Anda di halaman 1dari 17

Nyamuk dalam hidupnya mengalami berbagai fase perkembangan dimulai dari telur,

larva, pupa, dan dewasa.Stadium telur, larva, dan pupa hidup di dalam air, sedangkan dewasa
hidup di udara. Stadium larva merupakan stadium penting karena gambaran jumlah larva akan
menunjukan populasi dewasa, selain itu stadium larva juga mudah diamati dan dikendalikan
karena berada di tempat perindukan (air).(5)
Tempat perkembangbiakan nyamuk disebut tempat perindukan, tempat ini merupakan bagian
paling penting dalam siklus hidup nyamuk, karena melalui tempat perindukan ini kelangsungan
siklus hidup nyamuk dapat berlangsung dengan normal. Larva Aedes dapat ditemukan pada
genangan-genangan air bersih dan tidak mengalir.(6,7) Larva nyamuk Aedes dapat ditemukan di
lokasi seperti bak mandi, drum-drum berisi air, kaleng dan botol bekas, tempurung kelapa,
bangkai mobil dan di lubang-lubang pohon yang berisi air.
Identifikasi larva nyamuk dilakukan dengan mengambil larva dari tempat penampungan air
(kontainer) dengan menggunakan gayung/cidukan kemudian dimasukan ke dalam botol dan
diberi label untuk selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi. Sebelum proses
identifikasi, larva dikeluarkan dari botol dengan menggunakan pipet Pasteur kemudian direndam
dalam alkohol 70%. Larva nyamuk diletakkan di atas obyek glass dan ditutup dengan deck glass
kemudian diamati di bawah mikroskop perbesaran lensa obyektif 10 x. Larva nyamuk
diidentifikasi spesiesnya dengan menggunakan buku atlas parasitologi.
Fitri Nadifah, Nurlaili Farida Muhajir. 2016. IDENTIFIKASI LARVA NYAMUK
PADA TEMPAT PENAMPUNGAN AIR
DI PADUKUHAN DERO CONDONG
CATUR KABUPATEN SLEMAN.
[http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/download/203/195]

Nyamuk merupakan vektor atau penular utama dari penyakit. Menurut klasifikasinya nyamuk dibagi
dalam dua subfamili yaitu Culicinae yang terbagi menjadi 109 genus dan Anophelinae yang terbagi
menjadi 3 genus. Di seluruh dunia terdapat lebih dari 2500 spesies nyamuk namun sebagian besar
dari spesies nyamuk tidak berasosiasi dengan penyakit virus (arbovirus) dan penyakit- penyakit
lainnya. Jenisjenis nyamuk yang menjadi vektor utama, dari subfamili Culicinae adalah Aedes sp,
Culex sp, dan Mansonia sp, sedangkan dari subfamili Anophelinae adalah Anopheles sp
Semua jenis nyamuk membutuhkan air untuk hidupnya, karena larva nyamuk melanjutkan hidupnya
di air dan hanya bentuk dewasa yang hidup di darat (Sunaryo, 2001). Telur nyamuk menetas dalam
air dan menjadi larva. Nyamuk betina biasanya memilih jenis air tertentu untuk meletakkan telur
seperti pada air bersih, air kotor, air payau, atau jenis air lainnya. Bahkan ada nyamuk yang
meletakkan telurnya pada axil tanaman, lubang kayu (tree holes), tanaman berkantung yang dapat
menampung air, atau dalam wadah bekas yang menampung air hujan atau air bersih .
Telur nyamuk menetas dalam air dan menjadi larva. Larva nyamuk hidup dengan memakan
organisme kecil, tetapi ada juga yang bersifat sebagai predator seperti larva Toxorhynchites sp yang
memangsa jenis larva nyamuk lain yang hidup dalam air. Kebanyakan nyamuk betina menghisap
darah manusia atau hewan lain seperti kuda, sapi, babi, dan burung dalam jumlah yang cukup
sebelum perkembangan telurnya. Namun ada jenis nyamuk yang bersifat spesifik dan hanya
menggigit manusia atau mamalia. Nyamuk jantan biasanya hidup dengan memakan cairan
tumbuhan .
Tingkah laku dan aktivitas nyamuk pada saat terbang dan menghisap darah berbeda-beda menurut
jenisnya. Ada nyamuk yang aktif pada waktu siang hari seperti Aedes sp dan aktif pada waktu
malam hari seperti Anopheles sp dan Culex sp.

Siklus Hidup Nyamuk (Aedes sp, Culex sp, Anopheles sp)


Nyamuk termasuk dalam kelompok serangga yang mengalami metamormofosa sempurna dengan
bentuk siklus hidup berupa telur, larva, pupa dewasa.

Telur
Telur biasanya diletakkan di atas permukaan air satu per satu atau berkelompok. Telur-telur dari
jenis Culex sp diletakkan berkelompok (raft). Dalam satu kelompok biasa terdapat puluhan atau
ratusan ribu nyamuk. Nyamuk Anopheles sp dan Aedes sp meletakkan telur di atas permukaan air
satu persatu. Telur dapat bertahan hidup dalam waktu yang cukup lama dalam bentuk dorman.
Namun, bila air cukup tersedia, telur telur itu biasanya menetas 2-3 hari sesudah diletakkan

Telur menetas menjadi larva. Berbeda dengan larva dari anggota Diptera yang lain seperti lalat yang
larvanya tidak bertungkai, larva nyamuk memiliki kepala yang cukup besar serta toraks dan
abdomen yang cukup jelas. Larva dari kebanyakan nyamuk menggantungkan diri di permukaan air.
Untuk mendapatkan oksigen dan udara, larva-larva nyamuk Culex sp dan Aedes sp biasanya
menggantungkan tubuhnya membentuk sudut terhadap permukaan air. Ada jenis larva nyamuk
yang hidup dalam air dan bernapas melalui difusi kutin (cutaneous diffusion) seperti Mansonia sp.
Mansonia sp memiliki tabung udara yang berbentuk pendek dan runcing yang dipergunakan untuk
menusuk akar tanaman air. Stadium larva memerlukan waktu kurang lebih satu minggu.
Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah
temperatur, cukup tidaknya bahan makanan, ada tidaknya pemangsa dalam air dan lain sebagainya.
Kebanyakan larva nyamuk menyaring mikroorganisme dan partikel-partikel lainnya yang ada di
dalam air. Larva biasanya melakukan pergantian kulit empat kali dan berpupasi sesudah tujuh hari.

Pupa
Sesudah melewati pergantian kulit keempat, maka terjadi pupasi. Pupa berbentuk agak pendek,
tidak makan, tetapi tetap aktif bergerak dalam air terutama bila diganggu. Mereka berenang naik
turun dari bagian dasar ke permukaan air. Bila perkembangan pupa sudah sempurna, yaitu sesudah
dua atau tiga hari, maka kulit pupa akan pecah dan nyamuk dewasa keluar serta terbang.

Dewasa
Nyamuk dewasa yang baru keluar dari pupa berhenti sejenak di atas permukaan air untuk
mengeringkan tubuhnya terutama sayap sayapnya dan sesudah mampu mengembangkan
sayapnya, nyamuk dewasa terbang mencari makan. Dalam keadaan istirahat, bentuk dewasa Culex
sp dan Aedes sp hinggap dalam keadaan sejajar dengan permukaan, sedangkan Anopheles sp
hinggap membentuk sudut dengan permukaan.
Habitat Pembiakan nyamuk
2.3.1 Berdasarkan tempat bertelur
Berdasarkan tempat bertelur, habitat nyamuk dapat dibagi menjadi container habitats dan ground
water habitats (genangan air tanah). Container habitat terdiri dari wadah alami dan wadah
artifisial. Genangan air tanah adalah genangan air yang terdapat tanah di dasarnya. Spesies yang
memiliki habitat genangan air tanah adalah Anopheles sp, Culex sp.

Wadah alami banyak terdapat di area hutan atau area perkebunan. Namun wadah alami juga
banyak terdapat di tempat lain, misalnya area bekas penebangan pohon, ruas- ruas bambu, area
pantai dimana terdapat banyak tempurung kelapa. Spesies yang memiliki habitat wadah alami
adalah Aedes sp, Anopheles sp, Culex sp .

Wadah artifisial adalah wadah terindikasi adanya aktifitas manusia atau modifikasi manusia. Habitat
ini kebanyakan berada di area pemukiman. Contoh wadah artifisial yaitu, barang-barang bekas,
penampung air kulkas/dispenser, tempat penampungan air. Spesies yang memiliki habitat wadah
artifisial adalah Aedes sp, Culex sp. Beberapa wadah artifisial memiliki ukuran dan daya tarik yang
cukup besar untuk menarik spesies dan genera nyamuk yang memiliki habitat genangan air tanah.

Perubahan alam dapat menyebabkan perubahan habitat. Misalnya banjir dapat menyapu telur yang
ada di selokan.

Aedes sp
Nyamuk Aedes sp aktif pada waktu siang hari. Aedes aegypti dan Aedes albopictus meletakkan telur
dan berbiak pada tempat penampungan air bersih atau air hujan seperti bak mandi, tangki
penampungan air, vas bunga, kaleng-kaleng, atau kantung plastik bekas, di atas lantai gedung
terbuka, talang rumah, bambu pagar, ban-ban bekas, dan semua bentuk wadah yang menampung
air bersih. A. albopictus meletakkan telur dan berbiak pada wadah-wadah alami seperti kulit-kulit
buah misalnya kulit buah rambutan, tempurung kelapa, (Said,2009). Larva-larva nyamuk dapat
terlihat berenang naik turun di tempat-tempat penampungan air tersebut. Kedua jenis nyamuk A.
albocpictus dan A.aegypti merupakan vektor utama penyakit demam berdarah.

Culex sp
Nyamuk-nyamuk Culex sp ada yang aktif pada waktu pagi, siang, dan ada yang aktif waktu sore atau
malam. Nyamuk ini meletakkan telur dan berbiak di selokan yang berisi air bersih ataupun selokan
air pembuangan domestik yang kotor (organik), serta di tempat penggenangan air domestik atau air
hujan di atas permukaan tanah. Larva nyamuk Culex sp sering kali terlihat dalam jumlah yang sangat
besar di selokan air kotor. Jenis nyamuk seperti Culex pipiens dapat menularkan penyakit filariasis
(kaki gajah), ensefalitis, dan virus chikungunya.

Anopheles sp
Nyamuk Anopheles sp dapat berbiak dalam kolam air tawar yang bersih, air kotor, air payau,
maupun air yang tergenang di pinggiran laut. Nyamuk-nyamuk ini ada yang senang hidup di dalam
rumah dan ada yang aktif di luar rumah. Ada yang aktif terbang pada waktu pagi, siang, sore,
ataupun malam. Nyamuk Anopheles sp sering disebut nyamuk malaria karena banyak dari spesies
nyamuk ini menularkan malaria. Jenis nyamuk ini juga dilaporkan menularkan penyakit
chikungunya. Spesies Anopheles sp yang berbeda sering menunjukkan tingkah laku yang berbeda
dan kemampuan menularkan penyakit yang berbeda pula. Oleh sebab itu, jenis nyamuk Anopheles
sp yang menularkan penyakit di satu daerah sering berbeda dengan Anopheles sp yang menularkan
penyakit malaria atau chikungunya di daerah lain.

Ciri-ciri Larva Nyamuk


1. Pada sisi abdomen segmen VIII terdapat comb scale. Comb scale adalah baris sisik seperti duri
pada segmen VIII yang mempunyai bentuk dan ukuran yang bervariasi, biasanya berjumlah 8 21
yang terbagi dalam beberapa deret

2.Larva nyamuk Mansonia sp, Culex sp, Culiseta sp, dan Aedes sp memiliki corong udara (siphon)
pada segmen VIII, pada corong udara tersebut terdapat pecten serta beberapa pasang siphonic tuft.

3. Saddle adalah struktur yang mengelilingi segmen anal larva, yang terdapat pada nyamuk Culex sp,
Mansonia sp dan Aedes sp .

4. Pada segmen kepala terdapat beberapa Antena, Mata, dan beberapa pasang rambut seperti
midfrontal hairs dan inner frontal hairs. Mid frontal hairs adalah bulu yang terdapat pada kepala larva
bagian tengah, sedangkan Inner frontal hairs adalah bulu yang terdapat di kepala nyamuk, di bawah
midfrontal hairs .

Morfologi larva Nyamuk


Larva nyamuk memerlukan empat tahap perkembangan. Waktu perkembangan larva tergantung pada
suhu, ketersediaan makanan dan keberadaan larva dalam sebuah wadah. Dalam kondisi optimal,
waktu yang dibutuhkan dari telur menetas hingga menjadi nyamuk dewasa adalah tujuh hari,
termasuk dua hari dalam masa pupa. Sedangkan pada suhu rendah dibutuhkan waktu beberapa
minggu Larva ini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit
(ecdysis) dan larva yang terbentuk berturut-turut disebut instar I, II, III dan IV (Depkes RI, 2003).
(a) Larva instar I, tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada
dada (thorax) belum begitu jelas dan corong pernapasan (siphon) belum menghitam.
(b) Larva instar II bertambah besar, ukuran 2,5-3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong
pernapasan sudah berwarna hitam.Larva instar II mengambil oksigen dari udara, dengan
menempatkan corong udara (siphon) pada permukaan air seolah-olah badan larva berada pada posisi
membentuk sudut dengan suhu permukaan air sekitar 30C, larva instar II dalam bergerak tidak
terlalu aktif.
(c) Larva Instar III lebih besar sedikit dari larva instar II dan lebih aktif bergerak.
(d) Larva instar IV telah lengkap struktur morfologinya dan jelas tubuh dapat dibagi jelas menjadi
bagian kepala (cepal), dada (thorax) dan perut (abdomen). Larva ini berukuran paling besar 5 mm.
Larva ini tubuhnya langsing dan bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif dan waktu.
Temperatur optimal untuk perkembangan larva ini adalah 25C 30C (Depkes RI, 2005).
A. Aedes sp
Larva nyamuk Aedes sp menggantungkan tubuhnya dengan membentuk sudut terhadap permukaan
air. Larva Aedes sp memiliki ciri ciri yaitu memiliki 2-3 deret comb scale, mempunyai siphon
dengan panjang 4x lebar basal (Breeland dan Loyless, 1982). Diatas siphon terdapat sepasang
siphonic tufts (Prianto, 2004) dan memiliki lebih dari 4 pecten (Utrio,1976). Pada segmen kepala,
larva Aedes sp memiliki 2-4 cabang midfrontal hairs dan inner frontal hairs (Utrio, 1976).
B. Anopheles sp
Larva Anopheles sp tidak memiliki siphon sehingga Larva Anopheles sp menggantungkan dirinya
sejajar dengan permukaan air (Prianto,2004).
C. Culex sp
Larva Culex sp menggantungkan tubuhnya dengan membentuk sudut terhadap permukaan air
(Prianto, 2004). Larva Culex sp memiliki ciri-ciri . Larva Culex sp memiliki ciri ciri yaitu memiliki
4 deret comb scale, mempunyai siphon dengan panjang 5-6x lebar basal (Breeland dan Loyless,
1982). Diatas siphon terdapat 4-5 pasang siphonic tufts (Prianto, 2004) dan memiliki kurang dari 4
pecten (Utrio,1976). Pada segmen kepala, larva Culex sp memiliki 5-7 cabang midfrontal hairs dan
4-8 cabang inner frontal hairs (Utrio, 1976).
Universitas Suamtra Utara. 2011. TINJAUAN PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41397/4/Chapter%20II.pdf

Metode apa yang digunakan?

Kenapa pake klorofom?


Diamatin pada perbesaran berapa?
Hasil yang didapat ?
Aedes?
ciri morfologi larva nyamuk Aedes aegypti
L. yang ditemukan di lingkungan FKIP Universitas Jember adalah pada abdomen
segmen VIII terdapat comb yang bergerigi dengan lekukan yang dalam seperti
mahkota dengan jumlah 8 gigi yang tersusun satu baris. Selain itu juga terdapat
corong pernapasan berbentuk gemuk dan terdapat sederet sirip (pekten). Pada
segmen IX terdapat insang ekor yang berbentuk lonjong dan membraneous. Ciri
lain yang bisa diamati adalah batang antena tanpa duri-duri kecil yang menyebar,
bagian mulut tidak berubah sebagai larva yang bersifat predator dan bulu-bulu
ventral brush tidak meluas sepanjang anal segmen.
SUNDARI.2007. IDENTIFIKASI DAN KEPADATAN POPULASI LARVA
NYAMUK Aedes aegypti L. DI LINGKUNGAN FKIP
UNIVERSITAS JEMBER.
[http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/20320/A%20(30)X_1.pdf?sequence=1]
Jenis dan Ciri-ciri Jentik
Setiap jenis nyamuk memiliki karakteristik jentik yang berbeda- beda, misalnya dilihat dari
posisi jentik saat beristirahat. Ada berbagai jenis nyamuk beserta jentik-jentiknya yang
berbeda-beda, antara lain:
1. Aedes aegepty
Pada fase telur nyamuk Aedes aegepty memiliki ciri- ciri yaitu telur nyamuk Aedes aegepty
berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm. Telur ini di tempat yang kering dapat bertahan
sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah terendam
air.
Pada fase jentik memiliki ciri- ciri yaitu jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh
menjadi besar, panjangnya 0 1 cm. Jentik nyamuk Aedes aegeptyi selalu bergerak aktif
dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas,
kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu
istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air (bergantung dengan
memberntuk posisi vertikal dengan permukaan air). Biasanya berada di sekitar dinding
tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/ berubah menjadi
kepompong.
Jentik nyamuk Aedes aegepty banyak ditemukan di penampungan air bersih seperti bak
mandi, tempayan, ban bekas, kaleng bekas dan lain-lain.
Pada fase kepompong atau pupa memiliki ciri- ciri yaitu Bentuk seperti koma, gerakannya
lamban, sering berada dipermukaan air. Setelah 1 2 hari akan menjadi nyamuk baru.
2. Anopheles
Sebelum memasuki fase jentik, dimulai dengan fase telur. Pada fase telur, telur berbentuk
seperti perahu yang bagian bawahnya konveks dan bagian atasnya konkaf dan mempunyai
sepasang pelampung yang terletak pada sebuah lateral sehingga telur dapat mengapung di
permukaan air. Jumlah telur yang dikeluarkan oleh nyamuk betina Anopheles bervariasi,
biasanya antara 100-150 butir. Pada fase jentik saat istirahat, posisinya mengapung sejajar
dengan permukaan air.
Telur Anopheles tidak dapat bertahan lama di bawah permukaan air. Telur Anopheles yang
terdapat di bawah permukaan air dalam waktu lama (melebihi 92 jam) akan gagal menetas.
Pada fase larva, larva Anopheles bersifat akuatik yakni mempunyai habitat hidup di air.
Stadium larva Anopheles yang di tempat perindukan tampak mengapung sejajar dengan
permukaan air dan spirakelnya selalu kontak dengan udara luar. Sekali- sekali larva
Anopheles mengadakan gerakan-gerakan turun ke dalam/bawah untuk menghindari
predator/musuh alaminya atau karena adanya rangsangan di permukaan seperti gerakan-
gerakan dan lain-lain.
Perkembangan hidup larva nyamuk memerlukan kondisi lingkungan yang mengandung
makanan antara lain mikroorganisme terutama bakteri, ragi dan protozoa yang cukup kecil
sehingga dapat dengan mudah masuk mulutnya.
Pada fase pupa, merupakan masa tenang. Pada umumnya pupa tidak aktif bila memasuki
stadium ini, pupa nyamuk dapat melakukan gerakan yang aktif, dan bila sedang tidak aktif
maka pupa ini akan berada mengapung pada permukaan air.. Pupa tidak menggunakan
rambut dan kait untuk dapat melekat pada permukaan air, tetapi dengan bantuan dua
terompet yang cukup besar yang berfungsi sebagai spirakel dan dua rambut panjang
stellate yang berada pada segmen satu abdomen (Santoso, 2002).
Stadium pupa mempunyai tabung pernapasan (respiratory trumpet) yang bentuknya lebar
dan pendek dan digunakan untuk pengambilan O2 dari udara (Gandahusada, 1998).
Perubahan dari pupa menjadi dewasa biasanya antara 24 jam sampai dengan 48 jam.
Tetapi hal ini akan sangat bergantung pada kondisi lingkungan terutama suhu (Santoso,
2002).
3. Culex
Sebelum memasuki fase jentik (larva), telur nyamuk culex berbentuk lonjong menyerupai
peluru senapan, beropekulum tersusun seperti bentuk rakit saling melekat satu sama lain,
telur biasanya diletakkan di permukaan air. Pada fase jentik saat istirahat, posisinya
bergantung membentuk sudut lancip.
Pada stadium larva nyamuk Culex memiliki bentuk siphon langsing dan kecil yang terdapat
pada abdomen terakhir dengan rambut siphon yang berkelompok- kelompok. Jentik
nyamuk culex membentuk sudut di tumbuhan air ( menggantung).
Pada stadium pupa, air tube berbentuk seperti tabung dengan pasa paddle tidak berduri.

Penyakit yang Ditimbulkan Nyamuk


Jentik dari jenis nyamuk yang berbeda- beda ketika dewasa akan menyebabkan penyakit
pada manusia. Penyakit yang ditimbulkan tergantung dari jenis nyamuk:
1. Aedes aegepty
Jentik nyamuk Aedes aegepty jika berkembang biak menjadi nyamuk dewasa, akan
mengakibatkan penyakit bagi manusia yaitu demam berdarah. Nyamuk Aedes aegepty
yang menggigit manusia dan menyebabkan demam berdarah adalah jenis nyamuk betina,
sedangkan nyamuk jantan tida menggigit manusia. Demam berdarah biasanya terjadi pada
saat udara panas di musim hujan dan paling sering terjadi di kota- kota, di tempat- tempat
air tergenang, dan di tempat yang saluran pembuangan airnya buruk.
Tanda- tanda awal adalah seseorang akan tiba- tiba mengalami demam tinggi disertai
kedinginan, sakit di beberapa bagian tubuh, sakit kepala, dan sakit tenggorokan setelah 3
sampai 4 hari penderita merasa lebih biak selama beberapa jam sampai dua hari.
Kemudian penyakitnya akan kembali selama 1 atau 2 hari, kadang dengan bintik merah
yang dimulai dari tangan dan kaki. Bintik merah kemudian menyebar ke lengan, kaki, dan
badan.
2. Anopheles
Jentik nyamuk anopheles apabila sudah berkembang biak menjadi dewasa jika menggigit
manusia akan mengakibatkan penyakit malaria. Malaria adalah infeksi darah yang
menyebabkan demam panas tinggi dan kedinginan. Malaria berbahaya bagi anak- anak
usia di bawah 5 tahun, wanita hamil, dan orang penderita HIV/AIDS. Tanda- tanda
seseorang menderita malaria:
a. Tanda pertama adalah rasa kedinginan dan sering sakit kepala. Penderita menggigil
selama 15 menit sampai 1 jam.

b. Kedinginan diikuti dengan demam tinggi. Penderita menjadi lemah dan kadang- kadang
mengigau. Demamnya bisa berlangsung antara beberapa jam sampai beberapa hari.

c. Pada tahap tiga penderita mulai berkeringat dan demamnya menurun. Setelah demam
turun, penderita

merasa lemah. 3. Culex


Jentik nyamuk culex apabila dewasa akan menyebabkan penyakit kaki gajah (Wucheria
brancofti). Penyakit kaki gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filariasis,
yang ditularkan lewat vektor nyamuk, salah satunya adalah nyamuk culex. Penyakit kaki
gajah merupakan penykait kronis, dan apabila tidak diobati akan mengakibatkan kecacatan
permanen.
Seseorang bisa tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit
nyamuk yang infektif, yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk
tersebut mendapat cacing filaria sewaktu menghisap darah penderita penyakit kaki gajah.

UNIVERSITAS AIRLANGGA.2014. PRAKTIKUM KESEHATAN LINGKUNGAN


PEMANTAUAN DAN IDENTIFIKASI JENTIK NYAMUK, PINJAL TIKUS, DAN TIKUS DI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA.
[http://ikma11.weebly.com/uploads/1/2/0/7/12071055/jentik_a5.pdf]

Penyakit menular yang disebabkan oleh vektor (vector borne disease) seperti demam berdarah dengue
(DBD), malaria, filariasis (kaki gajah), dan Japanese B. Enchephalitis, masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa saat ini terjadi perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap perubahan
risiko penularan penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit terutama nyamuk.(1) Nyamuk dapat
mengganggu manusia dan binatang melalui gigitannya serta berperan sebagai vektor penyakit pada
manusia dan binatang yang penyebabnya terdiri atas berbagai macam parasit dan virus. Demam
berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, famili
Flaviviridae. Demam berdarah dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp yang
terinfeksi virus dengue. Nyamuk Aedes sp berkembangbiak di tempat-tempat penampungan air yang
mengandung air jernih atau air yang sedikit terkontaminasi seperti bak mandi, tangki penampungan air,
ember, vas bunga, kaleng bekas, kantong plastik bekas, ban bekas, tempurung kelapa, dan pelepah
tanaman.

Nyamuk dalam hidupnya mengalami berbagai fase perkembangan dimulai dari telur, larva, pupa, dan
dewasa.Stadium telur, larva, dan pupa hidup di dalam air, sedangkan dewasa hidup di udara. Stadium
larva merupakan stadium penting karena gambaran jumlah larva kan menunjukan populasi dewasa,
selain itu stadium larva juga mudah diamati dan dikendalikan karena berada di tempat perindukan
(air).(5) Tempat perkembangbiakan nyamuk disebut tempat perindukan, tempat ini merupakan bagian
paling penting dalam siklus hidup nyamuk, karena melalui tempat perindukan ini kelangsungan siklus
hidup nyamuk dapat berlangsung dengan normal. Larva Aedes dapat ditemukan pada genangan-
genangan air bersih dan tidak mengalir.(6,7) Larva nyamuk Aedes dapat ditemukan di lokasi seperti bak
mandi, drum-drum berisi air, kaleng dan botol bekas, tempurung kelapa, bangkai mobil dan di lubang-
lubang pohon yang berisi air.

Fitri Nadifah.2016. IDENTIFIKASI LARVA NYAMUK PADA TEMPAT PENAMPUNGAN AIR DI PADUKUHAN
DERO CONDONG CATUR KABUPATEN SLEMAN. [file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/203-380-
2-PB.pdf]

Nyamuk merupakan salah satu serangga yang sangat menggangu bagi manusia maupun hewan melalui
gigitannya. Selain menyebabkan rasa gatal nyamuk juga dapat berperan sebagai vektor penyakit. Jumlah
jenis nyamuk yang pernah dilaporkan ada di Indonesia diperkirakan lebih dari 457 jenis nyamuk dan 18
marga. Jenis-jenis tersebut didominasi oleh marga Aedes, Anopheles, dan Culex yang

Tempat perindukan nyamuk (Breeding sites) merupakan habitat penting bagi nyamuk yang merupakan
vektor utama penyebab penyakit bagi manusia untuk berkembang biak. Tempat perindukan nyamuk
(Breeding sites) bervariasi untuk tiap jenis nyamuk. Untuk famili Culicidae marga Aedes biasanya
terdapat pada kondisi air yang bersih di dalam rumah (indoor) dan di luar rumah (outdoor) sedangkan
marga Culex berada di luar rumah (outdoor). Tempat perindukan nyamuk (Breeding sites) Family
Anophelidae berada di luar rumah pada bekas genangan air yang kotor misalnya pada kolam-kolam yang
di lewati mobil, saluran air, daerah rawa, tempat bekas penebangan pohon sagu dan hutan mangrove
(Pagaya J, dkk, 2005). Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui kepadatan larva
nyamuk pada tempat-tempat perindukan larva nyamuk yang ada di Negeri Kamarian, mencapai 287
jenis.

Kresyan Penturya,dkk. 2011. ANALISA KEPADATAN LARVA NYAMUK CULICUDAE DAN ANOPHELIDAE
PADA TEMPAT PERINDUKAN DI NEGERI KAMARIAN KECAMATAN KAIRATU KABUPATEN SERAM BAGIAN
BARAT (SBB).
[file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/molucca_medika_2011_4_1_2_pentury_2.pdf]

Larva aedes aegepty


Jentik (larva) Ada 4 tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Larva instar I, tubuhnya
sangat kecil, warna transparan, panjang 1-2mm, duriduri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas,
dan corong pernafasannya (siphon) belum menghitam. 2) Larva instar II bertambah besar, ukuran 2,5-
3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong pernafasan sudah berwarna hitam. 3) Larva instar III lebih
besar sedikit dari larva instar II 4) Larva instar IV telah lengkap struktur anatominya dan jelas tubuh
dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada (thorax),dan perut (abdomen).
Penyebaran nyamuk terbagi menjadi dua cara (Ditjen PP & PL, 2007): a. Penyebaran aktif, jika nyamuk
menyebar ke berbagai tempat menurut kebiasaan terbangnya b. Penyebaran pasif, jika nyamuk terbawa
oleh angin atau kendaraan, jadi bukan oleh kekuatan terbangnya sendiri. Kemampuan terbang nyamuk
betina rata-rata 40 meter, maksimal 100 meter, namun secara pasif misalnya karena angina atau
terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh (Depkes, 2010). Nyamuk jantan cenderung berkumpul di
dekat tempat-tempat berkembang biaknya. Keberadaan nyamuk jantan yang cukup banyak merupakan
indikasi adanya tempat perindukan disekitarnya.

EKA DEVIA AYUNINGTYAS. 2013. PERBEDAAN KEBERADAAN JENTIK Aedes aegypti BERDASARKAN
KARAKTERISTIK KONTAINER DI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE.
[file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/6411409122.pdf]
Diah Fitri Rahayu,dkk. 2013. IDENTIFIKASI AEDES AEGYPTI DAN AEDES ALBOPICTUS.
[file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/3269-3840-1-SM.pdf]

Nina Aryani. 2008. Proporsi dan Dinamika Larva Aedes, Anopheles, dan CUlex yang
Ditemukan di Denpasar. [file:///C:/Users/USER/Downloads/ipi14545.unlocked.pdf]
Jumlah jenis nyamuk yang pernah dilaporkan dari Indonesia lebih dari 457 jenis nyamuk dari 18 marga.
Jenis-jenis tersebut terutama didominasi oleh marga dari Aedes, Anopheles dan Culex yang mencapai
287 jenis. Ketiga marga tersebut lebih mendapat perhatian karena umumnya bersifat zoofilik atau
anthrofilik, yang akhirnya dapat berpotensi sebagai vektor penyakit.

Awit Suwito. 2009. NYAMUK (DIPTERA:CULICIDAE) TAMAN NASIONAL BOGANINANI WARTABONE,


SULAWESI UTARA: KERAGAMAN, STATUS DAN HABITATNYA.[
file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/2009_04_23_11_00_10cover_depan_dan_vol_17(1)__27
-34.pdf]

Nyamuk termasuk kelas Insekta, ordo (bangsa) Diptera, sub-ordo (subbangsa) Nematocera, superfamili
(super-suku) Culicoidea, familia (suku), Culicidae. Serangga ini kecuali dapat mengganggu manusia dan
binatang melalui gigitannya, beberapa spesies dikenal sebagai vektor penyakit malaria, yellow fever,
dengue fever dengue haemorrhagic fever, japenese encephalitis, chikungiinya dan filariasis. Famili
Culicidae dibagi menjadi 3 tribus, yaitu tribus Anophelini (Anopheles), Culicini (Culex, Aedes, Mansonia),
dan tribus Toxorhynchitini (Toxorhynchites). Nyamuk mempunyai distribusi luas, pada umumnya banyak
terdapat di daerah tropis dibandingkan daerah sub-tropis. Nyamuk berkembang biak di segala tempat
yang berak sampai ketinggian 13.000 kaki di atas permukaan air laut. Diperkirakan ada 3000 spesies
nyamuk yang tersebar di dunia.

Daur Hidup Nyamuk mengalami metamorfosis sempuraa (holometabola), yang meliputi stadium telur,
larva, pupa, dan dewasa (Gambar 4).

Telur

Telur berwarna putih ketika pertama kali diletakkan, kemudian semakin gelap dalam satu atau dua jam
benkutnya. Pada umumnya ada empat tipe telur: (1) telur diletakkan satu persatu di permukaan air,
misal telur nyamuk Anopheles; (2) telur diletakkan satu per satu pada dinding container tepat di atas
permukaan air, misal nyamuk Aedes\ (3) telur diletakkan berkelompok (side by side} di permukaan air
membentuk bangunan rakit, misal nyamuk Culex; (4) telur diletakkan berkelompok di permukaan
ventral daun tanaman air, misal Mansonia. Oviposisi biasanya terjadi tiga sampai 4 hari setelah nyamuk
mengisap darah. Pada kondisi yang hangat, biasanya di negara tropis telur akan menetas setelah 2-3 hari
di air, namun di musim dingin memerlukan waktu sampai beberapa minggu, misal nyamuk Anopheles
maculipenis di Eropa.

Larva

Larva semua spesies nyamuk hidup di air dan mengalami pergantian kulit (moulting) sebanyak tiga kali
sebelum menjadi larva instar-4. Larva instar-4 adalah larva matang yang segera ganti kulit (moulting)
menjadi pupa. Makanan larva adalah bakteri dan tumbuhan renik (algae) dan protozoa. Larva Anopheles
mencari makanannya di pennukaan air (surface feeder), sedangkan larva Aedes di dasar container
(bottom feeder). Walaupun larva nyamuk mendapatkan makanannya dari air, mereka perlu mengambil
nafas di permukaan air dengan posisi menggantungkan sifon (corong nafas)nya di permuukaan air
(Aedes, Culex) atau menancapkan sifonnya di akar tanman air (Mansonia). Sementara itu larva
Anopheles, karena tidak mempunyai sifon, mereka mengambil nafas dengan menggunakan sepasang
spirakel yang berada di segmen ke-8 abdomennya, sehingga posisi istirahatnya pun berbeda dengan
nyamuk lainnya yaitu sejajar dengan permukaan air. Segmen ke-9 abdomen larva membentuk bangunan
yang disebut insang anal yang berfungsi sebagai regulator tekanan osmotik. Lama perkembangan larva
instar-1 sampai dengan larva instar-4 berkisar antara 4-10 hari tergantung temperatur dan persediaan
makanan.

Makanan larva Toxorhynchites berbeda dengan nyamuk lainnya, karena larva nyamuk ini makan larva
atau jentik-jentik nyamuk lainnya yang tempat perindukannya sama dengan larva Toxorhynchites yaitu
larva nyamuk Aedes. Bilamana tidak tersedia larva Aedes larva nyamuk ini memakan sesama larva
Toxorhynchites (kanibal). Perkembangan larva instar-1 sampai dengan larva instar-4 di Laboratorium
bisa memerlukan waktu 2 bulan tergantung persediaan larva nyamuk sebagai makanannya. Nyamuk ini
karena tidak mengisap darah bisa dibudidayakan untuk pengendalian secara biologis terhadap larva
nyamuk Aedes di luar rumah.

Pupa

Pupa nyamuk juga bersifat akuatik (hidup di air) dan sangat aktif, namun tidak makan. Walaupun
demikian mereka harus ke permukan air untuk mengambil nafas melalui sepasang trompet pernafasan
yang dimilikinya, kecuali pupa Mansonia yang mengambil nafas melalui trompet pernafasan yang
ditancapkan pada akar tanaman air. Morfologi pupa berbeda dengan larva, bagian anterior terdiri atas
sefalotoraks yang tebal (gabungan antara kepala dan toraks) yang bagian atasnya dilengkapi dengan
sepasang trompet pernafasan. Abdomen terdiri atas 8 segmen dengan sepasang padel (flap like
structure) pada ujungnya. Pupa yang baru muncul berwama cerah dan semakin tua semakin gelap
warnanya. Pupa biasanya di dekat permukaan air dan hanya berumur pendek sebelum menjadi nyamuk
dewasa. Dalam waktu 2-3 hari sebelum bentuk imago (dewasa) muncul, maka udara akan mengumpul di
antara imago dan kulit pupa, serta akan mengangkat pupa ke atas mendekati permukaan air. Dengan
melalui pembukaan kulit berbentuk T, maka kulit pupa membuka dan keluarlah imgo mulai dan bagian
dorsal serta bertengger istirahat di permukaan air sambil mengembangkan sayapnya supaya kering.
Dalam waktu sekejap bentuk imago sudah dapat terbang.

Imago Nyamuk jantan biasanya menetas lebih dulu daripada nyamuk betina, dan perkawinan terjadi
segera setelah nyamuk betina menetas. Jumlah nyamuk jantan dan betina biasanya sama. Hanya
nyamuk betina yang menggigit dan mengisap darah. Darah ini penting untuk pemasakan telur. Dilihat
dan waktu menggigit, nyamuk dapat bersifat nokturnal kalau menggigit pada malam hari atau diurnal
kalau siang hari. Pada umumnya nyamuk Anopheles adalah nokturnal, sehingga penyakit ditularkan
pada malam hari, sebaliknya nyamuk Aedes adalah diurnal. Nyamuk ada yang mempunyai kebiasaan
menggigit di dalam rumah (endofagik) misal Ae. aegypii dan ada pula yang mempunyai kebiasaan
menggigit dan mengisap darah di luar rumah (eksofagik) misal Ae. albopictus. Sifat pemilihan inang (host
preference) berbeda-beda tergantung spesies. Ae. aegypti cenderung menggigit dab mengisap darah
manusia (antropofilik), sedangkan beberapa spesies nyamuk Anopheles cenderung menggigit dan
mengisap darah binatang (zoofilik), sehingga keberadaan temak yang jauh dan perumahan dapat
berfungsi sebagai zoobarrier bagj penularan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Darah diperlukan
untuk membentuk hormon gonadotropik yang diperlukan untuk ovulasi. Hormon ini yang berasal dari
corpora allata yaitu pituitaria pada otak insekta, dapat dirangsang oleh serotonin dan adrenalin darah
korbannya. Nyamuk yang telah kenyang makan akan berdiam diri selama 2-4 hari sampai ovarium
menjadi masak dan mengandung telur fertil. Tempat istirahat nyamuk setelah mengisap darah
tergantung pada spesies dan lingkungan tempat darah diambil. Nyamuk jenis endofagik akan hinggap di
dalam rumah setelah makan (endofilik). Nyamuk yang eksofagik akan hinggap di tempat-tempat seperti
rumah sebelah luar, gua, dan tanaman yang teduh (eksofilik). Telir nyamuk setelah menjadi masak,
maka nyamuk akan mencari air untuk meletakkan telurnya (oviposisi). Setiap individu nyamuk spesies
tertentu memilih beberapa tempat tertentu untuk melaksanakan oviposisi. Lama daur pertumbuhan
dan telur sampai imago ini tergantung pada spesies dan terutama pada kondisi lingkungan yaitu
tersedianya makanan dan temperatur. Pada kondisi optimum maka daur hidup ini berlangsung selama
10 had sampai satu bulan. Umur nyamuk dewasa akan berlangsung sampai 6 bulan di zona temperate
dan lebih pendek (maksimum 4 bulan) di negara rropis.

Sitti Rahmah Umniyati. 2000. Nyamuk Yang Berperan Sebagai Vektor Penyakit dan Cara
Pengendaliannya.
[file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/Morfologi%20dan%20Daur%20Hidup%20Nyamuk.pdf]