Anda di halaman 1dari 16

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND

Tanggal Praktikum : 3 Desember 2014

Tanggal Pengumpulan Laporan : 16 Desember 2014

Pembimbing : Ir. Endang Kusumawati, MT.


Oleh :
Kelompok : IV
Nama : Iklima NIM. 121411013
Kharisma Putri Adila NIM. 121411014
Kusnadi NIM. 121411015
Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan industri yang pesat di Indonesia ditandai dengan semakin
beragamnya produk yang beredar di pasaran seperti industri kertas, tekstil, makanan, dan
sebagainya. Hal tersebut mempengaruhi jumlah limbah yang diproduksi industri setiap
harinya terutama limbah cair. Banyaknya limbah cair yang dibuang secara sembarangan
ke lingkungan mempengaruhi ekosistem lingkungan dan dampaknya bagi manusia
adalah krisis air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Salah satu cara untuk menanggulangi pencemaran air limbah adalah dengan
pengolahan air limbah industri agar sesuai dengan baku mutu. Salah satu parameter yang
sanngat umum digunakan sebagai tolak ukur tercemarnya suatu ekosistem terutama
ekosistem air adalah BOD (Biochemical Oxygen Demand). Dengan mengetahui nilai
BOD suatu limbah cair, maka dapat diketahui tingkat polutan yang dikandung dalam
limbah tersebut.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada percobaan ini adalah :
1. Menentukan nilai DO (Dissolved Oxygen) pada sampel limbah, baik sebelum
maupun sesudah diinkubasi pada temperatur 20 oC selama 5 hari.
2. Menentukan nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada sampel limbah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kebutuhan oksigen biokimia (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang


diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik.
Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme
sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi.
Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air
buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu
ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang
menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama
organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi
yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang
diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di
udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat
pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama
pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan
hanya berkisar 9 ppm pada suhu 20C (Sawyer & Mc Carty, 1978).
Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan bermacam-macam
organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir karbon dioksida (CO2) dan air
(H2O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai suatu prosedur oksidasi dimana
organisme hidup bertindak sebagai medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO2
dan H2O. Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis
dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan suhu.
Karenanya selama pemeriksaan BOD, suhu harus diusahakan konstan pada 20C yang
merupakan suhu yang umum di alam. Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses
oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah tidak
terbatas. Dalam prakteknya di laboratoriurn, biasanya berlangsung selama 5 hari dengan
anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup besar dari total BOD. Nilai BOD 5
hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD 5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai
BOD total (Sawyer & Mc Carty, 1978).
Untuk memecahkan bahan-bahan organik secara sempurna pada suhu 20 oC sebenarnya
dibutuhkan waktu lebih dari 20 hari. Pada Tabel di bawah, dapat dilihat waktu yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi bahan organik di dalam air pada suhu 20 oC.

Tabel 1. Waktu untuk mengoksidasi bahan organik di dalam air pada suhu 200C
Bahan Organik Bahan Organik
Waktu (hari) Waktu (hari)
Teroksidasi (%) Teroksidasi (%)
0,5 11 8,0 84
1,0 21 9,0 87
1,5 30 10,0 90
2,0 37 11,0 93
2,5 44 12,0 94
3,0 50 13,0 95
4,0 60 14,0 96
5,0 68 16,0 97
6,0 75 18,0 98
7,0 80 20,0 99
(Sumber : Standard Methods for Examintion of Waste Water, 1965)
Kadar BOD dapat diukur dengan menggunakan metode Winkler. Pada metode Winkler
untuk mengukur kelarutan oksigen pada sampel ditambahkan MnSO4 dan pereaksi oksigen
(misal KI). Fungsi MnSO4 dan KI, yaitu untuk mengikat oksigen sehingga terjadi endapan.
Lalu ditambahkan lagi asam sulfat, yang berfungsi untuk menghilangkan endapan yang telah
terbentuk dan juga akan membebaskan molekul iodium yang ekivalen dengan jumlah oksigen
terlarut. Iodium yang telah dibebaskan akan dititrasi dengan tiosulfat (Na2S2O3) dengan
menggunakan indikator larutan kanji. Reaksi yang terjadi antara iodium dan tiosulfat :
I2 + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2 NaI
Kelebihan menggunakan metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO)
adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan metode Winkler lebih analitis, teliti,dan akurat
apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi
iodometri adalah penetuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat dan penambahan
indikator larutan kanji.
Kelemahan metode Winkler, yaitu dalam menganalisis oksigen terlarut, penambahan
indikator larutan kanji harus dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi agar kanji tidak
membungkus iod, karena akan menyebabkan kanji sukar bereaksi untuk kembali ke senyawa
semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin karena I2 mudah menguap.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat: Bahan:
1. Batang Pengaduk 1. Aquades
2. Bola Hisap 2. Asam Oksalat 0,01 N
3. Botol BOD / Winkler 3. Bibit Mikroba
4. Buret 4. Buffer Fosfat
5. Gelas Kimia 5. CaCl2
6. Gelas Ukur 6. FeCl3
7. Hot Plate 7. H2SO4 6 N
8. Labu Erlenmeyer 8. H2SO4 pekat
9. Pipet Tetes 9. Indikator Amilum / Kanji
10. Pipet Volum 10. KMnO4 0,01 N
11. MgSO4
12. MnSO4
13. Na2S2O3 0,01 N
14. Pereaksi Oksigen
15. Sampel Limbah

3.2 Cara Kerja


1. Pembebasan Reduktor dari Labu Erlenmeyer

Memasukkan 100 mL air


kran, 3 butir batu didih, 5 mL Membuang seluruh cairan
Memanaskan sampai
H2SO4 6 N dan beberapa mL setelah warna KMnO4 tidak
mendidih selama 10 menit
KMnO4 0,01 N ke dalam hilang
Erlenmeyer 250 mL
2. Penentuan Angka KMnO4

Memasukkan 10 mL sampel,
Memanaskan sampai terjadi
90 mL aquades dan 10 mL
gelembung di dasar
H2SO4 6 N ke dalam
Erlenmeyer
Erlenmeyer 250 mL

Menambahkan 10 mL
Menambahkan 10 mL Asam
KMnO4 0,01 N dan
Oksalat 0,01 N, menitrasi
mendidihkan selama 10
dengan KMnO4, catat (a mL)
menit tepat

3. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4

Memasukkan 10 mL Asam
Menitrasi dengan KMnO4
Oksalat 0,01 N pada
dan mencatat volume
Erlenmeyer bekas
KMnO4 yang digunakan
penentuan angka KMnO4

4. Pembuatan Pengencer
Menambahkan
3 mL larutan buffer sulfat
3 mL CaCl2, 3 mL FeCl3
Melakukan aerasi selama 30 menit
3 mL MgSO4
3 mL cairan bibit mikroba
ke dalam 3 L aquadest

5. Pengenceran (P1)

Menambahkan
Menginkubasi botol Menetapkan oksigen
40,46/41.5 bagian
pertama (DO5) dan terlarut pada botol BOD
pengencer ke dalam
pengencer (Blanko5) pada kedua (DO0) dan
botol BOD berisi 1/41,5
suhu 20 oC, selama 5 hari pengencer (Blanko0)
bagian sampel
6. Penentuan Nilai Oksigen Terlarut Metode Winkler

Menambahkan 1 mL
Menuangkan 1/3 sampai
pereaksi MnSO4 dan 1 mL Menutup dan mengocok
1/2 bagian atas cairan
pereaksi O2 ke dalam botol BOD, membiarkan
dalam botol BOD ke
botol BOD yang berisi selama 10 menit
dalam Erlenmeyer
penuh dengan sampel

Menambahkan 1 mL
Menitrasi dengan larutan
H2SO4 pekat ke dalam Menambahkan 3 tetes
thiosulfat 1/80 N sampai
botol BOD dan larutan kanji 1% yang
warna larutan menjadi
Erlenmeyer lalu telah dipanaskan
kuning jerami
mengocok sedikit

Mencatat pemakaian mL
Melanjutkan titrasi thiosulfat 1/80 N total
sampai warna biru hilang antara cairan dalam botol
BOD dan Erlenmeyer
BAB IV
PENGOLAHAN DATA

4.1 Data Pengamatan


Penentuan angka KMnO4
Normalitas KMnO4 = 0,01 N
Volume KMnO4 (a1) = 10,4 mL
Volume KMnO4 (a1) = 11,4 mL
Penentuan faktor ketelitian KMnO4
Normalitas Oksalat = 0,01 N
Volume KMnO4 1 = 15,2 mL
Volume KMnO4 2 = 14,8 mL
Penentuan nilai oksigen terlarut metode Winkler
Normalitas Na2S2O3 = 0,0125 N
Volume sampel = 10 mL
Volume Na2S2O3 (mL)
No Sampel
Erlenmayer Botol BOD Total
Blanko 0 3,8 10,2 14
1
Blanko 5 3,5 8,1 12,2
DO 0 (1) 2,9 7,9 10,8
2
DO 5 (1) 3,3 6,6 9,9
DO 0 (2) 3,1 7,5 10,6
3
DO 5 (2) 3,3 6,4 9,7

4.2 Data Hasil Perhitungan


4.2.1 Penentuan angka dan faktor ketelitian KMnO4
Volume Volume KMnO4 Volume KMnO4 Faktor
mg/L KMnO4
Sampel (mL) (1) (mL) (2) (mL) Ketelitian
Percobaan 1 10 10,4 15,2 0,66 108,11
Percobaan 2 10 11,4 14,8 0,68 140,92
mg/L KMnO4 Rata-Rata 124,51
4.2.2 Pengenceran
Volume Volume Volume
Botol
Botol (mL) Sampel (mL) Pengencer (mL)
Blanko 0 329 - 329
Blanko 1 315 - 315
DO 0 (1) 304 7,33 296,67
DO 5 (1) 302 7,28 294,72
DO 0 (2) 335 8,07 326,93
DO 5 (2) 321 7,73 313,27

4.2.3 Penentuan nilai oksigen terlarut metode Winkler


Sampel DO (mg/L) Rata-Rata (mg/L)
Blanko 0 4,28 DO 0
DO 0 (1) 3,58
3,38
DO 0 (2) 3,18
Blanko 5 3,90 DO 5
DO 5 (1) 3,30
3,12
DO 5 (2) 2,95

4.2.4 Penentuan nilai BOD


BOD (1) (mg/L) BOD (2) (mg/L) BOD Rata-Rata (mg/L)
11,08 9,36 10,22
BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

4.1 Pembahasan (Kusnadi NIM. 121411015)


Pada percobaan ini dilakukan analisa untuk mengetahui jumlah oksigen yang
diperlukan oleh mikroba untuk mengoksidasi bahan organik yang terkandung dalam
sampel air limbah. Untuk mengetahui jumlah oksigen yang diperlukan tersebut maka
ditentukan nilai DO awal dan DO setelah diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20 oC.
Selisih yang dihasilkan adalah jumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroba untuk
mengoksidasi bahan organik yang terkandung dalam sampel air limbah.
Sebelum dilakukan analisa BOD terlebih dahulu dilakukan pembebasan reduktor
dari Erlenmeyer agar hasil analisa yang dilakukan teliti. Hal ini perlu dilakukan karena
jika masih ada zat yang menempel pada dinding Erlenmeyer yang digunakan, maka
kemungkinan zat tersebut akan mengganggu dan mempengaruhi hasil analisa karena zat
yang bersifat reduktor akan ikut bereaksi dengan KMnO4 pada titrasi untuk penentuan
angka KMnO4 sehingga jumlah KMnO4 lebih banyak dari yang seharusnya. Untuk
pembebasan reduktor digunakan KMnO4 dalam keadaan asam dengan penambahan
H2SO4 dan panas. Dalam keadaan asam dan panas ini KMnO4 akan mengoksidasi secara
optimal zat reduktor yang menempel pada Erlenmeyer, sehingga zat reduktor yang
menempel pada Erlenmeyer akan teroksidasi. Adanya zat reduktor pada Erlenmeyer akan
membuat warna KMnO4 menjadi merah muda hingga bening. Apabila ditambahkan
KMnO4 berlebih hingga warna KMnO4 tidak hilang maka dapat dipastikan semua zat
reduktor yang menempel pada Erlenmeyer telah habis berekasi dengan KMnO4 sehingga
Erlenmeyer telah bebas dari zat reduktor.
Setelah Erlenmeyer bebas dari zat reduktor, kemudian dilakukan penentuan angka
KMnO4 yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel dan jumlah pengencer yang
akan ditambahkan. Angka KMnO4 ini juga menunjukkan jumlah zat organik yang
terkandung dalam sampel air limbah. Dengan mengetahui jumlah zat organik dalam
sampel air limbah maka kebutuhan oksigen yang diperlukan dapat ditentukan sehingga
bisa didapatkan pengenceran yang mendekati. Sampel yang telah diasamkan dengan
H2SO4 ditambahkan KMnO4 berlebih, sehingga bahan organik akan mengalami reaksi
redoks dengan KMnO4. Kemudian KMnO4 sisa ini ditambahkan dengan asam oksalat
berlebih, dimana sisa asam oksalat akan bereaksi dengan KMnO4 pada titrasi.
Agar lebih teliti lagi, dilakukan penentuan faktor ketelitian KMnO4. Hasil titrasi
sebelumnya ditambahkan lagi asam oksalat dan dititrasi dengan KMnO4. Jumlah KMnO4
seharusnya 10 mL sesuai dengan penambahan KMnO4 sebelumnya. Dari hasil percobaan
didapatkan angka KMnO4 yang dihasilkan dari sampel air limbah adalah sebesar 124,51
mg/L. Dari angka ini diketahui bahwa dibutuhkan sebanyak 124,51 mg KMnO4 untuk
mengoksidasi zat organik dalam 1 L sampel air limbah. Sedangkan berdasarkan literatur
angka KMnO4 tidak boleh lebih dari 10 mg/L (PP. No. 20 tahun 1990), sehingga air
sampel limbah ini dapat dikatakan tercemar.
Pengenceran yang digunakan adalah P1 karena angka KMnO4 yang didapatkan
kurang dari 300 mg/L. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai P1 adalah sebesar 41,5.
Artinya untuk setiap botol BOD, diisi oleh 1 bagian sampel dan 40,5 bagian pengencer.
Larutan pengencer berfungsi sebagai bahan makanan atau nutrient mikroba sehingga
menjadi sumber energi bagi mikroba untuk mengoksidasi bahan organik yang terkandung
dalam sampel air limbah. Pada larutan pengencer ini terlebih dahulu dilakukan aerasi
yang berfungsi sebagai pengadukan serta untuk menambahkan oksigen ke dalam larutan
pengencer. Oksigen ini akan digunakan oleh mikroba untuk mengoksidasi bahan organik.
Aerasi dilakukan selama 30 menit agar mikroba mendapatkan oksigen yang cukup.
Nutrient serta oksigen yang cukup untuk mikroba kemudian dicampurkan dengan
sampel sebagai sumber bahan organik, maka diharapkan akan didapatkan hasil kerja
mikroba yang optimum dalam mengoksidasi bahan organik sehingga diketahui berapa
oksigen yang dibutuhkan. Sampel DO0 (1), DO0 (2) dan blanko0 (berisi pengencer saja)
langsung ditentukan nilai DOnya dengan metode Winkler, sedangkan sampel DO5 (1),
DO5 (2) dan blanko5 harus terlebih dahulu diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20 oC.
Ke dalam sampel DO0 dan blanko0 ditambahkan MnSO4 dan pereaksi oksigen
(KI+NaOH). MnSO4 dalam keadaan basa ini akan membentuk endapan MnO2, kemudian
ditambahkan H2SO4 sehingga endapan larut dan akan melepas I2 yang ekivalen dengan
oksigen terlarut. I2 yang terbentuk ditirasi dengan Na2S2O3. Dari data hasil percobaan
didapatkan nilai DO pada sampel DO0 (1) sebesar 3,58 mg/L, DO0 (2) sebesar 3,18 mg/L
dan blanko0 sebesar 4,28 mg/L. Pada hari ke-0 ini dapat dilihat nilai DO pada sampel
lebih kecil dibanding nilai DO pada blanko karena oksigen yang ditambahkan tidak
banyak digunakan untuk mikroba. Di dalam sampel terkandung bahan organik yang
memungkinkan mikroba untuk melakukan aktivitasnya yaitu mendegradasi bahan
organik tersebut walaupun masih dalam jumlah yang sedikit, sehingga jumlah oksigen
yang digunakan oleh mikroba pada sampel lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
oksigen yang digunakan oleh mikroba pada blanko.
Untuk DO hari ke-5, dari data hasil percobaan didapatkan nilai DO pada sampel
DO5 (1) sebesar 3,30 mg/L, DO5 (2) sebesar 2,95 mg/L dan blanko5 sebesar 3,90 mg/L.
Nilai DO pada hari ke-5 lebih kecil daripada nilai DO pada hari ke-0. Hal ini dikarenakan
berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam sampel setelah diinkubasi selama 5 hari
pada suhu 20 oC. Oksigen terlarut digunakan oleh mikroba untuk mendegradasi bahan
organik yang terkandung di dalam sampel.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, nilai DO minimum yang harus tersedia
pada air adalah lebih dari 2 mg/L. Jadi dapat dikatakan bahwa sampel air limbah yang
digunakan masih baik karena memenuhi baku standar yang telah ditetapkan.
Dari data hasil percobaan didapatkan nilai BOD sebesar 10,22 ppm. Hal ini berarti
10,22 mg oksigen akan dihabiskan oleh mikroorganisme dalam satu L sampel air limbah
selama waktu 5 hari pada suhu 20 oC.
4.2 Kesimpulan
1. Nilai rata-rata DO sebelum diinkubasi pada temperatur 20 oC selama 5 hari dari hasil
percobaan adalah sebesar 3,38 mg/L.
2. Nilai rata-rata DO sesudah diinkubasi pada temperatur 20 oC selama 5 hari dari hasil
percobaan adalah sebesar 3,12 mg/L.
3. Nilai rata-rata BOD dari hasil percobaan adalah sebesar 10,22 mg/L.
DAFTAR PUSTAKA

Pranata, Widya. 2012. BOD dan COD sebagai Parameter Pencemaran Air dan Baku Mutu
Air Limbah. http://widyapranata.wordpress.com/tag/bod-dan-cod-sebagai-parameter-
pencemaran-air-dan-baku-mutu-air-limbah-bod-and-cod-as-a-parameter-water-
pollution-and-waste-water-quality-standards/. [8 Desember 2014].

Change, Erik. 2008. Pengertian COD dan BOD.


https://erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/pengertian-cod-dan-bod/.

[8 Desember 2014].

KESMAS. 2013. Pengertian BOD, COD, TSS, pada Air Limbah. http://www.indonesian-
publichealth.com/2013/01/pengertian-bod-cod-tss-pada-air-limbah.html.

[8 Desember 2014].

Goelanzsaw. Analisa BOD dalam Air. http://goelanzsaw.blogspot.com/2013/02/analisa-


bod-dalam-air.html. [8 Desember 2014].

Dwi, Dyah. 2014. Laporan Kimia. http://dyahdwip.blogspot.com/2014/01/pengujian-bod-


biochemical-oxygen-demand.html. [8 Desember 2014].

Hezym, Faisol. 2013. Pengukuran Oksigen Terlarut (DO) Metode Winkler (Praktikum
Ekologi Umum). http://fairulfh.blogspot.com/2013/12/laporan-pengukuran-oksigen-
terlarut-do.html. [8 Desember 2014].
LAMPIRAN

Seluruh perhitungan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel 2013, berikut
ini adalah beberapa contoh perhitungan bila dilakukan secara manual.

1. Contoh perhitungan penentuan faktor ketelitian dan angka KMnO4


Faktor ketelitian (f)
10
f=
mL KMnO4 (2)
10
f=
15,2
f = 0,66
mg/L KMnO4
mg 1000
KMnO4 = {(10 + a) f 10} 0,01 31,6
L mL sampel
mg 1000
KMnO4 = {(10 + 10,4) 0,66 10} 0,01 31,6
L 10
mg
KMnO4 = 108,11
L
Karena angka KMnO4 kurang dari 300 mg/L, maka dilakukan pengenceran P1.

2. Pengenceran
mg
KMnO4 124,51
P1 = L = = 41,5
3 3
Contoh perhitungan pengenceran untuk botol BOD
Sampel DO 0 (1), Volume botol BOD = 304 mL
1
Volume sampel = 41,5 304 mL = 7,33 mL
40,5
Volume pengencer = 41,5 304 mL = 296,67 mL
3. Contoh perhitungan penentuan nilai oksigen terlarut metode Winkler
Sampel DO 0 (1), Volume botol BOD = 304 mL
Volume Na2S2O3 = 10,8 mL, Normalitas Na2S2O3 = 0,0125 N
mg
BE oksigen = 8 mmolek
mg 1000 mL Na2 S2 O3 N Na2 S2 O3 BE O2
O2 =
L mL volume botol 2 mL
mg 1000 10,8 0,0125 8
O2 =
L 304 2
mg
O = 3,58
L 2

4. Contoh perhitungan penentuan nilai BOD


P = 41,5
DO 0 (1) = 3,58 mg/L A
DO 5 (1) = 3,30 mg/L B
Blanko 0 = 4,28 mg/L C
Blanko 5 = 3,90 mg/L D
BOD5 (1) = P (A B) (C D)
BOD5 (1) = 41,5 (3,58 3,30) (4,28 3,90)
BOD5 (1) = 11,08 mg/L