Anda di halaman 1dari 3

PENYEMPURNAAN ANTI BAKTERI

I. Fungsi anti bakteri agent (Bhagyashri, 2010)


1. Untuk menghindari adanya srangan dari akteri yang bersifat paogen
2. Agar bakteri ptogen tidak berkembangbiak
3. Untuk menjaga produk tekstil dari perubahan warna, penurunan warna, penurunan
kualitas.
II. Persyaratan untuk penyempurnaan anti bakterial
1. Harus mampu melawan luas spektrum dari bakteri dan jamur, namun pada saat
yang bersamaan pula zat tersebut tidak boleh bersifat racun dan membuat kulit
menjadi iritasi dan alergi
2. Tahan terhadap pencucian kering, pencucian berulang dan pencucian panas
3. Tidak menimbulkan efek negatif pada produk kain
4. Kompatibel dengan proses kimia lainnya
5. Sebaiknya jangan bersifat racun bagi bakteri non patogen.
III. Anti bacterial dibagi kedalam 2 jenis dibagah ini
1. Leaching type ( anti bakteri konvensional)
2. Non leaching type
IV. Cara teknologi anti bakteri
1. Pelepasan Antimikroba Internal: Pilihan yang layak untuk serat sintetis, dimana
antimikroba dapat digabungkan ke dalam serat saat dipintal.

2. Pengaplikasian pada permukaan: untuk pengaplikasian pada permukaan, dapat


dilakukan pada semua serat tetapi daya tahan pencucian tergantung pada afinitas
antimikroba yang ditentukan dri seberapa kuat polimer dapat mengikat dengan
permukaan tekstil menentukan daya tahan akhir. Biaya ionik bisa jadi faktor lain
yang perlu dipertimbangkan untuk serat tertentu, seperti PAN

3. Ikatan kimia merupakan cara terbaik untuk mencapai daya tahan dan bekerja
dengan baik pada selulosa, wol dan poliamida. Namun, metode ini membutuhkan
kelompok reaktif yang sesuai pada serat untuk bekerja secara efektif
V. Aplikasi dari metodologi
1. Dengan menggunakan spun aditif
untuk memberi sifat antibakteri pada serat sintetis dengan memasukkan zat aktif bio
ke larutan leleh dan larutan pengeringan. Berbagai zat antibakteri dapat
digabungkan dalam matriks polimer selama proses pembuatan serat / benang
sehingga serat memiliki sifat antimikroba permanen.
Sifat yang hrus dimiliki untuk spun aditif:
- Sangat tahan dalam alkali, asa kuat, dan antioksidan
- Memiliki stabilitas termal tambahan selama proses heat sett
- Konsentrasi zat yang ditambahkan ke dalam serat tergantung pada kelarutan
atau dispersibilitasnya
- Tidak menimbulkan pengaruh negatif pada proses pemintalan dan sifat serat.
- Kapasitas migrasi terkontrol
2. Padding
kain dilapisi dengan zat antimikroba dengan WPU hampir 70-80%. Seiring dengan
agen antimikroba crosslinker tertentu, pengikat dll bisa digunakan. Padding harus
diikuti dengan pengeringan atau penyembuhan udara di stenter.
3. Penyemprotan
Penyemprotan larutan agen aktif antimikroba biasanya tidak disarankan, karena
risiko produksi dan penghirupan tetesan ukuran respirabel selanjutnya. Meski
demikian, perawatannya bisa dilakukan dengan penyemprotan, disediakan fasilitas
penahanan yang sesuai yang tersedia. Metode ini sangat sesuai untuk kain bukan
tenunan.
4. Microencapsulation
Pelepasan antimikroba yang diatur dari dalam serat tampaknya terbukti dan
teknologi yang tepat untuk mencapai daya tahan antimikroba yang baik untuk serat
sintetis. Namun teknik ini tidak berguna untuk kapas. Jadi, sistem baru itu bisa
digambarkan sebagai "fiksasi dan pelepasan terkontrol".

VI. ZAT ANTI MIKROBA YANG DIGUNAKAN


Zat anti mikroba yang digunakan yaitu zat anti mikroba berbasis amernium kuartener,
diallyldimethylammonium chloride (DADMAC). (Davis, El-Shafei, & Hauser, 2011)
Dengan sistem ini, antimikroba dapat tetap berada di kain katun setelah pencucian
yang ekstensif karena kapsul yang mengandung antimikroba secara kovalen
tertancap pada serat. Bahkan saat itu adalah kebutuhan untuk memastikan bahwa
sistem kapsul khusus harus mengatur pelepasan antimikroba. Tanpa pelepasan,
permukaan kapas yang diolah tidak akan menunjukkan khasiat antimikroba yang
baik. Bila pelepasannya terlalu cepat ada masalah daya tahan pencucian.
Selanjutnya, kapsul perlu cukup kuat untuk menahan proses yang biasa dilibatkan
dalam merawat kain dan harus cukup kecil sehingga tidak menimbulkan perubahan
pada tangan dan sifat lain dari kain yang diolah. Memang kain katun yang dirawat
dengan sistem ini menunjukkan sifat antimikroba yang sangat baik bahkan setelah
100 kali pencucian.
5. Modifikasi polimer
bagian dari serat, menghasilkan efek tahan lama. Kerugiannya adalah bahwa
teknologi itu mahal karena kebutuhan tanaman polimerisasi khusus. Ex. Modifikasi
polimer akrilat dengan cara kopolimerisasi menggunakan monomer dengan
kelompok fungsional aktif bio mis

Amina kationik atau garam amonium kuaterner


Kelompok karboksilat dalam polimer mampu bereaksi dengan antibiotik. [1]