Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU

MACAM-MACAM PEMERIKSAAN EKSUDAT DAN


TRANSUDAT

OLEH
I NYOMAN BAGUS AJI KRESNAPATI
NIM. P07134013017

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN MATARAM
2014
Transudat adalah cairan dalam ruang interstitial yang terjadi hanya sebagai akibat
tekanan hidrostatik atau turunnya protein plasma intravascular yang meningkat (tidak
disebabkan proses peradangan/inflamasi).Berat jenis transudat pada umumnya kurang dari
1.012 yang mencerminkan kandungan protein yang rendah. Contoh transudat terdapat pada
wanita hamil dimana terjadi penekanan dalam cairan tubuh.

Eksudat adalah cairan radang ekstravaskular dengan berat jenis tinggi (diatas 1.020)
dan seringkali mengandung protein 2-4 mg % serta sel-sel darah putih yang melakukan
emigrasi.Cairan ini tertimbun sebagai akibat permeabilitas vascular (yang memungkinkan
protein plasma dengan molekul besar dapat terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik
intravascular sebagai akibat aliran lokal yang meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit
leukosit yang menyebabkan emigrasinya.

Ciri-ciri transudat spesifik, yaitu :


a. cairan jernih
b. encer
c. kuning muda
d. berat jenis mendekati 1010 atau setidak-tidaknya kurang dari 1018
e. tidak menyusun bekuan (tak ada fibrinogen)
f. kadar protein kurang dari 2,5gr/dl
g. kadar glukosa kira-kira sama seperti dalam plasma darah
h. jumlah sel kecil dan bersifat steril

Ciri-ciri exudat spesifik, yaitu :


1. keruh (mungkin berkeping-keping, purulent, mengandung darah, chyloid, dsb)
2. lebih kental
3. warna bermacam-macam
4. berat jenis lebih dari 1018
5. sering ada bekuan (oleh fibrinogen)
6. kadar protein lebih dari 4,0gr/dl
7. kadar glukosa jauh kurang dari kadar dalam plasma
8. mengandung banyak sel dan seringa ada bakteri

Perbedaan cairan transudat dan eksudat


Transudat Eksudat
Bukan proses radang merupakan proses radang
Bakteri (-) bakteri (+)
Warna kuning muda warna sesuai penyebabnya
Jernih dan encer keruh dan kental
Tidak menyusun bekuan menyusun bekuan
Fibrinogen (-) fibrinogen (+)
Jumlah leukosit <500 sel/l jumlah leukosit >500 sel/l
Kadar protein < 2,5g/dl kadar protein > 2,5g/dl
Kadar glukosa sama dengan plasma Kadar glukosa lebih kecil dari plasma
darah darah
Zat lemak (-) zat lemak (+)
Bj 1006 1015 1018 - 1030

Pemeriksaan untuk transudat dan eksudat terbagi menjadi 4 macam, yaitu :


a. pemeriksaan makroskopis
b. pemeriksaan mikroskopis
c. pemeriksaan kimia
d. pemeriksaan bakterioskopi

a. Pemeriksaan Mikroskopis
1. Hitung Jumlah Sel Lekosit
Metode : Kamar hitung Improved Neubauer atau Fuchs Rosenthal.
Tujuan : Untuk menghitung jumlah sel lekosit dalam cairan dan mengetahui bahwa sampel
cairan tubuh tersebut transudat atau eksudat.
Prinsip : Jumlah sel lekosit dihitung berdasarkan pengenceran dalam larutan Pengencer dan
jumlah sel dalam cairan dalam kamar hitung.
Alat :
1. Mikroskop
2. Kamar Hitung Improved Neubauer
3. Pipet Lekosit
4. Kaca Penutup
Reagensia :
1. Larutan pengencer NaCl 0,9 %
2. Antikoagulan Natrium Citrat atau Heparin steril.
Bahan Pemeriksaan : Berupa Cairan yang berasal dari rongga perut, pleura, pericardium,
sendi, kista, hydrocele, dsb yang didapat dengan mengadakan pungsi.
Prosedur Kerja :
1. Sampel didapat dengan mengadakan pungsi dan campur dengan antikoagulan.
2. Kocok dahulu sampel yang akan diperiksa supaya homogen.
3. Pipet NaCl 0,9 % dengan pipet lekosit sampai tanda 1 tepat.
4. Pipet sampel sampai tanda 11 tepat.
5. Kocok agar sampel dan larutan tercampur sempurna minimal 3 X selama +3 menit dengan
putaran membentuk angka 8.
6. Bila segera dihitung buang beberapa tetes larutan dan teteskan pada kamar hitung.
Biarkan mengendap 2-3 menit. Dan hitung didalam kamar hitung di bawah mikroskop.
Dengan pembesaran sedang (10 X 45), sebanyak 4 kotak besar.
Perhitungan :
Jumlah sel lekosit dalam 9 kotak = a
Luas permukaan : 3 x 3 mm2 = 9 mm2
Dalam : 0,2 mm
Isi : 9 x 0,1 mm3 = 0,9 mm
Dalam 1 mm3 terdapat : 10/9 x a sel
Pengenceran : 10/9 kali
Jadi jumlah sel/1 mm3 = 10/9 x 10/9 x a sel
= 100/81 x a sel
= 5/4 x a sel

B. Hitung Jenis Sel Lekosit.


Metode : Giemsa atau Wright Stain
Prinsip : Endapan cairan dibuat hapusan, kemudian diwarnai dengan pewarnaan tertentu
(Giemsa/Wright) maka sel lekosit akan mengambil warna zat.Lalu dihitung dibawah
mikroskop dengan pembesaran 1000X dalam 100 % sel lekosit.
Tujuan : Untuk mengetahui jenis sel lekosit dalam cairan/sampel, sehingga dapat
menentukan jenis cairan tersebut (transudat/eksudat).
Alat :
1. Objek glass
2. Pipet tetes
3. Pipet ukur
4. Gelas ukur
5. Rak pewarnaan
6. Mikroskop
Reagensia :
1. Giemsa
2. Wright
3. Buffer phospat pH 7,2 :
Prosedur Kerja :
1. Sediaan apus dibuat dengan cara yang berlain-lainan tergantung sifat cairan itu:
- Jika cairan jernih, sehingga diperkirakan tidak mengandung banyak sel, pusinglah 10
Sampai 15 ml sampel 1500 rpm selama 10 menit
- cairan atas dibuang dan sediment dicampur dengan beberapa tetes serum penderita
sendiri. lalu dibuat hapusan.
- Kalau cairan keruh sekali atau purulent, dibuat sediaan apus langsung memakai bahan itu.
Jika terdapat bekuan dalam cairan, bekuan itulah yang dipakai untuk membuat sediaan tipis.
2. Difiksasi dengan metanol selama 2 menit, buang, cuci dengan aquades
3. Digenangi dengan zat warna Giemsa atau Wright selama 15 menit, buang sisa zat warna
dan cuci dengan aquades, keringkan diudara.
4. Dihitung jenis sel atas 100-300 sel, di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 X

Hasil : Transudat : Hanya sel mononuklear (limposit)


Eksudat : Ditemukan sel mononukleaar dan polimorfonuklear/ segmen

Catatan :
Hitung jenis ini hanya untuk membedakan limposit dan segmen.
b. Pemeriksaan Kimia

Pemeriksaan kimia biasanya dibatasi saja kepada kadar glukosa dan protein dalam
cairan itu. Alasannya ialah cairan rongga dalam keadaan normal mempunyai susunan
yag praktis serupa dengan susunan plasma darah tanpa albumin dan globulin-
globulin. Transudat mempunyai kadar glukosa sama seperti plasma, sedangakan
exudat itu megandung banyak leukosit.

Protein dalam transudat dan exudat praktis hanya fibrinogen saja, dalam transudat
kadar fibrinogen rendah, yakni antara 300-400 mg/dl dan dalam exudat kadar protein
itu 4-6 gr/dl atau lebih tinggi lagi.

1. Percobaan Rivalta
Cara:
a. ke dalam silinder 100 ml dimsukkan 100 ml aquadest.
b. tambahkan 1 tetes asam acetate glacial dan campurkanlah.
c. teteskan 1 tetes cairan yang diperiksa ke dalam campuran ini,
dilepaskan kira-kira 1 cm dari atas permukaan.
d. perhatikanlah tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan cairan
yang mengandung asam acetat. Ada tiga kemungkinan, yaitu :

Catatan :
Hasil positif didapat pada cairan yang bersifat exudat, transudat
biasanya menjadikan test ini positif lemah.

2. Kadar Protein
Cara:
a. tetapkan lebih dahulu berat jenis cairan itu.
b. kalau berat jenis 1010 atau kurang, adakanlah pengenceran 10 kali,
kalau berat jenis lebih dari 1010 buatlah pengenceran 20 kali.
c. lakukanlah penetapan menurut Esbach dengan cairan yang telah
diencerkan itu, dalam memperhitungkan hasil terakhir ingatlah
pengenceran yant tadi dibuat.

Catatan
Pengenceran yang diadakan itu bermaksud agar kadar protein dalam
cairan yang diencerkan mendekati nilai 4gr/liter. Dari berat jenis cairan
bersangkutan juga sudah dapat didekati nilai protein dengan memakai
rumus :

(berat jenis 1,007) x 343 = gr protein /100 ml cairan


3. Zat Lemak
Cara :
a. berilah larutan NaOH 0,1 N kepda cairan sehingga menjadi lindi.
b. lakukanlah extraksi dengan eter. Jika cairan itu menjadi jernih,
putihnya disebabkan oleh chylus.
c. jika tidak menjadi jernih, putihnya mungkin disebabkan oleh lecithin
dalam keadaan emulsi. Untuk menyatakan lecithin dilakukan test
sbb, yaitu :
1. encerkanlah cairan itu 5x dengan etil alkohol 95%
2. panasilah berhati-hati dalam bejana air, kalau cairan itu
menjadi jernih, putihnya disebabkan oleh lecithin
3. saringlah cairan yang telah menjadi jernih itu dalam keadaan
masih panas
4. filtratnya ditampung dan diuapkan di atas air panas sampai
volume menjadi besar semula (sebelum diberi etilalkohol)
dan biarkan menjadi dingin lagi
5. kalau menjadi keruh lagi, adanya lecithin terbukti, kekruhan
itu bertambah kalau diberi sedikit air

c. Pemeriksaan Bakteriologi

Metode : Gram
Prinsip : Bakteri gram (+) akan mengikat warna ungu dari carbol gentian violet dan
akan diperkuat oleh lugol sehingga pada saat pelunturan dengan alkohol 96 % warna
ungu tidak akan luntur, sedangkan gram (-) akan Luntur oleh alkohol dan mengambil
warna merah dari fuksin
Tujuan : Untuk mengetahui adanya kumankuman dalam sampel sehingga dapat
menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat
Prosedur Kerja :
1. Setetes sampel disentrifuge dibuat hapusan diatas objekglass, dan dikeringkan.
2. Diwarnai dengan karbol gentian violet selama 3 menit, dicuci
3. Ditambah lugol selama 1 menit, dicuci
4. Ditambah alkohol 96 %selama 30 detik, dicuci
5. Ditambah air fuchsin selama 2 menit, dicuci dan dikeringkan
6. Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000

d. TES SEROLOGI
1. Tes Faktor Rematoid (RF)
PRA ANALITIK
Persiapan sampel : gunakan sampel segar yang telah disentrifus terlebih
dahulu.
Prinsip tes : faktor rematoid dapat dideteksi dengan menggunakan suspensi
granula plastik yang dilapisi gamma globulin manusia dan akan beraglutinasi jika
ada faktor rematoid
Alat dan bahan :
Stirrers
Aglutination slide
reagen lateks RA
Kontrol positif
Kontrol negative

ANALITIK
Cara kerja (metode kualitatif) :
Kocok perlahan reagen lateks sampai partikel - partikelnya tercampur.
Tempatkan 1 tetes ke dalam lingkaran slide
Tambahakan 1 tetes reagen lateks di samping tetesan sampel
Campurkan secara merata sampel denganreagen lateks dengan ujung pipet
sampai batas lingkaran slide
Goyangkan perlahan-lahan slide ke depan dan ke belakang setiap 2 detik
selama 2 menit
Konfirmasi tes dengan kontrol positif atau kontral negatif
Lihat apakah ada aglutinasi yang terjadi atau tidak.
Nilai rujukan :
Aglutinasi + : kadar RF > 8 IU/ml
Aglutinasi - : kadar RF < 8 IU/ml

PASCA ANALITIK
Interpretasi :
RF + : sekitar >60% ditemukan dalam cairan sendi atau serum penderita AR.
RF positif palsu : dapat ditemukan pada penyakit lain seperti SLE, hepatitis,
sirosis, limfoma, skleroderma dan penyakit karena infeksi.

2. Tes C- Reactive Protein (CRP)


PRA ANALITIK
Persiapan sampel : gunakan sampel segar yang telah disentrifus
Prinsip tes :
Reaksi aglutinasi terjadi akibat adanya inflamasi atau nekrosis jaringan.
Alat dan bahan :
Stirrers
Agglutination slide
reagen lateks CRP
Kontrol positif
Kontrol negative

ANALITIK
Cara kerja (metode kualitatif) :
Kocok perlahan reagen lateks sampai partikel-partikelnya tercampur.
Tempatkan 1 tetes sampel ke dalam lingkaran slide
Tambahkan 1 tetes reagen lateks di samping tetesan sampel
Campurkan secara merata sampel dan reagen lateks dengan ujung pipet
sampai batas lingkaran slide.
Goyangkan perlahan-lahan slide ke depan dan ke belakang setiap 2
detik selama 2 menit
Komfirmasi tes dengan kontrol positif dan kontrol negatif
Lihat hasilnya, apakah ada aglutinasi atau tidak.
Nilai rujukan :
Aglutinasi + : kadar CRP > 6 mg/l
Aglutinasi - : kadar CRP < 6 mg/I

PASCA ANALITIK
Interpretasi :
Aglutinasi + atau kadarnya meningkat pada RA aktif (pada 7080%penderita),
demam rematik keganasan, infeksi virus, tuberkulosis, kerusakan jaringan
inflamasi

3. Tes Antinuclear Antibodies (ANA)


PRA ANALITIK
Persiapan sampel
Larutkan semua sampel, kalibrator, kontrol positif dan kontrol negatif 1:40 yaitu
dengan menambah 10 l sampel dengan 400 ul larutan pengencer.
Prinsip tes :
Antigen murni terdapat pada microwells. Jika ada antibodi ANAs dalam sampel,
maka akan terikat pada microwells . Pencucian microwells akan melepaskan
antibodi yang tidak terikat. Horseradish peroksidase conjugated anti-human IgG
akan berikatan dengan antibodi yang telah terikat tadi membentuk enzyme
conjugate - antibody-antigen sandwich. Pencucian microwells melepaskan
conjugated yang tidak terikat. Conjugated akan menghidrolisa larutan substrat
yang telah ditambah dan akan membentuk warna biru.
Alat dan bahan :
Microplate reader
Microplate washer
Film plastik
Deiodinized water
Deiodinized water
Pipet mikro 10u1 dan 100u1
Graduate cylinders 1 dan 4 L
Tabung tes 1, 4, 5 ml
Reagen:
Sumur-sumur reaksi (microtiter wells yang dilapisi nuclear antigen murni
Pengencer sampel (buffer dengan <0,1% sodium azide)
Kalibrator (serum manusia dengan antibodi ANA)
Kontrol set (serum positif dan negatif manusia terhadap antibodi ANA)
Conjugated (Anti-human IgG horseradish peroxidase conjugate kambing dalam
Larutan buffer
Substrat TMB dalam buffer
stop solution (mengandung sulfur dan asam hidroklorik)
Wash concentrate (buffer)

ANALITIK
Cara kerja
Semua reagen dan sampel di tempatkan pada suhu ruangan (1825C)
sebelum dimulai. Pasang angka microwells sesuai yang diinginkan ke dalam strip
holder.
Pipet 100 l larutan pengencer sampel ke dalam sumur pertama sebagai
blanko. pipet 100 l kalibrator, kontrol dan sampel pasien yang telah diencerkan
ke dalam sumur-sumur yang telah ditentukan. Ketuk perlahan-lahan wadahnya.
Tutupi piring dengan film plastik dan inkubasi selama 30 menit pada suhu 18-
25 C.
Buang isi sumur-sumur dan cuci 5 kali dengan 200 l larutan pencuci.
Keringkan seluruhnya setiap selesai pencucian.
Tambahkan 100 l conjugated pada setiap sumur. Ketuk perlahanlahan
wadahnya. Tutupi wadah dengan film plastik dan inkubasi selama 30 menit
pada suhu 18- 25C.
Buanglah isi sumur-sumur dan cuci 5 kali dengan 200 l larutan
pencuci.Keringkan seluruhnya setiap selesai pencucian.
Tambahkan 100 l substrat pada setiap sumur. Ketuk perlahan-lahan
wadahnya. Tutupi wadah dengan film plastik dan inkubasi selama 30 menit
pada suhu 18- 250C.
Segera setelah inkubasi, tambahkan 100 ul stop solusion pada masingmasing
sumur. Campur reagen tersebut dengan cara mengetuk-ngetuk secara perlahan
wadahnya.
Dengan panjang gelombang 450 nm, nolkan reader terhadap sampel diluent
blank (densitas optikal (OD) sampel diluent blank harus kurang dari 0,20 OD).
Nilai harus dibaca dalam waktu 30 menit setelah penambahan stop solution.
Nilai rujukan :
Jumlah ANA <1 : negatif
Jumlah ANA >1 : positif
PASCA ANALITIK
Interpretasi :
Jumlah ANA >1 : >70% ditemukan dalam cairan sendi penderita SLE dan > 20%
pada penderita RA.