Anda di halaman 1dari 18

CASE REPORT

Ilustrasi Kasus
Pada hari Rabu, tanggal 13 Pebruari 2007, seorang pasien bernama Tn.P,
berusia 23 tahun, seorang mahasiswa dan beralamat di Jalan Andes Pinus Regensi
Bandung datang ke bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Rumah sakit Hasan
Sadikin.

Anamnesis
Keluhan utama : gusi rahang kanan bawah sering bengkak disertai asa sakit.
Sejak enam tahun yang lalu, pasien mengeluhkan gusi rahang kanan
bawah sering terasa membengkak disertai rasa sakit terutama saat mengunyah.
Keluhan tersebut juga disertai gusi yang mudah berdarah saat menyikat gigi.
Pasien mengakui bahwa keluhan sakit berkurang apabila pasien menyedot
nyedot air liur di bagian yang sakit. Karena keluhannya tersebut, sepuluh bulan
yang lalu pasien datang ke dokter gigi dan kemudian dilakukan dental photo. Saat
itu dokter gigi menyarankan pasien agar gigi tersebut dicabut namun pasien
menolak. Untuk keluhnnya tersebut pasien belum mengkonsumsi obat apapun
karena seringkali keluhan hilang dengan sendirinya. Pasien menyikat giginya dua
kali dalam sehari. Riwayat sakit gigi sebelumnya disangkal. Pasien menginginkan
untuk menunda pencabutan giginya.

Pemeriksaan
a. General Survey
Dari anamnesa didapatkan riwayat penyakit berat sebelumnya
disangkal oleh pasien, dan selain sakit diatas pasien tidak merasakan sakit
yang lain.
Riwayat cepat lelah, tidak kuat naik tangga disangkal oleh pasien,
riwayat dada berdebar-debar, nyeri pada tengkuk, sakit kepala yang sering
disangkal, riwayat berkunang-kunang jika langsung berdiri dari keadaan
duduk disangkal. Riwayat jika berdarah sukar untuk berhenti disangkal.
Riwayat alergi kepiting diakui pasien. Riwayat nyeri pada ulu hati disertai
dengan rasa mual disangkal. Riwayat sering lapar, mudah haus, dan sering
buang air kecil disangkal. Riwayat mata dan kulit berubah menjadi kuning,
nyeri perut kanan bagian atas, perubahan warana air kencing menjadi seperti
air teh disangkal. Riwayat batuk-batuk lama, keringat malam dan pegobatan
TB disangkal.
Kebiasaan buruk berupa bernapas melalui mulut, menggigit jari atau
pensil, mendorong lidah, merokok, dan minum alkohol disangkal pasien
kebiasaan sering menggunakan tusuk gigi diakui pasien
Dari pemeriksaan fisik didapatkan :
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Tanda vital
Tensi : 130/80 mmHg
Nadi : 84 x / menit
Respirasi : 24 x / menit
Suhu : afebris

b. Ekstra oral
KGB : tidak teraba membesar
Pembengkakan : negatif
Benjolan : negatif
Fistel : negatif
Ulkus : negatif

c. Intra oral
Oral higiene : sedang
Bibir : tak
Mukosa bukal : tak
Gingiva : hiperemis di rahang kanan bawah
Lidah : tak
Dasar mulut : tak
Palatum : tak
Tonsil : tenang

Gigi geligi
1/5 2/6
stein O
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
impaksi stein stein O impaksi
4/8 3/7

d. Status lokalis
Gigi : 4.8
Karies : Caries insipien
Sondasi : negatif
Dingin : negatif
Perkusi : negatif
Tekanan : negatif
Palpasi : positif
Mobility : negatif
Poket : tidak diperiksa
Jaringan di sekitar status lokalis : Hiperemis positif

Gambaran Rontgent Photo


Impaksi horizontal pada gigi 4.8
Gambaran radiolusen di daerah pericoronal pada gigi 4.8

Diagnosis banding
1. Impaksi 4.8
2. Eruptio difficillis

Diagnosis kerja
Impaksi 3.8

Rencana perawatan
1. Pro rontgen gigi 4.8
2. Pro ekstraksi gigi 4.8
3. Pro R/

Terapi
1. Konsul ke bagian Dental Photo untuk gigi 4.8
2. Konsul ke bagian Eksodontia untuk ekstraksi gigi 4.8
3. R/ Amoxicillin tab 500 mg No. X
3 d.d.1
R/ Antalgin tablet 500 mg No. X
3 d.d.1 prn

Saran Tindakan / Konseling


1. Konsul ke bagian Dental Publik Health untuk dental healt education
2. Konsul ke bagian rontgen untuk mendeteksi gigi impaksi pada 3.8
3. Konsul ke bagian endodontik untuk penambalan gigi 2.8 dan 3.7
4. Pro scalling
5. Kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan.

Prognosis
Quo ad vitam ad bonam
Quo ad functionam ad bonam
PEMBAHASAN

Erupsi gigi permanen merupakan suatu proses yang kompleks dan sangat
ditentukan secara genetik, dimana pergerakkan benih gigi terjadi pada waktu dan
jalur tertentu agar mencapai tempat yang seharusnya. Proses erupsi gigi
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lokal dari gigi itu sendiri,
genetik, ras, jenis kelamin, pertumbuhan, tinggi badan, hormonal, nutrisi, dan
sosioekonomi.

Definisi dan Epidmiologi


Gigi impaksi adalah gigi yang mengalami kegagalan erupsi secara
sempurna untuk mencapai kedudukannya yang normal. Erupsi didefinisikan
sebagai proses pergerakan gigi dari tempat perkembangannya dalam rahang
menuju posisi yang fungsional di permukaan oklusal. Gigi yang gagal mengalami
impaksi terbagi menjadi gigi yang mengalami obstruksi akibat barier fisik
(impacted) dan gigi yang tidak atau kurang memiliki kekuatan erupsi
(embandded). Gigi dapat mengalami impaksi total maupun parsial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setidaknya satu gigi M3 mengalami
impaksi pada 9 orang dari setiap 10 orang. Impaksi molar 3 rahang bawah
(M3RB) paling sering terjadi, diikuti molar 3 rahang atas (M3RA), caninus
rahang atas (CRA), premolar rahang bawah (PRB), caninus rahang bawah (CRB),
premolar rahang atas (PRA), insisif 1 rahang atas (I1RA), insisif 2 rahang atas
(I2RA). Impaksi molar 1 rahang atas (M1RA) dan rahang bawah (M1RB) jarang
terjadi. Prevalensi gigi impaksi lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita
dan 2.5 kali lebih sering terjadi pada ras Cina dibandingkan pada ras kaukasus.
Impaksi primer sangat jarang terjadi pada gigi susu, jika terjadi pada gigi susu
seringkali mengenai M2. Ankylosis diduga berperan penting dalam
patogenesisnya.

Etiologi
Faktor lokal :
Jumlah gigi yang ada sudah menutupi seluruh tempat pada rahang atau
tidak adanya uang yang cukup untuk terjadinya erupsi (karena kuran gigi
yang besar dan/ atau ukuran rahang yang sempit)
Terdapat tulang atau mukosa yang tebal akibat radang kronis yang lama
Letak benih gigi dan arah tumbuhnya gigi
Bentuk gigi yang abnormal
Perubahan posisi dari akar gigi yang menyebabkan gigi tidak muncul di
tempat yang seharusnya
Trauma dan neoplasma
Mahkota bersatu, akar tebalik
Faktor Sistemik :
Prenatal :
- keturunan
- perkawinan antar suku atau bangsa
Postnatal :
- rakhitis
- anemia
- congenital syphylis
- TBC
- gangguan endokrin
- malnutrisi
Faktor stimulasi otot :
Stimulasi otot yang kurang menyebabkan pertumbuhan tlang rahang yang
kurang pula, sehingga rahang menjadi sempit.

IMPAKSI M3
Patogenesis
Gigi yang paling sering mengalami impaksi adalah gigi M3, yang disebut
juga wisdom teeth. Gigi berukuran besar ini adalah gigi yang paling terakhir
tumbuh, dimulai dibentuk ketika seseorang berusia sekitar 9 tahun, tetapi tidak
keluar dari jaringan gusi sampai remaja akhir atau usia awal dua puluhan. Pada
waktu tersebut, rahang telah berhenti berkembang sehingga mungkin terlalu kecil
untuk dapat mengakomodasi ematt buah gigi tambahan. Selama gigi M3 terus
bergerak, satu atau lebih dapat menjadi impaksi, baik erupsi sebagian atau tetap
terhalang dan berada dalam tulang rahang atau jaringan gusi. Gigi yang impaksi
sering kali mengalami diversi atau angulasi dan kehilangan potensinya untuk
mengalami erupsi. Gigi yang mengalami impaksi dapat menyebabkan berbagai
masalah gigi, termasuk infeksi gusi, malposisi dari gigi lain, atau kerusakan gigi.

Klasifikasi
Klasifikasi M3
Klasifikasi impaksi gigi M3 atas dan bawah menggunakan klasifikasi dari Pell &
Gregory serta klasifikasi George Winter.

Pell & Gregory

1. Berdasarkan hubungan antara ramus mandibula dengan molar kedua dengan


cara membandingkan lebar mesio-distal molar ketiga dengan jarak antara
bagian distal molar kedua ke ramus mandibula.

Kelas I : ukuran mesio-distal gigi molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak
antara distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.

Kelas II : ukuran mesio-distal gigi molar ketiga lebih besar dibandingkan


jarak antara distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.

Kelas III : seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada di dalam ramus
mandibula.

2. Berdasarkan letak molar ketiga di dalam tulang.


Posisi A : Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada setinggi garis oklusal.

Posisi B : Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada di bawah bidang oklusal
tapi masih lebih tinggi daripada garis servikal molar kedua.

Posisi C : Bagian tertinggi molar ketiga terletak di bawah garis servikal molar
kedua.

Kedua klasifikasi ini digunakan biasanya berpasangan. Misalkan, Kelas I


tipe B, artinya panjang mesio-distal gigi molar ketiga lebih kecil dibandingkan
jarak distal molar kedua ke ramus mandibula dan posisi molar ketiga berada di
bawah garis oklusal tapi masih di atas servikal gigi molar kedua.

Klasifikasi George Winter


Klasifikasi ini berdasarkan perbandingan sumbu panjang M2 terhadap M3
1. Impaksi mesioangular
Posisi M3 yang berada oblik dalam tulang alveolar, mahkotanya berada
pada posisi mesial (mengarah ke arah mulut depan), biasanya mengalami
kontak dengan mahkota gigi M2. Impaksi ini adalah impaksi yang paling sering
teradi.
2. Impaksi distoangular
Posisi M3 yang berada oblik dalam tulang alveolar, mahkotanya mengarah
ke posisi distal sehingga akar gigi M3 mengalami kontak dengan akar gigi M2.
3. Impaksi vertikal
Impaksi yang terjadi dalam posisi normal atau vertikal tetapi mengalami
hambatan, biasanya oleh permukaan distal gigi M2.
4. Impaksi horizontal
Posisi M3 yang berada horizontal pada tulang alveolar dengan mahkota
gigi yang mungkin kontak atau tidak dengan gigi M2
5. Impaksi bukoangular
6. Impaksi Linguaangular
7. Inverted
8. Unusual Position
Klasifikasi Archer

Archer memberikan klasifikasi untuk impaksi yang terjadi di rahang atas.

1. Klasifikasi ini sebetulnya mirip dengan klasifikasi Pell & Gregory. Bedanya,
klasifikasi ini berlaku untuk gigi atas.

Kelas A : bagian terendah molar ketiga setinggi bidang oklusal molar kedua.

Kelas B : bagian terendah molar ketiga di atas bidang oklusal gigi molar
kedua tapi masih di bawah garis servikal molar kedua.

Kelas C : bagian terendah molar ketiga lebih tinggi dari garis servikal molar
kedua.

2. Klasifikasi kedua untuk rahang atas ini sama dengan apa yang dibuat George
Winter.

3. Berdasarkan hubungan gigi molar ketiga dengan sinus maksilaris:

Sinus approximation (SA) : bila tidak dibatasi tulang, atau ada lapisan tulang
yang tipis di antara gigi impaksi dengan sinus maksilaris.

Non Sinus approximation (NSA) : bila terdapat ketebalan tulang yang lebih
dari 2 mm antara gigi molar ketiga dengan sinus maksilaris.

Selain kedua klasifikasi di atas, ada juga yang membagi impaksi


berdasarkan letaknya, yaitu :
1. Bony impaction, dimana seluruh bagian seluruh bagian M3 masih
tertanam dalam tulang mandibula.
2. Soft tissue impaction, dimana mahkota gigi M3 sebagian sudah menembus
gusi.

Gejala Klinis

Pergerakkan erupsi dari gigi M3 dan akibat impaksi menyebabkan


timbulnya rasa sakit pada belakang rahang. Sakit juga dapat berasal dari infeksi
baik dari kerusakan gigi pada daerah yang terkena atau dari sisa makanan yang
terjebak serta plak pada gusi yang mengelilinginya. Selain itu infeksi dapat
menyebabkan rasa tidak enak di mulut, bau mulut, bengkak dan kemerahan pada
gusi. Gejala lain yang jarang dapat berupa pembesaran kelenjar limfe di regio
leher, sulit membuka mulut, dan sakit kepala berkepanjangan.

Komplikasi

Gigi M3, baik erupsi secara parsial atau total seringkali sulit untuk
dibersihkan. Lokasi di mulut dimana plak dapat terkumpul dan menetap, seperti di
sekitar tempat erupsi gigi M3 yang parsial, maka seseorang akan beresiko
mendapatkan masalah dengan giginya, seperti karies, penyakit periodontal
(penyakit gusi), atau infeksi yang berulang. Gigi impaksi yang mengalami erupsi
parsial ternyata lebih memungkinan menimbulkan bahaya yang mungin tidak
terduga daripada gigi impaksi yang tidak pernah dapat menebus gusi.

Pericoronitis

Kondisi yang sering terjadi akibat impaksi M3 adalah pericoronitis.


Pericoronitis adalah infeksi yang terjadi di jaringan sekitar gigi yang tidak dapat
erupsi dengan sempurna keluar dari gusi menuju posisi yang seharusnya ( keadaan
ini menunjukkan adanya erupsi parsial).

Jaringan gusi melekat dengan level yang hampir sama untuk semua gigi.
Oleh karena itu apabila hanya sebagian dari M3 yang dapat keluar melalui gusi,
maka daerah pembukaan akan menyebabkan adanya ruangaan yang berhubungan
antara gusi dengan mahkota gigi M3 tersebut. Pada keadaan normal mahkota gigi
tidak pernah menempel pada jaringan gusi.

Plak gigi dapat terakumulasi di ruangan yang tersembunyi tersebut


sehingga daerah tersebut sulit atau tidak dapat dibersihkan secara efektif.
Akibatnya, seiring dengan berjalannya waktu bakteri yang terdapat pada plak
dapat menyebabkan infeksi yang aktif dan menyebar ke jaringan sekitarnya dan
mengakibatkan pericoronitis.

Tanda klinis dari pericoronitis adalah timbulnya pembengkakan pada


jaringan gusi sekitar M3 yang mengalami impaksi. Selain itu dapat menyebabkan
rasa sakit yang sangat, bau mulut yang tidak sedap bahkan rasa tidah enak yang
berasal dari daerah infeksi tersebut. Terapi yang umum diberikan adalah antibiotik
dan konseling cara membersihkan celah di antara gusi dan mahkota gigi yaitu
dengan menggunakan dental flush.

Walaupun gigi M3 dapat mengalami erupsi dengan sempurna, tetapi


terdapat periode transisi di mana baru sebahagian gigi yang erupsi. Hal ini karena
gigi M3 membutuhkan waktu yang lama untuk dapat erupsi dengan sempurna.
Pada periode tersebut gigi M3 memiliki resiko untuk terjadinya pericoronitis.
Pericoronotis pada periode transisi dan pericoronitis pada gigi yang mengalami
impaksi harus dapat dibedakan di mana pericoronitis pada impaksi memiliki
resiko untuk mengalami rekurensi.

Caries

Pada impaksi gigi sisa makanan yang tidak dapat dijangkau untuk
dibersihkan akan menimbulkan plak dan untuk waktu yang lama dapat
menyebabkan terjadinya caries. Caries yang terbentuk dapat diterapi dengan
melakukan penambalan tetapi hanya mungkin dilakukan bila tempatnya dapat
dijangkau dan berukuran kecil. Walaupun penambalan berhasil dilakukan tetapi
gigi tersebut masih tidak dapat dibersihkan maksimal dan plak akan terus
terakumulasi pada permukaan dan beresiko untuk terjadinya caries yang berulang.
Karena alasan tersebut maka terapi yang paling mudah dan murah dilakukan
adalah dengan mengekstraksi gigi tersebut.

Caries juga dapat terjadi pada gigi yang bersebelah dengan gigi yang
mengalami impaksi (molar 2) karena faktor posisinya yang memungkinkan untuk
menjadi tempat tertimbunnya sisa makanan yang sukar dibersihkan. Caries juga
dapat terjadi pada kedua gigi sehingga
ekstraksi harus dilakukan pada pada kedua
gigi tersebut.
Operkilitis

Operkulum adalah jaringan ikat yang menutupi mahkota gigi. Operkulum


bias terinfeksi karena food debris ataupun tekanan oleh M3 atas. Operkulitis
merupakan peradangan sebagian kecil gusi yang terdapat di permukaan
oklusal gigi dan biasa terjadi pada M3 rahang bawah. Gejalanya adalah
adanya rasa nyeri bila gigi tersebut dipakai mengunnyah. Biasanya tidak
ditemukan adanya tanda tanda peradangan pada jaringan sekitar.

Terapi yang dapat dilakukan menenangkan proses infeksi. Bila ruangan


tidak cukup untuk erupsi gigi, maka dilakukan ekstraksi gigi. Bila ruangan
cukup untuk erupsi, maka dapat dilakukan operkulektomi dengan
kauterisasi atau insisi.

Penyakit periodontal ( penyakit gusi)

Apabila gigi tidak dapat dibersihkan dengan baik (dengan sikat gigi atau
dental floss), bakteri yang terdapat pada plak dapat menyebabkan terjadinya
penyakit periodontal. Apabila berlanjut, penyakit periodontal tidak hanya
dapat membahayakan jaringan gusi tetapi juga jaringan tulang di sekitar gigi
tersebut.

Periodontal disease
("gum disease").
Whenever a tooth cannot be
properly cleansed (brushed and
flossed), the bacteria found in the
dental plaque that accumulates on
and around the tooth can lead to the
formation of periodontal disease ("gum disease"). If allowed to advance,
periodontal disease can significantly damage not just the gums but also the bone
surrounding the tooth. Enough damage can occur that the tooth may need to be
extracted.

It may seem a bit of a conundrum that a dentist will recommend the removal of a
wisdom tooth now just so you won't develop periodontal disease around it and
subsequently have to have the same wisdom tooth extracted later. What you need
to realize however is that a portion of the gum tissue that surrounds a wisdom
tooth is the same tissue (and bone) that abuts the backside of the next molar
forward (the 2nd molar). Gum disease is not an isolated event that occurs around
an individual tooth, it also affects a tooth's neighboring teeth. It would be a shame
to damage or lose a valuable 2nd molar simply because a wisdom tooth you could
not clean properly was not extracted.

Cysts and tumors.


While it is not a common occurrence, cysts and tumors can develop in the
tissues surrounding impacted wisdom teeth. (If a decision is made to not remove
an impacted wisdom tooth, a dentist will often recommend that an x-ray
should be taken of the tooth periodically. This allows the dentist to evaluate the
tooth and its surrounding tissues for changes that might suggest that a cyst or
tumor is forming.)

Tooth crowding.
There is a theory that suggests that impacted wisdom teeth, as part of their effort
to come fully into place, can put pressure on a person's other teeth and cause them
to become misaligned (crowded or shifted). Changes in the alignment of a
person's lower front teeth, especially, are frequently blamed on pressure created
by a person's wisdom teeth.

This theory has never been proven by scientific studies and is certainly not
universally accepted by the dental profession as a whole. This is not to say that
people don't have teeth which do shift but rather that this type of tooth shifting
cannot be conclusively demonstrated by research to be caused by a person's
wisdom teeth coming in and is most likely simply coincidental. Part of the proof
for this stance is that studies have found that people who lack wisdom teeth (have
congenitally missing wisdom teeth) experience this same crowding phenomenon.

Damage to neighboring
teeth.
While uncommon, the attempted eruption of a misdirected impacted wisdom tooth
can cause damage to a person's 2nd molar (the next tooth forward of the wisdom
tooth).

This event is somewhat similar to what happens to baby teeth. Baby teeth, when
they fall out, look as though they have no root portion. The tooth did have a root
at one time but the action of the permanent tooth erupting underneath has caused
its root to resorb, hence the baby tooth looks rootless.

Similarly, when misdirected wisdom teeth attempt to erupt they can cause
resorption of the root of the 2nd molar. The worst case scenario in this instance is
that both the offending wisdom tooth and the damaged 2nd molar will have to be
extracted.

Especially in those situations where their wisdom teeth are in the early stages of
formation, a dentist may not be able to come to a conclusion about the potential
risks that a person's wisdom teeth pose. In other cases, even after being informed
about the potential problems associated with their impacted wisdom teeth, some
patients will simply prefer to not have these teeth extracted. In these instances a
dentist will usually recommend that the teeth be observed and re-evaluated
periodically. These examinations will almost certainly need to include the use of
dental x-rays.

What should you expect when you have your


wisdom teeth extracted?
A great deal of the degree of difficulty associated removing a wisdom tooth will
have to do with the manner in which it is positioned in the patient's jawbone (see
types of wisdom tooth impaction page). In general, the more normal the alignment
of the wisdom tooth and the further through the gums it has been able to erupt, the
less involved the extraction and its subsequent healing process will be.

Another factor associated with the


degree of difficulty of removing a
wisdom tooth will have to do with
the tooth's anatomy. Wisdom teeth
are multi rooted teeth. Lower
wisdom teeth typically have two
roots whereas upper wisdom teeth
usually have three. There can be
quite a bit of variation in the way a
tooth's roots have formed. In some
cases each of a wisdom tooth's
roots will be quite distinct and
separate. In other cases the tooth's roots may have fused together or taken on an
irregular shape when forming. These variations in anatomy will affect the relative
degree of difficulty associated with a particular wisdom tooth extraction.

Don't necessarily expect the worst. Some wisdom teeth will be no more difficult
for your dentist to extract than any other tooth. As part of your pre extraction
examination your dentist should be able to give you an idea of what to expect,
both during the extraction procedure and also in regards to healing.

If there is an active infection associated with a wisdom tooth (such as


pericoronitis) a dentist will usually delay the timing of the extraction. In these
instances your dentist will usually prescribe a course of antibiotics for you to take,
typically for seven days or so. The antibiotics will diminish the amount of
infection that is present at the time of the extraction, thus allowing both the
extraction and the subsequent healing process to go more smoothly.

In order to extract a wisdom tooth


a dentist must first gain access to
it. If the tooth is underneath the
gums and still totally encased in
bone then the dentist will first
need to make an incision in the
gums and then remove a portion
of the bone that lies over the
tooth. So to minimize the total
amount of bone that must be
removed in order to get a tooth
out, a dentist will often "section"
a wisdom tooth into parts during
the extraction process. Because each part is smaller than the tooth as a whole,
each can be removed through a smaller opening in the bone.

Numbing a wisdom tooth with local anesthetic.


Before a wisdom tooth is extracted the tooth and its surrounding tissues of course
will need to be numbed. Dentists numb teeth and tissues by way of administering
a "local anesthetic." In slang terms the local anesthetic used is often referred to as
"novocaine," however this particular anesthetic has not been widely used by
dentists for a number of decades. Now days the most common local anesthetic
used by dentists is lidocaine.

Dentists administer local


anesthetics by way of an
injection (a "shot"). Numbing up
a wisdom tooth prior to
extracting it is not unlike the
way teeth are numbed prior to
placing fillings. Many people seem to be convinced that all injections will hurt,
and this type of mind set usually results in a self-fulfilling prophecy. Don't
prejudge, ask your dentist what to expect. You may be pleasantly surprised by
what they have to tell you. As a way of trying to minimize any potential for
discomfort during the injection process, a dentist will often paint a skin numbing
gel on their patient's gums before the injection is given.

Post extraction healing.


In general, the easier it has been for the dentist to access and remove a wisdom
tooth, the less involved the healing process will be. Since the degree of difficulty
involved with removing a patient's wisdom teeth can vary greatly, your dentist
will need to explain to you what to expect in your specific case.

In regards to simpler wisdom tooth extractions, you may find our "First 24 hours"
and "After 24 hours" post extraction instructions of interest. In all cases, print out
and show the contents of our pages to your dentist so they can make a
determination regarding if their contents are correct for your specific
circumstances and needs.

Treatment

Because impacted teeth may cause dental problems with few if any symptoms to
indicate damage, dentists commonly recommend the removal of all wisdom teeth,
preferably while the patient is still a young adult. A dentist may perform an
extraction with forceps and local anesthetic if the tooth is exposed and appears to
be easily removable in one piece. However, he or she may refer a difficult
extraction to an oral surgeon, a specialist who administers either nitrous oxide-
oxygen (commonly called "laughing gas"), an intravenous sedative, or a general
anesthetic to alleviate any pain or discomfort during the surgical procedure.
Extracting an impacted tooth typically requires cutting through gum tissue to
expose the tooth, and may require removing portions of bone to free the tooth.
The tooth may have to be removed in pieces to minimize destruction to the
surrounding structures. The extraction site may or may not require one or more
stitches to help the incision heal.

Prognosis

The prognosis is very good when impacted teeth are removed from young healthy
adults without complications. Potential complications include postoperative
infection, temporary numbness from nerve irritation, jaw fracture, and jaw joint
pain. An additional condition which may develop is called dry socket: when a
blood clot does not properly form in the empty tooth socket, or is disturbed by an
oral vacuum (such as from drinking through a straw or smoking), the bone
beneath the socket is painfully exposed to air and food, and the extraction site
heals more slowly.
IMPAKSI CANINUS

Caninus rahang atas harus diperiksa saat seseorang berusia 8 9 tahun


dengan palpasi pada alveolar. Apabila caninus tidak juga tumuh hingga usia 12
tahun maka dokter gigi harus memeriksa gigin tersebut berada. Impaksi caninus di
maksila 20 kali lebih sering daripada di mandibula dan lebih sering terjadi pada
wanita, mungkin karena tulang tengkorak dan maksila serta mandibulanya rata
rata lebih kecil daripada pria.

Faktor penyebab impaksi gigi caninus antara lain :

1. Kepadatan gigi yang telah mengalami erupsi terlebih dahulu dan juga
waktu erupsi caninus didahului erupsi dari I2 dan P1 sehingga caninus
tidak memiliki ruang yang cukup erupsi
2. Tulang palatal yang keras, yang lebih memberikan resistensi daripada
tulang alveolar pada daerah erupsi caninus yang secara lingual salah
letaknya
3. Jaringan mukoperiosteal yang menutupi sepertiga anterior palatum lebih
tahan pada tekanan selama mastikasi, menjadi sangat padat, tebal, dan
resisten
4. Saat gigi caninus erupsi, umumnya sudah memiliki akar sempurna
sehingga daya dorong erupsi kurang.
5. Gigi caninus menempuh jarak yang panjang untuk mencapai oklusi yang
sempurna.
6. Resorpsi yang terlambat dari akar caninus sulung
7. Caninus menggantikan gigi caninus susu yang ukuran diameter
mesiodistalnya lebih kecil daripada caninus permanennya.

Klasifikasi untuk gigi Caninus rahang atas


Kelas I : Caninus terletak di palatum, baik dalam posisi vertikal, horisontal,
atau semivertikal.

Kelas II : Caninus terletak di bagian bukal atau labial

Kelas III : Caninus terletak di daerah palatum dan bukal atau labial.

Kelas IV : Caninus terletak pada prosesus alveolaris biasanya dalam posis


vertikal di antara insisif dengan premolar I.

Kelas V : Caninus terletak pada daerah tidak bergigi (edentulous).

IMPAKSI PREMOLAR

Impaksi premolar tersering adalah P2 mandibula yang terjadi karena


erupsinya terjadi setelah erupsi gigi molar 1 dan caninus sehingga bila tidak cukup
ruang untuk erupsi akan terjadi impaksi.