Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO


SECAREA DENGAN INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI
RUANG MAWAR 1 RSDM
SURAKARTA

NASKAH PUBLIKASI

Oleh :
ANNA AMANIA KHUSNAYAIN
J200 110 008

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA


DENGAN INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA
(Anna Amania K, 2014, 50 halaman)

ABSTRAK

Latar Belakang : Post section secarea dengan indikasi pre eklampsi berat
pada rumah sakit umum dengan penyebab terbanyak oleh timbulnya
hipertensi disertai dengan proteinuria pada umur kehamilan lebih dari 20
minggu.
Tujuan : Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan post
section secarea dengan indikasi pre eklampsi berat meliputi pengkajian,
diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan.
Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
didapatkan hasil nyeri pasien berkurang dari skala 8 menjadi 3, tidak terjadi
adanya tanda-tanda infeksi dan pasien dapat melakukan aktivitas secara
mandiri.
Kesimpulan : Kerjasama antar tim kesehatan dan pasien/keluarga sangat
diperlukan untuk keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien,
komunikasi terapeutik dapat mendorong pasien lebih kooperatif, teknik
relaksasi progesif dapat mengurangi rasa nyeri dan merupakan tindakan
yang disukai pasien.

Kata Kunci : post section secarea, pre eklampsi berat, nyeri, resiko infeksi
dan kelemahan aktivitas.
2

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

NURSING CARE IN NY . F P1A0 POST SECTIO SECAREA


INDICATION WITH PRE eclampsia WEIGHT IN THE ROSES 1
RSDM SURAKARTA
( Anna Amania K , 2014 , 50 pages )

ABSTRACT

Background : Post secarea section with an indication of severe pre eclampsia in


public hospitals with the most common cause by the onset of hypertension
accompanied with proteinuria in gestational age over 20 weeks .
Objective : To determine nursing care in patients with post section with
indication secarea severe pre eclampsia include assessment , diagnosis ,
intervention , implementation , and evaluation of nursing .
Results : After 3x24 hour nursing actions for pain patients showed reduced from
8 to 3 scale , there is no signs of infection and the patient can perform activities
independently .
Conclusion : Cooperation between the healthcare team and the patient / family is
indispensable for the success of nursing care to the patient , the patient's
therapeutic communication can encourage more cooperative , progressive
relaxation techniques can reduce pain and is the preferred measure patient .

Keywords : post secarea section , pre- eclampsia severe , pain , risk of infection
and weaknesses of activity .
3

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)
4

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

PENDAHULUAN dinding abdomen dan uterus.


Latar Belakang Pembadahan Caesarea profesional
yang pertama dilakukan di Amerika
Asuhan keperawatan pasca
Serikat pada tahun 1827. Sebelum
persalinan diperlukan untuk
tahun 1800 sectio cesarea jarang
meningkatkan status kesehatan ibu dan
dikerjakan dan biasanya fatal. Di
anak. Berakhirnya proses persalinan
london dan edinburg pada tahun 1877,
bukan berarti ibu terbebas dari bahaya
dari 35 pembedahan cesarea terdapat
atau komplikasi. Berbagai komplikasi
33 kematian ibu. Menjelang tahun
dapat dialami ibu pada masa nifas dan
1877 sudah dilaksanakan 71 kali
bila tidak tertangani dengan baik akan
pembedahan caesarea di Amerika
memberi kontribusi yang cukup besar
Serikat. Angka mortalitasnya 52 persen
terhadap tingginya Angka Kematian
yang terutama disebabkan oleh infeksi
Ibu (AKI) di Indonesia.
dan perdarahan (Oxorn, dkk., 2010).
Pre eklamsia adalah timbulnya
Pre eklamsia atau toksemia
hipertensi disertai dengan proteinuria
preeklantik (pre eclamtic toxaemia,
pada umur kehamilan lebih dari 20
PET) adalah penyebab utama
minggu atau segera setelah persalinan
mortalitas dan morbiditas ibu dan
dan gangguan multisistem pada
janin. Pre eklamsia dapat timbul pada
kehamilan yang dikarakteristikkan
masa antenatal, intrapartum, dan
disfungsi endotelial, peningkatan
postnatal. Pre eklamsia dapat terjadi
tekanan darah karena vasokonstriksi,
dengan tanda-tanda hipertensi dan
proteinuria akibat kegagalan
proteinuria yang baru muncul di
glomerolus, dan udema akibat
trimester kedua kehamilan yang selalu
peningkatan permeabilitas vaskuler
pulih di periode postnatal (Robson,
(Fauziyah, 2012).
2012).
Hasil Survey Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan 2. Etiologi
Hingga saat ini etologi dan
bahwa secara nasional Angka
patogenesis dari pre-eklamsia masih
Kematian Ibu di Indonesia adalah
belum diketahui dengan pasti.Namun
228/100.000 kelahiran hidup, yang
hingga kini belum memuaskan
disebabkan oleh perdarahan 28%,
sehingga pre-eklamsia sebagai the
eklampsia 12%, abortus 13%, sepsis
diseases of theories.
15%, partus lama 18%, dan penyebab
Adapun hipotesis yang diajukan
lainnya 2%.Angka ini masih jauh dari
diantaranya adalah (Fauziyah, 2012) :
target tujuan pembangunan milenium
a. Genetik
(Millenium Development
b. Iskemik plasenta
Goals/MDGs), yakni hanya
c. Hipoksia pada fetus dan
102/100.000 kelahiran tahun 2015
plasenta
(Depkes RI, 2010).
d. Disfungsi endotel
TINJAUAN PUSTAKA
e. Imunologis
1. Pengertian
Sectio caesarea adalah pembedahan 3. Klasifikasi Pre Eklampsi menurut
guna melahirkan anak lewat insisi pada (Nanda, 2013) :
a. Pre Eklampsi Ringan
5

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

b. Pre Eklampsi Berat Ds : 1) Makanan/cairan saat ini


4. Manifestasi Klinis PEB menurut 2) Mual/Muntah
(Nanda, 2013) : 3) Permintaan untuk makanan
a. Nyeri kepala hebat pada bagian khusus
depan atau belakang kepala Do :1) Berat badan pada akhir
yang di ikuti dengan kehamilan
peningkatan tekanan darah 2) Berat badan saat ini
yang abnormal. b. Eliminasi
b. Iritabel ibu merasa gelisah dan Ds : 1) Berkemih dalam waktu 6 q
tidak bisa bertoleransi dengan jam setelah melahirkan
suara berisik atau gangguan (ya/tidak)
lainnya. 2) Waktu BAK/BAB terakhir
c. Nyeri perut pada bagian ulu 3) Sering berkemih atau panas
hati yang terkadang disertai berkemih.
dengan muntah. 4)Waktu defekasi pertama
d. Gangguan pernafasan sampai setelah melahirkan
sianosis. Do :1) Kandung kemih dapat
e. Terjadi gangguan kesadaran. dipalpasi (ya/tidak)
5. Patofisiologi 2) Bising usus
Pada pre eklampsia terdapat 3) Adanya episiotomi/laserasi
penurunan plasma dalam sirkulasi dan perineum (jelaskan derajatnya)
terjadi peningkatan hematokrit. c. Aktifitas/Istirahat
Perubahan ini menyebabkan penurunan Ds : 1) Jumlah tidur/istirahat sebelum
perfusi ke organ , termasuk ke utero persalinan
plasental fatal unit. Vasospasme 2) Rencana pengaturan istirahat
merupakan dasar dari timbulnya proses setelah kembali ke rumah
pre eklampsia. Konstriksi vaskuler 3) Melakukan aktivitas sehari-hari
menyebabkan resistensi aliran darah secara mandiri/bantuan
dan timbulnya hipertensi arterial. (sebutkan)
Vasospasme dapat diakibatkan karena 4) Rencana untuk pemahaman
adanya peningkatan sensitifitas dari latihan fisik guna memulihkan
sirculating pressors. Pre eklampsia tonus otot abdomen dan
yang berat dapat mengakibatkan perineum
kerusakan organ tubuh yang lain. Do : 1) Status mental, ketejagaan
Gangguan perfusi plasenta dapat 2) Durasi persalinan
sebagai pemicu timbulnya gangguan 3) Melakukan ambulasi secara
pertumbuhan plasenta sehinga dapat mandiri/dengan bantuan (sebutkan)
berakibat terjadinya Intra Uterin d. Persepsi Diri
Growth Retardation. Ds : 1) Perasaan tidak berdaya atau
TINJAUAN KEPERAWATAN putus asa
1. PENGKAJIAN 2) Mengungkapkan tentang
Menurut (Green and Wilkinson, persalinan dan kelahiran,
2012) : bagaimana persalinan dan
a. Nutrisi
6

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

kelahiran tersebut sama/beda terhadap penurunan cardiac


dari harapan ibu output.
3) Pernyataan tidak melakukan b. Nyeri akut berhubungan dengan
persalinan dan kelahiran agen cidera biologi.
dengan baik. c. Gangguan pertukaran gas
Do : 1) Tingkat keterlibatan dalam berhubungan dengan ventilasi-
pengambilan keputusan tentang perfusi, hipoksia, sianosis.
asuhan diri dan bayi d. Konstipasi.
2) Jumlah kontak mata e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang
e. Seksualitas dari kebutuhan tubuh.
Ds : 1) Kekhawatiran seksual (misal, f. Resiko infeksi berhubungan
kapan kembali melakukan dengan trauma jaringan.
hubungan seksual) g. Gangguan mobilitas fisik
Kekhawatiran pasangan berhubungan dengan kelemahan
2) Jenis alat kontrasepsi yang fisik.
direncanakan setelah pulang 3) INTERVENSI
Do:1)Masalah/komplikasi/penangana 1. Kelebihan volume cairan
n intrapartum. berhubungan dengan kerusakan
2)Pemeriksaan perineum (edema, fungsi glomerolus sekunder
ekimosis, episiotomi, leserasi) terhadap penurunan cardiac output.
3)Lokia (warna, jumlah, adanya Tujuan : Setelah dilakukan
bekuan) tindakan keperawatan selama 3 x 24
4) Fundus uterus (keras/lunak, jam klien dapat Terbebas dari
posisi) edema, efusi, anasarka, bunyi nafas
5)Payudara (lunak, keras, bersih tidak ada dispneu,
bengkak, timbul kolostrum, memeliharan tekanan vena sentral
kondisi puting) dan terbebas dari kelelahan
f. Kenyamanan Kriteria Hasil :Gangguan elektrolit
Ds :1) Nyeri (lokasi, frekuensi, Ansietas
derajat, durasi): Perubahan tekanan darah
Faktor pencetus, tindakan untuk Dispneu
mengurangi, gejala terkait Intervensi :
2) Ketidaknyamanan lain (misal, 1) Timbang popok atau pembalut
gatal) jika perlu
Do :1) Manifestasi fisik (misal: 2) Pertahankan cairan intake dan
meringis, berhati-hati) output yang akurat
2) Respons emosi 3) Pasang urine kateter jika
2) DIAGNOSA KEPERAWATAN diperlukan
Diagnosa yang bisa didapat dari 4) Monitoring hasil HB yang
(Nanda, 2013) adalah sesuai dengan retensi cairan
a. Kelebihan volume cairan (BUN, Hmt, osmolitas, urin)
berhubungan dengan kerusakan 5) Monitor vital sign
fungsi glomerolus sekunder 6) Monitor status nutrisi
7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

7) Kolaborasi diuretik sesuai 1) Buka jalan nafas, gunakan


instruksi teknik chin lift atau jaw trust bila
2. Nyeri akut berhubungan dengan perlu
agen cidera fisik. 2) Posisikan pasien untuk
Tujuan : Setelah dilakukan memaksimalkan ventilasi
tindakan keperawatan 3 x 24 jam 3) Lakukan fisioterapi dada jika
nyeri klien berkurang. perlu
Kriteria Hasil : Skala nyeri 0-1 4) Monitor respirasi dan status O
Ibu mengatakan nyerinya berkurang 4. Konstipasi.
sampai hilang , Tujuan : setelah dilakukan
Tidak merasa nyeri saat mobilisasi , tindakan keperawatan 3 x 24 jam
Tanda vital dalam batas normal klien dapat BAB sedini mungkin.
Intervensi : Kriteria Hasil : Akan
1) Lakukan pengkajian nyeri mengeluarkan feses yang
secara komprehensif termasuk berbentuk dan lunak
lokasi, karakteristik, durasi, Melaporkan kembali pola defekasi
frekuensi, kualitas, dan faktor yang biasa
presipitasi Intervensi :
2) Observasi reaksi nonverbal dari 1) Monior tanda dan gejala
ketidaknyamanan konstipasi
3) Pilih dan lakukan penanganan 2) Monitor bising usus
nyeri (farmakologi, non 3) Monitor feses : frekuensi,
farmakologi dan interpersonal) konsistensi dan volume
4) Kaji tipe dan sumber nyeri 4) Kolaborasi pemberian laksatif
untuk menentukan intervensi 5) Memantau bising usus
5) Berikan analgetik untuk 5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang
mengurangi nyeri dari kebutuhan tubuh.
6) Tingkatkan istirahat Tujuan : setelah dilakukan
3. Gangguan pertukaran gas tindakan keperawatan selama 3 x 24
berhubungan dengan ventilasi- jam klien tidak ada tanda-tanda mal
perfusi, hipoksia, sianosis nutrisi.
Tujuan : setelah dilakukan Kriteria Hasil : berat badan
tindakan keperawatan selama 3 x menjadi normal
24 jam klien dapat Intervensi :
mendemonstrasikan peningkatan 1) Kaji adanya alergi makanan
ventilasi dan oksigenasi yang 2) Kolaborasi dengan ahli gizi
adekuat, Memelihara kebersihan untuk menentukan jumlah kalori
paru-paru dan bebas dari tanda- dan nutrisi yang dibutuhkan klien
tanda distress pernafasan dan 3) Anjurkan pasien untuk
tanda-tanda vital dalam rentang meningkatkan protein dan vitamin
normal. c
Kriteria Hasil : pernafasan 4) Berikan substansi gula
normal
Intervensi :
8

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

5) Yakinkan diet yang dimakan 3. Lakukan alih baring tiap 2 -4


tinggi serat untuk mencegah jam
konstipasi 4. Anjurkan pasien untuk
6) Berikan makanan yang terpilih melakukan aktivitas sesuai
(sudah dikonsultasikan dengan kemampuanya.
ahli gizi) 5. Kolaborasi dengan fisioterapi
7) Monitor jumlah nutrisi dan TINJAUAN KASUS
kandungan kalori. A. Biodata
6. Resiko infeksi berhubungan dengan 1. Identitas pasien
trauma jaringan. Nama : Ny. F
Tujuan : setelah dilakukan Alamat : Gemolong, Sragen
tindakan keperawatan selama 3 x 24 Umur : 24 Tahun
jam diharapkan infeksi tidak terjadi. Agama : Islam
Kriteria Hasil : tidak ada Pendidikan : SMA
tanda-tanda infeksi. Pekerjaan : Wiraswasta
Intervensi : Suku : Jawa
1) Tinjau catatan persalinan dan 2. Identitas Penanggung jawab
kelahiran terkait infeksi yang Nama : Tn. S
sudah ada sebelumnya atau Pendidikan : 25 Tahun
pajanan terhadap organisme Hub. dengan klien : Suami
infeksi. B. Pengkajian keperawatan
2) Lakukan penggantian pembalut 1. Keluhan utama
dan perawatan perineal dengan Pasien mengatakan nyeri pada
sering, gunakan teknik dari depan daerah perut karena bekas jahitan
kebelakang, hingga ibu dapat post sc.
melakukannya sendiri. 2. Riwayat kesehatan sekarang
3) Pantau tanda-tanda vital, Pasien datang rujukan dari RS.
khususnya suhu dan nadi. Assalam Sragen Masuk jam 22.00
4) Pantau warna dan bau lokia WIB dengan diagnosa G1P0A0
(pascapartum). hamil aterm. Pasien langsung
7. Gangguan mobilitas fisik dibawa ke VK dan langsung
berhubungan dengan kelemahan fisik. dilakukan pemeriksaan, DJJ
Tujuan : setelah dilakukan 140x/mnt, Tekanan Darah 220/100
tindakan keperawatan 3 x 24 jam mmHg. Jam 01.00 WIB advis
mobilisasi klien tidak tergantung dokter dilakukan operasi sesar
keluarga. karena tekanan darah pasien
Kriteria Hasil : klien mampu sangat tinggi. Pasien melahirkan
miring kanan dan kekiri. dengan operasi sesar anak laki-
Intervensi : laki dengan berat 2700 gram.
1. Kaji tingkat kemampuan pasien Keadaan umum pasien baik dan
dalam melakukan aktivitas tiap operasi berjalan dengan baik. Lalu
hari. jam 03.00 WIB pasien di pindah
2. Observasi keadaan integritas ke ruang mawar. Saat dikaji pasien
kulit
9

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

mengatakan nyeri pada bekas luka Saat dikaji : pasien mengatakan


post operasinya. mandi 2x sehari dan gosok gigi 2x
3. Riwayat kesehatan masa lalu sehari
Pasien mengatakan tidak e. Mobilisasi dan Aktifitas
pernah menderita penyakit Selama hamil : Pasien mengatakan
menular contoh HIV saat hamil sering jalan-jalan pagi
Aids,Hepatitis maupun penyakit dan melakukan aktivitas sehari-
menular sex lainnya dan tidak hari secara mandiri.
pernah menderita penyakit Saat dikaji : Pasien mengatakan
menahun seperti asma dll. melakukan aktivitas sehari-hari
4. Rawat Gabung dibantu oleh keluarga.
Iya, untuk menjalin kasih C. Diagnosa Keperawatan
sayang ibu dan bayi. 1. Nyeri akut berhubungan
5. Activity Daily Living dengan agen cidera biologi.
a. Pola Nutrisi. 2. Resiko tinggi infeksi
Selama hamil : pasien berhubungan dengan trauma
mengatakan makan 3x sehari jaringan.
(nasi, sayur, lauk). Minum 6-8 3. Gangguan mobilitas fisik
gelas/hari dan ditambah pasien berhubungan dengan kelemahan
juga minum susu prenagen. fisik.
Saat dikaji : pasien mengatakan PEMBAHASAN
puasa makan menunggu hingga Pada bab ini menguraikan
flaktus. pembahasan tentang asuhan
b. Pola eliminasi keperawatan pada Ny. F P1A0 post sc
Selama hamil : pasien BAK dengan indikasi PEB di Ruang Mawar
3x/hari, dan BAB 1x/hari 1 RSDM Surakarta. Kegiatan ini
Saat dikaji : BAK saat di RS diawali dengan pengkajian, diagnosa
pasien memakan DC dan urine beg keperawatan, perencanaan,
300cc, BAB sudah bisa 1x setelah pelaksanaan dan evaluasi serta
operasi. dokumentasi keperawatan, data-data
c. Istirahat dan Tidur yang didapatkan adalah :
Selama hamil : tidur siang 1jam, A. Diagnosa yang muncul di tinjauan
tidur malam pukul 21.00-05.00 teori
lama 8jam tidur nyenyak. 1. Pengertian diagnosa keperawatan
Saat dikaji : pasien mengatakan a. Kelebihan volume cairan
bisa tidur walaupun nyerinya berhubungan dengan kerusakan
terasa. fungsi glomerolus sekunder
d. Pola Personal hygien terhadap penurunan cardiac
Selama hamil : pasien mengatakan output.
mandi 2x sehari memakai sabun, Kelebihan volume cairan adalah
dan keramas 2 hari sekali pakai peningkatan retensi cairan
shampo, gosok gigi 2x sehari elektrolit. (Green & Wilkinson,
pakai pasta gigi. 2012).
10

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

b. Nyeri akut berhubungan dengan g. Gangguan mobilitas fisik


agen cidera biologi. berhubungan dengan kelemahan
Nyeri akut adalah pengalaman fisik.
sensori atau emosi tidak Gangguan mobilitas fisik atau
menyenangkan yang muncul intoleransi aktivitas adalah kondisi
akibat kerusakan actual atau ketidakcukupan energi fisiologis
potensial atau kondisi lain yang atau psikologis individu untuk
masuk dalam kriteria kerusakan melakukan atau menyelesaikan
tersebut, awitan tiba-tiba atau aktivitas harian yang diharuskan
lambat dari intensitas ringan atau diinginkan. (Wilkinson &
hingga berat dengan akhir yang Ahern, 2009)
diantisipasi atau diprediksi durasi B. Diagnosa yang muncul di kasus dan
nyeri kurang dari 6 bulan. (Green alasan penegakan diagnose
& Wilkinson, 2012). keperawatan (tanda gejala yang
c. Gangguan pertukaran gas mendukung)
berhubungan dengan ventilasi- 1. Nyeri akut berhubungan dengan
perfusi, hipoksia, sianosis. agen cidera biologi.
Pola nafas adalah inspirasi atau Diagnosa ini bisa ditegakkan
ekspirasi yang tidak memberi bila ada laporan nyeri individu
ventilasi yang adekuat. (Green & yang diungkapkan atau
Wilkinson, 2012). disyaratkan, sikap melindungi,
d. Resiko konstipasi berhubungan sikap tubuh yang tegang,
dengan ketakutan mengalami berfokus pada diri sendiri atau
defekasi yang nyeri akibat penyempitan focus, gangguan
episiotomi tidur tekanan darah meningkat,
Resiko konstipasi adalah berisiko nai meningkat, kemarahan yang
mengalami penurunan frekuensi meluap-luap dan perilaku
normal defekasi, disertai kesulitan distraksi (gelisah, mengerang,
atau pengeluaran feses yang sangat mendesah). (Green & Wilkinson,
keras dan kering. (Wilkinson dan 2012).
Ahern, 2012) Diagnosa ini diprioritaskan
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang sebagai prioritas pertama karena
dari kebutuhan tubuh. didasarkan pada keluhan yang
Ketidakseimbangan nutrisi adalah dirasakan pasien saat itu yaitu
asupan nutrisi tidak memadai subyektif pasien mengatakan
untuk kebutuhan metabolis. nyeri pada abdomen karena luka
(Wilkinson dan Ahern, 2012) jahitan post sectio secarea, terasa
f. Resiko infeksi berhubungan seperti tertusu-tusuk. Data-data
dengan trauma jaringan. objektif ada luka jahitan pada
Resiko infeksi adalah berisiko abdomen. Hal ini akan
terhadap invasi organisme mengakibatkan ketidaknyamanan
patogen. (Wilkinson & Ahern, pasien dan akan mengganggu
2009) aktivitas pasien.
11

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

2. Resiko infeksi berhubungan mengatakan dalam melakukan


dengan trauma jaringan. kegiatan sehari-hari dibantu oleh
Diagnosa ini dapat ditegakkan keluarga.
jika ada tanda-tanda persalinan C. Diagnosa yang tidak muncul di
lama, adanya luka perineum kasus dan alasan tidak ditegakkan
(misalnya, episiotomi atau diagnosa keperawatan (tanda gejala
laserasi) pecah ketuban lama yang mendukung)
sebelum pelahiran, tidak 1. Kelebihan volume cairan
adekuatnya imunitas, pelahiran berhubungan dengan kerusakan
sesar. (Green & Wilkinson, fungsi glomerolus sekunder
2012) terhadap penurunan cardiac
Alasan kenapa diagnose ini output.
ditegakkan pada prioritas kedua Pada kasus tidak dapat
karena pasien mengalami PEB ditegakkan diagnosa ini, dengan
pada persalinan ini dan dilakukan adanya data subyektif yaitu
operasi sesar pada daerah pasien ansietas, pasien
abdomen. Data-data subyektif mengatakan sesak nafas atau
yang mendukung yaitu pasien dispneu, pasien mengatakan
mengatakan belum begitu gelisah. Data obyektifnya yaitu
mengerti tentang cara perawatan perubahan elektrolit, suara nafas
luka jahitan post sc, pasien tidak normal, perubahan tekanan
mengatakan belum begitu darah, perubahan status mental,
mengerti tentang tanda-tanda edema, asupan melebihi
infeksi. Data obyektifnya, vulva haluaran. Berdasarkan teori
dan vagina tidak nampak adanya diagnosa kelebihan volume
oedema dan varises, tetapi cairan tidak dapat ditegakkan
tampak kotor, terdapat luka post apabila tidak terdapat batasan
sc dengan jahitan 3 medialateral karakteristik NANDA
dengan chromic cutget 2/0. meliputi:gagal ginjal atau edema
3. Gangguan mobilitas fisik paru, gangguan integritas kulit,
berhubungan dengan kelemahan dan berpotensial gagal ginjal.
fisik. 2. Gangguan pertukaran gas
Diagnosa ini dapat ditegakkan berhubungan dengan ventilasi-
jika ada tanda-tanda persalinan perfusi, hipoksia, sianosis.
disfungsional, kelahiran sesar, Pada kasus tidak dapat
infeksi nifas, dan depresi. (Green ditegakkan diagnosa ini, dengan
& Wilkinson, 2012). adanya data subyektif yaitupasien
Diagnosa ini diprioritaskan mengatakan sesak nafas atau
sebagai prioritas ketigaa karena dispneu, dan nafas pendek. Data
didasarkan pada keluhan yang obyektifnya yaitu penurunan
dirasakan pasien saat itu yaitu tekanan inspirasi dan ekspirasi,
subyektif pasien mengatakan takipnea, dan nafas cuping
lemas dan tidak bisa bergerak hidung. Berdasarkan teori
bebas . Data-data objektif klien diagnosa gangguan pertukaran
12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

gas tidak dapat ditegakkan Pada kasus tidak dapat


apabila tidak terdapat batasan ditegakkan diagnosa ini, dengan
karakteristik NANDA adanya data subyektif yaitu
meliputi:hiperventilasi, pasien mengatakan kram
pernafasan dangkal sekunder abdomen, nyeri abdomen,
akibat nyeri, atau dispnea menolak makanan, persepsi
fisiologis seperti yang terjadi ketidakmampuan untuk
akibat efek samping obat atau mencerna makanan. Data
penyakit ( misal., asma, reaksi obyektifnya yaitu diare, bising
alergi). usus hiperaktif, kurang informasi
3. Konstipasi. atau informasi salah, membran
Pada kasus tidak dapat mukosa pucat. Berdasarkan teori
ditegakkan diagnosa ini, dengan diagnosa nutrisi tidak dapat
adanya data subyektif yaitu ditegakkan apabila tidak terdapat
pasien tidak merasa nyeri pada batasan karakteristik NANDA
perut, pasien tidak merasa adanya meliputi:berat badan kurang dari
tekanan pada rectum, pasien 20 % atau lebih dibawah berat
tidak merasa nyeri saat defekasi, badan ideal untuk tinggi badan
pasien mengatakan tidak dan rangka tubuh, asupan makan
mengalami takut saat defekasi, kurang dari kebutuhan metabolik
pasien mengatakan buang air ( baik kalori total maupun zat
besar setiap hari, pasien gisi tertentu),dan kehilangan
mengatakan sering makan berat badan dengan asupan
makanan yang berserat misal makanan yang adekuat .
sayur-sayuran. Data obyektifnya, A. Pelaksanaan tindakan
tidak ada perubahan pada suara 1. Kelebihan/faktor pendukung
abdomen bising usus 12x/menit, a. Nyeri akut berhubungan
tidak ada masa pada abdomen, dengan agen cidera biologi.
suara abdomen tympani, pasien Kelebihan pelaksanaan
mampu mengeluarkan fases dan rencana tindakan ini adalah
tidak mengalami ketakutan saat tindakan dapat dilakukan pada
defekasi. Berdasarkan teori pasien karena pasien
diagnosa konstipasi tidak dapat kooperatif dan bersosialisasi.
ditegakkan apabila tidak terdapat b. Resiko infeksi berhubungan
batasan karakteristik NANDA dengan trauma jaringan.
meliputi: perubahan pola Kelebihan pelaksanaan
defekasi, distensi abdomen, rencana tindakan ini adalah
adanya bercak darah ketika pasien kooperatif dan bersedia
defekasi, adanya fases yang dilakukan tindakan
lembut dan menyerupai pasta keperawatan untuk mencegah
pada rektum, darah merah segar infeksi.
keluar bersama fases. c. Gangguan mobilitas fisik
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang berhubungan dengan
dari kebutuhan tubuh. kelemahan fisik.
13

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

Kelebihan pelaksanaan rencana mengatakan nyerinya


tindakan ini adalah pasien berkurang sampai hilang,
kooperatif dan bersedia tidak merasa nyeri saat
dilakukan tindakan mobilisasi, tanda vital dalam
keperawatan untuk batas normal. Masalah teratasi
mempertahankan aktivitas sebagian dan tindakan tetap
sesuai dengan kemampuan dipertahankan yaitu relaksasi
yang bisa. progesif saat nyeri timbul.
2. Kelemahan/factor penghambat b. Resiko infeksi berhubungan
a. Nyeri akut berhubungan dengan dengan trauma jaringan.
agen cidera biologi. Evaluasi Pasien mengatakan
Kelemahan pelaksanaan tindakan sudah berani membersihkan
ini adalah pasien tidak daerah perineum, setiap habis
bersungguh-sungguh BAK maupun BAB dan
dikarenakan rasa nyeri yang mandi pasien membersihkan
hilang timbul perineum, luka perineum
b. Resiko infeksi berhubungan tampak bersih dan kering. Hal
dengan trauma jaringan. ini sesuai dengan kriteria hasil
Kelemahan dari pelaksanaan yaitu tidak terdapat tanda-
rencana tindakan ini adalah tanda infeksi. Masalah sudah
diharapkan kehati-hatian yang teratasi, anjurkan pasien untuk
tinggi agar tidak terjadi cros melakukan perawatan
infeksi. perineum mandiri
c. Gangguan mobilitas fisik c. Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan kelemahan berhubungan dengan
fisik. kelemahan fisik.
Kelemahan dari pelaksanaan Evaluasi Pasien mengatakan
rencana tindakan ini adalah sudah bisa melakukan
diharapkan agar mampu aktivitas sehari-hari secara
melakukan kegiatan secara mandiri dan tidak dibantu
mandiri. keluarga. Hal ini sesuai
B. Hasil Evaluasi kriteria hasil yaitu pasien
1. Perbandingan dengan KH dapat melakukan aktivitas
a. Nyeri akut berhubungan dengan miring kekanan dan
dengan agen cidera biologi. kiri. Masalah sudah teratasi,
Evaluasi yang ditemukan anjurkan pasien untuk
pasien mengatakan nyeri melakukan aktivitas secara
berkurang (nyeri ringan), mandiri.
skala nyeri 2, wajah rileks Simpulan
dan tenang, pasien mulai Sesuai dengan tujuan umum
banyak bergerak, tanda vital dan tujuan khusus, setelah
dalam batas normal hal ini melakukan asuhan keperawatan
sesuai dengan kriteria hasil selama 3x 24 jam. Penulis dapat
yaitu Skala nyeri 0-1, ibu mencapai tujuan umum yaitu
14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

penulis mampu meningkatkan DAFTAR PUSTAKA


ketrampilan, kemampuan
mengetahui, dan menerapkan Cunningham. 2013. Obstetri Williams.
asuhan keperawatan pada pasien Jakarta : EGC
post section secarea dengan indikasi
Department Kesehatan Republik
pre eklampsi berat di ruang mawar
Indonesia, Laporan Hasil Riset
1 RSDM Surakarta. Serta mencapai
Kesehatan Dasar Indonesia.
tujuan khususnya yaitu penulis
(Riskerdas).2010
mampu melakukan pengkajian,
merumuskan diagnosa keperawatan, Depkes RI, 2011, Pedoman Pematanan
menyusun rencana tindakan, Wilayah Setempat Kesehatan Ibu
melakukan tindakan keperawatan
Dan Anak (PWS-KIA),
dan mampu mengevaluasi tindakan
keperawatan pada pasien post Direktorat Jenderal Bina
section secarea dengan indikasi pre Kesehatan Masyarakat,
eklampsi berat. Direktorat Kesehatan Keluarga,
Dalam pelaksanaan asuhan Jakarta
keperawatan, diperlukan kerjasama
dari pihak yang berkompetensi baik Dutton, Densmore, Tuner. 2011.
pasien, keluarga, perawat, ataupun Rujukan Cepat Kebidanan.
petugas medis lainnya, agar pasien Jakarta : EGC
mendapat asuhan keperawatan yang
maksimal Fauziyah Y. 2012. Obstetri Patologi
Saran Untuk Mahasiswa Kebidanan
1. Bagi Ilmu Keperawatan Dan Keperawatan. Yogyakarta :
Diharapkan sebagai tambahan Nuha Medika
wacana dalam pemberian asuhan Manuaba. 2004. Kepaniteraan Klinik
keperawatan terhadap pasien Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta
dengan masalah post sectio secarea : EGC
dengan indikasi pre eklampsi berat.
2. Bagi Pembaca Nanda. 2013. Aplikasi Asuhan
Disarankan untuk memahami hal- Keperawatan Berdasarkan
hal yang berkaitan dengan post Diagnosa Medis Dan Nanda NIC
sectio secarea dengan indikasi pre NOC. Yogyakarta : Media
eklampsi berat , sehingga dapat Action
dilakukan upaya-upaya yang
bermanfaat untuk menghindari Norwitz dan Schorge. 2008 . At a
kasus diatas. Glance Obstetri dan Ginekologi.
3. Bagi Rumah Sakit Jakarta : Erlangga
Disarankan dapat meningkatkan
mutu dan kualitas tindakan medis Nugroho T. 2012. Obsgyn Obstetri
Dan Ginekologi Untuk
keperawatan khususnya dalam
masalah post sectio secarea dengan Mahasiswa Kebidanan Dan
indikasi pre eklampsi berat.
15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F P1A0 POST SECTIO SECAREA DENGAN


INDIKASI PRE EKLAMPSI BERAT DI RUANG MAWAR 1
RSDM SURAKARTA (ANNA AMANIA KHUSNAYAIN)

Keperawatan . Yogyakarta :
Nuha Medika
Robson dan Waugh (ed) .2012.
Patologi Pada Kehamilan
Manajemen Dan Asuhan
Kebidanan. Jakarta : EGC
Silomba, Wantania, Kaeng. 2013.
Karakteristik dan luaran pre
eklampsi di RSUP PROF. Dr.
RD. Kandau Manado. Volume 1.
Nomor 1.