Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
KEARIFAN LOKAL SUKU BADUY

Disusun Oleh:
1. Della Afrianti (P27820716004)
2. Putri Alvianita (P27820716005)
3. Nur Harirotus S. (P27820716011)
4. Rahma Amalia S. (P27820716012)
5. Refi Ardian Syah P. (P27820716013)
6. Diana Shindy V. (P27820716030)
7. Bagas Meiranda R. (P27820716035)
8. Arikhah Nafsiyah (P27820716036)
9. Girindra Findyanto (P27820716037)
10. Nobia Esa Paramita (P27820716039)

PROGRAM STUDI D IV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
TAHUN AJARAN 2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan dan
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
Mata Pemberdayaan Masyarakat dengan baik sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.

Ucapan terima kasih tidak lupa kami sampaikan kepada dosen pembimbing
mata kuliah ini, untuk rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dengan adanya
penyusunan makalah ini, tugas yang kami laksanakan dapat tercatat dengan rapi
dan dapat kita pelajari kembali pada kesempatan yang lain untuk kepentingan
proses belajar, terutama pada mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat.

Dalam penyusunan makalah ini tentu jauh dari kata sempurna, oleh karena
itu segala kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi
perbaikan dan penyempurnaan makalah ini. Semoga dengan adanya tugas ini kita
dapat belajar bersama demi kemajuan bersama.

Surabaya, September 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................6
2.1 Pengertian Kearifan Lokal.............................................................................6
2.2 Pengertian Suku Baduy.................................................................................6
2.3 Asal Usul Suku Baduy...................................................................................7
2.4 Kearifan Lokal di Suku Baduy......................................................................6
2.5 Dampak Kearifan Lokal dari Suku Baduy....................................................7
BAB III PENUTUP..............................................................................................10
3.1 Kesimpulan..................................................................................................10
3.2 Saran............................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keragaman budaya atau cultural diversity adalah keniscayaan yang
ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang
tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman
masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat
Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan
yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa
yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana
mereka tinggal tersebar di pulau-pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami
dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari
pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga
perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-
kelompok suku bangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.
Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.
Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat
Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan
yang dirangkai sejak dulu. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu
menelisik dan mengembangkan budaya lokal.
Budaya lokal di Indonesia biasanya mempunyai pengaruh yang kuat
dalam suatu masyarakat yang turun-temurun sehingga terbentuk kearifan
budaya lokal. Kearifan lokal merupakan kebudayaan lokal yang tercipta dari
hasil adaptasi suatu komunitas yang dikomunikasikan dari generasi ke
generasi. Kearifan lokal digunakan oleh masyarakat lokal untuk bertahan
hidup dalam suatu lingkungannya yang menyatu dengan sistem kepercayaan,
norma, budaya dan diekspresikan di dalam tradisi dan mitos yang dianut
dalam jangka waktu yang lama.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kearifan lokal?
2. Apa yang dimaksud dengan Suku Baduy?
3. Bagaimana asal usul dari Suku Baduy?
4. Bagaimana kearifan lokal di Suku Baduy?
5. Bagaimana dampak kearifan lokal dari Suku Baduy?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kearifan lokal.
2. Untuk mengetahui pengertian dari Suku Baduy.
3. Untuk mengetahui asal usul dari Suku Baduy.
4. Untuk mengetahui kearifan lokal di Suku Baduy.
5. Untuk mengetahui dampak kearifan lokal dari Suku Baduy.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kearifan Lokal


Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang
tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal

2
biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi
melalui cerita dari mulut ke mulut. Kearifan lokal ada di dalam cerita rakyat,
peribahasa, lagu, dan permainan rakyat. Kearifan lokal sebagai suatu
pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat lokal tertentu melalui
kumpulan pengalaman dalam mencoba dan diintegrasikan dengan
pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat.

2.2 Pengertian Suku Baduy


Orang Baduy/Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis
Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000
hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan
isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk
difoto, khususnya penduduk wilayah baduy dalam. Orang Kanekes memiliki
hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka
mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan
adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari
pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang
tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan
mayoritas memeluk Islam.
Baduy terletak di perbukitan Gunung Kendeng, sekitar 40 kilometer
arah selatan Rangkasbitung, desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar,
kabupaten Lebak, provinsi banten. suku Baduy sering disebut urang
Kanekes atau orang Kanekes. Baduy sebetulnya bukanlah nama dari
komunitas yang ada di desa ini. Nama tersebut menjadi melekat karena
diberikan oleh peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi
atau Bedoin Arab yang merupakan masyarakat nomaden atau berpindah-
pindah. Dari Badawi atau Bedoin, kemudian nama itu pun bergeser menjadi
Baduy. Orang Baduy, karena bermukim di Desa Kanekes, sebenarnya lebih
tepat disebut sebagai Orang Kanekes. Namun karena istilah Baduy terlanjur
lebih dulu dikenal, maka nama Baduy lebih populer ketimbang Orang
Kanekes.

2.3 Asal Usul Suku Baduy


Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku
keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang

3
diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi
Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam
dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau
asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat
para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari
beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan
Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim
keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang
sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran
(sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah
ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda.
Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung
dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk
pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian
penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun
menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu
diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk
menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah
Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang
khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang
sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung
Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut
membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan
kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi
komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada
tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah
penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap
pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika
dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu
kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang
Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan

4
suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara
kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama
Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati
Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati).
Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan.

2.4 Kearifan Lokal di Suku Baduy


Berladang/ bercocok tanam/ bertani merupakan pekerjaan utama suku
Baduy. Tidak diperbolehkan penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida
terutama bagi orang Baduy Dalam yang hanya mengunakan pola tradisional
organik dengan dibantu doa serta mantra-mantra. Dengan demikian pola
tanam organik bebas kimia seperti ini, kenyataannya terbukti lebih
bermanfaat dan menyehatkan dan malah sekarang mulai banyak ditiru oleh
orang kota yang peduli untuk menjaga kesehatannya.
Makanan dan minuman warga baduy dibuat sendiri dari kegiatan
berladang, dan pasti tidak tercemar bahan kimia pengawet seperti formalin
dan borax. Salah satu minuman khas yang dibuat adalah campuran jahe dan
gula aren (bisa dibeli sebagai oleh-oleh) yang sungguh sangat menyegarkan
badan setelah jalan-jalan diperkampungan Baduy yang berbukit dengan
pemandangan alamiah yang masih indah dan berudara segar.
Kain dan baju yang dipakai oleh warga Baduy merupakan hasil tenunan
sendiri dengan memanfaatkan bahan dan pewarnaan alamiah yang ramah
lingkungan dari hutan yang ada. Demikian pula tas dibuat sebagai kerajinan
tangan suku Baduy (kain tenun dan tas dapat dibeli sebagai oleh-oleh dari
suku Baduy Luar yang tinggal mulai tapak batas sampai dengan jembatan
bambu di kampung Gajeboh). Melalui warna baju yang dikenakan kita dapat
membedakan suku Baduy Luar umumnya mengenakan warna hitam
sedangkan Baduy Dalam warna putih. Untuk kegiatan membersihkan gigi dan
badan juga tidak boleh menggunakan odol/pasta gigi dan sabun, karena akan
mencemari sungai dan lingkungan. Segala kegiatan ini menunjukkan betapa
bersahabatnya warga Baduy dengan alam sekitar tanpa mencemarinya dengan
segala sampah kimia, busa odol dan sabun, kemasan plastik dan sebagainya.

2.5 Status Kesehatan


2.6 Cara pengobatan suku baduy

5
2.7 Dampak Kearifan Lokal dari Suku Baduy
Kearifan lokal pada suku baduy membuat mereka semakin membudaya.
Adat istiadat yang telah ada turun temurun warisan dari nenek moyang
mereka selalu dijaga dan dilestarikan agar tidak punah. Kearifan lokal suku
baduy menimbulkan berbagai dampak dalam berbagai aspek khususnya
kesehatan. Seperti pada contohnya menanam padi dan sayuran secara alami
tanpa menggunakan pupuk pestisida. Hal itu akan membuat sayuran menjadi
lebih sehat dikonsumsi karena tidak mengandung bahan kimia dan juga
mengandung gizi lebih bagus dibandingkan sayuran yang menggunakan
pupuk pestisida.
Disamping itu ada adat istiadat dari suku baduy yaitu ketika mandi
mereka tiddak menggunakan sabun, dan juga ketika gosok gigi tidak
menggunakan odol. Selain itu suku baduy juga tidak menggunakan detergen,
dan bahan bahan kimia lainnya. Hal itu dilakukan agar tidak mencemari
lingkungan dan menjaga agar lingkungan tetap bersih. Namun, adat istiadat
tersebut juga menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan yaitu
suku baduy terkena wabah penyakit kulit yang bernama Frambusia.
Frambusia, patek atau puru (bahasa Inggris: yaws) adalah infeksi tropis pada
kulit, tulang dan sendi yang disebabkan oleh bakteri spiroket Treponema
pallidum pertenue. Penyakit ini berawal dengan pembengkakan keras dan
bundar pada kulit, dengan diameter 2 sampai 5 cm. Sebab, penyebab penyakit
Frambusia itu akibat buruknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
seperti berpakaian sampai berminggu-minggu tidak diganti, mandi tidak
menggunakan sabun, dan bahkan warga Baduy ketika tidur tidak beralas tikar.
Meskipun penyakit Frambusia itu tidak mematikan, karena menyerang pada
bagian kulit saja, seperti luka koreng, tetapi bisa menurunkan produktivitas.
Disinilah peran pemerintah dan tenaga kesehatan untuk mengedukasi
dan mengatasi masalah yang ditimbulkan kearifan lokal pada masyarakat.
Untuk menangani masalah penyakit kulit di Suku Baduy Pengobatan
dilakukan secara berkala oleh petugas kesehatan masyarakat. Di kutip dari
rimanews.com, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular Dinas
Kesehatan Kabupaten Lebak dr Firman Rahmatullah di Lebak menuturkan
tercatat saat ini sedikitnya 23 warga Baduy dalam yang terkena Frambusia.

6
Mereka telah mendapat pengobatan petugas medis setempat agar cepat
sembuh dan wabah tidak menyebar. Dan untuk mencegah terjadinya kembali
wabah Frambusia ini pemerintah dan juga tenaga kesehatan setempat
mengimbau agar suku baduy memperbaiki pola hidup bersih dan sehat.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Judul Program

Melakukan pelatihan kepada Suku Baduy tentang cara melakukan PHBS


atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, tanpa merusak alam sekitar dan mencegah
timbulnya penyakit kulit.

3.2 Latar Belakang

PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku
yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang
menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang
kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. PHBS
merupakan salah satu pilar utama dalam Indonesia Sehat dan merupakan salah
satu strategi untuk mengurangi beban negara dan masyarakat terhadap
pembiayaan kesehatan.
7
Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk
memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi,
memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan,
sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana
(Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan
demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri,
terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-
cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

Kesehatan merupakan kondisi dimana kita berada jauh atau terbebas dari
penyakit. Merupakan suatu yang mahal jika dibandingkan dengan hal-hal yang
lain. Beginilah alur kehidupan, semuanya menjadi seimbang. Ada sehat dan ada
sakit, kita tidak akan selalu sehat dan kita juga tidak akan selalu sakit. Semuanya
itu bagaimana kita bisa menjaga diri untuk terhindar dari penyakit sehingga
kesehatan itu merupakan hal yang mutlak harus dijaga.
Mencegah sakit adalah lebih mudah dan murah dari pada mengobati
seseorang apabila jatuh sakit. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut adalah
dengan bergaya hidup sehat. Gaya hidup sehat adalah segala upaya untuk
menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan
menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Dengan
semakin banyaknya penderita penyakit tidak menular (degeneratif) seperti
jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stress dan penyakit tidak menular lainnya
yang disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat, maka untuk menghindarinya
kita perlu bergaya hidup yang sehat.
Tidak jarang istilah PHBS terdengar di masyarakat. Jika dilihat dari
kepanjangannya yakni Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, tentu kita langsung
mengetahui apa itu PHBS, singkat kata mengenai perilaku seseorang menyangkut
kebersihan yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Banyak penyakit yang dapat
dihindari dengan PHBS.

3.3 Tujuan Program

8
a. Tujuan umum

Memberdayakan masyarakat Suku Baduy dan meningkatkan ber PHBS suku


baduy

b. Tujuan Khusus

1. Masyarakat Suku Baduy mampu meningkatkan pengetahuan, kemauan dan


kemampuan anggota rumah tangga untuk melaksanakan PHBS

2. Berperan aktif dalam gerakan PHBS di Suku Baduy

3.4 Luaran yang Diharapkan

Terbentuknya kader masyarakat Suku Baduy pemantau kesehatan (baik kepala


suku maupun kepala keluarga)

3.5 Kegunaan Program

Dengan diadakannya pelatihan tentang cara melakukan PHBS atau


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, tanpa merusak alam sekitar dan
mencegah timbulnya penyakit kulit. Diharapkan dapat meningkatkan
status kesehatan bagi Suku Baduy dalam menjaga kesehatan serta
mengurangi kebiasaan gaya hidup yang kurang sehat

3.6 Metode Pelaksanaan Program

1. Sasaran
Kepala suku dan perwakilan dari setiap keluarga
2. Metode
2.1 Ceramah dan diskusi
a Penyampaian materi
b Tanya jawab
2.2 Pelatihan
a. Cara mandi / membersihkan anggota badan dengan
menggunakan sabun
b. Cara menggosok gigi dengan pasta gigi yang baik dan
benar
c. Cara menjaga perilaku hidup bersih dan sehat

9
d. Mampu menggunakan jamban sehat

3. Media
a. sabun mandi
b. air
c. pasta gigi
d. sikat gigi

3.7 Pelaksanaan Penyuluhan.

3.8 Peran Perawat dalam Pemberdayaan Masyarakat

a. Memberikan pendidikan tentang pentingnya perilaku hidup sehat dan bersih

b. Mengajarkan cara mengolah limbah agar tidak mencemari lingkungan


karena masyarakat baduy sangat menjaga kelestarian alam, mereka tidak
menggunakan sabun saat mandi karena dianggap akan mencemari
lingkungan. Dengan memberikan pendidikan pengolahan limbah. Misalnya
saja penjernian air sederhana. Dengan hal itu diharapkan masyarakat baduy
tidak takut mencemari lingkungan dengan mandi dengan menggunakan
sabun

c. Mengganti sabun dengan bahan alam. Misalnya menyikat gigi dengan


hanjoen atau siwak

10
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang
tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal suku
baduy menimbulkan berbagai dampak dalam berbagai aspek khususnya
kesehatan. Seperti pada contohnya menanam padi dan sayuran secara alami
tanpa menggunakan pupuk pestisida. Hal itu akan membuat sayuran menjadi
lebih sehat, terdapat adat istiadat dari suku baduy yaitu ketika mandi mereka
tidak menggunakan sabun, dan juga ketika gosok gigi tidak menggunakan
odol. Selain itu suku baduy juga tidak menggunakan detergen, dan bahan
bahan kimia lainnya. Hal itu dilakukan agar tidak mencemari lingkungan dan
menjaga agar lingkungan tetap bersih. Namun, dapat menimbulkan dampak
yang kurang baik bagi kesehatan yaitu suku baduy terkena wabah penyakit
kulit. Sebab, penyebab penyakit kulit itu akibat buruknya perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS), seperti berpakaian sampai berminggu-minggu tidak
diganti, mandi tidak menggunakan sabun, dan bahkan warga Baduy ketika
tidur tidak beralas tikar. Meskipun penyakit kulit itu tidak mematikan, karena
menyerang pada bagian kulit saja, seperti luka koreng, tetapi bisa
menurunkan produktivitas.

3.2 Saran
1. Sebagai seorang perawat hendaknya kita mengetahui memahami dan
menghargai berbagai macam budaya yang ada di indonesia sehingga
dalam penerapan di lapangan perawat akan memberikan pelayanan yang
terbaik dimasyarakat.
2. Dalam penulisan makalah ini hendaknya perawat dapat menghargai
budaya di indonesia dengan baik di unit rumah sakit puskesmas di rumah
atau di instansi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

11
Dian Sobarna. 2014. Suku baduy Semakin Membudaya. Wordpress.com. Update
11 September 2017. Pukul 21.33 WIB. (akses online)
https://dayensobarna.wordpress.com/2014/03/19/suku-baduy-semakin-
membudaya/

Ary Rantao. 2015. Kearifan Budaya Lokal Suku Baduy. Kompasiana.com. Update
11 September 2017. Pukul 22.17 Wib. (akses online)
http://www.kompasiana.com/aryrantao/kearifan-budaya-lokal-suku-
baduy_5500fc73a33311c56f512ca5

Wikipedia. 2016. Kearifan Lokal. Id. wikipedia.org.id. Update 11 September


2017. Pukul 22.32 WIB. (akses online)
https://id.wikipedia.org/wiki/Kearifan_lokal

Wikipedia. 2017. Urang Kenakes. Id.wikipedia.org. Update 11 September 2017.


Pukul 21.30 WIB. (akses online)
https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes

Chandra Randy. 2012. PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Wordpress.com.

Update 14 September 2017. Pukul 21.05 WIB. (akses online)

https://chandrarandy.wordpress.com/2012/09/06/phbsperilaku-hidup-
bersih-dan-sehat/

12