Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Manusia adalah makhluk sosial untuk bertahan hidup harus ada sosialialisme
atau berhubungan dengan manusia lain dan hal ini tak bisa dihindari, mutlak
dilakukan manusia apalagi pada masa sekarang ini. Hubungan antar manusia
dengan hubungan kemanusiaan sesungguhnya mempunyai pengertian yang
berbeda. Dalam setiap bentuk hubungan, hubungan antar manusia lebih
mendominasi dari pada hubungan kemanusiaan. Dalam pengertian hubungan antar
manusia bukan hanya dalam wujudnya saja, tetapi juga dari sifat-sifatnya,
waktunya, cara bicaranya, sikapnya, tingkah lakunya, pribadinya, dan berbagai
macam aspek kejiwaan yang ada pada diri manusia. Dalam pergaulan hidup,
manusia menduduki fungsi yang bermacam-macam. hubungan jalinan baik yang
terjadi pada manusia dikelompokkan menjadi dua yaitu hubungan manusia
dengan tuhannya dan hubungan manusia dengan manusia.

1.2 Rumusan masalah

Bertitik dari latar belakang masalah, terdapat beberapa permasalahan yang


perlu dibahas dalam makalah ini, yaitu antara lain:

a. apakah yang mendasari adanya toleransi atau kerukunan antar umat beragama?

b. seperti apakah jalinan hubungan toleransi antar manusia?

c. bagaimana cara menciptakan kebersamaan antar umat manusia?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa mampu:
a. Menjelaskan tentang pengertian hubungan antar manusia.
b. Menjelaskan tujuan dari hubungan antar manusia
c. Menjelaskan teknik-teknik hubungan antar manusia.

1
d. Menjelaskan factor yang mendasari hubungan antar manusia

1.4 Manfaat
Makalah ini dirancang dan disusun untuk dapat memberikan manfaat kepada
pembaca yaitu antara lain: pembaca dapat mengetahui hikmah dari toleransi atau
kerukunan antar manusia, mengetahui tata cara dan aturan adlam menciptakan
adanya toleransi dan dapat melakukan ukhuwah islamiyah dan insaniyah.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA


Hubungan antar manusia adalah kemampuan mengenali sifat, tingkah laku
dan pribadi seseorang. Ruang lingkup hubungan antar manusia dalam arti luas
adalah interaksi antar seseorang dengan orang lain secara tatap muka dalam segala
situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan
dan kepuasaan hati pada kedua belah pihak. Suksesnya seseorang dalam
melaksanakan Human Relations karena ia berkomunikasi secara etis, ramah,
sopan, menghargai dan menghormati orang lain. Human Relations dapat
dilakukan dimana saja, misalnya di rumah, pasar, kampus, toko, dalam bis, kereta
api, dan sebagainya.

Kesimpulan:

Proses interaksi melibatkan perasaan, kata yang diucapkan dalam komunikasi,


mencerminkan perasaan dan sikap, proses penyesuaian diri. Hubungan antar
manusia secara luas dalam mencoba menemukan, mengidentifikasi masalah dan
membahas untuk mendapatkan pemecahan masalah.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata


toleran (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk
penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi,
toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada[1].
Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap
menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat,
pandangan, kepercayaan, kebiasaan yang berbeda atau yang bertentangan dengan
pendiriannya[2].
Jadi, toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk
tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan ibadah
penganut agama-agama lain.

3
Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya
kerukunan antar umat beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada
kerukunan antar umat beragama. Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia.
Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada seorang pun
yang boleh mencabutnya.
Demikian juga sebaliknya, toleransi antarumat beragama adalah cara agar
kebebasan beragama dapat terlindungi dengan baik. Kebebasan dan toleransi tidak
dapat diabaikan. Namun yang sering kali terjadi adalah penekanan dari salah
satunya, misalnya penekanan kebebasan yang mengabaikan toleransi dan usaha
untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan membelenggu
kebebasan. Untuk dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman yang benar
mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama merupakan
sesuatu yang penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.

2.2 DASAR-DASAR TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

Dasar atau landasan dalam membangun kerukunan dan toleransi antar umat
beragama didasarkan pada hakekat dan martabat kemanusiaan, realita sosial yang
ada, ideologi keagamaan yang dianut dan dicita-citakan serta komitmen
konstitusional yang dicanangkan. adapun dasar - dasar toleransi antara lain
sebagai berikut :

a. Dasar Kemanusian (Filosofis)

Kerukunan dan toleransi antar umat beragama merupakan konsekuensi serta


kebutuhan hakiki dari kemanusiaan yang universal, yang tidak dapat ditolak dan
wajib diusahakan oleh setiap insan beragama karena manusia pada hakekatnya
adalah makhluk hidup yang :

individual dan serentak komunal

memiliki kesamaan dan serentak

memiliki kekhasan yang membedakan

memiliki kebebasan batiniah (kehendak) dan lahiriah (tindakan),

4
memiliki kecenderungan egositis maupun altroistis

mempunyai akal budi, hati nurani dan keutamaan

memiliki nilai-nilai dan norma-norma

Penghargaan terhadap agama/umat beragama lain, hidup rukun dan damai


dengan umat beragama lain, bukan hanya merupakan kebutuhan dan tuntutan atau
kewajiban keagamaan, tetapi lebih luas dan dalam, yaitu karena dasar
kemanusiaan. Kerukunan dan toleransi antar sesama manusia, baik yang beragama
maupun yang tidak beragama, merupakan tuntutan kebutuhan dan kewajiban
kemanusiaan dari setiap orang (termasuk orang yang tidak beragama). Kerukunan
dan toleransi antar umat beragama merupakan konsekuensi dari hakekat
kemanusiaan kita. Oleh sebab itu bila ada orang yang merusakkan atau menolak
kerukunan dan toleransi antar umat beragama, sama dengan ia merusakkan atau
menolak kemanusiaan.

b. Dasar kebudayaan (Sosio-kultural)

Masyarakat Indonesia, baik secara lokal maupun nasional memiliki nilai-nilai


dan norma-norma budaya yang pada dasarnya sangat mengutamakan, menjamin
serta mencirikhaskan kerukunan dan toleransi, perdamaian dan persatuan,
persaudaraan dan kekeluargaan, solidaritas dan kerjasama. Kerukunan dan
toleransi merupakan ciri budaya kita, baik secara lokal maupun nasional. Maka
menolak atau merusakkan kerukunan dan toleransi dalam aspek manapun dengan
alasan apapun tidak dapat diterima secara kultural karena sama dengan menolak
atau merusakkan budaya lokal maupun nasional kita.

c. Dasar Kemasyarakatan dan Kenegaraan (Sosial dan Konstitusional)

warga masyarakat atau umat beragama yang menolak atau merusak kerukunan
dan toleransi umat beragama pada dasarnya menolak atau merusakkan
kemajemukan atau eksistensi dalam masyarakatnya. dasar kenegaraan atau
konstitusional dari kerukunan dan toleransi antar umat beragama adalah Pancasila
dan UUD 45 pasal 29. Selain itu, juga undang-undang, peraturan pemerintah,
peraturan/keputusan presiden, peraturan/keputusan menteri, yang lebih bersifat

5
operasional dan merupakan penjabaran dari Pancasila dan UUD 45. Kerukunan
dan toleransi antar umat beragama amat dibutuhkan dalam menentukan
kedamaian, persatuan dan keutuhan dari bangsa kita yang majemuk.

Maka saat menolak atau merusakkan kerukunan dan toleransi antar umat
beragama sama dengan menolak atau merusakkan Pancasila dan UUD 45,
serentak menolak atau merusakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Dasar Keagamaan (Spiritual dan moral)

semua agama moderen yang ada di dunia, sekarang menekankan tentang


nilai-nilai hidup manusia seperti: kerukunan, perdamaian, persaudaraan,
solidaritas, cinta kasih, persatuan, dan kerjasama dalam hidup bersama.
Pembentukan pribadi yang baik yang terungkap dan nampak secara nyata dalam
kata-kata, sikap atau perilaku dan perbuatan yang baik terhadap orang lain
merupakan misi dari setiap agama. Hal-hal ini bukan hanya dicita-citakan,
diwajibkan dan diusahakan untuk terwujud oleh, bagi dan antar orang-orang yang
seagama, tetapi juga oleh, bagi dan antar orang-orang yang berbeda agamanya.
Karena itu toleransi antar umat beragama adalah sesuatu yang mutlak perlu
sebagai konsekuensi logis dari cita-cita setiap agama serta konsekuensi adanya
kemajemukan agama dalam suatu masyarakat.

Maka orang beragama yang tidak toleran terhadap agama atau orang beragama
yang lain, pada dasarnya mengingkari cita-cita agamanya sendiri serta menolak
atau merusakkan kemajemukan agama dalam lingkungan masyarakatnya.

2.3 KONSEP TOLERANSI DALAM ISLAM


Berdasarkan pengertian toleransi, toleransi mengarah kepada sikap terbuka
dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa,
warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Ini semua
merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Landasan
dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.
Toleransi dalam beragama bukan berarti kita hari ini boleh bebas menganut

6
agama tertentu dan esok hari kita menganut agama yang lain atau dengan
bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan
yang mengikat. Akan tetapi, toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk
pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala
bentuk system, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk
menjalankan keyakinan agama masing-masing.
Konsep toleransi yang ditawarkan Islam sangatlah rasional dan praktis serta
tidak berbelit-belit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan
ibadah, umat Islam tidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat
Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain
terhadap tuhan-tuhan mereka. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya. Bahkan
Islam melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. Maka
kata tasamuh atau toleransi dalam Islam bukanlah barang baru, tetapi sudah
diaplikasikan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir.
Karena itu, agama Islam menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari,
Rasulullah saw pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah,
maka beliau menjawab: al-Hanafiyyah as-Samhah (agama yang lurus yang penuh
toleransi), itulah agama Islam.[3]

konsep toleransi beragama dalam islam:


a. toleransi dalam keyakinan dan menjalankan peribadahan
kebenaran yang diurunkan oleh allah di dunia ini bersifat pasti dan tidak
diragukan sedikitpun. dan kebanran islam telah sempurna dengan tidak bersandar
kepada apapun yang selainnya untuk kepastian sebuah kebenaran. dan kaum
muslimin dilarang ridho atau ikut serta dalam segala peribadatan dan keyakinan
orang - orang kafir dan musyrikin.
b. toleransi dalam beragama atau hidup berdampingan dengan agama lain
yakni umat islma dilarang untuk memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk
agama islam secara paksa. karena tidak ada paksaan dalam beragama, terutama
agama islam mempunyai kejelasan dan kegamblangan tentang semua ajaran dan
bukti ajarannya.

7
c. toleran dalama hubungan antar masyarakat dan bernegara
toleran dalam hal ini, dimaksudkan bahwa kaum muslimin harus tetap berbuat adil
dan tidak menyatakan permusuhan kepada agama lain secara terang - terangan.
toleran disini berarti umat islma diperbolehkan berbuat baik terhadap kaum kafir
selama mereka berbuat baik dan tidak memusuhi, serta tidak melanggar prinsip -
prinsip penting dalam islam.

2.4 PERBEDAAN ANTARA UKHUWAH ISLAMIYAH & INSANIYAH


a. Makna ukhuwah islamiyah
Kata ukhuwah berarti persaudaraan. maksudnya perasaan simpati atau empati
antara dua orang atau lebih yang memiliki perasaan yang sama baik suka maupun
duka, baik senang maupun sedih. ukhuwah da persaudaraan yang berlaku bagi
sesama muslim disebut ukhuwah islamiyah. persaudaraan sesama muslim
merupakan persaudaraan yang tidak dilandasi oleh keluarga, suku, bangsa dan
warna kulit. namun, karena perasaan seaqidah dan sekeyakinan. sehingga nabi
mengibarkan antara satu muslim dengan muslim lainnya ibaratkan satu tubuh.
apabila satu bagian yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya.
Rasulullah SAW bersabda "tidak sempurna iman salah seorang kamu, sehingga ia
mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri".
b. Makna ukhuwah insaniyah
Ukhuwah insaniyah adalah persaudaraan sesama manusia. persaudaraan ini
dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manuisa adalah makhluk Allah ukhuwah
islamiyah mengandung arti bahwa seluruh umat manusia adalah saudara karena
berasal dari seorang ayah dan ibu. tata hubungan dalam ukhuwah islamiyah
menyangkut hal - hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk
mencapai kehidupan yang sejahtera, adil dan damai.

Untuk mempererat tali persaudaraan atau ukhuwah diperlukan beberapa proses


pembentukan, yaitu anatara lain :
1. melakukan proses ta'aruf
ta'aruf adalah saling mengenal sesama manusia. saling mengenal akan

8
mewujudkan sikap nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT. persaudaraan islam
yang dijalin oleh allah merupakan terkuat yang tiada tandingannya, perpecahan
mengenal karakter individu. perkenalan pertama tentunya kepada penampilan
fisik, yang kemudian dilanjutkan ke pengenalan pemikiran dan akan berakhir pada
pengenalan kejiwaan (keunikan dan kekhasan).
2. melaksanakan proses tafahum
tafahum adalah sifat saling memahami. tanpa adanya tafahum maka ukhuwah
tiak akan berjalan. dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah
mengetahui kelemahan dan kekuatan sesamanya sehingga akan dapat saling
menerima perbedaan.
3. melakukan ta'awun]
manusia adalah makhluk sosial yang butuh interaksi dan bantuan dari orang
lain, sehingga manusia membutuhkan sikap saling tolog menolong antar sesama
yang disebut dengan ta'awun. ta'awun dapat dilakukan dengan hati (saling
mendoakan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati),dan aman (saling
bantu membantu).
4. melaksanakan proses tafakul
tafakul adalah sifat yang muncul setelah proses ta'awun berjalan, yakni
timbulnya rasa sedih dan senang yang diselesaikan bersama. Rasulullah SAW
bersabda: "tidak beriman seorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti
kamu mencintai dirimu sendiri". (HR. bukhari-muslim)

2.5 KEBERSAMAAN UMAT MANUSIA

Manusia merupakan makhluk sosial, sehingga manusia harus dapat menjaga


hubungan baiknya antar sesama manusia (hablumminannas), bukan hanya itu
manusia juga harus menjaga hubungan baiknya kepada Sang Pencipta yakni Allah
SWT (hablumminallah).

a. hubungan manusia sebagai hamba Allah SWT

sifat hubungan antara manusia dengan Allah SWT dalam ajaran islam bersifat
timbal balik, yaitu bahwa manusia melakukan hubungan dengan Allah SWT dan

9
Allah SWT juga melakukan hubungan dengan manusia. tujuan hubungan antara
manusia dan Allah SWT adalah dalam rangka pengabdian atau ibadah. dengan
lain, tugas manusia di dunia adalah beribadah, sebagaimana firman Allah SWT
dalam al-quran surat adz-dzariat ayat 56 yang artinya: "dan tidak aku ciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku". dan bentuk
ibadah yang dilakukan manusia kepada Allah SWT ada yang bentuk dan tata
caranya telah ditentukan (ibadah mahdhoh) dan ada pula yang tidak ditentukan
oleh Allah SWT (ibadah ghairu mahdoh).

jika inti hubungan manusia dengan Allah SWT adalah pengabdian atau ibadah,
maka inti hubungan Allah SWT dengan manusia adalah perintah dan larangan.
dan aturan terdapat duaa macam, yaitu: aturan yang dituangkan dalam bentuk
hukum - hukum alam (sunnatullah) dan aturan yang dituangkan dalam kitab suci
Al-quran dan hadits nabi muhammad saw.

b. hubungan manusia dengan sesama manusia

tidak ada manusia yang hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain.
manusia dikatakan makhluk sosial karena pada diri manusia terdapat dorongan
dan kebutuhan untuk berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. adapun cara
atau bentuk interaksi atau hubungan yang baik antar sesama manusia adalah:

1. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Tak ada seorangpun didunia ini yang kasih sayangnya setulus Ibu dan Bapak kita
sebagai orang tua. Betapa besar cinta yang mereka berikan kepada kita hingga kita
tak dapat mengukur dan menghitungnya. Sebagai tanda syukur kita kepada Allah
SWT atas anugerah cinta Nya yang diberikan melalui kasih sayang dan cinta dari
kedua orang tua, hendaknya kita sebagai hambanya dapat mewujudkan rasa
syukur kita kepada Allah SWT dengan berbakti kepada kedua orang tua kita.
Dalam firman Allah SWT juga disebutkan:





Yang artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan

10
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-
duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ah dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia.(QS. Al-Isra ayat 23)

adapun cara berbakti kepada kedua orang tua adalah:

Hormat dan taat kepada kedua orang tua kita, selama perintah dari
Ibu dan Bapak kita tidak bertentangan dengan ajaran agama dan undang-
undang.

Menjaga jangan sampai menyakiti hati kedua orang tua kita, baik
dengan sikap, ucapan, dan perilaku.

Membantu kedua orang tua kita, menurut kemampuan kita


terutama merawat keduanya ketika usianya telah lanjut.

Mendoakan kedua orang tua kita agar senantiasa memperoleh


ampunan serta rahmat dari Allah SWT.

2. Hormat Kepada Guru

Untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan pendidikan, kedua orang kita
tidak mendapatkan kesempatan yang luas untuk menguasai di berbagai macam
bidang pengetahuan yang ada, hanya bidang tertentu saja. Itulah sebabnya kita
dititipkan oleh kedua orang tua kita di sekolah agar memperoleh pelajaran dan
pendidikan sesuai dengan kebutuhan yang kita inginkan.

Sosok guru sebagai pendidik sekaligus pengganti orang tua kita ketika berada di
sekolahan jasanya juga tidak bisa kita lupakan begitu saja. Seperti yang di
pesankan oleh Rasulullah SAW: Muliakanlah orang-orang yang pernah
memberikan pelajaran kepadamu. (HR. Abu Hasan Mawardi)

Berdasarkan hadist tersebut, kita sebagai murid hendaknya menghargai jasa guru
kita jangan sampai melupakannya meskipun nantinya kita menjadi orang yang
sukses lebih dari guru kita.

11
3. Berbuat Baik Terhadap Saudara dan Famili

Selain Bapak dan Ibu kita, terhadap orang terdekat kita seperti saudara kita
(kakak, adik) maupun famili yang wajib pula berbuat baik kepada mereka.
Menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dari kita. Seperti yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW: Tidaklah beriman seseorang di antaramu
sehingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari
dan Muslim)

4. Berbuat Baik Terhadap Tetangga

Tetangga, orang yang paling dekat tempat tinggalnya dengan kita dan sering
berinteraksi dengan kita. Jika sedang mengalami kesulitan ataupun membutuhkan
bantuan, tetanggalah yang diharapkan segera memberikan bantuan. Oleh karena
itu hubungan baik dengan tetangga harus kita jaga, seperti dalam firman Allah
SWT sebagai berikut:

Yang artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya


dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga
yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan
diri. (QS. An-Nisa ayat 36)

contoh - contoh kerukunan antara sesama manusia,yaitu antara lain:


a. Jangan sampai satu kelompok menghina kelompok lain.
b. Jangan saling mencela
c. Jangan menyebut kelompok tertentu dengan kesan melecehkan.
d. Jangan suka berprasangka buruk terhadap pihak lain.
e. Jangan suka mencari-cari kesalalahan orang
f. Jangan menyebar isu yang merugikan orang

12
BAB III
PENUTUP

3.1 kesimpulan
berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan diatas, dapat diambil kesimpulan
bahwa: Hubungan antar manusia adalah kemampuan mengenali sifat, tingkah laku
dan pribadi seseorang. Ruang lingkup hubungan antar manusia dalam arti luas
adalah interaksi antar seseorang dengan orang lain dalam suatu kehidupan untuk
memperoleh kepuasan hati. namun bukan hanya itu, tetapi juga hubungan manusia
dengan ciptaannya. tujuan hubungan antar manusia adalah agar tercapainya
kehidupan yang harmonis yaitu masing-masing orang saling bekerja sama dengan

13
menyesuaikan diri terhadap satu dengan yang lain.

3.2 saran
Untuk menjalin suatu hubungan yang baik dengan Sesama manusia kita harus
bisa memahami diri sendiri. Mencoba untuk memahami kebutuhan dan keinginan
masing-masing individu. sehingga dengan begitu kita dapat memahami orang lain
yang merupakan bagian dari kita.

DAFTAR PUSTAKA

Nurdin, Ali. 2006. Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Al-


quran. TT: PT gelora aksara pratama
Tim pencerahan jakarta islamic center. 2005. Islam Rahmat bagi Alam
Semesta. Jakarta: afilia books
http://meii-dwy.blogspot.com/2012/05/makalah-hubungan-antar-
manusia.html diakses pada tanggal 1 oktober 2105 pukul 14.00
http://kuliahmultikultur.blogspot.com/2012/03/bab-2-konsep-dasar-
hubungan-antar.html diakses pada tanggal 1 oktober 2105 pukul 14.00

14
http://www.lusa.web.id/hubungan-antar-manusia-human-relation/diakses
pada tanggal 1 oktober 2105 pukul 14.00

15