Anda di halaman 1dari 123

PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT

TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QURAN-


HADITS DI MAN KANDANGAN KEDIRI

SKRIPSI

Oleh:
Umi Masruroh
03110036

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
OKTOBER, 2007
2

PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT


TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QURAN-
HADITS DI MAN KANDANGAN KEDIRI

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang


untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:
Umi Masruroh
03110036

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
OKTOBER, 2007

2
3

HALAMAN PERSETUJUAN
PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT
TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QURAN-HADITS
DI MAN KANDANGAN KEDIRI

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Universitas Islam Negeri (UIN) Malang


Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam menyelesaikan Program Sarjana
Pendidikan Agama Islam

Oleh:
Umi Masruroh
03110036

Telah Diperiksa dan Disetujui Untuk Diujikan


Pada Tanggal 03 Oktober 2007

Oleh Dosen Pembimbing

Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag


NIP. 150227505

Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M. PdI


NIP. 150267235

3
4

PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT


TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QURAN-HADITS
DI MAN KANDANGAN KEDIRI

SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh


Umi Masruroh (03110036)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal 3 Oktober 2007 dengan nilai A
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam
(S.Pd.I)
Pada tanggal: 03 Oktober 2007

Dewan Penguji

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Drs.H.Suaib H.Muhammad,M.Ag Hj. Rahmawati B. M.A


NIP.150227505 NIP.150318021

Penguji Utama,

Drs. A. Fatah Yasin, M.Ag


NIP.150287892

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony


NIP. 150042031

4
5

Drs. H. Suaib H. Muhammad, M. Ag


Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Umi Masruroh Malang, 25 September 2007


Lamp. : 4 (Empat) Eksemplar

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di
Malang

Assalamualaikum Wr. Wb.


Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Umi Masruroh
NIM : 03110036
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Pengaruh Metode Reward And Punishment Terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits Di MAN
Kandangan Kediri

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.

Demikian, mohon dimaklumi adanya.


Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pembimbing,

Drs.H.Suaib H.Muhammad,M.Ag
NIP. 150227505

5
6

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan diterbitkan dalam daftar pustaka.

Malang, September 2007

Umi Masruroh

6
7

!"
#

$ ! % !

# " & '


& (( ! ! ! ) *# *
*

% + + , ! - &
*
!
./ * # 0

!
! %&

&

7
8

MOTTO

Artinya:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,


niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan
melihat (balasan)nya pula (Q.S. Zal-Zalah: 7-8)1

1
Departemen Agama RI, Al-Quran Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Quran, 2002), hlm. 600

8
9

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim

Alhamdulillah segala puji syukur segalanya penulis panjatkan kehadirat

Allah SWT, karena limpahan rahmat, hidayah serta inayahNya, sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir perkuliahan.

Shalawat serta salam senantiasa kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi

Besar Muhammad SAW, yang telah membimbing kita ke jalan yang benar, yaitu

jalan yang di ridhoi Allah SWT.

Dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini penulis tidak akan terlepas

dari bimbingan dan dukungan dan bantuan dari semua pihak sehingga

terselesaikan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengucapkan ungkapan terima

kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak dan Ibunda tercinta yang dengan sabar telah membimbing,

mendoakan, mengarahkan, memberi kepercayaan, dan bantuan moril serta

materiil

2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Malang

3. Bapak Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony selaku Dekan Fakultas Tarbiyah

4. Bapak Padil M. Pdi selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

5. Bapak Drs. H. Suaib H. Muhammad M. Ag selaku Dosen Pembimbing

yang telah memberikan bimbingannya hingga skripsi ini selesai

6. Bapak Drs. Djamil Aly selaku Kepala Sekolah MAN Kandangan Kediri

yang telah memberi izin dan kerja samanya

9
10

7. Segenap Guru, karyawan serta siswa-siswi MAN Kandangan Kediri yang

telah memberikan bantuannya dalam memberikan data-data penelitian

8. Semua teman-temanku yaitu Tutik Astiani, Nurussobah, Azizah, Ana

Faizati, semua teman-temanku yang tidak bisa disebutkan satu persatu,

terima kasih atas segala bantuannya

9. Semua teman-teman ku di kost wartel A dan Istiqomah apartement

10. Semua pihak yang ikut mensukseskan skripsi ini (maaf tidak mungkin

disebutkan satu persatu)

Penulis manyadari bahwa penyusunan skripsi ini jauh dari sempurna.

Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Semoga skripsi ini memberikan manfaat pada semua pihak. Tujuan saya dengan

karya ini setidaknya memberikan kontribusi bagi para pembaca karya ini, yang

peduli dengan dunia pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan.

Akhirnya hanya Allah SWT berserah diri dan semoga skripsi ini

bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan semua pihak pada umumnya,

semoga kita semua mendapat Hidayah-Nya. AMIN.

Penulis

10
11

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
HALAMAN PENGAJUAN ........................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN. ...................................................................... iv
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING .............................................. v
HALAMAN SURAT PERNYATAAN ......................................................... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vii
HALAMAN MOTTO .................................................................................... viii
KATA PENGANTAR.................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................. xi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xv
ABSTRAK ...................................................................................................... xvi
BAB I :PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................ 1
B. Rumusan Masalah. ........................................................................ 8
C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 8
D. Manfaat Penelitian ....................................................................... 8
E. Hipotesis ........................................................................................ 9
E. Ruang Lingkup ............................................................................. 9
F. Sistematika Pembahasan ............................................................... 10
BAB II :KAJIAN PUSTAKA
A. Pembahasan Tentang Reward ...................................................... 13
1. Pengertian Reward ................................................................... 13
2. Macam-macam Reward ............................................................ 16
3. Tujuan Reward . ........................................................................ 21
B. Pemabahasan Tentang Punishment .............................................. 23
1. Pengertian Punishment ............................................................. 23
2. Macam-macam Punishment ..................................................... 30

11
12

3. Tujuan Punishment .................................................................. 40


C. Pembahasan Tentang Motivasi Belajar ...................................... 43
1. Pengertian Motivasi Belajar ....................................................... 43
2. Macam-macam Motivasi ............................................................ 46
3. Fungsi Motivasi .......................................................................... 54
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi ............................. 55
D. Pembahasan Tentang Quran-Hadits............................................. 57
1. Pengertian Quran ....................................................................... 57
2. Pengertian Hadits ........................................................................ 60
3. Fungsi Quran-Hadits.................................................................. 61
4. Tujuan Quran-Hadits ................................................................. 62
E. Pengaruh Metode Reward and Punishment terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Quran-Hadits ................................................... 62
BAB III :METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian.......................................................................... 65
B. Jenis Penelitian ............................................................................ 65
C. Data dan Sumber Data ................................................................. 65
D. Populasi dan Sampel . .................................................................. 67
E. Instrumen Penelitian ................................................................... 70
F. Pengumpulan Data ...................................................................... 71
G. Analisis Data ................................................................................ 75
1. Validitas dan Realibilitas Instrument ....................................... 75
2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas.......................................... 77
BAB IV : HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Obyek Penelitian ................................................ 79
B. Deskripsi Data ............................................................................. 91
1. Data Responden ....................................................................... 92
2. Data Deskripsi Hasil Penelitian ............................................... 93
BAB V : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Pengaruh Metode Reward dan Punishment terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri ..... 98

12
13

B. Pengaruh Metode reward terhadap Peningkatan Motivasi


Belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri ..................... 99
C. Pengaruh Metode Punishment terhadap Peningkatan Motivasi
Belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri ..................... 101
BAB VI :KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................ 103
B. Saran-saran .................................................................................. 104
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

13
14

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1 Skor Skala Likert Reward dan Punishment Terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits .................................... 73
Tabel 3.2 Blue Print Skala Metode Reward dan Punishment
Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits .................... 74
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Skala Metode Reward dan Punishment
Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits .................... 77
Tabel 4.1 Keadaan Guru MAN Kandangan Kediri .......................................... 82
Tabel 4.2 Data Siswa MAN Kandangan Kediri................................................ 83
Tabel 4.3 Data Keadaan Siswa Sejak Berdiri Sampai Sekarang ...................... 83
Tabel 4.4 Luas MAN Kandangan Kediri .......................................................... 84
Tabel 4.5 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Variabel Reward dan
Punishment......................................................................................... 93
Tabel 4.6 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Variabel Reward ...................... 95
Tabel 4.7 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Variabel Punishment................ 96

14
15

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Penelitian


Lampiran 2. Struktur Organisasi MAN Kandangan Kediri
Lampiran 3. Denah Lokasi Ruang MAN Kandangan
Lampiran 4. Daftar Sarana Prasarana Kelas MAN Kandangan Kediri
Lampiran 5. Surat Keputusan Kepala MAN Kandangan Tentang Pembagian
Tugas Mengajar
Lampiran 6. Kuesioner yang Belum Valid
Lampiran 7. Kuesioner yang Sudah Valid
Lampiran 8. Hasil Uji Reliabel Reward
Lampiran 9. Hasil Uji Reliabel Punishment
Lampiran 10. Hasil Uji Reliabel Motivasi
Lampiran 11. Hasil Uji Regresi Reward dan Punisment
Lampiran 12. Hasil Uji Regresi Reward
Lampiran 13. Hasil Uji Regresi Punishment
Lampiran 14. Tabel Frekuensi

15
16

ABSTRAK

Masruroh, Umi. Pengaruh Metode Reward and Punishment Terhadap


Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri. Skripsi,
Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang. Drs. H. Suaib. H. Muhammad, M.Ag.

Metode pembelajaran merupakan suatu teknik untuk mencapai tujuan.


Dengan adanya metode pembelajaran diharapkan kegiatan belajar mengajar dapat
berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan, namun dalam kenyataannya masih ada
siswa yang tidak fokus pada pelajaran, untuk itu diperlukan metode yang sesuai
dan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Adapun salah satu metode yang
digunakan oleh guru MAN Kandangan Kediri adalah metode reward dan
punishment, dengan menerapkan metode reward dan punishment diharapkan
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena dengan metode reward akan
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dengan diberikan
punishment ini diharapkan dapat menertibkan siswa yang mengganggu dalam
proses belajar mengajar. Kedua metode ini dapat menimbulkan motivasi sehingga
siswa akan antusias dalam belajar Quran-Hadits. Dalam kegiatan belajar
mengajar memang sangat penting diterapkan metode reward dan punishment
sebagai salah satu metode pembelajaran.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh
metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-
Hadits di MAN Kandangan Kediri, untuk mengetahui seberapa pengaruh metode
reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di
MAN Kandangan Kediri.
Penelitian ini menggunakan Korelasi Product Moment serta dengan
menggunakan metode dokumentasi, kuesioner, dan observasi. Adapun metode
analisis yang digunakan adalah analisis statistik dengan taraf signifikan 0,05 dan
apakah ada pengaruh yang signifikan metode reward dan punishment terhadap
peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits, dan untuk memperkuat analisis ini
digunakan analisis deskriptif yang digunakan untuk menganalisis hasil
pengamatan mengenai pengaruh metode reward dan punishment,
Hasil penelitian dari analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian
mengenai pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri mempunyai pengaruh
yang signifikan untuk meningkatkan motivasi belajar Quran-Hadits yaitu sebesar
42%.

Kata kunci: Metode Reward dan Punishment, Motivasi belajar, Quran-Hadits

16
17

DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana NO. 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI

Nama : Umi Masruroh


NIM : 03110036
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Pembimbing : Drs. H. Suaib H. Muhammad, M. Ag
Judul : Pengaruh Metode Reward and Punishment Terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Quran-Hadits Di MAN Kandangan Kediri

No Tanggal Hal Yang Dikonsultasikan Tanda Tangan


1 15-03-2007 Konsultasi Judul
2 19-04-2007 Konsultasi Judul
3 30-05-2007 Konsultasi Bab I
4 30-06-2007 Konsultasi Bab II
5 21-07-2007 Konsultasi Bab III + Angket
6 25-08-2007 Konsultasi Bab IV, V
7 13-09-2007 Konsultasi Bab V, VI
8 20-09-2007 Konsultasi Keseluruhan
9 25-09-2007 ACC Bab I, II, II, IV, V, dan VI

Malang, 25 September 2007

Mengetahui,

Dekan Fakultas Tarbiyah

Prof. Dr.HM. Djunaidi Ghony


NIP. 150042031

17
18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keyakinan bahwa pendidikan merupakan faktor yang penting untuk

kehidupan manusia memang ada sejak dulu sampai sekarang ini dapat dilihat

dari sebuah ayat Al-Quran yang menggambarkan tingginya kedudukan orang

yang mempunyai ilmu pengetahuan, ayat ini bisa menjadi motivasi untuk terus

mencari ilmu, adapun ayat itu adalah surat Al-Mujadalah: 112

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu


dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...(Al-
Mujadalah: 11)

Dari ayat di atas kita dapat mengambil sebuah hikmah betapa pentingnya

pendidikan bagi manusia hingga Allah SWT akan meninggikan derajat bagi

orang-orang yang berilmu. Pendidikan dan manusia memang tidak dapat

dipisahkan dalam menjalani kehidupan, baik keluarga, masyarakat maupun

bangsa dan negara, ini sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang

RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

2
Departemen Agama RI, Al-Quran Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Quran, 2002), hlm. 544

18
19

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.3

Pendapat di atas mengingatkan kita pada pentingnya pendidikan,

pendidikan mempunyai peran untuk meningkatkan sumber daya manusia,

maka masyarakat dengan segala kesadarannya untuk menyekolahkan putra

dan putrinya. Hal ini dapat dilihat pada setiap ajaran baru, dalam setiap

tahunnya jumlah siswa semakin meningkat dan ini tidak menutup

kemungkinan timbul berbagai masalah yang dihadapi oleh para guru, dimana

jika kita melihat pendidikan sekarang ini yang berhubungan dengan tingkah

laku siswa, terjadi banyak penyimpangan dan tidak sesuai dengan harapan

yang diinginkan. Ini terbukti dengan banyaknya moral dan akhlak siswa yang

tidak sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Misalnya: perkelahian antar

siswa, terlambat, melalaikan tugas, membolos, berisik di kelas, saling kirim

surat disaat pelajaran, membantah perintah dan sebagainya.

Penyimpangan lain dari siswa dalam kegiatan belajar mengajar yaitu

sering tidak fokus dan tidak memperhatikan pada pelajaran yang disampaikan

oleh guru yang di depan, dengan keadaan yang demikian seorang guru harus

bisa menguasai kelas dan mengkondisikan siswa yang perhatiannya mulai

terpecah, sebagai seorang guru haruslah mampu memberikan motivasi bagi

siswa, bagaimana caranya bahwa belajar itu tidak membosankan melainkan

menyenangkan, ini merupakan tantangan bagi guru, seorang guru harus tahu

3
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 3

19
20

cara yang tepat untuk membuat suasana belajar yang menarik terutama pada

mata pelajaran Quran-Hadits, sering kali siswa malas belajar Quran-Hadits

itu dikarenakan merasa jenuh, suasana belajar yang tidak nyaman dan

membosankan, karena dalam kegiatan belajar mengajar hanya menggunakan

metode ceramah dan hafalan saja, apalagi dalam proses belajar mengajar di

MAN Kandangan Kediri menerapkan sistem full day school, sehingga

seharian siswa akan berada di sekolah untuk belajar.

Sebagai seorang guru dalam menghadapi fenomena semacam ini

haruslah bijak dalam mengambil tindakan, karena sekecil apapun tindakan

guru nantinya akan menimbulkan dampak positif maupun negatif pada siswa.

Harus dipikirkan bagaimana membentuk kepribadian siswa menjadi baik

sesuai dengan tujuan pendidikan dan terbentuknya kepribadian siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut serta mampu memberi motivasi

belajar bagi siswa agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan

berhasil, maka diadakan upaya pencegahan dalam berbagai macam seperti

peraturan-peraturan tata tertib, peraturan itu harus ditaati dan dilaksanakan

oleh siswa demi meningkatkan kualitas dan prestasi belajar siswa, namun ada

cara lain yang bisa diterapkan yaitu dengan memberi motivasi belajar Quran-

Hadits dengan memberikan reward (ganjaran) dan punishment (hukuman),

reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) adalah sebagai salah satu alat

pendidikan untuk mempergiat usaha siswa untuk memperbaiki atau

mempertinggi prestasi yang telah dicapai.

20
21

Reward (ganjaran) adalah hadiah, pembalas jasa, alat pendidikan yang

diberikan kepada siswa yang telah mencapi prestasi baik.4

Sedangkan pendapat yang lain tentang reward (ganjaran) adalah sebagai

alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena

perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. 5

Reward (ganjaran) merupakan hal yang menggembirakan bagi anak, dan

dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi belajarnya murid.6

Reward (ganjaran) yaitu segala yang diberikan guru berupa penghargaan

yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa atas dasar hasil

baik yang telah dicapai dalam proses pendidikan dengan tujuan memberikan

motivasi kepada siswa, agar dapat melakukan perbuatan terpuji dan berusaha

untuk meningkatkannya. Dalam agama Islam metode reward (ganjaran)

terbukti dengan adanya pahala, Allah SWT akan melipat gandakan pahala

bagi siapa saja yang berbuat kebaikan termasuk dalam hal memberi reward

(ganjaran), ini dikarenakan kita telah berbuat baik pada orang lain (siswa)

yaitu dengan memberi hadiah yang dapat menyenangkan hati siswa.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa reward (ganjaran)

merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan, reward (ganjaran)

juga dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi siswa untuk belajar lebih

baik lagi.

4
M. Sastra Pradja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum (Surabaya: Usaha Nasional, 1978),
hlm. 169
5
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm.182
6
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 147

21
22

Reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) adalah alat pendidikan

yang represif. Namun kedua-duanya mempunyai prinsip yang bertentangan.

Mengenai pengertian tantang punishment (hukuman) adalah sebagai berikut

punishment (hukuman) adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak didik

secara sadar dan sengaja, sehingga menimbulkan nestapa. Dalam mana bahwa

dengan adanya nestapa itu, anak didik akan menjadi sadar akan perbuatannya

dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya7

Punishment (hukuman) adalah usaha edukatif untuk memperbaiki dan

mengarahkan siswa ke arah yang benar, bukan praktik hukuman dan siksaan

yang memasung kreativitas.8

Dari pengertian di atas, punishment (hukuman) yang diberikan bukan

untuk balas dendam kapada siswa melainkan untuk memperbaiki tingkah laku

siswa yang kurang baik ke arah yang lebih baik dan dapat memberikan

motivasi belajar siswa.

Setelah memperhatikan pengertian di atas punishment (hukuman)

merupakan imbalan dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik atau

mengganggu jalannya proses pendidikan. Dapat dikatakan juga bahwa

punishment (hukuman) adalah penilaian terhadap belajarnya murid yang

bersifat negatif, sedang reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat

positif.

Dengan demikian, reward (ganjaran) dan punisment (hukuman), di

samping berfungsi sebagai alat-alat pendidikan, maka sekaligus berfungsi


7
Mahfudh Shalahuddin, dkk. Metodologi Pendidikan Agama (Surabaya: Bina Ilmu,1987), hlm.
85-86
8
Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 202

22
23

sebagai motivasi bagi belajar murid. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi

orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu

guna mencapai sesuatu tujuan.9

Sedang menurut Tadjab motivasi belajar adalah "keseluruhan daya


penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,
menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan
belajar demi mencapai tujuan tertentu10

Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-

siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku.11

Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian

prestasi. Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan

hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan

terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar akan dapat

melahirkan prestasi yang baik.12

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa reward (ganjaran) dan

punishment (hukuman) disamping sebagai alat pendidikan juga sebagai

motivasi bagi siswa dalam mencapai prestasi belajar siswa setinggi-tingginya.

Untuk itu diperlukan adanya pemberian reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) di sekolah-sekolah.

MAN Kandangan Kediri adalah salah satu lembaga pendidikan formal

yang bersifat responsif untuk menerima pembaharuan, MAN Kandangan

Kediri letaknya memang strategis sehingga memudahkan peneliti untuk

9
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 70
10
Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hlm. 102
11
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007), hlm. 23
12
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hlm. 85

23
24

mengambil data, selain dari itu MAN Kandangan Kediri dalam proses belajar

mengajar menerapkan sistem full day school, sehingga siswa seharian berada

di sekolah untuk belajar, maka secara tidak langsung siswa akan merasa jenuh

dan bosan dalam kegiatan belajar yang menggunakan metode ceramah saja,

sedangkan pada matapelajaran Quran-Hadits guru Quran-Hadits

menggunakan metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) dalam

kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa tidak akan merasa bosan dalam

kegiatan belajar mengajar yang menggunakan sistem full day school, dengan

menggunakan sistem full day school ini siswa akan merasa jenuh dalam

kegiatan belajar mengajar karena sejak pagi sampai sore siswa berada di

sekolah untuk belajar apalagi dalam kegiatan belajar mengajar hanya

menggunakan metode ceramah saja, dengan mengunakan metode reward

(ganjaran) dan punishment (hukuman) sehingga kegiatan belajar menjadi lebih

menyenangkan, terkendali, dan bervariasi, mengingat sangat pentingnya

pemberian metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) di sekolah,

maka untuk itu penulis bermaksud melakukan penelitian sejauhmana pengaruh

metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk

membahas masalah tersebut dalam judul: PENGARUH METODE REWARD

AND PUNISHMENT TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR

QURAN-HADITS DI MAN KANDANGAN KEDIRI

24
25

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah:

1. Adakah pengaruh metode reward and punishment terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri?

2. Seberapa besar pengaruh metode reward terhadap peningkatan motivasi

belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri?

3. Seberapa besar pengaruh metode punishment terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan

1. Mengetahui pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri

2. Mengetahui tingkat pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

3. Mengetahui tingkat pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan memberikan kontribusi

kepada semua pihak antara lain:

1) Lembaga

25
26

a) Memberikan sebuah terobosan baru dalam belajar

b) Memberikan semangat belajar bagi siswa

c) Sebagai sebuah perbandingan dengan penggunaan metode baru

d) Sebuah terobosan baru dalam pengelolaan kelas

2) Pengembangan Ilmu Pengetahuan

a) Sebagai tambahan wawasan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar

banyak metode yang diterapkan dan mampu menciptakan semangat

belajar yang baru

b) Sebagai tambahan wawasan dalam mengelola sekolah bahwa sekolah

juga harus mengikuti perkembangan ilmu dan selalu terjadi perubahan

3) Penulis

a) Memberikan pengalaman yang baru tentang metode pembelajaran

b) Memberikan wawasan dalam mengelola kelas

c) Sabagai tambahan dalam wawasan berpikir

D. Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hipotesis alternatif

Terdapat pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

E. Ruang Lingkup

Untuk membatasi dari pembahasan pada penelitian ini maka ruang

lingkup dari penelitian ini adalah berkisar pada pengaruh metode reward dan

26
27

punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri seperti yang dirumuskan dalam rumusan masalah yaitu:

1) Adakah pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

2) Seberapa besar pengaruh metode reward terhadap peningkatan motivasi

belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

3) Seberapa besar pengaruh metode punishment terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

F. Sistematika Pembahasan

Untuk memberikan gambaran mengenai isi laporan penelitian ini maka

sistematika pembahasannya disusun sebagai berikut:

Bab I. Pendahuluan, dimaksudkan untuk memberikan gambaran

terhadap skripsi ini agar pembaca mengerti apa yang dimaksud dalam

pembahasan selanjutnya. Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah

yang berfungsi untuk memberi gambaran tentang masalah yang akan diteliti,

rumusan masalah yang menjadi pertanyaan yang harus dijawab dalam

penelitian ini, tujuan dan kegunaan penelitian dimaksudkan agar hasil yang

diharapkan sesuai dengan penulisan skripsi ini sehingga penulisan dapat

mengarah pada sasaran yang dikehendaki, ruang lingkup dan batasan

penelitian ini adalah untuk mempermudah peneliti dalam penelitian sehingga

penelitian ini fokus pada apa yang akan diteliti, dan yang terakhir adalah

sistematika pembahasan yaitu menggambarkan secara garis besar susunan

27
28

penulisan dari skripsi ini untuk memberi kemudahan bagi pembaca yang ingin

mengambil manfaat dari skripsi ini.

Bab II. Akan menguraikan kajian pustaka yang menjadi landasan dalam

penulisan dan penelitian skripsi yang berisi pembahasan tentang reward

(ganjaran); pengertian reward (ganjaran), macam-macam reward (ganjaran),

tujuan reward (ganjaran), pembahasan tentang punishment (hukuman);

pengertian punishment (hukuman), macam-macam punishment (hukuman),

tujuan punishment (hukuman), dan pembahasan tentang motivasi; pengertian

motivasi belajar, macam-macam motivasi belajar, fungsi motivasi, faktor yang

mempengaruhi motivasi belajar, serta pembahasan tentang pengertian Quran-

Hadits, fungsi Quran-Hadits, dan tujuan Quran-Hadits, pengaruh metode

reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits,

dengan pokok bahasan ini agar bisa memberikan dukungan yang mantap

sehingga mencerminkan konsep ideal sebagai landasan teori yang kuat. Hal ini

dimaksudkan agar dapat menyumbang kerangka pemikiran dalam pembahasan

berikutnya.

Bab III. Menguraikan metode penelitian yang digunakan untuk

mengumpulkan data yang berisi tentang lokasi penelitian, jenis penelitian, data

dan sumber data, populasi dan sampel, instrumen penelitian, pengumpulan

data, dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode dokumentasi,

angket, dan observasi, dan yang terakhir analisis data adalah sebagai cara

untuk menganalisa data yang telah penulis dapatkan dari obyek penelitian,

serta validitas dan reabilitas.

28
29

Bab IV. Membahas hasil penelitian berisi tentang latar belakang obyek

penelitian yang meliputi; sejarah berdirinya MAN Kandangan Kediri, serta

deskripsi data meliputi data responden, deskripsi data hasil penelitian yang

menggambarkan tentang data yang akan diolah dengan menggunakan statistik.

Bab V. Pembahasan hasil penelitian berisi tentang pembahasan

mengenai adakah pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits, seberapa

besar pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap peningkatan motivasi

belajar Quran-Hadits, seberapa besar pengaruh metode punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits, serta

interpretasi data merupakan penafsiran mengenai kesesuaian antara teori

dengan kondisi lapangan, apakah antara dasar pemikiran dengan hasil

pemikiran ada kesesuaian, sehingga membantu pembaca skripsi mengetahui

sejauh mana hasil-hasil tersebut dapat diterapkan di dalam praktek.

Bab VI. Penutup berisi tentang kesimpulan dari apa yang telah diuraikan

pada bab di atas serta sebagai informasi yang telah teruji kebenaran penelitian

yang dilakukan setelah itu adalah saran yang relevan untuk membangun bagi

obyek penelitian yang bersumber atau merujuk pada materi yang ada.

29
30

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan Tentang Reward

1. Pengertian Reward (Ganjaran)

Metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) merupakan

suatu bentuk teori penguatan positif yang bersumber dari teori

Behavioristik. Menurut teori Behavioristik belajar adalah perubahan

tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan

respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang

dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan

cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.13

Ganjaran menurut bahasa, berasal dari bahasa Inggris reward yang

berarti penghargaan atau hadiah14

Sedangkan reward (ganjaran) menurut istilah ada beberapa pendapat

yang akan dikemukakan sebagai berikut, diantaranya adalah:

Menurut M. Ngalim Purwanto reward (ganjaran) ialah alat untuk


mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan
atau pekerjaannya mendapat penghargaan15

Menurut Amir Daien Indrakusuma reward (ganjaran) adalah


penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya siswa16

13
Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 20
14
John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1996),
hlm. 485
15
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm. 182
16
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 159

30
31

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa reward

(ganjaran) adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang

menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa karena mendapat

hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa

melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji.

Peranan reward (ganjaran) dalam proses pengajaran cukup penting

terutama sebagai faktor eksternal dalam mempengaruhi dan mengarahkan

perilaku siswa. Hal ini berdasarkan atas berbagai pertimbangan logis,

diantaranya reward (ganjaran) biasanya dapat menimbulkan motivasi

belajar siswa, dan reward (ganjaran) juga memiliki pengaruh positif dalam

kehidupan siswa.

Manusia selalu mempunyai cita-cita, harapan dan keinginan. Inilah

yang dimanfaatkan oleh metode reward (ganjaran). Maka dengan metode

ini, seseorang mengerjakan perbuatan baik atau mencapai suatu prestasi

yang tertentu diberikan suatu reward (ganjaran) yang menarik sebagai

imbalan. Dengan demikian dengan melakukan sesuatu perbuatan atau

mencapai suatu prestasi.17

Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan yang mudah

dilaksanakan dan sangat menyenangkan para siswa, untuk itu reward

(ganjaran) dalam suatu proses pendidikan sangat dibutuhkan

keberadaannya demi meningkatkan motivasi belajar siswa.

17
Mahfudh Shalahuddin, dkk. Metodologi Pendidikan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 1987),
hlm. 81

31
32

Maksud dari pendidik memberi reward (ganjaran) kepada siswa

adalah supaya siswa menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki

atau mempertinggi prestasi yang telah dicapainya, dengan kata lain siswa

menjadi lebih keras kemauannya untuk belajar lebih baik.18

Dalam agama Islam juga mengenal metode reward (ganjaran), ini

terbukti dengan adanya pahala. Pahala adalah bentuk penghargaan yang

diberikan Allah SWT kepada umat Nya yang beriman dan mengerjakan

amal-amal saleh seperti; sholat, puasa, membaca al-Quran dan perbuatan-

perbuatan lain yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam al-Quran juga dijelaskan bahwa kita dianjurkan untuk

berbuat kebaikan, yaitu dalam Q.S. al-Baqarah ayat 26119

" !

()* " ' ! & % ! !$ #

Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang


menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261)

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa metode reward (ganjaran)

mendidik kita untuk berbudi luhur, maka diharapkan agar manusia selalu

18
M. Ngalim Purwanto, loc. cit.
19
Departemen Agama RI, Al-Quran Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Quran, 2002), hlm. 45

32
33

berbuat baik dalam upaya mencapai prestasi-prestasi tertentu dalam hidup

dan kehidupan di dunia.

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian

reward (ganjaran) dalam konteks pendidikan dapat diberikan bagi siapa

saja yang berprestasi, dengan adanya reward (ganjaran) itu siswa akan

lebih giat belajar karena dengan adanya reward (ganjaran) itu siswa

menjadi termotivasi untuk selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik,

untuk itulah pentingnya metode reward (ganjaran) di terapkan di sekolah.

2. Macam-macam Reward (Ganjaran)

Reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat positif terhadap

belajarnya murid. Reward (ganjaran) yang diberikan kepada siswa

bentuknya bermacam-macam, secara garis besar reward (ganjaran) dapat

dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

a. Pujian

Pujian adalah satu bentuk reward (ganjaran) yang paling mudah

dilakukan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti: baik, bagus, bagus

sekali dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat

sugesti. Misalnya: Nah, lain kali akan lebih baik lagi. Kiranya kau

sekarang telah lebih rajin belajar dan sebagainya. Disamping yang

berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat atau pertanda-

pertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan

menepuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya.

33
34

b. Penghormatan

Reward (ganjaran) yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk

dua macam pula.

Pertama berbentuk semacam penobatan. Yaitu anak yang mendapat

penghormatan diumumkan dan ditampilkan dihadapan teman-temannya.

Dapat juga dihadapan teman-temannya sekelas, teman-teman sekolah,

atau mungkin juga dihadapan para teman dan orang tua murid. Misalnya

saja pada malam perpisahan yang diadakan pada akhir tahun, kemudian

ditampilkan murid-murid yang telah berhasil menjadi bintang-bintang

kelas. Penobatan dan penampilan bintang-bintang pelajar untuk suatu

kota atau daerah, biasanya dilakukan di muka umum. Misalnya pada

rangkaian upacara hari proklamasi kemerdekaan.

Kedua, penghormatan yang berbentuk pemberian kekuasaan untuk

melakukan sesuatu. Misalnya, kepada anak yang berhasil menyelesaikan

suatu soal yang sulit, disuruh mengerjakannya di papan tulis untuk

dicontoh teman-temannya.

c. Hadiah

Yang dimaksud dengan hadiah di sini ialah reward (ganjaran) yang

berbentuk pemberian yang berupa barang. Reward (ganjaran) yang

berupa pemberian barang ini disebut juga reward (ganjaran) materiil,

yaitu hadiah yang berupa barang ini dapat terdiri dari alat-alat keperluan

sekolah, seperti pensil, penggaris, buku dan lain sebagianya.

34
35

d. Tanda Penghargaan

Jika hadiah adalah reward (ganjaran) yang berupa barang, maka

tanda penghargaan adalah kebalikannya. Tanda penghargaan tidak

dinilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti

halnya pada hadiah. Melainkan, tanda pengahargaan dinilai dari segi

kesan atau nilai kenangnya. Oleh karena itu reward (ganjaran) atau

tanda penghargaan ini disebut juga reward (ganjaran) simbolis. Reward

(ganjaran) simbolis ini dapat berupa surat-surat tanda jasa, sertifikat-

sertifikat.20

Dari keempat macam reward (ganjaran) tersebut di atas, dalam

penerapannya seorang guru dapat memilih bentuk macam-macam

reward (ganjaran) yang cocok dengan siswa dan disesuaikan dengan

situasi dan kondisi, baik situasi dan kondisi siswa atau situasi dan

kondisi keuangan, bila hal itu menyangkut masalah keuangan.

Dalam memberikan reward (ganjaran) seorang guru hendaknya

dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan reward (ganjaran),

seorang guru harus selalu ingat akan maksud reward (ganjaran) dari

pemberian reward (ganjaran) itu. Seorang siswa yang pada suatu ketika

menunjukkan hasil lebih baik dari pada biasanya, mungkin sangat baik

diberi reward (ganjaran). Dalam hal ini seorang guru hendaklah

bijaksana, jangan sampai reward (ganjaran) menimbulkan iri hati pada

20
Amir Daien Indrakusuma, op .cit., hlm. 159-161

35
36

siswa yang lain yang merasa dirinya lebih pandai, tetapi tidak mendapat

reward (ganjaran).

Kalau kita perhatikan apa yang telah diuraikan tentang maksud

reward (ganjaran), serta macam-macam reward (ganjaran) yang baik

diberikan kepada siswa, ternyata bukanlah soal yang mudah. Ada

beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru sebelum

memberikan reward (ganjaran) pada siswa yaitu:

a. untuk memberi reward (ganjaran) yang pedagogis perlu sekali guru

mengenal betul-betul siswanya dan tahu menghargai dengan tepat.

Reward (ganjaran) dan penghargaan yang salah dan tidak tepat dapat

membawa akibat yang tidak diinginkan.

b. Reward (ganjaran) yang diberikan kepada seorang siswa janganlah

hendaknya menimbulkan rasa cemburu atau iri hati bagi siswa lain

yang merasa pekerjaannya juga lebih baik, tetapi tidak mendapat

reward (ganjaran).

c. Memberi reward (ganjaran) hendaklah hemat. Terlalu kerap atau

terus-menerus memberi reward (ganjaran) dan penghargaan akan

menjadi hilang arti reward (ganjaran) itu sebagai alat pendidikan.

d. Janganlah memberi reward (ganjaran) dengan menjanjikan lebih

dahulu sebelum siswa menunjukkan prestasi kerjanya apalagi bagi

reward (ganjaran) yang diberikan kepada seluruh kelas. Reward

(ganjaran) yang telah dijanjikan lebih dahulu hanyalah akan membuat

36
37

siswa terburu-buru dalam bekerja dan akan membawa kesukaran-

kesukaran bagi beberapa siswa yang kurang pandai.

e. Pendidik harus berhati-hati memberikan reward (ganjaran), jangan

sampai reward (ganjaran) yang diberikan pada siswa diterima sebagai

upah dari jerih payah yang telah dilakukannya.21

Ada beberapa pendapat para ahli pendidikan terhadap reward

(ganjaran) sebagai alat pendidikan berbeda-beda. Sebagian menyetujui

dan menganggap penting reward (ganjaran) itu dipakai sebagai alat

untuk membentuk kata hati siswa. Sebaliknya ada pula ahli-ahli

pendidikan yang tidak suka sama sekali menggunakan reward

(ganjaran). Mereka berpendapat bahwa reward (ganjaran) itu dapat

menimbulkan persaingan yang tidak sehat pada siswa. Menurut pendapat

mereka, seorang guru hendaklah mendidik siswa supaya mengerjakan

dan berbuat yang baik dengan tidak mengharapkan pujian atau reward

(ganjaran), tetapi semata-mata karena pekerjaan atau perbuatan itu

memang kewajibannya.

Sedangkan pendapat yang terakhir adalah terletak diantara

keduanya, sebagai seorang pendidik hendaknya menginsafi bahwa yang

dididik adalah siswa yang masih lemah kemauannya dan belum

mempunyai kata hati seperti orang dewasa. Dari mereka belumlah dapat

dituntut supaya mereka mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang

buruk atas kemauan dan keinsafannya sendiri. Perasaan kewajiban

21
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm. 184

37
38

mereka masih belum sempurna, bahkan pada siswa yang masih kecil

boleh dikatakan belum ada. Untuk itu, maka pujian dan reward

(ganjaran) sangat diperlukan pula dan berguna bagi pembentukan kata

hati dan kemauan.22

Setelah mengetahui beberapa pendapat para ahli pendidikan di atas

dapatlah disimpulkan, reward (ganjaran) juga sangat penting tapi ada

juga dampak negatifnya, untuk itu seorang guru harus memberitahu

kepada siswa bahwa berbuat baik bukan karena mengaharap suatu pujian

atau reward (ganjaran), maka seorang guru harus selalu ingat akan

syarat-syarat reward (ganjaran) seperti yang diuraikan di atas.

Reward (ganjaran) adalah alat yang mendidik, maka dari itu reward

(ganjaran) tidak boleh berubah sifatnya menjadi upah. Upah adalah

sesuatu yang mempunyai nilai sebagai ganti rugi dari suatu pekerjaan

atau suatu jasa. Upah adalah sebagai pembayar suatu tenaga, pikiran,

atau pekerjaan yang telah dilakukan seseorang. Sedangkan reward

(ganjaran) sebagai alat pendidikan tidaklah demikian, untuk itu seorang

guru harus selalu ingat maksud dari pemberian reward (ganjaran) itu.23

3. Tujuan Reward (Ganjaran)

Mengenai masalah reward (ganjaran), perlu peneliti bahas tentang

tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward (ganjaran). Hal ini

dimaksudkan, agar dalam berbuat sesuatu bukan karena perbuatan semata-

22
M. Ngalim Purwanto, op. cit. hlm. 184 -185
23
Ibid. hlm. 182

38
39

mata, namun ada sesuatu yang harus dicapai dengan perbuatannya, karena

dengan adanya tujuan akan memberi arah dalam melangkah.

Tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward (ganjaran)

adalah untuk lebih mengembangkan motivasi yang bersifat intrinsik dari

motivasi ektrinsik, dalam artian siswa melakukan suatu perbuatan, maka

perbuatan itu timbul dari kesadaran siswa itu sendiri. Dan dengan reward

(ganjaran) itu, juga diharapkan dapat membangun suatu hubungan yang

positif antara guru dan siswa, karena reward (ganjaran) itu adalah bagian

dari pada penjelmaan dari rasa cinta kasih sayang seorang guru kepada

siswa.

Jadi, maksud dari reward (ganjaran) itu yang terpenting bukanlah

hasil yang dicapai seorang siswa, tetapi dengan hasil yang dicapai siswa,

guru bertujuan membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan

lebih keras pada siswa.

Seperti halnya telah disinggung di atas, bahwa reward (ganjaran)

disamping merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan,

reward (ganjaran) juga dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi siswa

untuk belajar lebih baik lagi.

39
40

B. Pembahasan Tentang Punishment

1. Pengertian Punishment (Hukuman)

Hukuman menurut bahasa berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata

Punishment yang berarti Law (hukuman) atau siksaan.24 Sedangkan

menurut istilah ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli

pendidikan tentang punishment (hukuman), diantaranya adalah sebagai

berikut:

Menurut Malik Fadjar punishment (hukuman) adalah usaha edukatif


untuk memperbaiki dan mengarahkan siswa ke arah yang benar, bukan
praktik hukuman dan siksaan yang memasung kreativitas25

Menurut Roestiyah punishment (hukuman) adalah suatu


perbuatan yang tidak menyenangkan dari orang yang lebih tinggi
kedudukannya untuk pelanggaran dan kejahatan, bermaksud memperbaiki
kesalahan anak26

Menurut M. Ngalim Purwanto punishment (hukuman) adalah


penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh
seseorang (orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu
pelanggaran, kejahatan atau kesalahan27

Menurut Amir Daien punishment (hukuman) adalah tindakan yang


dijatuhkan kepada anak secara sadar dan disengaja sehingga menimbulkan
nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar akan
perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya28

24
John M. Echole dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1996),
hlm. 456
25
Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 202
26
Y. Roestiyah, Didaktik Metodik (Jakarta: Rineka Cipta, 1978), hlm. 63
27
M. Ngalim Purwanto. op. cit., hlm. 186
28
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 147

40
41

Menurut Ahmadi dan Uhbiyati dalam bukunya yang berjudul Ilmu

Pendidikan

Punishment (hukuman) adalah suatu perbuatan, di mana kita secara


sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, yang baik
dari segi kejasmanian maupun dari segi kerohanian orang lain itu
mempunyai kelemahan bila dibandingkan dengan diri kita, dan oleh
karena itu maka kita mempunyai tanggung jawab untuk
membimbingnya dan melindunginya29

Dari beberapa pendapat di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan,

bahwa punishment (hukuman) adalah suatu perbuatan yang kurang

menyenangkan, yang berupa penderitaan yang diberikan kepada siswa

secara sadar dan sengaja, sehingga sadar hatinya untuk tidak mengulangi

lagi.

Punishment (hukuman) diberikan bukan sebagai bentuk siksaan baik

fisik maupun rohani, melainkan sebagai usaha mengembalikan siswa ke

arah yang baik dan memotivasinya menjadi pribadi yang imajinatif, kreatif

dan produktif.30

Punishment (hukuman) sebagai alat pendidikan, meskipun

mengakibatkan penderitaan bagi si siswa yang terhukum, namun dapat

juga menjadi alat motivasi, alat pendorong untuk mempergiat aktivitas

belajar siswa (meningkatkan motivasi belajar siswa). Ia berusaha untuk

dapat selalu memenuhi tugas-tugas belajarnya, agar terhindar dari bahaya

hukuman.31 Dengan adanya punishment (hukuman) itu diharapkan supaya

29
Abu Ahmadi dan Abu Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 150
30
Malik Fadjar, op. cit., hlm. 203
31
Abu Ahmadi dan Uhbiyati, op. cit. hlm. 156

41
42

siswa dapat menyadari kesalahan yang diperbuatnya, sehingga siswa jadi

berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Dalam memberikan punishment (hukuman) guru tidak boleh

bertindak sewenang-wenang, punishment (hukuman) yang diberikan itu

harus bersifat pedagogis dan bukan karena balas dendam.

Punishment (hukuman) bisa dikatakan berhasil apabila dapat

menimbulkan perasaan penyesalan akan perbuatan yang telah

dilakukannya. Di samping itu punishment (hukuman) juga mempunyai

dampak sebagai berikut:

a. Menimbulkan perasaan dendam pada si terhukum. Ini adalah akibat dari

hukuman sewenang-wenang dan tanpa tanggung jawab.

b.Menyebabkan siswa menjadi lebih pandai menyembunyikan

pelanggaran.

c. Dapat memperbaiki tingkah laku si pelanggar.

d. Mengakibatkan si pelanggar menjadi kehilangan perasaan salah, oleh

karena kesalahannya dianggap telah dibayar dengan punishment

(hukuman) yang telah dideritanya.

e. Akibat yang lain adalah memperkuat kemauan si pelanggar untuk

menjalankan kebaikan.32

Setelah mengetahui tentang akibat dari punishment (hukuman)

sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dengan adanya

punishment (hukuman) adalah agar siswa yang melakukan pelanggaran

32
M. Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 189

42
43

dapat memperbaiki perbuatannya dan tingkah lakunya yang tidak baik dan

diharapkan untuk tidak mengulangi pelanggaran yang pernah dilakukan.

Punishment (hukuman) merupakan alat pendidikan yang tidak

menyenangkan, bersifat negatif, namun demikian dapat juga menjadi

motivasi, alat pendorong untuk mempergiat belajarnya siswa. Siswa yang

pernah mendapat punishment (hukuman) karena tidak mengerjakan tugas,

maka ia akan berusaha untuk tidak memperoleh punishment (hukuman)

lagi. Ia berusaha untuk dapat selalu memenuhi tugas-tugas belajarnya agar

terhindar dari bahaya punishment (hukuman). Hal ini berarti bahwa ia

didorong untuk selalu belajar.33

Metode punishment (hukuman) dalam Islam juga dianjurkan, karena

dengan adanya punishment (hukuman) itu, manusia akan berusaha untuk

tidak mendapat punishment (hukuman), dalam agama Islam dikenal

dengan dosa, berikut ayat yang menjelaskan tentang punishment

(hukuman), yaitu QS. Al-Baqarah ayat 17934

*. (# -' $" , &+ ! % ' # $

Artinya: Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup


bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (QS. Al-
Baqarah: 179)

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa dengan adanya

punishment (hukuman), maka terpeliharalah kehidupan manusia. Sebab

33
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 165
34
Departemen Agama RI, Al-Quran Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Quran, 2002), hlm. 28

43
44

orang akan lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dalam dunia

pendidikan juga menerapkan punishment (hukuman) tidak lain hanyalah

untuk memperbaiki tingkah laku siswa untuk menjadi lebih baik.

Punishment (hukuman) di sini sebagai alat pendidikan untuk memperbaiki

pelanggaran yang dilakukan siswa bukan untuk balas dendam.

Supaya punishment (hukuman) bisa menjadi alat pendidikan, maka

seorang guru sebelum memberikan punishment (hukuman) pada siswa

yang melakukan pelanggaran sebaiknya guru memperhatikan syarat-syarat

punishment (hukuman) yang bersifat pedagogis sebagai berikut:

a. Tiap-tiap punishment (hukuman) handaknya dapat dipertanggung

jawabkan. Ini berarti punishment (hukuman) itu tidak boleh sewenang-

wenang.

b. Punishment (hukuman) itu sedapat-dapatnya bersifat memperbaiki.

c. Punishment (hukuman) tidak boleh bersifat ancaman atau pembalasan

dendam yang bersifat perorangan

d. Jangan menghukum pada waktu kita sedang marah

e. Tiap-tiap punishment (hukuman) harus diberikan dengan sadar dan

sudah diperhitungkan atau dipertimbangkan terlebih dahulu.

f. Bagi si terhukum (siswa), punishment (hukuman) itu hendaklah dapat

dirasakan sendiri sebagai kedukaan atau penderitaan yang sebenarnya.

g. Jangan melakukan punishment (hukuman) badan sebab pada hakikatnya

punishment (hukuman) badan itu dilarang oleh Negara.

44
45

h. Punishment (hukuman) tidak boleh merusakkan hubungan baik antara si

pendidik dan siswa

i. Adanya kesanggupan memberikan maaf dari si pendidik, sesudah

menjatuhkan punishment (hukuman) dan setelah siswa itu menginsafi

kesalahannya.35

Di samping persyaratan di atas, ada juga pendapat yang

mengemukakan tentang syarat-syarat yang diperhatikan dalam

memberikan punishment (hukuman), yaitu:

a. Pemberian punishment (hukuman) harus tetap dalam jalinan cinta kasih

sayang. Kita memberikan punishment (hukuman) kepada siswa, bukan

karena kita ingin menyakiti hati siswa, bukan karena ingin

melampiaskan rasa dendam, dan sebagainya. Kita menghukum siswa

demi kebaikan, demi kepentingan siswa, demi masa depan dari siswa.

Oleh karena itu, sehabis punishment (hukuman) dilaksanakan, maka

tidak boleh berakibat putusnya hubungan cinta kasih sayang tersebut.

b. Pemberian punishment (hukuman) harus didasarkan kepada alasan

keharusan. Artinya sudah tidak ada alat pendidikan yang lain yang

bisa dipergunakan. Seperti halnya di muka telah dijelaskan, bahwa

punishment (hukuman) merupakan tindakan terakhir kita laksanakan,

setelah dipergunakan alat-alat pendidikan lain tetapi tidak memberikan

hasil. Dalam hal ini kiranya patut diperingatkan bahwa kita hendaknya

jangan terlalu terbiasa dengan punishment (hukuman). Kita tidak boleh

35
M. Ngalim Purwanto, op. cit. hlm. 191-192

45
46

terlalu murah dengan punishment (hukuman). Punishment (hukuman)

kita berikan kalau memang hal itu betul-betul diperlukan, dan harus kita

berikan secara bijaksana.

c. Pemberian punishment (hukuman) harus menimbulkan kesan pada hati

siswa. Dengan adanya kesan itu, siswa akan selalu mengingat pada

peristiwa tersebut. Dan kesan itu akan selalu mendorong siswa kepada

kesadaran dan keinsyafan. Tetapi sebaliknya, punishment (hukuman)

tersebut tidak boleh menimbulkan kesan yang negatif pada siswa.

Misalnya saja menyebabkan rasa putus asa pada siswa, rasa rendah diri,

dan sebagainya. Juga punishment (hukuman) tidak boleh berakibat siswa

memutuskan hubungan ikatan batin dengan gurunya. Artinya sudah tidak

mau menerima anjuran-anjuran, saran-saran yang diberikan oleh

gurunya.

d. Pemberian punishment (hukuman) harus menimbulkan keinsyafan dan

penyesalan pada siswa. Inilah yang merupakan hakekat dari tujuan

pemberian punishment (hukuman). Dengan adanya punishment

(hukuman) siswa harus merasa insyaf dan menyesali perbutannya yang

salah itu. Dan dengan keinsyafan ini siswa berjanji di dalam hatinya

sendiri untuk tidak mengulangi lagi.

e. Pada akhirnya, pemberian punishment (hukuman) harus diikuti dengan

pemberian ampun dan disertai dengan harapan serta kepercayaan.

Setelah siswa selesai menjalani hukumannya, maka guru sudah tidak lagi

menaruh atau mempunyai rasa ini dan itu terhadap siswa tersebut.

46
47

Dengan begitu guru dapat menunaikan tugas kembali dengan perasaan

yang lega, yang bebas, dan penuh dengan gairah dan kegembiraan. Di

samping itu, kepada siswa harus diberikan kepercayaan kembali serta

harapan bahwa siswa itu pun akan sanggup dan mampu berbuat baik

seperti teman-temannya yang lain.36

2. Macam-macam Punishment (hukuman)

Pada bagian ini peneliti akan membahas tentang macam-macam

punishment (hukuman) yang diberikan, disini ada beberapa pendapat

mengenai macam-macam punishment (hukuman) adalah sebagai berikut:

a. Punishment (hukuman) preventif, yaitu punishment (hukuman) yang

dilakukan dengan maksud agar tidak atau jangan terjadi pelanggaran.

Punishment (hukuman) ini bermaksud untuk mencegah jangan sampai

terjadi pelanggaran sehingga hal itu dilakukannya sebelum

pelanggaran dilakukan.37

Adapun pendapat lain mengenai pengertian punishment

(hukuman) prefentif adalah hukuman yang bersifat pencegahan.

Tujuan dari hukuman prefentif ini adalah untuk menjaga agar hal-hal

yang dapat menghambat atau menggaggu kelancaran dari proses

pendidikan bisa dihindarkan.

36
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 155-156
37
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm. 189

47
48

Yang termasuk dalam punishment (hukuman) prefentif adalah

sebagai berikut:

1) Tata Tertib

Tata tertib ialah sederetan peraturan-peraturan yang harus

ditaati dalam suatu situasi atau dalam suatu tata kehidupan, misalnya

saja, tata tertib di dalam kelas, tata tertib ujian sekolah, tata tertib

kehidupan keluarga, dan sebagainya.

2) Anjuran dan Perintah

Anjuran adalah suatu saran atau ajakan untuk berbuat atau

melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya, anjuran untuk belajar

setiap hari, anjuran untuk selalu menepati waktu, anjuran untuk

berhemat, dan sebagainya.

3) Larangan

Larangan sebenarnya sama saja dengan perintah. Kalau

perintah merupakan suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang

bermanfaat, maka larangan merupakan suatu keharusan untuk tidak

melakukan sesuatu yang merugikan. Misalnya larangan untuk

bercakap-cakap di dalam kelas, larangan untuk berkawan dengan

anak-anak malas.

4) Paksaan

Paksaan ialah suatu perintah dengan kekerasan terhadap

siswa untuk melakukan sesuatu. Paksaan dilakukan dengan tujuan,

agar jalannya proses pendidikan tidak terganggu dan terhambat.

48
49

5) Disiplin

Disiplin berarti adanya kesediaan untuk mematuhi

peraturan-peraturan dan larangan-larangan. Kepatuhan di sini bukan

hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan

kepatuhan yang didasari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan

pentingnya peraturan-peraturan dan larangan tersebut.38

b. Punishment (hukuman) represif, yaitu punishment (hukuman) yang

dilakukan oleh karena adanya pelanggaran, oleh adanya dosa yang

telah diperbuat. Jadi, punishment (hukuman) ini dilakukan setelah

terjadi pelanggaran atau kesalahan.39

Pendapat lain mengenai punishment (hukuman) represif ialah

untuk menyadarkan anak, kembali kepada hal-hal yang benar, yang

baik yang tertib. Punishment (hukuman) represif diadakan bila terjadi

sesuatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-

peraturan, atau sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan.

Adapun yang termasuk dalam punishment (hukuman) represif adalah

sebagai berikut:

1) Pemberitahuan,

Yang dimaksud pemberitahuan di sini ialah pemberitahuan

kepada siswa yang telah melakukan sesuatu yang dapat mengganggu

atau menghambat jalannya proses pendidikan. Misalnya siswa yang

bercakap-cakap di dalam kelas pada waktu pelajaran. Mungkin sekali

38
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 140-142
39
M. Ngalim Purwanto, loc., cit.

49
50

siswa itu belum tahu bahwa di dalam kelas bila ada pelajaran

dilarang bercakap-cakap dengan siswa yang lain. Oleh karena itu kita

harus memberitahu lebih dulu kepada siswa bahwa hal itu tidak

diperbolehkan.

2) Teguran

Jika pemberitahuan itu diberikan kepada siswa yang

mungkin belum mengetahui tentang suatu hal, maka teguran itu

berlaku bagi siswa yang telah mengetahui.

3) Peringatan

Peringatan diberikan kepada siswa yang telah beberapa

kali melakukan pelanggaran, dan telah diberikan teguran atas

pelanggarannya.

4) Hukuman

Hukuman adalah yang paling akhir diambil apabila teguran

dan peringatan belum mampu untuk mencegah siswa melakukan

pelanggaran-pelanggaran.

5) Ganjaran

Ganjaran adalah alat pendidikan yang sangat

menyenangkan. Ganjaran diberikan kepada siswa yang menunjukkan

hasil baik pada pendidikannya.40

40
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 144-146

50
51

Pendapat lain tentang macam-macam punishment (hukuman) adalah

pendapat Wiliam Stern membedakan tiga macam punishment (hukuman)

yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak-anak yang menerima

punishment (hukuman).

a. Punishment (hukuman) Asosiatif

Umumnya, orang mengasosiasikan antara punishment (hukuman)

dan kejahatan atau pelanggaran, antara penderitaan yang diakibatkan

oleh punishment (hukuman) dengan perbuatan pelanggaran yang

dilakukan. Untuk menyingkirkan perasaan tidak enak (hukum) itu,

biasanya orang atau anak menjahui perbuatan yang tidak baik atau

yang dilarang.

b. Punishment (hukuman) Logis

Punishment (hukuman) ini dipergunakan terhadap anak-anak

yang telah agak besar. Dengan punishment (hukuman) ini, anak

mengerti bahwa punishment (hukuman) itu adalah akibat yang logis

dari pekerjaan atau perbuatannya yang tidak baik.

c. Punishment (hukuman) Normatif

Punishment (hukuman) normatif adalah punishment (hukuman)

yang bermaksud memperbaiki moral anak-anak. Punishment

(hukuman) ini dilakukan terhadap pelanggaran-pelanggaran mengenai

norma-norma etika, seperti berdusta, menipu, dan mencuri. Jadi,

punishment (hukuman) normatif sangat erat hubungannya dengan

pembentukan watak anak-anak. Dengan hubungan ini, pendidik

51
52

berusaha mempengaruhi kata hati anak, menginsafkan anak terhadap

perbuatannya yang salah, dan memperkuat kemauannya untuk selalu

berbuat baik dan menghindari kejahatan.

Di samping pembagian seperti tersebut di atas, punishment

(hukuman) itu dapat dibedakan seperti berikut ini:

a. Punishment (hukuman) Alam

Yang menganjurkan punishment (hukuman) ini ialah J.J.

Rousseau. Menurut Rousseau, anak-anak ketika dilahirkan adalah suci,

bersih dari segala noda dan kejahatan. Adapun yang menyebabkan

rusaknya anak itu ialah masyarakat manusia itu sendiri. Maka dari itu,

Rousseau menganjurkan supaya anak-anak dididik menurut alamnya.

Demikian pula mengenai punishment (hukuman) Rousseau

menganjurkan hukum alam. Biarlah alam yang menghukum anak

itu.

Tetapi, ditinjau secara pedagogis, punishment (hukuman) alam

itu tidak mendidik. Dengan punishment (hukuman) alam saja anak

tidak dapat mengetahui norma-norma etika-mana yang baik dan mana

yang buruk, mana yang boleh dan harus diperbuat dan yang tidak.

Anak tidak dapat berkembang sendiri ke arah yang sesuai dengan cita-

cita dan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Lagi pula, punishment

(hukuman) alam itu sangat membahayakan anak, bahkan kadang-

kadang membinasakannya.

52
53

b. Punishment (hukuman) yang disengaja

Punishment (hukuman) ini sebagai lawan dari punishment

(hukuman) alam. Punishment (hukuman) macam ini dilakukan dengan

sengaja dan bertujuan. Sebagai contoh ialah punishment (hukuman)

yang dilakukan oleh si pendidik terhadap siswanya, punishment

(hukuman) yang dijatuhkan oleh seorang hakim kepada si terdakwa

atau pelanggar. 41

Bila ditinjau dari segi cara memberikan punishment (hukuman) maka

punishment (hukuman) dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

a. Punishment (hukuman) dengan isyarat

Punishment (hukuman) semacam ini dijatuhkan kepada sesama

atau siswa dengan cara memberi isyarat melalui mimik dan juga

pantomimik, misalnya dengan mata, raut muka dan bahkan ganjaran

anggota tubuh. Punishment (hukuman) isyarat ini biasanya digunakan

terhadap pelanggaran-pelanggaran ringan yang sifatnya preventif

terhadap perbuatan atau tingkah laku siswa atau anak didik, namun

dengan isyarat ini merupakan manifestasi bahwa perbuatan yang

dikehendaki dan tidak berkenan di hati orang lain, atau dengan kata

lain tingkah lakunya salah.

41
M. Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 189-191

53
54

b. Punishment (hukuman) dengan perkataan

Punishment (hukuman) dengan perkataan dimaksudkan sebagai

punishment (hukuman) yang dijatuhkan kepada siswa dengan melalui

perkataan misalnya:

1) Memberi nasehat dan kata-kata yang mempunyai sifat kontruktif.

Dalam hal ini, siswa yang melakukan pelanggaran diberi tahu, di

samping juga diberi peringatan atau dituangkan benih-benih

kesadaran agar siswa tidak mengulangi lagi perbuatannya yang

keliru.

2) Teguran dan peringatan, hal ini diberikan kepada siswa yang masih

baru satu atau dua kali melakukan kesalahan atau pelanggaran. Bagi

siswa yang masih baru satu atau dua kali melakukan pelanggaran

tersebut, hendaknya hanya diberikan teguran saja. Namun jika dilain

waktu siswa melanggar lagi secara berulang-ulang maka siswa

tersebut diberi peringatan.

3) Ancaman, maksudnya adalah punishment (hukuman) berupa

ultimatum yang menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang

terjadi dengan maksud agar siswa merasa takut dan berhenti dari

perbuatannya yang salah. Ancaman ini merupakan punishment

(hukuman) yang bersifat preventif atau pencegahan sebelum siswa

tersebut melakukan kesalahan.

54
55

c. Punishment (hukuman) dengan perbuatan

Punishment (hukuman) ini diberikan kepada siswa dengan

memberikan tugas-tugas terhadap siswa yang bersalah. Misalnya

dengan memberi pekerjaan rumah yang jumlahnya tidak sedikit,

termasuk memindahkan tempat duduk, atau bahkan dikeluarkan dari

kelas. Namun hal ini juga guru harus mempertimbangkan bila yang

dikeluarkan tersebut memang siswa yang bandel maka baginya hal ini

membuatnya merasa senang.

d. Punishment (hukuman) badan

Yang dimaksud dengan punishment (hukuman) badan ini adalah

punishment (hukuman) yang dijatuhkan dengan cara menyakiti badan

siswa baik dengan alat atau tidak, misalnya memukul, mencubit, dan

lain sebagainya.42

Dari macam-macam punishment (hukuman) yang telah

disebutkan di atas dimaksudkan untuk memperbaiki perbuatan siswa

yang salah menjadi baik.

Menurut M. Athiyah al-Abrasyi maksud memberikan punishment

(hukuman) dalam pendidikan adalah punishment (hukuman) sebagai

tuntunan dan perbaikan, bukan sebagai hardikan atau balas dendam.43

Punishment (hukuman) badan yang membahayakan bagi siswa

tidak sepantasnya diberikan dalam dunia pendidikan, karena

punishment (hukuman) semacam ini tidak mendorong siswa untuk


42
Abu Ahmadi, Pengantar Metodik Dedaktik (Bandung: Armico, 1987), hlm. 73
43
M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang,
1993), hlm. 153

55
56

berbuat sesuai dengan kesadarannya. Sehingga siswa trauma maka

siswa tidak akan mau untuk belajar bahkan akan minta berhenti dari

sekolah.

Dalam pemberian punishment (hukuman) badan harus memenuhi

beberapa syarat yaitu:

a. Sebelum berumur 10 tahun anak-anak tidak boleh dipukul

b. Pukulan tidak boleh lebih dari tiga kali. Yang dimaksud dengan

pukulan di sini ialah lidi atau tongkat kecil bukan tongkat besar.

c. Diberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertobat dari apa

yang telah dia lakukan dan memperbaiki kesalahan tanpa perlu

menggunakan pukulan atau merusak nama baiknya (menjadikan ia

malu).44

Bila kita ingin sukses di dalam pengajaran, kita harus memikirkan

setiap murid dan memberikan punishment (hukuman) yang sesuai

setelah kita timbang-timbang kesalahannya dan setelah mengetahui latar

belakangnya. Bila seorang siswa bersalah mengakui kesalahannya dan

merasakan betapa kasih sayang guru terhadapnya, maka ia akan sendiri

akan datang kepada guru minta dijatuhi punishment (hukuman) karena

merasa akan ada keadilan, mengharap dikasihani, serta ketetapan hati

buat tobat dan tidak lagi akan kembali kepada kesalahan yang sama.

Dengan jalan demikian akan sampailah kita kepada maksud utama dari

punishment (hukuman) sekolahan yaitu perbaikan.

44
Ibid., hlm. 153

56
57

3. Tujuan Punishment (hukuman)

Tujuan merupakan salah satu faktor yang harus ada dalam setiap

aktifitas, karena aktifitas yang tanpa tujuan tidak mempunyai arti apa-apa,

dan akan menimbulkan kerugian serta kesia-siaan. Sehubungan dengan

punishment (hukuman) yang dijatuhkan kepada siswa, maka tujuan yang

ingin dicapai sesekali bukanlah untuk menyakiti atau untuk menjaga

kehormatan guru atau sebaliknya agar guru itu ditaati oleh siswa, akan

tetapi tujuan punishment (hukuman) yang sebenarnya adalah agar siswa

yang melanggar merasa jera dan tidak akan mengulangi lagi.

Tujuan pemberian punishment (hukuman) ada dua macam, yaitu

tujuan dalam jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan dalam

jangka pendek adalah untuk menghentikan tingkah laku yang salah,

sedangkan tujuan dalam jangka panjang adalah untuk mengajar dan

mendorong siswa agar dapat menghentikan sendiri tingkah lakunya yang

salah.45

Maksud guru memberi punishment (hukuman) itu bermacam-

macam, hal ini sangat erat hubungannya dengan pendapat orang tentang

teori-teori punishment (hukuman), maka tujuan pemberian punishment

(hukuman) berbeda-beda sesuai dengan teori punishment (hukuman) yang

ada.

45
Charles Schaefer, Bagaimana Mendidik Dan Mendisplinkan Anak (Jakarta: Kesain Blanc,
1986), hlm. 91

57
58

a. Teori pembalasan

Teori inilah yang tertua. Menurut teori ini, punishment (hukuman)

diadakan sebagai pembalasan dendam terhadap kelainan dan

pelanggaran yang telah dilakukan seseorang. Tentu saja teori ini tidak

boleh dipakai dalam pendidikan di sekolah.

b. Teori perbaikan

Menurut teori ini, punishment (hukuman) diadakan untuk membasmi

kejahatan. Maksud dari punishment (hukuman) ini adalah untuk

memperbaiki si pelanggar agar jangan berbuat kesalahan lagi.

c. Teori perlindungan

Menurut teori ini punishment (hukuman) diadakan untuk melindungi

masyarakat dari perbuatan-perbuatan yang tidak wajar. Dengan adanya

punishment (hukuman) ini, masyarakat dapat dilindungi dari kejahatan-

kejahatan yang telah dilakukan oleh pelanggar.

d. Teori ganti rugi

Menurut teori ini, punishment (hukuman) diadakan untuk mengganti

kerugian-kerugian yang telah diderita akibat dari kejahatan-kejahatan

atau pelanggaran itu. Punishment (hukuman) ini banyak dilakukan dalam

masyarakat atau pemerintah.

e. Teori menakut-nakuti

Menurut teori ini, punishment (hukuman) diadakan untuk

menimbulkan perasaan takut kepada si pelanggar akan akibat

58
59

perbuatannya yang melanggar itu sehingga ia akan takut melakukan

perbuatan itu dan mau meninggalkannya.46

Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa setiap teori-

teori itu belum lengkap karena masing-masing hanya mencakup satu aspek

saja. Tiap-tiap teori tadi saling membutuhkan kelengkapan dari teori yang

lain. Untuk itu pemberian punishment (hukuman) pada siswa hanya

bersifat untuk memperbaiki tabiat dan tingkah laku siswa, untuk mendidik

kearah kebaikan.

Setelah mengetahui tujuan dari punishment (hukuman) dalam

pendidikan di atas maka kita harus mengetahui punishment (hukuman)

yang cocok untuk diterapkan dalam dunia pendidikan, tokoh-tokoh teori

behavioristik dalam menanggapi punishment (hukuman) mereka tidak

menganjurkan digunakannya punishment (hukuman) dalam kegiatan

belajar, berikut alasan Skinner mengapa tidak setuju dengan metode

punishment (hukuman);

a. Pengaruh punishment (hukuman) terhadap perubahan tingkah laku

sangat bersifat sementara

b. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi

bagian dari jiwa si terhukum) bila punishment (hukuman) berlangsung

lama

c. Punishment (hukuman) mendorong si terhukum mencari cara lain

(meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari punishment (hukuman).

46
M. Ngalim Purwanto, op. cit. hlm. 187-189

59
60

Dengan kata lain, punishment (hukuman) dapat mendorong si terhukum

melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk dari pada kesalahan

yang diperbuatnya.47

C. Pembahasan Tentang Motivasi Belajar

1. Pengertian motivasi belajar

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi.

Namun, sebelum kita lebih jauh membahas tentang motivasi belajar maka

perlulah dibedakan dahulu antara pengertian motivasi dan pengertian

belajar.

Sebelum sampai pada motivasi, maka penulis akan menjelaskan kata

motif terlebih dahulu, karena kata motif muncul terlebih dahulu

sebelum kata motivasi.

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai

kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu

tersebut bertindak atau berbuat. Motif adalah daya penggerak dalam diri

seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan

tertentu. Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat

dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku

yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.48 Kedua hal tersebut

merupakan daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan

sesuatu.
47
Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 26
48
Hamzah, Teori Motivasi Dan Pengukuran Analisis Di Bidang Pendidikan (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 3

60
61

Setelah mengetahui pengertian dari motif dan motivasi, berikut ada

beberapa pendapat mengenai pengertian motivasi.

Tajdab mengemukakan motivasi adalah motif yang sudah menjadi


aktif pada saat-saat tertentu.49

Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan

kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan

sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau

mengelakkan perasaan tidak suka itu.50

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan yang dimaksud

dengan motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang

untuk melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Sedangkan istilah belajar menurut Hintzman adalah suatu


perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan)
disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku
organisme tersebut51

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan

tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari

pengalaman atau tingkah laku.52

Selain penafsiran di atas ada pendapat lain tentang belajar yang

menyatakan bahwa, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku

individu melalui interaksi dengan lingkungan. Dalam interaksi ini terjadi

serangkaian pengalaman-pengalaman belajar.53

49
Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hlm. 101
50
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajagrafindo, 2007), hlm. 75
51
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm. 90
52
Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm. 43
53
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 28

61
62

Dengan penjelasan tentang pengertian motivasi dan belajar tersebut

di atas maka dapatlah dikemukakan pengertian motivasi belajar sebagai

berikut:

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam

diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan

kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi

mencapai suatu tujuan.54

Menurut Amir Daien Indrakusuma motivasi belajar adalah


kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan
kepada kegiatan belajar murid55

Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-

siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku.56

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi

dapat dipandang sebagai fungsi, berarti motivasi berfungsi sebagai daya

penggerak dari dalam individu untuk melakukan aktivitas tertentu dalam

mencapai tujuan. Motivasi dipandang dari segi proses, berarti motivasi

dapat dirangsang oleh faktor luar, untuk menimbulkan motivasi dalam diri

siswa yang melalui proses rangsangan belajar sehingga dapat mencapai

tujuan yang di kehendaki. Motivasi dipandang dari segi tujuan, berarti

motivasi merupakan sasaran stimulus yang akan dicapai. Jika seorang

mempunyai keinginan untuk belajar suatu hal, maka dia akan termotivasi

untuk mencapainya.

54
Tadjab, op. cit., hlm. 102
55
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 162
56
Hamzah, Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang Pendidikan (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 23

62
63

2. Macam-macam Motivasi Belajar

Berbicara mengenai macam-macam motivasi belajar di sekolah dapat

dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu:

a. Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik

1) Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya tidak perlu rangsangan dari luar, karena dalam diri

setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu57

Sedangkan menurut Oemar Hamalik motivasi intrinsik adalah hal

dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat

mendorongnya melakukan tindakan belajar.58

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik

adalah motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang dan tidak

memerlukan rangsangan dari luar karena memang sudah ada dalam

dalam diri setiap individu.

Menurut Amir Daien Indrakusuma dalam bukunya Pengantar

Ilmu Pendidikan disebutkan ada hal-hal yang dapat menimbulkan

motivasi intrinsik adalah sebagai berikut:

a) Adanya kebutuhan

Dengan adanya kebutuhan, maka hal ini menjadi pendorong

bagi siswa untuk berbuat dan berusaha. Misalnya saja anak ingin

mengetahui isi cerita dari buku komik. Keinginan untuk

57
Sardiman, op. cit., hlm. 89
58
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar (Jakarta: Rajagrafindo, 2006), hlm. 152

63
64

mengetahui isinya ini dapat menjadi pendorong yang kuat bagi

siswa untuk belajar membaca karena apabila ia telah dapat

membaca maka ia akan mengerti, maka ini dapat berarti bahwa

kebutuhannya ingin mengetahui isi cerita dari buku komik itu telah

bisa dipenuhi.

b) Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri.

Dengan siswa mengetahui hasil-hasil atau prestasinya

sendiri, dengan siswa mengetahui apakah dia ada kemajuan atau

sebaliknya ada kemunduran, maka hal itu dapat menjadi pendorong

bagi siswa untuk belajar lebih giat lagi.

c) Adanya aspirasi atau cita-cita

Mungkin bagi anak kecil belum mempunyai cita-cita, atau

jika mempunyai cita-cita, mungkin cita-cita itu masih begitu

sederhana. Tetapi semakin bertambahnya usia gambaran tentang

cita-cita itu akan semakin jelas, untuk itulah cita-cita itu akan

menjadi pendorong bagi seluruh kegiatan siswa, pendorong bagi

belajarnya. Di samping itu, cita-cita dari seorang siswa sangat

dipengaruhi oleh tingkat kemampuannya yang baik.59 Dengan

adanya cita-cita ini siswa akan menjadi bersemangat dalam belajar

sehingga cita-cita itu sebagai motivasi bagi mereka untuk rajin

belajar supaya apa yang di cita-citakan itu bisa terwujud.

59
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 163-164

64
65

2) Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik ialah motif-motif yang aktif dan berfungsinya

karena adanya perangsangan dari luar.60

Yang dimaksud motivasi ekstrinsik adalah motivasi atau tenaga-

tenaga pendorong yang berasal dari luar dari siswa.61

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil pengertian bahwa

motivasi ekstrinsik merupakan suatu dorongan dari luar diri siswa.

Berikut hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik

adalah sebagai berikut:

a) Ganjaran

Ganjaran adalah alat pendidikan represif yang bersifat

positif, ganjaran juga merupakan alat motivasi. Yaitu alat yang bisa

menimbulkan motivasi ekstrinsik. Ganjaran dapat menjadi

pendorong bagi siswa untuk belajar yang lebih baik, lebih giat lagi.

Macam-macam ganjaran telah dibahas di atas. Sehingga kita dapat

memilih ganjaran dengan disesuaikan dengan kondisi dan situasi

kita masing-masing.

b) Hukuman

Biar pun hukuman sebagai alat pendidikan yang tidak

menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif namun

demikian dapat menjadi motivasi, alat pendorong untuk

mempergiat belajar siswa. Siswa yang pernah mendapat hukuman

60
Sardiman, op. cit., hlm. 91
61
Amir Daien Indrakusuma, op.cit., hlm.164

65
66

karena lalai tidak mengerjakan tugas maka ia akan berusaha untuk

tidak mendapat hukuman lagi. Ini berarti, bahwa ia didorong untuk

selalu belajar. Bahkan tidak hanya ia sendiri yang terdorong untuk

selalu belajar, melainkan teman-temannya juga terdorong untuk

selalu belajar, agar mereka pun terhindar dari hukuman.

c) Persaingan (kompetisi)

Persaingan, sebenarnya adalah berdasarkan kepada

dorongan untuk kedudukan dan penghargaan. Kompetisi dapat

terjadi secara dengan sendirinya, tetapi dapat pula diadakan

kompetisi secara sengaja oleh Guru. Kompetisi yang diadakan oleh

guru dapat berbentuk bermacam-macam dan dalam berbagai

macam-macam mata pelajaran, misalnya lomba bintang kelas, kuis,

perlombaan cepat tepat menjawab soal dan lain sebagainya,

biasanya kompetisi yang sengaja diadakan oleh Guru ini selalu

diikuti dengan pemberian ganjaran, sesuai dengan bentuk dan

tingkat kompetisi tersebut.62

Selain pendapat di atas, berikut juga menjelaskan tentang

beberapa hal yang dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik, antara

lain:

a) Pendidik memerlukan anak didiknya, sebagai manusia yang

berpribadi, menghargai pendapatnya, pikirannya, perasaannya,

maupun keyakinannya

62
Ibid., hlm. 164-165

66
67

b) Pendidik menggunakan berbagai metode dalam melaksanakan

kegiatan pendidikannya

c) pendidik senantiasa memberikan bimbingan dan juga pengarahan

kepada anak didiknya dan membantu, apabila mengalami

kesulitan, baik yang bersifat pribadi maupun akademis

d) pendidik harus mempunyai pengetahuan yang luas dan

penguasaan bidang studi atau materi yang diajarkan kepada

peserta didiknya

e) pendidik harus mempunyai rasa cinta dan sifat pengabdian kepada

profesinya sebagai pendidik.63

Adapun yang menjadi indikator dari kedua motivasi di atas adalah

sebagai berikut:

a) Dorongan ingin tahu

Motivasi ini muncul karena ada kebutuhan, yaitu apabila seorang

siswa itu melakukan belajar karena betul-betul ingin mendapatkan

pengetahuan, nilai atau ketrampilan agar dapat berubah tingkah

lakunya secara konstruktif tidak karena tujuan yang lain-lain, jadi

dorongan ingin tahu dalam diri siswa itu bersumber dari atau pada

kebutuhan yang berisikan kehausan untuk menjadi terdidik dan

berpengetahuan.

63
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang Pendidikan
(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 4

67
68

b) Dorongan ingin berhasil

Motivasi ini muncul karena kebutuhan yaitu apabila seorang

siswa melakukan belajar karena dilakukan dengan unsur

kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila

dibandingkan dengan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud,

dengan kesenjangan itu timbulnya dorongan ingin berhasil pada diri

siswa dalam belajar.

c) Dorongan bekerja sama

Dorongan bekerja sama ini adalah belajar kelompok dengan

teman sekelas atau teman yang lain yang dapat menyelesaikan

masalah pelajaran, sehingga dengan demikian dorongan belajar dapat

meningkat dengan belajar kelompok tersebut.

d) Dorongan rasa percaya diri

Dorongan percaya diri pada diri siswa adalah sangat penting,

karena hal ini berhubungan dengan harga diri. Seseorang akan

berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik

dengan menjaga harga dirinya, dengan berprestasi tersebut dorongan

percaya diri pada siswa akan semakin tinggi, sehingga dia akan

berusaha untuk mempertahankan prestasinya dengan belajar.

e) Frekuansi belajar di rumah

Yang di sini adalah berapa kali siswa belajar di rumah karena

dengan kita mengetahui frekuensi siswa belajar di rumah dapat

diketahui tingkat motivasi belajar siswa.

68
69

f) Disiplin masuk sekolah

Maksudnya adalah dengan masuk sekolah siswa akan lebih giat

belajar karena semua pelajaran dia ikuti, hal ini dapat menimbulkan

motivasi dalam belajar siswa.

g) Adanya aspirasi atau cita-cita yang tinggi

Cita-cita yang menjadi tujuan hidupnya ini merupakan

pendorong bagi seluruh kegiatan siswa, pendorong bagi belajarnya,

disamping itu cita-cita dari seorang siswa dipengaruhi oleh tingkat

kemampuannya. Anak yang mempunyai kemampuan yang baik

umumnya anak mempunyai cita-cita yang realistis bila dibandingkan

dengan anak yang mempunyai kemampuan yang kurang atau

rendah.64

b. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya

1) Motif-motif bawaan

Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa

sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Misalnya; dorongan

untuk minum, makan, bekerja dan lain sebagainya.

2) Motif-motif yang dipelajari

Maksud motif-motif yang timbul karena dipelajari. Contoh;

dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan.

64
Kusumal, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional,1973), hlm. 164

69
70

c. Motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis

1) motif atau kebutuhan organis, misalnya: kebutuhan untuk makan,

minum, beristirahat.

2) motif-motif darurat yaitu dorongan untuk menyelamatkan diri,

dorongan untuk membalas, untuk berusaha. Motivasi ini timbul

karena rangsangan dari luar.

3) motif-motif objektif, yaitu motif-motif yang muncul karena dorongan

untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

d. Motivasi jasmaniah dan rohaniah

Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi ini menjadi

dua yaitu motivasi jasmaniah dan rohaniah. Yang termasuk motivasi

jasmani seperti refleks, insting otomatis, nafsu, sedangkan yang

termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.

Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat

momen.

1) momen timbulnya alasan

2) momen pilih

3) momen putusan

4) momen terbentuknya kemauan65

65
Sardiman, Interakasi Dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajagrafindo, 2007), hlm. 86-
89

70
71

3. Fungsi Motivasi belajar

Dari uraian di atas jelaslah bahwa motivasi mendorong timbulnya

kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Jadi, fungsi motivasi

itu meliputi berikut ini:

a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi

maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar

b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan

kepencapaian tujuan yang diinginkan.

c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi

mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya

suatu pekerjaan.66

Motivasi itu berkaitan erat dengan suatu tujuan, suatu cita-cita. Makin

berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan makin kuat pula motivasinya.

Menurut M. Ngalim Purwanto fungsi dari motivasi adalah:

a. Mendorong manusia untuk berbuat

Motivasi berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang

memberikan kekuatan kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas.

b. Motivasi itu menentukan arah perbuatan

Yaitu kearah perwujudan suatu tujuan cita-cita. Motivasi mencegah

penyelewengan di jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu.

Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus

ditempuh.

66
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Dan Mengajar (Bandung: Sinar Baru: 1992), hlm. 175

71
72

c. Motivasi itu menyeleksi perbuatan kita

Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang dilakukan, yang

serasi guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang

tidak bermanfaat bagi tujuan itu.67

Dari beberapa fungsi motivasi belajar di atas dapat diartikan bahwa

motivasi merupakan pendorong untuk berbuat, menentukan arah perbuatan

dan menyeleksi perbuatan itu sendiri. Semakin jelas cita-cita yang ingin

dicapai maka akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya. Dengan

adanya tujuan yang akan dicapai maka siswa akan termotivasi untuk

belajar lebih giat lagi.

4. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Peranan motivasi sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar,

dengan adanya motivasi itu, siswa manjadi tahu arah dari tujuan yang ingin

dicapainya. selain dari hal itu ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi

motivasi belajar, yaitu:

a. Kematangan

Dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, sosial dan psikis

haruslah diperhatikan, karena hal ini dapat mempengaruhi motivasi.

Seandainya dalam pemberian motivasi itu tidak memperhatikan

kematangan, maka akan mengakibatkan frustasi dan mengakibatkan hasil

belajar tidak optimal.

67
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 70-
72

72
73

b. Usaha yang bertujuan

Setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan yang ingin dicapai,

akan semakin kuat dorongan untuk belajar.

c. Pengetahuan mengenal hasil dalam motivasi

Dengan mengetahui hasil dari belajar, siswa terdorong untuk lebih giat

belajar, apalagi hasil belajar itu mengalami kemajuan siswa akan berubah

untuk mempertahankan dan meningkatkan intensitas belajarnya untuk

mendapatkan prestasi yang lebih baik dikemudian hari, untuk prestasi

yang rendah siswa giat belajar guna memperbaikinya.

d. Partisipasi

Dalam kegiatan belajar perlu memberikan kesempatan pada siswa

untuk berpartisipasi dalam keseluruhan kegiatan belajar. Dengan demikian

kebutuhan siswa akan kasih sayang dan kebersamaan akan terpenuhi,

karena siswa merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.

e. Penghargaan dan hukuman

Pemberian penghargaan dapat membangkitkan siswa untuk

mempelajari sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan adalah

membangkitkan minat. Jadi penghargaan berperan untuk membuat

pendahuluan saja, penghargaan adalah alat atau sesuatu yang diberikan

untuk mencapai tujuan. Tujuan pemberian penghargaan karena telah

melakukan belajar dengan baik, ia akan melanjutkan kegiatan belajarnya

73
74

sendiri di luar kelas. Sedangkan hukuman dapat diberikan, tetapi kalau

diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadikan alat motivasi.68

Motivasi belajar memang sangat penting untuk kegiatan belajar

mengajar, untuk itu supaya motivasi dapat berhasil dalam membangkitkan

minat belajar siswa maka seorang guru harus dapat memperhatikan faktor-

faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar yang telah disebutkan di

atas, dengan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi

dalam motivasi belajar diharapkan guru dapat memberi motivasi bagi siswa

dan siswa dapat belajar lebih giat.

D. Pembahasan Tentang Quran-Hadits

1. Pengertian Quran

Al-Quran menurut bahasa adalah bacaan atau yang di baca69.

Al-Quran dengan arti tersebut, banyak diungkapkan dalam al-Quran,

antara lain sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah 17-1870

* /" 1 /" 1 ' * /" 1 / 0& ' % $

Artinya:
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (didadamu)
dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai
mebacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (QS. Al-Qiyamah: 17-18)

68
Mulyadi, Psikologi Pendidikan (Malang: Biro FT. IAIN Sunan Ampel, 1991), hlm. 92-93
69
Abdul Muhith RubaI dan Lukman Hakim, Quran-Hadits I (Jember: MAN 1 Jember, 1997),
hlm. 1
70
Departemen Agama RI, Al-Quran Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Quran, 2002), hlm. 578

74
75

Al-Quran menurut istilah, terdapat bermacam-macam definisi.

Para ulama atau ahli berbeda pendapat tentang definisi Al-Quran tersebut.

Perbedaan pendapat itu disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam

masalah unsur-unsur penentu definisi tersebut.

Seperti definisi yang diciptakan ahli Hadits berbeda dengan

definisi dari golongan ahli ushul. Demikian pula definisi ciptaan ahli tafsir

tidak sama dengan ciptaan ulama Kalam, berikut beberapa pendapat

mengenai pengertian al-Quran:

a) Para ahli ilmu Kalam (teologi Islam) berpendapat, Al-Quran adalah

kalimat-kalimat yang maha bijaksana yang azali yang tersusun dari

huruf-huruf lafadhiyah, dzihniyah, dan ruhiyah. Atau al-Quran itu

adalah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW mulai

dari awal surah Al-Fatihah sampai dengan surah An-Nas, yang

mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang terlepas dari sifat-sifat

kebendaan dan azali.71

b) Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuti (ahli kitab Hadits), dalam

kitabnya Itmannud Dirayah:

Al-Quran ialah Kalam Allah SWT yang diturunkan kepada nabi

Muhammad SAW untuk melemahkan golongan yang menentangnya,

walaupun hanya satu surat saja.

Di sini unsur pokok yang perlu diperhatikan ialah:

1) Firman Allah SWT

71
Abdul Djalal, Ulumul Quran (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000), hlm. 8

75
76

2) diturunkan kepada nabi Muhammad SAW

3) berfungsi sebagai mujizat

c) Menurut Syekh Muhammad Khudlari Byk (ulama Ushul Fiqh) dalam

buku Tarikh At-Tasyri Al-Islami

Al-Quran ialah firman Allah yang berbahasa Arab yang

diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk difahami isinya

dan diingat selalu yang telah disampaikan kepada kita dengan secara

mutawatir dan sudah ditulis dalam mushaf dimulai dari surat Al-

Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.

Yang dianggap unsur pokok disini ialah:

1) firman Allah dalam bahasa Arab

2) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW

3) disampaikan secara mutawatir kepada kita

4) telah ditulis dalam sebuah mushaf dengan diawali surat Al-Fatihah

dan diakhiri dengan surat An-Nas

d) Menurut ulama Tafsir

Al-Quran ialah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya yaitu

Muhammad SAW yang dibaca dan mutawatir

Unsur yang ditonjolkan disini adalah:

1) firman Allah

2) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW

3) dibaca dan mutawatir

76
77

Dari berbagai definisi tersebut, bila diperhatikan dari masing-

masing faktornya dapat dirangkum sebagai berikut:

Al-Quran ialah Kalam Allah SWT yang berbahasa Arab yang

diturunkan dengan berangsur-angsur melalui malaikat Jibril kepada Nabi

Muhammad SAW dan disampaikan kepada umat manusia secara

mutawatir dan ditulis serta dihafal oleh umat Islam sejak Nabi

Muhammad masih hidup sampai kini, berpahala bagi pembacanya,

diawali dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.72

2. Pengertian Hadits

Secara bahasa kata Hadits mempunyai beberapa arti, antara lain:

- baru, kebaikan dari yang lama (qadim)

- dekat, belum lama terjadi

- khabar, berita, riwayat

Menurut istilah para ahli hadits (muhadditsin), antara lain Al-

Hafidh dalam Syarah Al-Bukhari menerangkan, bahwa Hadits ialah

perkataan-perkataan Nabi Muhammad SAW, perbuatan-perbuatan dan

keadaan beliau.

Menurut istilah ahli ushul hadits ialah segala perbuatan-perbuatan

dan taqrir Nabi SAW yang bersangkutan paut dengan hukum.73

Setelah mengetahui pengertian dari Quran dan Hadits di atas,

tidak bisa dipungkiri memang sangat penting sekali mempelajari Quran-

72
Abdul Muhith RubaI dan Lukman Hakim, op. cit., hlm. 2-4
73
Abdul Muhith RubaI dan Lukman Hakim, op. cit., hlm. 46

77
78

Hadits maka dari itulah Quran-Hadits menjadi kurikulum pada

matapelajaran di madrasah-madrasah, dapat diketahui bahwa Quran-

Hadits merupakan unsur matapelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

pada madrasah yang memberikan pendidikan kepada siswa untuk

memahami al-Quran dan al-Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam

dan mengamalkan isi kandungannya sebagai petunjuk hidup dalam

kehidupannya sehari-hari.

3. Fungsi Quran-Hadits

Matapelajaran QuranHadits pada madrasah memiliki fungsi

sebagai berikut:

(1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa

dalam meyakini kebenaran ajaran Islam yang telah dilaksanakan dalam

lingkungan keluarga maupun jenjang pendidikan sebelumnya;

(2) Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan,

pemahaman dan pengamalan ajaran Islam siswa dalam kehidupan

sehari-hari.

(3) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan

atau budaya lain yang dapat membahayakan diri siswa dan

menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya

yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

78
79

(4) Pembiasaan, yaitu menyampaikan pengetahuan, pendidikan dan

penanaman nilai-nilai al-Quran dan al-Hadits pada siswa sebagai

petunjuk dan pedoman dalam seluruh kehidupannya.74

4. Tujuan Quran-Hadits

Pembelajaran QuranHadits bertujuan agar siswa bergairah untuk

membaca al-Quran dan al-Hadits dengan baik dan benar, serta

mempelajarinya, memahami, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan

ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya sebagai petunjuk

dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya.

E. Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) dan Punishment (Hukuman)

terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits

Pembahasan dalam hal ini merupakan rangkuman dari uraian yang

telah penulis paparkan pada pembahasan di depan, yaitu memadukan dua

variabel yaitu reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) dengan motivasi

belajar Quran-Hadits.

Penyajian kembali tentang pengertian reward (ganjaran) dan

punishment (hukuman) yang akan dibahas nanti merupakan inti sub bab ini,

sehingga dalam pembahasannya nanti lebih mengarah pada pokok masalah

dalam pembahasan skripsi ini.

74
Pengelola Kurikulum Berbasis Madrasah Mata Pelajaran Quran-Hadits Untuk Madrasah
Aliyah, Tim Penyusun Cipayung. Departemen Agama RI. 2003. hlm. 2

79
80

Kita telah mengetahui bahwa reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) merupakan alat pendidikan represif. Reward (ganjaran) merupakan

alat motivasi, yaitu alat yang bisa menimbulkan motivasi ekstrinsik. Dengan

reward (ganjaran) dapat menjadikan pendorong bagi siswa untuk belajar yang

baik, lebih giat lagi. Sedangkan punishment (hukuman) merupakan alat

pendidikan yang tidak menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif,

namun meski demikian dapat juga menjadi alat motivasi, alat pendorong

untuk mempergiat belajarnya siswa.75

Dengan adanya reward (ganjaran) diharapkan agar siswa lebih giat

belajar, belajar lebih baik dan tekun. Dengan kata lain siswa menjadi lebih

keras kemauannya untuk mencapai prestasi belajar.

Sedangkan punishment (hukuman) bertujuan untuk memperlancar

jalannya proses pelaksanaan pendidikan, dapat juga menjadi alat pendorong

bagi siswa untuk berbuat lebih baik.

Dengan demikian peranan motivasi sangat diperlukan dalam kegiatan

belajar mengajar, dengan adanya motivasi itu, siswa menjadi tahu arah tujuan

yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, harus diperhatikan faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi motivasi belajar. Berikut faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi motivasi:

1. Kematangan, dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, social

dan psikis harus diperhatikan, karena hal ini dapat mempengaruhi

motivasi.

75
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 164-165

80
81

2. Usaha bertujuan, bahwa setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan

yang ingin dicapai, akan semakin kuat dorongan untuk belajar.

3. Pengetahuan mengenal hasil dalam motivasi, dengan mengetahui hasil dari

belajar, siswa terdorong untuk lebih giat belajar, apalagi hasil belajar itu

mengalami kemajuan siswa akan berubah untuk mempertahankan dan

meningkatkan intensitas belajarnya untuk mendapatkan prestasi yang lebih

baik dikemudian hari, untuk prestasi yang rendah siswa giat belajar guna

memperbaikinya.

4. Partisipasi, dalam kegiatan belajar perlu memberikan kesempatan pada

siswa untuk berpartisipasi dalam keseluruhan kegiatan belajar. Dengan

demikian kebutuhan siswa akan kasih sayang dan kebersamaan akan

terpenuhi, karena siswa merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.

5. Penghargaan dan hukuman

Jadi, agar siswa mempunyai motivasi yang kuat perlu diberikan reward

(ganjaran) dan punishment (hukuman) yang pada akhirnya siswa diharapkan

termotivasi untuk belajar yang lebih baik. Dengan reward (ganjaran) dan

punishment (hukuman), diharapkan juga siswa akan menjadi lebih

bersemangat dan mempunyai pengalaman baru dalam kegiatan belajar,

sehingga kegiatan belajar tidak monoton yang akan menimbulkan siswa

bersemangat untuk belajar.

81
82

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di MAN Kandangan Kediri, Jalan Jombang

Kasreman Kandangan Kediri. Pemilihan lokasi ini atas beberapa pertimbangan

yaitu bahwa letaknya yang sangat strategis sehingga memudahkan peneliti

untuk mengumpulkan data dan mengambil data sebagai penunjang penelitian

ini tanpa kesulitan, MAN Kandangan Kediri dalam proses belajar mengajar

menerapkan sistem full day school, dan kontribusi penelitian ini juga akan

bermanfaat bagi guru dalam mengelola kelas.

B. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Sesuai dengan

namanya, banyak dituntut untuk menggunakan angka, mulai dari

pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari

hasilnya. Demikian juga pemahaman akan kesimpulan penelitian.76

C. Data dan Sumber Data

Dalam penelitian ini data yang akan dikumpulkan diperoleh melalui dua

jenis data yaitu data dari responden dan dokumen yang ada disekolahan. Jenis

data dari sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan

76
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 10-11

82
83

data primer dan data skunder, yang dimaksud dengan data primer adalah data

yang diperoleh dari tangan pertama, sedangkan data sekunder diperoleh dari

tangan kedua seperti laporan, dokumentasi, nilai raport, nilai ujian dan lain-

lain.77

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti.

Adapun data primer dalam penelitian ini adalah berupa angket. Sedang data

skunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung oleh peneliti

melainkan melalui lembaga yang bersangkutan. Adapun data skunder dalam

penelitian ini adalah dokumen yang berisi tentang kondisi sekolah dan siswa.

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data-data dapat

diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner dalam pengumpulan

datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon

atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti yang terdapat dalam angket.

Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Person

Yaitu sumber data yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan

melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket.

Dalam hal ini adalah kepala sekolah, wali kelas, guru dan siswa, tokoh

masyarakat.

2. Pleace

Yaitu sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam

(ruangan, kelengkapan alat, wujud benda, warna dan lain-lain) dan

77
Nana Sudjana, dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru,
1989), hlm. 98

83
84

bergerak (aktivitas, kinerja, kegiatan belajar mengajar dan lain

sebagainya).

3. Paper

Yaitu sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka,

gambar, atau simbol-simbol lain. 78

Data penelitian ini bersumber dari orang-orang, peristiwa-peristiwa, dan

situasi yang ada pada latar penelitian. Sumber data yang diambil merupakan

sampel dari populasi yang telah ditentukan, sampel itu telah memberi

gambaran dari semua populasi.

D. Populasi dan Sampel

Untuk mengetahui pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits, maka

penulis menggunakan penelitian kuantitatif, yaitu prosedur pemecahan

masalah yang menggunakan data angka dan diolah melalui perhitungan

matematika dengan berbagai rumus statistik.

1. Populasi

Yang dimaksud dengan populasi adalah keseluruhan objek

penelitian.79

Menurut Tulus Winarsunu dalam bukunya Statistik dalam Penelitian

Psikologi dan Pendidikan;

78
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 107
79
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 108

84
85

Populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti,


dan yang nantinya akan dikenai generalisasi.80
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan

totalitas yang menjadi sasaran peneliti yang memiliki karakter tertentu dan

dapat diketahui dengan jelas.

Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa

MAN Kandangan, yang masih aktif melakukan studinya di MAN

Kandangan. Data ini berisi pernyataan terhadap pengaruh metode reward

(ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan motivasi

belajar Quran-Hadits dan mengetahui sejauhmana pendapat responden

mengenai reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits. Dengan kuesioner responden

hanya menjawab pertanyaan yang sudah tersedia jawabannya dengan

memberi tanda cek ( ).

2. Sampel Penelitian

Dalam setiap penelitian memerlukan sejumlah orang yang harus

diteliti, atau keseluruhan populasi, namun apabila populasi terlampau besar,

maka dapat diambil sejumlah sampel yang mewakili keseluruhan populasi

itu.

Sampel adalah sebagian dari populasi disebut sampel, sampel adalah

sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi, juga sampel harus

mempunyai paling sedikit satu sifat yang sama.81

80
Tulus Winarsunu, Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan (Malang: UMM
Press, 2004), hlm. 12
81
Sutrisno Hadi, Metodologi Research I (Yogyakarta: Andi Offset, 1990), hlm. 70

85
86

Sehubungan dengan populasi yang terdiri dari beberapa kelompok

yang mempunyai kelompok bertingkat atau adanya strata (lapis-lapis). Di

sekolah misalnya adanya beberapa kelas yaitu kelas satu, dua, dan tiga,

dengan tingkat semester, maka peneliti menggunakan jenis sampel

stratified sample.

Pengambilan sampel yang dilakukan peneliti adalah sampel random

atau sampel acak, sampling ini diberi nama demikian karena dalam

pengambilan sampelnya, peneliti mencampur subjek-subjek di dalam

populasi sehingga semua subjek dianggap sama.

Adapun populasi yang seharusnya menjadi objek penelitian adalah

meliputi seluruh guru, guru pembimbing dan seluruh siswa. Akan tetapi

karena keterbatasan waktu, biaya dan sebagainya, maka peneliti hanya

mengambil sebagian guru dan sebagian siswa sebagai sampel dengan

prosentase 15% atas dasar pertimbangan pendapat Suharsimi Arikunto,

yaitu;

Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100,


lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian
populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-
15% atau 20-25% atau lebih 82

Pengambilan sampel secara random (tidak pandang bulu) yaitu cara

pengambilan elemen-elemen dari populasi sedemikian sehingga setiap

anggota elemen mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi

82
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 112

86
87

anggota sampel.83 Jadi tidak pilih kasih atau obyektif. Prosedur

pengambilannya dengan cara undian.

Adapun yang menjadi sampel penelitian ini adalah siswa MAN

Kandangan yang masih melakukan studinya di MAN Kandangan pada saat

penelitian berlangsung. Selanjutnya peneliti dalam penelitian ini cara yang

dipakai oleh peneliti adalah cara undian jadi yang terpilih adalah kelas X,

peneliti mengambil 15% dari jumlah siswa kelas X. Keseluruhan dari

populasi adalah 272 siswa, maka 15%nya adalah 40,8 siswa. Jadi

pengambilan sampelnya adalah dengan di undi jadi kelas X1 6 siswa, kelas

X2 5 siswa, kelas X3 5 siswa, X4 5 siswa, X5 6 siswa, kelas X6 7 siswa, dan

kelas X7 6siswa, sehingga jumlah keseluruhan adalah 40 siswa.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen atau alat pengumpulan data dapat menentukan kualitas suatu

penelitian. Data yang diperoleh dengan instrumen yang tidak sesuai dengan

masalah yang diteliti dapat menyebabkan mutu penelitiannya diragukan.

Pada penelitian ini, instrumen penelitiannya menggunakan angket.

Angket yang disusun berupa angket tertutup, angket yang berisi pertanyaan-

pertanyaan disertai dengan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di

dalam angket sudah memuat semua variabel.

Dalam penelitian ini instrumen yang dipilih oleh peneliti adalah,

dokumentasi, angket dan observasi.

83
Marzuki, Metodologi Riset Panduan Penelitian Bidang Bisnis dan Sosial (Yogyakarta:
Ekonisia, 2005), hlm. 51

87
88

1. Instrumen untuk metode dokumentasi adalah arsip, grafik, buku-buku,

peraturan-peraturan, catatan-catatan harian dan sebagainya. Melalui

metode ini data yang akan diperoleh antara lain:

a. Sejarah berdirinya MAN Kandangan Kediri

b. Data keadaan guru dan pegawai

c. Data siswa

d. Stuktur organisasi Madrasah Aliyah Negeri Kandangan Kediri

2. Instrumen untuk metode angket adalah blangko angket. Angket ini

diberikan kepada siswa, adapun yang ingin diketahui dengan metode ini

adalah:

a. Pengaruh metode reward (ganjaran) bagi siswa

b. Pengaruh metode punishment (hukuman) bagi siswa

c. Motivasi belajar siswa

3. Instrumen untuk metode observasi adalah berupa chek list. Metode ini

dipergunakan untuk mendapat data tentang:

a. Letak geografis

b. Sarana dan prasana Madrasah Aliyah Negeri Kandangan Kediri

F. Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, ada beberapa metode yang peneliti gunakan

sehubungan dengan penelitian ini yaitu:

a) Metode Dokumentasi

88
89

Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian

Suatu Pendekatan Praktek;

Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-


barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya84

Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh: data tentang

sejarah berdirinya lembaga yang diteliti, latar belakang objek penelitian,

jumlah siswa, data keadaan guru, keadaan siswa, serta karyawan di MAN

Kandangan dan beberapa data lainnya yang menunjang dalam penelitian

ini.

b) Metode Angket

Kuesioner atau angket adalah teknik pengumpulan data melalui

formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

untuk mendapat jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan

oleh peneliti.

Angket yaitu cara pengumpulan data berbentuk pengajuan

pertanyaan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan yang sudah

dipersiapkan sebelumnya.85

Menurut Sanapiah Faizal, metode angket adalah:

Metode angket adalah metode pengumpulan data melalui daftar


pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan
informasi atau keterangan dari sumber data yang berupa orang atau
responden86

84
Suharsimi Arikunto, op.cit., hlm.135
85
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: RajaGrafindo, 2003), hlm. 27
86
Sanapiah Faizal, Dasar-dasar dan Teknik Menyusun Angket (Surabaya: Usaha Nasional,
1991), hlm. 2

89
90

Metode ini digunakan peneliti untuk mencari data tentang pendapat

siswa terhadap pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar yang telah ditawarkan

dalam kuesioner.

Skor yang digunakan dalam penyusunan skala pengaruh metode

reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan

motivasi belajar, ini menggunakan skala Likert. Berikut tabel skor skala

likert pada item favourable dan unfavourable.

TABEL 3.1
SKOR SKALA LIKERT

SKOR
JAWABAN
Favourable Unfavourable
Sangat Setuju (SS) 4 1
Setuju (S) 3 2
Tidak Setuju (TS) 2 3
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4
Sumber Data: Angket

Pernyataan favourable (F) merupakan pernyataan yang berisi hal-hal

yang positif mengenai obyek sikap. Pernyataan unfavourable (UF)

merupakan pernyataan yang berisi hal-hal yang negatif yakni tidak

mendukung atau kontra terhadap obyek sikap yang hendak diungkap87.

Berikut blue print angket metode reward dan punishment terhadap

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di uji cobakan kepada 40

responden:

87
Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), hlm. 98

90
91

TABEL 3.2
BLUE PRINT SKALA METODE REWARD DAN PUNISHMENT
TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QURAN-
HADITS

Variabel Aspek Indikator Item Jml


F UF
Reward - Pujian -Verbal 1,2 5, 6 4
-Non-verbal 3,4 7,8 4
- Penghormatan -Penobatan 9 11 2
-Pemberian kesempatan 10 12 2
- Hadiah -Berupa barang 13, 14 15, 4
16
- Tanda -Berupa simbol 17 18 2
Penghargaan
Punishment -Preventif -Tata tertib 19 24 2
-Anjuran dan perintah 20 25 2
-Larangan 21 26 2
-Paksaan 22 27 2
-Disiplin 23 28 2
-Represif -Pemberitahuan 29 34 2
-Teguran 30 35 2
-Peringatan 31 36 2
-Hukuman 32 37 2
-Ganjaran 33 38 2
Motivasi -Intrinsik -Hasrat dan keinginan 39 42 2
untuk berhasil
-Dorongan kebutuhan 40 43 2
untuk belajar
-Harapan akan cita-cita 41 44 2
-Ekstrinsik -Adanya Ganjaran 45 48 2
-Adanya Hukuman 46 49 2
-Adanya Kompetisi 47 50 2
Jumlah item 25 25 50
Sumber Data: Angket

c) Metode Observasi

91
92

Metode observasi yang juga disebut sebagai pengamatan, meliputi

kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan

seluruh alat indra.88 Metode ini digunakan memperoleh data tentang letak

geografis dan sarana prasarana di MAN Kandangan.

G. Analisis Data

Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan rumus-

rumus statistika untuk menganalisa data penelitian yang diperoleh di lapangan.

Penggunaan statistika tersebut digunakan baik untuk uji instrumen maupun

analisa data penelitian. Berikut penjelasan mengenai metode analisa data yang

digunakan dalam penelitian ini. Penjelasan mengenai hal tersebut diawali dari

metode uji validitas dan reliabilitas instrumen, hasil uji validitas dan

reliabilitas instrument, kemudian dilanjutkan dengan teknik analisa data hasil

penelitian

1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.89 Dikatakan valid apabila

mampu mengukur apa yang hendak diukur. Untuk mengetahui validitas

angket pada skala metode reward dan punishment terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits, dalam penelitian ini maka peneliti

menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson.


88
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 133
89
Ibid., hlm. 144

92
93

Adapun rumus korelasi product moment tersebut yakni:

N XY ( X )( Y)
r xy =
{N X 2
( X 2
)}{N Y
2
( Y2 )}
Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi
N = Jumlah responden
X = Variabel yang pertama
Y = Variabel yang kedua

Reliabilitas adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan

bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya sebagai alat pengumpul

data. Uji reliabilitas ini dengan menggunakan rumus alpha chronbach.

Adapun rumusnya sebagai berikut:

r 11 = k 1- 2b
(k-1) 12

Keterangan:

r11 = Reliabelitas instrumen


k = Banyaknya butir pertanyaan
x 2b = Jumlah varians butir pertanyaan
y 2 = Varians total

Untuk mendapatkan nilai varians rumusnya:


2 = X2 - (x ) 2
N
N

93
94

Pedoman nilai minimal reliabilitas untuk jumlah butir kuesioner

yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus alpha cronbach

dengan nilai reliabilitas minimal 0,6.

2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Uji validitas dan reliabilitas angket dalam penelitian ini

menggunakan jasa SPSS versi 10.00. Uji validitas atau kesahihan item

instrumen dalam penelitian ini menghasilkan item valid dan gugur dengan

kriteria validitas 0.2 maka dikatakan valid. Berikut daftar item yang

valid dan gugur dalam uji coba instrumen.

TABEL 3.3
HASIL UJI VALIDITAS SKALA METODE REWARD DAN
PUNISHMENT TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI
BELAJAR QURAN-HADITS

ITEM
NO ASPEK
Valid Gugur
1,2,4,8,9,10,11,13,14,
1 Reward 12
15,16,17,18
19,20,21,22,23,24,25,27
2 Punishment 26,29,31,33
28,30,32,34,35,36,37,38
39,41,42,43,44,45,45,46
3 Motivasi 40
47,48,49,50
44 6
Jumlah
50
Sumber Data: Hasil Uji Validitas dengan SPSS

Berdasarkan tabel di atas maka hasil uji validitas skala metode

reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits yang di uji cobakan pada 40 responden

yang semula 50 item menjadi 44 item yang valid, karena 6 item lainnya

gugur, sehingga tidak dapat dijadikan item instrumen penelitian.

94
95

Adapun uji reliabilitas yakni derajat kepercayaan yang diperoleh

dari hasil angket sebagai metode pengumpulan data yakni menggunakan

kriteria 0.6 maka disebut reliabel. Berdasarkan penghitungan dengan

rumus alpha cronbach, skala metode reward (ganjaran) ini memiliki

derajat reliabilitas sebesar 0,824. Sedangkan skala punishment (hukuman)

memiliki derajat reliabilitas sebesar 0,810, dan motivasi memiliki derajat

reliabilitas sebesar 0,781. Hal ini berarti instrumen yang digunakan

peneliti dalam mengumpulkan data cukup dapat dipercaya sebagai alat

pengumpulan data (0,824 0.6, 0,810 0,6, dan 0,781 0.6). Dengan

demikian data hasil penelitian yang didapat memiliki obyektifitas yang

tinggi. Adapun mengenai output hasil analisa SPSS dapat di lihat

sebagaimana terlampir.

95
96

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. LATAR BELAKANG OBJEK

1. Sejarah Berdirinya MAN Kandangan Kediri

Dari dokumentasi yang penulis peroleh, berikut ini pemaparan tentang

latar belakang berdirinya MAN Kandangan Kediri90.

Madrasah Aliyah Kandangan berdiri tahun 1981 atas prakarsa tokoh

masyarakat dan tokoh agama di kecamatan Kandangan dan sekitarnya yang

diantaranya :

Bapak Muhary Ridwan L. Ph.

Bapak Fauzan Said, A. Md.

Bapak Munir

Bapak H. Kholil Ridwan

Ibu Hj. Maslihah, BA.

Dan tokoh-tokoh lainnya

Lokasi di Bobosan desa Kemiri dan diberi nama Madrasah Aliyah

Islakhiyah Bobosan. Dalam perkembangannya pada tahun 1984 Madrasah

Aliyah Islakhiyah statusnya meningkat menjadi Filial MAN Puwoasri.

Dan tahun 1987 proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, namun

sepeninggal bapak Muhary Ridwan L. Ph sebagai salah satu pendiri, ternyata

pada tahun 1989 perkembangannya mengalami penurunan, demi

90
Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

96
97

perkembangan pada tahun 1990 dewan guru dan tokoh masyarakat termasuk

pendirinya yang masih ada sepakat untuk dipindahkan tempatnya di tengah

kota, menempati gedung SMP Diponegoro yaitu di Jalan Jombang Kandangan

dan proses belajar mengajar sore hari. Mengingat perkembangan jumlah siswa

selalu meningkat dan di gedung SMP Diponegoro tidak mencukupi, pada

tahun 1994 MAN Filial Purwoasri di Kandangan pindah menempati gedung

SMP Islam yayasan Walisongo di Gedangan Kandangan yang proses belajar

mengajarnya masuk pagi.

Pada tahun 1997 dari MAN Filial Purwoasri di Kandangan dinegerikan

oleh Menteri Agama menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kandangan

Kabupaten Kediri dengan SK. Nomor: 107 tanggal 17 Maret 1997.

Sejak dinegerikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kandangan semakin

meningkat perkembangan jumlah siswanya, sehingga gedung yang ada tidak

mencukupi, maka sebagian siswa ditempatkan di SMA Muhammadiyah

Kandangan dan di gedung Darul Aitam Pengkol Kandangan.

Pada tahun 1998 MAN Kandangan sudah dapat membeli tanah dan

tahun 1999 membangun 4 ruang di desa Kasreman Jalan Jombang Kandangan

sehingga siswa yang menempati gedung SMA Muhammadiyah Kandangan di

pindah ke gedung baru.

Dengan usaha yang keras dari pengurus BP3, dewan guru dan

masyarakat dengan pimpinan kepala MAN Kandangan bapak Drs. H. Djamil

Aly, Alhamdulillah pada tahun 2001 sudah dapat membangun gedung 10

97
98

lokal, sehingga semua bisa menempati lokasi gedung MAN Kandangan di

desa Kasreman Jalan Jombang Kandangan.

Dengan meningkatkan penerapan kedisiplinan dan pelayanan terhadap

siswa sehingga sampai tahun 2003 ini MAN Kandangan sudah dapat

membangun 28 ruang yang 17 ruang digunakan untuk kegiatan belajar

mengajar.

2. Letak Geografis MAN Kandangan Kediri

MAN Kandangan Kediri ini berada di jalan Jombang Kandangan, yang

mana sekolah ini menghadap ke Barat yaitu tepatnya di sebelah Timur jalan

raya. Letak sekolah ini sangat strategis yaitu dapat dijangkau oleh siswa

dengan mudah, karena terdapat banyak angkutan umum yang melewati jalan

ini, sehingga siswa tidak takut terlambat kalau pergi ke sekolah. Ini dapat di

lihat pada lampiran.

3. Keadaan Guru MAN Kandangan Kediri

Keadaan guru di sekolah sangat menunjang dalam proses belajar

mengajar. Oleh karena itu di MAN Kandangan Kediri ini Guru sangat

diperhatikan. Adapun keadaan Guru di MAN Kandangan Kediri ini dapat di

lihat dalam tabel di bawah ini.

98
99

TABEL. 4.1
KEADAAN GURU MAN KANDANGAN KEDIRI

Pegawai
Peg.
N
Tidak Pendidikan
Jenis Negeri Jml Jml
o Tetap
Sarmud/
L P L P SLTA
D3
S1 S2
1 Guru 9 6 17 15 47 - 2 37 8 47
2 BP - - - 1 1 - - 1 1
3 TU 1 - 4 1 6 3 - 3 - 6
4 Pustakawan - - 1 - 1 - - 1 - 1
5 Laboran - - - - - - - - - -
6 Tukang - - 1 - 1 1 - - - 1
Kebun
7 Satpam - - 1 - 1 1 - - - 1
Jumlah 10 6 24 17 57 5 2 42 8 57

Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

Tingkat kemampuan Akademik Tenaga Kependidikan

Dari jumlah guru 47 orang 97 % berkelayakan, dalam arti 43 orang

mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan kesarjanaannya, dari jumlah

tersebut terdiri :

Guru Tetap (Negeri) : 15 orang

Guru Tidak Tetap : 32 orang

Tenaga perpustakaan 1 orang, (pernah mengikuti pelatihan)

Tenaga Laboran belum ada, (belum berkelayakan)

Tenaga BP 1 orang.

Untuk lebih jelas mengenai keadaan guru dapat di lihat pada lampiran.

99
100

4. Keadaan Siswa MAN Kandangan Kediri

Keadaaan siswa di MAN Kandangan Kediri memang benar-benar

menjadi sekolah favorit, karena siswanya banyak yang berprestasi baik di

bidang studinya maupun di bidang seni dan olah raga. Hal itu dapat dilihat

dari penghargaan-penghargaan dan piala-piala yang berada di samping ruang

kepala sekolah.

Dengan bertambahnya waktu, keadaan siswa MAN Kandangan Kediri

ini beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan.

Adapun jumlah keseluruhan siswa-siswi MAN Kandangan Kediri

dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

TABEL. 4.2
DATA SISWA MAN KANDANGAN KAB. KEDIRI
TAHUN PELAJARAN 2006/2007

N
Kelas X Kelas XI Kelas XII Total
o Rom Jml Rom Rom Rom Jml
BHS IPA IPS BHS IPA IPS
bel siswa bel bel bel siswa

1 7 272 5 40 33 92 5 44 44 77 17 602

Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

Keadaan siswa dapat dilihat perkembangannya sejak didirikan tahun

1981 sampai dengan saat ini seperti tabel di bawah ini :

TABEL. 4.3
DATA KEADAAN SISWA SEJAK BERDIRI SAMPAI SEKARANG

No Tahun Pelajaran Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah Ket


1 1981-1982 25 - - 25 MAS
2 1982-1983 30 25 - 55
3 1983-1984 40 30 25 95
4 1984-1985 55 40 30 125 MAN
FILIAL

100
101

5 1985-1986 55 50 35 140 PUR


6 1986-1987 50 49 35 134 WO
7 1987-1988 46 40 46 133 ASRI
8 1988-1989 26 39 40 93
9 1989-1990 31 29 36 96
10 1990-1991 6 19 24 49
11 1991-1992 53 26 32 101
12 1992-1993 34 51 26 111
13 1993-1994 72 42 50 164
14 1994-1995 45 68 42 155
15 1995-1996 52 43 68 163
16 1996-1997 48 47 43 138
17 1997-1998 83 51 50 184

18 1998-1999 94 80 48 222
19 1999-2000 125 72 71 268
20 2000-2001 135 109 69 313 MAN
21 2001-2002 129 107 110 346
22 2002-2003 161 112 106 379
23 2003-2004 180 137 119 436
24 2004-2005 180 137 132 449
25 2005-2006 170 165 129 464
26 2006-2007 272 165 165 602
Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

5. a. Keadaan Fisik

Keadaan fisik terdiri dari tanah, gedung perabot/inventaris, keadaan

guru dan tenaga kependidikan lainnya, keadaan siswa.

1) Tanah

Luas keseluruhan MAN Kandangan 10.500 m 2

TABEL. 4.4
LUAS MAN KANDANGAN

Pengadaan Sumber
Luas Harga Ket
Tahun dana
1998 4000 m2 40.000.000 BP3 Sertifikat dalam
proses
2002 2500 m2 187.500.000 APBN Sudah
bersertifikat

101
102

2004 4000 m2 360.000.000 APBN Sudah


bersertifikat
Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

2) Gedung

Gedung yang telah dibangun MAN Kandangan sampai saat ini

mencapai 28 ruang.

b. Keadaan Non Fisik

Keadaan Non Fisik dapat dikategorikan antara lain kurikulum yang

diterapkan, proses belajar mengajar, kegiatan ekstra kurikuler, tingkat

kemampuan akademik, tenaga kependidikan dan tingkat kemampuan siswa.

1) Kurikulum

Madrasah Aliyah Negeri Kandangan memiliki 3 program/jurusan

untuk memenuhi minat dan kebutuhan siswa dalam menuntut ilmu,

yaitu Program BAHASA, Program IPA dan Program IPS. Untuk

Jurusan BAHASA, yang diajarkan antara lain Bahasa Inggris, Bahasa

Arab, Bahasa Jepang, Bahasa Indonesia. Kurikulum yang dilaksanakan

MAN Kandangan adalah kurikulum 2006 tetapi dalam pelaksanaannya

ada perubahan-perubahan dalam alokasi waktu.

2) Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar pagi hari mulai jam 06.45 14.50 (full

day) untuk hari Senin sampai dengan hari Rabu, Jumat 06.45 11.00.

Sedang hari Kamis dan Sabtu Jam 06.4513.30 WIB.

102
103

Strategi belajar mengajar yang diterapkan menggunakan metode

ceramah, diskusi, tanya jawab dan tugas lainnya.

Proses belajar mengajar belum menggunakan media pembelajaran

yang lengkap masih menggunakan buku yang ditunjang perpustakaan

dan laboratorium IPA yang masih sederhana, laboratorium bahasa

sudah ada tetapi belum mencukupi jumlah siswa .

3) Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan Ekstrakurikuler yang dilaksanakan antara lain :

Olah raga : Voli ball, sepak bola, Basket, Tenis Meja,

Bela diri, atletik, Bulu Tangkis

Seni : Teater, MTQ, kaligrafi, Seni Baca Al- Quran,

Rebana

Majalah dinding : Pelatihan jurnalistik

Kepramukaan

P M R (Palang Merah Remaja)

K I R (Karya Ilmiah Remaja)

Cetak Sablon

Elektronika

6. Visi, Misi, dan Tujuan

VISI

Visi MAN Kandangan adalah sebagai berikut :

Terwujudnya Madrasah Berkualitas dan Menjadi Wahana Berprestasi

103
104

Dari Visi tersebut di atas ada dua hal pokok yang menjadi perhatian yaitu :

1. Madrasah yang berkualitas

2. Menjadi wahana berprestasi

1. Madrasah yang berkualitas

Madrasah yang ingin diwujudkan oleh MAN Kandangan adalah

Madrasah yang berkualitas yaitu :

a. Yang mempunyai nilai-nilai keagamaan dan keilmuan, nilai output

dan outcame dalam masyarakat dan nilai budaya dan miniatur

masyarakat.

b. Madrasah yang dapat mencetak manusia yang terkait didalamnya

baik guru, tenaga pendidikan lainnya maupun siswa menjadi manusia

yang mempunyai:

1) Keimanan dan ketaqwaan yang tinggi

2) Akhlaqul karimah dan kepribadian yang mantap

3) Wawasan keilmuan yang tinggi dalam ilmu pengetahuan dan

teknologi

4) Wawasan keterampilan hidup dan kemandirian

5) Wawasan kebangsaan sehingga bisa hidup bersama masyarakat

2. Menjadi Wahana Berprestasi

MAN Kandangan menginginkan madrasah ini menjadi :

a. Tempat menempa diri menuju prestasi

b. Tempat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bakat dan minatnya

menuju prestasi

104
105

c. Tempat untuk berlomba prestasi

Yang dimaksud prestasi dalam semua bidang, baik keagamaan,

keilmuan, keterampilan, Olah raga, seni dan lain-lainnya

MISI

Dari visi tersebut di atas, misi yang ditetapkan adalah sebagai berikut :

1. Mencukupi sarana dan prasarana yang mendukung KBM dan kegiatan

ekstra kurikuler

2. Meningkatkan profesionalisme semua tenaga kependidikan

3. Menerapkan managemen yang transparan dan meningkatkan pelayanan

yang baik

4. Menciptakan lingkungan yang tertib, disiplin, bersih, nyaman dan Islami

5. Mengembangkan PBM yang efektif, inovatif dan demokratis

6. Menumbuhkan kemandirian siswa dengan program keterampilan

7. Melaksanakan bording school dan full day school

TUJUAN

1. Memiliki gedung, perabot/mebelair, peralatan dan sumber belajar yang

cukup untuk mendukung KBM dan kegiatan ekstra kurikuler

2. Memiliki jumlah tenaga kependidikan yang cukup, profesional dan

berdedikasi tinggi.

3. Memiliki akuntabilitas dalam semua bidang khususnya bidang keuangan

dan pelayanan.

4. Terciptanya lingkungan yang tertib, disiplin, bersih, nyaman dan islami

105
106

5. Mempunyai lulusan yang hasil nilainya tinggi dan dapat meneruskan

pendidikannya ke Perguruan Tinggi.

6. Mempunyai lulusan yang mandiri dan life skill yang tinggi

7. Mempunyai group/klub olah raga, kesenian, KIR yang mampu menjuarai

setiap perlombaan

7. Tata Tertib Murid MAN Kandangan Kabupaten Kediri

Dalam setiap sekolah tentu mempunyai tata tertib untuk mendisplinkan

siswanya, berikut ini adalah tata tertib yang berlaku di MAN Kandangan

Kediri:

a. Kewajiban Murid

1. Semua murid harus hadir di sekolah selambat-lambatnya 5 menit

sebelum pelajaran dimulai

2. Siswa yang datang terlambat harus lapor/ minta izin kepada kepala

sekolah/ guru piket sebelum masuk sekolah

3. Murid yang absen pada waktu masuk kembali harus melapor kepada

kepala sekolah/ guru piket dengan membawa surat yang diperlukan

(surat dokter, dan atau surat wali murid)

4. Taat dan hormat kepada kepala sekolah, semua guru dan TU serta saling

menghargai pada sesama murid

5. Ikut bertanggung jawab atas kebersihan, keamanan dan ketertiban kelas

dan sekolah pada umumnya

106
107

6. Membantu kelancaran pelajaran baik dikelasnya maupun sekolah pada

umumnya

7. Membayar uang BP3 selambat-lambatnya tanggal 10 pada setiap bulan

yang bersangkutan

8. Melengkapi diri dengan keperluan-keperluan dan perlatan-peralatan

sekolah

9. Murid yang membawa kendaraan agar menempatkannya di tempat yang

telah ditentukan dalam keadaan terkunci

10. Setiap murid wajib memakai seragam sekolah lengkap sesuai dengan

ketentuan sekolah

11. Rambut, kuku agar dipotong rapi, bersih dan terpelihara

12. Pada waktu olah raga berpakaian sesuai dengan ketentuan sekolah

13. Menjaga nama baik sekolah, guru dan pelajaran pada umumnya, baik

di dalam maupun di luar sekolah

14. Ikut membantu agar tata tertib sekolah dapat berjalan dan ditaati

b. Larangan Murid

1. Meningggalkan sekolah sebelum jam pelajaran berlangsung, kecuali

dengan izin kepala sekolah/ guru piket

2. Membeli, mengedarkan, mengkonsumsi segala jenis narkoba dan

minuman keras baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah

3. Menerima surat-surat atau tamu di sekolah

4. Memakai perhiasan yang berlebihan serta berdandan yang tidak sesuai

dengan kepribadian muslim/ muslimah

107
108

5. Merokok di dalam maupun di luar sekolah

6. Mengganggu jalannya pelajaran baik terhadap kelasnya maupun

terhadap kelas lain

7. Berkelahi dan main hakim sendiri jika menemui persoalan antar teman

8. Mencoret-coret yang bukan tempatnya di lingkungan dan luar sekolah

9. Masuk kantor kecuali bila ada keperluan

c. Lain-lain

1. Setiap pelanggaran akan mendapat sanksi/ hukuman

2. Sanksi/ hukuman dapat berupa:

Teguran secara lisan/ tertulis

Tidak boleh masuk kelas/ mengikuti pelajaran

Peringatan Skorsing dalam waktu tertentu

Dikeluarkan/ dipindahkan dengan hormat

Dikeluarkan dengan tidak hormat

Sanksi-sanksi lain bersifat edukatif

3. Hal-hal yang belum dicantumkan dalam peraturan tata tertib ini akan

diatur oleh sekolah

4. Peraturan tata tertib ini berlaku sejak diumumkan

B. Deskripsi Data

Paparan data dalam penelitian ini terbagi menjadi data responden dan

data deskripsi hasil penelitian terhadap kedua variabel dalam penelitian ini

yakni variabel reward (ganjaran) dan punishment (hukuman). Data responden

108
109

memuat identitas responden yang disebarkan kepada 40 siswa sebagai sampel

penelitian. Sedangkan data deskripsi hasil penelitian merupakan data yang

memaparkan secara singkat hasil penelitian yang menjawab rumusan masalah

ke satu dan kedua pada kedua variabel penelitian.

1. Data Responden
Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini diambil

berdasarkan teknik stratified sampling, sehubungan dengan populasi yang

terdiri dari beberapa kelompok yang mempunyai kelompok bertingkat atau

adanya strata (lapis-lapis). Di sekolah dengan adanya beberapa kelas yaitu

kelas satu, dua, dan tiga, dengan tingkat semester merupakan alasan

menggunakan teknik stratified sampling.

Pengambilan sampel yang dilakukan peneliti adalah sampel

random atau sampel acak, sampling ini diberi nama demikian karena

dalam pengambilan sampelnya, peneliti mencampur subjek-subjek di

dalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama.

Adapun yang menjadi sampel penelitian ini adalah siswa MAN

Kandangan yang masih melakukan studinya di MAN Kandangan pada saat

penelitian berlangsung. Selanjutnya peneliti dalam penelitian ini cara yang

dipakai oleh peneliti adalah cara undian jadi yang terpilih adalah kelas X,

peneliti mengambil 15% dari jumlah siswa kelas X. Keseluruhan dari

populasi adalah 272 siswa, maka 15%nya adalah 40,8 siswa. Jadi

pengambilan sampelnya adalah dengan di undi jadi kelas X1 6 siswa, kelas

X2 5 siswa, kelas X3 5 siswa, X4 5 siswa, X5 6 siswa, kelas X6 7 siswa,

dan kelas X7 6siswa, sehingga jumlah keseluruhan adalah 40 siswa.

109
110

2. Data Deskripsi Hasil Penelitian

Paparan hasil penelitian ini menjawab rumusan masalah kesatu dan

kedua yang diajukan pada bab pertama, sekaligus memenuhi tujuan dari

penelitian asosiatif ini. Paparan hasil penelitian ini berdasarkan analisa

data dengan menggunakan SPSS versi 10.00 dengan menggunakan

statistik deskriptif. Berikut peneliti sajikan hasil penelitian tersebut.

a. Pengujian Hipotesis

Sub bab ini menjawab rangkaian rumusan masalah yang ketiga

dalam penelitian yakni Apakah ada pengaruh metode reward dan

punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di

MAN Kandangan Kediri?

Untuk mengetahui adanya pengaruh tersebut, maka peneliti

menggunakan rumus regresi linier sederhana dengan menggunakan jasa

SPSS versi 10.00. Adapun hipotesis penelitian ini adalah Terdapat

pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi

belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri. Berikut tabel hasil

pengujian hipotesis dengan regresi linier yang dimaksud.

TABEL 4.5
HASIL UJI REGRESI LINIER SEDERHANA

Std. Error
Adjusted
R R Square of The F Sig
R Square
estimate
0.671 0.450 0.420 3.29 15.126 0.000
Sumber Data: Hasil Uji Regresi dengan SPSS

110
111

Untuk menghitung besarnya pengaruh variabel pengaruh metode

reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-

Hadits di MAN Kandangan Kediri, menggunakan angka R Square atau

angka korelasi yang dikuadratkan, yang disebut juga sebagai koefisien

determinasi. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai

koefisien determinasinya adalah 0,420 atau sama dengan 42% (rumus

menghitung koefisien determinasi adalah R Square x 100% = 0,420 x

100% = 42%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat

pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi

belajar Quran-Hadits dengan pengaruh sebesar 42% sedangkan sisanya

dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Adapun output hasil analisa SPSS

dapat dilihat sebagaimana terlampir.

b. Deskripsi Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) terhadap

Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits

Sub bab ini mendeskripsikan metode reward (ganjaran)

terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri.

Untuk mengetahui adanya pengaruh tersebut, maka peneliti

menggunakan rumus regresi linier sederhana dengan menggunakan

jasa SPSS versi 10.00. Adapun yang akan di uji dalam rumusan

masalah penelitian ini adalah Terdapat pengaruh metode reward

(ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di

111
112

MAN Kandangan Kediri. Berikut tabel hasil pengujian dengan regresi

linier yang dimaksud.

TABEL 4.6
HASIL UJI REGRESI LINIER SEDERHANA

Std. Error
Adjusted
R R Square of The F Sig
R Square
estimate
0.532 0.283 0.264 3.17 15.011 0.000
Sumber Data: Hasil Uji Regresi dengan SPSS

Untuk menghitung besarnya pengaruh variabel reward

(ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di

MAN Kandangan Kediri yakni menggunakan angka R Square atau

angka korelasi yang dikuadratkan, yang disebut juga sebagai koefisien

determinasi. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai

koefisien determinasinya adalah 0,264 atau sama dengan 26,4%

(rumus menghitung koefisien determinasi adalah R Square x 100% =

0,264 x 100% = 26,4%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa

terdapat pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits dengan pengaruh sebesar 26,4%

sedangkan sisanya dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Adapun output

hasil analisa SPSS dapat dilihat sebagaimana terlampir.

112
113

c. Deskripsi Pengaruh Metode Punishment (Hukuman) terhadap

Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits

Sub bab ini mendeskripsikan metode punishment (hukuman)

terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri.

Untuk mengetahui adanya pengaruh tersebut, maka peneliti

menggunakan rumus regresi linier sederhana dengan menggunakan

jasa SPSS versi 10.00. Adapun yang akan di uji dalam rumusan

masalah penelitian ini adalah Terdapat pengaruh metode punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di

MAN Kandangan Kediri. Berikut tabel hasil pengujian dengan regresi

linier yang dimaksud.

TABEL 4.7
HASIL UJI REGRESI LINIER SEDERHANA

Std. Error
Adjusted
R R Square of The F Sig
R Square
estimate
0.626 0.392 0.376 3.14 24.481 0.000
Sumber Data: Hasil Uji Regresi dengan SPSS

Untuk menghitung besarnya pengaruh variabel punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di

MAN Kandangan Kediri yakni menggunakan angka R Square atau

angka korelasi yang dikuadratkan, yang disebut juga sebagai koefisien

determinasi. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai

koefisien determinasinya adalah 0,376 atau sama dengan 37,6%

113
114

(rumus menghitung koefisien determinasi adalah R Square x 100% =

0,376 x 100% =37,6%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa

terdapat pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits dengan pengaruh sebesar

37,6% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Adapun

output hasil analisa SPSS dapat dilihat sebagaimana terlampir.

114
115

BAB V

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) dan Punishment (Hukuman)

terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri

Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan represif yang

menyenangkan, reward (ganjaran) juga dapat menjadi pendorong atau

motivasi bagi siswa untuk belajar lebih tekun, lebih baik. Tidak hanya reward

(ganjaran) saja yang dapat memberi dorongan belajar bagi siswa, punishment

(hukuman) bertujuan untuk memperlancar jalannya proses pelaksanaan

pendidikan, dapat pula menjadi alat pendorong bagi siswa untuk berbuat lebih

baik, belajar lebih baik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di MAN Kandangan Kediri

membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara metode reward

(ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar

Quran-Hadits sebesar 42%. Atau dengan kata lain motivasi belajar Quran-

Hadits dipengaruhi oleh metode reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman), sedangkan 58% dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Sebab-sebab

lain tersebut tidak dapat terindentifikasi secara rinci melalui proses penelitian

ini karena bukan merupakan bagian dari tujuan penelitian.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa metode reward (ganjaran)

dan punishment (hukuman) cukup berpengaruh terhadap motivasi belajar

115
116

Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri. Hal ini sesuai dengan teori tentang

reward (ganjaran), dan punishment (hukuman) dapat menjadi pendorong bagi

siswa untuk belajar lebih baik, dengan hasil penelitian tersebut dapat

disimpulkan ada kesesuaian antara teori dengan keadaan sebenarnya.

B. Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) Terhadap Peningkatan Motivasi

Belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan yang menyenangkan,

dengan reward (ganjaran) ini diharapkan dapat mengembalikan semangat

siswa yang mulai pudar yang diakibatkan oleh suasana belajar yang

membosankan, malas, sehingga dengan reward (ganjaran) ini dapat

meningkatkan motivasi belajar Quran-Hadits.

Indikator yang dipakai untuk mengukur variabel reward (ganjaran)

adalah pujian, penghormatan, hadiah, dan tanda penghargaan. Dengan kempat

indikator tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat belajar Quran-

Hadits.

Indikator mengenai pujian dimaksudkan adalah untuk memberi pujian

bagi siswa yang telah mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pujian

dapat berupa kata-kata, dan isyarat. Dengan pujian tersebut diharapkan dapat

meningkatkan semangat belajar Quran-Hadits.

Indikator mengenai penobatan ini dapat diberikan bagi siswa yang

telah menjadi yang terbaik dalam pelajaran Quran-Hadits, siswa yang

menjadi yang terbaik akan di umumkan di depan teman yang lain, sehingga

116
117

dengan penobatan ini diharapkan siswa akan terus rajin belajar untuk menjadi

yang terbaik dalam pelajaran Quran-Hadits. Dan bagi siswa yang mampu

mengerjakan tugas Quran-Hadits akan mendapat kesempatan untuk

mengerjakan di depan teman yang lain, dan ini akan mampu membuat siswa

percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya.

Indikator tentang pemberian hadiah ini dapat berupa barang seperti

alat-alat sekolah, juga berupa uang. Dalam penelitian ini dengan adanya

hadiah diharapkan siswa bersemangat dalam mengikuti palajaran Quran-

Hadits.

Sedangkan indikator mengenai pemberian tanda penghargaan ini dapat

berupa sertifikat, piala, surat tanda penghargaan, ini diharapkan siswa akan

bangga dengan penghargaan ini sehingga mereka berusaha untuk memperoleh

tanda penghargaan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab

sebelumnya, pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap peningkatan

motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri dengan prosentase

26,4%.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh metode reward

(ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri tidak begitu berpengaruh. Ini mungkin diakibatkan oleh

faktor lain yang kurang mendukung.

117
118

C. Pengaruh Metode Punishment (Hukuman) terhadap Peningkatan

Motivasi Belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

Punishment (hukuman) merupakan alat pendidikan yang tidak

menyenangkan, tujuan dari punishment (hukuman) itu adalah untuk

memperlancar jalannya proses pelaksanaan pendidikan, dan dapat pula

menjadi alat pendorong bagi siswa untuk berbuat yang lebih baik, belajar yang

baik. Adapun yang termasuk dalam indikator punishment (hukuman) adalah

punishment (hukuman) preventif dan represif.

Punishment (hukuman) preventif bersifat mencegah, terdiri dari tata

tertib, anjuran dan perintah, larangan, paksaan, dan disiplin. Dengan adanya

punishment (hukuman) preventif diharapkan siswa tidak mengganggu

kelancaran proses belajar dalam pelajaran Quran-Hadits sehingga akan

tercapai tujuan yang diinginkan.

Sedangkan yang kedua yaitu punishment (hukuman) represif bertujuan

untuk menyadarkan siswa kembali kepada hal-hal yang benar, yang baik, yang

tertib. Yang termasuk didalamnya adalah pemberitahuan, teguran, peringatan,

hukuman, dan ganjaran. Dalam proses belajar mengajar sering sekali siswa

melakukan kesalahan, untuk itu guru tidak boleh langsung menghukum siswa,

namun guru harus memberi tahu hal-hal yang dapat mengganggu belajar,

mungkin siswa belum tahu tentang hal-hal yang dapat mengganggu proses

belajar, jika sudah diberi tahu tentang hal-hal yang dapat mengganggu tetapi

masih tetap melanggar, maka guru harus memberi teguran, jika masih

melanggar maka perlu diberi peringatan, yang terakhir diberikan adalah

118
119

hukuman jika memang terpaksa digunakan. Dengan diberikan punishment

(hukuman) itu diharapkan siswa terdorong untuk lebih giat belajar Quran-

Hadits.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab

sebelumnya, mengenai pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

dengan prosentase 37,6%. Pengkategorisasian tersebut lebih tinggi dari

variabel reward (ganjaran) dalam penelitian ini.

Hasil prosentase dari pengkategorisasian variabel metode punishment

(hukuman) ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil prosentase variabel

metode reward (ganjaran). Maka dari itu punishment (hukuman) lebih

berpengaruh dari pada metode reward (ganjaran) di MAN Kandangan Kediri.

Metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) mempunyai pengaruh

yang cukup baik dalam meningkatkan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri. Meskipun pengaruh metode punishment (hukuman)

hasilnya lebih tinggi dari metode reward (ganjaran), sebaiknya jangan terlalu

sering menggunakan punishment (hukuman) sebagai alat pendidikan yang

dapat memberi motivasi belajar Quran-Hadits.

119
120

BAB VI

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Sesuai dengan rumusan masalah dan analisis data, maka dapat

disimpulkan bahwa:

1. Adapun pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman)

terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits, berdasarkan hasil

penelitian atas uji hipotesis pengaruh metode reward (ganjaran) dan

punishment (hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits

di MAN Kandangan Kediri 42%, sedangkan sisanya yakni 58% merupakan

pengaruh dari faktor lain.

2. Reward (ganjaran) adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat

merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa pengaruh metode

reward (ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di

MAN Kandangan Kediri mempunyai pengaruh sebesar 26,4%.

3. Sedangkan punishment (hukuman) adalah tindakan yang dijatuhkan kepada

anak secara sadar dan disengaja sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan

adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji

untuk tidak mengulanginya lagi. Berdasarkan hasil penelitian dapat

dikemukakan bahwa pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap

120
121

peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN Kandangan Kediri

mempunyai pengaruh sebesar 37,6%.

B. SARAN

1. Mengingat adanya pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment

(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Quran-Hadits di MAN

Kandangan Kediri, meskipun ada faktor lain yang lebih berpengaruh, namun

metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) masih digunakan.

2. Meskipun punishment (hukuman) lebih berpengaruh dari pada reward

(ganjaran) terhadap peningkatan motivsi belajar Quran-Hadits, namun

sebaiknya punishment (hukuman) dapat digunakan kalau dalam keadaan

terpaksa saja, dan guru Quran-Hadits bersedia memaafkan siswa yang telah

melakukan kesalahan tanpa ada rasa dendam.

3. Para guru sering mengadakan kompetisi dalam proses belajar mengajar

karena akan memotivasi siswa untuk lebih rajin belajar.

121
122

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1987. Pengantar Metodik Dedaktik. Bandung: Armico.

Ahmadi, Abu, dan Uhbiyati, Abu. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Al-Abrasyi, Athiyah. M. 1993. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta:


Bulan Bintang.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Agama RI. 2002. Al-Quran Terjemah Juz 1-30. Jakarta: Pena.

Djalal, Abdul. 2000. Ulumul Quran. Surabaya: Dunia Ilmu.

Echols, John. M, dan Shadily, Hasan. 1993. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:
Gramedia.

Fadjar, Malik. 2005. Holistika Pemikiran Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo.

Faizal, Sanapiah. 1991. Dasar-Dasar Dan Teknik Menulis Angket. Surabaya:


Usaha Nasional.

Hadi, Sutrisno. 1990. Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Offset.

Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar Dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

2004. Proses Belajar Mengatar. Jakarta: Bumi Aksara.

Indrakusuma, Amir Daien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha


Nasional.

Kusumal. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Marzuki. 2005. Metodologi Riset. Yogyakarta: Ekonisia.

Muhaimin, dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Citra Media.

Mulyadi. 1991. Psikologi Pendidikan. Malang: FT. IAIN Sunan Ampel.

122
123

Pradja, Sastra. M. 1978. Kamus Istilah Pendidikan Dan Umum. Surabaya: Usaha
Nasional.

Purwanto, Ngalim. M. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

2006. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Roestiyah, Y. 1978. Didaktik Metodik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sardiman. 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali


Pers.

Schaefer, Charles. 1986. Bagaimana Mendidik Dan Mendisiplinkan Anak. Jakarta:


Kesain Blanc.

Shalahuddin, Mahfudh, dkk. 1987. Metodologi Pendidikan Agama. Surabaya:


Bina Ilmu.

Sudijono, Anas. 2003. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo.

Sudjana, Nana, dan Ibrahim. 1989. Penelitian Dan Penilaian Pendidikan.


Bandung: Sinar Baru.

Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo.

Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Tadjab. 1994. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya: Karya Abditama.

Uno, Hamzah. B. 2007. Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang


Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Winarsunu, Tulus. 2004. Statistik Dalam Penelitian Psikologi Dan Pendidikan.


Malang: UMM Press.

2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan


Nasional. Bandung: Citra Umbara.

123