihatan dengan
teropong dengan sudut sapuan berkas cahaya dengan benda yang berjarak
sangat jauh tanpa teropong.
Lux meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur intensitas
cahaya matahari. Dengan menggunakan alat ini kita dapat mengetahui
seberapa besar intensitas cahaya matahari di suatu tempat. Contohnya ketika
kita melakukan pengamat suatu ekosistem kita akan mengukur komponen
abiotik pada ekosistem tersebut diantaranya yaitu intensitas cahaya. Dalam
pengukuran intensitas cahaya tersebut kita dapat menggunakan lux meter.
Sebagaimana menurut Aziz dan Ikhwanudin (2013), lux meter dapat
mengubah energi cahaya menjadi energi listrik kemudian energi listrik dalam
bentuk arus digunakan untuk menggerakkan jarum skala sehingga hasilnya
langsung dapat terbaca.
Kemudian, salino meter merupakan alat yang dapat digunakan untuk
mengukur kadar garam dalam suatu larutan. Penggunaan alat ini yaitu dengan
cara mencelupkan bagian bawah alat tersebut pada larutan yang akan diukur
kadar garamnya.
Respirometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur aktivitas
respirasi. Contohnya dalam pengamatan proses respirasi suatu serangga atau
tumbuhan, kita dapat menggunakan respirometer untuk membantu kita dalam
pengamatan tersebut.
pH meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar asam atau
basa suatu larutan. Cara penggunaan pH meter yaitu Bukalah penutup
elektroda pada alat ph dengan menggunakan air khusus, kemudian bersihkan
dengan tisu sampai kering. Hidupkan alat pH, lalu celupkan elektroda ke
dalam cairan yang akan diukur, kemudian putar-putar elektroda larut menjadi
homogen. Tunggu beberapa menit hingga muncul angka yang merupakan
kadar pH dari larutan tersebut.
Menurut Iqmal Tahir (2008), pada penggunaan pH meter, kalibrasi alat
harus diperhatikan sebelum dilakukan pengukuran. Seperti diketahui prinsip
utama pH meter adalah pengukuran arus listrik yang tercatat pada sensor pH
akibat suasana ionik di larutan.
Opti lab merupakan alat yang dapat digunakan untuk menggantikan
lensa okuler untuk mengamati benda dibawah mikroskop. Dengan alat ini
dapat mempermudah kita mengamati benda di bawah mikroskop, karena alat
ini dapat merekam objek di bawah mikroskop dan menampilkannya dilayar
komputer atau laptop.
Hemocytometer dapat digunakan untuk menghitung sel eritrosit dalam
tubuh. Hemocytometer ini sangat penting untuk membantu dalam perhitungan
sel eritosit. Dengan menggunakan alat ini maka dapat diketahui kandungan
eritrosit dalam tubuh seseorang.
Menurut Chalid (2003), Cara penggunaan hemocytometer ini yaitu
dengan cara meneteskan kultur sel yang akan dianalisa kepadatan selnya
sebanyak satu tetes ke masing-masing dua bagian hemocytometer. Tutup
dengan menggunakan slide. Hemocytometer ini dilengkapi dengan
mikroskop. Hemocytometer yang telah diberikan kultur sel diletakkan
dibawah lensa objektif dan difokuskan hingga terlihat kisi-kisi tempat
perhitungan sel yang terdiri dari lima kisi perhitungan
Kemudian ada pula haemometer yang berfungsi untuk menghitung
kadar hemoglobin dalam darah. Haemometer dan hemocytometer memiliki
bentuk dan fungsi yang berbeda namun keduanya berhubungan dengan
pengukuran apa yang tekandung di dalam darah.
Soilmeter berfungsi untuk mengukur kelembapan atau pH suatu tanah.
Alat ini memiliki fungsi yang sama dengan pH meter. Namun soilmeter
digunakan untuk pengukuran pH tanah sedangkan pH meter digunakan untuk
pengukuran pH pada larutan.
Seperti yang diungkapkan oleh Beran (1996), pH meter adalah
peralatan laboratorium yang digunakan untuk menentukan pH atau tingkat
keasaman dari suatu larutan.
Termometer analog digunakan untuk mengukur suhu atau temperatur
suatu larutan. Berbeda dengan termometer digital yang biasanya dapat
digunakan untuk mengetahui suhu badan saat demam.
Kamera trap memiliki cara kerja mirip dengan cctv. Biasanya
digunakan untuk mengamati aktivitas hewan. Terutama hewan-hewan buas.
Kamera trap hampir sama dengan kamera-kamera biasa tetapi kamera trap
biasa digunakan untuk mangamati aktivitas hewan biasanya dalam cabang
ilmu Biologi yaitu ekologi. Kamera trap menggunakan baterai sebagai
sumber energinya.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Melalui praktikum ini dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan
penelitian atau praktikum kita sangat membutuhkan alat bantu seperti lux
meter, termometer, kamera trap, teropong, soil meter, haemometer,
hemositometer, salinometer, kaca pembesar, opti lab, GPS, respirometer, dan
pH meter. Karena tanpa alat-alat tersebut kita akan kesulitan dalam
mengamati objek yang berjarak jauh, berukuran kecil, hewan-hewan buas,
dan hal-hal yang lainnya.

5.2 Saran
Dalam melakukan praktikum ini kita harus benar-benar teliti dan
memperhatikan apa yang disampaikan asisten agar kita dapat mengetahui dan
mampu menggunakan alat-alat tersebut dengan benar dan secara langsung.
DAFTAR PUSTAKA

Amini, Sri dkk. 2003. Kultivasi Chlorella, sp Pada Media Tumbuh yang
Diperkaya Dengan Pupuk Anorganik dan Soil Extract. Website:
http://www.academia.edu/4970409/Kultivasi_Chlorella_sp_Pada_Media_T
umbuh_Yang_Diperkaya_Dengan_Pupuk_Anorganik_Dan_Soil_Extract.
Diakses, 31 Desember 2015. 22.00 WIB.

Arief, Dharma. 1984. Pengukuran Salinitas Air Laut dan Peranannya Dalam Ilmu
Kelautan.Website:http://www.oseanografi.lipi.go.id/publikasi/oseana_ix%2
81%293-10.pdf. Diakses, 26 November, 2015 pukul 20.00 WIB

Aziz, Ashari. Ikhwanudin.2013. Kajian Terhadap Kenyamanan Ruang Teori di


fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Ditinjau Dari Pencahayaan
Alami Dan Pencahayaan Campuran. http://core.ac.uk/download/pdf/
11066926.pdf, diakses 25 November 2015 pukul 20.00 wib.

Clark, John O.E.2001. Materi Fisika Elektronika. Jakarta: Pakar raya.

Gerthsen,Christian. Helmot Vogel. H.O Kneser. 1996. Fisika Listrik Magnet Dan
Optik. Jakarta: pusat pembinaan dan pengembangan bahasa.

Hasanah, Lilik. 2010. Memahami Sains Di Sekitar Rumah. Bekasi: mitra utama.

Limited, Dorling Kindersley. 2009. Ensiklopedia IPA. Jakarta: Lentera abadi

Muhammad Hatta, Agus. Matiin, nafiul. Sekartedjo. 2012. Pengaruh Variasi


Bending Sensor pH Berbasis Serat Optik Plastik Menggunakan Lapisan
Silica Sol Gel Terhadap Sensitivitas. Website:
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-22406-2408100071-Paper.pdf,
Diakses, 24 November 2015 pukul: 17.00 wib.

Sutrisno, 1980. Fisika Dasar Gelombang dan Optik. Bandung: ITB

Tahir, Iqmal. 2008.Arti Penting Kalibrasi Pada Proses Pengukuran Analitik:


Aplikasi Pada Penggunaan Phmeter Dan Spektrofotometer Uv-Vis.
Website: http://iqmal.staff.ugm.ac.id/wp-content/iqmal-2008-kalibrasi.pdf,
Diakses, 24 November 2015 pukul 21.00 WIB.