Anda di halaman 1dari 13

Nama aslinya Abu Amr Usman bin Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-

Bashri, lebih dikenal dengan nama Al Jahiz ( ), adalah seorang ilmuwan terkenal
keturunan Arab Negro dari Timur Afrika, dilahirkan di Basra pada 781 M - 868 M. Al Jahiz
dikenal sebagai penulis untuk : Prosa Arab, Sastra Arab, Biologi, Zoologi, Sejarah, Filsafat Islam
awal, Psikologi Islam, Teologi (ajaran) Mu'tazilah dan Polemik dalam politik-agama.

Kehidupan awal Al Jahiz tidaklah banyak yang diketahui selain daripada informasi mengenai
keluarganya yang sangat miskin. Al Jahiz pada awalnya dipekerjakan untuk menjual ikan di
sepanjang salah satu kanal air di Basra untuk membantu keluarganya. Namun, meskipun
keuangan keluarganya sulit tidak menghentikan semangat Al Jahiz untuk mencari pengetahuan
sejak masa mudanya. Cara yang digunakannya untuk mencari Ilmu Pengetahuan diantaranya
dengan rajin berkumpul dengan sekelompok pemuda di masjid utama Basra yang biasa
mendiskusikan berbagai subyek ilmu pengetahuan. Dia juga rajin mengikuti berbagai kuliah
yang dilakukan dari para ahli filologi, leksikografi, dan puisi.

Selama rentang dua puluh lima tahun melanjutkan studinya, Al Jahiz telah memperoleh
pengetahuan besar tentang puisi Arab, Filologi Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, dan
ia mempelajari Alquran dan Hadis. Ia juga membaca buku-buku diterjemahkan dari para filsafat
Yunani dan Helenistik, khususnya Aristoteles. Salah satu keberuntungan Al Jahiz dalam mencari
ilmu ialah karena dizaman itu, Khalifah Abbasiyah sedang dalam fase kebangkitan budaya dan
revolusi Intelektualitas, sehingga pendidikannya sangat difasilitasi diantaranya dengan
banyaknya buku yang tersedia, sehingga belajar segala hal semakin mudah dilakukan.

KARIR AL-JAHIZ
Di Basra, Al-Jahiz menulis artikel tentang institusi kekhalifahan. Hal ini kemudian menjadi awal
karirnya sebagai penulis. Sejak itu, ia telah menulis dua ratus buku sepanjang hidupnya yang
membahas berbagai subyek termasuk tata bahasa Arab, zoologi, puisi, leksikografi, dan retorika.
Dia menulis sejumlah buku luar biasa, yang dapat bertahan tiga puluh bertahan (ditinjau dari
teknologi penulisan dizaman itu, hal ini merupakan sesuatu yang sangat fantastis di zamannya).
Pada tahun 816 M, Al Jahiz pindah ke Baghdad yang dikala itu merupakan ibukota kekhalifahan
Islam Arab. hal ini awalnya didasarkan atas kebijaksanaan Khalifah Abbasiyah yang
mengumpulkan para ilmuwan dengan mendirikan Rumah Kebijaksanaan sebagai pusat
penelitian. Setelah ke Baghdad, Al Jahiz kemudian pindah ke Samara dengan tujuan untuk
mendapatkan pembaca yang lebih banyak dan agar dapat lebih mengembangkan dirinya. Di Kota
inilah sejumlah besar buku-bukunya ditulis. Dikatakan bahwa Khalifah al-Ma'mun pernah
meminta Al Jahiz untuk mengajar anak-anaknya, tapi kemudian beliau berubah pikiran ketika
anak-anaknya takut akan kerusakan yang terjadi pada matanya () , dikatakan peristiwa
inilah yang melatarbelakangi nama julukannya.

STRUGGLE FOR EXISTENCE


Ilmuwan dari abad ke-9 M itu mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan
seekor binatang untuk tetap bertahan hidup atau survive. Sejarah peradaban Islam mencatat, Al-
Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup alias
struggle for existence. Untuk dapat bertahan hidup, papar dia, mahluk hidup harus berjuang.
Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, semua pelajar di Indonesia telah
diperkenalkan dengan rantai makanan saat belajar biologi. Namun, tahukah Anda bahwa
ilmuwan pertama yang mengungkapkan teori tentang rantai makanan itu adalah Al-Jahiz ahli
biologi Muslim? Teramat banyak, pencapaian yang dihasilkan para sarjana Muslim yang
disembunyikan oleh peradaban Barat.
Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Dia berpendapat bahwa
lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Menurut
dia, asal muasal beragamnya warna kulit manusia terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat
mereka tinggal.

Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung
melalui migrasi. Tak cuma itu, pada abad ke-9 M. Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode
memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran Al-Jahiz
pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri.
Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang
pernah lahir di dunia Islam. Ilmuwan yang amat kesohor di kota Basra, Irak, itu berhasil
menuliskan kitab Al-Hayawan (Buku tentang Hewan). Dalam kitab itu dia menulis tentang
kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang.

KITAB AL-HAYAWAN
Kitab al-Hayawan adalah sebuah ensiklopedia dari tujuh volume dari tulisan bebas, penjelasan
puitis dan peribahasa menggambarkan lebih dari 350 jenis binatang. Hal ini dianggap sebagai
karya paling penting Al Jahiz.

Dalam Kitab Al Hayawan, al-Jahiz adalah orang pertama yang mengeluarkan ide bahwa habitat
hewan mempengaruhi kehidupan dan bentuknya, yang mana dikemudian hari hal ini menjadi
teori dasar dari pembentukan Teori Evolusi Darwin dan merupakan hal yang tidak dapat dijawab
oleh Charles Darwin). Al-Jahiz menganggap bahwa dampak lingkungan berpengaruh terhadap
kemungkinan seekor binatang untuk bertahan hidup, dan hal pertama yang dilakukan ialah
menggambarkan perjuangan untuk keeksistensiannya dari keberlangsungan seleksi alam
semenjak nenek moyang hewan tersebut. Kesimpulan dari teori Al Jahiz tentang perjuangan
untuk eksistensi dalam Kitab Al Hayawan telah diringkas sebagai berikut:

"Hewan harus berjuang untuk eksistensinya (jenisnya), untuk sumber daya yang tersisa, untuk
menghindari dimakan dan untuk berkembang biak. Faktor lingkungan turut mempengaruhi suatu
organisme untuk mengembangkan karakteristik baru untuk memastikan kelangsungan hidup
jenisnya akan berubah menjadi spesiaes yang baru. Hewan yang bertahan akan berkembang biak
dan mewariskan karakteristik (hasil perjuangan) mereka kepada keturunan. " (Gary Dargan,
Intelligent Design, Encounter, ABC)

Al-Jahiz juga yang pertama untuk membahas tentang rantai makanan, dan menulis contoh
berikut dari rantai makanan: (Frank N. Egerton, "Sejarah dari Ilmu Ekologi, Bagian 6: Ilmu
Bahasa Arab - Asal-Usul dan" Zoologi, Buletin Ecological Society of America, 2002 April: 142-
146 [143] )

"Nyamuk akan pergi mencari makanan mereka, yang mereka tahu secara naluri alamiah (insting)
bahwa darah adalah hal yang membuat mereka tetap hidup. Begitu mereka melihat gajah, kuda
nil atau hewan lain, mereka tahu bahwa kulit telah dibentuk untuk melayani mereka sebagai
makanan, dan jatuh di atasnya, mereka menusukan giginya sampai dia yakin bahwa
kedalamannya telah cukup untuk menghisap darah. Begitu juga lalat, walaupun mereka hinggap
pada berbagai jenis makanan, namaun pada prinsipnya melakukan hal yang sama dengan
nyamuk. Dan pada kesimpulannya, semua hewan tidak bisa bertahan tanpa makanan, ada yang
dengan berburu hewan dan ada yang diburu. "

Pada abad ke-11, al-Khatib al-Baghdadi menuduh Al-Jahiz telah menjiplak beberapa bagian dari
Kitab Hewan karya Aristoteles, (Peters, F. E., Aristotle and the Arabs: The Aristotelian Tradition
in Islam , New York University Press, NY, 1968.) tapi para ahli modern telah menemukan
bahwa pengaruh Aristoteles sedikit sekali dalam hasil karya Al Jahiz (al-Baghdadi mungkin
tidak begitu memahami dengan karya Aristoteles secara mendalam) pada subjek. (Aristotle and
the Arabs: The Aristotelian Tradition in Islam by FE Peters", Bulletin of the School of Oriental
and African Studies, University of London 34 (1), p.). Secara khusus, bahkan dikatakan bahwa
Aristoteles tidak memilki pengaruh apapun dalam teori yang dikemukan Al Jahiz Ide mengenai
seleksi alam, determinisme lingkungan dan rantai makanan.

Ahli biologi Muslim lainnya yang mengkaji tentang evolusi adalah Al-Mashudi. Buah pikirnya
dituangkan dalam kitab Al-Tanbih wal Ishraq. Selain itu, ilmuwan lainnya yang mengungkapkan
teori evolusi bernama Ibnu Masikawaih.
Dalam kitabnya The Epistles of Ikhwan Al-Safa, dia mengungkapkan tentang bagaimana species
berkembang ke dalam sapa, kemudian air, mineral, tanaman, hewan, dan seterusnya. Hasil karya
Ibnu Masikawaih itu begitu populer di benua Eropa. Malah, terori evolusi itu telah memberi
banyak pengaruh kepada Darwinisme.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali merupakan seorang pemikir yang multi
talenta yang banyak menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu teologi, filsafat, astronomi,
politik, sejarah, ekonomi, hukum, kedokteran, biologi, kimia, sastra, etika, musik, maupun
sufisme. Dia adalah teolog Islam, ahli hukum, ahli filsafat, kosmologi, psikolog, maupun biologi.
Dia dilahirkan di Tus, Provinsi Khorasan, Persia dan hidup antara tahun 1058 hingga 1111. Al
Ghazali yang sering disebut juga Algazel merupakan salah satu sarjana yang paling terkenal
dalam sejarah pemikiran Islam Sunni. Dia dianggap sebagai pelopor metode keraguan dan
skeptisisme. Salah satu karya besarnya berjudul Tahafut Al Falasifah atau The Incoherence of
the Philosophers. Dia berusaha mengubah arah filsafat awal Islam, bergeser jauh dari metafisika
Islam yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani kuno dan Helenistik menuju filsafat Islam
berdasarkan sebab-akibat yang ditetapkan oleh Allah SWT atau malaikat perantara, sebuah teori
yang kini dikenal sebagai occasionalism.

Keberadaan Al Ghazali telah diakui oleh sejarawan sekuler seperti William Montgomery Watt
yang menyebutnya sebagai Muslim terbesar setelah Muhammad. Selain kesuksesannya dalam
mengubah arah filsafat Islam awal Neoplatonisme yang dikembangkan atas dasar filsafat
Helenistik, Dia juga membawa Islam ortodoks ke dalam ilmu tasawuf. Al Ghazali juga sering
disebut sebagai Pembuktian Islam, Hiasan keimanan, atau Pembaharu agama. Dalam buku
berjudul Historiografi Islam Kontemporer disebutkan, seorang penulis bernama Al Subki dalam
bukunya yang berjudul Thabaqat Al Shafiyya Al Kubra pernah menyatakan, Seandainya ada
lagi nabi setelah Nabi Muhammad, maka manusianya adalah Al Ghazali. Hal ini menunjukkan
tingginya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki Al Ghazali.

Pengaruh Al Ghazali baik dalam bidang agama maupun ilmu pengetahuan memang sangat besar.
Karya-karya maupun tulisannya tak pernah berhenti dibicarakan hingga saat ini. Pengaruh
pemikirannya tidak hanya mencakup wilayah di Timur Tengah tetapi juga negara-negara lain
termasuk Indonesia dan negara barat lainnya. Para ahli filsafat barat lainnya seperti Rene
Descartes, Clarke, Blaise Pascal, juga Spinoza juga mendapatkan banyak pengaruh dari
pemikiran Al Ghazali.

Kebanyakan orang-orang mengenal pemikiran Al Ghazali hanya dalam bidang teologi, fiqih,
maupun sufisme. Padahal dia merupakan seorang ilmuwan yang hebat dalam bidang ilmu biologi
maupun kedokteran. Dia telah menyumbangkan pemikiran dan jasa yang besar dalam bidang
kedokteran modern dengan menemukan sinoatrial node (nodus sinuatrial) yaitu jaringan alat
pacu jantung yang terletak diatrium kanan jantung dan juga generator ritme sinus. Bentuknya
berupa sekelompok sel yang terdapat pada dinding atrium kanan, di dekat pintu masuk vena kava
superior. Sel-sel ini diubah myocytes jantung. Meskipun mereka memiliki beberapa filamen
kontraktil, mereka tidak kontraksi. Penemuan sinoatrial node oleh Al Ghazali ini terlihat dalam
karya-karyanya yang berjudul Al-Munqidh min Al-Dhalal, Ihya Ulum Al Din, dan Kimia Al-
Sa'adat. Bahkan penemuan sinoatrial node oleh Al Ghazali ini jauh sebelum penemuan yang
dilakukan oleh seorang ahli anatomi dan antropologi dari Skotlandia, A. Keith dan seorang ahli
fisiologi dari Inggris MW Flack pada tahun 1907. Sinoartrial node ini oleh Al Ghazali disebut
sebagai titik hati.

Dalam menjelaskan hati sebagi pusat pengetahuan intuisi dengan segala rahasianya, Al Ghazali
selalu merumuskan hati sebagai matabatin atau disebut juga inner eye dalam karyanya yang
berjudul Al-Munqidh min Al-Dhalal yang diterjemahkn oleh C. Field menjadi Confession of Al
Ghazali. Dia juga menyebut mata batin sebagai insting yang disebutnya sebagai cahaya Tuhan,
mata hati, maupun anak-anak hati. Kalu titik hati Al Ghazali dibandingkan dengan sinoartrial
node, maka akan terlihat bahwa titik hati sebenarnya mempunyai hubungan erat dengan
sinoartrial node. Dia menyebutkan bahwa titik hati tersebut tidak dapat dilihat dengan alat-alat
sensoris sebab titik tersebut mikroskopis. Para ahli kedokteran modern juga menyatakan
sinoartrial node juga bersifat mikroskopis.

Al Ghazali menyebutkan titik hati tersebut secara simbolis sebagai cahaya seketika yang
membagi-bagikan cahaya Tuhan dan elektrik. Menurut gagasan modern, dalam satu detik,
sebuah impuls elektrik yang berasal dari sinoartrial node mengalir ke bawah lewat dua atria
dalam sebuah gelombang setinggi 1/10 milivolt sehingga otot-otot atrial dapat melakukan
kontraksi.

Pada era modern ini para ahli anatomi menyatakan pembentukan tindakan secara potensial
berasal dari hati, yaitu kontraksi jantung yang merupakan gerakan spontan yang terjadi secara
independen dalam suatu sistem syaraf. Dia juga menyatakan bahwa hati itu merdeka dari
pengaruh otak dalam karyanya yang berjudul Al-Munqidh min Al-Dhalal. Para pemikir modern
banyak yang mengatakan, suatu tindakan kadang terjadi melalui mekanisme yang tak seorang
pun tahu mengenainya. Namun Al Ghazali mengatakan, tindakan yang terjadi melalui
mekanisme yang tak diketahui tersebut sebenarnya disebabkan oleh sinoartrial node. Dia juga
menyatakan penguasa misterius tubuh yang sebenarnya adalah titik hati tersebut, bukanlah otak.

Al Ghazali tidak hanya menggambarkan dimensi fisik sinoartrial node tetapi dia juga
menggambarkan dimensi metafisik dari sinoartrial node. Hal ini jauh berbeda dengan pandangan
para pemikir sekuler yang hanya mampu menggambarkan sinoartrial node secara fisik semata.
Secara metafisik, Al Ghazali menggambarkan sinoartrial node sebagai pusat pengetahuan intuitif
atau inspirasi ke-Tuhanan yang bisa berfungsi sebagi peralatan untuk menyampaikan pesan-
pesan Tuhan kepada hambanya. Namun orang yang bisa memfungsikan sinoartrial node
hanyalah orang yang telah mencapai penyucian diri sendiri atau orang yang sangat beriman
kepada Allah SWT.

Dukungan Al Ghazali terhadap pengembangan ilmu anatomi dan pembedahan. Selain


menemukan sinoartrial node, Al Ghazali juga memberikan sumbangan lain dalam bidang
kedokteran dan biologi. Catatan sejarah menyebutkan, tulisan-tulisan Al Ghazali diyakini
menjadi pendorong bangkitnya kemauan untuk melakukan studi kedokteran pada abad
pertengahan Islam, khususnya ilmu anatomi dan pembedahan.

Dalam karyanya The Revival of the Religious Sciences, dia menggolongkan pengobatan sebagai
salah satu ilmu sekuler yang terpuji (mahmud) dan menggolongkan astrologi sebagai ilmu
sekuler yang tercela (madhmutn). Sehingga dia sangat mendorong orang-orang untuk
memepelajari ilmu pengobatan. Saat membahas tentang meditasi (Tafakkur), dia menjelaskan
anatomi tubuh pada sejumlah halaman bukunya secara rinci untuk menjelaskan posisi yang
cocok guna melakukan kontemplasi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Al Ghazali juga membuat pernyataan yang kuat guna mendukung orang-orang untuk
mempelajari ilmu anatomi dan pembedahan dalam karyanya yang berjudul The Deliverer from
Error. Dia menyebutkan, naturalis (al-tabi'yun) adalah sekelompok orang yang terus-
menerusmempelajari alam, keajaiban binatang dan tumbuhan. Mereka juga sering terlibat dalam
ilmu anatomi maupun pembedahan (ilm at-tashriih) dari tubuh hewan. Melalui proses
pembedahan itu mereka mampu merasakan keajaiban rancangan Allah SWT dan kebijaksanaan-
Nya serta keajaiban-Nya. Dengan ini mereka dipaksa untuk mengakui Allah SWT merupakan
Penguasa alam semesta dan siapapun bisa mengalami kematian. Tidak seorang pun dapat belajar
anatomi maupun pembedahan dan keajaiban kegunaan dari bagian-bagian organ tubuh tanpa
mengetahui kesempurnaan desain ciptaan Allah yang berhubungan dengan struktur (binyah)
binatang maupun struktur manusia. Dengan demikian, Al Ghazali menganggap dengan
mempelajari ilmu anatomi maka manusia akan sadar dengan kehebatan Allah SWT yang Maha
Agung sehingga hal itu membuatnya lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta.

Dukungan kuat Al Ghazali untuk memajukan studi tentang anatomi dan pembedahan
memberikan pengaruh yang kuat dalam kebangkitan ilmu anatomi dan pembedahan yang mulai
dilakukan oleh pada dokter Muslim pada abad 12 dan 13. Sejumlah dokter sekaligus ilmuwan
hebat Muslim yang mulai mendorong kebangkitan ilmu anatomi dan pembedahan pada masa itu
antara lain Ibn Zuhr, Ibn al-Nafis, maupun Ibnu Rusyd
Ibnu Haitham

Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga
dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu.
Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan
hakikat sejarah yang sebenarnya.
Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan
ilmuwan yang cukup hebat dalam bidang falsafah, sains dan politik, kesusasteraan,
kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan
pada para tokoh ilmuan islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada
usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara
bersamaan.
Walaupun tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains dan pengobatan tetapi dia juga memiliki
kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah dan sebagainya. Salah seorang daripada
tokoh tersebut ialah Ibnu Haitham atau nama sebenarnya Abu All Muhammad al-Hassan ibnu al-
Haitham.

Perjalanan hidup

Dalam kalangan cerdik pandai di Barat, beliau dikenali dengan nama Alhazen. Ibnu Haitham
dilahirkan di Basrah pada tahun 354H bersamaan dengan 965 M. Ia memulai pendidikan
awalnya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah
beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan
merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan
menumpukan perhatian pada penulisan.
Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah
mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saliran
Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.
Hasil daripada usaha itu, beliau telah menjadi seorang yang amat mahir dalam bidang sains,
falak, matematik, geometri, pengobatan, dan falsafah. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi
salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Malahan kajiannya
mengenai pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengajian pengobatan modern mengenai
mata.

Karya dan penelitian

Sains

Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya


mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan
Kepler mencipta mikroskop serta teleskop. Ia merupakan orang pertama yang menulis dan
menemui pelbagai data penting mengenai cahaya.
Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggeris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahaskan
mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang bayang dan
gerhana.
Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 darjah di ufuk
timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila matahari berada di garis 19 darjah ufuk
barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah berjaya menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias
cahaya dan pembalikan cahaya.
Ibnu Haitham juga turut melakukan percubaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ
terhasillah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk
menghasilkan kanta pembesar yang pertama di dunia.
Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemui prinsip isi padu udara sebelum
seorang saintis yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu
Haitham juga telah menemui kewujudan tarikan graviti sebelum Issaac Newton mengetahuinya.
Selain itu, teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang
bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada saintis barat untuk
menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan filem yang
kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang
dapat kita tontoni pada masa kini.

Filsafat

Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logik, metafizik, dan
persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Ia turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap
karya-karya sarjana terdahulu.
Penulisan falsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi
pertikaian. Padanya pertikaian dan pertelingkahan mengenai sesuatu perkara berpunca daripada
pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.
Beliau juga berpendapat bahawa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan
kebenaran wajar diragui dalam menilai semua pandangan yang sedia ada. Jadi, pandangannya
mengenai falsafah amat menarik untuk disoroti.
Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematik, sains, dan ketuhanan.
Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu
perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat,
kekuatan fizikal dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

Karya

Ibnu Haitham membuktikan pandangannya apabila beliau begitu ghairah mencari dan mendalami
ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Sehingga kini beliau berjaya menghasilkan banyak buku
dan makalah. Antara buku karyanya termasuk:

1. Al'Jami' fi Usul al'Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik
penganalisaannya;
2. Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib mengenai ilmu geometri;
3. Kitab Tahlil ai'masa^il al 'Adadiyah tentang algebra;
4. Maqalah fi Istikhraj Simat al'Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap
rantau;
5. M.aqalah fima Tad'u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak
dan
6. Risalah fi Sina'at al-Syi'r mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah amat banyak. Kerana itulah Ibnu
Haitham dikenali sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu
pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan sehingga ke hari ini.
Walau bagaimanapun sebahagian karyanya lagi telah "dicuri" dan "diceduk" oleh ilmuwan Barat
tanpa memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Sesungguhnya barat patut
berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam kerana tanpa mereka kemungkinan
dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.
Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada
masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana
Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran falsafah Yunani.
Abdulmalik bin Quraib Al-Asma'i

Abdulmalik bin Quraib Al-Asma'i (Basra, 740-828) merupakan seorang ilmuwan bidang
zoologi, botani, dan penjagaan hewan. Tulisannya yang terkenal di antaranya Kitab Ibil,
Kitab Khalil, Kitab Wuhush, Kitab Sha, dan Kitab Khalqal Insan. Buku terakhirnya tentang
anatomi manusia membuktikan pengetahuannya yang mendalam dan luas mengenai bidang
tersebut. Minat dalam pemuliaan/peternakan kuda dan unta mendorong kepada hasil kerja ilmiah
sistematik oleh orang Arab seawal abad ke-7. Ketika pemerintahan Khalifah Umayyad,
klasifikasi dan sifat hewan dan tumbuhan dikaji dan dicatat oleh beberapa ilmuwan. Hasil kajian
Al-Asmai amat popular dikalangan ilmuwan pada abad ke-9 dan abad ke-10. Abdul Malik bin
Quraib al-Asmai ialah sarjana pertama yang mengkaji ilmu alam dan zoologi (ilmu hewan).
Beberapa buah pikirannya yang sangat terkenal mengupas tentang hewan, yakni Kitab al-
Khayhl, yang membahas seluk beluk kuda. Selain itu, ia juga menulis Kitab Al-Ibil yang
mengupas tentang unta, Kitab ash-Sha tentang kambing, dan Kitab al-Wuhush tentang hewan
liar. Abdul Malik juga mengkaji manusia melalui Kitab Khalq al-Insan. Ia juga tercatat
sebagai ilmuwan pertama yang mempelajari anatomi manusia. Salah satu kitabnya yang sangat
fenomenal adalah Kitab al-Asmai yang masih menjadi rujukan ilmuwan di Austria pada paruh
kedua abad ke-19 M.
Biografi Al-Ghafiqi (Spesialis Mata & Ahli Botani)

Namanya Abu Jafar Muhammad ibn Qassoum ibn Aslam Al-Ghafiqi (w 1165 m), Seorang
ahli obat-obatan asal Andalusia (Spanyol), juga dikenal sebagai salah seoran ahli opthalmologi
(mata) terbesar.
Dialah ahli botani paling cerdas pada masanya, begitu George Sarton, ahli sejarah Barat
menyebut Al-Ghafiqi. Ia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya dari
wilayah Spanyol dan Afrika. Al-Ghafiqi membuat catatan yang menggambarkan secara akurat
jenis-jenis tumbuhan koleksinya itu.
Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling
membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. Dia memberi nama setiap tanaman dalam
tiga bahasa, yaitu Arab, Latin, dan Barbar, ujar Sarton. Karya fenomenal Al-Ghafiqi yang
berjudul Al-Adwiyah al-Mufradah memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti
tumbuh-tumbuhan dengan cara sederhana seperti yang dilakukan Al-Ghafiqi.
Dalam bidang obat-obatan (farmakologi) ia menulis kitab Al Adawiyah al Mufradah (Uraian
tentang berbagai macam obat). Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi
dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu
tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-
Jami Al-Adwiyyah Al-Mufradah ini. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam
metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.
Dalam bidang opthalmologi (mata) ia menulis kitab Al-Murshid fil Kuhl. Al-Ghafiqi banyak
merujuk kepada karya Ammar bin Ali Al-Mosuli tetapi lebih menekankan penelitian pada
jaringan otak yang berhubungan dengan mata.
Masyarakat Cordoba sangat menghormati Al-Ghafiqi. Hingga kini nama Al-Ghafiqi terukir di
rumah sakit di Cordoba, yang dipakai sebagai cara untuk mengenang jasa-jasa ilmuwan tersebut.