Anda di halaman 1dari 16

TERAPI MODALITAS: TERAPI KOGNISI

MATA KULIAH: KEPERAWATAN JIWA

3A D4 KEPERAWATAN

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1. NI KETUT SINTA DEWI (P07120215013)


2. PUTU NABILA EKA SHANTI D.P.P. (P07120215014)
3. NI WAYAN LINSA MIRAWATI GALUH (P07120215015)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang
telah memberikan kami kesehatan jasmani maupun rohani karena dengan rahmat-
Nya kami dapat menyelesaikan paper kami yang berjudul Terapi Modalitas:
Terapi Kognisi. Paper ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Jiwa.
Paper ini disusun agar pembaca dapat memahami tentang Terapi Kognisi
pada klien yang mengalami masalah mental atau gangguan jiwa. Paper ini disusun
dengan mencari dan membaca berbagai sumber referensi.
Penyusun menyadari bahwa dalam paper ini banyak kekurangan, hal ini
dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki. Maka dari itu penyusun
mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk
kesempurnaan paper ini.

Denpasar, September 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... II

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 LATAR BELAKANG ....................................................................................... 1


1.2 RUMUSAN MASALAH ................................................................................... 1
1.3 TUJUAN PENULISAN ..................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1 PENGERTIAN TERAPI KOGNITIF .................................................................... 3


2.2 TUJUAN TERAPI KOGNITIF ........................................................................... 3
2.3 KARAKTERISTIK PASIEN .............................................................................. 4
2.4 MASALAH KEPERAWATAN ........................................................................... 4
2.5 TEKNIK KONTROL MOOD ............................................................................. 4
2.6 PELAKSANAAN TERAPI KOGNITIF ................................................................ 5
2.7 DISTORSI KOGNITIF...................................................................................... 8

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 12

3.1 SIMPULAN .................................................................................................. 12


3.2 SARAN........................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terapi kognitif dikembangkan pada tahun 1960-an oleh Aaron Beck dan
berkaitan dengan terapi rasional emotif dari Albert Ellis. Terapi kognitif akan
lebih bermanfaat jika digabung dengan pendekatan perilaku. Kemudian terapi
ini di disatukan dan dikenal dengan terapi perilaku kognitif (cognitive behavior
therapy). Terapi ini memperlakukan individu sebagai agen yang berpikir positif
dan berinteraksi dengan dunianya.
Individu membentuk sudut pandang dan keyakinan serta memiliki afek
atau perasaan mengenai apa yang dianggap benar bagi diri sendiri, lingkungan,
dan mengenia pikiran serta perasaannya pada interaksi yang luas dengan
perilaku atau tindakan dalam rangkaian interaksi. Setiap interaksi
memperngaruhi interaksi lain.
Berdasarkan kognisi dan pengalaman masa lalu, individu membentuk
pandangan dan skema kognitif yaitu cara berpikir atau perspektif kebiasaan
mengenai diri sendiri, dunia dan masa depan. Misalnya, individu
mengembangkan pandangan psimistis mengenai cara mengontrol takdirnya
sendiri atau merasa takdirnya mampu dikontrol oleh orang lain dan tidak
mampu mengontrolnya sendiri. Dalam situasi tersebut, individu
mengembangkan pandangan negative serta merasa tidak berharga (disebut
pikiran otomatis negative) yang dapat menimbulkan stress, emosi, kecemasan
dan depresi. Individu cenderung mengolah keyakinan yang tidak masuk akal
tentang kemampuan dan berhubungan dengan orang lain. Hasil persepsi dan
distorsi yang salah ini ditandai oleh harapan yang tidak realistis terhadap diri
sendiri dan orang lain, metode koping yang tidak efektif, dan pandangan
tentang diri sendiri sebagai orang yang tidak mampu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian terapi kognitif?
2. Apa tujuan terapi kognitif?
3. Bagaimana karakteristik pasien yang memerlukan terapi kognitif?

1
4. Apa masalah keperawatan yang muncul dan tujuan keperawatan pada
pasien yang memerlukan terapi kognitif?
5. Bagaimana teknik kontrol mood?
6. Bagaimana pelaksanaan terapi kognitif?
7. Apa saja bentuk distorsi kognitif?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian terapi kognitif
2. Untuk mengetahui tujuan dari terapi kognitif
3. Untuk mengetahui karakteristik pasien yang memerlukan terapi kognitif
4. Untuk mengetahui masalah dan tujuan keperawatan pada pasien yang
memerlukan terapi kognitif
5. Untuk memahami teknik kontrol mood
6. Untuk memahami pelaksanaan terapi kognitif
7. Untuk mengetahui bentuk distorsi kognitif

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Terapi Kognitif


Terapi kognitif adalah terapi jangka pendek dan dilakukan secara teratur,
yang memberikan dasar berpikir pada pasien untuk mengekspresikan perasaan
negatifnya, memahami masalahnya, mampu mengatasi perasaan negatifnya,
serta mampu memecahkan masalah tersebut.
Terapi kognitif sebenarnya merupakan rangkaian dengan terapi perilaku
yang disebut sebagai terapi kognitif dan perilaku, karena menurut sejarahnya
merupakan aplikasi dari beberapa teori belajar yang bervariasi. Terapi perilaku
menggunakan prinsip pengondisian klasik (classical conditioning) yang
dikenalkan oleh Pavlov dan pengondisian operant (operant conditioning) yang
dikenalkan oleh Skinner. Seiring berjalannya waktu ditambahkan satu teori lagi
yang diperkenalkan oleh Bandura, yaitu teori pembelajaran sosial (social
learning theory) mengingat pentingnya proses pikir (kognitif) dan informasi
dalam memengaruhi perilaku seseorang. Untuk selanjutnya, pendekatan ini
lebih dikenal dengan terapi kognitif yang berfokus pada cara memodifikasi
cara berpikir, sikap, dan keyakinan sebaik mungkin untuk membentuk suatu
perilaku. Oleh karenanya, dapat dikatakan seorang individu adalah sebagai
pembuat keputusan penting bagi hidupnya sendiri.
Peran perawat dalam pelaksanaan terapi kognitif diharapkan mampu
menerapkan terapi kognitif ini serta mendampingi pasien untuk memodifikasi
cara pikir, sikap, dan keyakinan untuk memutuskan perilaku yang tepat dalam
menghadapi pengobatan yang sedang dijalaninya.
2.2 Tujuan Terapi Kognitif
1. Mengubah pikiran dari tidak logis dan negatif menjadi objektif, rasional,
dan positif.
2. Meningkatnya aktivitas
3. Menurunkan perilaku yang tidak diinginkan
4. Meningkatkan keterampilan sosial.

3
2.3 Karakteristik Pasien
1. Menarik diri.
2. Penurunan motivasi
3. Defisit perawatan diri.
4. Harga diri rendah
5. Menyatakan ide bunuh diri
6. Komunikasi inkoheran dan ide/topik yang berpindah-pindah (flight of
idea).
7. Delusi, halusinasi terkontrol, tidak ada manik depresi, tidak mendapat ECT.
2.4 Masalah Keperawatan
1. Risiko bunuh diri
2. Isolasi sosial
3. Harga diri rendah
4. Defisit perawatan diri
Tujuan Keperawatan
Masalah Tujuan
1 Risiko bunuh diri 1 Ide bunuh diri hilang
2 Isolasi sosial 2 Meningkatkan hubungan sosial
3 Harga diri rendah 3 Meningkatkan harga diri
4 Defisit perawatan diri 4 Kemampuan merawat diri
2.5 Teknik Kontrol Mood
1. Teknik tiga kolom
a. Pikiran otomatis, yaitu pikiran-pikiran negatif yang sering keluar
seperti tidak pernah dan .selalu.
b. Distorsi kognitif.
c. Tanggapan rasional.
2. Panah vertikal
Yaitu belajar memberi pendapat secara rasional, yang bisa diterima oleh
akal berdasarkan bukti dan fakta yang ada.

4
2.6 Pelaksanaan Terapi Kognitif
Terapi kognitif terdiri atas sembilan sesi, yang masing-masing sesi
dilaksanakan secara terpisah. Setiap sesi berlangsung selama 3040 menit dan
membutuhkan konsentrasi tinggi.
1. Sesi I: Ungkap pikiran otomatis.
Jelaskan tujuan terapi kognitif.
a. Identifikasi masalah dengan apa, di mana, kapan, siapa (what, where,
when, who).
b. Diskusikan sumber masalah.
c. Diskusikan pikiran dan perasaan.
d. Catat pikiran otomatis dan klasifikasikan dalam distorsi kognitif.
2. Sesi II: Alasan.
a. Review kembali sesi I.
b. Diskusikan pikiran otomatis.
c. Tanyakan penyebabnya.
d. Beri respons atau tanggapan.
e. Tanyakan tindakan pasien.
f. Anjurkan menulis perasaan.
g. Beri rencana tindak lanjut, yaitu hasil tulisan pasien dibahas pada
pertemuan berikutnya.
3. Sesi III: Tanggapan
a. Diskusikan hasil tulisan pasien.
b. Dorong pasien untuk memberi pendapat.
c. Berikan umpan balik.
d. Dorong pasien untuk ungkapkan keinginan.
e. Beri persepsi/pandangan perawat terhadap keinginan tersebut.
f. Beri penguatan (reinforcement) positif.
g. Jelaskan metode tiga kolom.
h. Diskusikan cara menggunakan metode tiga kolom.
i. Rencana tindak lanjut, yaitu anjurkan menuliskan pikiran otomatis dan
cara penyelesaiannya.

5
4. Sesi IV: Menuliskan
a. Tanyakan perasaan pasien saat menuliskan rencana tindak lanjut pada
sesi III.
b. Dorong pasien untuk mengomentari tulisan.
c. Beri respons/tanggapan dan umpan balik.
d. Anjurkan untuk menuliskan buku harian.
e. Rencana tindak lanjut, yaitu hasil tulisan pasien akan dibahas.
5. Sesi V: Penyelesaian Masalah
a. Diskusikan kembali prinsip teknik tiga kolom.
b. Tanyakan stresor/masalah baru dan cara penyelesaiannya.
c. Tanyakan kemampuan menanggapi pikiran otomatis negatif.
d. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
e. Anjurkan menulis pikiran otomatis dan tanggapan rasional saat
menghadapi masalah.
6. Sesi VI: Manfaat Tanggapan
a. Diskusikan perasaan setelah menggunakan tanggapan rasional.
b. Berikan umpan balik.
c. Diskusikan manfaat tanggapan rasional.
d. Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah.
e. Tanyakan hambatan yang dialami.
f. Berikan persepsi/tanggapan perawat.
g. Anjurkan mengatasi sesuai kemampuan.
h. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
7. Sesi VII: Ungkap Hasil
a. Diskusikan perasaan setelah menggunakan terapi kognitif.
b. Beri reinforcement positif dan pendapat perawat.
c. Diskusikan manfaat yang dirasakan.
d. Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah.
e. Beri persepsi terhadap hambatan yang dihadapi.
f. Diskusikan hambatan yang dialami dan cara mengatasinya.
g. Anjurkan untuk mengatasi sesuai kemampuan.
h. Berikan penguatan (reinforcement) positif.

6
8. Sesi VIII: Catatan Harian
a. Tanyakan apakah selalu mengisi buku harian.
b. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
c. Diskusikan manfaat buku harian.
d. Anjurkan membuka buku harian bila menghadapi masalah yang sama.
e. Tanyakan kesulitan dan diskusikan cara penggunaan yang efektif.
9. Sesi IX: Sistem Dukungan
a. Jelaskan keluarga tentang terapi kognitif.
b. Libatkan keluarga dalam pelaksanaannya.
c. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang telah dimiliki pasien.
d. Anjurkan keluarga untuk siap mendengarkan dan menagggapi masalah
pasien.
CONTOH METODE TEKNIK PANAH VERTIKAL
Pikiran Otomatis Tanggapan Rasional
1. Dr. K mungkin berpikir 1. Hanya karena Dr. K menunjukkan
saya adalah seorang ahli kesalahan saya itu bukan berarti bahwa
terapi yang buruk, Jika selanjutnya ia akan berpikir bahwa saya
memang ia berpikir adalah seorang ahli terapi yang buruk.
demikian, mengapa harus Saya harus menanyakan kepadanya hal yang
mengecewakan saya? sebenarnya dia pikirkan, tetapi dalam
beberapa kesempatan ia telah memuji saya
dan berkata bahwa saya mempunyai bakat
unggul.
2. Itu artinya bahwa saya 2. Seorang yang berpengalaman pun hanya
memang seorang terapis dapat menunjukkan kekuatan serta
yang bodoh karena dia kelemahan spesifik saya sebagai seorang
seorang yang terapis. Setiap kali seseorang memberi cap
berpengalaman,Andaikan buruk pada saya, maka semua itu hanya
saya memang seorang ahli suatu pernyataan yang terlalu global,
terapi yang buruk, lalu apa merusak, dan tidak terlalu berguna. Saya
artinya bagiku? telah banyak berhasil dengan kebanyakan
pasien saya, sehingga tidak benarlah saya

7
buruk, tidak peduli siapapun yang
mengatakannya.
CONTOH METODE TEKNIK TIGA KOLOM
Pikiran Otomatis Distorsi Kognitif Tanggapan Rasional
(Kritik diri) (Pembelaan diri)
1. Saya tidak 1. Overgeneralisasi 1. Omong kosong! Saya juga
pernah benar. melakukan banyak hal yang
baik.
2. Saya selalu 2. Overgeneralisasi 2. Saya tidak selalu terlambat.
terlambat Coba saja ingat-ingat saat saya
datang tepat waktu. Meskipun
kini terlambat lebih sering
daripada biasanya, saya akan
mengatasi masalah ini serta
mencari cara agar saya lebih
dapat tepat waktu. Seseorang
mungkin kecewa karena saya
terlambat, tetapi itu bukan
berarti kiamat. Mungkin
pertemuan juga tidak mulai
pada waktunya.

2.7 Distorsi Kognitif


Tabel Bentuk Distorsi Kognisi (Stuart, 2009)
No Bentuk Distorsi Pengertian Contoh
Kognitif
1 Pemikiran Melihat segala Jika prestasi Anda
segalanya atau tidak sesuatu dalam kurang dari sempurna,
sama sekali kategori hitam atau maka Anda
(All or nothing putih. memandang diri Anda
thinking) sendiri sebagai seorang
yang gagal total.

8
2 Overgeneralisasi Memandang suatu Seorang murid yang
(Overgeneralization) peristiwa yang gagal dalam ujian
negatif sebagai berpikir, Saya tidak
sebuah pola akan pernah lulus ujian
kekalahan tanpa yang lain dalam
akhir. semester ini dan saya
akan keluar dari
sekolah ini.

3 Personalisasi Memandang diri Direktur saya


(Personalization) sebagai penyebab mengatakan bahwa
dari suatu peristiwa produktivitas
eksternal yang negatif perusahaan kami
yang kenyataanya menurun, tapi saya
tidaklah demikian. tahu ia sebenarnya
sedang membicarakan
saya.
4 Loncatan ke Menarik kesimpulan Seorang wanita muda
kesimpulan negatif tanpa bukti menyimpulkan,
(Jumping to yang mendukung. Teman saya tidak
conclusions) suka kepada saya
karena saya tidak
mengirimkan kartu
ulang tahun
untuknya.
5 Membesar-besarkan Melebih-lebihkan Saya telah
atau mengecilkan suatu hal atau menghanguskan
(Magnification and mengecilkan suatu makan malam, itu
minimization) hal secara tidak tepat. menunjukkan betapa
tidak mampunya
saya.

9
6 Pernyataan harus Individu mencoba Saya akan menjadi
(Should statements) memotivasi diri seorang yang gagal
sendiri dengan apabila saya tidak
mengatakan Saya mendapat nilai A pada
harus melakukan semua ujian saya.
pekerjaan ini.
Pernyataan tersebut
menyebabkan
individu merasa
tertekan, sehingga
menjadi tidak
termotivasi. Bila
individu
menunjukkan
pernyataan harus
kepada orang lain,
maka individu akan
mudah frustasi ketika
mengalami kenyataan
yang tidak sesuai
dengan harapannya.
7 Filter mental Menemukan hal kecil Seorang istri meyakini
(Mental filter) yang negatif dan terus bahwa suaminya tidak
memikirkannya lagi mencintai dirinya
sehingga pandangan karena suaminya
tentang realita sering pulang larut
menjadi gelap. malam, tapi si istri
tidak mengabaikan
perhatian dari
suaminya, hadiah yang
diberikan oleh
suaminya, dan liburan

10
spesial yang sudah
mereka rencanakan
bersama
8 Mendiskualifikasi Menolak Saya tidak akan
hal positif pengalaman- mengikuti promosi
(Disqualifiying the pengalaman positif jabatan di kantor
positive) dengan bersikeras karena saya pasti tidak
bahwa semua itu akan mendapatkannya
bukan apa-apa. dan saya akan merasa
tidak enak
9 Penalaran emosional Menganggap emosi- Saya merasa begitu,
(Emotional emosi yang negatif maka pastilah begitu.
reasoning) mencerminkan realita
yang sebenarnya.
10 Memberi cap atau Bentuk ekstrem dari Saya memang
salah memberi cap overgeneralisasi, seorang sial atau,
(Labeling and yaitu memberi cap Saya memang
mislabeling) negatif pada diri seorang yang bodoh.
sendiri.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan
terstruktur, aktif, direktif dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi
berbagai hambatan dalam kepribadian, misalnya ansietas atau depresi. Terapi
kognitif digunakan untuk mengidentifikasi, memperbaiki gejala perilaku yang
malasuai, dan fungsi kognisi yang terhambat, yang mendasari aspek kognitif
yang ada. Terapis dengan pendekatan kognitif mengajarkan pasien atau klien
agar berpikir lebih realistik gejala yang berkelainan yang ada.
Terapi kognitif diindikasikan pasien dengan masalah keperawatan seperti
risiko bunuh diri, isolasi sosial, harga diri rendah, dan defisit perawatan diri.
Adapun metode yang digunakan secara umum, yaitu metode teknik tiga kolom
dan metode teknik panah vertikal. Terapi kognitif terdiri atas 9 sesi yang
dilaksanakan secara terpisah-pisah. Setiap sesi berlangsung selama 30-40
menit.
Penggunaan terapi kognitif ini sangat luas dan dapat dikombinasikan
dengan terapi lain, maka banyak sekali bukti penelitian yang menguji
keefektifan dari terapi kognitif ini. Dan sebagian besar hasilnya menyatakan
signifikan.
3.2 Saran
Sebagai mahasiswa dan calon tenaga medis kita mampu menerapkan
mekanisme koping dengan menggunakan terapi kognitif kepada klien sehingga
jumlah kasus penderita gangguan jiwa di Indonesia dapat menurun.

12
DAFTAR PUSTAKA

Anindyaputri, Irene. 2017. Terapi Kognitif dan Perilaku, Konseling untuk Berbagai
Masalah Psikologi. https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/terapi-
kognitif-dan-perilaku-untuk-masalah-psikologis/. Diakses pada 09
September 2017
Counseling Directory. 2014. Cognitive Therapy. http://www.counselling-
directory.org.uk/cognitive-therapy.html. Diakses pada 09 September 2017
Counseling Directory. 2014. Cognitive Bevioural Therapy.
http://www.counselling-directory.org.uk/cognitive-behavioural-
therapy.html. Diakses pada 09 September 2017
NHS. 2016. Cognitive Behavioural Therapy (CBT)
http://www.nhs.uk/conditions/Cognitive-behavioural-
therapy/Pages/Introduction.aspx. Diakses pada 09 September 2017
Tristiana, RR Dian. 2017. Terapi Kognitif dan Perilaku. http://rrdiantristiana-
fkp.web.unair.ac.id/artikel_detail-174132-Health%20and%20Nursing-
Terapi%20Kognitif%20dan%20Perilaku%20(1).html. Diakses pada 09
September 2017
Yusuf, Ah., Rizky Fitryasari PK dan Hanik Endang Nihayati. 2015. Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika

13