Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Benjolan pada seseorang tidak selalu berkonotasi jelek., tetapi jika benjolan
itu terdapat pada bagian tubuh yang tak semestinya, tentu harus diwaspadai, jangan-
jangan itu merupakan pertanda awal terjadinya kanker tulang.
Metastasis juga dapat terjadi melalui penyebaran langsung. Apabila sel
kanker melalui aliran limfe, maka sel-sel tersebut dapat terperangkap di dalam
kelenjar limfe, biasanya yang terdekat dengan lokasi primernya. Apabila sel
berjalan melalui peredaran darah, maka sel-sel tersebut dapat menyebar ke seluruh
tubuh, mulai tumbuh, dan membentuk tumor baru. Proses ini disebut metastasis.
Tulang adalah salah satu organ target yang paling sering menjadi tempat metastasis.
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer
yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang
paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama
lutut.(Price, 1962:1213)
Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun
jumlah penderita kanker 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100
penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk
220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di
Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat
650 anak yang menderita kanker per tahun.
Menurut Errol Untung Hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah
Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat
455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan
128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma
merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor
tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor
tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita

1
kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar
75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis.
Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut
sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka
tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat
menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti
kemotherapy.
Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15
25 tahun (pada usia pertumbuhan). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur
15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi
pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki.
Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui. (Smeltzer. 2001: 2347).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Carsinoma Tulang ?
2. Apa saja etiologi dari Carsinoma Tulang?
3. Apa saja klasifikasi dari Carsinoma Tulang?
4. Bagaimana patofisiologi Carsinoma Tulang?
5. Bagaimana manifestasi klinis pada Carsinoma Tulang?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada Casrsinoma Tulang?
7. Bagiamana penatalaksanaan pada Carsinoma Tulang?
8. Bagaiaman konsep proses asuhan keperawatan pada pasien dengan
Carsinoma Tulang?

C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui dan memahami arti dari Carcinoma Tulang.
2. Mengetahui dan memahami etiologi dari Carsinoma Tulang.
3. Mengetahui dan memahami klasifikasi dari Carsinoma Tulang.
4. Mengetahui dan memahami patofisiologi dari Carsinoma Tulang.

2
5. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis pada psaien dengan Carsinoma
Tulang.
6. Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang dari Carsinoma Tulang.
7. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan pada pasien dengan Carsinoma
Tulang.
8. Mengetahui dan memahami konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan
Carsinoma Tulang.

D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Teoritis
a. Mamberikan wawasam tentang Carsinoma Tulang kepada masyarakat.
b. Memberikan masukan kepada pengelola pendidikan keperawatan untuk lebih
mengenalkan askep Carsinoma Tulang kepada peserta didiknya.
c. Sebagai wacana untuk penelitian selanjutnya dibidang keperawatan
khususnya yang berkaitan dengan masalah system
2. Bagi Praktisi
a. Sebagai wacana dalam menambah ilmu pengethauan dalam masukan/
pertimbangan dalam membuat standar prosedur dalam melaksanakan
tindakan keperawatan pada anak dengan Carsinoma Tulang guna untuk
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan pengurangan derajat
penderita Carsinoma Tulang di Indonesia.
b. Menumbuhkan motivasi bagi tenaga pelaksana untuk menambah
pengetahuan, keahlian dan peran dalam masalah muskuloskeletal seperti
Carsinoma Tulang.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang
menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam
tubuh.(Wong.2003: 595).
Carsinoma tulang adalah pertumbuhan jaringan baru yang terus menerus
secara cepat dan pertimbangannya tidak terkendali. Kanker dapat berasal dari dalam
tulang juga timbul dari jaringan atau dari sel- sel kartilago yang berhubungan
dengan epiphipisis atau dari unsur-unsur pembentuk darah yang terdapat pada
sumsum tulang.
Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor yang muncul dari
mesenkim pembentuk tulang. (Wong. 2003: 616).
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer
yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling
sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama
lutut.(Price. 1998: 1213).
Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) merupakan tulang primer maligna yang
paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru.
Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar
ke paru ketika pasien pertama kali berobat.(Smeltzer. 2001: 2347).
Osteosakroma merupakan kanker tulang primer yang paling sering terjadi
pada individu muda sampai usia 30 tahun dan sedikit lebih sering terjadi pada anak
laki-laki dan pria dari pada anak perempuan dan wanita dengan rasio
1,5:1.(Souhami & Tobias,1986)
Insiden puncak terjadi sekitar usia 14 tahun dan cenderung terjadi pada
individu dewasa yang mengalami penyakit Paget, yang mengindikasikan adanya
kaitan dengan peningkatan aktivitas tulang (Schwartz & Tobias,1986).

4
Sekitar 10-20% pasien telah mengalami metastasis ke paru pada saat
didiagnosis (Lewis,1996), hal ini mempengaruhi prognosis mereka secara
signifikan.
Walaupun nyeri sering dikeluhkan, studi yang dilakukan oleh Grimer &
Sneath (1990) menunjukkan bahwa, rata-rata, pasien yang mengalami
osteosarkoma menunggu 6 minggu sebelum mereka meminta advis dokter umum.
Selain itu, mereka juga merasakan nyeri selama 7 minggu kemudian sebelum
diagnosisi ditegakkan.

B. Etiologi
Di 1969, Dr. Joseph Fraumeni melihat kelompok-kelompok keluarga dengan
jumlah yang lebih tinggi dari kanker pada anak dan dewasa awal kanker onset.
Dengan bantuan Dr. Frederick Li, mereka menemukan angka peningkatan sarkoma,
leukemia, kanker adrenal, dan kanker payudara dalam keluarga ini daripada
biasanya akan diharapkan. Ini sindrom kanker familial akhirnya dikenal sebagai
Li-Fraumeni Syndrome. Di 1990 peneliti menemukan bahwa LFS paling sering
disebabkan oleh mutasi gen pada gen supresor tumor p53. Ketika gen p53 ini
bermutasi, itu tidak bekerja dengan baik untuk menghentikan pertumbuhan sel
tumor dan mengembangkan. LFS diagnosis juga dapat hasil dari mutasi Chk2.
Kanker yang berhubungan dengan LFS termasuk:
1. Kanker adrenocortical
2. tumor otak
3. sarkoma jaringan lunak
4. osteosarcoma
5. kanker payudara genetic
6. leukemia genetic
7. limfoma
8. glioblastoma
9. rhabdomyosarcoma

5
Dahulu osteosarkoma rahang sering terjadi pada pekerja yang mengecat
lempeng dengan bahan yang berkilau karena mereka mengingesti radium saat
membasahi kuas lukis dengan mulut (Ross Bell, 1994, Souhami &Tobis, 1986).
Adapun etiologi lain dari carsinoma tulang yaitu :
1. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi.
2. Keturunan
3. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat
pajanan radiasi). Penyakit Paget adalah kelainan langka tulang yang
mempengaruhi laju pembentukan dan kehancuran dari berbagai tulang
kerangka. Hal ini umum di orang tua dan orang-orang dari keturunan Eropa.
Tepat penyebab kondisi ini tidak jelas. Dalam penyakit Paget osteoclasts
menjadi lebih aktif daripada Osteoblas membuat perbedaan antara tulang
breakdown dan formasi. Ini berarti bahwa ada lebih banyak kerusakan tulang
dari biasanya. Osteoblas mencoba untuk menjaga dengan membuat tulang
baru. Seluruh proses menjadi kacau menuju pembentukan tulang cacat yang
besar, misshapen, dan padat, sementara semua sementara lemah dan rapuh
dan mudah untuk fraktur membungkuk atau menekuk karena tekanan. Tulang
cacat, dan cocok bersama-sama sembarangan. Tulang normal ketika dilihat di
bawah mikroskop menunjukkan struktur tumpang tindih yang ketat yang
muncul sebagai dinding batu bata. Dalam penyakit Paget ada pola mosaik
yang tidak teratur, seolah-olah batu bata hanya berkumpul dan meninggalkan
bersama sembarangan.
4. Virus onkogenik
Virus ini merupakan salah satu pemicu terjadinya kanker. Virus onkogenik
adalah virus yang dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang mempengaruhi
proses onkogenesis. Onkogenesis adalah hasil akumulasi berbagai perubahan
genetik yang mengubah ekspresi atau fungsi protein yang penting dalam
pengendalian pertumbuhan dan pembelahan sel. Virus onkogenik saat menginfeksi
sel dapat menyebabkan mutasi proto-onkogen sel menjadi onkogen.

6
Proto-onkogen adalah gen normal sel yang dapat berubah menjadi onkogen
aktif karena terjadinya mutasi atau mengalami ekspresi yang berlebihan
(menghasilkan onkoprotein dalam jumlah berlebihan).
Onkogen adalah istilah untuk gen yang bisa menginduksi satu atau beberapa
sifat karakteristik sel kanker. Gen tersebut dapat berupa gen virus atau gen sel yang
bila dimasukkan ke dalam sel yang sesuai, secara sendiri atau bersama gen lain
dapat merubah sifat sel normal menjadi sifat sel ganas.
Gen Pengendali Tumor (Tumor Supressor Gene) adalah gen yang bila
mengalami inaktivasi (menjadi tidak aktif) akan menyebabkan pembentukan tumor.
Tumor adalah istilah untuk perbanyakan sel yang tidak normal. Kanker adalah
sebutan untuk tumor yang ganas.
(Smeltzer. 2001: 2347).

C. Patofisiologi
Keganasan sel pada mulanya berlokasi pada sumsum tulang (myeloma) dari
jaringan sel tulang (sarkoma) atau tumor tulang (carsinomas). Pada tahap
selanjutnya sel-sel tulang akan berada pada nodul-nodul limpa, hati limfe dan
ginjal. Akibat adanya pengaruh aktivitas hematopoetik sumsum tulang yang cepat
pada tulang, sel-sel plasma yang belum matang / tidak matang akan terus
membelah. Akhirnya terjadi penambahan jumlah sel yang tidak terkontrol lagi.
Osteogeniksarcoma sering terdapat pada pria usia 10-25 tahun, terutama pada
pasien yang menderita penyakit pagets. hal ini dimanifestasikan dengan nyeri
bengkak, terbatasnya pergerakan serta menurunnya berat badan. Gejala nyeri pada
punggung bawah merupakan gejala yang khas, hal ini disebabkan karena adanya
penekanan pada vertebra oleh fraktur tulang patologik. Anemia dapat terjadi akibat
adanya penempatan sel-sel neoplasma. Pada sumsum tulang hal ini menyebabkan
terjadinya hiperkalsemia, hiperkalsuria dan hiperurisemia selama adanya kerusakan
tulang. Sel-sel plasma ganas akan membentuk sejumlah immunoglobulin / bence
jones protein abnormal. Hal ini dapat dideteksi dalam serum urin dengan teknik
immunoelektrophoesis. Gejala gagal ginjal dapat terjadi selama presitipasi
immunoglobulin dalam tubulus (pada pyelonephritis), hiperkalsemia, peningkatan

7
asam urat, infiltrasi ginjal oleh plasma sel (myeloma ginjal) dan thrombosis pada
pena ginjal.
Kecederungan patologik perdarahan merupakan ciri-ciri myeloma dengan
dua alasan utama, yaitu :
1. Penurunan platelet (thrombositopenia) selama adanya kerusakan
megakaryosit, yang merupakan sel-sel induk dalam sel-sel tulang.
2. Tidak berfungsinya platelets, microglobin menghalangi elemen-elemen dan
turut serta dalam fungsi hemostatik.

8
WOC

9
D. Klasifikasi
Jaringan Asal Tumor Jinak Tumor Ganas

Osteoid osteoma Osteosarkoma

Osteoblastoma
Tulang
Kista tulang

Aneurisme

Osteokondroma Kondrosarkoma

Kartilago Kondroma

Enkondroma

Fibrosa Fibroma Fibrosakroma

Sumsum Myeloma

Tumor sel raksasa Sarcoma ewing

Histiositoma Histiositoma
Tidak jelas
Fibrosa jinak Fibrosa ganas

Klasifikasi Tumor Tulang terdiri dari :


1. Tumor tulang benigna
Tumor tulang benigna biasanya tumbuh lambat dan berbatas tegas, gejalanya
sedikit dan tidak menyebabkan kematian. Tumor tulang benigna terdiri atas :
a. Osteoma, berasal dari jaringan tulang sejati yang relative jarang terjadi,
biasanya timbul pada tulang membranosa tengkorak.
b. Chondroma, sering terjadi pada tulang panjang, misalnya pada lengan
kadang-kadang terdapat pada tulang datar seperti tulang ileum.
c. Osteohondroma, bukan neoplasma sejati, berasal dari sel-sel yang tertinggal
pada permukaan tulang, lapisan kartilago pada osteochondroma dapat
mengalami transformasi maligna setelah trauma dan dapat terjadi
chondrosarkoma.

10
2. Tumor tulang maligna
Tumor tulang maligna sekunder yaitu berasal dari metaste tumor, misalnya
tumor payudara, bronkus, prostat dan ginjal. Contoh dari tumor maligna sekunder
adalah osteosarkoma dan osteogeniksarkoma.
Tumor tulang maligna terdiri dari :
a. Osteosarkoma
Osteosarkoma merupakan kanker tulang primer yang sering terjadi pada
individu muda sampai usia 30 tahun dan sedikit lebih sering terjadi pada anak laki-
laki dan pria dari pada anak perempuan dan wanita, dengan rasio 1,5 : 1 (Souhami
& Tobias, 1986). Insiden puncak terjadi sekitar usia 14 tahun dan cenderung pada
individu muda yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata individu seusia mereka.
Tumor ini juga terjadi pada individu biasa yang mengalami penyakit paget, yang
mengdindikasikan adanya peningkatan aktifitas tulang (Schwartz et al,1993).
Osteosarkoma terjadi sebesar 3-4% dari kasus keganasan masa kanak-kanak dengan
sekitar 150 kasus dan kasus baru yang didiagnosis di Inggris setiap tahun (Souhami
& Tobias,1986).
Ada lima jenis osteosarkoma yang utama: osteoblastik, kondroblastik,
fibroblastic, campuran dan telangiektatik (OSullivan & Saxton,1997). Tumor
terjadi pada metastasis tulang tempat pertumbuhan lebih aktif. Mayoritas terlihat
pada ekstremitas bawah, khususnya pada femur distal dan tibia proximal degan
tempat lainnya yang sering adalah humerus proksimal, femur proximal, dan pelvis.
Sekitar 10-20% pasien telah mengalami metastasis ke paru pada saat didiagnosis
(Lewis,1996) : hal ini mempengaruhi prognosis mereka secara signifikan.
Walaupun nyeri sering dikeluhkan, studi yang dilakukan Grimer dan Sneath (1990)
menyebutkan bahwa, rata-rata pasien mengalami osteosarkoma menunggu 6
minggu sebelum mereka meminta advis dokter umum. Selain itu, mereka juga
merasakan nyeri selama 7 minggu kemudian sebelum diagnosis ditegakkan.
Etiologi dari osteosarkoma adalah pasien yang mengalami retinoblastoma
herediter beresiko mengalami osteosarkoma sebagai tumor sekunder, yang
mengindikasikan predisposisi genetic pada penyakit ini (Jurgens et al, 1992).

11
Retinoblastoma adalah suatu keganasan intraokular primer yang paling sering
pada bayi dan anak dan merupakan tumor neuroblastik yang secara biologi mirip
dengan neuroblastoma dan meduloblastoma (Skuta et al. 2011). Retinoblastoma
disebabkan oleh mutasi gen RB1, yang terletak pada lengan panjang kromosom 13
pada locus 14 (13q14) dan kode protein pRB, yang berfungsi supresor pembentukan
tumor.
Etiologi osteosarkoma belum diketahui secara pasti, tetapi ada berbagai
macam faktor predisposisi sebagai penyebab osteosarkoma. Adapun faktor
predisposisi yang dapat menyebabkan osteosarkoma antara lain:
1) Trauma
Osteosarkoma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah
terjadinya trauma. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai
penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah
jarang menyebabkan osteosarkoma.
2) Ekstrinsik karsinogenik
Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis
juga diduga merupakan penyebab terjadinya osteosarkoma ini.
3) Karsinogenik kimia
Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita tuberkulosis
mengakibatkan 14 dari 53 pasien berkembang menjadi osteosarkoma.
4) Virus
Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan osteosarkoma baru
dilakukan pada hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan onkogenik
virus pada osteosarkoma manusia tidak berhasil. Walaupun beberapa laporan
menyatakan adanya partikel seperti virus pada sel osteosarkoma dalam kultur
jaringan.
Osteosarkoma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah
terjadinya trauma. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai
penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah
jarang menyebabkan osteosarkoma. Insiden osteosarkoma juga lebih tinggi pada
tulang yang teradiasi. Osteosarkoma merupakan salah satu tumor yang

12
teridentifikasi dalam keluarga kanker Li-Fraumeni. Pada kanker Li-Fraumeni,
terdapat awitan dini kanker payudara pada ibu dan kerabat dekat akibat mutasi garis
induk P53 (Porter et al, 1992). Li-Fraumeni sindrom adalah mewarisi gangguan
kanker herediter langka yang sangat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker
selama hidup mereka. Kadang-kadang, orang dengan LFS mengembangkan
beberapa tumor atau beberapa kanker, sering di masa kecil atau orang dewasa muda.
Sinar X dapat menunjukkan kerusakan pada korteks dan beberapa reaksi
periosteal. Baji tulang baru tumbuh pada sudut tempat periosteum terdorong dari
tulang yang disebut Segitiga Codman. Tampilan seperti sinar matahari pada tumor
tulang yang baru dapat terjadi (Gray, 1994).
Penanganan osteosarkoma yang optimum adalah kombinasi kemoterapi dan
pembedahan radikal, baik mempertahankan ekstremitas atau amputasi. Pendekatan
ini meningkatkan penatalaksanaan osteosarkoma dalah 30 tahun terakhir ini.
Dengan angka individu yang sintas sekitar 55% untuk tumor tanpa metastasis pada
saat muncul. Respon yang baik terhadap kemoterapi merupakan prognosis yang
penting ; jika 90% nekrosis tumor mencapai pada saat reseksi, sintas pasien
meningkat secara signifikan (OSullivan dan Saxon,1997). Protokol kemoterapi
percobaan dengan menggunakan kombinasi obat terus ditinjau, baik secara nasional
ataupun internasional. Untuk mencari penanganan yang optimum.
Grimer (1996) menyatakan bahwa kekambuhan local osteosarkoma cenderung
meningkat setelah pembedahan yang mempertahankan ekstremitas jika respon
pasien terhadap kemoterapi buruk. Grimer menyatakan bahwa efek kemoterapi
lebih signifikan mencegah kekambuhan dari pada tingkat pembedahan yang
dibatasi.
Osteosarkoma tidak terlalu sensitif terhadap radioterapi. Oleh sebab itu
penggunaan radioterapi dibatasi, tetapi diindikasikan pada akhir penanganan untuk
meradiasi jaringan lunak tempat tumor hanya di reseksi secara marginal. Jika
tindakan ini dilakukan disekitar sendi implant endoprostetik, dapat terjadi adhesi
yang dapat membatasi fungsi.
b. Ewingssarkoma

13
Erwings Sarkoma adalah tumor ganas yang timbul dalam sumsum tulang,
pada tulang panjang umumnya femur, tibia, fibula, humerus, ulna, vertebra,
skapula. Ewings sarcoma merupakan tumor ganas yang paling sering ke empat dan
tersering kedua pada individu muda 75% terjadi pada pasien dibawah usia 20 tahun
dengan rasio laki-laki terhadap perempuan adalah 3:2 (OSullivan & Saxton,1997).
Mayoritas pasien berkulit putih, dengan insiden terrendah pada populasi kulit hitam
afro-karidia.
Sel tumor yang agresif, kecil, bulat dan biru asalnya tidak jelas. Tumor ini
terjadi pada diafisis atau batang tulang. Walaupun dapat terjadi pada semua tulang,
tumor ini lebih sering terjadi pada femur, tibia , fibula, humerus dan pelvis.
Biasanya tumor tersebut menyebar lebih cepat ke area jaringan lunak dan lebih
ekstensif dari pada osteosarkoma (Pringle,1987). Sekitar 25% pasien mengalami
metastasis paru pada saat didiagnosis dan tumor dapat menginfiltrasi sumsum
tulang, yang secara rutin di aspirasi sebelum dilakukan penanganan.
Pasien yang mengalami sarcoma ewing dapat mengalami pireksi, sering
terjadi dimalam hari disertai keringat. Peningkatan LED (Laju Endap Darah) dan
hitung sel darah putih kemungkinan karena sifat nekrosis tumor (Dukworth,1995).
Gambaran klinis sarcoma ewing dapat menyerupai osteomielitis.
Studi sitogenik menunjukkan bahwa terjadi translokasi kromosom 22 pada
pasien yang mengalami sarcoma Ewing, hal ini juga terjadi pada pasien yang
mengalami tumor neural. Tumor neuroektodermal primitive perifer (peripheral
primitive neurectodermal tumours,PNET) saat ini dimasukkan ke dalam sarcoma
ewing, yang menunjukkan translokasi kromosom 11, PNET saat ini ditangani
dengan cara yang sama dengan sarcoma ewing. Abnormalitas sitogenik ini
didukung dengan resiko pasien sarcoma ewing mengalami osteosarkoma pada area
yang teradiasi (Schwartz et al,1993). Tidak ditunjukkan adanya keterkaitan
herediter.
Pemeriksaan sinar X sering menunjukkan pembengkakan sebagian besar
jaringan lunak dan lesi destruktif dengan tampilan seperti dimakan ngengat tanpa
pembentukan tulang baru. Mungkin ditemukan.
c. Multiple myeloma

14
Mieloma adalah tumor ganas pada sel plasma sumsum tulang. Tumor ini
dapat muncul sebagai lesi tulang tunggal, suatu plasmasitoma, tetapi yang lebih
sering, terjadi lesi multiple yang timbul dimanapun terdapat sumsum tulang merah.
Pasien umumnya berusia lebih dari 45 tahun dan mengalami gejala nyeri
tulang, nyeri tekan, kelemahan, dan anemia karena kerusakan sumsum tulang.
Terjadi fraktur patologis, khususnya pada spina karena korpus
Hasil pemeriksaan sinar X sama dengan hasil radiograf penyakit metastasis,
yang menunjukkan adanya penurunan densitas tulang. Gambaran sinar X khusus
menunjukkan area terpukul multiple pada tulang tanpa pembentukan tulang baru
disekitarnya : paling baik terlihat pada tengkorak seliain itu myeloma merupakan
penyebab tersering osteoporosis sekunder dan fraktur komfersi vertebra pada pasien
yang berusia lebih dari 45 tahun, gambaran tersebut akan terlihat pada radiograf.
Tidak ada penanganan kuratif untuk mieloma multiple. Radio terapi dan
kemoterapi dapat mengurangi nyeri dan tekanan mungkin memperpanjang sintas.
Fraktur patologis ditangani secara simtomatik dengan fiksasi internal, tetapi tulang
akan hancur, sokongan semen tulang sering diperlukan untuk menjamin fiksasi
yang baik (Apley dan soloman ,1993).
d. Fibrosarkoma
Fibrosarkoma merupakan neoplasma ganas yang berasal dari sel mesenkim,
dimana secara histology sel yang dominan adalah sel fibrosis. Pembelahan sel yang
tidak terkontrol dapat menginvasi jaringan local serta dapat bermetatase jauh ke
bagian tubuh yang lain.
Penyebab pasti dari fibrosarkoma belum diketahui, namun ada beberapa
faktor yang sering berkontribusi seperti faktor radiasi yang menyebabkan adanya
perubahan genetik oleh karena hilangnya alel, poin mutasi, dan translokasi
kromosom. Selain beberapa penyebab di atas, fraktur tulang, penyakit paget, dan
operasi patah tulang juga dapat menimbulkan fibrosarkoma sekunder.
Fibrosarkoma merupakan keganasan yang sering terjadi terutama akibat paparan
radiasi. Sebagian besar kasus mengenai usia diantaran 30-50 tahun dengan proporsi
jumlah laki-laki yang lebih dominan terkena dan jarang terjadi pada anak-anak.
Seseorang dengan riwayat infark tulang atau iradiasi merupakan faktor risiko pada

15
fibrosarkoma sekunder. Fibrosarkoma pada grade yang tinggi merupakan faktor
risiko yang signifikan untuk terjadi metastasis dan kekambuhan lokal.
e. Chondrosarkoma.
Conrdosarkoma merupakan tulang ganas primer tersering kedua. Tumor ini
terjadi pada tulang matur, dengan insiden puncak pada pasien yang berusia 40-60
tahun. Tumor tersebut berasal dari sel kartilago dengan sebagian besar area
kartilago mengalami osifikasi (sebuah proses pembentukan tulang. Pembentukan
tulang dimulai dari perkembangan jaringan penyambung seperti tulang rawan yang
berkembang menjadi tulang keras. Jaringan yang berkembang akan disisipi dengan
pembuluh darah). Ada dua bentuk kondrosarkoma :
1) Bentuk sentral yang muncul dalam tulang dari enkondroma (tumor jinak se-
sel rawan displastik yang timbul pada metafisis tulang tubular, terutama pada
tangan dan kaki).
2) Bentuk perifer yang muncul pada permukaan tulang dari osteokondroma.
Kondrosarkoma lebih sering terjadi pada pelvis dan ujung proksimal tulang
panjang (Duckworth, 1995). Tumor ini tumbuh lebih lambat dari tumor ganas
lainnya dan secara bertahap ukurannya meningkat timbul dari ujung tulang panjang
yang besar atau dari tulang pipih seperti pelvis dan skapula.
3. Kanker tulang metastatic
Tumor tulang metastatik (tumor tulang sekunder) lebih sering dari tumor
tulang maligna primer. Tumor yang muncul dari jaringan tubuh mana saja bisa
menginflasi tulang dan menyebabkan destruksi tulang lokal, dengan gejala yang
mirip dengan yang terjadi pada tumor tulang primer.
Tumor yang bermetastasis ketulang paling sering adalah karsinoma ginjal,
prostat, paru-paru, payudara, ovarium dan tiroid. Tumor metastatik paling sering
menyerang kranium, vertebra, pelvis femur dan humerus.

E. Manifestasi Klinik
1. Nyeri tulang
Nyeri tulang adalah gejala yang paling sering didapati pada proses metastasis
ke tulang dan biasanya merupakan gejala awal yang disadari oleh pasien. Nyeri

16
timbul akibat peregangan periosteum dan stimulasi saraf pada endosteum oleh
tumor. Nyeri dapat hilang-timbul dan lebih terasa pada malam hari atau waktu
beristirahat.
2. Fraktur
Adanya metastasis ke tulang dapat menyebabkan struktur tulang menjadi
lebih rapuh dan beresiko untuk mengalami fraktur. Kadang-kadang fraktur timbul
sebelum gejala-gejala lainnya. Daerah yang sering mengalami fraktur yaitu tulang-
tulang panjang di ekstremitas atas dan bawah serta vertebra.
3. Penekanan medula spinalis
Ketika terjadi proses metastasis ke vertebra, maka medulla spinalis menjadi
terdesak. Pendesakan medulla spinalis tidak hanya menimbulkan nyeri tetapi juga
parese atau mati rasa pada ekstremitas, gangguan miksi, atau mati rasa disekitar
abdomen.
4. Peninggian kadar kalsium dalam darah
Hal ini disebabkan karena tingginya pelepasan cadangan kalsium dari tulang.
Peninggian kalsium dapat menyebabkan kurang nafsu makan, mual, haus,
konstipasi, kelelahan, dan bahkan gangguan kesadaran.
5. Gejala lainnya
Apabila metastasis sampai ke sum-sum tulang, gejala yang timbul sesuai
dengan tipe sel darah yang terkena. Anemia dapat terjadi apabila mengenai sel
darah merah. Apabila sel darah putih yang terkena, maka pasien dapt dengan mudah
terjangkit infeksi.Sedangkan gangguan pada platelet, dapat menyebabkan
perdarahan.
a. Akibat riwayat trauma dan atau cidera yang berkaitan dengan olahraga yang
tidak berhubungan.
b. Peningkatan kadar fosfate alkalis serum.
c. Keterbatasan gerak.
d. Kehilangan berat badan.
e. Peningkatan suhu kulit diatas masa dan ketegangan vena.
f. Lesi primer dapat mengenai semua tulang.
g. Malaise

17
h. Demam

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto tulang konvensional
Foto tulang konvensional digunakan untuk menentukan karakter metastasis
ke tulang.
2. Gambaran CT-Scan
CT scan digunakan untuk mengevaluasi abnormalitas pada tulang yang susah
atau tidak dapat ditemukan dengan X-Ray dan untuk menentukan luasnya tumor
atau keterlibatan jaringan 7.
3. MRI
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan MRI untuk
mendeteksi suatu metastasis lebih sensitif daripada penggunaan skintiscanning.
Pada pemeriksaan MRI didapatkan modul yang soliter atau lebih (kebanyakan/lebih
sering soliter),lesi multipel dengan metastasis ke aksis dari pada rangkaian.
4. Scintigraphy ( nuclear medicine )
Skintigrafi adalah metode yang efektif sebagai skrining pada seluruh tubuh
untuk menilai metastasis ke tulang.
5. Pemeriksaan bone survey (foto seluruh tubuh)
Bone Survey atau pemeriksaan tulang-tulang secara radio-grafik
konvensional adalah pemeriksaan semua tulang-tulang yang paling sering dikenai
lesi-lesi metastatik yaitu skelet, foto bone survey dapat memberikan gambaran
klinik yaitu:
a. Lokasi lesi lebih akuran apakah daerah epifisis, metafisis, dan diafisis atau
pada organ-organ tertentu
b. Apakah tumor bersifat soliter atau multiple
c. Jenis tulang yang terkena.
d. Dapat memberikan gambaran sifat-sifat tumor

18
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksaan Medis
Penatalaksanaan medis adalah sebagai berikut :
Tujuan penatalaksanaan menghancurkan atau mengangkat jaringan ganas
dengan metode seefektif mungkin :
a. Tindakan pengangkatan tumor biasanya dengan mengamputasi
b. Alloperinol untuk mengontrol hiperurisemia. Outputurin harus baik(2500-
3000ml/hari) unutuk mengukur tingkat serum kalsium dan mencegah
hiperkalsium dan hiperurisemia
c. Bifosfonat
Bifosfonat berfungsi untuk menekan laju destruksi dan pembentukan tulang
yang berlebihan akibat metastasis.
d. Kemoterapi dan terapi hormonal
Obat-obat kemoterapi digunakan untuk membunuh sel-sel kanker didalam
tubuh. Kemoterapi dapat diberikan per-oral maupun intravena. Terapi hormon
digunakan untuk menghambat aktivitas hormon dalam mendukung pertumbuhan
kanker.
e. Radioterapi
Radioterapi berguna untuk menghilangkan nyeri dan mengontrol
pertumbuhan tumor di area metastasis.
f. Pembedahan
Pembedahan dilakukan untuk mencegah atau untuk terapi fraktur. Biasanya
pembedahan juga dilakukan untuk mengangkat tumor. Dalam pembedahan
mungkin ditambahkan beberapa ornament untuk mendukung struktur tulang yang
telah rusak oleh metastasis.
Teknik Pembedahan :
1) Eksisi luas, tujuan adalah untuk mendapatkan batas-batas tumor secara
histologis, tetapi mempertahankan struktur-struktur neurovaskuler yang
utama.
2) Amputasi, tindakan pengangkatan tumor biasanya dengan mengamputasi.
Indikasi amputasi primer adalah lesi yang terjadi secara lambat yang

19
melibatkan jaringan neurovaskuler, menyebabkan firaktur patologis
(terutama raktur proksimal), biopsi insisi yang tidak tepat atau mengalami
infeksi, atau terkenanya otot dalam area yang luas.
3) Reseksi enblock, taknik ini memerlukan eksisi luas dari jaringan normal dari
jaringan disekitarnya, pegankatan seluruh serabut otot mulai dari origo
sampai insersinya dan reseksi tulang yang terkena termasuk struktur
pembuluh darah.
4) Prosedur tikhofflinbekrg, teknik pembedahan ini digunakan pada lesi
humerus bagian proksimal dan meliputi reaksi enblock skapula, bagian
humerus dan klavikula.
5) Pilihan Rekonstruksi
Kriteria pasien untuk pembedahan mempertahankan ekstremitas, usia, insisi
biopsi dan fungsi pasca bedah ekstremitas yang dipertahankan lebih dari fungsi alat
prostesis, rekonstruksi dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai bahan logam
maupun sintesis.
2. Penatalaksanaan keperawatan
a. Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam,
visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).
b. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif
Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan
berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli
psikologi atau rohaniawan.
c. Memberikan nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek
samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat.
Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal.
Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.
d. Pendidikan kesehatan

20
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan
terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di
rumah.(Smeltzer. 2001).
H. Komplikasi
1. Akibat Langsung: Fraktur
2. Akibat Tidak Langsung: penurunan berat badan, anemia, penurunan
kekebalan tubuh
3. Akibat Pengobatan: gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah,
kebotakan pada kemoterapi
Komlikasi pada pasca bedah
1. Integritas kulit
Integritas kulit terganggu karena insisibedah yang luas mempertahankan
ekstermitas dan amputasi, defaskularisasi area kulit, dan imobilitas, serta gangguan
sensasi (Hockenberry & lane, 1988)
2. Drainase Luka
3. Mobilitas dan fungsi

21
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA CARSINOMA


TULANG

Pengkajian
o Identitas pasien

Identitas klien : Identits klien( nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
status marietal, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal MRS, diagnose medis ).
Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 25
tahun (pada usia pertumbuhan). Status ekonomi yang rendah merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya osteosarkoma ditinjau dari pola makan,
kebersihan dan perawatan. Gaya hidup yang tak sehat misalnya merokok, makanan
dan minuman yang mengandung karbon. Alamat berhubungan dengan
epidemiologi (tempat, waktu dan orang). Pekerjaan yang memicu terjadinya
osteosarkoma adalah yang sering terkena radiasi seperti tenaga kesehatan bagian
O.K, tenaga kerja pengembangan senjata nuklir, tenaga IT. Pendidikan berkisar
antara SMP samapai Sarjana. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak
perempuan.

Riwayat keperawatan:

1. Keluhan utama : Adalah alasan utama yang menyebabkan dibawanya klien


ke rumah sakit (adanya benjolan dan nyeri).
2. Riwayat penyakit sekarang : Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit
tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian
tubuh mana yang terkena. Didahului dengan manifestasi klinis nyeri dan
atau pembengkakan ekstremitas yang terkena. Pembengkakan pada atau di
atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas. Peningkatan
kadar kalsium dalam darah. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur
15 tahun. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian

22
ujung tulang panjang, terutama lutut. sarkoma sering sudah menyebar ke
paru ketika pasien pertama kali berobat.
3. Riwayat penyakit dahulu : Perlu dikaji untuk mengetahui riwayat penyakit
yang pernah dialami sebelumnya yang dapat digunakan sebagai acuan
dalam menentukan proses keperawatan. Kemungkinan pernah terpapar
sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis tinggi. Kemungkinan sering
mengkonsumsi kalsium dengan batas tidak normal. Kemungkinan sering
mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet,
merokok dan lain-lain.
4. Riwayat penyakit keluarga : Perlu dikaji untuk mengetahui apakah penyakit
yang dialami oleh klien saat ini ada hubungannya dengan penyakit herediter.
Kemungkinan ada keluarga yang menderita sarcoma.
o Pemeriksaan fisik:

a. B1 (Breath)

Inspeksi : bentuk simetris. Kaji frekuensi, irama dan tingkat kedalaman


pernafasan, adakah penumpukan sekresi. dipsnea (-), retraksi dada (-),
takipnea (+)
Palpasi : kaji adanya massa, nyeri tekan , kesemitrisan.
Auskultasi : dengan menggunakan stetoskop kaji suara nafas vesikuler,
intensitas, nada dan durasi. Adakah ronchi, wheezing untuk mendeteksi
adanya penyakit penyerta seperti broncho pnemonia atau infeksi lainnya.

b. B2 (Blood)

Inspeksi : pucat
Palpasi : peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena,
nadi meningkat.
Perkusi : batas normal (batas kiri umumnya tidak lebih dari 4-7 dan 10 cm
ke arah kiri dari garis midsternal pada ruang interkostalis ke 4,5 dan 8.
Auskultasi : disritmia jantung,

23
c. B3 (Brain)

Inspeksi : px lemas, yang diamati mulai pertama kali bertemu dengan klien.
Keadaan sakit diamati apakah berat, sedang, ringan atau tidak tampak sakit.
KeSadaran diamati komposmentis, apatis, samnolen, delirium, stupor dan
koma.
Palpasi : adakah parese, anesthesia.
Perkusi : refleks fisiologis dan refleks patologis.
Kepala : kesemitiras muka, warna dan distibusi rambut serta kondisi kulit
kepala. Wajah tampak pucat.
Mata : Amati mata conjunctiva adakah anemis, sklera adakah icterus. Reflek
mata dan pupil terhadap cahaya, isokor, miosis atau midriasis. Pada keadaan
diare yang lebih lanjut atau syok hipovolumia reflek pupil (-)
Hidung : dapat membedakan bau wangi,busuk.
Telinga : bisa mendengarkan suara dengan baik.

d. B4 (Bladder)

Inspeksi : testis positif pada jenis kelamin laki-laki, apak labio mayor
menutupi labio minor, pembesaran scrotum (-), rambut(-). BAK frekuensi,
warna dan bau serta cara pengeluaran kencing spontan atau mengunakan
alat. Observasi output tiap 24 jam atau sesuai ketentuan.
Palpasi : adakah pembesaran scrotum,infeksi testis atau femosis.

e. B5 (Bowel)

Inspeksi : BAB, konsistensi (cair, padat, lembek), frekuensi lebih dari 3 kali
dalam sehari, adakah bau, disertai lendi atau darah. Kontur permukaan kulit
menurun, retraksi dan kesemitrisan abdomen. Ada konstipasi atau diare.
Auskultasi : Bising usus
Perkusi : mendengar adanya gas, cairan atau massa, hepar dan lien tidak
membesar suara tymphani.
Palpasi : adakah nyeri tekan, superfisial pemuluh darah.

24
f. B6 (Bone)

Inspeksi : px tampak lemah, aktivitas menurun, rentang gerak pada


ekstremitas pasien menjadi terbatas karena adanya masa, nyeri,
pembengkakan ekstremitas yang terkena
Palpasi : teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta
adanya pelebaran vena, terjadi kelemahan otot pada pasien.
Perkusi : nyeri dan atau mati rasa pada ekstremitas yang terkena.
o Pola Fungsi Kesehatan

a. Pola Nutrisi

Kebiasaan diet buruk (misalnya : rendah serat, tinggi lemak, aditif, dan bahan
pengawet). Anoreksia, mual/muntah. Intoleransi makanan. Perubahan berat badan
(BB), penurunan BB hebat, kaheksia, berkurangnya massa otot. Perubahan pada
kelembapan/turgor kulit, edema.

b. Pola eliminasi

Perubahan pola defikasi, BAB dan BAK dilakukan dengan bad rest.

c. Pola istirahat

Perubahan pada pola tidur dan waktu tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur seperti : nyeri, ansietas, dan berkeringat malam.

d. Pola aktivitas

Px nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder untuk memenuhi


kebutuhan sehari-hari. Kelemahan dan atau keletihan. Keterbatasan partisipasi
dalam hobi dan latihan. Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen,
tingkat stress tinggi. (Doenges dkk, 2000).

25
Diagnosa Keperawatan
o Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi jaringan saraf atau
inflamasi.
o Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan,
kerusakan muskuloskeletal, nyeri, atau
o Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan atau
kerusakan jaringan lunak.

Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan
Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Observasi lokasi - Untuk mengetahui
berhubungan tindakan dan intensitas nyeri respon dan sejauh
dengan keperawatan 3 x 24 (skala 0-10). Selidiki mana tingkat
obstruksi jam nyeri dapat perubahan karakteristik nyeri pasien.
jaringan saraf teratasi. nyeri.
atau inflamasi. 2. Berikan tindakan
Kriteria hasil :
kenyamanan (contoh - Mencegah pergeseran
ubah posisi sering, tulang dan penekanan
1. Meningkatkan
pijatan lembut). pada jaringan yang
kenyamanan.
luka

26
2. Mengurangi - Peningkatan vena
3. Berikan sokongan
skala nyeri return, menurunkan
(support) pada
edema, dan
3. Dapat ektremitas yang luka.
mengurangi nyeri.
mengendalikan
- Agar pasien dapat
4. Berikan
nyeri
beristirahat dan
lingkungan yang tenang.
mencegah timbulnya
4. Dapat
5. Kolaborasi dengan stress
melaporkan
dokter tentang - Untuk mengurangi rasa
karakteristik nyeri.
pemberian sakit / nyeri.
analgetik, kaji efektifitas
dari tindakan penurunan
rasa nyeri.
Gangguan Tujuan : 1. Observasi tingkat - Pasien akan membatasi
mobilitas fisik immobilisasi yang gerak karena salah
Setelah dilakukan
berhubungan disebabkan oleh edema persepsi (persepsi tidak
tindakan
dengan dan persepsi pasien proporsional).
keperawatan
penurunan tentang immobilisasi - Meningkatkan sirkulasi
selama 3 x 24 jam
kekuatan, tersebut. darah muskuloskeletal,
masalah kerusakan
kerusakan 2. Berikan terapi mempertahankan tonus
mobillitas fisik
muskuloskeletal, latihan fisik : ambulasi, otot, mempertahakan
teratasi.
nyeri, atau keseimbangan, mobilitas gerak sendi, mencegah
amputasi. sendi. kontraktur/atrofi dan
Kiteria hasil :
mencegah reabsorbsi
3. Anjurkan pasien
1. pasien tampak kalsium karena
untuk melakukan latihan
ikut serta dalam imobilisasi. Memenuhi
pasif dan aktif pada
program latihan / kebutuhan nutrisi
menunjukan - Meningkatkan aliran
keinginan darah ke otot dan

27
berpartisipasi yang cedera maupun tulang untuk
dalam aktivitas. yang tidak. meningkatkan tonus
otot, mempertahankan
2. Pasien 4. Bantu pasien
mobilitas sendi,
menunjukan teknik dalam perawatan diri.
mencegah kontraktur /
/ perilaku yang
atropi dan reapsorbsi
memampukan 5. Kolaborasi dengan
Ca yang tidak
tindakan bagian fisioterapi.
digunakan.
beraktivitas.
- Meningkatkan
kekuatan dan sirkulasi
3. Pasien tampak
otot, meningkatkan
mempertahankan
pasien dalam
koordinasi dan
mengontrol situasi,
mobilitas sesuai
tingkat optimal.

28
- meningkatkan kemauan
pasien untuk sembuh.

- Untuk menentukan
program latihan.

29
Resiko infeksi Tujuan : 1. Observasi keadaan - Untuk mengetahui
berhubungan luka (kontinuitas dari tanda-tanda infeksi
Setelah dilakukan
dengan tindakan kulit) terhadap adanya:
tindakan
pembedahan edema, rubor, kalor,
keperawatan
atau kerusakan dolor, fungsi laesa. - Meminimalkan
selama 3 x 24 jam
jaringan lunak 2. Anjurkan pasien terjadinya kontaminasi.
masalah resiko
untuk tidak memegang
infeksi tidak terjadi.
bagian yang luka. - Mencegah kontaminasi
3. Rawat luka dan kemungkinan
Kriteria hasil :
dengan menggunakan infeksi silang.
1. Tidak ada tanda- tehnik aseptik. - Merupakan indikasi
tanda Infeksi. adanya osteomilitis.
4. Mewaspadai
2. Leukosit dalam
adanya keluhan nyeri
batas normal.
mendadak, keterbatasan
- Leukosit yang
gerak, edema lokal,
3. Tanda-tanda vital meningkat artinya
eritema pada daerah luka
dalam batas sudah terjadi proses
5. Kolaborasi
normal. infeksi
pemeriksaan darah :
Leukosit

Implementasi

Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, dimana tindakan


yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan
keperawatan yang dilakukan dan diselesaikan. Implementasi mencakup :
melakukan, membantu dan mengarahkan kinerja aktivitas sehari hari,
memberikan arahan keperawatan untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien
dan mengevaluasi kinerja anggota staf dan mencatat serta melakukan pertukaran
informasi yang relevan dengan perawat kesehatan berkelanjutan dari klien. Selain

30
itu juga implementasi bersifat berkesinambungan dan interaktif dengan komponen
lain dari proses keperawatan. Komponen implementasi dari proses keperawatan
mempunyai lima tahap yaitu : mengkaji ulang klien, menelaah dan memodifikasi
rencana asuhan yang sudah ada, mengidentifikasi area bantuan,
mengimplementasikan intervensi keperawatan dan mengkomunikasikan intervensi
perawat menjalankan asuhan keperawatan dengan menggunakan beberapa metode
implementasi mencakup supervise, konseling, dan evaluasi dari anggota tim
perawat kesehatan lainnya.

Setelah implementasi, perawat menuliskan dalam catatan klien deskriptif singkat


dari pengkajian keperawatan. Prosedur spesifik dan respon dari klien terhadap
asuhan keperawatan. Dalam implementasi dari asuhan keperawatan mungkin
membutuhkan pengetahuan tambahan keterampilan keperawatan dan personal.

Evaluasi

Evaluasi merupakan proses keperawatan yang mengukur respon klien terhadap


tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Perawat
mengevaluasi apakah prilaku atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran
atau kemajuan dalam diagnosa keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat.
Selama evaluasi perawatan memutuskan apakah langkah proses keperawatan
sebelumnya telah efektif dengan menelaah respon klien dan membandingkannya
dengan prilaku yang disebutkan dalam hasil yang diharapkan. Selama evaluasi
perawat secara kontinyu perawat mengarahkan kembali asuhan keperawatan kearah
terbaik untuk memenuhi kebutuhan klien.

Evaluasi positif terjadi ketika hasil yang dinginkan terpenuhi menemukan perawat
untuk menyimpulkan bahwa dosis medikasi dan intervensi keperawatan secara
efektif memenuhi tujuan klien untuk meningkatkan kenyamanan. Evaluasi negative
atau tidak di inginkan menandakan bahwa masalah tidak terpecahkan atau terdapat
masalah potensial yang belum diketahui. Perawat harus menyadari bahwa evaluasi

31
itu dinamis dan berubah terus tergantung pada diagnosa keperawatan dan kondisi
klien. Hal yang lebih utama evaluasi harus spesifik terhadap klien. Evaluasi yang
akurat mengarah pada kesesuaian revisi dan rencana asuhan yang tidak efektif dan
penghentian terapi yang telah menunjukan keberhasilan.

32
BAB IV
TINJAUAN KASUS

Seorang anak berumur 15 tahun memiliki tumor yang menyakitkan pada tulang
keringnya, dekat lutut. Hasil pemeriksaan biopsi menunjukkan adanya sel-sel
raksasa pada lesi. Dan itu tumor terus bertumbuh, dan terasa sakit/nyeri, adanya massa,
dan atrofi kaki yang substansial.
1. Pemeriksaan radiologi
Munculnya lesi sklerotik dan granular di posterior dan lateral tibia plateau, hanya dibawah
permukaan sendi, dengan beberapa pembesaran pada tulang. Terdapat sayatan yang
sembuh, tanpa tanda infeksi, tapi sangat lunak/lembek di sentuh.
2. Hasil laboratorium
Tidak tersedia
3. Diagnosa banding
Chondroblastoma, osteosarcoma
4. Opsi pengobatan
Berdasarkan anggapan diagnosis,

Berdasarkan kasus diatas, anak tersebut menderita kanker tulang jenis


osteosarcoma, dikarenakan osteosarcoma cenderung mempengaruhi akhir dan atas tibia,
dan berdasarkan kasus menunjukkan 60% osteosarcoma terjadi disekitaran lutut, 15%
sekitar pinggul, 10% paha, dan 8% di rahang. Sedangkan Tempat-tempat yang paling
sering ditumbuhi tumor ini adalah : pelvis, femur, tulang iga, gelang bahu dan tulang-tulang
kraniofasial.

1.)Asuhan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 17 Desember 2014
Masuk RS : 15 Desember 2014
Ruang : mawar
Jam : 09.15

33
No. Rekam medis : 120341
1. IDENTITAS KLIEN
NAMA : Tn j
Umur : 15 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : kristen
Pendidikan : SMA
Alamat : jl. Kuda terbang no. 89
Suku/bangsa : WNI
PENANGGUNG JAWAB KLIEN
Nama : Jusuf kala
Umur : 54 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : wirausaha
Hubungan dgn pasien: Anak
Alamat : jl. Kuda terbang no. 89

2 PEMERIKSAAN FISIK
Nyeri tekan / nyeri lokal pada tulang kering dekat lutut
Pada palpasi teraba massa pada derah tibia dekat lutut
peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena
Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas

3 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan radiologi
Munculnya lesi sklerotik dan granular di posterior dan lateral tibia plateau, hanya
dibawah permukaan sendi, dengan beberapa pembesaran pada tulang. Terdapat sayatan
yang sembuh, tanpa tanda infeksi, tapi sangat lunak/lembek di sentuh.
Hasil laboratorium
Tidak tersedia

34
4. ANALISA DATA
SIGN/SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM

DS adanya agen cedera biologi Nyeri akut


-Pasien merasa nyeri pada
tulang kering dekat lutut
DO
-adanya nyeri tekan pada tibia
dekat lutut
-keletiihan
- adanya massa
DS Status hipermetabolik Nutrisi kurang dari kebutuhan
-pasien merasa takut akan berkenaan dengan kanker tubuh
penyakitnya yang semakin
memburuk sehingga tidak
memikirkan hal lain termasuk
makan
DO
-cemas
-kurang pengetahuan
DS rasa takut tentang ketidak koping tidak efektif
- pasien mengatakan sangat tahuan, persepsi tentang proses
takut jika penyakitnya penyakit, dan sistem
berpengaruh terhadap masa pendukung yang tidak adekuat
depannya
DO
-lemah
-kehilangan alat gerak
-mobilisasi terbatas
DS Hilangnya bagian tubuh Gangguan harga diri
-pasien merasa tidak percaya atau perubahan kinerja peran
diri akan kondisinya saat ini
DO
-hilangnya fungsi alat gerak

35
-mobilisasi yang terbatas
DS Adanya kemungkinan Berduka
- kehilangan alat gerak
DO
-raut wajah bersedih

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan analisa data diatas, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi dianosa
keperawatan adalah:
1. Nyeri akut b/d cedera agen biologi
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Status hipermetabolik berkenaan dengan
kanker
3. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi
tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat
4. Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran
5. Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx 1
Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri
Intervensi :
Kaji status nyeri ( lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri )
R/ memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang
diberikan.
Berikan lingkungan yang nyaman, dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik, televisi )
R/ meningkatkan relaksasi klien.
Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan
bimbingan imajinasi.
R/ meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien

36
Kolaborasi :
Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri.
R/ mengurangi nyeri dan spasme otot

Dx 2
Tujuan : Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi
aktif dalam aturan Pengobatan.
Intervensi :
Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan.
R/ memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta
kesalahan konsep tentang diagnosis.
Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk
mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara.
R/ membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima
dengan kondisi apa adanya.
Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien.
R/ memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak.
Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis.
R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau
pilihan sesuai realita

Dx 3
Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat
Intervensi :
Catat asupan makanan setiap hari
R/ mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.
Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap hari.
R/ mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan
pengukuran antropometrik kurang dari normal.
Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.
R/ memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan cairan adekuat untuk
menghilangkan produk sisa.
Kolaborasi :
Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.

37
R/ membantu mengidentifikasi derajat malnutrisi (Doenges, 1999).
Dx 4
Tujuan : mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh,
perasaan tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu.

Intervensi :
Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap
kehidupan pribadi pasien dan keluarga.
R/ membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah.
Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau
pengobatan.
R/ membantu dalam pemecahan masalah
Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara
dengan menyentuh pasien.
R/ menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya dengan pasien dan
keluarga. (Doenges, 1999).
Dx. 5
Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak.
Intervensi :
Lakukan pendekatan langsung dengan klien.
R/ meningkatkan rasa percaya dengan klien.
Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan.
R/ memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan.
Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai
dengan
kemampuan pasien.
R/ membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien.
Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain
R/ secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi

D. EVALUASI
1. Pasien mampu mengontrol nyeri
a. Melakukan teknik manajemen nyeri,
b. Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.

38
c.Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama
menjalankan aktifitas hidup sehari-hari.
2. Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif.
a. Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata
b. Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien
c. Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien
3. Masukan nutrisi yang adekuat
a. Mengalami peningkatan berat badan
b. Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan
c. Tidak ada tanda tanda kekurangan nutrisi
4. Memperlihatkan konsep diri yang positif
a. Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien
b. Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri
5. Klien dan keluarga siap intuk menghadapi kemungkinan amputasi
`

39
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Akhir kata penulis menyimpulkan bahwa tumor tulang merupakan penyakit yang
pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif dimana sel-selnya tidak pernah menjadi
dewasa.dan juga dengan Osteomilitis infeksi tulang yang penyebab terseringnya adalah :
staphylococcus aureus, dan tulang yang sering terkena adalah tulang panjang dan tersering
femur, tibia, humerus, radius, ulna dan fibula. Bagian tulang yang yang terkena adalah
metafisis. Dari definisi yang telah disimpulkan di atas kelompok menyimpulkan
osteomilitis dapat menyebabkan tumor tulang dimana karena adanya infeksi akibat etiology
baik bakteri maupun fraktur yang tak tertangani menyebabkan sel-sel tumor berkembang
biak di tulang yang terkena.

5.2 Saran
Semoga tulisan yang telah dibuat oleh kelompok dapat bermanfaat bagi mahasiswa
calon perawat sehingga dapat mencegah dan mengobati tumor tulang dengan
penatalaksanaan yang tepat dan benar. Namun mahasiswa tidak hanya terpaku dalam
makalah ini melainkan mencari referensi lain untuk menambah wawasan baru.

40