Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konsep dan Teori Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan


Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang
berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama. Kawasan perkotaan (urban)
adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kota dapat diartikan yang lain
sebagai suatu daerah yang memiliki gejala pemusatan penduduk yang merupakan suatu
perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis sosial, ekonomi, kultur,
yang terdapat di daerah tersebut dengan adanya pengaruh timbal balik dengan daerah-
daerah lainnya (Bintarto, 2000). Masyarakat urban dapat disimpulkan sebagai massa yang
didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya untuk menjadi lebih
baik.Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat
dengan mengikutsertakan tim kesehatan lain dan masyarakat untuk memperoleh tingkat
kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 2004).
Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa unsurunsur perawatan kesehatan masyarakat
adalah 1) Bagian integral dari pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan; 2) Merupakan
bidang khusus dari keperawatan; 3) Gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan
masyarakat dan ilmu sosial; 4) Sasaran pelayanan adalah individu, kelompok, masyarakat
yang sehat maupun sakit; 5) Ruang lingkup kegiatan adalah promotif, prefentif, kuratif,
rehabilitatif, resosialitatif; 6) Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan
derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.Keperawatan kesehatan masyarakat
mamiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari keperawatan ini adalah
meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat
kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan kapasitas
yeng mereka miliki. Sedangkan tujuan khusus dari keperawatan kesehatan masyarakat
adalah meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan
masyarakat dalam hal mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi,
menetapkan masalah kesehatan/ keperawatan dan prioritas masalah, merumuskan berbagai
alternatif pemecahan masalah kesehatan/ keperawatan,menanggulangi masalah kesehatan/
keperawatan yang mereka hadapi, meningkatkan kemampuan dalam memelihara
kesehatan secara mandiri (self care), serta tertanganinya kelompok-kelompok risiko tinggi
yang rawan terhadap masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004).Keperawatan
kesehatan masyarakat cakupannya sangat luas, tidak hanya menangani suatu permasalahan
yang membutuhkan adanya penyembuhan dari suatu penyakit tetapi juga adanya upaya
pencegahan. Oleh karena itu di lingkup keperawatan kesehatan masyarakat mencakup
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan
pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitative dan mengembalikan serta
memfungsikan kembali baik individu, keluarga dan kelompok-kelompok masyarakat ke
lingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif) (Stanhope & Lancaster, 2004).
B. Sejarah Perkembangan dan Karakteristik Kota (Urban)
Masyarakat perkotaan tentunya memiliki perbedaan dengan masyarakat yang lain. Mereka
memiliki ciri dan karakter tersendiri yang membuat mereka memerlukan ruang lingkup area
tersendiri dalam bidang keperawatan. Menurut Prof. Drs. R. Bintarto, kota adalah suatu
sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggu, strata sosial
ekonomi yang heterogen dan corak kehidupan yang materialistik (Bintarto, 2000).Sebelum
kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota sebagai suatu tempat
orang pulang balik untuk berjumpa secara teratur, terdapat semacam daya tarik pada
penghuni luar kota untuk kegiatan rohaniah dan perdagangan serta kegiatan lain,
penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar setempat
dan ciri kota ada pasarnya. Dalam suatu kota diisi oleh suatu golongan spesialis non agraris
dan yang berpendidikan dan merupakan sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai
oleh strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis. Sedangkan masyarakat
perkotaan adalah masyarakat yang tinggal di kota yaitu di wilayah yang memiliki kegiatan
utama bukan pertanian dan biasanya mereka tinggal di kota bertujuan untuk memperbaiki
hidup mereka. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community, oleh karena itu
urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Gejala urbanisasi di sebuah kota
dapat dilihat dari jumlah penduduk yang terus berubah (bertambah) dan terjadi perubahan
pada tatanan masyarakat (Bintarto, 2000).Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan ini
termasuk dalam lingkup keperawatan komunitas. Karena masyarakat perkotaan merupakan
komunitas yang tinggal di daerah perkotaan dengan semua keadaan dan kondisi yang ada di
lingkungan kota. Keperawatan masyarakat perkotaan memiliki 8 karakteristik dan
merupakan hal yang penting dalam melakukan praktik (Allender & Spredley, 2005), yaitu 1)
Merupakan lahan keperawatan; 2) Merupakan kombinasi antara keperawatan publik dan
keperawatan klinik; 3) Berfokus pada populasi; 4) Menekankan terhadap pencegahan akan
penyakit serta adanya promosi kesehatan dan kesejahteraan diri; 5) Mempromosikan
tanggung jawab klien dan self care; 6) Menggunakan pengesahan/ pengukuran dan analisa;
7) Menggunakan prinsip teori organisasi; 8) Melibatkan kolaborasi interprofesional. Perawat
kesehatan masyarakat perkotaan memiliki peran dalam mengelola perawatan kesehatan
dalam perkotaan tersebut serta menjadi pendidik kesehatan dalam masyarakat tersebut.
C. Peran Perawat dalam Keperawatan Kesehatan Perkotaan
Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat meliputi: upaya-upaya peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan
(kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan
kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan
masyarakatnya (resosialisasi). Kegiatan praktik keperawatan komunitas yang dilakukan
perawat mempunyai lahan yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan
kesehatan wilayah kerja perawat, tetapi secara umum kegiatan praktik keperawatan
komunitas adalah sebagai berikut pertama yaitu memberikan asuhan keperawatan langsung
kepada individu, keluarga, kelompok khusus baik di rumah (home nursing), di sekolah
(school health nursing), di perusahaan, di Posyandu, di Polindes dan di daerah binaan
kesehatan masyarakat. Kedua Penyuluhan/ pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka
merubah perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (Stanhope & Lancaster,
2004). Ketiga konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi. Keempat
bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang mereka hadapi. Kelima
melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Keenam penemuan kasus pada tingakat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Ketujuh sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan.
Kedelapan melaksanakan asuhan keperawatan komuniti, melalui pengenalan masalah
kesehatan masyarakat, perencanaan kesehatan, pelaksanaan dan penilaian kegiatan dengan
menggunakan proses keperawatan sebagai suatu usaha pendekatan ilmiah keperawatan.
Kesembilan mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan komuniti.
Kesepuluh Mengadakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi terkait
dan terakhir memberikan ketauladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan dan kesehatan
(Stanhope & Lancaster, 2004).
D. Remaja
Pengertian Remaja Remaja adalah periode perkembangan selama dimana individu
mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, biasanya antara usia 13
dan 20 tahun. Istilah adolesens biasanya menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika
pubertas menunjukkan titik dimana reproduksi mungkin dapat terjadi. Perubahan hormonal
pubertas mengakibatkan perubahan penampilan pada orang muda, dan perkembangan
mental mengakibatkan kemampuan untuk menghipotesis dan berhadapan dengan abstraksi
(Potter & Perry, 2005). Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran. Bukan saja
kesukaran bagi individu, tetapi juga bagi orang tuanya, masyarakat bahkan sering kali pada
aparat keamanan. Hal ini disebabkan masa remaja merupakan masa transisi antara kanak-
kanak dan masa dewasa. Masa transisi ini sering kali menghadapkan individu yang
bersangkutan kepada situasi yang membingungkan, disatu pihak ia masih kanak-kanak,
tetapi dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa (Purwanto, 1999). Menurut
Purwanto (1999), tingkat-tingkat perkembangan dalam masa remaja dapat dibagi dengan
berbagai cara. Salah satu pembagian yang dilakukan oleh Stolz adalah sebagai berikut: a.
Masa prapuber: satu atau dua tahun sebelum masa remaja yang sesungguhnya. Anak
menjadi gemuk, pertumbuhan tinggi badan terhambat sementara. b. Masa puber atau masa
remaja: perubahan-perubahan sangat nyata dan cepat. Dimana anak wanita lebih cepat
memasuki masa ini dari pada pria. Masa ini lamanya berkisar antara 2,5 3,5 tahun. c. Masa
postpuber: pertumbuhan yang cepat sudah berlalu, tetapi masih nampak perubahan-
perubahan tetap berlangsung pada beberapa bagian badan. d. Masa akhir puber:
melanjutkan perkembangan sampai mencapai tandatanda kedewasaan. Sedangkan menurut
Purwanto (1999), periode remaja adalah periode yang dianggap sebagai masa yang amat
penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam perkembangan kepribadian individu.
Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat
dewasa, dimana usia anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua
melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak
(Hurlock, 1998).Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa
dewasa, seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagain kanak-kanak namun
masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Pada masa ini remaja relatif
belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi
tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak perubahan-perubahan
dalam pertumbuhan dan perkembangan yang dialami remaja, mencakup fisik, mental, emosi
dan perilaku sosial. Oleh karena itu, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah-
masalah psikologis dan fisiologis. Masalah tersebut yang akan berakibat pada masalah
kesehatan pada remaja (Santrock, 2007). Masalah-masalah yang terjadi pada remaja tidak
dapat terlepas dari pengaruh interaksi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial
terhadap berkembangnya masalah-masalah remaja dan orang-orang yang berasal dari
berbagai usia lainnya. Menurut pendekatan biologis, masalah yang terjadi pada remaja
dapat berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Sedangkan faktor-faktor
psikologis yang dianggap sebagai sebab timbulnya masalah remaja adalah gangguan
berpikir, gejolak emosional, proses belajar yang keliru, dan relasi yang bermasalah.
Selanjutnya faktor sosial yang melatarbelakangi timbulnya masalah pada remaja yaitu
berasal dari latar belakang budaya, sosial-ekonomi, latar belakang keluarga, dan lingkungan
(Santrock, 2007). Sebelum memahami remaja dan permasalahannya, kita harus terlebih
dahulu memahami karakteristik psikososial yang dialami oleh remaja. Menurut Depkes RI
(1999) dalam Purwanto (1999) dijelaskan bahwa perkembangan psikososial remaja dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu perkembangan psikososial remaja awal (10-14 tahun), remaja
pertengahan (15-16 tahun), dan remaja akhir (17-19 tahun). 1. Remaja Awal (10 -14 tahun)
Masa remaja awal merupakan masa transisi dari masa anak-anak yang biasanya tidak
menyenangkan, dimana dengan meningkatnya kesadaran diri (self consciousness) terjadi
juga perubahan secara fisik, psikis maupun sosial pada remaja sehingga remaja mengalami
perubahan emosi ke arah yang negatif menjadi mudah marah, tersinggung bahkan agresif.
Selain hal tersebut, remaja juga menjadi sulit bertoleransi dan berkompromi dengan
lingkungan sekitar sehingga cenderung memberontak dan terjadi konflik.Masa remaja awal
ini juga remaja senang bereksperimen dalam pakaian, gaya yang dianggap tidak ketinggalan
zaman dan senang membentuk kelompok sebaya yang sesuai dengan mereka. Rasa
keterikatan dengan kelompoknya ini sangat penting bagi remaja, sehingga cenderung
mengikuti apa yang dipakai oleh kelompoknya karena keinginan untuk tampak sama dan
dianggap dalam kelompok pergaulan. Konsumsi obat (narkoba) juga dapat berkaitan dengan
alasan sosial, yang membantu remaja merasa lebih nyaman dan menikmati kebersamaan
dengan orang lain (Ksir, Hart, & Ray dalam Santrock, 2007).2. Remaja Pertengahan (15 16
tahun) Remaja pertengahan terjadi pada usia 15-16 tahun, pada tahap ini biasanya remaja
lebih mudah untuk diajak bekerjasama karena mampu berkompromi, tenang, sabar, lebih
toleran untuk menerima pendapat orang lain. Saat ini remaja lebih belajar untuk berfikir
independen dan menolak campur tangan orang lain termasuk orang tua. Remaja juga mulai
terfokus pada diri sendiri, mudah bersosialisasi, tidak lagi pemalu dan mulai membutuhkan
lebih banyak teman bersifat solidaritas bahkan mulai membina hubungan dengan lawan
jenis sehingga lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman dibandingkan
keluarga.Remaja mulai memiliki minat yang besar dalam seni, olah raga, organisasi, dan
sebagainya seiring dengan berkembangnya intelektualitas mereka. Pada masa ini remaja
mampu berfikir abstrak, berhipotesa dan peduli untuk mendiskusikan atau berdebat
terhadap permasalahannya sehingga remaja sering bereksperimen untuk mendapatkan citra
diri yang dirasakan nyaman bagi mereka walaupun berisiko. Beberapa remaja
menyalahgunakan narkoba karena tertarik dengan keterangan yang diberikan oleh media
mengenai sensasi yang dihasilkan, mereka bertanya-tanya seandainya obat yang
dideskripsikan dapat memberikan pengalaman yang sangat unik (Santrock, 2007).3. Remaja
Akhir (17 19 tahun) Masa remaja akhir ini, remaja lebih berkembang dalam
intelektualitasnya sehingga mulai menggeluti masalah sosial, politik, agama. Remaja yang
tumbuh dengan baik dan tanpa masalah akan mulai belajar mandiri baik secara finansial
maupun emosional dengan lebih baik mengatasi stress sehingga pada tahap ini remaja ingin
diakui sudah menjadi seseorang yang dewasa dan dapat menentukan keputusan hidupnya
sendiri.Remaja juga mulai menjalin hubungan yang serius dengan temantemannya,
khususnya lawan jenis sehingga semakin sulit untuk diajak dalam acara keluarga. Keluarga
diharapkan terus memantau perkembangan remaja di tahap ini tanpa memberikan banyak
peraturan karena mereka sudah ingin dianggap dewasa.
E. Ciri-Ciri Masa Remaja
Menurut Hurlock (1998), masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan
dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut antara lain:a. Masa remaja
sebagai periode yang penting Peroide remaja dianggap sangat penting dari pada beberapa
periode lainnya, karena akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku. Akibat fisik
dan psikologis mempunyai persepsi yang sangat penting. Perkembangan fisik yang cepat dan
penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal
pada masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental
dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru (Hurlock, 1998).b. Masa remaja sebagai
periode peralihan Peralihan tidak berarti terputus atau berubah dari apa yang terjadi
sebelumnya, tetapi peralihan yang dimaksud adalah dari satu tahap perkembangan ke tahap
berikutnya. Artinya, apa yang terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa
yang terjadi sekarang dan akan datang. Bila anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa, anak harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekakak-kanakan dan juga
harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang
sudah ditinggalkan (Hurlock, 1998).c. Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat
perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan
fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat maka perubahan
perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Jika perubahan fisik menurun maka perubahan
sikap dan perilaku menurun juga. Ada empat perubahan yang sama dan hampir bersifat
universal. Pertama, meningginya emosi yang intensitasnya tergantung pada tingkat
perubahan fisik dan psikologis. Kedua, perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan
oleh kelompok. Ketiga, dengan berubahnya minat dan pola perilaku maka nilai-nilai juga
berubah. Keempat, sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan
(Hurlock, 1998).d. Masa remaja sebagai usia bermasalah Masalah pada masa remaja sering
menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.
Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu, yaitu sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-
anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak
berpengalaman dalam mengatasi masalah, serta para remaja merasa mandiri, sehingga
mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru.
Ketidakmampuan remaja untuk mengatasi sendiri masalahnya, maka

memakai menurut cara yang mereka yakini. Banyak remaja akhirmya

menemukan bahwa penyelesaian tidak selalu sesuai dengan harapan

mereka (Hurlock, 1998).

e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa
dirinya, apa peranannya dalam masyarakat, apakah ia seorang anak atau

dewasa, apakah ia mampu percaya diri sekalipun latar belakang ras atau

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201322

Universitas Indonesia

agama atau nasionalnya membuat beberapa orang merendahkannya.

Secara keseluruhan, apakah ia akan berhasil atau akan gagal (Hurlock,

1998).

f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak

rapih, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan

berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus

membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung

jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal

(Hurlock, 1998).

g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik

Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah

jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana adanya,

terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya

bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya,

menyebabkan meningkatnya emosi yang merupakan ciri dari awal masa

remaja. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi marah.

Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya

atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri

(Hurlock, 1998).

h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja

menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk


memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan

bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu,

remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan

status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan

obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap

bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan

(Hurlock, 1998).

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201323

Universitas Indonesia

2.2.3 Tugas Perkembangan pada Masa Remaja

a. Menerima citra tubuh

Seringkali sulit bagi remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila

sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka

tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan

waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari caracara memperbaiki penampilan diri
sehingga lebih sesuai dengan

apa yang dicita-citakan (Hurlock, 1998).

b. Menerima identitas seksual

Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah

mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah

didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi

berbeda bagi anak perempuan, mereka didorong untuk

memainkan peran sederajat sehingga usaha untuk mempelajari

peran feminim dewasa memerlukan penyesuaian diri selama

bertahun-tahun (Hurlock, 1998).

c. Mengembangkan sisitem nilai personal

Remaja megembangkan sistem nilai yang baru misalnya remaja

mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus


mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana harus

bergaul dengan mereka (Hurlock, 1998).

d. Membuat persiapan untuk hidup mandiri

Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk

mandiri harus didukung oleh orang terdekat (Hurlock, 1998).

e. Menjadi mandiri atau bebas dari orang tua

Kemandirian emosi berbeda dengan kemandirian perilaku. Banyak

remaja yang ingin mandiri, tetapi juga membutuhkan rasa aman

yang diperoleh dari orang tua atau orang dewasa lain. Hal ini

menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya

yang mempunyai hubungan akrab dengan anggota kelompok

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201324

Universitas Indonesia

dapat mengurangi ketergantungan remaja pada orang tua

(Hurlock, 1998).

f. Mengembangkan ketrampilan mengambil keputusan

Ketrampilan mengambil keputusan dipengaruhi oleh

perkembangan ketrampilan intelektual remaja itu sendiri, misal

dalam mengambil keputusan untuk menikah di usia remaja

(Hurlock, 1998).

g. Mengembangkan identitas seseorang yang dewasa

Remaja erat hubungannya dengan masalah pengembangan nilainilai yang selaras dengan dunia
orang dewasa yang akan dimasuki,

adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang

bertanggung jawab (Hurlock, 1998).

2.2.4 Perubahan pada Remaja

a. Perubahan fisik pada remaja

Menurut Tim Pembina UKS Propinsi Jawa Barat (2004) terjadi


pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk

pertumbuhan organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai

kematangan sehingga mampu melangsungkan fungsi reproduksi.

Perubahan ini ditandai dengan munculnya tanda-tanda yaitu:

1. Tanda-tanda seks primer yaitu yang berhubungan langsung

dengan organ seks. Terjadinya haid pada remaja putri

(menarche) dan terjadinya mimpi basah pada remaja laki-laki.

2. Tanda-tanda seks sekunder yaitu: pada remaja laki-laki terjadi

perubahan suara, tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar

bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, dada lebih

lebar, badan berotot, tumbuhnya kumis, cambang dan rambut

disekitar kemaluan dan ketiak. Dan pada remaja putri terjadi

perubahan pinggul lebar, pertumbuhan rahim dan vagina,

payudara membesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan sekitar

kemaluan (pubis).

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201325

Universitas Indonesia

b. Perubahan kejiwaan pada remaja

Proses perubahan kejiwaan berlangsung lebih lambat

dibandingkan perubahan fisik yang meliputi:

1. Perubahan emosi, sehingga remaja menjadi:

a) Sensitif (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa)

b) Agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang

berpengaruh, sehingga misalnya mudah berkelahi.

2. Perkembangan intelegensia, sehingga remaja menjadi:

a) Mampu berpikir abstrak, senang memberikan kritik

b) Ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku


ingin coba-coba.

2.3 Keluarga

Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak tempat

anak belajar dan mengatakan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya

anak melakukan interaksi yang intim. Keluarga adalah sekumpulan orang yang

dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan

menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota keluarga

(Duval, 1972 dalam Setiadi 2008). Menurut Slameto (2006) keluarga adalah

lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anaknya baik

pendidikan bangsa, dunia, dan negara sehingga cara orang tua mendidik anakanaknya akan
berpengaruh terhadap belajar. Sedangkan menurut Mubarak, dkk

(2009) keluarga merupakan perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh

hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu

berinteraksi satu dengan yang lain.

Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dapat dibagi dalam 3 jenis, yaitu:

a. Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang

anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah.

b. Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri

dari ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201326

Universitas Indonesia

c. Horizontal extended family, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari ayah,

ibu, dan anak yang telah menikah dan masih menumpang pada orang tuanya.

(Duval, 1972 dalam Setiadi 2008)

Dalam keluarga modern sekalipun, pengaruh orang tua terhadap anaknya

masih sangat kuat. Nampaknya adanya kecenderungan pembentukan perilaku

anak sebagai hasil interaksi antara orang tua dengan anaknya. Sebagaimana
diungkapkan oleh Setiadi (2008) bahwa kebanyakan sikap dan perilaku anak akan

ditentukan oleh salah satu faktor penting, yaitu kualitas hubungan diantara orang

tua dengan anak.

2.4 Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja

Sejalan dengan model fungsi keluarga McMaster, the procces of family

functioning, dikembangkan dari teori sistem yang menjelaskan bahwa fungsi

keluarga merupakan kemampuan keluarga dalam menyelesaikan tugas dasar

seperti makan dan rumah, tugas krisis seperti cara keluarga dalam menangani

masalah, dan tugas perkembangan yang terjadi selama tahap perkembangan hidup

keluarga. Model proses keberfungsian keluarga mengidentifikasi tujuh objek yang

dapat menunjukkan berhasilnya keluarga dalam menyelesaikan tugas dasar, krisis,

dan perkembangan. Tujuh objek tersebut adalah penyelesaian tugas, peran yang

jelas, komunikasi, interkasi langsung dalam keluarga, keterlibatan, pengawasan,

serta nilai dan norma (Setiadi, 2008).

Duvall (1971) menyebutkan model siklus hidup keluarga merupakan cetak

biru peran dan tugas keluarga yang senantiasa mengalami pergerakan melewati

tiap tahap perkembangan keluarga, hal ini berarti transisi keluarga dari tahap ke

tahap terdapat tanda-tanda yang dapat diprediksi secara normal. Keluarga dengan

anak usia remaja dimulai ketika anak pertama berumur 13 tahun hingga 18 tahun

dan berakhir sampai anak tersebut menikah, bekerja atau wajib militer, sebagai

seorang dewasa muda(Olson & DeFrain, dalam Walcheski & Bredehoft, 2003;

Duvall, 1971).

Masa remaja adalah masa penuh tekanan untuk individu maupun keluarga

dimana keduanya dituntut menyesuaikan diri terhadap perubahan besar individu

dan sistem keluarga. Fase ini keluarga dengan anak remaja menghadapi kesulitan

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201327

Universitas Indonesia
masalah finansial, masalah intra-family, work-family, dan transisi serta pergerakan

anggota keluarga yang masuk-keluar dalam unit keluarga yang sudah dapat di

prediksi. Ini merupakan tahap paling menegangkan dari sikus hidup keluarga.

(Duvall, 1971;Mc Cubbin et al, 1988). Pernyataan ini didukung hasil penelitian

yang menyebutkan bahwa ketika anak memasuki masa remaja, mayoritas (60%)

keluarga merasa renggang dan terpisah. Hal ini bukan hanya ekspektasi melainkan

kenyataan karena remaja mulai mengembangkan autonominya (Day et al, 1995).

Duvall (1971) menjabarkan tahapan kritis tugas perkembangan keluargaanak usia remaja yakni: 1)
Memberikan kebebasan yang seimbang dan

betanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda yang mulai

memiliki otonomi; 2) Mempertahankan hubungan intim dalam keluarga; 3)

Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dengan orang tua; 4)

Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan bagi anggota keluarga

untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang keluarga. Hal ini berarti keempat

tugas tersebut merupakan tugas penting yang perlu dipenuhi oleh keluarga dengan

anak usia remaja. Sementara itu, tugas perkembangan keluarga dalam Duvall

Miller (1985) dibagi menjadi beberapa kategori yakni: tugas perkembangan secara

umum, tugas perkembangan terkait perannya sebagai orang tua, suami-istri,

pengelola rumah tangga dan individu dewasa.

Tugas perkembangan keluarga dengan anak usia remaja secara umum

meliputi: 1) Menyediakan fasilitas untuk individu yang berbeda dan kebutuhan

anggota keluarga; 2) Bertanggung jawab terhadap sistem keuangan keluarga; 3)

Menetapkan pembagian tanggung jawab dalam keluarga; 4) Membangun

kembali hubungan pernikahan yang saling memuaskan; 5) Mempererat jarak

komunikasi dalam keluarga; 6) memperbaiki hubungan dengan saudara, teman

dan kerabat; 7) Memperluas cakrawala dari remaja dan orang tua; 8) Merumuskan

filsafat hidup yang bisa diterapkan dalam keluarga (Duvall & Miller 1985).

Sementara itu, Gunarsa dan Gunarsa (2008) menjelaskan bahwa orangtua


memiliki peran penting untuk mempersiapkan anak memasuki usia remaja dalam

hal:

1. Pertumbuhan fisik anak

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201328

Universitas Indonesia

Memberikan perlakuan pengasuhan yang baik, lingkungan sehat, pengetahuan

praktis mengenai kadar gizi, pengetahuan kebutuhan dasar dan minimal

(istirahat, bermain, belajar) sesuai kebutuhan pribadi patokan umum dan masa

perkembangan anak serta memberikan aturan sesuai dengan kondisi anak.

2. Perkembangan sosial anak

Orang tua harus mengerti bahwa pergaulan sebagai kebutuhan, tak terkecuali

bagi remaja. Bergaul dengan teman sebaya yang secara langsung maupun

tidak langsung mempengaruhi kepribadian anak. Oleh karena itu orang tua

perlu memperhatikan siapa atau dengan kelompok mana anak boleh,

dianjurkan atau menghindari.

3. Perkembangan mental

Memperbaiki proses komunikasi verbal orang tua dengan anak, berbicara

sambil membimbing, penyediaan sarana dan fasilitas sesuai kebutuhan anak.

4. Perkembangan spiritual

Membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku anak sesuai dengan ajaran

agama, mengikutsertakan dalam kegiatan keagamaan serta menciptakan

suasana keluarga yang harmonis. Kemudian, memberikan pengertian nilai

dan norma hukum seperti pelanggaran, tata tertib, penyesuaian diri,

5. Mengembangkan minat dan bakat anak

Memberi kesempatan untuk berkembang, kerjasama orang tua - keluarga

besar - sekolah dengan mendorong anak memiliki kegiatan lain yang

produktif selain belajar. Ali dan Asrori (2010) berpendapat bahwa amat
penting bagi remaja diberikan bimbingan agar keingintahuan yang tinggi

dapat terarah kepada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif dan produktif.

2.5 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada

praktik keperawatan yang langsung diberikan kepada klien di berbagai tatanan

nyata pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia,

dengan menggunakan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar

praktik keperawatan, dilandasi etik dan etika keperawatan, dalam lingkup

wewenang serta tanggung jawab keperawatan. Sedangkan asuhan keperawatn

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201329

Universitas Indonesia

keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik

keperawatan dengan sasaran keluarga, yang bertujuan untuk menyelesaikan

masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan

proses keperawatan (Effendi, 2002).

Secara umum tujuan asuhan keperawatan keluarga adalah peningkatan

kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya secara

mandiri. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah peningkatan

kemampuan keluarga yaitu dalam 1) Mengenal masalah kesehatan keluarga; 2)

Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga; 3)

Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat kepada anggota keluarga

yang sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh dan atau keluarga yang

membutuhkan bantuan sesuai dengan kemampuan keluarga; 4) Memelihara dan

memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis dan sosial) sehingga dapat

meningkatkan kesehatan keluarga; 5) Memanfaatkan sumber daya yang ada di

masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan keluarga.

Tahapan proses keperawatan keluarga meliputi pengkajian keluarga dan individu


dalam keluarga, perumusan diagnosa keperawatan, penyusunan rencana

keperawatan, pelaksanaan asuhan keperawatan dan evaluasi (Friedman, 2003).

2.5.1 Pengkajian Keluarga

Pengkajian adalah suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil

data secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya.

Sumber informasi dari tahapan pengkajian dapat menggunakan metode

wawancara keluarga, temuan yang objektif, informasi yang tertulis maupun

lisan dan rujukan berbagai lembaga yang menangani keluarga dan anggota

tim lainnya, pemeriksaan fisik terhadap anggota keluarga (head to toe), data

sekunder, misalnya hasil laboratorium, dsb. Hal-hal yang perlu dikaji dalam

keluarga menurut Friedman (2003) adalah 1) Data umum ; 2) Riwayat dan

tahap perkembangan keluarga; 3) Lingkungan; 4) Struktur keluarga; 5)

Fungsi keluarga; 6) Stress dan koping keluarga; 7) Harapan keluarga; 8)

Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggota keluarga.

2.5.2 Perumusan Diagnosis Keperawatan Keluarga

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201330

Universitas Indonesia

Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan

menggambarkan respons manuasia. Keadaan sehat atau perubahan pola

interaksi potensial/ aktual dari individu atau kelompok dimana perawat

dapat menyusun intervensi-intervensi definitive untuk mempertahankan

status kesehatan atau untuk mencegah perubahan (Carpenito, 2000).

Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapat

pada pengkajian yang terdiri dari masalah keperawatan yang akan

berhubungan dengan etiologi yang berasal dari pengkajian fungsi perawatan

keluarga. Diagnosis keperawatan merupakan sebuah label singkat untuk

menggambarkan kondisi pasien yang diobservasi di lapangan. Kondisi ini


dapat berupa masalah-masalah aktual atau potensial atau diagnosis sejahtera

yang mengacu pada NANDA (The North American Nursing Diagnosis

Association) 2012-2014.

Menegakkan diagnosa dilakukan dua hal, yaitu analisis data yang

mengelompokkan data subjektif dan objektif, kemudian dibandingkan

dengan standar normal sehingga didapatkan masalah keperawatan.

Perumusan diagnosis keperawatan, komponen rumusan diagnosis

keperawatan meliputi: Masalah (problem) adalah suatu pernyataan tidak

terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau

anggota keluarga. Penyebab (etiologi) adalah kumpulan data subjektif dan

objektif. Tanda (sign) adalah sekumpulan data subjektif dan objektif yang

diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak langsung atau

tidak yang emndukung masalah dan penyebab.

2.5.3 Menentukan Prioritas Masalah Keperawatan Keluarga

Tabel 2.1 Cara Membuat Skor Penentuan Prioritas Masalah Keperawatan

Keluarga (Friedman, 2003)

No Kriteria Skor Bobot

1 Sifat masalah

Aktual (Tidak/kurang sehat)

Ancaman kesehatan

Keadaan sejahtera

2 Kemungkinan masalah dapat diubah

a. Mudah
b. Sebagian

c. Tidak dapat

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201331

Universitas Indonesia

Potensi masalah untuk dicegah

a. Tinggi

b. Sedang

c. Rendah

Menonjolnya masalah

a. Masalah berat, harus segera ditangani

b. Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani

c. Masalah tidak dirasakan

Skoring : Skor x Bobot


Angka tertinggi

Catatan : Skor dihitung bersama dengan keluarga

Faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas yaitu kriteria 1:

sifat masalah; bobot yang lebih berat diberikan pada tidak/ kurang sehat

karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan

dirasakan oleh keluarga; kriteria 2: kemungkinan masalah dapat diubah,

perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut:

pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani

masalah, sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga,

sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan waktu,

sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam

masyarakat dan dukungan masyarakat; kriteria 3: potensi masalah dapat

dicegah, faktor-faktor yang perlu diperhatikan: kepelikan dari masalah yang

berhubungan dengan penyakit atau masalah, lamanya masalah, yang

berhubungan dengan jangka waktu masalah itu ada, tindakan yang sedang

dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat dalam memperbaiki

masalah, adanya kelompok high risk atau kelompok yang sangat peka

menambah potensi untuk mencegah masalah; kriteria 4: menonjolnya

masalah, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat

masalah kesehatan tersebut. Nilai skor tertinggi yang terlebih dahulu

dilakukan intervensi keperawatan keluarga.

2.5.4 Perencanaan Keperawatan keluarga

Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan, yang

mencakup tujuan umum dan tujuan khusus serta dilengkapi dengan kriteria

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201332

Universitas Indonesia

dan standar. Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang


hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan

khusus yang ditetapkan (Friedman, 2003). Penyusunan rencana perawatan

dilakukan dalam 2 tahap yaitu pemenuhan skala prioritas dan rencana

perawatan (Suprajitno, 2004).

Langkah pertama yang dilakukan adalah merumuskan tujuan

keperawatan. Tujuan dirumuskan untuk mengetahui atau mengatasi serta

meminimalkan stressor dan intervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat

pencegahan. Pencegahan primer untuk memperkuat garis pertahanan

fleksibel, pencegahan sekunder untuk memperkuat garis pertahanan

sekunder, dan pencegahan tersier untuk memperkuat garis pertahanan tersier

(Anderson & Fallune, 2000).

Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.

Tujuan jangka panjang mengacu pada bagaimana mengatasi problem/

masalah (P) di keluarga, sedangkan penetapan tujuan jangka pendek

mengacu pada bagaimana mengatasi etiologi yang berorientasi pada lima

tugas keluarga.

2.5.5 Implementasi Keperawatan Keluarga

Tindakan yang dilakukan oleh perawat kepada keluarga berdasarkan

perencanaan mengenai diagnosis yang telah dibuat sebelumnya. Tindakan

keperawatan terhadap keluarga mencakup lima tugas kesehatan keluarga

menurut Friedman (2003), yaitu: 1) Menstimulasi kesadaran atau

penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan

cara memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan

tentang kesehatan dan endorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah;

2) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat

dengan cara mengidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan,

mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, mendiskusikan


tentang konsekwensi tiap tindakan; 3) Memberikan kepercayaan diri dalam

merawat anggota keluarga yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara

perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah, mengawasi

keluarga melakukan perawatan; 4) Membantu keluarga untuk menemukan

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201333

Universitas Indonesia

cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat, dengan cara

menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga, melakukan

perubahan lingkungan dengan seoptimal mungkin; 5) Memotivasi keluarga

untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dengan cara

memperkenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga dan

membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan pada rencana yang telah

disusun. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan

keperawatan terhadap keluarga yaitu sumber daya keluarga, tingkat

pendidikan keluarga, adat istiadat yang berlaku, respon dan penerimaan

keluarga dan sarana dan prasarana yang ada pada keluarga.

2.5.6 Evaluasi

Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil

implementasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk

melihat keberhasilannya. Kerangka kerja evaluasi sudah terkandung dalam

rencana perawatan jika secara jelas telah digambarkan tujuan perilaku yang

spesifik maka hal ini dapat berfungsi sebagai kriteria evaluasi bagi tingkat

aktivitas yang telah dicapai Evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP

secara operasional. Tahapan evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan

sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama proses asuhan keperawatan,

sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi akhir (Friedman, 2003).


Evaluasi disusun menggunakan SOAP dimana: (Suprajitno, 2004).

S: ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara subyektif oleh

keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.

O: keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan

pengamatan yang obyektif.

A: merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subyektif dan

obyektif.

P: perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.

2.6 Ketidakefektifan Koping

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201334

Universitas Indonesia

Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah,

menyesuaikan diri dengan perubahan, respons terhadap situasi yang mengancam.

Koping yang efektif akan menghasilkan adaptasi. Koping dapat diidentifikasi

melalui respons, manifestasi (tanda dan gejala) dan pertanyaan klien dalam

wawancara. (Keliat dkk, 2005).

Ketidakefektifan koping merupakan ketidakmampuan penilaian yang tepat

terhadap stressor, pilihan yang tidak adekuat terhadap respons untuk bertindak,

dan ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia (NANDA, 2012).

Salah satu batasan karakteristik secara subjektif dari ketidakefektifan koping yaitu

perubahan dalam pola komunikasi yang biasanya.

2.6.1 Komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada

orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku,

baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). Harrol

D. Lasswel (dalam Riswandi, 2009) menjelaskan bahwa komunikasi pada

dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa mengatakan


apa dengan saluran apa, kepada siapa, dan dengan akibat apa atau

hasil apa. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

komunikasi merupakan penyampaian informasi dalam sebuah interaksi tetep

muka yang berisi ide, perasaan, perhatian makna, serta pikiran yang

diberikan pada penerima pesan dengan harapan si penerima pesan

menggunakan informasi tersebut untuk mengubah sikap danperilakunya.

2.6.1.1 Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang berjalan dua

arah dan dapat mencapai tujuan dari komunikasi tersebut (Gunarsa,

2004). Tujuan dari komunikasi efektif ini antara lain untuk

membangun hubungan yang harmonis dengan remaja, membentuk

suasana keterbukaan dan mendengar, membuat remaja mau bicara

pada saat mereka menghadapi masalah, membuat remaja mau

mendengar dan menghargai orang tua dan dewasa saat mereka

berbicara serta membantu remaja menyelesaikan masalahnya. Dalam

berkomunikasi, orang tua dan orang dewasa biasanya ingin segera

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201335

Universitas Indonesia

membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi remaja, sehingga

cenderung (1) Lebih banyak bicara daripada mendengar; (2) Merasa

tahu lebih banyak; (3) Cenderung memberi arahan dan nasihat; (4)

Tidak berusaha untuk mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi

dan yang dialami para remaja; (5) Tidak memberi kesempatan agar

remaja mengemukakan pendapat; (6) Tidak mencoba menerima

dahulu kenyataan yang dialami remaja dan memahaminya; (7) Merasa

putus asa dan marah-marah karena tidak tahu lagi apa yang harus

dilakukan terhadap remaja (BKKBN, 2002).


2.6.1.2 Komunikasi Tidak Efektif

Komunikasi antara orang tua dengan remaja mempengaruhi

pertumbuhan kepribadiannya. Di samping itu komunikasi juga erat

hubungannya dengan perilaku dan pengalaman dalam keluarga.

Melalui komunikasi remaja dapat menemukan dirinya sendiri,

mengembangkan konsep diri, dan dapat menetapkan hubungan remja

dengan lingkungan. Hubungan antara orang tua dengan anak remaja

akan menentukan intelektualitas dan kualitas hidup orang tersebut.

Jika orang tua tidak memahami gagasan anak remaja, dan pesan dari

remaja itu menjengkelkan mereka, ini berarti ada problema yang tidak

berhasil diatasi. Jika remaja menentang pendapat orang tua, maka

orang tua tidak "dalam berkomunikasi" dengan remaja. Jika semakin

sering orang tua berkomunikasi namun semakin jauh jaraknya dengan

mereka, dan jika orang tua selalu gagal untuk memotivasi remaja

untuk bertindak, berarti orang tua telah gagal berkomunikasi. Dengan

kata lain komunikasi antara orang tua dengan remaja tidak efektif

(Effendy, 2000).

2.6.2 Pola Komunikasi Keluarga

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), mengartikan pola sebagai

bentuk (struktur) yang tetap, sedangkan komunikasi didefinisikan sebagai

pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih

dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

Menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201336

Universitas Indonesia

communication, yang akar katanya adalah communis. Arti communis di sini

adalah sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai
suatu hal (Effendy, 2000). Jadi, komunikasi berlangsung bila antara orangorang yang terlibat
terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang

dikomunikasikan. Dengan demikian, pola komunikasi di sini dapat

dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam

pengiriman pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud

dapat dipahami.

Komunikasi dalam keluarga dapat berlangsung secara timbal balik dan

silih berganti, bisa dari orang tua ke anak atau dari anak ke orang tua, atau

dari anak ke anak. Awal terjadinya komunikasi karena ada sesuatu pesan

yang ingin disampaikan. Siapa yang berkepentingan untuk menyampaikan

suatu pesan akan berpeluang untuk memulai komunikasi. Sedangkan yang

tidak berkepentingan untuk menyampaikan suatu pesan akan cenderung

menunda komunikasi.

Wursanto (2007) mengatakan bahwa komunikasi dapat berlangsung

setiap saat, di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan dengan siapa saja.

Semenjak lahir, manusia sudah mengadakan hubungan dengan kelompok

masyarakat sekelilingnya. Kelompok pertama dialami oleh individu itu

dengan ibunya, bapaknya, dan anggota keluarga lainnya. Makin bertambah

umurnya, makin luas pula hubungan yang dapat dijangkau oleh individu itu.

Selain sebagai makhluk individu, manusia adalah makhluk sosial, makhluk

bermasyarakat.

Komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak remaja merupakan

faktor penting dalam interaksi, karena komunikasi menyebabkan adanya

saling pengertian antar anggota keluarga. Komunikasi efektif terjadi apabila

anak dapat mengungkapkan perasaan dan masalah yang dihadapi sedang

orang tua memahami dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi

(Balson, 2003).

Komunikasi orang tua dengan remaja pada dasarnya harus terbuka,


walaupun remaja lebih cenderung terbuka dengan teman sebaya. Hal

tersebut karena remaja merupakan bagian dari keluarga. Komunikasi yang

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201337

Universitas Indonesia

terbuka diharapkan dapat menghindari kesalahpahaman antara orang tua

dengan remaja. Apabila remaja telah dapat berfikir secara baik, remaja telah

dapat mempertimbangkan secara baik mengenai hal yang dihadapi. Dengan

demikian akan menimbulkan saling pengertian di seluruh anggota keluarga,

sehingga akan terbina dan tercipta tanggung jawab sebagai anggota keluarga

(Gunarsa, 2004).

Gunarsa (2004) mengemukakan bahwa komunikasi efektif antara

orang tua dan remaja membentuk pola dasar kepribadian remaja secara

normal dan perkembangan psikologis yang sehat bagi remaja, karena

merupakan hakekat seorang remaja dalam pertumbuhan dan perkembangan

membutuhkan uluran tangan orang tua, orang tua lah yang bertanggung

jawab dalam mengembangkan keseluruhan eksistensi remaja termasuk

kebutuhan fisik dan psikis sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang

kearah kepribadian yang matang dan harmonis.

Kualitas komunikasi antara orang tua dan remaja dapat menghindari

remaja dari perilaku berisiko remaja, hal ini dikarenakan antara orang tua

dan remaja terjalin hubungan atau komunikasi yang intensif sehingga

kemungkinan terjadi sharing, dan pemecahan masalah (Laily & Matulessy,

2004; dalam Fauzi, 2010).

2.7 Intervensi Inovasi Komunikasi Efektif antara Remaja dan Orang Tua

Program inovasi intervensi unggulan yang dilakukan dalam menyelesaikan

masalah ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R yaitu dengan komunikasi

efektif antara remaja dan orang tua. Dalam berkomunikasi dengan remaja ada
beberapa kunci pokok yang harus diperhatikan, yaitu pertama, mendengar supaya

remaja mau bicara, kedua menerima dahulu perasaan remaja, dan ketiga bicara

supaya di dengar. Oleh sebab itu orang tua dan orang dewasa harus mau belajar

dan berubah dalam cara berbicara dan cara mendengar. Dalam mencapai tujuan

berkomunikasi, perlu diingat bahwa orang tua dan orang dewasa juga harus lebih

dahulu siap dan mau berubah, sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang

efektif dengan mereka (BKKBN, 2002).


3.1 Pengkajian Keperawatan Keluarga

Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 Mei 2013 jam 10.00 WIB pada

keluarga Bp. R (38 tahun). Bp. R merupakan kepala keluarga dari Ibu. R (30

tahun), An. H (14 tahun), An. F (12 tahun), An. L (9 tahun) dan Nenek. R (61

tahun). Pendidikan terakhir Bp. R adalah SMP. Pekerjaan sehari-hari sebagai

buruh di pabrik dan MC (pembawa acara) di acara-acara pernikahan. Alamat

tinggal sekarang ini di RT 02 RW 02 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan

Cimanggis Kota Depok. Keluarga Bp. R merupakan keluarga extended

family (keluarga luas/ besar) yang terdiri dari keluarga inti dan orang tua dari Bp.

R yaitu Nenek. R. Dimana keluarga Bp. R merupakan keluarga yang di dalamnya

masih terdapat hubungan darah, perkawinan dan saling berinteraksi satu dengan

yang lain, mempunyai peran masing-masing, karena di dalam satu rumah di

keluarga Bp. R terdiri dari 6 orang yang hidup bersama, segala kebutuhan

dicukupi oleh kepala keluarga. Keluarga Bp. R mengatakan bersuku Betawi.

Keluarga Bp. R mempunyai kebiasaan jika ada anggota keluarga yang sakit

diberikan obat warung terlebih dahulu untuk pertolongan pertamanya. Ibu. R

mengatakan keluarga beragama Islam. Kegiatan ibadah keagamaan keluarga Bp.

R yaitu sholat lima waktu dan berpuasa. Di keluarga Bp. R, pencari nafkah utama

di keluarga adalah Bp. R yang bekerja sebagai buruh, selain itu Bp. R juga masih

aktif sebagai pembawa acara/ MC di acara-acara pernikahan, maka dari itu Bp. R

terlihat jarang berada dirumah. Ibu. R mengatakan bahwa dirinya merasa cukup

dengan penghasilan suaminya saat ini. Ibu. R mengatakan tidak memiliki jadwal

khusus untuk rekreasi keluarga, hanya sesekali anaknya mengajak berwisata. An.

H mengatakan jika banyak kegiatan dan membuat dirinya stress maka dia akan

main keluar dengan teman-temannya, biasanya nongkrong sambil mengobrol

tidak jelas, main ke warnet atau rental PS dan menonton balapan motor. An. H

juga mengatakan sering main dengan teman-temannya hingga malam hari.


Riwayat dan tahap perkembangan keluarga Bp. R berada dalam tahap

perkembangan keluarga dengan anak remaja dimana tugas perkembangan

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201347

Universitas Indonesia

keluarga dengan remaja yaitu: Memberikan kebebasan yang seimbang dengan

tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa,

mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga, mempertahankan

komunikasi terbuka antara anak dan orang tua, hindari perdebatan Ibu. R

mengatakan bahwa An. H adalah anak yang pendiam dan jarang berbicara jika

tidak ditanya. Terutama saat memasuki usia remaja, An. H sudah mulai jarang

berkumpul dengan keluarga, jika berada di rumah An. H banyak menghabiskan

waktunya di dalam kamarnya. An. H mengatakan jarang berbicara dengan Bp. R

karena menurut An. H bapaknya itu galak dan kalau menyuruh sesuatu, misalkan

belajar, Bp. R sering marah-marah sehingga An. H malas untuk menanggapinya.

Ibu. R mengatakan sebenarnya Bp. R baik, tetapi memang agak keras untuk

mendidik anak-anaknya. Ibu. R juga mengatakan bahwa An. H sulit untuk diatur

semenjak memasuki SMP. An. H mengatakan tidak mengetahui tugas

perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja, karena sebelumnya

tidak pernah mendapatkan informasi mengenai tugas perkembangan maupun

tanggung jawabnya sebagai remaja.

Rumah yang ditinggali Bp. R sekeluarga adalah rumah permanen

peninggalan orang tua Bp. R yang berukuran 70 m

. Desain interior rumah terbagi

menjadi 6 ruangan. Terdapat 2 jendela yang kurang lebih berukuran 1,5 x 1 meter

di depan samping pintu masuk. Namun, jendela yang terlihat selalu terbuka ini

jarang dibersihkan. Anak-anak Bp. R tidak ada yang aktif mengikuti kegiatan
kemasyarakatan di daerah setempat RW 02. An. H mengatakan sudah jarang

(suka membolos) dalam mengikuti pengajian. An. H berteman dengan beberapa

teman seusianya, sering nongkrong di pos hansip dekat rumahnya, bermain ke

warnet dan rental PS dan jalan-jalan dengan menggunakan motor. Ibu. R

mengatakan bahwa komunikasi pada keluarganya menekankan keterbukaan.

Namun An. H mengatakan lebih suka menceritakan masalahnya kepada temantemannya


dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya yang lain. Bp. R

sibuk bekerja dan jarang menyempatkan berbicara kepada anaknya. Ibu. R juga

mengatakan di rumahnya tidak ada peraturan yang jelas tentang apa saja tugas

setiap anggota keluarga. Ibu. R mengatakan urusan anaknya lebih banyak

diserahkan kepada ibunya. An. H mengatakan malas belajar dan jarang

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201348

Universitas Indonesia

mengerjakan tugas sekolahnya. Ibu. R mengatakan bahwa anaknya jarang belajar

dan nilainya pas-pasan. Ibu. R mengatakan tidak pernah memantau aktivitas

belajar anaknya di rumah.

Ibu R mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah dapat saling

terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An. H termasuk anak yang

pendiam dan jarang menyampaikan pendapatnya. Hubungan antar anggota

keluarga dalam rumah berjalan dengan baik. Ibu. R mengatakan bahwa ketika ada

anggota keluarga yang sakit, maka yang sakit akan langsung diberikan obat dari

warung atau dari apotek. Keluarga Ibu. R juga sering memanfaatkan pelayanan

kesehatan di RS, tetapi jika sudah sembuh dengan mengkonsumsi obat warung

maka hanya diobati di rumah saja.

Keluarga Bp. R mencemaskan pergaulan An. H yang sudah memasuki masa

remaja. An. H sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok oleh temantemannya, baik teman di
sekolah maupun teman di lingkungan rumahnya. An. H

juga sering nongkrong tidak jelas dengan teman sekolah maupun teman di sekitar
rumahnya tersebut. An. H juga mengatakan pernah ikut-ikutan tawuran dengan

teman-teman sekolahnya. An. H mengatakan sudah memiliki teman dekat wanita

(pacar).

3.2 Diagnosis Keperawatan Keluarga

Permasalah komunikasi inefektif pada An. H di keluarga Bp. R berdasarkan

hasil analisis data yang dikumpulkan merupakan suatu proses komunikasi yang

tidak mencapai tujuan dari komunikasi tersebut. Permasalahan remaja di keluarga

Bp. R adalah Kedtidakefektifan koping pada keluarga Bp. R. Masalah ini

merupakan masalah yang dihadapi oleh keluarga sebagai suatu stressor yang akan

mempengaruhi hubungan baik dan harmonis antara orang tua dan anak remajanya.

Permasalahan ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R dapat diatasi

melalui pendekatan asuhan keperawatan keluarga. Penyusunan diagnosis

keperawatan sesuai dengan prioritas masalah yang di skoringkan pada masingmasing diagnosa,
dimana pada diagnosa 1 yaitu ketidakefektifan performa peran

remaja mendapatkan jumlah skor 4 1/3, ketidakefektifan koping mendapat skor 4

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201349

Universitas Indonesia

1/2, risiko penurunan prestasi belajar mendapat skor 3 5/6, dengan rincian skor

terlampir.

Diagnosis keperawatan pada keluarga Bp. R dengan masalah komunikasi

inefektif dapat dijabarkan kedalam bentuk diagnosis keperawatan keluarga

sebagai berikut:

1. Ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R

2. Ketidakefektifan performa peran remaja di keluarga Bp. R khususnya An. H

3. Risiko penurunan prestasi belajar pada keluarga Bp. R khususnya An. H

3.3 Perencanaan Keperawatan Keluarga

Rencana keperawatan keluarga untuk diagnosa keperawatan

ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R dengan komunikasi inefektif pada


remaja antara lain memiliki tujuan umum setelah dilakukan intervensi sebanyak 3

kali kunjungan, diharapkan koping keluarga menjadi efektif pada keluarga Bp. R

dengan teciptanya komunikasi yang efektif antara remaja dan orang tua. Tujuan

khusus pertama setelah dilakukan pertemuan sebanyak 3 x 15 menit diharapkan

keluarga mampu mengenal komunikasi yang efektif dengan remaja, dengan

mampu menyebutkan pengertian komunikasi, menyebutkan pengertian

komunikasi keluarga yang efektif, menyebutkan penyebab komunikasi tidak

efektif, menyebutkan syarat-syarat komunikasi efektif dalam keluarga dan

mengidentifikasi ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R terutama masalah

komunikasi inefektif antara orang tua dan remaja dengan evaluasi kriteria respon

verbal dan afektif.

Evaluasi standar dari tujuan khusus pertama antara lain 1) Keluarga mampu

menyebutkan pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan

atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan

yang dimaksud dapat dipahami; 2) Keluarga mampu menyebutkan komunikasi

efektif adalah komunikasi yang berjalan dua arah dan dapat mencapai tujuan dari

komunikasi tersebut; 3) Keluarga mampu menyebutkan 3 dari 6 penyebab

komunikasi tidak efektif, yaitu orang tua lebih banyak bicara daripada mendengar,

orang tua merasa tahu lebih banyak, orang tua cenderung memberi arahan dan

nasihat, orang tua tidak berusaha untuk mendengar terlebih dahulu apa yang

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201350

Universitas Indonesia

terjadi dan sebenarnya terjadi pada remaja, orang tua tidak mencoba menerima

dahulu kenyataan yang di alami remaja dan memahaminya dan orang tua merasa

putus asa dan marah-marah karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan

terhadap remaja; 4) Keluarga mampu menyebutkan 4 dari 6 syarat-syarat

komunikasi efektif dalam keluarga, antara lain mengenal diri sendiri, mengenal
diri remaja, mendengar aktif, Pesan kamu dan pesan saya, menentukan

masalah siapa, serta mengenal dan menghindari gaya penghambat komunikasi; 5)

Keluarga mengetahui bahwa komunikasi yang terjadi antara orang tua dan remaja

di keluarga adalah komunikasi yang tidak efektif.

Intervensi keperawatan meliputi 1) Diskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga mengenai pengertian komunikasi; 2) Diskusikan bersama

keluarga apa yang diketahui keluarga mengenai pengertian komunikasi keluarga

yang efektif; 3) Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga tentang

penyebab komunikasi tidak efektif; 4) Diskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga mengenai syarat-syarat komunikasi yang efektif dalam

keluarga; 5) Bantu keluarga untuk mengidentifikasi komunikasi yang tidak efektif

pada keluarga Bp. R; 6) Berikan pujian kepada keluarga tentang pemahaman

keluarga yang benar; 7) Berikan informasi materi kepada keluarga dengan

menggunakan media lembar balik dan leaflet; 8) Berikan kesempatan kepada

keluarga untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 9) Berikan penjelasan

ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 10) Motivasi keluarga untuk

mengulang materi yang telah dijelaskan; 11) Berikan reinforcement positif atas

usaha keluarga.

Tujuan khusus kedua setelah dilakukan pertemuan sebanyak 3 x 15 menit

diharapkan keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menciptakan

komunikasi yang efektif dalam keluarga, dengan mampu 1) Menyebutkan risiko

akibat masalah komunikasi yang tidak efektif dalam keluarga bila tidak diatasi; 2)

Mengambil keputusan yang tepat untuk mengikuti program mengatasi masalah

ketidakefektifan koping terutama masalah komunikasi dengan konseling individu

dan konseling keluarga dengan evaluasi kriteria respon verbal dan respon afektif.

Evaluasi standar dari tujuan khusus kedua antara lain 1) Keluarga mampu

menyebutkan 3 dari 5 risiko akibat masalah komunikasi yang tidak efektif dalam
Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201351

Universitas Indonesia

keluarga bila tidak diatasi, antara lain kenakalan remaja, menimbulkan perubahan

sikap pada diri remaja, anggota keluarga saling tertutup satu sama lain, seringnya

terjadi perceraian orang tua, anak-anak remaja merasa kesepian; 2) Keluarga

memutuskan untuk mengikuti program mengatasi masalah ketidakefektifan

koping terutama masalah komunikasi dengan konseling individu dan konseling

keluarga.

Intervensi keperawatan meliputi 1) Diskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga mengenai risiko akibat masalah komunikasi yang tidak efektif

dalam keluarga bila tidak diatasi; 2) Memotivasi anggota keluarga dalam

mengambil keputusan untuk mengikuti program masalah ketidakefektifan koping

terutama masalah komunikasi; 3) Berikan pujian kepada keluarga tentang

pemahaman keluarga yang benar; 4) Berikan informasi kepada keluarga dengan

menggunakan media lembar balik dan leaflet; 5) Berikan kesempatan kepada

keluarga untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 6) Berikan penjelasan

ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 7) Motivasi keluarga untuk

mengulang materi yang telah dijelaskan; 8) Berikan reinforcement positif atas

usaha keluarga.

Tujuan khusus ketiga setelah dilakukan pertemuan sebanyak 3 x 15 menit

diharapkan keluarga mampu menciptakan komunikasi yang efektif dalam

keluarga, dengan mampu 1) Menyebutkan jenis-jenis komunikasi; 2)

Menyebutkan hambatan dalam berkomunikasi; 3) Mendemonstrasikan cara

komunikasi yang efektif antara orang tua dan remaja, dengan evaluasi kriteria

respon verbal dan respon psikomotor.

Evaluasi standar dari tujuan khusus ketiga antara lain 1) Keluarga mampu

menyebutkan jenis-jenis komunikasi, yaitu komunikasi verbal dengan kata-kata


dan komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh; 2) Keluarga mampu

menyebutkan 7 dari 12 hambatan dalam komunikasi yaitu memerintah,

menyalahkan, meremehkan, membandingkan, memberi cap, mengancam,

menasehati, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir dan menganalisa; 3)

Keluarga mampu mendemonstrasikan komunikasi efektif antara orang tua dan

remaja dengan memenuhi syarat-syarat komunikasi efektif.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201352

Universitas Indonesia

Intervensi keperawatan meliputi 1) Diskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga mengenai jenis-jenis komunikasi; 2) Diskusikan bersama

keluarga apa yang diketahui keluarga tentang hambatan dalam komunikasi; 3)

Demonstrasikan dengan keluarga cara berkomunikasi efektif antara orang tua dan

remaja; 4) Beri kesempatan keluarga mendemonstrasikan kembali cara

berkomunikasi efektif antara orang tua dan remaja; 5) Tanyakan kepada keluarga,

hal apa yang telah dibicarakan dengan anggota keluarga yang remaja; 6) Berikan

pujian kepada keluarga tentang pemahaman keluarga yang benar; 7) Berikan

informasi kepada keluarga dengan menggunakan media lembar balik dan leaflet;

8) Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya tentang materi yang

disampaikan; 9) Berikan penjelasan ulang terhadap materi yang belum

dimengerti; 10) Motivasi keluarga untuk mengulang materi yang telah dijelaskan;

11) Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga.

Tujuan khusus keempat setelah dilakukan pertemuan sebanyak 3 x 10 menit

diharapkan keluarga mampu memodifikasi lingkugan dalam menciptakan

komunikasi yang efektif dalam keluarga, dengan mampu 1) Menyebutkan faktorfaktor dalam diri
remaja untuk mendukung komunikasi efektif; 2) Menyebutkan

faktor-faktor dalam diri orang tua untuk mendukung komunikasi efektif; 3)

Menyebutkan faktor-faktor lingkungan untuk mendukung komunikasi efektif,

dengan evaluasi kriteria respon verbal dan respon afektif.


Evaluasi standar dari tujuan khusus keempat antara lain 1) Keluarga mampu

menyebutkan 2 dari 3 faktor-faktor dalam diri remaja untuk mendukung

komunikasi efektif, antara lain sebelum memulai proses komunikasi hubungan

remaja dan orang tua hangat dan terbuka, remaja telah menyatakan bersedia

mengungkapkan permasalahannya, teridentifikasi bahwa remaja berada pada

kondisi yang membutuhkan bantuan orang tua untuk memfasilitasi; 2) Keluarga

mampu menyebutkan 2 dari 4 faktor-faktor dalam diri orang tua untuk

mendukung komunikasi efektif, antara lain mendengar supaya remaja banyak

bicara, menerima dahulu perasaan remaja agar remaja lebih terbuka dan dihargai,

berbicara supaya didengar, mau berubah dimana orang tua memiliki waktu yang

khusus dalam mendengarkan dan berkomunikasi dengan remaja; 3) Keluarga

mampu menyebutkan 2 dari 4 faktor-faktor lingkungan untuk mendukung

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201353

Universitas Indonesia

komunikasi efektif antara lain diharapkan proses komunikasi dapat dilakukan di

ruangan yang kondusif, tenang, dan privacy remaja terjaga, jika dilakukan di

rumah sebaiknya dilakukan di ruangan tertutup untuk menjaga privacy remaja dan

keleluasaan remaja mengekspresikan perasaan atau menceritakan permasalahan

yang dihadapinya (cacatan: tergantung masalah yang mau dikomunikasikan oleh

remaja, dan kesepakatan dengan remaja).

Intervensi keperawatan meliputi 1) Diskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga mengenai faktor-faktor dalam diri remaja untuk mendukung

komunikasi efektif; 2) Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga

mengenai faktor-faktor dalam diri orang tua untuk mendukung komunikasi

efektif; 3) Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga mengenai

faktor-faktor lingkungan untuk mendukung komunikasi efektif. 4) Berikan pujian

kepada keluarga tentang pemahaman keluarga yang benar; 5) Keluarga mampu


melakukan komunikasi dengan anak-anak pada kesempatan berkumpul keluarga

misal saat makan malam; 6) Berikan informasi kepada keluarga mengenai materi

dengan menggunakan media lembar balik dan leaflet; 7) Berikan kesempatan

kepada keluarga untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 8) Berikan

penjelasan ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 9) Motivasi keluarga

untuk mengulang materi yang telah dijelaskan; 10) Berikan reinforcement positif

atas usaha keluarga.

Tujuan khusus kelima setelah dilakukan pertemuan sebanyak 3 x 10 menit

diharapkan keluarga mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk fasilitasi

komunikasi efektif dalam keluarga, dengan mampu 1) Menyebutkan jenis-jenis

pelayanan kesehatan yang dapat dikunjungi keluarga untuk berkonsultasi masalah

komunikasi antara orang tua dan remaja; 2) Mengunjungi fasilitas pelayanan

kesehatan untuk berkonsultasi mengenai komunikasi yang efektif antara orang tua

dan remaja dengan evaluasi kriteria respon verbal dan respon afektif.

Evaluasi standar dari tujuan khusus kelima antara lain 1) Keluarga mampu

menyebutkan pelayanan kesehatan yang dapat dikunjungi keluarga untuk

berkonsultasi masalah komunikasi antara orang tua dan remaja, yaitu: Puskesmas

(Program Kesehatan Peduli Remaja), psikolog, guru wali kelas, guru BP di

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201354

Universitas Indonesia

sekolah; 2) Keluarga mengunjungi pelayanan kesehatan untuk konsultasi

mengenai masalah komunikasi antara orang tua dan remaja.

Intervensi keperawatan meliputi 1) Diskusikan bersama keluarga mengenai

jenis-jenis pelayanan kesehatan yang dapat dikunjungi keluarga untuk

berkonsultasi masalah komunikasi antara orang tua dan remaja yang ada disekitar

tempat tinggal; 2) Motivasi keluarga untuk berkunjung ke fasilitas pelayanan

kesehatan; 3) Motivasi keluarga untuk jenis-jenis pelayanan kesehatan yang dapat


dikunjungi; 4) Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga untuk

menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan.

3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Keluarga

Hasil dari intervensi diatas maka perawat dapat memberikan tindakan

keperawatan keluarga (implementasi) selama 3 kali kunjungan keluarga dan

mengevaluasi jalannya asuhan keperawatan keluarga. Pada tanggal 16 Mei 2013

jam 10.00 WIB mahasiswa datang ke rumah keluarga binaan untuk menjelaskan

tujuan kedatangan, membina trust dan mengontrak untuk pertemuan berikutnya.

Ibu. R dan An. H mengatakan bersedia dijadikan keluarga binaan, keluarga Bp. R

merasa senang dengan kedatangan mahasiswa yang memberikan penyuluhan

tentang masalah kesehatan keluarga. Keluarga Bp. R antusias dengan kedatangan

mahasiswa, Ibu. R terlihat ramah ketika mahasiswa datang, mahasiswa disuguhi

minuman dan makanan sebagai tanda perkenalan. Dan sekalian mengkaji

pengetahuan keluarga tentang remaja, mengobservasi keadaan rumah Bp. R serta

mengontrak waktu untuk pertemuan berikutnya. Saat dilakukan pengkajian pada

An. H mengatakan jarang berbicara dengan Bp. R karena menurut An. H

bapaknya itu galak dan kalau menyuruh sesuatu, misalkan belajar. An. H usia 14

tahun merupakan anak pertama dalam keluarga, Bp. R sering marah-marah

sehingga An. H malas untuk menanggapinya, Ibu. R mengatakan urusan anaknya

lebih banyak diserahkan kepada ibunya, Ibu. R mengatakan An. H merupakan

seorang anak yang tertutup, Ibu. R mengatakan bahwa An. H lebih suka

menghabiskan waktunya di dalam kamar daripada berkumpul dengan keluarga,

An. H mengatakan lebih suka menceritakan masalahnya kepada teman-temannya

dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya yang lain, An. H

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201355

Universitas Indonesia

mengatakan sudah memiliki teman dekat wanita (pacar), Bp. R juga terlihat jarang
berada dirumah, di rumahnya tidak ada yang bisa mengajarkan peran dan

tanggung jawab kepada remaja (An. H) dan An. H merupakan anak yang pendiam

dan tertutup.

Pada tanggal 24 Mei 2013 jam 13.00 WIB, pertemuan ke empat, perawat

memberikan penyuluhan kesehatan kepada keluarga Bp. R tentang mengenal

komunikasi yang efektif dengan remaja. Implementasi yang dilakukan antara lain

1) Menjelaskan kepada keluarga Bp. R, khususnya Ibu. R tentang pengertian

komunikasi keluarga yang efektif; 2) Mendiskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga mengenai syarat-syarat komunikasi yang efektif dalam

keluarga; 3) Memberikan pujian kepada keluarga tentang pemahaman keluarga

yang benar 4) Memberikan informasi kepada keluarga mengenai pengertian

komunikasi keluarga yang efektif dan syarat-syarat komunikasi yang efektif

dengan menggunakan media lembar balik dan leaflet; 5) Memberikan kesempatan

kepada keluarga untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 6) Memberikan

penjelasan ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 7) Memotivasi keluarga

untuk mengulang materi yang telah dijelaskan; 8) Memberikan reinforcement

positif atas usaha keluarga.

Membantu keluarga Bp. R untuk mengambil keputusan dalam menciptakan

komunikasi yang efektif dalam keluarga. Implementasi yang dilakukan antara lain

1) Mendiskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga mengenai akibat

masalah komunikasi yang tidak efektif dalam keluarga bila tidak diatasi; 2)

Mendiskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga mengenai perilaku

untuk berubah secara spesifik; 3) Mendiskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga untuk memecahkan target perubahan menjadi perilaku yang

realistis, kecil, terukur, dan mempunyai rentang waktu jelas; 4) Memberikan

pujian kepada keluarga tentang pemahaman keluarga yang benar; 5) Memberikan

informasi kepada keluarga mengenai masalah komunikasi bila tidak diatasi,


perilaku untuk berubah secara spesifik serta memecahkan target perubahan

menjadi perilaku yang realistis, kecil, terukur, dan mempunyai rentang waktu

jelas dengan menggunakan media lembar balik dan leaflet; 6) Memberikan

kesempatan kepada keluarga untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 7)

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201356

Universitas Indonesia

Memberikan penjelasan ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 8)

Memotivasi keluarga untuk mengulang materi yang telah dijelaskan; 9)

Memberikan reinforcement positif atas usaha keluarga.

Membantu keluarga untuk menciptakan dan mendemonstrasikan

komunikasi yang efektif dalam keluarga. Implementasi yang dilakukan antara lain

1) Memdiskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga mengenai jenisjenis komunikasi; 2)
Mendiskusikan bersama keluarga apa yang diketahui

keluarga mengenai hubungan tumbuh kembang remaja dengan cara

berkomunikasi dengan remaja; 3) Memdiskusikan bersama keluarga apa yang

diketahui keluarga tentang hambatan dalam komunikasi; 4) Mendiskusikan

bersama keluarga apa yang diketahui keluarga tentang metode untuk

merencanakan strategi dalam mengatasi hambatan dalam berkomunikasi; 5)

Mendiskusikan bersama keluarga apa yang diketahui keluarga tentang keuntungan

komunikasi yang terbuka; 6) Menanyakan kepada keluarga, hal apa yang telah

dibicarakan dengan anggota keluarga yang remaja; 7) Memberikan pujian kepada

keluarga tentang pemahaman keluarga yang benar; 8) Memberikan informasi

kepada keluarga mengenai jenis-jenis komunikasi, hubungan tumbuh kembang

remaja dengan cara berkomunikasi dengan remaja, hambatan dalam komunikasi,

metode untuk merencanakan strategi dalam mengatasi hambatan dalam

berkomunikasi, keuntungan komunikasi yang terbuka dengan menggunakan

media lembar balik dan leaflet; 9) Memberikan kesempatan kepada keluarga

untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 10) Memberikan penjelasan


ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 11) Memotivasi keluarga untuk

mengulang materi yang telah dijelaskan; 12) Memberikan reinforcement positif

atas usaha keluarga.

Evaluasi untuk TUK 1, 2 dan 3 yaitu keluarga mengatakan bahwa

komunikasi yaitu pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang

atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami;

keluarga mengatakan komunikasi efektif adalah komunikasi yang berjalan dua

arah dan dapat mencapai tujuan dari komunikasi tersebut; keluarga mengatakan

syarat-syarat komunikasi efektif dalam keluarga, antara lain mengenal diri sendiri,

mengenal diri remaja, mendengar aktif, Pesan kamu dan pesan saya,

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201357

Universitas Indonesia

menentukan masalah siapa; keluarga mengatakan akibat masalah komunikasi

yang tidak efektif dalam keluarga bila tidak diatasi, antara lain kenakalan remaja,

menimbulkan perubahan sikap pada diri remaja, anggota keluarga saling tertutup

satu sama lain, anak-anak remaja merasa kesepian; keluarga mengatakan jenisjenis komunikasi,
yaitu komunikasi verbal dengan kata-kata dan komunikasi non

verbal disebut dengan bahasa tubuh; keluarga mengatakan hambatan dalam

komunikasi yaitu memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan,

memberi cap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengkritik,

menyindir dan menganalisa; keluarga mengatakan keuntungan komunikasi yang

terbuka, yaitu menghindari konflik antara orang tua dan remaja serta mengatasi

berbagai problema yang dihadapi remaja.

Keluarga tampak memahami materi yang disampaikan terlihat dari

kemampuan keluarga dalam menjawab pertanyaan dengan baik dan fokus

mendengarkan selama penyampaian materi berlangsung. Keluarga terlihat

antusias dalam mendengarkan materi tentangan komunikasi efektif antara orang

tua dan remaja. Keluarga (Ibu. R) mampu meredemonstrasikan cara komunikasi


efektif, salah satunya dengan menggunakan pesan saya.

TUK 1, 2 dan 3 tercapai ditandai dengan keluarga telah mampu mengenal

komunikasi yang efektif antara orang tua dengan remaja, mengambil keputusan

dalam menciptakan komunikasi yang efektif dalam keluarga dan

mendemonstrasikan komunikasi yang efektif dengan anak remaja. Rencana untuk

pertemuan selanjutnya adalah evaluasi TUK 1, 2 dan 3 kemudian lanjutkan ke

TUK 4 dan 5.

Pada tanggal 27 Mei 2013 jam 10.00 WIB, pertemuan ke lima, perawat

mengevaluasi TUK 1, 2 dan 3 yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya

dan memberikan lanjutan penyuluhan kesehatan kepada keluarga Bp. R tentang

modifikasi lingkugan dalam menciptakan komunikasi yang efektif dalam

keluarga. Implementasi yang dilakukan antara lain 1) Mendiskusikan bersama

keluarga apa yang diketahui keluarga mengenai faktor-faktor dalam diri remaja

untuk mendukung komunikasi efektif; 2) Mendiskusikan bersama keluarga apa

yang diketahui keluarga mengenai faktor-faktor dalam diri orang tua untuk

mendukung komunikasi efektif; 3) Mendiskusikan bersama keluarga apa yang

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201358

Universitas Indonesia

diketahui keluarga mengenai faktor-faktor lingkungan untuk mendukung

komunikasi efektif. 4) Memberikan pujian kepada keluarga tentang pemahaman

keluarga yang benar; 5) Memberikan informasi kepada keluarga mengenai faktorfaktor dalam diri
remaja, orang tua dan lingkungan untuk mendukung komunikasi

efektif dalam keluarga; 6) Memotivasi keluarga agar mampu melakukan

komunikasi dengan anak-anak pada kesempatan berkumpul keluarga misal saat

makan malam, mengidentifikasi apakah dibutuhkan dukungan kelompok dan

keluarga untuk bantuan, mengidentifikasi keterlibatkan keluarga dalam

melakukan komunikasi terbuka antar anggota keluarga dengan menggunakan

media lembar balik dan leaflet; 7) Memberikan kesempatan kepada keluarga


untuk bertanya tentang materi yang disampaikan; 8) Memberikan penjelasan

ulang terhadap materi yang belum dimengerti; 9) Memotivasi keluarga untuk

mengulang materi yang telah dijelaskan; 10) Memberikan reinforcement positif

atas usaha keluarga.

Membantu keluarga Bp. R untuk mampu memanfaatkan pelayanan

kesehatan untuk fasilitasi komunikasi efektif dalam keluarga. Implementasi yang

dilakukan antara lain 1) Mendiskusikan bersama keluarga mengenai fasilitas

kesehatan yang ada disekitar tempat tinggal; 2) Memotivasi keluarga untuk

mengulang fasilitas kesehatan yang dapat dikunjungi; 3) Memberikan

reinforcement positif atas usaha keluarga untuk menggunakan fasilitas pelayanan

kesehatan; 4) Memotivasi keluarga untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Evaluasi untuk TUK 4 dan 5 yaitu keluarga mengatakan faktor-faktor dalam

diri remaja untuk mendukung komunikasi efektif antara lain sebelum memulai

proses komunikasi hubungan remaja dan orang tua hangat dan terbuka, remaja

telah menyatakan bersedia mengungkapkan permasalahannya, teridentifikasi

bahwa remaja berada pada kondisi yang membutuhkan bantuan orang tua untuk

memfasilitasi; keluarga mengatakan faktor-faktor dalam diri orang tua untuk

mendukung komunikasi efektif antara lain mendengar supaya remaja banyak

bicara, menerima dahulu perasaan remaja agar remaja lebih terbuka dan dihargai,

berbicara supaya didengar, mau berubah dimana orang tua memiliki waktu yang

khusus dalam mendengarkan dan berkomunikasi dengan remaja; keluarga

mengatakan faktor-faktor lingkungan untuk mendukung komunikasi efektif antara

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201359

Universitas Indonesia

lain diharapkan proses komunikasi dapat dilakukan di ruangan yang kondusif,

tenang, dan privacy remaja terjaga; keluarga mengatakan fasilitas yang dapat

dikunjungi, yaitu: Puskesmas (Program Kesehatan Peduli Remaja), rumah sakit,


klinik dokter, psikolog, guru wali kelas, guru BP di sekolah; keluarga mengatakan

akan mengunjungi pelayanan kesehatan untuk konsultasi masalah komunikasi

remaja.

Keluarga tampak memahami materi yang disampaikan terlihat dari

kemampuan keluarga dalam menjawab pertanyaan dengan baik dan fokus

mendengarkan selama penyampaian materi berlangsung. Keluarga terlihat

antusias dalam mendengarkan materi tentangan komunikasi efektif, khususnya

mengenai modifikasi lingkungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk

memfasilitasi komunikasi efektif dalam keluarga antara orang tua dan remaja.

TUK 4 dan 5 tercapai ditandai dengan keluarga telah mampu memodifikasi

lingkungan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk memfasilitasi

komunikasi efektif dalam keluarga antara orang tua dan remaja. Rencana untuk

pertemuan selanjutnya adalah evaluasi TUK 1 5, kemudian lanjutkan ke TUK 1

3 untuk intervensi diagnosa keperawatan yang ke dua.

Setelah dilakukan intervensi keperawatan TUK 1 sampai dengan 5 selama 3

kali kunjungan keluarga untuk masalah keperawatan ketidakefektifan koping pada

keluarga Bp. R khususnya masalah komunikasi inefektif, maka evaluasi secara

keseluruhan bahwa TUK 1 sampai dengan 5 tercapai, ditandai dengan keluarga

khususnya Ibu. R telah mampu mengenal komunikasi yang efektif antara orang

tua dengan remaja, mengambil keputusan dalam menciptakan komunikasi yang

efektif dalam keluarga, mendemonstrasikan komunikasi yang efektif dengan anak

remaja, keluarga telah mampu memodifikasi lingkungan serta memanfaatkan

pelayanan kesehatan untuk memfasilitasi komunikasi efektif dalam keluarga

antara orang tua dan remaja.

Selain itu Ibu. R juga mengatakan dengan teknik komunikasi efektif yang

sudah dilakukan Ibu. R untuk berkomunikasi dengan anak remaja (An. H),

membuat An. H bisa lebih membuka diri, An. H juga sudah mulai mau
menceritakan masalahnya sedikit demi sedikit kepada orang tuanya. Namun Ibu.

R juga sering merasa binggung dalam merubah pola mendidik anak yang sudah

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201360

Universitas Indonesia

lama diterapkan, Ibu. R juga mengatakan terkadang tidak memiliki waktu banyak

dalam berbicara dengan anak remaja di rumah karena pekerjaan dan

kesibukannya. Akan tetapi, Ibu. R memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat

memecahkan masalah remaja. Hal ini dikarenakan, Ibu. R merasa selama ini

selalu dianggap cerewet dan tidak gaul oleh An. H apabila berbicara dengan

remaja atau mendiskusikan masalah-masalah remaja di keluarga mereka.

Setelah dilakukan eveluasi sumatif untuk masalah ketidakefektifan koping

pada keluarga Bp. R, juga dilakukan penilaian terhadap tingkat kemandirian

keluarga. Menurut hasil pengkajian, intervensi, implementasi dan evaluasi yang

dilakukan selama tujuh minggu, keluarga dapat bekerjasama dengan mahasiswa

dalam mengatasi masalah kesehatan yang ditemukan. Selama melakukan

pembinaan dan kunjungan yang rutin di keluarga, mahasiswa banyak memperoleh

informasi dari keluarga mengenai masalah kesehatan yang dialami keluarga.

Selama tujuh minggu mahasiswa melakukan pembinaan dan kunjungan rutin ke

keluarga dan menemukan tiga masalah kesehatan dan dapat disimpulkan bahwa

keluarga termasuk ke dalam Keluarga mandiri tingkat IV. Kemandirian IV yaitu

keluarga yang dapat: 1) Menerima petugas puskesmas; 2) Menerima yankes

sesuai rencana; 3) Menyatakan masalah kesehatan secara benar; 4) Memanfaatkan

faskes sesuai anjuran; 5) Melaksanakan perawatan sederhana sesuai anjuran; 6)

Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif; 7) Melaksanakan tindakan

promotif secara aktif.

3.5 Intervensi Inovasi Komunikasi Efektif pada Keluarga Bp. R

Intervensi inovasi yang dilakukan pada keluarga Bp. R dengan masalah


ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R terutama masalah komunikasi

inefektif yaitu demonstrasi dalam komunikasi efektif antara orang tua dan anak

remaja. Tujuan dari implementasi intervensi inovasi ini diharapkan terciptanya

komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak remaja sehingga orang tua

dapat membangun hubungan yang harmonis dengan remaja, membentuk suasana

keterbukaan dan mendengar, membuat remaja mau bicara pada saat mereka

menghadapi masalah, membuat remaja mau mendengar dan menghargai orang tua

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201361

Universitas Indonesia

dan dewasa saat mereka berbicara serta membantu remaja menyelesaikan masalah

yang sedang dihadapinya.

Pada kunjungan keluarga yang ke empat pada tanggal 24 Mei 2013,

mahasiswa melakukan intervensi inovasi ini yang dilakukan dengan cara

menjelaskan dan mendemonstrasikan kepada orang tua (Ibu. R) mengenai

kemampuan yang perlu dikembangkan oleh orang tua dan orang dewasa agar

dapat menjalin komunikasi efektif dengan remaja, antara lain mengenal diri

sendiri, mengenal diri remaja, mendengar aktif, pesan kamu dan pesan saya,

menentukan masalah siapa serta mengenal dan menghindari gaya penghambat

komunikasi. Setelah mahasiswa menjelaskan dan mendemonstrasikan, kemudian

mahasiswa dan orang tua melakukan role play dengan mahasiswa berperan

sebagai anak remaja. Ketika mendemonstrasikan cara berkomunikasi yang efektif

antara orang tua dan anak remaja, Ibu. R sudah mampu dan menunjukkan sikap

sebagai orang tua yang empati, netral, menghargai remaja serta meyakinkan akan

kerahasiaan remaja pada saat proses komunikasi berlangsung. Proses komunikasi

efektif tersebut dilakukan dalam ruangan yang tenang dan kondusif untuk

menjaga privacy remaja dan keleluasaan remaja dalam mengekspresikan perasaan

atau menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya.


Pada pertemuan berikutnya, dilakukan evaluasi tentang penerapan

komunikasi efektif di keluarga Bp. R dan Ibu. R mengatakan sudah melatih cara

komunikasi dengan An. H dengan menggunakan pesan saya tetapi masih belum

sering untuk dilakukan. Saat dilakukan evaluasi, Ibu. R dapat mempraktekkan

kembali komunikasi efektif pesan saya dengan baik dan benar. Pada pertemuan

selanjutnya Ibu. R mengatakan sudah mempraktekkan komunikasi efektif pada

An. H.

Hasil evaluasi setelah dilakukan intervensi komunikasi efektif selama 3 kali

kunjungan keluarga adalah Ibu. R mengatakan bahwa setelah mendapatkan

penjelasan tentang cara komunikasi efektif, Ibu. R masih sulit untuk

mempraktekkan komunikasi efektif tersebut ketika berbicara dengan An. H. Ibu.

R mengatakan bahwa pada awalnya masih sering emosi ketika berbicara dengan

An. H dan menggunakan pesan kamu apabila An. H melakukan kesalahan.

Namun untuk pertemuan kedua Ibu. R sudah berusaha melatih komunikasi

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201362

Universitas Indonesia

efektifnya di rumah. Ibu. R dapat memberikan contoh dari pesan saya yaitu

Mama merasa khawatir kalau H pulang terlambat dari sekolah dan gak ngasih

kabar ke Mama, Mama pikir terjadi sesuatu sama H dijalan, Mama sih pengennya

kalau H pulang terlambat ya ngasih kabar ke Mama. Pada pertemuan keempat,

keluarga mengaku bahwa setelah Ibu. R mempraktekkan komunikasi efektif di

rumahnya, Ibu. R lebih bisa mengendalikan emosinya. Ibu. R berusaha untuk

menanyakan dan mendengar alasan dari An. H terlebih dahulu dan tidak lagi

menggunakan kata kamu pada saat bekomunikasi dengan anak remajanya. Saat

dilakukan evaluasi sumatif keluarga mengaku bahwa setelah menggunakan pesan

saya, An. H bisa lebih membuka diri, An. H juga sudah mulai mau menceritakan

masalah yang sedang dihadapinya sedikit demi sedikit kepada orang tuanya.
Namun Ibu. R juga sering merasa binggung dalam merubah pola mendidik anak

terutama pola komunikasi yang sudah lama diterapkan dikeluarganya. Intervensi

inovasi komunikasi efektif yang dilakukan pada keluarga Bp. R dapat

dilaksanakan dengan baik oleh keluarga meskipun belum maksimal karena An. H

belum bisa terbuka sepenuhnya kepada keluarga.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 2013 63 Universitas


Indonesia

BAB 4

ANALISIS SITUASI

4.1 Profil Lahan Praktik

Kota Depok sebagai wilayah termuda di Jawa Barat, mempunyai luas

wilayah sekitar 200,29 km

. Secara geografis, Kota Depok berbatasan langsung

dengan Kota Jakarta atau berada dalam lingkungan wilayah Jabotabek. Penduduk

Kota Depok pada tahun 2010 diperkirakan berjumlah 1.610.000 jiwa. Jumlah

populasi anak remaja usia SMP/ SMU di Kota Depok berdasarkan hasil cakupan

deteksi tumbuh kembang anak dan pemeriksaan siswa SMP/ SMU didapatkan

sebanyak 45.622 jiwa (www.depok.go.id, 2013).

Cisalak Pasar merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan

Cimanggis, Depok. Luas wilayah Cisalak Pasar adalah 1,71 km

. Jumlah

penduduk kelurahan Cisalak Pasar adalah 17.869 jiwa (BPS Depok, 2012). Rukun

Warga 02 (RW 02) merupakan salah satu wilayah diantara 9 RW yang saat ini

terdapat di Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok. Wilayah

RW 02 Kelurahan Cisalak Pasar terdiri dari 5 RT, dan letaknya berbatasan dengan

RW 01, RW 03, dan Kelurahan Curug.


Wilayah Kelurahan Cisalak Pasar terletak di wilayah yang cukup ramai

karena terletak di jalur utama akses Bogor Jakarta, sehingga dilalui banyak

orang. Kelurahan Cisalak pasar juga berdekatan dengan beberapa perusahaan

besar, hal ini menyebabkan banyak warga pendatang yang tinggal di wilayah

Kelurahan Cisalak Pasar, khususnya di RW 02.

Berdasarkan laporan rekapitulasi penduduk Kelurahan Cisalak Pasar pada

bulan Mei 2012 tercatat penduduk RW 02 berjumlah 1773 jiwa, yang terdiri dari

347 kepala keluarga dan 364 remaja yang berusia 10 24 tahun dan belum

menikah. Jumlah penduduk remaja terbanyak terdapat di RT 02 sebesar 35,71 %

(130 remaja) dan yang paling sedikit adalah di RT 04 sebesar 9,62 % (35 remaja).

Sedangkan jumlah remaja laki-laki sebanyak 193 orang dan remaja perempuan

sebanyak 171 orang. Masalah yang menonjol pada remaja ada 3 atau biasa disebut

triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) yaitu seks bebas, HIV dan AIDS, dan

Napza (BKKBN, 2010). RW 02 Kelurahan Cisalak Pasar merupakan wilayah

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201364

Universitas Indonesia

yang berisiko untuk terjadinya ketiga masalah tersebut karena wilayah Kelurahan

Cisalak Pasar yang berdekatan dengan ibu Kota Jakarta. Laporan tahunan Badan

Narkotika Kota Depok (2008) menyebutkan bahwa penyalahgunaan NAPZA di

Kota Depok berkisar 1,5% dari total penduduk Kota Depok, dan 75% kasus

berasal dari kelompok umur 10-18 tahun. Hasil observasi yang dilakukan penulis

dan kelompok didapatkan data bahwa terdapat tempat yang sering dijadikan

nongkrong para remaja di malam hari. Kehamilan Tidak Diinginkan juga sering

terjadi di RW ini dimana ada 10 kasus KTD dalam satu tahun. Delapan belas

remaja di RW 2 diambil untuk dibina. Data yang diperoleh bahwa dari 7 orang

remaja lelaki yang diambil 6 diantaranya pernah mencoba untuk merokok.

Sedangkan 50% dari 18 remaja mengaku sudah pernah berpacaran. Hasil


pengkajian juga dapat diketahui bahwa dari 18 remaja yang diambil sebagai

keluarga binaan mengaku jarang berbincang-bincang atau bercerita dengan orang

tuanya. Padahal komunikasi yang baik antara orang tua atau orang dewasa

dengan anak remaja adalah kunci utama untuk menguraikan permasalahan yang

terjadi pada mereka. Melihat pentingnya komunikasi efektif antara remaja dan

orang tuanya, maka peneliti terdorong untuk melakukan asuhan keperawatan

keluarga dengan anak remaja pada keluarga Bp. R dengan masalah koping

keluarga tidak efektif (komunikasi infektif) di RT 02 RW 02 Kelurahan Cisalak

Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok karena remaja ini (An. H) mengaku

tidak pernah menceritakan masalah yang dihadapinya pada orang tua. An. H juga

mengatakan lebih suka menceritakan masalahnya kepada teman-temannya

dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya yang lain. Selain itu, An. H

mengaku sudah memiliki teman dekat wanita (pacar).

4.2 Analisis Masalah Keperawatan

4.2.1 Analisis Masalah Terkait Konsep KKMP

Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan tidak hanya menangani

suatu permasalahan yang membutuhkan adanya penyembuhan dari suatu

masalah kesehatan/ penyakit tetapi juga adanya upaya pencegahan. Oleh

karena itu di lingkup keperawatan kesehatan masyarakat penkotaan

mencakup peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif),

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201365

Universitas Indonesia

pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan

(rehabilitatif), dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik

individu, keluarga dan kelompok-kelompok masyarakat ke lingkungan

sosial dan masyarakat (resosialitatif).

Pada umumnya kota diasosiasikan dengan pengangguran, kemiskinan,


polusi, kebisingan, ketegangan mental, kriminalitas, kenakalan remaja,

seksualitas dan sebagainya. Menurut bentuknya, Sunarwiyati (2005)

membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan; (1) kenakalan biasa,

seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah

tanpa pamit; (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan

seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa

izin; (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks

diluar nikah, pemerkosaan dan lain-lain.

Masalah yang biasanya terjadi pada remaja di perkotaan adalah

pencurian, penipuan, perampokan, pencopetan, suka minum-minuman keras

sampai mabuk dan perbuatan-perbuatan ringan lain, seperti pertengkaran

sesama anak dan tawuran antar pelajar di kota-kota besar, seks bebas dan

penyalahgunaan NAPZA. Hal ini dikarenakan oleh pergaulan dikota yang

semakin bebas dan berkembangnya trend yang salah seperti kalau tidak

merokok tidak jantan dan keren.

Permasalahan remaja di RW 02, Kelurahan Cisalak Pasar, Depok

cukup banyak seperti seks bebas yang berujung pada KTD, merokok, dan

remaja yang setiap malam nongkrong. Masalah remaja yang terjadi dapat

dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor yang dapat

mempengaruhi dari internal adalah krisis identitas dan kontrol diri yang

lemah. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi masalah pada

remaja adalah keluarga, teman sebaya dan lingkungan.

Masalah remaja yang terjadi di RW 02 sebagian besar disebabkan oleh

pengaruh teman sebaya dan tidak efektifnya komunikasi orang tua dengan

remaja. Remaja yang pernah merokok mengaku mencoba merokok karena

ajakan dari teman-teman di lingkungan sekolah dan rumah untuk mencoba

merokok. Penyebab lainnya adalah kurangnya komunikasi antara orang tua


Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201366

Universitas Indonesia

dan anak remajanya. Para remaja mengaku bahwa jarang berbincangbincang dengan keluarganya.
Remaja juga merasa takut apabila

menceritakan masalahnya kepada orang tua dan cenderung tertutup terhadap

orang tua. Remaja juga mengaku kadang percakapan dengan orang tua akan

berakhir dengan ketegangan. Cara berkomunikasi orang tua cenderung

membentak atau menyalahkan apabila mereka melakukan kesalahan atau

tidak menuruti perkataan orang tua. Remaja juga mengaku bahwa lebih

senang dan terbuka bercerita kepada temannya dari pada dengan orang tua

atau keluarganya.

Salah satu karakteristik dari keperawatan masyarakat perkotaan adalah

menekankan terhadap pencegahan akan masalah serta adanya promosi

kesehatan dan kesejahteraan diri. Pencegahan kenakalan remaja yang

banyak terjadi di perkotaan dapat dilakukan dengan teknik komunikasi

efektif antara orang tua dan anak remaja, karena salah satu penyebab

kenakalan remaja adalah komunikasi inefektif antara orang tua dan remaja.

Komunikasi yang diterapkan oleh keluarga sangatlah berpengaruh terhadap

perkembangan kepribadian seorang anak. Komunikasi yang terjalin dalam

keluarga sangat penting agar perubahan dan permasalahan yang terjadi

dapat dideteksi semenjak dini. Ibu. R mengatakan An. H memiliki

kepribadian yang tertutup, hal tersebut didukung dengan pola komunikasi

keluarga yang kurang terbuka. Baik Ibu. R maupun Bp. R jarang

berkomunikasi dengan An. H untuk membicarakan masalah pribadi yang

sedang dihadapi An. H, hal tersebut lah yang menjadikan An. H tidak

merasa nyaman untuk mendiskusikan masalah yang sedang dialaminya

kepada orang tuanya.

4.2.2 Analisis Masalah Terkait Konsep Remaja


Masalah remaja yang ditemukan pada keluarga Bp. R khususnya An.

H adalah ketidakefektifan koping. An. H mengaku bahwa dirinya sudah

memiliki pacar tetapi orang tuanya tidak mengetahui. Hal ini dikarenakan

An. H belum diizinkan oleh orang tuanya untuk berpacaran sehingga apabila

orang tuanya mengetahui kalau dirinya sudah berpacaran akan dimarahi.

An. H juga lebih senang menceritakan masalah pribadinya kepada temanAsuhan keperawatan ...,
Mila Sri, FIK UI, 201367

Universitas Indonesia

temannya dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya yang lain.

Ibu. R mengatakan urusan anaknya lebih banyak diserahkan kepada ibunya,

Ibu. R juga mengatakan An. H merupakan seorang anak yang tertutup dan

lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar daripada berkumpul

dengan keluarga.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke

masa dewasa, seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai

kanak-kanak namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan

dewasa. Pada masa ini remaja relatif belum mencapai tahap kematangan

mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan

emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak perubahan-perubahan

dalam pertumbuhan dan perkembangan yang dialami remaja, mencakup

fisik, mental, emosi dan perilaku sosial. Oleh karena itu, remaja sangat

rentan sekali mengalami masalah-masalah psikologis dan fisiologis.

Masalah tersebut yang akan berakibat pada masalah kesehatan pada

remaja (Santrock, 2007).

Masalah-masalah yang terjadi pada remaja tidak dapat terlepas dari

pengaruh interaksi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial

terhadap berkembangnya masalah-masalah remaja dan orang-orang yang

berasal dari berbagai usia lainnya. Menurut pendekatan biologis, masalah


yang terjadi pada remaja dapat berkaitan dengan perubahan yang terjadi

pada tubuhnya. Sedangkan faktor-faktor psikologis yang dianggap sebagai

sebab timbulnya masalah remaja adalah gangguan berpikir, gejolak

emosional, proses belajar yang keliru, dan relasi yang bermasalah.

Selanjutnya faktor sosial yang melatarbelakangi timbulnya masalah pada

remaja yaitu berasal dari latar belakang budaya, social-ekonomi, latar

belakang keluarga, dan lingkungan (Santrock, 2007).

Masa remaja awal merupakan masa transisi dari masa anak-anak

yang biasanya tidak menyenangkan, dimana dengan meningkatnya

kesadaran diri (self consciousness) terjadi juga perubahan secara fisik,

psikis maupun sosial pada remaja sehingga remaja mengalami perubahan

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201368

Universitas Indonesia

emosi ke arah yang negatif menjadi mudah marah, tersinggung bahkan

agresif. Selain hal tersebut, remaja juga menjadi sulit bertoleransi dan

berkompromi dengan lingkungan sekitar sehingga cenderung

memberontak dan terjadi konflik. Masa remaja awal ini juga remaja senang

bereksperimen dalam pakaian, gaya yang dianggap tidak ketinggalan

zaman dan senang membentuk kelompok sebaya yang sesuai dengan

mereka. Rasa keterikatan dengan kelompoknya ini sangat penting bagi

remaja, sehingga cenderung mengikuti apa yang dipakai oleh kelompoknya

karena keinginan untuk tampak sama dan dianggap dalam kelompok

pergaulan. Konsumsi obat (narkoba) juga dapat berkaitan dengan alasan

sosial, yang membantu remaja merasa lebih nyaman dan menikmati

kebersamaan dengan orang lain (Ksir, Hart, & Ray dalam Santrock, 2007).

Hal ini sesuai dengan An. H yang masih berusia 14 tahun, Ibu. R

mengatakan An. H mudah marah dan tersinggung jika orang tua ingin tahu
lebih banyak tentang kehidupan An. H, An. H juga memiliki teman

kelompok sebaya di lingkungan rumah dan sekolahnya.

Faktor keluarga juga sangat berpengaruh terhadap timbulnya

kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya

perhatian orangtua terhadap aktivitas remaja, kurangnya penerapan disiplin

yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu

timbulnya kenakalan remaja. Ibu. R mengaku bahwa mereka jarang

berbincang-bincang dengan An. H. Ibu. R cenderung lebih fokus terhadap

anak-anak mereka yang lebih kecil sehingga kadang pengawasan mereka

terhadap anaknya kurang. Ibu. R tidak mengetahui kegiatan apa saja yang

biasanya dilakukan oleh An. H. Selain itu, Ibu. R juga mengakui bahwa

apabila anak mereka ketahuaan melakukan kesalahan langsung dimarahi

terutama oleh ayahnya. Hal inilah yang membuat anak remaja cenderung

tertutup terhadap dan tidak mau bercerita kepada orang tuanya.

4.3 Analisis Intervensi Inovasi dengan Konsep dan Penelitian Terkait

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201369

Universitas Indonesia

Banyak permasalahan yang sering timbul pada keluarga dengan tahap

perkembangan anak remaja karena pada tahap ini, anak berusaha mencari identitas

diri, sehingga mereka sering membantah orang tuanya, karena mulai mempunyai

pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang

tuanya. Orang yang dianggap penting pada usia ini adalah teman sebaya, mereka

berusaha untuk mengikuti pendapat dan gaya teman-temannya karena dianggap

memiliki kesamaan dengan dirinya, sehingga pada usia ini sering terlibat dalam

geng-geng. Perubahan perkembangan yang terjadi pada remaja, sering

mengakibatkan remaja tersebut mengalami keadaan tertekan (stress). Kemampuan

remaja mengatasi berbagai masalah sehingga tidak stress sangat ditentukan oleh
seberapa besar dukungan dari keluarga terutama orang tuanya. Semakin besar

dukungan yang diperoleh remaja dalam mengatasi berbagai masalahnya, semakin

rendah kemungkinannya remaja mengalami stress sehingga terhindar dari

gangguan dalam perilakunya (Setiadi, 2008). An. H mengaku ketika sedang

menghadapi masalah lebih senang bercerita kepada temannya dan

menyelesaikannya sendiri. Ibu. R juga mengatakan bahwa dirinya jarang

berbincang-bincang dengan An. H dan lebih sibuk mengurus rumah tangga serta

mengasuh adik dari An. H.

Komunikasi efektif antara orang tua dan remaja memberikan kesempatan

saling mengungkapkan isi hati atau kekesalan yang dirasakan serta harapan yang

diinginkan, karena pada hakekatnya seorang anak dalam pertumbuhan dan

perkembangannya membutuhkan uluran tangan orang tua. Orang tua bertanggung

jawab dalam mengembangkan kemampuan anak termasuk kebutuhan fisik dan

psikis sehingga seorang remaja dapat tumbuh dan berkembang kearah kepribadian

yang matang (Gunarsa, 2004). Hasil studi penelitian yang dilakukan oleh Indarsita

(2002) dengan metode cross sectional dengan sampel 107 siswa SMP X, 28 %

memiliki risiko terhadap masalah reproduksi. Proporsi remaja yang tidak pernah

berkomunikasi dengan orang tua (33,8 %) memiliki risiko lebih besar

dibandingkan dengan proporsi remaja yang berkomunikasi dengan orang tua.

Penelitian yang dilakukan pada 233 mahasiswa di Amerika Serikat dan 187

Mahasiswa di Singapura yang berusia antara 18-27 tahun juga mendapatkan hasil

antara lain; 1) Nilai-nilai keluarga yang kuat akan menurunkan perilaku berisiko

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201370

Universitas Indonesia

pada remaja. 2) Keterikatan keluarga yang kuat dan pola komunikasi yang terbuka

akan mendorong remaja untuk lebih sering mendiskusikan perilaku berisiko

dengan orang tua mereka. 3) Peningkatan dalam pembicaraan keluarga tentang


perilaku yang berisiko akan menurunkan kecenderungan remaja terhadap perilaku

tersebut. 4) Perilaku berisiko pada remaja cenderung meningkat pada saat orang

tua tidak mendampingi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Dewi (2008)

menyatakan bahwa persepsi terhadap komunikasi efektif dalam keluarga dengan

mengontrol kondisi stress yang dialami remaja memberikan sumbangan efektif

sebesar 10,8 % terhadap kecenderungan kenakalan remaja. Sedangkan penelitian

yang dilakukan oleh Putri (2009) menyebutkan bahwa persepsi remaja tentang

komunikasi keluarga berhubungan dengan perilaku kenakalan remaja. Semakin

baik persepsi remaja tentang komunikasi keluarga menunjukkan hubungan antar

anggota keluarga harmonis sehingga minim terjadi kenakalan remaja.

Melihat fenomena-fenomena hubungan antara komunikasi efektif dengan

berbagai permasalahan remaja yang ada, maka komunikasi yang efektif antara

orang tua dengan anak remajanya memang sangat diperlukan untuk menurunkan

perilaku berisiko remaja. Komunikasi orang tua dengan remaja pada dasarnya

harus terbuka, walaupun remaja lebih cenderung terbuka dengan teman

sebayanya. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan An. H diharapkan

dapat menghindari kesalahpahaman antara orang tua dengan An. H, selain itu juga

agar ketika sedang menghadapi masalah An. H mau bercerita kepada keluarga

terutama orang tuanya dan tidak menyelesaikannya masalah tersebut sendirian.

4.4 Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan

Melihat hasil dari program komunikasi efektif antara orang tua dan remaja

yang dilakukan pada keluarga Bp. R, setelah dilakukan inovasi intervensi ada

sedikit perubahan yang terjadi antara sebelum dan sesudah dilakukannya program

tersebut, antara lain An. H yang semula sangat pendiam dan tertutup terutama

untuk masalah pribadinya saat ini sudah bisa lebih membuka diri, An. H juga

sudah mulai mau menceritakan masalah yang sedang dialaminya sedikit demi

sedikit kepada orang tuanya. Untuk lebih memaksimalkan hasil yang diharapkan,
maka diperlukan alternatif pemecahan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201371

Universitas Indonesia

masalah ketidakefektifan koping khususnya masalah komunikasi inefektif antara

orang tua dan remaja yaitu dengan kegiatan pemberian dukungan sosial kepada

remaja dalam bentuk empowerment.

Empowering atau pemberdayaan adalah suatu kegiatan dengan melibatkan

masyarakat secara aktif untuk menyelesaikan masalah yang ada, masyarakat

sebagai subjek dalam menyelesaikan masalah (Stanhope & Lancaster, 2004;

Hitchock, Schuber & Thomas, 1999). Permasalahan komunikasi inefektif antara

orang tua dan remaja dapat diselesaikan dengan adanya suatu forum dari luar

sistem remaja melalui pembentukan social support group. Orang tua sebagai

bagian dari sistem keluarga dimana remaja tinggal selama 24 jam di rumah dapat

diupaya untuk meningkatkan kontrol dalam pengambilan keputusan pada level

individual, keluarga, komunitas dan masyarakat. Perawat dapat menggunakan

strategi pemberdayaan untuk membantu masyarakat mengembangkan

keterampilan dalam menyelesaikan masalah, menciptakan jejaring, negosiasi,

lobbying, dan mendapatkan informasi untuk meningkatkan.

Peningkatan aksesibilitas sumber-sumber untuk problem solving

komunikasi efektif dengan remaja dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan

keberfungsian pola koping keluarga dengan dukungan dari komunitas melalui

forum diskusi antara orang tua dan remaja dalam memfasilitasi permasalahan

yang dihadapi oleh remaja. Selain itu juga memberikan penjelasan kepada

keluarga mengenai tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja,

pemberdayaan keluarga atau orang tua dalam memfasilitasi pertumbuhan dan

perkembangan remaja dalam lingkungan keluarga yang aman, kondusif, dan

menjaga privacy remaja.


Program ini membutuhkan partisipasi yang aktif dari semua elemen yang

ada di masyarakat. Elemen masyarakat diberdayakan seoptimal mungkin dalam

menjalankan program meningkatkan keberfungsian pola koping keluarga untuk

menjadi keutuhan sistem yang ada di komunitas. Elemen di masyarakat seperti

remaja, kelompok remaja, keluarga, dan masyarakat perlu diberdayakan dan

diorganisasi dengan baik sehingga akan didapatkan sumber tenaga atau daya

dalam menjalankan program ini.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 2013 72 Universitas


Indonesia

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Bp. R yang

bertempat tinggal di wilayah RT 02 RW 02 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan

Cimanggis Kota Depok maka dapat disimpulkan hasil pengkajian awal yang

menggambarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah

ketidakefektifan koping keluarga terutama masalah komunikasi yaitu pola

komunikasi antar remaja dan orang tua yang tidak efektif, yaitu Ibu. R

mengatakan urusan anaknya lebih banyak diserahkan kepada ibunya, An. H

merupakan seorang anak yang tertutup dan lebih suka menghabiskan waktunya di

dalam kamar daripada berkumpul dengan keluarga, Bp. R memang agak keras

untuk mendidik anak-anaknya, An. H mengaku tidak pernah menceritakan

masalah yang dihadapinya pada orang tua, terkadang percakapan dengan orang

tua akan berakhir dengan ketegangan, An. H lebih suka menceritakan masalahnya

kepada teman-temannya dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya

yang lain, saat ini An. H mengatakan sudah memiliki teman dekat wanita (pacar),

dan orang tuanya tidak mengetahui hal itu, Bp. R sibuk bekerja dan jarang

menyempatkan berbicara kepada anaknya.


Tersusun tiga masalah keperawatan keluarga pada keluarga Bp. R, yaitu (1)

Ketidakefektifan koping keluarga Bp. R; (2) Ketidakefektifan performa peran

remaja pada keluarga Bp. R khususnya An. H; (3) Risiko penurunan prestasi

belajar pada keluarga Bp. R khususnya An. H. Rencana program dalam mengatasi

masalah ketidakefektifan koping pada keluarga Bp. R terutama masalah

komunikasi yaitu dengan program yang diberi nama komunikasi efektif antara

remaja dan orang tua. Program ini diimplementasikan kedalam suatu bentuk

intervensi keperawatan keluarga serta aktivitas kegiatan di komunitas yang

melibatkan keluarga Bp. R dalam bentuk pendidikan kesehatan, partnership dan

empowerment.

Rencana tindakan yang disusun untuk menyelesaikan masalah

ketidakefektifan koping keluarga terutama masalah komunikasi di keluarga Bp. R,

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201373

Universitas Indonesia

mahasiswa mampu melaksanakan semua rencana yang ada walaupun dalam

pelaksanaannya masih ada kendala. Kegiatan komunikasi efektif antara remaja

dan orang tua ini dilakukan melalui strategi pendekatan berupa pendidikan

kesehatan, partnership, dan empowerment. Pada akhir praktik melalui eveluasi

sumatif, terevaluasi adanya peningkatan pengetahuan keluarga tentang

komunikasi efektif, keterampilan orang tua dalam berkomunikasi efektif dengan

anak remajanya, serta ada sedikit perubahan yang terjadi antara sebelum dan

sesudah dilakukannya program komunikasi efektif antara orang tua dan remaja

tersebut, antara lain An. H yang semula sangat pendiam dan tertutup terutama

untuk masalah pribadinya saat ini sudah bisa lebih membuka diri, An. H juga

sudah mulai mau menceritakan masalah yang sedang dialaminya sedikit demi

sedikit kepada orang tuanya. Pada evaluasi program keperawatan keluarga sangat

efektif dalam merubah komunikasi inefektif antara orang tua dan remaja karena
orang tua lebih mau mendengar supaya remaja banyak bicara serta menerima

terlebih dahulu perasaan remaja agar remaja lebih terbuka dan dihargai, sehingga

ketidakefektifan koping keluarga dapat teratasi.

5.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan

permasalahan ketidakefektifan koping keluarga terutama masalah komunikasi

inefektif antara orang tua dan remaja yaitu:

5.2.1 Pengambil Kebijakan

Perlunya kejasama antara remaja, keluarga, tokoh masyarakat, dan

puskesmas dalam membina masalah remaja. Kerja sama ini dapat disusun

dan diaspirasikan kedalam suatu aktivitas kegiatan yang disusun oleh remaja

dan disetujui serta diketahui oleh keluarga dan masyarakat. Kegiatan yang

dilakukan bisa berbentuk aktivitas keagamaan, keolahragaan ataupun

kegiatan sosial sehingga remaja dapat mengekspresikan kreasi dan

masalahnya melalui kelompok tersebut. Selain itu juga perlunya kerjasama

antar pihak Kelurahan dan Puskesmas dalam memberikan pelayanan

kesehatan peduli remaja (PKPR). Kegiatan dapat dimulai dengan

pembentukan klinik konseling remaja di puskesmas.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201374

Universitas Indonesia

Perlunya pembuatan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan

ketrampilan remaja dalam menghasilkan sesuatu sesuai dengan identifikasi

keadaan wilayah masing-masing RW. Kegiatan ketrampilan tersebut seperti

pembentukan kelompok remaja yang mengajarkan dan melatih keterampilan

remaja yang dapat diandalkan dan mengisi waktu luang di luar jam sekolah.

5.2.2 Perawat Komunitas

Perawat komunitas dapat melakukan tindakan prevensi dalam upaya


untuk menekan faktor risiko yang mempengaruhi ketidakefektifan koping

keluarga seperti komunikasi inefektif. Perawat komunitas perlu memberikan

fasilitas bagaimana komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak

uasia remaja dalam masa transisi.

5.2.3 Keluarga

Keluarga lebih mengoptimalkan dalam memfasilitasi tugas

perkembangan keluarga seperti menjaga komunikasi yang terbuka antara

orang tua dengan remaja, memberikan kebebasan yang bertanggung jawab

pada remaja untuk aktifitas sehari-hari baik dalam keluarga maupun dalam

masyarakat. Memberikan kebebasan berpendapat pada remaja dan adanya

tata aturan yang jelas dalam keluarga berdasarkan kesepakatan bersama

antara masing-masing anggota keluarga.

5.2.4 Remaja

Peran remaja di masyarakat dapat dioptimalkan melalui pembentukan

kader remaja sebagai peer edukator dalam memfasilitasi kegiatan

pendidikan kelompok sebaya di masyarakat melalui pelatihan secara

terstruktur yang bekerja sama antara masyarakat, puskesmas dan dinas

kesehatan. Perawat komunitas juga dapat mengoptimalkan peran kader

kesehatan di masyarakat dalam melakukan pembinaan remaja di keluarga

melalui pengoptimalan kembali fungsi dari BKR (Bina Keluarga Remaja) di

masyarakat. Hal ini semua membutuhkan monitoring dan evaluasi kegiatan

secara seksama dari perawat komunitas dan puskesmas selaku pengampu

pelayanan kesehatan di daerah setempat.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 2013 75 Universitas


Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M., & Asrori, M. (2010). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik.

Edisi ke-6. Jakarta: Media Grafika.


Allender, J. A., & Spredley, B. W. (2005). Community health nursing: promoting

and protecting the publics health. 6

th

Ed. Philadelphia: Lippincott Williams

& Wilkins.

Anderson, E. T., & Mc.Farlane, J. M. (2000). Community health and nursing,

concept and practice. Lippincott: California.

Aprilia, K. (2007). Hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku

agresi pada remaja. Style Sheet http: http://lib.uinmalang.ac.id/thesis/chapter_i/08410087-riza-


amalia.ps. Diakses pada

tanggal 28 Juni 2013.

Bintarto. (2000). Interaksi desa-kota. Jakarta: Ghalia Indonesia.

BKKBN. (2002). Teknik berkomunikasi dengan remaja. Jakarta.

________. (2012). Laporan situasi kependudukan dunia tahun 2012. Jakarta.

________. (2009). Pusat Informasi dan Konseling remaja (PIK Remaja). Jakarta:

Direktorat remaja dan perlindungan hak-hak reproduksi.

Carpenito, L. J. (2000). Buku saku diagnosa keperawatan. Edisi ke-8. Alih

Bahasa Ester M. Jakarta: EGC.

Clemen-stone, S., McGuire, S. L., & Eigsti, D. G (2002). Comprehensive

community health nursing: Family, aggregate, & community practice. 6

th

Ed. St. Louis: Mosby, Inc.

Depkes RI. (2004). Sistem kesehatan nasional. Jakarta.

Dewi, E. N. (2008). Persepsi terhadap komunikasi efektif dalam keluarga, stres

dan kecenderungan kenakalan pada remaja. Dalam

http://ebookbrowse.com/uii-skripsi-persepsi-terhadap-ko-03320150-ervanovasari-dewi-
3996587172-abstract-pdf-d427011075. Diakses pada tanggal

25 Juni 2013.
Duvall, E & Miller, C. M. (1985). Marriage and family development. 6

th

Ed. New

York: Harper & Row Publisher.

Effendy, (2000). Dinamika komunikasi remaja. Edisi ke-4. Bandung: Rosdakarya.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201376

Universitas Indonesia

Effendy. (2002). Komunikasi teori dan praktek. Jakarta: Grasindo Rosdakarya.

Fauzi. (2010). Relefansi pengetahuan seks dan komunikasi orang tua dan anak

dengan perilaku seksual pranikah remaja. Dalam

http://webcache.googleusercontent.com. Diakses pada tanggal 1 Juli 2013.

Fiona. (2008). Parent adolescent communication and adolescent decision-making,

Journal of family studiets. P41-56. Vol 2. Dalam http://jfs.econtentmanagement.com. Diakses pada


tanggal 2 Juni 2013.

Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. J. (2003). Family nursing: research

theory and practice. 5

th

Ed. New Jersey: Prentice Hall.

Gunarsa. (2004). Psikologi praktis: Anak, remaja dan keluarga. Jakarta: Gunung

Mulia.

Gunarsa & Gunarsa. (2008). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta:

Gunung Mulia.

Haniman, F. (2000). Citra diri dan kenakalan remaja pada siswa SMU. K (SLTS)

peringkat tinggi dan peringkat rendah di Surabaya. Indonesia psychological

journal: Anima, vol 15 no 3.

Hurlock, E. B (1998). Development psychology: a life span approach. 5

th

Ed.
London: McGraw Hill Inc.

Indarsita, D. (2002). Hubungan faktor eksternal dengan perilaku remaja dalam

kesehatan reproduksi di SLTP Medan. Dalam http://respiratory.usu.ac.id.

Diakses pada tanggal 4 juni 2013.

Keliat, B. A., dkk (2005). Modul basic course community health nursing. Tidak

dipublikasikan. Jakarta: FIK UI.

Mubarak, dkk. (2009). Ilmu keperawatan komunitas: Konsep dan aplikasi.

Jakarta: Salemba Medika.

NANDA. (2012). Panduan diagnosa keperawatan NANDA 2012-2014 definisi

dan klasifikasi. Philadhelpia.

Potter, P. A & Perry, A. G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: konsep,

proses dan praktik. Jakarta: EGC.

Purwanto, H. (1999). Pengantar perilaku manusia untuk keperawatan. Jakarta:

EGC.

Asuhan keperawatan ..., Mila Sri, FIK UI, 201377

Universitas Indonesia

Putri, A. A. (2009). Hubungan antara persepsi remaja tentang komunikasi

keluarga dengan kenakalan remaja putra di SMK Pelita Nusantara 2

Semarang. Dalam http://eprints.undip.ac.id/8738/. Diakses pada tanggal 25

Juni 2013.

Riswandi. (2009). Ilmu komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Santrock, J. W. (2007). Perkembangan anak edisi kesebelas jilid 2. Jakarta:

Erlangga.

Setiadi. (2008). Konsep dan proses keperawatan keluarga edisi pertama.

Yogyakarta: Graha ilmu.

Slameto. (2006). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta.
Stanhope, M., & Lancaster, J. (2004). Community health nursing. 4

th

Ed. St Louis:

Missouri & Mosby Co.

Subekti, I., Harsoyo, S. (2005). Asuhan keperawatan komunitas konsep proses

dan pendekatan pengorganisasian masyarakat. Malang: Buntara Media.

Suprajitno. (2004). Asuhan keperawatan keluarga. Jakarta: Buku Kedokteran

EGC.

Tim Pembina UKS. (2004). Pedoman pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah

(UKS) untuk guru di Jawa Barat. Bandung: Tim Pembina UKS Provinsi

Jawa Barat.

Utomo, A. R., dkk. (2003). Studi tentang intensi agresi di kalangan siswa Sekolah

Menengah Umum (SMU) di kota Bandung. Jurnal psikologi. Bandung:

Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran. Vol 11. No 1.

Walgito, B. (2004). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Wursanto, 2007. Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Grasindo