Anda di halaman 1dari 7

GALENIKA

GALENIKA Journal of Pharmacy Vol. 3JOURNAL


(1) : 84 - 90 OF PHARMACY ISSN : 2442-8744
March 2016

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.)


TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

ANTIBACTERIAL ACTIVITY EXTRACT OF GARLIC (Allium cepa L.) SKIN


AGAINS Staphylococcus aureus

Misna1, Khusnul Diana2


Laboratorium Akademi Farmasi Tadulako Farma
Staf pengajar Jurusan Farmasi, Universitas Tadulako

ABSTRACT

One of the plants tat used in medicine is garlic (Allium cepa L.). In addition as medicinal
traditional plant, garlic is used as food spice. Garlic utillizated for the root only, and the skin which is
rich with fibrous and flavonoid is wasted. This research aim is to know if the garlic skin have
antibacterial activity against Staphylococcus aureus. Garlic skin made into extract with maseration
methode using 96% ethanol. Antibacterial activity test with hollow diffusion methode. Te parameter
used are inhibition zone created. Variation of concentration are 5%b/v, 10%b/v, 20%b/v, 40%b/v,
60%b/v, 80%b/v. Activity test made with extract added in the hole in the Staphylococcus aureus
media, then incubated at temperature 370C 24 hours. The inhibition zone 5%, 10%, 20%, 40%, 60%,
and 80% extract respectively were 7,00mm, 8,30mm, 9,60mm, 11,00mm, 12,33m and 14,33mm.

Keywords : Antibacterial, garlic skin, inhibition zone, Staphylococcus aureus

ABSTRAK

Salah satu tanaman yang juga digunakan dalam pengobatan yaitu bawang merah (Allium cepa
L.). Selain digunakan sebagai pengobatan dapat juga digunakan sebagai bumbu masakan, bawang
merah hanya dimanfaatkan bagian umbinya saja,sedangkan kulit bawang merah yang kaya serat dan
flavonoid dibuang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kulit bawang merah memiliki
aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Kulit bawang merah dibuat esktrak dengan
metode maserasi menggunakan etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi
cara sumuran. Parameter yang digunakan pada penentuan aktivitas antibakteri yaitu zona hambat yang
terbentuk. Konsentrasi yang digunakan adalah 5%b/v, 10%b/v, 20%b/v, 40%b/v, 60%b/v, 80%b/v.
Uji aktivitas dilakukan dengan cara menambahkan ekstrak di lubang pada media yang telah diberi
suspensi bakteri Staphylococcus aureus, kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Dari
hasil pengujian didapat zona hambat 5% adalah 7,00mm, 10% adalah 8,30mm, 20% adalah 9,60mm,
40% adalah 11,00mm, 60% adalah 12,33m dan 80% adalah 14,33mm.

Kata Kunci : Antibakteri, kulit bawang merah, zona hambat, Staphylococcus aureus

*) Coresponding author : Khusnul Diana khusnul_diana@yahoo.com (ph : +62-821-5568-0815)


84
GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY

PENDAHULUAN aktifitas antibakteri ekstrak kulit bawang


Bawang merah (Allium cepa L.) merah terhadap Staphylococcus aureus .
merupakan salah satu jenis sayuran yang
banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Waktu dan tempat Penelitian
Sebagai salah satu komoditas sayuran yang Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
secara ekonomis menguntungkan dan Juni sampai dengan Agustus 2015. Penelitian
mempunyai prospek pasar yang luas, bawang ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan dan
merah cukup banyak digemari oleh Akademi Farmasi Tadulako Farma Palu.
masyarakat, terutama sebagai bumbu
penyedap masakan, namun dapat pula sebagai Jenis dan Sumber Data
bahan obat, seperti: untuk menurunkan kadar Jenis data yang diperoleh berupa data
kolesterol, sebagai obat terapi, antioksidan, primer dari hasil penelitian laboratorium dan
dan antimikroba (Randle, 1997 dan Havey, juga data sekunder yang didapat dari berbagai
1999). sumber. Data-data tersebut berupa dokumen,
Bawang merah memiliki karakteristik laporan dan bahan-bahan lain secara tertulis
senyawa kimia, yaitu senyawa kimia yang dan relevan mengenai aktifitas antibakteri
dapat merangsang keluarnya air mata jika ekstrak kulit bawang merah terhadap
bawang merah tersebut disayat pada bagian Staphylococcus aureus.
kulitnya dan senyawa kimia yang
mengeluarkan bau yang khas (Lancaster and Tehnik Pengumpulan Data
Boland,1990). Data yang diperoleh untuk penyusunan
Salah satu penghasil bawang merah Karya Tulis Ilmiah ini berasal dari pustaka,
yaitu Kota Palu, Sulawesi Tengah yang pengambilan bahan, dan hasil penelitian secara
menjadi penghasil oleh-oleh bawang merah, langsung.
karena pengetahuan masyarakat yang terbatas
tentang pemanfaatan kulit bawang merah yang Instrumen Penelitian
dapat digunakan sebagai antibakteri dan dapat Alat
menyembuhkan penyakit-penyakit lainnya. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian
Bawang merah mempunyai kandungan sulfur adalah autoclave, batang pengaduk, beker
compound seperti Allyl Propyl Disulphida gelas 1000 ml (Pirex), lubang tips atau
(APDS) dan flavonoid seperti quercetin yang pencadang, cawan petri (Pirex), erlenmeyer
dipercaya bisa mengurangi resiko kanker, 200 ml (Pirex), gelas ukur 100 ml (Pirex),
penyakit jantung dan kencing manis. Kulit inkubator (Mammert), karet gelang, Laminer
bagian luar bawang yang mengering dan kerap Air Flow (Eyela), lampu bunsen, ose, oven,
berwarna kecoklatan kaya serat dan flavonoid pipet tetes, pipet mikro, kapas lidi steril,
serta antibakteria terhadap Stapylococcus tabung reaksi, wadah maserasi, rotavapor,
aureus dan E. coli (Harsawardana. S, 2011).
Bakteri Staphylococcus aureus Bahan
merupakan bakteri yang hidup dipermukaan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
tubuh individu sehat tanpa membahayakan, adalah alumunium foil, NaCl fisiologi 96%,
terutama sekitar hidung, mulut, alat kelamin, aquadest, kulit bawang merah, etanol 95%,
dan rectum. Namun, ketika kulit kita Stapylococcos aureus , kapas, kertas HVS,
mengalami luka atau tusukan, bakteri ini akan kertas saring, nutrient agar.
masuk melalui luka dan menyebabkan infeksi.
(Jawetz et al.,1995). Sterilisasi Alat
Dari paparan diatas maka perlunya Alat-alat kaca seperti beker gelas, gelas ukur,
dilakukan penelitian mengenai aktifitas erlenmeyer, dan tabung reaksi, cawan petri,
antibakteri ekstrak kulit bawang merah (Allium cakram kertas steril, batang pengaduk
cepa L.) terhadap Stapylococcus aureus. dibungkus dengan kertas HVS. Kemudian alat-
alat tersebut dimasukkan ke dalam oven
METODE PENELITIAN dengan suhu 1800 C selama 1 jam. Ose
Jenis penelitian disterilisasi dengan cara dibakar di atas lampu
Jenis penelitian ini yaitu penelitian bunsen sampai pijar.
kualitatif dengan metode pendekatan
eksperimental laboratorium untuk mengetahui Proses Pengolahan Simplisia
85
GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY

Diambil kulit bawang merah yang segar,


kulit bawang merah segar akan disortasi basah, Pembuatan suspensi bakteri
kemudian kulit yang telah disortasi basah Membuat larutan suspensi bakteri
dicuci dengan air mengalir. Setelah disortasi Staphylococcus aureus diambil 1 ose bakteri,
basah kulit bawang merah di potong kecil- dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi
kecil (dirajang), kulit bawang merah yang 10 ml larutan NaCl fisiologi 0,9%, dengan
sudah dipotong kecil-kecil kemudian biakan murni Staphylococcus aureus didalam
dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. tabung reaksi dikocok sampai homogen,
Setelah kulit bawang merah dikeringkan kemudian disamakan dengan standar Mc
dilakukan sortasi kering terhadap kulit bawang Farland.
yang mengalami kerusakan pada saat proses
pengeringan. Kulit bawang merah yang telah Perlakuan
disortasi kering kemudian siap di ekstraksi. Penentuan aktifitas antibakteri Staphylococcus
aureus dilakukan dengan menggunakan
Proses Ekstraksi metode difusi dengan cara sumuran.
Penelitian ini menggunakan metode Prosedurnya yaitu:
ekstraksi maserasi. Ditimbang simplisia a. Dibuat sumuran pada media agar yang telah
seberat 50 gram, Simplisia direndam di dalam dipadatkan dengan menggunakan alat
wadah maserasi yang telah berisi cairan lubang tips atau pencadang
penyari yaitu etanol 96 % sebanyak 8 Liter b. Diberi label pada masing-masing lubang
selama 3 hari dan sesekali diaduk. Setelah sumuran dengan masing-masing
diperoleh ekstrak dari perendaman ekstrak konsentrasi serta control negative dan
tersebut dirotavapor untuk memperoleh positif
ekstrak kental. c. Setelah diberi label dimasukkan ekstrak
kedalam lubang sumuran pada masing-
Pembuatan Variasi Konsentrasi masing konsentrasi, perlakuan ini diulang
Ekstrak kulit bawang merah yang diuji sebanyak tiga kali
untuk menghambat atau membunuh d. Cawan agar diinkubasi selama 1x24 jam
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada suhu 370C
dibuat dalam beberapa konsentrasi yaitu e. Setelah diinkubasi, zona hambatan yang
konsentrasi 5% b/v, konsentrasi 10% b/v, terbentuk diamati dan diukur.
konsentrasi 20% b/v, konsentrasi 40% b/v,
konsentrasi 60% b/v, konsentrasi 80% b/v. Uji Aktifitas Antibakteri dengan Metode
Sumuran
Pembuatan Media Nutrient agar (Plating) Penentuan aktivitas antibakteri
Ditimbang seberat 15 gram nutrient Staphylococcus aureus dilakukan dengan
agar dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, metode difusi agar menggunakan cara
ditambahkan dengan 1000 ml aquadest, lalu sumuran.
dipanaskan di atas hot plate hingga mendidih
sambil diaduk sampai homogen. Kemudian Teknik Analisis
media disterilisasi dengan cara bagian mulut Perhitungan statistik data diameter zona
erlenmeyer ditutup dengan kapas dan dengan hambat ekstrak kulit bawang merah (Allium
kertas yang diikat dengan karet gelang, cepa L.) terhadap pertumbuhan
kemudian dimasukkan ke dalam autoclave Staphylococcus aureus menggunakan
selama 15 menit pada suhu 1210C. Tuang Rancangan Acak Lengkap (RAL)
media steril ke dalam cawan petri steril secara (Sastrosupadi, 1995).
aseptis didalam LAF.
HASIL
Inokulasi Bakteri (Peremajaan) Hasil pengujian ekstrak kulit bawang
Inokulasi bakteri adalah menumbuhkan merah (Allium cepa L.) terhadap bakteri
bakteri dalam tabung reaksi agar yang telah Staphylococcus aureus yang ditumbuhkan
dibuat. Cara yang dilakukan dalam inokulasi pada media nutrien agar ternyata menunjukan
bakteri adalah: kemampuan yang berbeda disetiap konsentrasi
Diambil 1 ose bakteri dan digoreskan dimedia yang diberikan dan dilakukan uji pendahuluan
agar miring, lalu diinkubasi selama 24 jam. kandungan zat aktif dari ekstrak kulit bawang
86
GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY

merah (Allium cepa L.) dapat dilihat pada tabel


di bawah ini :

Tabel 1. Uji kandungan ekstrak kulit bawang


merah menggunakan metode reaksi
warna

No Zat Aktif Hasil Teori Hail Uji Ket


Gambar 2. Zona hambat ekstrak kulit bawang
merah terhadap Staphylococcus
1 Flavanoid Merah Merah + aureus Perlakuan II

Hitam Hitam
2 Tanin Kehijau- Kehijau- +
hijauan hijauan

Tidak ada
3 Saponin Ada busa _
busa

Tabel 2. Diameter zona hambat ekstrak kulit


bawang merah terhadap
Gambar 3. Zona hambat ekstrak kulit bawang
Stapylococcus aureus dengan metode
merah terhadap Staphylococcus
sumuran.
aureus Perlakuan III
Ulangan (mm) Rata-
Konse
Total rata
ntrasi I II III
(mm)
80% 15,00 14,00 14,00 43,00 14,33
60% 12,00 13,00 12,00 37,00 12,33
40% 10,00 12,00 11,00 33,00 11,00
20% 8,00 11,00 10,00 29,00 9,60
10% 6,00 10,00 9,00 25,00 8,30
5% 5,00 8,00 9,00 21,00 7,00 Gambar 4. Kontrol positif dan negatif
K (-) 0 0 0 0 0
K (+) 21,00 21,00 21,00 63,00 21,00 Tabel 3. Hasil analisis zona hambat ekstrak
kulit bawang merah (Allium cepa L.)
terhadap Staphylococcus aureus
dengan metode cara sumuran.

SK DB JK KT F.
F.
(Sumber (Derajat (Jumlah (Kuadrat Tabel
Hit
Keberagaman) Bebas) Kuadrat) Tengah) 1%
Perlakuan 3 394,283 65,713
40,
Galat 14 22,677 1,619 5,95
588
Total 416,96 67,332

Berdasarkan hasil pengujian F. Hitung pada


Gambar 1. Zona hambat ekstrak kulit bawang analisis sidik ragam menunjukan perbedaan
merah terhadap Staphylococcus aureus yang sangat nyata.
Perlakuan I
PEMBAHASAN
Setelah dilakukan penelitian terhadap
ekstrak kulit bawang merah (Allium cepa L.)
terhadap Staphylococcus aureus diperoleh
hasil bahwa ekstrak kulit bawang merah
87
GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY

mempunyai daya hambat terhadap simplisia direndam menggunakan 3 wadah


pertumbuhan bakteri dengan melihat adanya (toples) maserasi yang telah berisi cairan
zona hambat disekeliling ekstrak yang telah di penyari yaitu etanol 96% sebanyak 8 liter
buat cara sumuran dan membandingkan masing-masing wadah 2,5 liter pelarut selama
sampel tersebut dengan antibiotik golongan 3-5 hari dan sesekali diaduk. Setelah diperoleh
penisilin. ekstrak dari perendaman tersebut dirotavapor
Adapun cara sterilisasi alat meliputi untuk memperoleh ekstrak kental, ekstrak
alat-alat kaca seperti beker gelas, gelas ukur, kental yng diperoleh yaitu sebanyak 16,62
Erlenmeyer, dan tabung pereaksi, cawan petri gram. Alasan penggunaan pelarut etanol 96%
pencadang, batang pengaduk dibungkus dalam yaitu bersifat lebih selektif yaitu hanya
kertas HVS. Kemudian alat-alat tersebut menarik zat berkhasiat yang dikehendaki,
dimasukkan kedalam oven dengan suhu 1800C absorbsinya baik, kapang dan khamir sulit
selama 1 jam. Ose disterilisasi dengan cara tumbuh, mudah menguap dan mendapatkan
dibakar diatas lampu bunsen sampai pijar. ekstrak kental lebih cepat dibandingkan
Prinsip kerja sterilisasi dengan uap panas pelarut etanol 70%.
kering yaitu oven protein mikroba akan Metode yang digunakan dalam
mengalami dehidrasi hingga terjadi penelitian ini adalah metode difusi cara
kekeringan, selanjutnya teroksidasi oleh sumuran dengan menggunakan lubang tips
oksigen diudara sehingga menyebabkan atau pencadang untuk membuat lubang pada
matinya mikroba dan tidak menimbulkan media Nutrient agar yang telah padat dan
embun/ kondensasi pada alat yang disterilisasi ditambahkan suspensi bakteri dengan cara
serta sterilisasi media nutrient agar sebar mengguankan kapas lidi steril. Setelah
menggunakan sterilisasi uap yaitu autoclave, lubang terbentuk kemudian dimasukkan
prinsip kerjanya yaitu mikroba akan ekstrak yang telah dibuat dengan masing-
mengalami denaturasi dan koagulasi yang masing konsentrasi. Alasan pengguanaan
menyebabkan mikroba tersebut mati. metode difusi ndengan cara sumuran yaitu
Hal pertama yang dilakukan yaitu ekstrak langsung dimasukkan disetiap lubang
menggambil bahan kulit bawang merah yang maka efek untuk menghambat bakteri lebih
segar, lalu disortasi basah, setelah disortasi kuat. Pada metode sumuran terjadi proses
basah kemudian dicuci bersih dengan osmolaritas dari konsentrasi ekstrak yang lebih
menggunakan air yang mengalir sehingga tinggi dari metode difusi disk, setiap lubang
kotoran yang terdapat pada bahan tersebut diisi dengan konsentrasi ekstrak maka
hilang. Setelah itu dilakukan pengubahan osmolaritas terjadi lebih menyeluruh dan lebih
bentuk dengan cara dipotong kecil-kecil atau homogen serta konsentrasi ekstrak lebih kuat
dirajang, lalu dikeringkan dengan cara dan lebih tinggi untuk menghambat
diangin-anginkan, setelah kulit bawang merah pertumbuhan bakteri. (Novel dkk)
dikeringkan dilakukan sortasi kering terhadap Pada pengamatan dan pengukuran zona
kulit bawang yang mengalami kerusakan pada hambat dilakukan pada hari pertama (24 jam)
proses pengeringan. Kulit bawang yang telah zona hambat terbentuk. Untuk mengetahui
disortasi kering kemudian siap untuk apakah ekstrak kulit bawang merah memiliki
diekstraksi. sifat bakterisid maka dilakukan pengamatan
Pada uji pendahuluan untuk mengetahui zona hambat dilanjutkan selama 48 jam.
kandungan kimia dari ekstrak kulit bawang Setelah diamati pada 48 jam bakteri tidak
merah menggunakan metode reaksi warna tumbuh pada daerah hambat. Hal ini
diperoleh hasil yaitu ekstrak kulit bawang menunjukan bahwa ekstrak kulit bawang
merah positif mengandung flavanoid dan tanin merah dapat membunuh bakteri (bakterisid).
sedangkan untuk uji saponin diperoleh hasil Dari penjelasan tersebut bahwa ekstrak kulit
negative. bawang merah bersifat bakteriostatik dan
Proses ekstraksi menggunakan metode bakterisid terhadap bakteri Staphylococcus
maserasi alasannya karena lebih mudah dalam aureus.
pengerjaanya, alat yang digunakan lebih Uji ekstrak dibuat dalam beberapa
sederhana dan ekstrak yang diperoleh tidak konsentrasi yaitu 80% b/v, 60% b/v, 40% b/v,
mudah ditumbuhi kapang atau khamir. Dalam 20% b/v, 10% b/v, 5% b/v, untuk mengetahui
proses maserasi yang dilakukan yaitu KHM dari ekstrak kulit bawang merah,
menimbang simplisia seberat 50 gram, aquadest sebagai kontrol negative dan
88
GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY

ampicilin sebagai kontrol positif sebagai menunjukan bahwa ekstrak kulit bawang
pembanding terhadap hasil ekstrak yang merah (Allium cepa L.) mampu menghambat
diujikan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
pada konsentrasi berapa ekstrak kulit bawang Dari hasil penelitian menunjukan bahwa
merah dapat memberi efek antibakteri yang diameter zona hambat terbentuk dimulai pada
paling efektif dengan ditandai adanya zona konsentrasi 5% adalah sebesar 7,00 mm,
hambat. kemudian pada konsentrasi 10% sebesar 8,30
Media yang digunakan untuk mm, konsentrasi 20% yaitu 9,60 mm,
pertumbuhan bakteri yaitu media nutrient agar konsentrasi 40% yaitu 11,00 mm, konsentrasi
yang merupakan salah satu media umum yang 40% yaitu 12,33 mm, konsentrasi 60% yaitu
digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti 14,33, konsentrasi 80% yaitu 21,00 mm
uji biasa dari air, sewage, produk pangan, sedangkan perlakuan kontrol positif dengan
untuk membawa stok kultur, untuk menggunakan cara sumuran yang berisi
pertumbuhan sampel uji pada bakteri, dan larutan Ampicillin, zona hambat yang
untuk mengisolasi organisme dalam kultur terbentuk sebesar 21,00 mm.
murni. Dari penguatan hipotesis dilakukan
Hasil pada tabel 4.2 menunjukan bahwa perbandingan antara F hitung dengan F tabel
adanya perbedaan daerah hambat yang daya hambat ekstrak kulit bawang merah
terbentuk pada masing- masing perlakuan , (Allium cepa L.) pada tabel 4.2 menunjukan
dimana dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. bahwa hasil F. hitung lebih besar dari F tabel ,
Rata- rata daerah hambat tersebut menunjukan dimana nilai F hitung yaitu 40,88 sedangkan F
bahwa adanya perubahan yang terjadi terhadap tabel 5,95 (1%). Dengan demikian H0 ditolak
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan H1 diterima, yaitu terdapat pengaruh
dari zat aktif dalam ekstrak kulit bawang berbeda nyata dari semua konsentrasi ekstrak
merah yang digunakan sebagai sampel. Pada kulit bawang merah (Allium cepa L.) terhadap
perlakuan kontrol positif dengan menggunakan terbentuknya daerah hambat pada bakteri
ampicillin, dalam hal ini kontrol antibiotik Staphylococcus aureus. Jadi terdapat
ampicillin memperlihatkan rata-rata zona perbedaan perlakuan terhadap pertumbuhan
hambat yang yang lebih besar dibandingkan bakteri Staphylococcus aureus pada masing-
dengan sampel uji. Hal ini terjadi karena masing konsentrasi.
ampicilin sebagai kontrol positif pada uji
aktivitas antimikroba karena penisilin DAFTAR PUSTAKA
merupakan antibiotik yang sering digunakan.
Penisilin G merupakan obat pilihan untuk Anonim, 1979. Farmakope Indonesia, edisi
infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram III. Departemen Kesehatan Republik
positif aerob, streptokokus, pneumokokus, Indonesia; Jakarta.
meningokokus, spiroketha, klostridia,
stafilokokus, danaktinomices yang bukan Dwidjoseputro.D, 1994. Dasar-Dasar
penghasil penicilase. (Jawet et al., 2005) Mikrobiologi, Djambatan; Jakarta
Dalam Tabel 4.2, perlakuan dengan
konsentrasi 0% (kontrol negatif) yang GaniswarnaSG, 1995. Farmakologi dan
menggunakan aquadest steril menunjukan terapi, edisi IV (cetak ulang 2006).
bahwa kontrol tidak memperlihatkan adanya Gaya Baru ;Jakarta
zona hambat yang terbentuk, ini terjadi karena
aquadest merupakan senyawa netral yang tidak Jawetz Et,Al.2005. Mikrobiologi Kedokteran,
mengandung racun ataupun zat-zat yang dapat Edisi 23, Alih Bahasa Huriwati
menghambat dan membunuh pertumbuhan Hartanto, Penerbit Buku Kedokteran
bakteri Staphylococcus aureus. ECG; Jakarta.
Berdasarkan pada gambar 4.2,
menunjukan bahwa pada konsentrasi terendah Khusan, Pritiyantoro,W dan Slipranata,M,
yaitu (5% b/v) masih memiliki daya hambat 2012, Identifikasi dan Karakteristik
yang ditujukan dengan terbentuknya zona Fenotipe Staphylococcus Aureus Asal
hambat. Kasus Bumblefoot dan Arthritis Pada
Terbentuknya zona hambat seperti yang Boiler,J,Kedokteran Hewan Vol
diganbarkan dalam grafik (gambar 4.1), VI(2).
89
GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY

Manullang, L. 2010. Karakterisasi Simplisia, Soebagio, B., Rusdiana, T. dan Khairudin.


Skrining Fitokimia dan Uji 2007. Pembuatan Gel Dengan Aqupec
Toksisitas Ekstrak Kulit Umbi Bawang HV-505 dari Ekstrak Umbi Bawang
Merah (Alliicepaevar. Ascalonicum ) Merah (Allium cepa, L.) sebagai
dengan metode uji brine shrimp (bst). Antioksidan. Fakultas Farmasi,
Universitas Sumatera Utara Press. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Medan.
Syamsuni, 2007, Ilmu Resep, Buku
Sastrosupadi,A,1995, Rancangan Percobaan Kedokteran, Jakarta.
Praktis Untuk Bidang Pertanian,
Kamisius; Jakarta

90