Anda di halaman 1dari 19

BIOKIMIA

Metabolisme Protein

Oleh :
Kelompok 2
D-IV Keperawatan tingkat 1

Ni Made Ayu Rahayuni (P07120214001)


Ida Ayu Rika Kusuma Dewi (P07120214002)
Putu Yeni Yunitasari (P07120214004)
Nyoman Wita Wihayati (P07120214006)
Ni Made Ayu Lisna Pratiwi (P07120214009)
Ni Putu Erna Libya (P07120214014)
Ni Kadek Dian Inlam Sari (P07120214018)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2015
A. Definisi Protein

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting, karena yang paling erat
hubungannya dengan proses-proses kehidupan. Nama protein berasal dari bahasa
Yunani (Greek) proteus yang berarti yang pertama atau yang terpenting.
Seorang ahli kimia Belanda yang bernama Mulder, mengisolasi susunan tubuh
yang mengandung nitrogen dan menamakannya protein, terdiri dari satuan
dasarnya yaitu asam amino (biasa disebut juga unit pembangun protein) (Suhardjo
dan Clara, 1992).
Dalam proses pencernaan, protein akan dipecah menjadi satuan-satuan
dasar kimia. Protein terbentuk dari unsur-unsur organik yang hampir sama dengan
karbohidrat dan lemak yaitu terdiri dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan
oksigen (O), akan tetapi ditambah dengan unsur lain yaitu nitrogen (N). Molekul
protein mengandung pula fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang
mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga.
Molekul protein tersusun dari satuan-satuan dasar kimia yaitu asam amino.
Dalam molekul protein, asam-asam amino ini saling berhubung hubungan dengan
suatu ikatan yang disebut ikatan peptida (CONH). Satumolekul protein dapat
terdiri dari 12 sampai 18 macam asam amino dan dapat mencapai jumlah ratusan
asam amino (Suhardjo dan Clara, 1992).

B. Ciri-ciri Molekul Protein

Beberapa ciri molekul protein antara lain:


Berat molekulnya besar, hingga mencapai ribuan bahkan jutaan sehingga
merupakan suatu makromolekul.
Umumnya terdiri dari 20 macam asam amino, asam amino tersebut berikatan
secara kovalen satu dengan yang lainnya dalam variasi urutan yang
bermacam-macam membentuk suatu rantai polipeptida.
Ada ikatan kimia lainnya. Ikatan kimia lainnya mengakibatkan terbentuknya
lengkungan-lengkungan rantai polipeptida menjadi struktur tiga dimensi
protein, sebagai contohnya yaitu ikatan hidrogen dan ikatan ion.
Struktur tidak stabil terhadap beberapa faktor, antara lain, pH, radiasi,
temperatur, dan pelarut organik.

C. Klasifikasi Protein
1) Berdasarkan Fungsi Biologisnya
a. Protein Enzim
Golongan protein ini berperan pada biokatalisator dan pada umumnya
mempunyai bentuk globular. Protein enzim ini mempunyai sifat yang khas, karena
hanya bekerja pada substrat tertentu. Yang termasuk golongan ini antara lain:
Peroksidase yang mengkatalase peruraian hidrogen peroksida.
Pepsin yang mengkatalisa pemutusan ikatan peptida.
Polinukleotidase yang mengkatalisa hidrolisa polinukleotida.
b. Protein Pengangkut
Protein pengangkut mempunyai kemampuan membawa ion atau molekul
tertentu dari satu organ ke organ lain melalui aliran darah.Yang termasuk golongan
ini antara lain:
Hemoglobin pengangkut oksigen.
Lipoprotein pengangkut lipid.
c. Protein Struktural
Peranan protein struktural adalah sebagai pembentuk struktural sel jaringan
dan memberi kekuatan pada jaringan. Yang termasuk golongan ini adalah elastin,
fibrin, dan keratin.
d. Protein Hormon
Adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin membantu mengatur
aktifitas metabolisme didalam tubuh.
e. Protein Pelindung
Protein pada umumnya terdapat pada darah, melindungi organisme dengan
cara melawan serangan zat asing yang masuk dalam tubuh.

f. Protein Kontraktil
Golongan ini berperan dalam proses gerak, memberi kemampuan pada sel
untuk berkontraksi atau mengubah bentuk. Yang termasuk golongan ini adalah
miosin dan aktin.
g. Protein Cadangan
Protein cadangan atau protein simpanan adalah protein yangdisimpan dan
dicadangan untuk beberapa proses metabolisme.

2) Berdasarkan Struktur Susunan Molekul


a) Protein Fibriler/Skleroprotein
Protein ini berbentuk serabut, tidak larut dalam pelarut-pelarut encer, baik
larutan garam, asam, basa, ataupun alkohol. Berat molekulnya yang besar belum
dapat ditentukan dengan pasti dan sukar dimurnikan. Susunan molekulnya terdiri
dari rantai molekul yang panjang sejajar dengan rantai utama, tidak membentuk
kristal dan bila rantai ditarik memanjang, dapat kembali pada keadaan semula.
Kegunaan protein ini terutama hanya untuk membentuk struktur bahan dan
jaringan. Contohprotein fibriler adalah kolagen yang terdapat pada tulang rawan,
miosin pada otot, keratin pada rambut, dan fibrin padagumpalan darah (Winarno,
2004).

b) Protein Globuler/Sferoprotein
Protein ini berbentuk bola, banyak terdapat pada bahan pangan seperti susu,
telur, dan daging. Protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer, juga lebih
mudah berubah dibawah pengaruh suhu, konsentrasi garam, pelarut asam, dan basa
jika dibandingkan dengan protein fibriler. Protein ini mudah terdenaurasi, yaitu
susunan molekulnya berubah yang diikuti dengan perubahan sifat fisik dan
fisiologiknya seperti yang dialami oleh enzim dan hormon (Winarno, 2004).

3) Berdasarkan Komponen Penyusunan


a. Protein Sederhana
Protein sederhana tersusun oleh asam amino saja, oleh karena itu pada
hidrolisisnya hanya diperoleh asam-asam amino penyusunnya saja. Contoh protein
ini antara lain, albumin, globulin, histon, dan prolamin.
b. Protein Majemuk
Protein ini tersusun oleh protein sederhana dan zat lain yang bukan protein.
Zat lain yang bukan protein disebut radikal protestik. Yang termasuk dalam protein
ini adalah:
Phosprotein dengan radikal prostetik asam phostat.
Nukleoprotein dengan radikal prostetik asam nukleat.
Mukoprotein dengan radikal prostetik karbohidrat.

4) Berdasarkan Asam Amino Penyusunnya


a. Protein yang tersusun oleh asam amino esensial
Asam amino esensial adalah asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh, tetapi
tubuh tidak dapat mensintesanya sendiri sehingga harus didapat atau diperoleh dari
protein makanan. Ada 10 jenis asam esensial yaitu isoleusin (ile), leusin (leu), lisin
(lys), metionin (met), sistein (cys), valin (val), triptifan (tryp), tirosina (tyr),
fenilalanina (phe), dan treonina (tre).

b. Protein yang tersusun oleh asam amino non esensial


Asam amino non esensial adalah asam amino yang bibutuhkan oleh tubuh
dan tubuh dapat mensintesa sendiri melalui reaksi aminasi reduktif asam keton atau
melaui transaminasi. Yang termasuk dalam protein ini adalah alanin, aspartat,
glutamat, glutamine (Tejasari, 2005).

5) Berdasarkan Sumbernya
Protein Hewani
Yaitu protein dalam bahan makanan yang berasal dari hewan, seperti protein
daging, ikan, ayam, telur, dan susu.
Protein Nabati
Yaitu protein yang berasal dari bahan makanan tumbuhan, seperti protein
jagung, kacang panjang, gandum, kedelai, dan sayuran (Safro, 1990).

6) Berdasarkan Tingkat Degradasi


Protein alami adalah protein dalam keadaan seperti protein dalam sel.
Turunan protein yang merupakan hasil degradasi protein pada tingkat permulaan
denaturasi. Dapat dibedakan sebagai protein turunan primer (protean, metaprotein)
dan protein turunan sekunder (proteosa, pepton, dan peptida) (Winarno, 2004).

D. Struktur Protein
Struktur asam amino dapat dibagi menjadi beberapa bentuk yaitu struktur primer,
sekunder, tersier, dan kuartener.
1 Struktur Primer
Susunan linier asam amino dalam protein merupakan struktur primer. Susunan
tersebut merupakan suatu rangkain unik dari asam amino yang menentukan sifat dasar
dari berbagai protein, dan secara umum menentukan bentuk struktur sekunder dan tersier.
Bila protein mengandung banyak asam amino dan gugus hidrofobik, daya kelarutannya
dalam air kurang baik dibandingkandengan protein yang banyak mengandung asam
amino dengangugus hidrofil.

2 Struktur Sekunder

Struktur sekunder adalah struktur protein yang merupakanpolipeptida


terlipat-lipat, berbentuk tiga dimensi dengan cabangcabangrantai polipeptidanya
tersusun saling berdekatan. Contohbahan yang mempunyai struktur ini ialah
bentuk -heliks pada wol,bentuk lipatan-lipatan (wiru) pada molekul-molekul
sutera, sertabentuk heliks pada kolagen.
3 Struktur Tersier

Bentuk penyusunan bagian terbesar rantai cabang disebut strukturtersier,


yaitu susunan dari struktur sekunder yang satu denganstruktur sekunder bentuk
lain. Contohnya adalah beberapa protein yang mempunyai bentuk -heliks dan
bagian yang tidak berbentuk -heliks. Biasanya bentuk-bentuk sekunder ini
dihubungkan dengan ikatan hidrogen, ikatan garam, interaksi hidrofobik, dan
ikatan disulfida.

4 Struktur Kuartener

Struktur ini melibatkan beberapa polipeptida dalam membentuk suatu


protein. Ikatan-ikatan yang terjadi sampai terbentuknyaa protein sama dengan
ikatan-ikatan yang terjadi pada struktur tersier (Winarno, 2004).
E. Fungsi Protein
Sebagai Enzim
Berperan terhadap perubahan-perubahan kimia dalam sistem biologis.
Alat Pengangkut dan Alat Penyimpanan
Banyak molekul dengan BM kecil serta beberapa ion dapat diangkut atau
dipindahkan oleh protein-protein tertentu.
Pengatur Pergerakan
Protein merupakan komponen utama daging, gerakan otot terjadi karena
adanya dua molekul protein yang saling bergeseran.
Penunjang Mekanis
Kekuatan dan daya tahan robek kulit dan tulang disebabkan adanya kolagen,
suatu protein yang berbentuk bulat panjang dan mudahmembentuk serabut.
Pertahanan Tubuh
Pertahanan tubuh biasanya dalam bentuk antibodi, yaitu suatu protein
khusus yang dapat mengenal dan menempel atau mengikat benda-benda
asing yang masuk kedalam tubuh seperti virus, bakteri, dan sel-sel asing
lain.

Media Perambatan Impuls Syaraf


Protein yang mempunyai fungsi ini biasanya berbentuk reseptor, misalnya
rodopsin, suatu protein yang bertindak sebagai reseptor/ penerima warna
atau cahaya pada sel-sel mata.
Pengendalian Pertumbuhan
Protein ini bekerja sebagai reseptor (dalam bakteri) yang dapat
mempengaruhi fungsi bagian-bagian DNA yang mengatur sifat dan karakter
bahan (Winarno, 2004).

F. Metabolisme Protein

Asam amino yang terdapat dalam darah berasal dari 3 sumber :


o absorbsi melalui dinding usus
o hasil penguraian protein dalam sel
o hasil sintesis asam amino dalam sel

1. Anabolisme Protein (sintesis protein)

Proses sintesis protein dari sandi genetik melibatkan beberapa langkah.


DNA pada dasarnya adalah penyimpan informasi yang pasif, mirip denga cetak
biru (blue print) untuk denah rumah. Aktivitas pembuatan protein terjadi pada
suatu situs khusus dalam sel yang disebut ribosom. Oleh karena itu, langkah
pertama dalam sintesis protein adalah menyampaikan informasi dari DNA ke
ribosom.
Untuk melakukan hal ini, enzim-enzim seluler membuat salinan kopi gen
sehinnga dapat dibaca oleh ribosom. Salinan kopi gen ini disebut RNA duta
(messennger RNA = mRNA). mRNA membawa sandi genetik yang dipakai
langsung untuk sintesis protein di ribosom. Tahap ini disebut dengan tahap
transkripsi. Dalam tahap berikutnya kodon pada mRNA harus dapt dikorelasi
dengan asam amino yang seharusnya.
Tahapan ini dilakukan molekul RNA lain, yaitu RNA transfer, (transfer
RNA = tRNA) yang dikenal dengan tahap translasi. Akhirnya asam amino harus
disambungkan untuk membentuk rantai protein fungsional (tahap sintesis).
Ribosom yang terdiri dari RNA dan protein, melakukan fungsi tersebut. Bila
rantai protein sudah lengkap, suatu tanda berhenti (stop sign) mempengaruhi
ribosom sehingga ribosom melepas protein baru tersebut ke dalam sel.

a. Transkripsi.
Transkripsi adalah sintesis RNA secara enzimatik dengan menggunakan
DAN sebagai cetakan. Untuk transkripsi suatu gen, hanya salah satu rantai DNA
yang digunakan sebagai cetakan atau templat. Transkripsi dikatalis oleh enzim
RNA polimerase. Sintesis RNA selalu bergerak ke satu arah, yaitu dari ujung 5
ke ujung 3 dari molekul RNA.
Untuk menginisiasi transkripsi, RNA polimerase berikatan pada suatu
daerah di DNA yang disebut promoter. Promoter terletak disebelah hulu (ke
arah5) dari gen. Perbedaan urutan nukleotida dari promoter berbagai gen
menyebabkan perbedaan tingkat efisiensi dan regulasi dari inisiasi transkripsi gen-
gen tersebut.
Setelah RNA polimerase terikat pada promoter DNA, kedua rantai DNA
dipisahkan dan RNA polimerase memulai sintesis RNA di tempat inisiasi. Tempat
ini disebut sebagai posisi +1. RNA polimerase menambahkan ribonukleotida ke
ujung 3dari rantai RNA yang sedang disintesis. Hal ini dilakukan dengan
bergerak dari ujung 3 ke arah 5 dari rantai DNA cetakan., sambil memisahkan
bagian rantai ganda DNA yang dilaluinya. Dengan demikian ribonukleotida dapat
berpasangan dengan DNA cetakan dan ditambahkan pada ujung 3 RNA dengan
pembentukan ikatan fosfodiester. Heliks ganda akan terbentuk kembali setelah
RNA polimerase lewat.

Promoter Daerah yang ditranskripsi Terminator

DNA TACG
5

3 ATGC
Transkripsi
RNA
5 U A C G 3
Gambar 25. Struktur gen
b. Translasi

Translasi merupakan proses sintesis protein di dalam sel. Sebelum sintesis


protein dimulai, setiap jenis tRNA berikatan dengan asam amino spesifik. Reaksi
ini dikatalis oleh enzim aminoasil tRNA sintetase bersama dengan ATP, sehingga
terbentuk aminoasil tRNA. Pada tRNA terdapat antikodon yang akan berpasangan
dengan kodon yang terdapat pada mRNA. Setiap macam aminoasil tRNA
sintetase akan menggabungkan asam amino tertentu pada tRNA yang spesifik.
Pada tRNA inisiator, tRNA terikat pada asam amino metionin yang termodifikasi,
yaitu N-formilinetionin. Proses sintesis protein terdiri dari tiga tahap yaitu:
Inisiasi : proses penempatan ribosom pada suatu molekul mRNA
Elongasi : proses penambahan asam amino
Terminasi : proses pelepasan protein yang baru disintesis
Pada sintesis protein sel prokariot, prosaes inisiasi memerlukan sub unit
kecil (30S) dan sub unit besar (50S) ribosom, mRNA, tiga faktor inisiasi (IF 1 , IF 2

dan IF 3 ) dan GTP. IF 1 dan IF 3 mula-mula terikat pada sub unit kecil ribosom,

kemudian IF 2 dan GTP bergabung. Kompleks sub unit kecil ini terikat pada
mRNA di tempat pengikatan ribosom yang terletak 8 13 nukleotida sebelum
hulu kodon inisiasi Aug kemudian bergerak sepanjang mRNA ke arah hilir
sampai menemukan kodon inisiasi.
Setelah pengikatan sub unit kecil ribosom pada kodon inisiasi, tRNA
inisiator dapat terikat pada kodon inisiasi dan melepaaskan IF 3 sehingga

terbentuk kompleks inisiasi 30S, melepaskan IF 1 , IF 2 , GDP dan fosfat sehingga


terbentuk inisiasi 70S.Proses elongasi melibatkan tiga faktor elongasi (EF Tu,
EF Ts, EF G0, GTR, aminoasil tRNA dan kompleks inisiasi 70 S. Proses
elongasi terdiri dari tiga tahap:
Aminoasil tRNA membentuk kompleks denagn EF-Tu dan GTP, terikat pada
A-site di ribosom dengan melepaskan EF-Tu GDP. EF-Tu GTP dapat
berubah lagi menjadi EF-Tu GTP dengan bantuan EF-Ts dan GTP.
Enzim transferase peptidil yang terdapat pada ribosom membenyuk ikatan
peptida antara dua asam amino yang berdampingan.
Enzim translokase (EF-G) dengan energi GTP menggerakkan ribosom sejauh
satu kodon sepanjang mRNA sehingga tRNA pada P-site lepas dan tRNA
pada A-site pindah ke P-site.Proses elongasi rantai peptida berjalan terus
sampai ribosom mencapai suatu kodon stop.
Proses terminasi melibatkan tiga faktor pelepas (release faktor, RF 1 , RF

2 dan RF 3 ). RF 1 atau RF 2 dapat mengenal kodon stop dan denagn bantuan RF 3


menyebabkan trasnsferase peptidil melepaskan rantai polipeptida dari tRNA.
Faktor-faktor pelepas membantu pelepasan kedua sub unit ribosom dari mRNA.

2. Katabolisme (Biosintesis Urea)


Biosintesis urea berlangsung dalam 4 tahap:
1) Transaminasi
2) Deaminasi oksidatif glutamate
3) Transport ammonia
4) Reaksi siklus urea

1) Transaminasi

Transaminasi saling mengkonversi pasangan-pasangan asam -amino


dan asam -keto. Semua asam amino protein kecuali lisin, treonin, prolin dan
hidroksiprolin ikut serta dalam transaminasi. Transaminasi berlangsung
reversible, dan aminotransferase juga berfungsi dalam biosintesis asam amino.
Alanin-piruvat aminotransferase (alanin aminotransferase ) dan
glutamate-ketoglutarat amino transferase (glutamate aminotransferase)
mengatalisis pemindahan gugus amino ke piruvat (membentuk alanin) atau ke
-ketoglutarat membentuk glutamate. Masing-masing aminotransferase
bersifat transferase bersifat spesifik untuk satu pasangan substrat, tetapi tidak
spesifik untuk pasangan lain.
Pemindahan nitrogen amino ke -ketoglutarat membentuk L-glutamat.
Pemindahan nitrogen ini sebagai ammonia kemudian dikatalisis oleh L-
glutamat dehidrogenase (GDH) hati, yang dapat menggunakan NAD+ atau
NADP+.

2) Deaminasi Oksidasi

Terjadi di hati. Satu asam imino dibentuk oleh dehidrogenase, dan


senyawa ini dihidrolisis menjadi asam keto, dengan menghasilkan NH4.Flavin
terduksi mengalami reoksidasi oleh oksigen molecular, dan membentuk
hydrogen peroksida (H2O2), yang kemudian terurai menjadi O2 dan H2O oleh
katalase.
3) Glutamin Sintase Mengikat Amonia Menjadi Glutamin

Ammonia bersifat toxik bagi susunan saraf pusat. Gejala intoksikasi


ammonia mencakup tremor, berbicara pelo, penglihatan kabur, koma dan
akhirnya kematian. Ammonia bias bersifat toksik bagi otak karena zat ini
bereaksi dengan -ketoglutarat untuk membentuk glutamate. Kadar -
ketoglutarat yang menurun ini kemudian menggangu fungsi siklus asam
trikarboksilat di neuron.
Oleh karena itu glutamine dikatalisis oleh Glutamine sintase.
Glutamine berfungsi mengubah ammonia menjadi suatu bentuk yang
nontoksik.
4) Siklus Urea

Sebagian besar NH4+ yang terbentuk oleh deaminasi asam amino di


hati diubah menjadi urea, dan urea diekskresikan di dalam urine. NH4+
membentuk karbomil fosfat, dan di mitokondria gugus ini dipindahkan ke
ornitin, membentuk sitrulin. Enzim yang berperan adalah ornitin
karbamoiltransferase. Arginin diubah menjadi sitrulin, setelah itu ureanya
dipisahkan dan ornitin kembali terbentuk.
Gugus-gugus yang mengandung nitrogen dan ikut berperan
membentuk urea diarsir. Reaksi 1 dan 2 terjadi di matriks mitokondriahati dan
reaksi 3,4, dan 5 di sitosol hati. CO2 (sebagai bikarbonat), ion ammonium,
ornitin dan sitrulin masuk ke matriks mitokondria melaluipembawa spesifik
(lihat lingkaran biru) yang terdapat di membran dalam mitokondria.

G. GANGGUAN METABOLISME PROTEIN

Dua penyakit yang berhubungan dengan metabolisme protein ialah : pirai


(gout arthritis) dan infark asam urat pada ginjal. Pada kedua kelainan ini terdapat
gangguan metabolisme asam urat sehingga serum meninggi dan terjadi
pengendapan urat pada berbagai jaringan.Asam urat ini merupakan hasil akhir dari
pada metabolisme purin. Berasal dari reruntuhan asam-2-nukleat menjadi purin
dan akhirnya asam urat. Protein ini berasal dari tubuh sendiri dan dari makanan.
Sebagian asam urat ini dioksidasi menjadi ureum dan diekskresi.
1. Pirai (Gouty Arthritis)
Secara klinis penyakit ini merupakan arthritis akut yang sering kambuh secara
menahun. Pada berbagai jaringan ditemukan endapan2 urat yang merupakan tonjolan2
yang disebut tophus biasanya terdapat disekitar sendi, sering juga tulang rawan daun
telinga . Pengendapan juga terdapat pada ginjal juga pada jantung. Penyakit ini lebih
sering ditemukan pada pria usia pertengahan atau lebih tua. Penyakit ini juga cenderung
timbul secara familial. Dalam satu keluarga, satu diantara lima anggota dapat terkena
penyakit ini. Kadang secara klinis tidak tampak manifestasi pirai, tetapi dalam darah
terdapat hyperurecaemia. Dasar gangguan metabolic ini tidak diketahui tetapi
meningkatnya kadar asam urat darah dapat disebabkan :
1. Destruksi asam urat dalam tubuh berkurang.
2. Ekskresinya berkurang.
3. Pembentukannya berlebihan.
Pada payah ginjal adanya reabsorbsi glomeruler, retensi asam urat, adanya
metastatik sehingga timbul penimbunan urat pada tempat-tempat tertentu.
Kelainan khas disebut tophus yang terdiri atas endapan urat berwarna putih seperti
kapur pada jaringan. Tophus tersebut biasanya dikelilingi zone hyperemic. Mula-
mula kecil tidak teratur,kemudian menjadi satu dan besar pada permukaan sendi.
Endapan kristal urat natrium pada ginjal menimbulkan gouty nephritis, biasanya
pada piramide. Pada penderita pirai, sering ditemukan pula hipertensi dan
penyakit vasculer yang keras seperti arteriosclerosis umum dan arteriosclerosis
pembuluh ginjal. Pada kasus ini kira-kira 10% meninggal karena ginjal; gouty
nephritis, nephrosclerosis dan pyelonephritis.

2. Endapan Urat pada Ginjal

Pada ujung-ujung piramide ginjal pada bayi dan pada penderita leukemia
dan polisitemia terdapat endapan-endapan urat. Pada ginjal bisa terjadi infark
asam urat. Endapan terdapat pada tubulus kontortus,kemudian epitel peritubuler.
Syndrom Nefrotik adalah keluarnya protein lebih dari 3,5 gram melalui urine
perhari. Dalam keadaan normal, hampir tidak ada protein yang keluar melalui
urine. Syndrome nefrotik mengisyaratkan cedera glomerulus yang berat.
Hilangnya protein-protein plasma menyebabkan hipoalbuminemia dan
hipoimmunglobulinemia.
Manifestasi klinik antara lain adalah mudah infeksi (akibat
hipoimmunoglobulin) dan edema anasarka, hiperlipidemia peningkatan lemak-
lemak plasma berkaitan dengan hipoalbuminemia. Penatalaksanaan diet: protein
normal, rendah lemak. Garam dibatasi.Bisa diberi diuretik untuk pengeluaran
cairan. Bisa diberi tambahan protein kecuali apabila dicurigai adanya gagal ginjal
( protein memperburuk gagal ginjal).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Ciri-Ciri Protein. (Online) (Available:


https://www.scribd.com/doc/224332875/Ciri-Ciri-Protein) 24 Maret 2015
pukul 14.20 WITA
Anonim. 2015. Ciri, Sifat dan Jenis Protein.(Online) (Available:
http://budisma.net/2015/01/ciri-sifat-dan-jenis-protein.html) 24 Maret 2015
pukul 14.22 WITA
Anonim. Metabolisme Protein. (Online)
(Available:https://www.scribd.com/doc/177479378/Metabolisme-
Protein#download) 24 Maret 2015 pukul 14.25 WITA)
Anonim. Anabolisme Protein. (Online) (Available:
https://www.scribd.com/doc/226324701/Anabolisme-Protein) 24 Maret
2015 pukul 14.30 WITA
Anonim. Anabolisme dan Katabolisme Protein. (Online)(Available:
http://www.biologi-sel.com/2012/11/anabolisme-dan-katabolisme-
part2.html) 24 Maret 2015 pukul 14.32 WITA
Anonim. Jurnal Metabolisme Protein. (Online) (Available:
http://www.pdfseeker.net/pdf/jurnal-metabolisme-protein.html) 24 Maret
2015 pukul 14.33 WITA
Anonim. Metabolisme Protein. (Online) (Available:
http://www.fp.unud.ac.id/biotek/wp-content/uploads/2009/02/metabolisme-
protein.pdf) 24 Maret 2015 pukul 14.36 WITA
Rismayanthi. Bahan Ajar Pengantar Biokimia. (Online)(Available:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Cerika%20Rismayanthi,
%20S.Or./BAHAN%20AJAR%20PENGANTAR-BIOKIMIA.pdf) 24
Maret 2015 pukul 14.40 WITA