Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

MENGANALISIS CARA KERJA ALAT OPTIK MENGGUNAKAN SIFAT


PENCERMINAN DAN PEMBIASAN CAHAYA OLEH CERMIN DAN
LENSA

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Fisika Sekolah II yang diampu oleh
Dosen : Dr. Muslim, M.Pd.

oleh:

Kelompok 7 :

Lutfyana Yusuf Pratama (1405491)

Muhammad Shidiq Permana (1500287)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2017
A. KOMPETENSI INTI
KI 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif
dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahuannya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait fenomena
dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
KI 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah kongkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah
secara mandiri dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah
keilmuan.

B. KOMPETENSI DASAR
KD 3.9 Menganalisis cara kerja alat optik menggunakan sifat pencerminan
dan pembiasan cahaya oleh cermin dan lensa.

C. INDIKATOR
1. Menganalisis pembiasan pada mata
2. Mengidentifikasi berbagai macam cacat mata dan penanggulangannya
3. Menganalisis prinsip kerja kamera
4. Menganalisis prinsip kerja lup
5. Menjelaskan pengertian mikroskop
6. Menganalisis sifat-sifat bayangan yang terbentuk pada mikroskop
7. Mengukur perbesaran pada mikroskop
8. Memformulasikan persamaan panjang mikroskop
9. Menjelaskan karakteristik pada teropong
10. Membedakan jenis-jenis teropong

D. MATERI POKOK
Alat Optik

E. MATERI ESSENSIAL
1. Cahaya
2. Pembiasan
3. Pemantulan
4. Titik Fokus
5. Perbesaran angular
6. Lensa
7. Cermin
8. Mata
9. Lup
10. Mikroskop
11. Teropong
F. BAGAN MATERI

Optika Mata

Miopi
Titik Dekat dan Titik
Mata Jauh Mata
Hipermetropi
Kamera Cacat Mata dan Cara
Menanggulanginya
Presbiopi
Sudut Penglihatan
Alat - Alat Optik

Lup Astigmatisma
Perbesaran Angular

Perbesaran
Mikroskop
Mikroskop
Panjang Mikroskop

Teropong Bintang

Teropong Pembias Teropong Bumi


Teropong
Teropong
Teropong Pemantul
Panggung

G. URAIAN MATERI
Optika Geometris
Ilmu Fisika yang mempelajari tentang cahaya disebut optika yang dibagi
menjadi dua, yaitu optika geometris dan optika fisis. Optika geometris
mempelajari tentang pemantulan dan pembiasan, sedangkan optika fisis
mempelajari tentang polarisasi interferensi, dan difraksi cahaya.
Alat-alat Optik
Penerapan cermin dan lensa dalam kehidupan sehari-hari adalah pada
peralatan optik, seperti mata, lup, mikroskop dan sebagainya. Pada bab ini
akan dipelajari cara kerja alat optik menggunakan sifat pencerminan dan
pembiasan cahaya oleh cermin dan lensa.
1. Mata

Gambar 1.1 Diagram Mata Manusia

Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk

SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Diagram mata sederhana ditunjukan pada Gambar 1.1 Bagian depan


mata memiliki lengkung yang lebih tajam dan dilapisi oleh selaput
cahaya, disebut kornea. Di belakang kornea terdapat cairan (aqueous
humor) yang berfungsi membiaskan cahaya yang masuk ke mata. Lebih
ke dalam lagi terdapat lensa terbuat dari bahan bening, berserat dan
kenyal, yang disebut lensa kristalin atau lensa mata, lensa ini berfungsi
mengatur pembiasan yang disebabkan oleh cairan di depan lensa.
Didepan lensa kristalin terdapat selaput yang membentuk celah
lingkaran. Selaput ini disebut iris dan berfungsi memberi warna kepada
mata. Oleh karena itu, kita mengenal ada orang yang bermata biru dan
coklat.
Celah lingkaran yang dibentuk oleh iris disebut pupil. Lebar pupil
diatur oleh iris sesuai dengan intensitas cahaya yang mengenai mata. Di
tempat yang gelap (intensitas cahaya kecil) pupil membesar supaya lebih
banyak cahaya yang masuk ke mata. Di tempat yang sangat terang
(intensitas cahaya besar) pupil mengecil supaya lebih sedikit cahaya yang
masuk ke mata, sehingga mata tidak silau.
Cahaya yang masuk ke mata difokuskan oleh lensa mata (lensa
kristalin) ke permukaan belakang mata yang disebut retina. Ketika
dirangsang oleh cahaya, sel-sel ini mengirim sinyal melalui saraf optik ke
otak. Di otak, arti bayangan diterjemahkan sehingga kita mendapat kesan
melihat benda. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa suatu bayangan nyata
benda dapat diterima dengan jelas jika bayangan tersebut jatuh di retina.
a. Optika Mata
Bayangan yang dibentuk pada retina adalah nyata, terbalik, dan
lebih kecil daripada bendanya (Gambar 1.2). Walaupun bayangan
pada retina terbalik, bayangan ini diinterpretasikan oleh otak sebagai
bayangan tegak.

Gambar 1.2(a) Ketika mata relaks (tidak berakomodasi), lensa mata paling
pipih sehingga jarak fokusnya paling besar dan benda yang sangat jauh di
fokuskan pada retina. (b) Ketika otot siliar menegang, lensa mata menjadi lebih
cembung sehingga jarak fokusya lebih pendek, dan benda yang dekat juga
difokuskan pada retina.
Sumber : Fisika Jilid 1 UntukSMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Agar benda terlihat jelas, maka mata harus membiaskan sinar-


sinar yang datang dari benda agar membantuk bayangan yang tajam
pada retina. Untuk mencapai retina, sinar-sinar yang berasal dari
benda harus melalui lima medium dengan indeks bias (n) berbeda,
yaitu udara (n = 1,00), kornea (n = 1,38), aqueous humor (n = 1,33),
lensa (rata-rata n = 1,40) dan vitreous humor (n = 1,34). Setiap kali
sinar melewati medium yang satu ke medium yang lainnya, sinar
tersebut dibiaskan pada bidang batas. Bidang batas tersebut
berfungsi untuk membentuk bayangan pada retina.
Sesuai dengan Hukum Snellius, maka presentase terbesar
pembiasan terjadi pada bidang batas udara-kornea yaitu sekitar 70%
hal ini dikarenakan perbedan indeks bias antara kedua medium
tersebut cukup besar (indeks bias udara n = 1,00 sedangkan indeks
bias kornea n = 1,38). Presentase pembiasan pada bidang batas
lainnya relatif lebih kecil. Sedangkan pembiasan pada lensa mata
sendiri hanya sekitar 20-25 % dari total pembiasan.
Mata memiliki jarak bayangan tetap, karena jarak antara lensa
dan retina sebagai layar selalu tetap. Agar benda-benda dengan jarak
yang berbada dapat difokuskan pada retina, maka jarak fokus lensa
harus bisa diatur. Pengaturan jarak fokus lensa dilakukan oleh otot
siliaris. Ketika mata melihat benda yang sangat jauh, otot siliar
mengendor penuh (relaksi) sehingga lensa mata paling pipih. Dengan
demikian, jarak fokusnya paling panjang. Dalam kondisi ini mata
disebut tidak berakomodasi dan sinar-sinar yang berasal dari benda
membentuk bayangan tajam pada retina seperti ditunjukan pada
Gambar 1.2a.
Ketika benda bergerak lebih mendekat ke mata, otot siliar secara
otomatis menegang sehingga lensa mata lebih cembung. Dengan
begitu, jarak fokus lebih pendek dan membuat bayangan tajam
kembali dibentuk pada retina (Gambar 1.2b). Proses lensa mengubah
jarak fokusnya (membuat lensa mata lebih cembung atau lebih pipih)
untuk keperluan memfokuskan benda-benda pada berbagai jarak
disebut akomodasi mata. Akomodasi mata terjadi sangat cepat
sehingga kita tidak menyadarinya.

b. Titik Dekat dan Titik Jauh Mata


Mata dapat melihat dengan jelas jika letak benda berada dalam
jangkauan penglihatan, yaitu di antara titik dekat mata (punctum
proximum) dan titik jauh mata (punctum remotum), seperti pada
Gambar 1.3.

Gambar 1.3 Jangkauan penglihatan (PP = Punctum Proximum dan PR = Punctum


Remotum)
Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013
Dapat diamati ketika memegang benda terlalu dekat dengan mata,
maka objek menjadi kabur karena lensa tidak dapat lagi mengatur
jarak fokus untuk memfokuskan objek. Titik paling dekat dengan
mata atau kondisi suatu benda dapat diletakan dan masih
menghasilkan suatu bayangan tajam pada retina ketika mata
berakomodasi maksimum (otot siliar menegang penuh) disebuk titik
dekat mata. Seorang yang berusia 20-an dengan mata normal
memiliki titik dekat kira-kira 25 cm. Titik dekat ini meningkat kira-
kira 50 cm pada usia 40-an dan 500 cm pada usia 60-an. Karena
umumnya bahan bacaan dipegang dengan jarak 25-30 cm maka
orang tua biasanya memerlukan kaca mata untuk mengatasi
penurunan daya akomodasi mata.
Titik jauh mata adalah lokasi paling jauh benda dengan mata
yang relaks (mata tidak berakomodasi) dapat memfokuskan benda.
Seseorang dengan mata normal dapat melihat benda-benda sangat
jauh, seperti bulan dan bintang-bintang, dan dengan demikian
memiliki titik jauh pada jarak tak berhingga.

c. Cacat Mata dan Cara Menanggulanginya


Ketidaknormalan pada mata disebut cacat mata atau aberasi.
Cacat mata dapat diatasi dengan memakai kacamata, lensa kontak,
atau melalui suatu operasi. Mata normal (ametropi) memeliki titik
dekat 25 cm dan titik jauh tak berhingga (Gambar 1.4). Jadi, mata
normal dapat melihat benda dengan jelas pada jarak paling dekat 25
cm dan paling jauh tak berhingga tanpa bantuan kacamata.

Gambar 1.4 Jangkauan penglihatan orang bermata normal


Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013
1) Rabun Jauh (miopi)

Gambar 1.5 Jangkauan penglihatan penderita rabun jauh


Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Rabun jauh atau terang-dekat memiliki titik dekat lebih kecil


dari 25 cm dan titik jauh pada jarak tertentu (Gambar 1.5).
Orang yang menderita rabun jauh dapat melihat dengan jelas
pada jarak 25 cm tetapi tidak dapat melihat benda-benda jauh
dengan jelas. Hal ini terjadi karena lensa mata tidak dapat
menjadi pipih sebagaimana mestinya sehingga bayangan yang
sangat jauh tidak terbentuk di depan retina (Gambar 1.6a)

Gambar 1.6 (a) Rabun jauh (b) Rabun jauh dibantu dengan kacamata lensa
cekung
Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Cacat mata rabun jauh (miopi) dapat diatasi dengan


menggunakan kacamata lensa cekung. Lensa cekung akan
memancarkan cahaya sebelum cahaya masuk ke mata (Gambar
1.6b) sehingga bayangan jatuh tepat pada retina.

2) Rabun dekat (hipermetropi)

Gambar 1.7 Jangkauan penglihatan penderita rabun dekat


Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013
Rabun dekat atau terang-jauh memiliki titik dekat lebih besar
daripada 25 cm dan titik jauh pada jarak tak terhingga (Gambar
1.7). Oleh karena itu, mata rabun dekat dapet melihat dengan
jelas benda-benda yang sangat jauh tanpa berakomodasi, tetapi
tidak dapat melihat benda-benda dekat dengan jelas. Keadaan ini
terjadi karena lensa mata tidak dapat menjadi cembung
sebagaimana mestinya sehingga bayangan benda yang dekat
terbentuk di belakang retina (Gambar 1.8a).

Gambar 1.8 (a) Rabun dekat (b) Rabun dekat dibantu dengan kacamata lensa
cembung
Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Cacat mata rabun dekat (hipermetropi) dapat diatasi dengan


menggunakan kacamata cembung. Lensa cembung akan
mengucupkan cahaya sebelum cahaya masuk ke mata (Gambar
1.8b) sehingga bayangan tepat jatuh pada retina.

3) Mata tua (presbiopi)


Penderita presbiopi memiliki daya akomodasi yang
berkurang akibat bertambahnya usia. Oleh karena itu, letak titik
dekat maupun titik jauh mata telah berubah. Jadi, mata tua
(presbiopi) adalah cacat mata akibat berkurangnya daya
akomodasi pada usia lanjut. Titik dekat presbiopi lebih dari 25
cm dan titik jauh presbiopi berada pada jarak tertentu Oleh
karena itu, penderita presbiopi tidak dapat melihat benda jauh
dengan jelas dan juga tidak dapat membaca pada jarak baca
normal.
Mata presbiopi ditolong dengan kacamata berlensa rangkap,
untuk melihat jauh dan untuk membaca. Jenis kacamata yang
berfungsi rangkap ini disebut kacamata bifokal.

Gambar 1.9 Mata presbiopi


Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

4) Astigmatisma
Cacat mata astigmatisma disebabkan oleh kornea mata yang
tidak berbentuk sferik (irisan bola), melainkan lebih melengkung
pada satu bidang daripada bidang lainnya (bidang silinder).
Akibatnya, benda titik difokuskan sebagai garis pendek. Seperti
ditunjukan pada Gambar 1.10, suatu lensa silindris
memfokuskan sebuah titik menjadi suatu garis yang sejajar
dengan sumbunya. Mata astigmatisma juga memfokuskan sinar-
sinar pada bidang vertikal lebih pendek daripada sinar-sinar
pada bidang horizontal. Cacat mata stigmatisma ditolong dengan
kacamata silindris.

Gambar 1.10 Sebuah lensa silindris membentuk sebuah bayangan garis dari
suatu benda dititik karena lensa silindris hanya konvergen pada suatu bidang.
Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013.

5) Lensa Kontak
Lensa kontak lunak atau yang dikenal dengan soft lens
adalah jenis lensa yang pembuatannya baru dilakukan pada
akhirakhir tahun 1950 dengan menggunakan poly hydroxyethyl
methacrylate (pHEMA), yaitu sejenis bahan polymer yang dapat
mengandung air. Air tersebut membuatkan lensa ini lembut dan
fleksibel, serta memungkinkan oksigen terus mencapai kornea.
Selain menggunakan kacamata, kontak lensa dapat
digunakan untuk mengatasi beberapa masalah pengelihatan atau
cacat pada mata. Beberapa bentuk lensa kontak antara lain
adalah:
Lensa kontak sferis: berbentuk bundar, digunakan untuk
penderita miopia (rabun dekat) atau hiperopia (rabun jauh).
Lensa kontak bifokal: lensa kontak yang digunakan untuk
melihat dekat sekaligus untuk melihat (mirip dengan cara
kerja kacamata bifokal). Lensa ini biasanya digunakan
untuk memperbaiki presbiopia, yaitu gangguan penglihatan
akibat usia tua.
Lensa ortokeratologi: yaitu lensa yang didisain untuk
memperbaiki bentuk kornea. Digunakan hanya di malam
hari. Saat ini lensa ortokeratologi didesain khusus, di mana
lensanya menekan kornea agar agak datar sehingga
minusnya bisa terkoreksi.

Gambar 1.11 Lensa Kontak


Sumber : medkes.com/2015/06/jenis-fungsi-risiko-lensa-kontak.html

Cara kerja lensa kontak mirip dengan cara kerja pada


kacamata, lensa kontak mengubah arah sinar cahaya untuk
memfokuskannya ke arah yang benar pada retina. Misalnya pada
seorang penderita rabun jauh, fokus sinar cahaya yang masuk
jatuh di depan retina, namun jatuh tidak tepat pada retina itu
sendiri. Lensa kontak memperbaiki rabun jauh dengan
mengarahkan sinar cahaya yang mengurangi fokus pada mata,
sehingga sinar cahaya jatuh pada tempat yang seharusnya
menerima cahaya, yaitu retina.

2. Kamera
a. Kamera Analog
Kamera analog adalah salah satu kategori kamera yang dalam
teknik pengambilan gambarnya, masih menggunakan film seluloid.
Film seluloid ini mempunyai tiga buah elemen dasar, yaitu elemen
optikal yang berupa berbagai macam lensa, elemen kimia berupa film
seluloid itu sendiri, serta elemen mekanik yang berupa badan dari
kamera itu sendiri.

b. Kamera Digital
Kamera jenis ini merupakan kamera yang dapat bekerja tanpa
menggunakan film. Keutamaan dari kamera ini adalah adanya
memori penyimpanan dalam bentuk digital yang terbuat dari unsur
kimia. Sebagai media penyimpanan, kamera digital menggunakan
internal memory ataupun external memory yang menggunakan
memory card.
Cara kerja kamera ini ada pada CCD (Charge Coupled Device)
yang menyerap cahaya dari objek yang dibidik. Disini cahaya diubah
menjadi titik-titik yang jumlahnya mencapai ribuan, bahkan jutaan.
Titik itu kemudian membentuk suatu foto. Jika titik yang didapat
banyak dan rapat, maka gambar akan bagus dan padat, begitu juga
sebalinya. Jumlah titik ini ditentukan oleh resolusi kamera.
c. Prinsip Kerja Kamera
Pada dasarnya prinsip kerja kamera mirip dengan kerja mata.
Perhatikan bagian-bagian kamera dan mata berikut ini :

Gambar 2.1 Bagian kamera dan mata


Sumber : Prinsip Kerja Kamera Digital, Universitas Syiah Kuala, 2013

Lensa pada kamera memiliki fungsi yang sama dengan lensa mata
yaitu untuk membentuk bayangan pada film.
Aperture (celah diafragma) fungsinya sama dengan pupil mata
yaitu untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam
kamera. Diafragma kamera memiliki fungsi yang sama dengan
iris yakni untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk atau
mengatur besar kecilnya aperture.
Film berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk oleh
lensa, film pada kamera memiliki fungsi yang sama dengan retina
pada mata kita.
Perbedaannya terdapat pada cara memfokuskan bayangan.
Pemfokusan pada mata dilakukan oleh lensa mata yang memiliki
daya akomodasi untuk mencembung dan memipihkan lensa. Pada
kamera, jarak fokus lensa tetap. Pemfokusan dilakukan dengan
mengubah-ubah jarak bayangan sesuai dengan jarak benda yang
difoto. Jarak bayangan yaitu jarak antara film dan lensa, agar
bayangan terbentuk pada film tersebut.

Gambar 2.2 Diagram sebuah kamera


Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Cara kerja kamera secara umum yaitu, benda yang hendak difoto
harus berada di depan lensa kamera. Ketika diafragma dibuka, cahaya
yang melewati benda masuk melalui aperture (celah diafragma)
menuju lensa mata. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera
menentukan ketajaman foto yang dihasilkan. Apabila cahaya terlalu
terang, aperture dibuka kecil. Sebaliknya jika cahaya redup, aperture
dibuka lebar. Kemudian lensa mata akan membentuk bayangan
benda, agar bayangan benda jatuh tepat pada film dengan jelas maka
letak lensa harus digeser-geser mendekati atau menjauhi film.
Menggeser-geser lensa pada kamera, seperti mengatur jarak fokus
lensa pada mata (akomodasi).
Seperti halnya mata bayangan yang dibentuk oleh lensa kamera
adalah nyata, terbalik, dan diperkecil. Pada kamera yang berfungsi
untuk menangkap bayangan adalah film, dan intensitas cahaya yang
masuk ke kamera diatur oleh celah diafragma (aperture).

d. Prinsip Kerja Kamera Digital

Gambar 2.1 Bagian kamera dan mata


Sumber : Prinsip Kerja Kamera Digital, Universitas Syiah Kuala, 2013

Prinsip kerja kamera digital yaitu: kamera digital menangkap gambar


dari obyek untuk selanjutnya dibiaskan melalui lensa kepada sensor
CCD (Charge couple Device) atau CMOS (Complemenary Metal
Oxide Semiconductor) yang hasilnya kemudian direkam dalam
format digital ke dalam media simpan digital.
Proses penangkapan gambar pada kamera digital dilakukan oleh 2
jenis perangkat yang memiliki cara kerja yang berbeda yaitu CCD
dan CMOS.
CCD (Charge Couple Device)
CCD merupakan chip silikonyang terbentuk dari ribuan atau
bahkan jutaan dioda fotosensitif yang disebut photosites,
photodelements, atau disebut juga piksel. Tiap photosite
menangkap satu titik objek kemudian dirangkai dengan hasil
tangkapan photosite lain menjadi satu gambar.
CMOS (Complemenary Metal Oxide Semiconductor)
CMOS merupakan teknologi pemudar gambar yang
dikembangkan oleh Water Foundry Fab. Sensor-sensor cahaya
menerima cahaya kemudian diubah langsung menjadi data
digital.

3. Lup
a. Ukuran Angular atau Sudut Penglihatan

Gambar 3.1 Semakin besar ukuran angular benda, semakin besar bayangan
yang dibentuk pada retina.
Sumber : Fisika Jilid 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, 2013

Berdasarkan Gambar 3.1 benda OA, OB, dan OC, memiliki


ukuran angular berturut-turut 1, 2, dan 3 dengan 1 < 2< 3.
Bayangan yang dibentuk oleh lensa mata pada retina adalah OA1,
OA2, dan OA3 dengan OA1 < OA2 < OA3. Jadi benda OA yang
terletak paling jauh menghasilkan bayangan OA1 di retina yang
tampak paling kecil karena ukuran angularnya (1) paling kecil.
Jadi dapat disimpulkan ukuran angular berfungsi dalam memberi
kesan besar benda yang dililat oleh mata. Benda yang besar
sekalipun dapat tampak sangat kecil jika benda tersebut berada
sangat jauh dari mata. Ukuran angular ada batasnya, titik terdekat
dari mata hingga bayangan suatu benda masih tampak jelas disebut
titik dekat mata (20-30 cm).
b. Perbesaran Angular (Perbesaran Sudut) pada Lup
Perbesaran angular (Ma) didefinisikan sebagai perbandingan antara
ukuran angular benda yang dilihat dengan menggunakan alat optik
() dan ukuran angular benda yang dilihat tanpa menggunakan alat
optik ().

=

4. Mikroskop

Gambar 4.1 Bagian-bagian mikroskop

Sumber : Fisika 1, Pusat Perbukuan


Departemen Pendidikan Indonesia,
2009

Mikroskop merupakan suatu alat yang digunakan agar melihat benda-


benda kecil sehingga tampak lebih jelas dan besar. Mikroskop terdiri atas
dua buah lensa cembung. Lensa yang dekat dengan benda yang diamati
(objek) disebut lensa objektif dan lensa yang dekat dengan pengamat
disebut lensa okuler.
Karena mikroskop terdiri atas dua lensa positif, maka lensa
objektifnya dibuat lebih kuat daripada lensa okuler (fokus lensa objektif
lebih pendek daripada fokus lensa okuler). Jarak fokus lensa okuler lebih
besar daripada jarak fokus lensa objektif. Hal ini dimaksudkan agar
benda yang diamati kelihatan sangat besar dan mikroskop dapat dibuat
lebih praktis (lebih pendek).
Fungsi mikroskop mirip dengan lup, yakni untuk melihat objek-objek
kecil. Akan tetapi, mikroskop dapat digunakan untuk melihat objek yang
jauh lebih kecil lagi karena perbesaran yang dihasilkannya lebih berlipat
ganda dibandingkan dengan lup. Pada mikroskop, objek yang akan
diamati harus diletakkan di depan lensa objektif pada jarak antara fob dan
2fob sehingga bayangannya akan terbentuk pada jarak lebih besar dari 2fob
di belakang lensa objektif dengan sifat nyata dan terbalik. Bayangan pada
lensa objektif dipandang sebagai objek oleh lensa okuler dan
terbentuklah bayangan pada lensa okuler. Agar bayangan pada lensa
okuler dapat dilihat atau diamati oleh mata, bayangan ini harus berada di
depan lensa okuler dan bersifat maya. Hal ini dapat terjadi jika bayangan
pada lensa objektif jatuh pada jarak kurang dari fok dari lensa okuler.
Proses terbentuknya bayangan pada mikroskop, seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 4.2. Pada Gambar 4.2 terlihat bahwa
bayangan akhir yang dibentuk oleh mikroskop bersifat maya, terbalik,
dan diperbesar. (Saripudin, 2009 : 96)

fob fok 2fob


2fob fob
Mata

Objektik Okuler

Gambar 4.2 Bayangan yang dibentuk microskop


Sumber : Praktis Belajar Fisika, Pusat Perbukuan Departemen pendidikan Indonesia,
2009

Maka diperoleh sifat-sifat bayangan yang terbentuk pada mikroskop


sebagai berikut.
a) Bayangan yang dibentuk lensa objektif adalah nyata, terbalik, dan
diperbesar.
b) Bayangan yang dibentuk lensa okuler adalah maya, tegak, dan
diperbesar.
c) Bayangan yang dibentuk mikroskop adalah maya, terbalik, dan
diperbesar terhadap bendanya.

Pada persamaan perbesaran lup untuk mata tak berakomodasi ( = ),

seakan-akan perbesaran angular dapat diperbesar sekehendak kita dengan


cara memperkecil jarak fokus lensa (f).
a. Perbesaran Mikroskop
Karena mikroskop disusun oleh dua buah lensa, yaitu lensa
objektif dan lensa okuler, maka perbesaran total mikroskop tentu
sama dengan hasil kali dari kedua perbesaran lensa ini.
Untuk lensa objektif, perbesaran yang dialami benda adalah
perbesaran linear, sehingga rumus perbesaran objektif Mob, persis
sama dengan rumus perbesaran linear lensa tipis, yaitu :
Perbesaran lensa objektif


= =

Keterangan :
hob = tinggi bayangan ;
hob = tinggi benda ;
sob = jarak bayangan objektif ;
sob = jarak benda objektf.

Karena lensa okuler berfungsi seperti lup, yaitu 0 < sok fok, maka
rumus perbesaran okuler Mok, persis seperti rumus perbesaran
angular lup, yaitu

=

Perbesaran total yang dihasilkan mikroskop merupakan perkalian
antara perbesaran yang dihasilkan oleh lensa objektif dan perbesaran
sudut yang dihasilkan oleh lensa okuler. Secara matematis,
perbesaran total yang dihasilkan mikroskop ditulis sebagai berikut.

M = Mob Mok
Keterangan :
M = perbesaran total yang dihasilkan mikroskop,
Mob = perbesaran yang dihasilkan lensa objektif, dan
Mok = perbesaran sudut yang dihasilkan lensa okuler.

Perbesaran yang dihasilkan oleh lensa objektif memenuhi persamaan


berikut.

=

Sedangkan perbesaran sudut yang dihasilkan lensa okuler mirip


dengan perbesaran sudut lup, yakni, untuk pengamatan tanpa
akomodasi persamaannya adalah :

=

Dan untuk pengamatan dengan berakomodasi maksimum :

= +1

b. Panjang Mikroskop
Jarak antara lensa objektif dan lensa okuler menentukan panjang
pendeknya sebuah mikroskop. Panjang mikroskop atau jarak antara
lensa objektif dan lensa okuler sama dengan jarak bayangan objektif
ke lensa objektif ditambah jarak bayangan objektif tadi ke lensa
okuler atau secara matematis dituliskan

d = S'ob + Sok
Keterangan :
d = panjang mikroskop,
S'ob = jarak bayangan lensa objektif ke lensa objektif
Sok = jarak bayangan objektif ke lensa okuler.
Untuk pengamatan mikroskop dengan mata tidak berakomodasi,
bayangan objektif harus jatuh di titik fokus okuler, sehingga panjang
mikroskop (d) dinyatakan oleh

d = sob + fok

c. Teropong
Teropong atau teleskop merupakan
alat optik yang digunakan untuk
melihat objek-objek yang sangat
jauh agar tampak lebih dekat dan
jelas. Pada kebanyakan kasus di
dalam penggunaan teropong, benda
bisa dianggap berada pada jarak tak
berhingga. Benda-benda langit,
seperti bulan, planet, dan bintang
dapat diamati dengan bantuan
teropong. Dengan adanya teropong,
banyak hal-hal yang berkaitan
Gambar 5.1 Teropong
Sumber : Fisika Jilid 2, Erlangga, dengan luar angkasa telah
2001
ditemukan.
Teropong tersusun oleh dua lensa utama seperti mikroskop. Lensa
yang dekat objek juga diberi nama lensa objektif dan yang dekat
mata lensa okuler. Lensa okuler pun punya sifat yang sama yaitu
berfungsi sebagai lup.
Secara umum ada dua jenis teropong, yaitu teropong bias
(Keplerian) dan teropong pantul. Perbedaan antara keduanya terletak
pada objektifnya. Pada teropong bias, objektifnya menggunakan
lensa, yakni lensa objektif, sedangkan pada teropong pantul
objektifnya menggunakan cermin.
i. Teropong atau Teleskop Pembias (Keplerian)

Gambar 5.2 Diagram pembentukan bayangan pada teleskop pembias

Sumber : Fisika, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Indonesia, 2009

Teleskop pembias terdiri dari dua lensa konvergen (lensa


cembung) yang berada pada ujung-ujung berlawanan dari
tabung yang panjang, seperti diilustrasikan pada Gambar 5.2.
Lensa yang paling dekat dengan objek disebut lensa objektif
dan akan membentuk bayangan nyata I1 dari benda yang jatuh
pada bidang titik fokusnya fob (atau didekatnya jika benda tidak
berada pada tak berhingga). Walaupun bayangan I1 lebih kecil
dari benda aslinya, ia membentuk sudut yang lebih besar dan
sangat dekat ke lensa okuler, yang berfungsi sebagai pembesar.
Dengan demikian, lensa okuler memperbesar bayangan yang
dihasilkan oleh lensa objektif untuk menghasilkan bayangan
kedua yang jauh lebih besar I2, yang bersifat maya dan
terbalik.
Jika mata yang melihat rileks (tak berakomodasi), lensa
okuler dapat diatur sehingga bayangan I2 berada pada tak
berhingga. Kemudian bayangan nyata I1 berada pada titik
fokus f'ok dari okuler, dan jarak antara lensa objektif dengan
lensa okuler adalah d = fob + f 'ok untuk benda pada jarak tak
berhingga.
Perbesaran total dari teleskop dapat diketahui dengan

melihat bahwa , di mana h adalah tinggi bayangan I1

dan kita anggap kecil, sehingga tan . Kemudian garis


yang paling tebal untuk berkas sinar sejajar dengan sumbu
utama tersebut, sebelum jatuh pada okuler, sehingga melewati

titik fokus okuler fok, berarti ' .

Perbesaran anguler (daya perbesaran total) teleskop adalah:


= =

Tanda minus (-) untuk menunjukkan bahwa bayangan yang


terbentuk bersifat terbalik. Untuk mendapatkan perbesaran
yang lebih besar, lensa objektif harus memiliki panjang fokus
(fob) yang panjang dan panjang fokus yang pendek untuk
okuler (fok).
Ada empat macam teropong bias yang akan dibahas yaitu,
Teropong bintang atau teropong astronomi
Teropong Bumi
Teropong panggung atau teropong Galileo

ii. Teropong Bintang (Teropong Astronomi)


Teropong bintang menggunakan dua lensa cembung,
masing-masing sebagai lensa objektif dan lensa okuler dengan
jarak fokus objektif lebih besar daripada jarak fokus okuler
(fob>fok).

Gambar 5.3 Pembentukan bayangan oleh teropong bintang

Sumber : Fisika, Erlangga, 2013

Benda-benda yang diamati letaknya sangat jauh sehingga


sinar-sinar sejajar menuju ke lensa objektif. Dua kumpulan
sinar-sinar sejajar yang berasal dari bagian atas bintang (T) dan
bagian bawah bintang (B) membentuk bayangan nyata dan
terbalik B1T1 dibidang fokus lensa objektif. Selanjutnya, B1T1
dilihat oleh lensa okuler sebagai benda.
Pengamatan bintang-bintang dilakukan selama berjam-
jam, maka agar mata tidak lelah, pengamatan dilakukan
dengan mata tak berakomodasi. Untuk mencapainya, bayangan
lensa objektif harus diletakan didepan fokus lensa okuler. Ini
berarti titik fokus objektif berimpit dengan titik fokus lensa
okuler.
Tanpa teropong, mata akan melihat dengan ukuran angular
. Dengan teropong, mata akan melihat dengan ukuran angular
. Jadi perbesaran teropong bintang adalah

=

Untuk sinar-sinar paraksial, nilai sudut dalam radian


hampir sama dengan nilai tangennya.
Pada segitiga siku-siku OobB1T1
1 1
tan =

Pada segitiga siku-siku OobB1T1


1 1
tan =

Jadi, perbesaran teropong adalah


1 1

Ma = = 1 1 =

Maka perbesaran sudut dan panjang teropong bintang


memenuhi persamaan-persamaan sebagai berikut:
Untuk mata tak terakomodasi

M= dan d = fob+ fok

Untuk mata berakomodasi maksimum (S'ok = Sn)


M= dan d = fob + Sok

iii. Teropong Bumi
Teropong bumi menggunakan tiga jenis lensa cembung.
Lensa yang berada di antara lensa objektif dan lensa okuler
berfungsi sebagai lensa pembalik, yakni untuk pembalik
bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif. Karena bayangan
akhir yang dihasilkan oleh lensa okuler pada teropong bintang
terbalik terhadap arah benda semula. Jika benda-benda yang
diamati adalah benda-benda langit, bayangan terbalik tidak
menjadi masalah. Tetapi jika mengamati benda bumi,
bayangan akhir harus tegak terhadap arah benda semula. Hal
ini bisa didapat dengan 2 cara yaitu :
a) Menggunakan lensa cembung ketiga yang disisipkan
diantara lensa objektif dan lensa okuler.
b) Menggunakan pasangan lensa cembung sebagai lensa
objektif dan lensa cekung sebagai lensa okuler.

Teropong bumi menggunakan cara 1 untuk menghasilkan


bayangan akhir yang tegak terhadap arah semula. Dengan
disisipkannya lensa pembalik yang memiliki jarak fokus fp,
teropong bertambah panjang. Tampak pada gambar 5.4
panjang teropong bertambah 4 fp, Sehingga persamaan panjang
teropong adalah :

d = fob + fok + 4fp

Gambar 5.4 Pembentukan bayangan oleh


teropong bumi
Benda yang diamati oleh lensa objektif sangat jauh,
sehingga sinar-sinar yang datang ke titik fokus objektif sejajar.
Sinar sejajar ini membentuk bayangan terbalik I1 tepat dititik
fokus objektif fob. Bayangan terbalik I1 jatuh tepat di 2fp lensa
pembalik, sehingga oleh lensa pembalik dihasilkan bayangan I2
yang sama besar dan terbalik terhadap I1. Untuk mata tidak
berakomodasi, I2 harus diletakan di titik fokus lensa okuler fok.
Tampak bayangan akhir yang dibentuk lensa okuler tegak
terhadap benda semula.
Maka perbesaran dan panjang teropong bumi untuk mata
tak berakomodasi berturut- turut memenuhi persamaan:

= dan d = fob+ fok + 4fp

dengan fp = jarak fokus lensa pembalik.

iv. Teropong Panggung (Teropong Galileo)


Teropong panggung atau teropong Galileo menggunakan
sebuah lensa cembung sebagai objektif dan sebuah lensa
cekung sebagai okuler agat terjadi pembalikan bayangan.
Diagram sinar pembentukan bayangan pada teropong
panggung adalah seperti pada Gambar 5.5.

Gambar 5.5 Pembentukan bayangan oleh teropong panggung

Sumber : Fisika, Erlangga, 2013


Sinar-sinar sejajar yang datang ke lensa objektif membentuk
bayangan X, tepat dititik fokus objektif. Bayangan X
merupakan benda maya bagi lensa okuler, supaya mata tidak
berakomodasi, benda maya X harus tepat dititik fokus lensa
okuler. Akhirnya, sinar-sinar sejajar keluar dari lensa okuler
menuju ke mata menghasilkan bayangan tegak dititik tak
hingga. Akibatnya, mata tidak cepat lelah.
Perbesaran dan panjang teropong panggung untuk mata tak
berakomodasi berturut-turut memenuhi persamaan:

= || dan d = fob + 4fp + fok

Oleh karena lensa okulernya adalah lensa cekung maka fok


bertanda negatif.

v. Teropong Pemantul

Sebelumnya telah disebutkan


bahwa untuk membuat teleskop
pembias (teleskop astronomi)
berukuran besar diperlukan
konstruksi dan pengasahan lensa
besar yang sangat sulit. Untuk
mengatasi hal ini, umumnya
teleskop-teleskop paling besar
merupakan jenis teleskop pemantul
yang menggunakan cermin cekung
Gambar 5.6 Cermin cekung
sebagai objektif (Gambar 5.6),
digunakan sebagai objektif
pada teleskop astronomi karena cermin hanya memiliki satu
Sumber : Fisika, Pusat permukaan sebagai dasarnya dan
Perbukuan Departemen dapat ditunjang sepanjang
Pendidikan Indonesia, 2009
permukaannya.
Keuntungan lain dari cermin sebagai objektif adalah tidak
memperlihatkan aberasi kromatik karena cahaya tidak
melewatinya.
Selain itu, cermin dapat menjadi dasar dalam bentuk
parabola untuk membetulkan aberasi sferis. Teleskop pemantul
pertama kali diusulkan oleh Newton. Biasanya lensa atau
cermin okuler, tampak seperti pada Gambar 5.6 dipindahkan
sehingga bayangan nyata yang dibentuk oleh cermin objektif
dapat direkam langsung pada film.
H. DAFTAR PUSTAKA
Handayani, Sri dkk. 2009. Fisika Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta : Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Heiting, Gary. 2016. How Do ContactWork. [Online]. Tersedia:
http://www.allaboutvision.com/contacts/faq/how-contacts-work.htm
Kanginan, Marteen. 2013. Fisika Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Erlangga.
Karyono, dkk. 2009. Fisika Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta : Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Medkes, Team. 2015. Jenis, Fungsi, dan Resiko Menggunakan Lensa Kontak.
[Online]. Tersedia: http://www.medkes.com/2015/06/jenis-fungsi-
risiko-lensa-kontak.html
Nuracmandani, Setya. 2009. Fisika 1 Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Tipler, Paul A. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.
Saripudin, Aip dkk. 2009. Praktis Belajar Fisika. Jakarta : Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.