Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Filosofi dibentuknya Badan Usaha Milik Negara adalah karena

berdasarkan pada bunyi ketentuan UU Pasal 33 khususnya ayat (2) dan (3) yang

mengandung maksud bahwa; cabang-cabang produksi penting bagi Negara yang

menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. Kemudian bumi, air,

dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan

dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pengertian BUMN berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2005

adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya dimiliki oleh Negara

melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang

dipisahkan.

Keputusan Menteri BUMN Nomor Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli

2002 memustuskan bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) wajib

menerapkan Good Corporate Governace secara konsisten dan berkelanjutan

dengan berpedoman pada Peraturan Menteri ini dengan tetap memperhatikan

ketentuan, dan norma yang berlaku serta anggaran dasar BUMN.

8
9

2.2 Good Corporate Governance

2.2.1 Definisi Good Corporate Governance (GCG)

Istilah Good Corporate Governance pertama kali diperkenalkan oleh

Cadbury Committee di tahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut dalam

laporan mereka yang kemudian dikenal sebagai Cadbury Report. Laporan ini

dipandang sebagai titik balik (turning point) yang sangat menentukan bagi praktik

Good Corporate Governance di seluruh dunia.

Governance diambil dari kata latin, gobernance yang artinya mengarahkan

dan mengendalikan. Dalam ilmu manajemen bisnis, kata tersebut diadaptasi

menjadi corporate governance yang sebagai upaya mengarahkan (directing) dan

mengendalikan (control) kegiatan organisasi termasuk perusahaan.

Adapun pengertian lain yang dikeluarkan oleh Komite Cadbury (Surya

dan Yustiavandana, 2006), mendefenisikan Corporate Governance sebagai :

Corporate Governance adalah sistem yang mengarahkan dan mengendalikan


perusahaan dengan tujuan, agar mencapai keseimbangan antara kekuatan
kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan, untuk menjamin kelangsungan
eksistensinya dan pertanggungjawaban kepada stakeholders. Hal ini berkaitan
dengan peraturan kewenangan pemilik, direktur, manajer, pemegang saham, dan
sebagainya.

World Bank dan United Nation Development Program (UNDP) dalam

Mardiasmo (2004: 23) mengemukakan beberapa pengertian good corporate

governance sebagai berikut:

World Bank memberikan definisi governance sebagai: The way state

power is used in managing economic and social resources for

development of society.
10

United National Development Program (UNDP) mendefinisikan

governance sebagai: The exercise of political, economic, and

administrative aurority to manage a nations affair at all levels

World Bank lebih menekankan pada cara pemerintah mengelola sumber

daya sosial dan ekonomi untuk kepentingan pembangunan masyarakat, sedangkan

United Nation Development Program (UNDP) lebih menekankan pada aspek

politik, ekonomi, dan administratif dalam pengelolaan negara. Berdasarkan

definisi tersebut governance berarti suatu pengelolaan perusahaan dalam

mengarahkan dan mengendalikan kegiatan organisasi yang sesuai dengan prinsip-

prinsip good corporate governance (GCG).

World Bank dalam Mardiasmo (2004: 24) mendefinisikan good corporate

governance sebagai berikut:

Suatu penyelenggaran manajemen pembangunan yang solid dan


bertanggungjawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi pasar yang efisien,
penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara
politik maupun administratif, menjalankankan disiplin anggaran serta penciptaan
legal and political framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha.

Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.Kep.117//M-

MBU/2002 pasal 1 tentang penerapan praktik Good Corporate Governance pada

BUMN, pengertian Good Corporate Governance berdasarkan keputusan menteri

BUMN ini adalah :

Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk
meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan
nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-
nilai etika.
11

Organ menurut pengertian Good Corporate Governance berdasarkan

keputusan menteri BUMN adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

komisaris dan direksi untuk Perusahaan Perseorangan (Persero) dan Pemilik

Modal, dewan pengawas, dan direksi untuk Perusahaan Umum (Perum) dan

Perusahaan Jawatan (Perjan), sedangkan stakeholders adalah pihak yang memiliki

kepentingan dengan BUMN, baik langsung maupun tidak langsung, yaitu

pemegang saham maupun pemilik modal, komisaris maupun dewan pengawas,

direksi dan karyawan serta pemerintah, kreditur, dan pihak yang berkepentingan

Good Corporate Governance didefenisikan sebagai struktur karena Good

Corporate Governance berperan dalam mengatur hubungan antara dewan

komisaris, direksi, pemegang saham, dan stakeholders lainnya. Sementara sebagai

sistem, Good Corporate Governance menjadi dasar mekanisme pengecekan dan

perimbangan (check and balances) kewenangan atas pengendalian perusahaan

yang dapat membatasi peluang pengelolaan yang salah, dan peluang

penyalahgunaan aset perusahaan. Good Corporate Governance sebagai proses,

karena Good Corporate Governance memastikan transparansi dalam proses

perusahaan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, dan pengukuran

kinerjanya.

Berdasarkan keputusan menteri tersebut, penerapan GCG merupakan

kewajiban bagi BUMN. BUMN wajib menerapkan GCG secara konsisten dan

atau menjadikan GCG sebagai landasan operasionalnya. Penerapan GCG pada

BUMN dilaksanakan berdasarkan keputusan ini dengan tetap memperhatikan

ketentuan dan norma yang berlaku serta anggaran dasar BUMN. Prinsip GCG
12

merupakan kaidah, norma, ataupun korporasi yang diperlukan dalam sistem

pengelolaan BUMN yang sehat. Dengan demikian, untuk lebih meningkatkan

kinerja BUMN, pelaksanaan prinsip GCG perlu lebih dioptimalkan dan keputusan

menteri tersebut merupakan perangkat pendukungnya.

Menurut Organization for Economics Co-operation and Development

(OECD) yang dikutip oleh siswanto dan Aldridge (2008: 2), definisi good

corporate governance yaitu:

Corporate governance is the system by which business corporations are directed


and control. The corporate governance structure specifies the distribution of right
and responsibilities among different participant in the corporation, such as the
board, the managers, shareholders and other stakeholder, and spells out the rule
and procedure for making decision on corporate affairs. By doing this, it also
provides the structure through which the company objectives are set, and the
means of attaining those objectives and monitoring performance

Definisi tersebut menjelaskan bahwa Good Corporate Governance adalah

sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan

perusahaan. Corporate Governance mengatur pembagian tugas hak dan

kewajiban mereka yang berkepentingan terhadap kehidupan perusahaan termasuk

para pemegang saham, dewan pengurus, para manajer, dan semua anggota

stakeholder nonpemegang saham

Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa good

corporate governance adalah sistem yang mengatur, mengelola, dan mengawasi

proses pengendalian usaha untuk menaikan nilai saham sekaligus sebagai bentuk

perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditur, dan masyarakat sekitar. Good

corporate governance berusaha menjaga kesimbangan diantara pencapaian tujuan

ekonomi dan tujuan masyarakat. Tantangan dalam corporate governance adalah


13

mencari cara untuk memaksimumkan penciptaan kesejahteraan sedemikian rupa,

sehingga tidak membebankan ongkos yang tidak patut kepada pihak ketiga atau

masyarakat luas.

2.2.2 Manfaat Good Corporate Governance

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI)

(2001:4) manfaat dari penerapan good corporate governance antara lain:

1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan


keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional
perusahaan, serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak
rigid (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan
corporate value
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di
Indonesia
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena
sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen. Khusus bagi
BUMN akan dapat membantu penerimaan bagi APBN terutama hasil
privatisasi.

Selain manfaat tersebut menurut Iman S Tunggal dan Amin W Tunggal

(2002: 9), dengan menerapkan corporate governance yang baik akan memberikan

manfaat sebagai berikut:

1. Perbaikan dalam komunikasi,


2. Memperkecil potensial benturan (konflik kepentingan),
3. Fokus pada strategi-strategi utama,
4. Peningkatan dalam produktifitas dan efisiensi,
5. Kesinambungan manfaat,
6. Promosi citra perusahaan,
7. Peningkatan kepuasan pelanggan
8. Perolehan kepercayaan investor
9. Dapat mengukur target kinerja manajemen perusahaan.
14

Menurut Zarkasyi (2008: 8) menyatakan secara tegas bahwa internalisasi

manfaat prinsip-prinsip good corporate governance sangat diperlukan, karena

mampu mendorong pengelolaan perusahaan secara profesional, transparan,

akuntabel, efektif dan efisien. Pelaksanaan corporate governance yang

baik,keputusan-keputusan penting perusahaan tidak lagi hanya ditetapkan oleh

satu pihak yang dominan (misalnya direksi), akan tetapi ditetapkan setelah

mendapatkan masukan dari, dan dengan mempertimbangkan kepentingan

berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders). Selain itu, corporate

governance yang baik dapat mendorong pengelolaan organisasi yang lebih

demokratis (karena melibatkan banyak kepentingan), lebih accountable (karena

ada sistem yang akan meminta pertanggungjawaban atas setiap tindakan) dan

lebih transparan serta akan meningkatkan keyakinan bahwa perusahaan dan

organisasi lainnya dapat menyumbangkan manfaat tersebut dalam jangka panjang.

2.2.3 Tujuan Good Corporate Governance

Berlandaskan Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/M-MBU/2002 pasal

4 tentang tujuan penerapan good corporate governance pada BUMN adalah:

a. Memaksimalkan BUMN dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan,


akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar
perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun
internasional.
b. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, transparan dan efisien,
serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ.
c. Mendorong agar organ dalam membuat keputusan dan menjalankan
tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya
tanggung jawan sosial BUMN terhadap stakeholders maupun kelestarian
lingkungan disekitar BUMN
d. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional
15

e. Meningkatkan iklim investasi nasional


f. Menyukseskan program privatisasi BUMN

Penerapan pelaksanaan prinsip GCG secara optimal akan mampu

mendorong peningkatan kinerja perusahaan. Corporate governance yang baik

merupakan langkah yang penting dalam membangun kepercayaan pasar dan

mendorong arus investasi internasional yang lebih stabil dan bersifat jangka

panjang.

2.3 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance

Prinsip-prinsip internasional mengenai Corporate Governance mulai

muncul dan berkembang baru-baru ini. Prinsip-prinsip Corporate Governance

yang dikembangkan oleh Organization for Economic Co-Operation dan

Development (OECD) bermaksud untuk membantu anggota dan non-anggota

dalam usaha untuk menilai dan memperbaiki kerangka kerja legal, institusional

dan pengaturan untuk Corporate Governance di negara-negara mereka, dan

memberikan petunjuk dan usulan untuk pasar modal, investor, korporasi dan

pihak lain yang mempunyai peranan dalam proses mengembangkan Good

Corporate Governance. Prinsip-prinsip tersebut menurut OECD yang dikutip oleh

Iman dan Amin (2009: 9) mencakup:

1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (the rights of


shareholders)
2. Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang sahan (the equtable
treatment of shareholders)
3. Peranan stakeholders yang terkait dengan perusahaan (the role of
stakeholders)
4. Keterbukaan dan transparansi (disclosure and transparency)
5. Akuntabilitas dewan komisaris (the responsibilities of the board)
16

Para pemegang saham memiliki hak-hak diantaranya adalah harus diberi

informasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan dan dapat

ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan

yang mendasar atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan

perusahaan. Keterbukaan informasi yang penting bagi pemegang saham minoritas

dan pemegang saham asing juga melarang pembagian untuk pihak sendiri dan

perdagangan saham oleh orang dalam dilakukan untuk mewujudakn persamaan

perlakuan terhadap seluuh pemegang saham.adanya keterbukaan dan transparansi

dalam hal ini pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta

transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan,

kepemilikan, serta para pemegang kepentingan (stakeholders).

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) menurut Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara NO. PER- 01 /MBU/2011 Tentang

Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) pada

Badan Usaha Milik Negara, meliputi Transparansi (Transparancy), Akuntabilitas

(Accountability), Pertanggungjawaban (Responsibility), Kemandirian

(Independency), Kewajaran (fairness).

2.3.1 Transparansi (Transparency)

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara NO. PER- 01

/MBU/2011 mengartikan transparansi sebagai keterbukan dalam melaksanakan

proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi

materil dan relevan mengenai perusahan. Menurut Iman dan Amin (2002: 7)
17

transparansi merupakan pengungkapan informasi kinerja perusahaan, baik

ketepatan waktu maupun akurasinya (keterbukaan dalam proses, decision making,

control, fairness, quality, standardization, efficiency time and cost).

Menurut Iman dan Amin (2002: 16), dalam hal ini, kerangka kerja

corporate governance harus memastikan bahwa pengungkapan yang tepat waktu

dan akurat dilakukan terhadap semua hal yang material berkaitan dengan

perusahaan mencakup situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan tata kelola

perusahaan.

Menurut Surya dan Yustiavandana (2006: 75) penerapan prinsip

transaparansi dilakukan untuk mereduksi penyalahgunaan wewenang oleh direksi

atau komisaris sehingga akan lebih memudahkan pengawasan bagi tindakan-

tindakan yang diambil oleh para anggota direksi dan komisaris. Dengan demikian,

perusahaan terkait kewajiban untuk memberikan data informasi yang berkaitan

dengan kinerjanya selama ini.Informasi tersebut tidak hanya informasi keuangan

melainkan juga termasuk informasi mengenai manajemen perusahaan dan

berbagai transaksi bisnis yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut selama

ini.

Menurut Forum for Corporate Governance Indonesia (FCGI) (2002),

dalam transparansi mencakup:

1. Mengembangkan sistem akuntansi berdasarkan akuntansi dan praktik


terbaik untuk memastikan kualitas dari laporan keuangan dan disclosure
2. Mengembangkan teknologi informasi manajemen untuk memastikan
penilaian kinerja yang terbaik dan proses pengambilan keputusan yang
efektif komisaris dan manajemen.
3. Mengembangkan manajemen resiko dalam tingkatan perusahaan. Untuk
memastikan seluruh resiko dapat dikelola pada tingkat yang dapat
ditolerir.
18

4. Mempublikasikan informasi keuangan dan informasi lain yang material


yang berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat dan
tepat waktu.

Inti dari prinsip transparansi adalah bahwa kerangka corporate governance

harus menjamin adanya pengungkapan yang tepat waktu dan akurat untuk setiap

permasalahan yang berkaitan dengan perusahaan. Pengungkapan ini meliputi

informasi mengenai keadaan keuangan, kinerja perusahaan. Disamping itu

informasi yang diungkapkan harus disusun, diaudit, dan disajikan sesuai dengan

standar yang berkualitas tinggi. Manajemen juga harus meminta auditor eksternal

melakukan audit yang bersifat independen atas laporan keungan.

2.3.2 Akuntabilitas (accountability)

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara NO.PER- 01

/MBU/2011 mengartikan akuntabilitas sebagai kejelasan fungsi, pelaksanaan dan

pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara

efektif. Menurut Iman dan Amin (2002: 7) akuntabilitas adalah

pertanggungjawaban atas pelaksanaan fungsi dan tugas-tugas dengan wewenang

yang dimiliki oleh seluruh organ perseroan. Akuntabilitas merupakan penciptaan

sistem pengawasan yang efektif berdasarkan keseimbangan pembagian kekuasaan

antara board of commissioners, board of directors, shareholders, dan auditor

(pertanggungjawaban wewenang, traceable, reasonable). Dalam hal ini, direksi

(beserta manajer) bertanggungjawab atas keberhasilan pengawasan dan pemberian

nasihat kepada direksi dalam rangka pengelolaan perusahaan. Pemegang saham


19

bertanggungjawab atas keberhasilan pembinaan dalam rangka pengelolaan

perusahaan.

Menurut Iman dan Amin (2002: 17), dalam hal ini, kerangka kerja

corporate governance harus memastikan pedoman stratejik perusahaan,

pemonitoran manajemen yang efektif oleh dewan komisaris, dan akuntabilitas

dewan komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.Inti dari prinsip

akuntabilitas dewan komisaris (board of directors) adalah bahwa kerangka

corporate governance harus menjamin adanya pedoman strategis perusahaan,

pemantauan yang efektif terhadap manajemen yang dilakukan oleh dewan

komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

Menurut Ridwan Khairandy dan Camelia Malik (2007: 82) dalam

prinsip akuntabilitas terkandung kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan

segala tindak lanjut dan kegiatan perusahaan dibidang administrasi keuangan

bukan hanya kepada pemegang saham tetapi kepada semua pihak yang

berkepentingan. Dalam hal ini prinsip akuntabilitas juga menyangkut

perlindungan dan jaminan kepada setiap pemegang saham, agar dapat

menyampaikan hak suaranya untuk berpartisipasi dalam RUPS tahunan maupun

RUPS lainnya. Berkaitan dengan hal ini maka kehadiran anggota direksi dan

komisaris independen diperlukan agar dapat menghasilkan pengelolaan

perusahaan yang lebih objektif dan bertanggungjawab. Melalui prinsip

akuntabilitas dalam good corporate governance, maka pemisahan antara pemilik

atau pemegang saham dan pengurus dalam rangka pengelolaan perusahaan

menjadi tegas dan jelas.


20

Menurut Forum for Corporate Governance Indonesia (FCGI) (2002),

akuntabilitas mencakup:

1. Membentuk komite audit untuk memperkuat fungsi penawaran oleh


komisaris.
2. Membentuk dan menetapkan kembali peran dan fungsi internal auditor
sebagai mitra bisnis strategi.
3. Menetapkan sistem penilaian kinerja melalui akuntansi dan system
informasi yang baik.
4. Menggunakan auditor eksternal yang berkualitas dan independen

2.3.3 Pertanggungjawaban (Responsibility)

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara NO.PER- 01

/MBU/2011 mengartikan pertanggungjawaban sebagai kesesuaian di dalam

pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-

prinsip korporasi yang sehat.

Menurut Zarkasyi (2008: 40) yang dimaksud dengan responsibility yaitu:

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan


tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara
kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai
good corporate citizen.

Menurut Surya dan Yustiavandana (2006: 82) prinsip responsibilitas ini

merupakan perwujudan dari tanggungjawab untuk suatu perusahaan untuk

memenuhi dan menjelaskan setiap aturan yang telah ditentukan oleh peraturan-

peraturan yang berlaku di negara asalnya atau tempatnya berdomisili secara

konsisten.

Menurut Iman dan Amin (2002: 8) pertanggungjawaban perusahaan

sebagai bagian dari masyarakat kepada stakeholders dan lingkungan dimana

perusahaan berada. Prinsip ini mengatur pemenuhan tanggungjawab perusahaan


21

sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada stakeholders untuk mewujudkan

perusahaan menjadi good corporate governance. Dengan demikian perusahaan

akan menjadi professional dan penuh etika dalam menjalankan usaha,

menghindari penyalahgunaan kekuasaan yang dimiliki oleh organ-organ internal

perusahaan, dan adanya lingkungan bisnis yang baik seperti adanya larangan

monopoli dan praktik persaingan yang tidak sehat.

Prinsip tanggungjawab ini juga berhubungan dengan kewajiban

perusahaan untuk memenuhi semua peraturan dan hukum yang berlaku, termasuk

juga prinsip-prinsip yang mengatur tentang penyusunan dan penyampaian laporan

keuangan perusahaan. Setiap peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku tentu

akan diikuti dengan sanksi yang jelas dan tegas. Selain itu juga harus diingat

bahwa ketentuan yang dibuat tentu antara lain bertujuan agar kepentingan pihak

tertentu terutama masyarakat tidak dirugikan. Oleh karena itu kepatuhan terhadap

ketentuan yang berlaku akan dapat menghindarkan perusahaan dari sanksi hukum

sebagaimana diatur dalam peraturan terkait, dan juga sanksi moral dari

masyarakat.

Menurut Forum for Corporate Governance Indonesia (FCGI) (2002)

responsibilitas mencakup:

1. Mempertimbangkan tanggung jawab sosial


2. Menghindari penyalahgunaan kekuasaan
3. Menjadi professional dan mematuhi etika
4. Lingkungan bisnis yang baik
22

2.3.4 Kemandirian (Independency)

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara NO. PER- 01

/MBU/2011 mengartikan kemandirian yaitu keadaan dimana perusahaan dikelola

secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak

manapun yang tidak sesuai denganperaturan perundang-undangan dan prinsip-

prinsip korporasi yang sehat.

Menurut Iman dan Amin (2002: 8) kemandirian adalah sebagai keadaan

dimana perusahaan bebas dari pengaruh atau tekanan pihak lain yang tidak sesuai

dengan mekanisme korporasi. Dalam hal ini ditekankan bahwa dalam

menjalankan fungsi, tugas, dan tanggungjawabnya, komisaris, direksi, dan

manajer atau pihak-pihak yang diberi tugas untuk mengelola kegiatan perusahaan

terbebas dari tekanan ataupun pengaruh baik dari dalam maupun dari luar

perusahaan.

Menurut Zarkasyi (2008: 40) untuk melancarkan pelaksanaan prinsip

GCG perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ

perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

Prinsip ini memastikan bahwa masing-masing organ perusahaan melaksanakan

fungsi dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-

undangan dan tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggungjawab

antara satu dengan yang lain, sehingga terwujud sistem pengendalian internal

yang efektif dan perusahaan dapat terhindar dari berbagai macam masalah, dengan

begitu aktifitas perusahaan dapat dijalankan dengan baik dan dinamis.


23

Menurut Forum for Corporate Governance Indonesia (FCGI) (2002)

kemandirian mencakup:

1. Menggunakan tenaga ahli disetiap divisi/bagian dalam perusahaan.


2. Tidak melibatkan pengaruh atau intervensi dari pihak luar yang tidak
sesuai dengan prinsip korporasi yang sehat.
3. Menghindari benturan kepentingan antar perusahaan dan direksi.
4. Menjalankan aktifitas perusahaan dengan baik dan dinamis.
5. Membuat kebijakan intern dalam perusahaan yang sesuai dengan hukum
dan peraturan yang berlaku.

2.3.5 Kewajaran (Fairness)

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara NO. PER- 01

/MBU/2011 mengartikan kewajaran yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam

memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan (stakeholders) yang timbul

berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.

Menurut Iman dan Amin (2002: 6) kewajaran dalam hal ini yaitu adanya

suatu perlindungan kepentingan minority shareholders dari penipuan, kecurangan,

perdagangan dan penyalahgunaan oleh orang dalam (selfdealing atau insider

trading).Fairness adalah kesetaraan perlakuan dari perusahaan terhadap pihak-

pihak yang berkepentingan sesuai dengan kriteria dan proporsi yang seharusnya.

Prinsip fairness ini harus menjamin adanya perlakuan yang setara (adil)

terhadap semua pihak terkait, terutama para pemegang saham minoritas maupun

asing.Untuk dapat terlaksananya prinsip ini diperlukan ketersediaan peraturan

yang melindungi para pemegang saham minoritas dan asing, membuat pedoman

perilaku perusahaan dan atau kebijakan-kebijakan yang melindungi korporasi

terhadap perlakuan buruk orang dalam (Tjager dkk, 2003). Penetapan

tanggungjawab dewan komisaris, direksi, kehadiran komisaris independen dan


24

komite audit, serta penyajian informasi (terutama laporan keuangan) dengan

pengungkapan penuh merupakan perwujudan dari prinsip keadilan/kewajaran.

Berdasarkan pernyataan OECD yang dikutip Surya dan Yustiavandana

(2006: 71), mengenai prinsip fairness yang menyatakan keharusan bagi sebuah

perusahaan untuk memberikan kedudukan yang sama terhadap pemegang saham,

sehingga perlakuan diskriminatif dapat dicegah sedini mungkin. Secara konkret,

implementasi dari prinsip tersebut bagi kepentingan para pemegang saham dapat

diwujudkan dengan memberikan hak-hak sebagai berikut:

1. Hak untuk menghadiri dan memberikan suara dalam suatu RUPS


berdasarkan ketentuan satu saham memberi hak kepada pemegangnya
untuk mengeluarkan satu suara atau one man one vote.
2. Hak untuk memperoleh informasi material mengenai perseroan secara
tepat waktu dan teratur, dan hak ini harus diberikan keada semua
pemegang saham tanpa ada pembedaan atas klarifikasi saham yang
dimiliki olehnya.
3. Hak untuk menerima sebagian dari keuntungan perseroan yang
diperuntukan bagi pemegang saham, sebanding dengan jumlah saham
yang dimilikinya dalam perseroan dalam bentuk dividen dan pembagian
keuntungan lainnya.

Menurut Forum for Corporate Governance Indonesia (GCGI) (2002),

kewajaran mencakup:

1. Menetapkan aturan perusahaan untuk melindungi kepentingan pemegang


saham khususnya pemegang saham minoritas.
2. Menetapkan code of corporate conduct dan atau kebijakan kepatuhan
untuk melindungi dari kesalahan yang berasal dari dalam (self dealing).
3. Menetapkan perna dan tanggungjawab komisaris manajemen.
4. Wajar dalam mengemukakan setiap informasi material diungkapkan secara
penuh (full disclosure).
25

2.4 Manfaat Good Corporate Governance Bagi Pengurangan Kecurangan

Di Indonesia, tujuan dan manfaat GCG dapat diketahui dari Keputusan

Menteri Negara BUMN melalui SK No. Keputusan 23/M-PM. PBUMN/2000,

Pasal 6, Penerapan GCG dalam rangka menjaga kepentingan PERSERO bertujuan

untuk:

a) Pengembangan dan peningkatan nilai perusahaan;


b) Pengelolaan sumber daya dan resiko secara lebih efisien dan efektif;
c) Peningkatan disiplin dan tanggung jawab dari organ PESERO dalam
rangka menjaga kepentingan perusahaan termasuk pemeang saham,
kreditur, karyawan, dan lingkungan dimana PESERO berada, secara
timbal balik sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggung jawab masing-
masing;
d) Meningkatkan kontribusi PESERO bagi perekonomian nasional;
e) Meningkatkan iklim investasi; dan
f) Mendukung program privatisasi.

Untuk mendapatkan manfaat dari GCG tersebut suatu perusahaan publik

dapat diarahkan dan dikendalikan sesuai dengan harapan yang berkepentingan.

Tujuan utama dari pengelolaan perusahaan yang baik memberikan perlindungan

yang memadai dan perlakuan yang adil kepada nasabah dan pihak yang

berkepentingan lainnya melalui peningkatan perlindungan secara maksimal,

bukanlah sekedar suatu upaya untuk menjaga agar perusahaan bekerja sesuai

peraturan dan norma yang berlaku secara universal, tetapi terutama bahwa

pengelolaan yang baik itu dapat diketahui oleh publik dan para pihak yang

berkepentingan, sehingga memperoleh keyakinan bahwa taruhannya di

perusahaan publik adalah suatu keputusan yang benar.