Anda di halaman 1dari 22

TUGAS PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM

KIMIA KLINIK

Disusun Oleh : Kelompok 4


Denny Anggara Anis Chaerunisa

I Nyoman Bagus Aji Kresnapati Baiq Isni Amalia Rahmatin

Ida Ayu Windari Ririn Astitin

Dwi Rahman Lokasuma Nopita Anjani

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM ANALIS KESEHATAN

2013/2014
Kata Pengantar

Dengan segala kerendahan hati kami haturkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa, berkat segala kemudahan dan anugerah yang telah diberikan-Nya sehingga makalah

Pemantapan Mutu Laboratorium ini dapat terselesaikan. Semoga dengan adanya makalah ini

dapat membantu memperlancar kita semua dalam proses belajar mengajar dan menambah

wawasan yang lebih luas.

Demikian isi singkat yang dapat kami sampaikan, semoga apa yang tersaji ini dapat

membantu rekan-rekan semua dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Mataram, September 2015

Penyusun

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar .............................................................................................................................................. ii


Daftar Isi ...................................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 4
A. Latar Belakang .................................................................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................................. 5
A. Pengertian Laboratorium klinik ........................................................................................................ 5
B. Tahap Persiapan ................................................................................................................................ 5
1. Persiapan Pasien Secara Umum. ................................................................................................... 5
2. Faktor Pada Pasien Yang Dapat Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan ............................................ 6
3. Peralatan........................................................................................................................................ 9
4. Wadah. .......................................................................................................................................... 9
5. Pengawet. ...................................................................................................................................... 9
6. Waktu. ........................................................................................................................................... 9
7. Lokasi.......................................................................................................................................... 10
8. Volume ........................................................................................................................................ 10
9. Teknik ........................................................................................................................................ 10
10. Penanganan Sampel/Spesimen ................................................................................................ 11
C. Jenis-jenis Pemeriksaan Kimia Klinik ............................................................................................ 16
BAB III PENUTUP .................................................................................................................................... 22
A. Kesimpuan ...................................................................................................................................... 22
B. Saran ............................................................................................................................................... 22

iii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laboratorium Kesehatan (Labkes) adalah sarana kesehatan yang melaksanakan


pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan
bukan berasal dari untuk penentuan jenis penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat
berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat.

Sebagai bagian yang integral dari pelayanan kesehatan, pelayanan laboratorium sangat
dibutuhkan dalam pelaksanaan berbagai program dan upaya kesehatan, dan dimanfaatkan untuk
keperluan penegakan diagnosis, pemberian pengobatan dan evaluasi hasil pengobatan serta
pengambilan keputusan lainnya.

Salah satu laboratorim adalah Laboratorim Kimia Klinik. Pemeriksaan laboratorium yang
berdasarkan pada reaksi kimia dapat digunakan darah, urin atau cairan tubuh lain. Terdapat
banyak pemeriksaan kimia darah di dalam laboratorium klinik antara lain uji fungsi hati, otot
jantung, ginjal, lemak darah, gula darah, fungsi pankreas, elektrolit dan dapat pula dipakai
beberapa uji kimia yang digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis anemi.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah Laboratorium Kimia Klinik itu?
2. Apa saja tahap-tahap persiapan untuk pemeriksaan kimia klinik?
3. Apa saja pemeriksaan kimia klinik itu?

C. Tujuan
1. Mengetahui Laboratorium Kimia Klinik.
2. Mengetahui tahap-tahap persiapan untuk pemeriksaan kimia klinik.
3. Mengetahui jenis-jenis pemeriksaan kimia klinik.

4
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Laboratorium klinik

Pemeriksaan laboratorium yang berdasarkan pada reaksi kimia dapat digunakan darah, urin atau
cairan tubuh lain. Terdapat banyak pemeriksaan kimia darah di dalam laboratorium klinik antara lain
uji fungsi hati, otot jantung, ginjal, lemak darah, gula darah, fungsi pankreas, elektrolit dan dapat pula
dipakai beberapa uji kimia yang digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis anemi.

B. Tahap Persiapan
1. Persiapan Pasien Secara Umum.
Persiapan pasien untuk pengambilan spesimen pada keadaan basal/dasar :
a. Untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa selama 8-12 jam sebelum diambil darah.
Glukosa Puasa, TTG (Tes Toleransi Glukosa), Glukosa kurva harian, Asam Urat, VMA,
Renin (PRA)
Puasa 10 12 jam
Insulin dan C. Peptidae Puasa 8 jam
Trigliserida, Gastrin, Aldosteron, Homocystine, Lp (a), PTH Intact Puasa 12 jam
Apo AB dan Apo B Dianjurkan Puasa 12 jam

b. Pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 09.00.

c. Menghindari obat-obatan sebelum Spesimen di ambil


1) Untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 4-24 jam sebelum
pengambilan specimen
2) Apabila pemberian pengobatan tidak memungkinkan untuk di hentikan, harus di
informasikan kepada petugas laboratorium
Contoh : Sebelum pemeriksaan gula 2 jam pp pasien minum obat antidiabetes.

d. Menghindari aktifitasfisik/olahraga sebelum spesimen di ambil


Aktifitas fisik berlebihan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada komponen darah dan
spesimen lain, sehingga dapat mempengaruhi ke paramater yang akan diperiksa.

e. Memperhatikan efek postur.


Untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari pisisi berdiri ke pisisi duduk, dianjurkan
pasien duduk tenang sekurang-kurangnya 15 menit sebelum di ambil darah.

f. Memperhatikan variasi diurnal ( perubahan kadar analit sepanjang hari)


Pemeriksaan yang di pengaruhi variasi diurnal perlu di perhatikan waktu pengambilan
darahnya, antara lain pemeriksaan ACTH, renin dan aldosteron.

5
2. Faktor Pada Pasien Yang Dapat Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan
a. Diet
Makanan dan minuman dapat mempengaruhi hasil beberapa jenis pemeriksaan, baik langsung
maupun tidak langsung, misalnya :
1) Pemeriksaan gula darah dari triglisarida
Pemeriksaan ini di pengaruhi secara langsung oleh makanan dan minuman, karena
pengaruh yang sangat besar, maka pemeriksaan gula darah puasa, pasien perlu di
puasakan 10-12 jam sebelum darah di ambil dan pada pemeriksaan trigliserida perlu di
puasakan sekurang-kurangnya 12 jam
2) Pemeriksaan laju endap darah, aktifitas enzim, besi dan trace element.
Pemeriksaan ini di pengaruhi secara tidak langsung oleh makanan dan minuman karena
makanan dan minuman akan mempengaruhi reaksi dalam proses pemeriksaan sehingga
hasilnya menjadi tidak benar

b. Obat-obatan
Obat obatan yang di berikan baik secara oral maupun secara lainya akan menyebabkan
respon tubuh terhadap obat tersebut. Di samping itu pemberian obat secara intramuskuler
akan menimbulkan jejas pada otot sehingga mengakibatkan enzim yang di kandung oleh otot
mesuk ke dalam darah, yang selanjutnya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan antara lain
pemeriksaan Creatin kinase (CK) dan Lactin Dehydrogenase (LDH)
Obat-obatan yang sering di gunakan akan dapat memperngaruhi pemeriksaaan dapat di lihat
pada tabel 8 :
Tabel : Daftar Obat dan Pemeriksaan Yang di Pengaruhi
1) Diuretik
- Hampir seluruh hasil pemeriksaan substrat dan enzim dalam darah akan meningkat
karena terjadi hemokonsentrasi, terutama pemeriksaan Hb, Hitungan sel darah,
Hematokrit, Elektrolit
- Pada urin akan terjadi penganceran
Cafein Sama dengan diuretic
2) Thiazid
- Glukosa darah
- Tes toleransi darah
- Ureum darah
3) Pil KB (Hormon)
- LED
- Kadar hormone
4) Morfin : Enzim hati (GOT, GPT)
5) Phenobarbital : GGT
6) Asetosal : Uji hemostasis
7) Vitamin C : Reduksi urin
8) Obat antidiabetika - Glukosa darah
- Glukosa urin
9) Kartikosteroid - Hitung eosinofil
- Tes toleransi glukosa

6
c. Merokok
Merokok menyebabkan terjadinya perubahan cepat dan lambat pada kadar zat tertentu yang
di periksa. Perubahan cepat terjadi dalam 1 jam hanya dengan merokok 1-5 batang dan
terlihat akibatnya berupa peningkatan kadar asam lemak, epinefrin, gliserol bebas, aldosteron
dan kortisol.
Perubahan lambat terjadi pada hitung leukosit, lipoprotein, aktivitas beberapa enzim,
hormone, vitamin, petanda tumor dan logam berat.

d. Alkohol
Konsumsi alkohol juga menyebabkan perubahan cepat dan lambat beberapa kadar analit.
Perubahan cepat terjadi dalam waktu 2-4 jam setelah konsumsi alkohol dan terlihat akibatnya
berupa peningkatan pada kadar glukosa, laktat, asam urat, dan terjadi asidosis metabolic.
Perubahan lambat berupa pengikatan aktifitas Aglutamyl Transferase, AST, ALT, trigliserida,
kortisol dan MCV (Mean Corpuscular Volume) sel darah merah.

e. Aktifitas fisik
Aktifitas fisik dapat menyebabkan terjadinya shift volume antara kompertemen di dalam
pembuluh darah dan interstitial, kehilangan cairan karena ke keringan dan perubahan kadar
hormone. Akibatnya akan terjadi perbedaan yang besar antara kadar gula darah di arteri dan
di vena serta terjadi perubahan konsentrasi gas darah, kadar asam urat, kreativitas, aktivitas
CK, AST, LTD, LED, Hb, hitung sel darah dan produksi urin.

f. Ketinggian/altitude
Beberapa parameter pemeriksaaan menunjukkan perubahan yang nyata sesuian dengan tinggi
rendahnya deretan terhadap permukaan laut.Parameter tersebut adalah CRP, 2-globulin,
hematokrit, hemoglobin, dan asam urat. Adaptasi terhadap perubahan ketinggian daratan
memerlukan waktu harian hingga berminggu-minggu

g. Demam
Pada waktu demam akan terjadi :
1) Peningkatan gula darah pada tahap permulaan dengan akibat akan terjadi peningkatan
kadar insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar gula daarah pada tahap
lebih lanjut. Terjadi penurunan kolesterol dan trigliserida pada awal demam
2) karena terjadi peningkatan metabolisme lemak,dan terjadi peningkatan asam lemak bebas
dan benda benda katon karena penggunaan lemak yang meningkat pada demam yang sudah
lama.
3) Lemak mudah menemukan parasit malaria dalam darah
4) Lebih mudah mendapatkan biakan positif
5) Terjadi reaksi anamnestik yang akan menyebabkan kenaikan titer Widal

h. Trauma
Trauma dengan luka pendarahan akan menyebabkan antara lain terjadinya penurunan substrat
maupun aktifitas enzim yang akan di ukur termasuk kadar Hb, hematokrit dan produksi urin.
Hal ini di sebabkan karena terjadi pemindahan cairan tubuh ke dalam pembuluh darah

7
sehingga mengakibatkan terjadi penganceran darah. Pada tingkat lanjut akan terjadi
peningkatan kadar ureum dan kreatinin serta enzim-enzim yang berasal dari otot.

i. Variasi circadian rythme


Pada tubuh manusia terjadi perbedaan kadar zat-zat tertentu dalam tubuh dari waktu ke waktu
yang di sebut dengan variasi circadian rhytme. Perubahan kadar zat yang di pengaruhi oleh
waktu dapat bersifat linier (garis lurus) seperti umur, dan dapat bersifat siklus seperti siklis
harian (variasi diurnal), silus bulanan (menstruasi) dan musiman.
Variasi diurnal yang terjadi antara lain :
1) Besi serum, kadar besi serum yang di ambil pada sore kari akan lebih tinggi dari pada pagi
hari
2) Glukosa, kadar insulin akan mencapai puncaknya pada pagi hari, sehingga apa bila tes
toleransi glukosa di lakukan pada siang hari
3) Enzim , aktifitas enzim yang di ukur akan berfluktuasi di sebabkan oleh kadar hormone
yang berbeda dari wakru ke waktu
4) Eosinofil,jumlah eosinofil menunjuknan fariasi diurnal, jumlahnya akan lebih rendah pada
malam sampai pagi hari di bandingkan pada siang hari.
5) Kortisol, kadarnya lebih tinggi pada pagi hari di bandingkan pada malam hari
6) Kalium, kalium darah pada pagi hari lebih tinggi dari pada siang hari
Selain yang sifatnya harian dapat terjadi variasi fluktuasi kadar zat dalam tubuh yang siftnya
bulanan.
Variasi siklus bulanan umumnya pada wanita karena terjadi menstruasi dan ovulasi setiap
bulan. Pada masa sesudah menstruasi akan terjadi penurunan kadar besi.protein dan fosfat
dalam darah di samping perubahan kadar hormone seks. Demikian pila pada saat ovulusi
terjadi peningkatan kadar aldosteron dan rennin serta penurunan kadar kolestor darah

j. Umur
Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktifitas zat dalam darah. Hitung eritrosit dan kadar
Hb jauh lebih tinggi pada neonatus dari pada dewasa. Fosfatase alkali, kolestrol total dan
kolestor-LDL akan berubah dengan pola tertentu sesuai dengan pertambahan umur.

k. Ras
Jumlah leokosit orang kulit hitam Amerika lebih rendah dari pada orang kulit putih.
Demikian juga dengan aktifitas CK keadaan serupa di jumpai pada ras bangsa lain seperti
perbedaan aktifitas amylase, kadar vitamin B12 dan lipoprotein

l. Jenis kelamin (gender)


Berbagai kadar dan aktifitas di pengaruhi oleh jenis kelamin. Kadar besi serum dan kadar Hb
berbeda pada wannita dan pria dewasa. Perbedaan ini akan menjadi tidak bermakna lagi
setelah umur lebih dari 65 tahun. Perbedaan akibat gender lainya adalah aktivitas CK dan
kreatinin.
Perbedaan ini lebih di sebabkan karena massa otot pria relative lebih besar daripada wanita.
Sebaliknya kadar hormone seks wanita, prolaktin dan kolesterol-HDL akan di jumpai lebih
tinggi pada wanita dari pada pria.

8
m. Kehamilan
Bila pemeriksaan di lakukan pada pasien hamil, sewaktu interprestasi hasil perlu
mempertimbangkan masa kehamilan wanita tersebut.
Pada kehamilan akan terjadi hemodilusi (pengenceran darah) yang di mulai pada minggu ke-
10 kehamilan dan terus menungkat sampai minggu ke-35 kehamilan.
Volume urin akan meningkat 25% pada trimester ke-3
Selama kehamilan akan terjadi perubahan kadar hormone kelenjar tiroid,elektroit,besi, dan
ferritin, protein total dan albumin, lemak, aktivitas fosfatase alkalin dan factor koagulasi serta
laju endap darah.
Penyebab perubahan tersebut dapat di sebabkan karena induksi oleh kehamilan, peningkatan
protein transport, hemodilusi,volume tubuh yang mengkat,defisiensi relative karena
pengkatan kebutuhan atau pengikatan protein fase akut.

3. Peralatan.
Secara umum peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat :
1). Bersih dan kering.
2). Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.
3). Terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat pada spesimen.
4). Mudah dicuci dari bekas spesimen sebelumnya.
5). Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan biakan harus menggunakan peralatan yang steril.

4. Wadah
Wadah spesimen harus memenuhi syarat :
1). Terbuat dari gelas atau plastik. Untuk spesimen darah harus terbuat dari gelas.
2). Tidak bocor atau merembes.
3). Harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir.
4). Besar wadah disesuaikan dengan volume spesimen
5). Bersih dan kering
6). Tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen
7). Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.
8). Untuk pemeriksaan zat dalam spesimen yang mudah rusak atau terurai karena pengaruh sinar
matahari, maka digunakan botol coklat.
9). Untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman wadah harus steril.

5. Pengawet
Diberikan agar sampel yang akan diperiksa dapat dipertahankan kondisi dan jumlahnya dalam
waktu tertentu. Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah.

6. Waktu
Pada umumnya pengambilan spesimen dilakukan pada pagi hari, terutama untuk pemeriksaan
Kimia klinik, Hematologi dan Imunologi karena umumnya nilai normal ditetapkan pada keadaan
basal.

9
7. Lokasi
Sebelum mengambil spesimen, harus ditetapkan terlebih dahulu lokasi pengambilan yang tepat
sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta.Spesimen untuk pemeriksaan menggunakan darah
vena umumnya diambil dari vena cubiti daerah siku.Spesimen darah arteri umumnya diambil dari
arteri radialis di pergelangan tangan atau arteri femoralis di daerah lipat paha. Spesimen darah
kapiler diambil dari ujung jari tengah tangan atau jari manis tangan bagian tepi atau pada derah
tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki atau cuping telingan pada bayi. Tempat yang dipilih tidak boleh
memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti cyanosis atau pucat, bekas luka dan radang.

8. Volume
Volume spesimen yang diambil harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan laboratorium yang
diminta atau dapat mewakili objek yang diperiksa.
Tabel Volume Spesimen.
No Jenis Pemeriksaan Banyaknya Sampel Yang diambil Wadah / Tempat Penampungan
a. Kimia Darah : 3 ml Tabung Reaksi Steril ( Dalam Spuit Sementara )
b. Urine Rutin, Lengkap 3 8 ml Botol Steril
c. Analisa Sperma Sebanyak Volume Yang dikeluarkan Botol steril
d. Analisa Cairan Pleura, Acites 3 5 ml Spuit Steril
e. Analisa Cairan Otak 1 3 ml
( Dalam waktu maksimal 20 menit setelah dilakukan fungsi lumbal sampel harus diperiksa di
laboratorium ) Botol Steril

9. Teknik
Pengambilan spesimen harus dilaksanakan dengan cara yang benar, agar spesimen tersebut
mewakili keadaan yang sebenarnya.
a. Darah vena
- Posisi lengan pasien harus lurus dan dipilih lengan yang banyak melakukan aktivitas.
- Pasien diminta untuk mengepalkan tangan.
- Dipasang torniquet 10 cm di atas lipat siku.
- Pilih bagian vena median cubital atau chepalic.
- Dibersihkan kulit pada bagian yang akan diambil darahnya dengan alkohol 70% dan biarkan
kering untuk mencegah terjadinya hemolisis dan rasa terbakar. Kulit yang sudah dibersihkan
jangan dipegang lagi.
- Ditusuk bagian vena tadi dengan lubang jarum menghadap ke atas dengan kemiringan 150,
bila menggunakan tabung vakum tekan tabung vakum hingga vakumnya bekerja dan darah
terhisap ke dalam tabung. Bila jarum berhasil masuk vena, akan terlihat darah masuk dalam
semprit, bila darah tidak keluar ganti posisi penusukan (bila terlalu dalam tarik sedikit dan
sebaliknya), usahakan darah dapat keluar dalam satu kali tusukan.
- Setelah volume darah dianggap cukup, torniquet dilepas dan pasien diminta membuka
kepalan tangannya. Volume darah yang diambil 3 kali jumlah serum atau plasma yang
diperlukan untuk pemeriksaan.
- Dilepaskan/ tarik jarum dan segera letakkan kapas alkohol 70% di atas bekas suntikan untuk
menekan bagian tersebut selama 2 menit. Setelah darah berhenti, plester bagian ini selama
15 menit. Jangan menarik jarum sebelum torniquet dibuka.

10
b. Darah kapiler
- Bagian yang akan ditusuk dibersihkan dengan alkohol 70% dan dibiarkan kering.
- Dipegang bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri
berkurang.
- Dengan lanset steril ditusuk dengan cepat tegak lurus (jangan sejajar) pada garis sidik jari.
- Pada daun telinga ditusuk pada bagian pinggirnya, jangan sisinya.
- Tetesan darah yang pertama keluar disapu dengan kapas kering, tetesan darah yang
selanjutnya dapat dipakai untuk pemeriksaan.

c. Urine
1) Urin Wanita
- Penderita harus mencuci tangan dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk.
- Pakaian dalam ditanggalkan dan labia dilebarkan dengan satu tangan.
- Bagian labia dan vulva dibersihkan dengan kasa steril arah depan ke belakang.
- Bilas dengan air hangat dan keringkan dengan kasa steril yang lain.
- Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka lebar dan jari tangan jangan
menyentuh daerah yang sudah steril.
- Urin dikeluarkan, aliran urin yang pertama keluar dibuang, aliran urin selanjutnya
ditampung dalam wadah yang sudah disediakan. Pengambilan urin selesai sebelum aliran
urin habis. Wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
2) Urin Laki-laki
- Penderita harus mencuci tangan dengan sabun.
- Jika tidak disunat tarik kulit preputium ke belakang, keluarkan urin, aliran yang pertama
keluar dibuang, aliran selanjutnya ditampung dalam wadah yang tersedia. Hindari urin
mengenai lapisan tepi wadah. Pengumpulan urin selesai sebelum aliran urin habis.
- Wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
3) Urin Kateter
- Pada bagian selang kateter yang terbuat dari karet didesinfeksi dengan alkohol 70%.
- Urin diaspirasi menggunakan semprit kira-kira 10 ml.
- Dimasukkan dalam wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.
4) Urin Aspirasi Suprapubik
Urin suprapubik harus dilakukan pada kandung kemih yang penuh, dengan cara:
- Kulit di daerah suprapubik didesinfeksi dengan povidone Iodine 10%, kemudian
dibersihkan sisa povidone Iodine dengan kapas alkohol 70%.
- Urin diaspirasi tepat dititik suprapubik menggunakan semprit sebanyak 20 ml.
- Dimasukkan dalam wadah ditutup rapat dan dikirim ke laboratorium.

10. Penanganan Sampel/Spesimen


Laboratorium harus mempertimbangkan bagaimana cara menangani contoh uji/sampel melalui
berbagai tahapan proses, mulai dari pengiriman ke laboratorium, penerimaannya di laboratorium,
penanganan pada saat pengujian, perlindungan pada saat penyimpanan, retensi dan
pembuangannya. Laboratorium harus memiliki prosedur dan fasilitas bagi pengelolaan sampel uji
pada setiap tahapan yang tercantum guna menjamin tidak adanya kerusakan pada sampel
uji.Laboratorium harus memiliki suatu sistem dimana suatu sampel uji diberikan pengenal khusus

11
yang berlaku selama sampel tersebut ada.Sistem tersebut akan menjamin bahwa sampel tersebut
tidak tertukar baik secara fisik atau dalam rekamannya. Pada saat sampel uji diterima di
laboratorium, kondisinya harus direkam, selain tanggal dan waktu penerimaannya. Untuk
laboratorium yang menerima sampel uji dalam beberapa hari, kondisi sebenarnya dari sampel
tersebut perlu direkam hanya bila terdapat masalah dengan kondisi yang ada. Bila sampel uji
memerlukan kondisi penyimpanan tertentu, maka sampel tersebut harus dimonitor dengan benar,
dijaga dan direkam. Perlu adanya prosedur monitoring dan perekaman untuk kondisi tersebut.
Jika sampel uji perlu disimpan dengan aman, maka laboratorium harus menyediakan
prosedurnya.
Dalam penanganan spesimen perlu diperhatikan berbagai hal sehingga bahan pemeriksaan
memenuhi syarat untuk dapat diperiksa, antara lain:
- Antara permintaan pemeriksaan dan sampel tidak sesuai, harus diteliti kembali.
- Antikoagulan yang dipakai tidak sesuai, atau jumlahnya sedikit/terlalu banyak.
- Adanya hemolisis pada saat pengambilan/pemisahan serum.
- Spesimen keruh/lipemik, perlu ambil/pemisahan ulang.
- Pemisahan serum yang tidak sempurna, perlu memperhatikan sentrifugasi.
- Volume darah/sampel yang sedikit/tidak memadai, sebaiknya jumlahnya cukup.
- Seringkali spesimen bukan merupakan daerah yang dicurigai, misalnya pada pemeriksaan
faeces.
- Tempat pengiriman sampel tidak memenuhi syarat (seadanya).
- Waktu pengiriman sampel.
- Penyimpanan bahan pemeriksaan menyangkut suhu simpan.
- Usahakan menggunakan bahan/spesimen yang segar.

Spesimen yang telah diambil dari pasien hendaklah dilakukan langkah sebagai berikut :
a. Pemberian identitas
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen merupakan hal yang penting baik pada saat
pengisian surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label
wadah spesimen. Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium
sebaiknya memuat secara lengkap :
1). Tanggal permintaan
2). Tanggal dan jam pengambilan spesimen
3). Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang) termasuk rekam medik.
4). Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
5). Nomor laboratorium
6). Diagnosis.keterangan klinik.
7). Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian.
8). Pemeriksaan laboratorium yang diminta.
9). Jenis spesimen
10). Lokasi pengambilan spesimen
11). Volume spesimen
12). Pengawet yang digunakan
13). Nama pengambil spesimen.
Label wadah spesimen yang akan dikirim atau diambil ke laboratorium harus memuat :

12
1). Tanggal pengambilan spesimen
2). Nama dan nomor pasien
3). Jenis specimen

b. Pengolahan
Spesimen yang telah diambil dilakukan pengolahan untuk menghindari kerusakan pada
spesimen tersebut.Pengolahan spesimen berbeda-beda tergantung dari jenis spesimennya
masing-masing.
1). Serum
Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 2-30 menit, lalu di
sentrifuge 3000 rpm selama 5-15 menit. Pemisahan serum dilakukan dalam waktu 2 jam
setelah pengambilan darah. Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan
keruh.
2). Plasma
Kocok darah EDTA atau citrat dengan segera secara perlahan-lahan.
Pemisahan plasma dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan spesimen. Plasma yang
memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
3). Whole blood
Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang telah berisi antikoagulan yang sesuai,
lalu dihomogenisasi dengan cara goyang perlahan tabung.
4). Urine
Urine yang didapatkan tidak perlu ada perlakuan secara khusus, kecuali pemeriksaan harus
segera dilakukan sebelum 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus dilakukan
pengolahan terlebih dahulu dengan cara dimasukkan tabung dan sentrifuge selama 5 menit
1500-2000 rpm, supernatan dibuang dan diambil sedimennya. Suspensi sedimen ini dicampur
dengan cat Sternheirmer-Malbin Stains untuk menonjolkan unsur sedimen dan memperjelas
strukturnya.

c. Penggunaan antikoagulan
Anticoagulant adalah bahan yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Agar darah
yang akan diperiksa jangan sampai membeku dapat dipakai bermacam-macam anticoagulant.
Tidak semua macam anticoagulant dapat dipakai karena ada yang terlalu banyak berpengaruh
terhadap bentuk eritrosit atau leukosit yang akan diperiksa morfologinya. Anticoagulants
yang sering digunakan dalam pemeriksaan hematologi adalah :
a. EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid)
Yang dipakai disini adalah garam kalium dan natriumnya, tetapi yang sering digunakan
adalah garam kaliumnya (dipotassium EDTA) karena daya larutnya dalam air kira-kira 15
kali lebih besar daripada garam natriumnya.Cara kerjanya dengan garam kaliumnya
(K2.EDTA) yaitu dapat mengubah ion Calcium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion
membentuk senyawa kompleks yang larut berdasarkan pembentukan ikatan Chelate senyawa.
Keuntungan :
- Tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuknya erithrosit dan leukosit.
- Mencegah thrombosit menggumpal
- Dapat digunakan berbagai macam pemeriksaan hematologi.

13
Kerugian :
Lambat larut karena sering digunakan dalam bentuk kering sehingga harus menggoncang
wadah yang berisi darah EDTA selama 1-2 menit.
Cara pembuatan :
1. Ambil botol yang bersih dan kering
2. Pipet EDTA 10% sebanyak 0,020 ml dengan pipet sahli
3. Masukkan kedalam botol dan keringkan.
4. Dengan jumlah EDTA 10% sebanyak 0,02 ml ini dapat mencegah membekunya darah
sebanyak 2 ml atau 1 mg EDTA dalam 1 ml.
b. Trisodium Citrate
Antikoagulant ini sering digunakan dalam bentuk larutan 3,8%. Cara kerjanya sebagai bahan
yang isotonic dengan darah.Sering digunakan beberapa macam percobaan hemorragik dan
laju endapan darah metode Westergren. Untuk LED digunakan perbandingan 1 : 4 yaitu 1
bagian natrium citrat dan 4 bagian darah, sedang untuk percobaan hemorragik dengan
perbandingan 1 : 9.
Keuntungan :
Karena tidak toksis maka sering digunakan dalam dinas pemindahan darah (Unit transfusi
darah).
Kerugian :
Pemakaiannya terbatas dalam pemeriksaan hematologi.
c. Heparin
Cara kerjanya berdaya seperti anti tombin dan antitromboplastin. Heparin merupakan
anticoagulant yang normal terdapat dalam tubuh tetapi dalam laboratorium jarang dipakai
pada pemeriksaan hematologi. Untuk tiap 0,1-0,2 mg heparin dapat mencegah pembekuan 1
ml darah. Sering digunakan dalam penentuan PCV cara mikrokapiler yang bagian dalamnya
dilapisi dengan heparin.
Keuntungan :
Hanya digunakan terutama dalam transfusi darah yang menggunakan banyak darah dan
extracorporal circulation.
Kerugian :
- Tidak boleh digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena dapat terjadinya dasar biru
kehitam-hitaman pada preparat bila dicat dengan wright stain.
- Harganya mahal.
d. Double Oxalat
Nama lainnya adalah anticoagulant dari Heller dan Paul atau Balanced Oxalate
Mixture.Dipakai dalam bentuk kering agar tidak mengencerkan darah yang diperiksa. Kalium
oxalat menyebabkan erythrosit mengkerut sedangkan amonium oxalat menyebabkan erytrosit
mengembang, campuran keduanya dengan perbandingan 3 : 2 maka terjadi keseimbangan
tekanan osmotik eryhtrosit. Setiap 2 mg antikoagulant ini dapat mencegah pembekuan 1 ml
darah.
Keuntungan :
Dapat digunakan dalam berbagai pemeriksaan hematologi
Kerugian :
- Tidak dapat digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena bahan ini toksis sehingga

14
dapat menyebabkan perubahan-perubahan morfologi sel leukosit dan eryhtrosit.
- Tidak boleh digunakan juga pada pemeriksaan osmotik fargility.

d. Penilaian Spesimen Yang Tidak Memenuhi Syarat


a. Spesimen diterima oleh petugas loket dan sampling.
b. Penilaian spesimen harus dilakukan sesuai dengan jenis pemeriksaan.
c. Penilaian spesimen harus segera dilakukan setelah menerima spesimen.
d. Petugas laboratorium wajib menolak dan mengembalikan spesimen yang tidak memenuhi
syarat pemeriksaan.
e. Spesimen yang ditolak diberitahukan lewat via aiphone ruangan atau yang mengantar
spesimen.
f. Spesimen untuk pemeriksaan PA yang diantar ke laboratorium berupa jaringan biopsi dan
operasi yang telah lebih 1 hari, tidak menggunakan pengawet, ditempatkan suhu ruang
ditolak untuk pemeriksaan rujukan.
Catatan :
1. Spesimen yang dinilai apabila spesimen tersebut diambil oleh petugas selain petugas
laboratorium dan juga spesimen yang berasal dari rujukan laboratorium lain.
2. Spesimen yang dirujuk ke laboratorium lain harus memenuhi persyaratan sebagaimana
persyaratan laboratorium rujukan tersebut.

e. Pengiriman spesimen
Spesimen yang akan dikirim ke laboratorium lain, sebaiknya dikirim dalam bentuk yang
reatif stabil. Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman spesimen antara lain :
a. Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas spesimen.
b. Tidak terkena sinar matahari langsung
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium termasuk pemberian label
yang bertuliskan Bahan Pemeriksaan Infeksius atau Bahan Pemeriksaan Berbahaya.
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat.

f. Pengolahan dan Penyimpanan spesimen


Spesimen yang sudah diambil harus segera dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, karena
stabilitas spesimen dapat berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas spesimen
antara lain :
a. Terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.
b. Terjadi metabolisme oleh sel-sel hidup pada spesimen.
c. Terjadi penguapan.
d. Pengaruh suhu.
e. Terkena paparan sinar matahari.
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat disimpan dengan memperhatikan
jenis pemeriksaan yang akan diperiksa. Persyaratan penyimpanan beberapa spesimen untuk
beberapa pemeriksaan laboratorium harus memperhatikan jenis spesimen,
antikoagulan/pengawet dan wadah serta stabilitasnya. Beberapa cara penyimpanan spesimen :
a. Disimpan pada suhu kamar
b. Disimpan dalam lemari es suhu 2-8OC

15
c. Dibekukan suhu -20OC, -70OC atau -120OC
d. Dapat diberikan bahan pengawet
e. Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau lisat.

C. Jenis-jenis Pemeriksaan Kimia Klinik

Pemeriksaan kimia klinik meliputi:

1. Pemeriksaan Faal Ginjal


Uji fungsi ginjal terutama adalah pemeriksaan ureum dan kreatinin. Ureum adalah produk akhir
dari metabolisme protein di dalam tubuh yang diproduksi oleh hati dan dikeluarkan lewat urin.
Pada gangguan ekskresi ginjal, pengeluaran ureum ke dalam urin terhambat sehingga kadar
ureum akan meningkat di dalam darah. Kreatinin merupakan zat yang dihasilkan oleh otot dan
dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Oleh karena itu kadar kreatinin dalam serum dipengaruhi
oleh besar otot, jenis kelamin dan fungsi ginjal. Di Laboratorium Klinik Utama Bio Medika
pemeriksaan kadar kreatinin dilaporkan dalam mg/dl dan estimated GFR (eGFR) yaitu nilai yang
dipakai untuk mengetahui perkiraan laju filtrasi glomerulus yang dapat memperkirakan beratnya
kelainan fungsi ginjal.

Beratnya kelainan ginjal diketahui dengan mengukur uji bersihan kreatinin (creatinine clearance
test/CCT). Creatinine clearance test/CCT memerlukan urin kumpulan 24 jam, sehingga bila
pengumpulan urin tidak berlangsung dengan baik hasil pengukuran akan mempengaruhi nilai
CCT. Akhir-akhir ini, penilaian fungsi ginjal dilakukan dengan pemeriksaan cystatin-C dalam
darah yang tidak dipengaruhi oleh kesalahan dalam pengumpulan urin. Cystatin adalah zat
dengan berat molekul rendah, dihasilkan oleh semua sel berinti di dalam tubuh yang tidak
dipengaruhi oleh proses radang atau kerusakan jaringan. Zat tersebut akan dikeluarkan melalui
ginjal. Oleh karena itu kadar Cystatin dipakai sebagai indikator yang sensitif untuk mengetahui
kemunduran fungsi ginjal.

2. Pemeriksaan Faal Hati :


Uji fungsi hati meliputi pemeriksaan kadar protein total & albumin, bilirubin total & bilirubin
direk, serum glutamic oxaloacetate transaminase (SGOT/AST) & serum glutamic pyruvate
transaminase (SGPT/ALT), gamma glutamyl transferase (-GT), alkaline phosphatase (ALP) dan
cholinesterase (CHE). Pemeriksaan protein total dan albumin sebaiknya dilengkapi dengan
pemeriksaan fraksi protein serum dengan teknik elektroforesis. Dengan pemeriksaan
elektroforesis protein serum dapat diketahui perubahan fraksi protein di dalam serum.
Pemeriksaan elektroforesis protein serum ini menunjukkan perubahan fraksi protein lebih teliti
dari hanya memeriksa kadar protein total dan albumin serum.

3. Uji Faal Jantung

16
Uji fungsi jantung dapat dipakai pemeriksaan creatine kinase (CK), isoenzim creatine kinase
yaitu CKMB, N-terminal pro brain natriuretic peptide (NT pro-BNP) dan Troponin-T.
Kerusakan dari otot jantung dapat diketahui dengan memeriksa aktifitas CKMB, NT pro-BNP,
Troponin-T dan hsCRP. Pemeriksaan LDH tidak spesifik untuk kelainan otot jantung, karena
hasil yang meningkat dapat dijumpai pada beberapa kerusakan jaringan tubuh seperti hati,
pankreas, keganasan terutama dengan metastasis, anemia hemolitik dan leukemia.

4. Pemeriksaan Lipid
Pemeriksaan lemak darah meliputi pemeriksaan kadar kolesterol total, trigliserida, HDL dan LDL
kolesterol. Pemeriksaan tersebut terutama dilakukan pada pasien yang memiliki kelainan pada
pembuluh darah seperti pasien dengan kelainan pembuluh darah otak, penyumbatan pembuluh
darah jantung, pasien dengan diabetes melitus (DM) dan hipertensi serta pasien dengan keluarga
yang menunjukkan peningkatan kadar lemak darah. Untuk pemeriksaan lemak darah ini,
sebaiknya berpuasa selama 12 - 14 jam. Bila pada pemeriksaan kimia darah, serum yang
diperoleh sangat keruh karena peningkatan kadar trigliserida sebaiknya pemeriksaan diulang
setelah berpuasa > 14 jam untuk mengurangi kekeruhan yang ada. Untuk pemeriksaan kolesterol
total, kolesterol HDL dan kolesterol LDL tidak perlu berpuasa. Selain itu dikenal pemeriksaan
lipoprotein (a) bila meningkat dapat merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner.

5. Pemeriksaan Glukosa
Pemeriksaan kadar gula darah dipakai untuk mengetahui adanya peningkatan atau penurunan
kadar gula darah serta untuk monitoring hasil pengobatan pasien dengan Diabetes Melitus (DM).
Peningkatan kadar gula darah biasanya disebabkan oleh Diabetes Melitus atau kelainan hormonal
di dalam tubuh. Kadar gula yang tinggi akan dikeluarkan lewat urin yang disebut glukosuria.
Terdapat beberapa macam pemeriksaan untuk menilai kadar gula darah yaitu pemeriksaan gula
darah sewaktu, kadar gula puasa, kadar gula darah 2 jam setelah makan, test toleransi glukosa
oral, HbA1c, insulin dan C-peptide. Kadar gula darah sewaktu adalah pemeriksaan kadar gula
pada waktu yang tidak ditentukan. Kadar gula darah puasa bila pemeriksaan dilakukan setelah
pasien berpuasa 10 - 12 jam sebelum pengambilan darah atau sesudah makan 2 jam yang dikenal
dengan gula darah 2 jam post-prandial. Pasien DM dalam pengobatan, tidak perlu menghentikan
obat pada saat pemeriksaan gula darah puasa dan tetap menggunakan obat untuk pemeriksaan
gula darah post-prandial. Pemeriksaan kadar gula darah puasa dipakai untuk menyaring adanya
DM, memonitor penderita DM yang menggunakan obat anti-diabetes; sedangkan glukosa 2 jam
post-prandial berguna untuk mengetahui respon pasien terhadap makanan setelah 2 jam makan
pagi atau 2 jam setelah makan siang. Kadar gula darah sewaktu digunakan untuk evaluasi
penderita DM dan membantu menegakkan diagnosis DM. Selain itu dikenal pemeriksaan kurva
harian glukosa darah yaitu gula darah yang diperiksa pada jam 7 pagi, 11 siang dan 4 sore, yang
bertujuan untuk mengetahui kontrol gula darah selama 1 hari dengan diet dan obat yang dipakai.
Pada pasien dengan kadar gula darah yang meragukan, dilakukan uji toleransi glukosa oral
(TTGO). Pada keadaan ini pemeriksaan harus memenuhi persyaratan:

1. Tiga hari sebelum pemeriksaan pasien harus makan karbohidrat yang cukup.

2. Tidak boleh minum alkohol.

17
3. Pasien harus puasa 10 12 jam tanpa minum obat, merokok dan olahraga sebelum
pemeriksaan dilakukan.

4. Di laboratorium pasien diberikan gula 75 g glukosa dilarutkan dalam 1 gelas air yang
harus dihabiskan dalam waktu 10 15 menit atau 1.75 g per kg berat badan untuk anak.

5. Gula darah diambil pada saat puasa dan 2 jam setelah minum glukosa.

Insulin adalah merupakan hormon yang dihasilkan oleh pankreas pada sel beta pulau Langerhans.
Berkurangnya aktifitas insulin akan menyebabkan terjadinya Diabetes Melitus. Pemeriksaan
aktifitas insulin bila diduga terdapat insufisiensi insulin, peningkatan kadar insulin pada pasien
dengan hipoglikemia. Pengukuran aktifitas insulin ini tidak dipengaruhi oleh insulin eksogen.
Insulin berasal dari pro insulin yang mengalami proteolisis menjadi C-peptide. C-peptide dipakai
untuk mengetahui sekresi insulin basal.

Untuk pemantauan DM dilakukan uji HbA1c. Pemeriksaan ini menunjukkan kadar gula darah
rerata selama 1 3 bulan. Dalam keadaan normal, kadar HbA1c berkisar antara 4 6% dan bila
gula darah tidak terkontrol, kadar HbA1c akan meningkat. Oleh karena itu, penderita dengan
kadar gula darah yang normal bukan merupakan petanda DM terkontrol. DM terkontrol bila kadar
HbA1c normal. Hasil pemeriksaan HbA1c akan lebih rendah dari sebenarnya bila didapatkan
hemoglobinopati seperti thalassemia. Oleh karena itu, penderita DM sebaiknya melakukan
pemeriksaan analisa hemoglobin untuk mengetahui kelainan tersebut dalam menilai hasil
pemeriksaan HbA1c . Akhir akhir ini uji HbA1c selain untuk monitoring pengobatan, dipakai
untuk diagnosis DM.

6. Pemeriksaan Faal Pankreas


Pankreas menghasilkan enzim amilase dan lipase. Amilase selain dihasilkan oleh pankreas juga
dihasilkan oleh kelenjar ludah dan hati yang berfungsi mencerna amilum/karbohidrat. Kadar
amilase di dalam serum meningkat pada radang pankreas akut. Pada keadaan tersebut, keadaan
amilase meningkat setelah 2 12 jam dan mencapai puncak 20 30 jam dan menjadi normal
kembali setelah 2 4 hari. Gejala yang timbul berupa nyeri hebat pada perut. Kadar amilase ini
dapat pula meningkat pada penderita batu empedu dan pasca bedah lambung.
Lipase adalah enzim yang dihasilkan oleh pankreas yang berfungsi mencerna lemak. Lipase akan
meningkat di dalam darah apabila ada kerusakan pada pankreas. Peningkatan kadar lipase dan
amilase terjadi pada permulaan penyakit pankreatitis, tetapi lipase serum meningkat sampai 14
hari, sehingga pemeriksaan lipase bermanfaat pada radang pankreas yang akut stadium lanjut.

7. Pemeriksaan Elektrolit
Natrium (Na) merupakan kation ekstraseluler terbanyak, yang fungsinya menahan air di dalam
tubuh. Na mempunyai banyak fungsi seperti pada otot, saraf, mengatur keseimbangan asam-basa
bersama dengan klorida (Cl) dan ion bikarbonat. Kalium (K) merupakan kation intraseluler
terbanyak. Delapan puluh sembilan puluh persen K dikeluarkan oleh urin melalui ginjal. Oleh
karena itu, pada kelainan ginjal didapatkan perubahan kadar K. Klorida (Cl) merupakan anion
utama didalam cairan ekstraseluler. Unsur tersebut mempunyai fungsi mempertahankan
keseimbangan cairan dalam tubuh dan mengatur keseimbangan asam-basa.

18
Kalsium (Ca) terutama terdapat di dalam tulang. Lima puluh persen ada dalam bentuk ion
kalsium (Ca), ion Ca inilah yang dapat dipergunakan oleh tubuh. Protein dan albumin akan
mengikat Ca di dalam serum yang mengakibatkan penurunan kadar ion Ca yang berfungsi di
dalam tubuh. Oleh karena itu untuk penilaian kadar Ca dalam tubuh perlu diperiksa kadar Ca
total, protein total, albumin dan ion Ca.

Fosfor (P) adalah anion yang terdapat di dalam sel. Fosfor berada di dalam serum dalam bentuk
fosfat. Delapan puluh sampai delapan puluh lima persen kadar fosfat di dalam badan terikat
dengan Ca yang terdapat pada gigi dan tulang sehingga metabolism fosfat mempunyai kaitan
dengan metabolisme Ca. Kadar P yang tinggi dikaitkan dengan gangguan fungsi ginjal,
sedangkan kadar P yang rendah mungkin disebabkan oleh kurang gizi, gangguan pencernaan,
kadar Ca yang tinggi, peminum alkohol, kekurangan vitamin D, menggunakan antasid yang
banyak pada nyeri lambung.

8. Pemeriksaan Urinalisis
Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan penyaring yang dipakai untuk mengetahui
adanya kelainan di dalam saluran kemih yaitu dari ginjal dengan salurannya, kelainan yang terjadi
di luar ginjal, untuk mendeteksi adanya metabolit obat seperti zat narkoba dan mendeteksi adanya
kehamilan. Pemeriksaan urin meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik/sedimen dan
kimia urin. Pada penyakit ginjal dapat diketahui adanya kerusakan ginjal, saluran kemih seperti
infeksi, radang, adanya trauma atau keganasan. Kelainan yang terjadi di luar ginjal juga dapat
dideteksi dengan pemeriksaan urin, seperti adanya diabetes melitus (DM) dapat diketahui dengan
pemeriksaan glukosa urin, hepatitis dengan memeriksa adanya bilirubin dalam urin; perdarahan
saluran kemih dapat pula diketahui terutama yang belum terlihat warna merah dalam urin yang
disebut mikrohematuria. Dengan adanya penyalahgunaan obat akhir-akhir ini dapat diketahui
hasil metabolit obat narkotika di dalam urin.

9. Pemeriksaan Cairan Tubuh (Transudat, Eksudat, Sendi)


Fungsi dari transudat dan eksudat adalah sebagai respon tubuh terhadap adanya gangguan
sirkulasi dengan kongesti pasif dan oedema (transudat), serta adanya inflamasi akibat infeksi
bakteri (eksudat).

Cairan sendi adalah cairan pelumas yang terdapat pada sendi yang dihasilkan dari ultrafiltrasi
plasma dan mengandung asam hialuronat. Asam hialuronat ini menyebabkan cairan sendi bersifat
kental sehingga cairan sendi dapat berfungsi sebagai pelumas (Ema, 2011).

Transudat terjadi sebagai akibat proses bukan radang oleh gangguan kesetimbangan cairan
badan (tekanan osmosis koloid, stasis dalam kapiler atau tekanan hidrostatik, kerusakan endotel,
dsb), sedangkan eksudat bertalian dengan salah satu proses peradangan.

Bila radang terjadi pada pleura, maka cairan radang juga dapat mengisi jaringan sehingga terjadi
gelembung, hal ini misalnya terjadi pada kebakaran. Cairan yang terjadi akibat radang
mengandung banyak protein sehingga berat jenisnya lebih tinggi daripada plasma normal. Begitu
pula cairan radang ini dapat membeku karena mengandung fibrinogen. Cairan yang terjadi akibat

19
radang ini disebut eksudat. Jadi sifat-sifat eksudat ialah mengandung lebih banyak protein
daripada cairan jaringan normal, berat jenisnya lebih tinggi dan dapat membeku. Cairan jaringan
yang terjadi karena hal lain daripada radang, misalnya karena gangguan sirkulasi, mengandung
sedikit protein, berat jenisnya rendah dan tidak membeku, cairan ini disebut transudat. Transudat
misalnya terjadi pada penderita penyakit jantung. Pada penderita payah jantung, tekanan dalam
pembuluh dapat meninggi sehingga cairan keluar dari pembuluh dan masuk ke dalam jaringan.
Pemeriksaan cairan badan yang tersangka transudat atau eksudat bermaksud untuk menetukan
jenisnya dan sedapat-dapatnya untuk mendapat keterangan tentang causanya.

Berbagai jenis eksudat : eksudat ialah cairan dan sel yang keluar dari kapiler dan masuk
ke dalam jaringan pada waktu radang. Bila cairan eksudat menyerupai serum darah dan hanya
sedikit mengandung fibrin dan sel, maka eksudat bersifat cair sekali dan dinamai eksudat
bening/jernih. Eksudat bening sering terjadi pada radang tuberculosis yang mengisi rongga pleura
dapat berjumlah satu liter atau lebih. Eksudat fibrinosa mengandung banyak fibrin sehingga
melekat pada permukaan pleura, merupakan lapisan kelabu/kuning yang ditemukan pada
pneumonia. Mikroskopis eksudat ini mengandung serabut fibrin dan dalam sela sela diantara
serabut ini terdapat sel radang. Eksudat fibrinosa terjadi bila permeabilitas kapiler bertambah
banyak, yaitu karena molekul molekul fibrin besar dapat keluar dari kapiler dan menjadi bagian
daripada eksudat. Eksudat purulen ialah eksudat yang terjadi daripada nanah. Nanah ini terjadi
pada radang akut yang mengandung banyak sel polinukleus yang kemudian musnah dan mencair
karena lisis. Sisa jaringan nekrotik yang mengalami lisis bersama dengan sel polinukleus yang
musnah dan limfe radang menjadi cairan yang disebut nanah. Eksudat hemoragik ialah eksudat
radang yang berwarna kemerahmerahan karena mengandung banyak eritrosit.

10. Pemeriksaan Sperma


Semen yang dihasilkan oleh sejumlah kelenjar, umumnya kental saat ejakulasi dan mulai menjadi
lebih encer dalam 10 hingga 30 menit. Sperma adalah sel reproduksi yang terdapat di dalam
semen yang memiliki kepala dan ekor.
Setiap sperma mengandung satu salinan dari setiap kromosom (semua dari gen laki-laki). Sperma
dapat berpindah tempat (memiliki motilitas), normalnya bergerak maju di dalam cairan semen. Di
dalam rahim perempuan, sifat ini memungkinkan mereka bergerak maju dan membuahi sel telur.
Dalam setiap sampel semen, terdapat jutaan sperma dengan karakteristik jumlah garam
penyangga, fruktosa, substansi penjendalan, pelumas, dan enzim yang ditujukan untuk
mendukung sperma dalam upaya pembuahan.
Sejumlah tes yang diujikan pada cairan semen adalah:
Volume semen, biasa 1,0 6,5 mL adalah normal, namun WHO mewanti bahwa nilai 1,5
mL adalah batas bawah. Volume rendah dapat bermakna adalah sumbatan (sebagian
ataupun total) pada vesika seminalis, atau seseorang lahir tanpa memiliki vesika
seminalis.
Konsistensi (kekentalan) semen.
Densitas (konsentrasi) sperma, sekitar di atas 15 juta sperma untuk setiap mililiter semen
akan dianggap normal.

20
Jumlah total sperma, dikenal juga sebagai total sperm count, adalah jumlah total sperma
yang dikeluarkan dalam sekali ejakulasi, nilai terendahnya adalah 39 juta per ejakulasi
(persentil ke-2,5).
Motalitas sperma, adalah nilai pergerakan sperma, dan 60% ke atas harus memiliki
motilitas yang baik (nilai A) dengan bergerak progresif/maju, motilitas kurang baik
dilihat jika bergerak namun cenderung membentuk kurva/melingkar (nilai B), tidak
progresif meski ekor tampak bergerak (nilai C), dan tidak motil sama sekali (nilai D).
Jumlah sperma yang normal dan terganggu, atau morfologi sperma, sudah dianggap baik
jika 4% atau lebih dari sperma yang diamati memiliki morfologi yang normal.
Koagulasi dan likuifaksi, cairan semen umumnya menjadi lebih encer sekitar 20 menit
pasca ejakulasi, beberapa memberi batasan hingga 60 menit dalam suhu ruangan. Namun
jika tidak terjadi, maka kemungkinan kecurigaan adanya infeksi bisa ditelusuri.
Fruktosa, kadar fruktosa (zat gula) pada semen normalnya sekitarnya 13 mikromol per
liter.
Keasaman (pH), menurut kriteria WHO adalah sekitar 7,2-7,8.
Tambahan pemeriksaan lainnya termasuk jumlah sperma yang belum dewasa, atau ada
tidaknya darah pada semen.

21
BAB III PENUTUP

A. Kesimpuan

Laboratorim Kimia Klinik merupakan salah satu Laboratorium Klinik. Fungsinya sendiri
sebagai tempat pemeriksaan reaksi kimia dan unsure-unsur kimia dalam tubuh. Sampel dapat
digunakan darah, urin atau cairan tubuh lain. Terdapat banyak pemeriksaan kimia darah di dalam
laboratorium klinik antara lain uji fungsi hati, otot jantung, ginjal, lemak darah, gula darah, fungsi
pankreas, elektrolit dan sperma.

B. Saran

Untuk melakukan pemeriksaan kimia klinik harus diperhatikan dengan baik-baik factor
pra-analitiknya karena factor ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Penanganan sampel
harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar tidak merusak hasil.

22