Anda di halaman 1dari 16

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI PURIFIED

TEREPTHALIC ACID (PTA) PT. AMOCO MITSUI PTA


INDONESIA

Kelompok:
Anisa Helena Isma Putri
Anita Puspitasari
Dhea Rizki Ramadhan
Fitri Agisna Dwi Putri
M. Aria Mandalika

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON BANTEN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertumbuhan serta ekspansi industri manufaktur yang melanda seluruh
dunia menyebabkan bertambahnya limbah industri yang dapat mengkontaminasi
ligkungan. Pada dasarnya limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu
proses produksi baik dari industri maupun domestrik (rumah tangga, yang dikenal
sebagai sampah) yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara
kimiawi, limbah terdiri dari bahan kimia organik dan non organik. Pada
konsentrasi tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif bagi kesehatan
manusia sehingga perlu adanya penanganan terhadap limbah.
Limbah yang diproduksi oleh industri memiliki beragam jenis, dimana
setiap jenis memiliki tingkat bahaya yang berbeda. Limbah industri sendiri
memiliki arti yaitu bahan limbah hasil dari industri seperti pabrik, laboratorium
kimia, pembangkit nuklir dan kilang minyak serta anak industri mereka. Setiap
industri memiliki proses tertentu sehingga menghasilkan limbah yang berbeda
beda sehingga berbeda pula penanganan terhadap limbah setiap industri.
PT. AMOCO MITSUI PTA INDONESIA (PT. AMI) adalah salah satu
perusahaan yang bergerak dibidang industry tekstil dan supplier Purified
Terephthalic Acid (PTA). Seperti industri petrokimia lainnya, PT. AMI juga
menghasilkan limbah. Limbah tersebut berupa limbah padat, cair dan gas.
Perusahaan ini memiliki teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan
sehingga penulis akan membahas tentang pengolahan limbah PT BP
Petrochemicals Indonesia.

1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mempelajari tentang pengolahan
limbah PT. AMI dan mengetahui bagaimana proses pengolahan limbah baik
limbah padat, cair maupun gas agar dapat meminimalkan limbah industri yang
berbahaya yang dibuang ke lingkungan.

1.3 Manfaat
Maanfaat yang diperoleh adalah pengembangan edukasi kepada mahsiswa
dalam pengolahan limbah industri khususnya pada PT. AMI agar mahasiswa
memiliki gambaran akan potensi limbah industri yang dapat mencemari
lingkungan sehingga mahasiswa dapat berfikir secara baik untuk mengembangkan
proses pengolahan limbah industri yang lebih ramah lingkungan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Profil dan Sejarah Perusahaan


Amoco Chemical Limited yang merupakan perusahaan patungan antara
Amoco Corporation (pemegang 50% saham) yang berasal dari Amerika, Mitsui
Petrochemical Industries,Ltd. (pemegang 45% saham) didirikan pada tahun 1955
sebagai badan usaha pertama yang memproduksi produk petrokimia di Jepang,
dan Mitsui & Co., Ltd. Perusahan ini didirikan pada tahun 1976 dan merupakan
salah satu sogo shosa. Sogo shosa merupakan gabungan yang bergerak daam
berbagai bidang usaha penghasil produk, jasa, perdagangan, serta investasi.
(pemegang 5% saham) yang berasal dari Jepang, memutuskan membangun pabrik
PTA yang diberi nama PT Amoco Mitsui Indonesia.
PT. AMOCO MITSUI PTA INDONESIA (PT. AMI) adalah supplier
Purified Terephthalic Acid (PTA) di Indonesia yang terletak di kompleks PENI,
Jln Raya Merak KM 116, Desa Rawa Arum, Cilegon, Indonesia dengan Head
Office di gedung Summitmas II, lantai 18, Jln Jendral Sudirman Kav. 61-62,
Jakarta 12190, Indonesia. Pabrik ini menggunakan teknologi Amoco dan
menghasilkan 350.000 ton PTA setiap tahunnya. PTA terutama digunakan untuk
polyester, polietilen tereftalat (PET) dan polibutilena tereftalat (PBT).
Ketika PT AMI akan didirikan di Indonesia, terdapat dua pabrik PTA di
Indonesia dengan total kapasitas produksi sebesar 475.000 ton pertahun. Permintaan
PTA di Indonesia diduga akan meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang,
dari permintaan sejumlah 335.000 ton pada tahun 1993 menjadi 700.000 ton pada
tahun 1997. Permintaan untuk polyester juga akan meningkat pesat dari 11,3 juta ton
pada tahun 1990 menjadi 20,9 juta ton pada tahun 2000.

2.2 Sifat Asam Tereftalat


a. Sifat Fisis
Wujud : Padat
Bentuk : Kristal
Warna : Putih
Bau : Tidak berbau
Berat molekul, gram/mol : 166,131
Titik sublim, Ts, oC : 404
Panas sublimasi, Hs, kJ/mol : 142
Kapasitas panas, Cp, J/kg K : 1202
Kerapatan massa 25oC, , kg/L : 1,510
Panas pembakaran, Hc, (25oC, kJ/mol) : 3223
Panas penguapan pada Td, Hv, kJ/mol : 57,3
Panas pembentukan, Hf, (25oC, kJ/mol) : -816
Kelarutan dalam solvent (gr/100 gr solvent)
Solvent 25 oC 150 oC 200 oC 250 oC
Air 0,0017 0,2400 1,7000 12,6000
Metanol 0,1000 3,1000 - -
Asam asetat 0,0130 0,3800 1,5000 5,7000

b. Sifat Kimia
Reaksi asam terepthalat dengan thionil klorida membentuk senyawa
klorida asam.
(HOOC)C6H4(COOH) + 2 SOCl2 (ClCO)C6H4(COCl)
Chlorine, bromine, dan iodine, bereaksi dengan asam terepthalat dalam
larutan asam sulfat dengan penambahan asam tetrahalogen membentuk
heksahalogen benzene.
Asam terepthalat bereaksi dengan ethylene glycol menghasilkan
polyethylene terepthalat.
1,4C6H4(COOH)2 + HOCH2CH2OH
asam terepthalat ethylene glycol
OH-(- CH2CH2O2(C6H4CO2)NCH2CH2-)-OH
polyethylene terepthalat
2.3 Unit Pengelolaan Limbah PT BP Petrochemicals Indonesia
Limbah yang dihasilkan pada PT. AMOCO MITSUI PTA INDONESIA
(PT. AMI) berupa limbah padat, cair dan gas. Masing masing limbah diolah
sampai limbah tersebut sesuai standar baku mutu sehingga limbah yang telah
diolah dapat dibuang ke lingkungan.
1. Pengolahan Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan pada pabrik ini berasal dari proses
pembuatan asam tereptalat (TA), proses pengolahan limbah, dan limbah dari
aktifitas lain. Limbah dari proses pembuatan TA berupa CTA (crude
terephthalic acid) yang tidak dapat didaur ulang dan alumina desicant yang
sudah tidak dapat diregenerasi. Limbah padat dari pengolahan limbah berasal
dari incinerator berupa abu. Limbah dari kegiatan lain berupa kertas, ban
bekas, pengemas dan drum.
a. Limbah Padat Dari Proses
Limbah padat yang dihasilkan dari proses produksi asam tereftalat
dapat berupa serbuk asam tereftalat yang tidak bisa didaur ulang, serta
alumina desicant yang digunakan pada unit off gas dryer yang tidak dapat
diregenerasi lagi. Serbuk asam tereftalat yang tidak dapat didaur ulang akan
dikumpulkan dilarutkan pada bak ekualisasi di unit WWT. Serbuk asam
tereftalat yang telah dilarutkan pada unit ekualisasi ini selanjutnya akan
didegradasi oleh mikroorganisme pada reaktor anaerobik dan aerobik.
Sementara itu limbah berupa alumina desicant akan langsung dibuang ke
landfill.
b. Limbah Padat dari Pengolahan Limbah Cair
Limbah padat yang dihasilkan pada unit WWT berupa abu. Abu
merupakan hasil pembakaran padatan residu lumpur aktif di incinerator.
Limbah padat berupa abu ini akan dikumpulkan dalam kantung atau drum
dan dikirim ke PPLI Cileungsi atau digunakan oleh pihak ketiga untuk
solidifikasi.
c. Limbah Padat Lainnya
Limbah padat lain berasal dari luar proses secara langsung sperti kertas,
pengemas, drum, dan ban bekas. Limbah padat ini dikumpulkan dan
diangkut oleh truk untuk dikirim ke fasilitas yang ditentukan pemerintah.

d. Limbah Padat yang Dapat Didaur Ulang


Tabel 1. Limbah Padat yang Dapat Didaur Ulang
Jenis Limbah Jumlah
Katalis oksidasi 16,5 ton/ tahun
Scrap baja 40 ton / tahun
Scrap baja karbon 100 ton/ tahun
Drum baja kosong kapasitas 200L 200 drum / tahun
Kemasan bahan kimia 200 buah

2. Pengolahan Limbah Cair


Limbah cair yang dihasilkan unit proses di PT AMI sebagian besar
mengandung senyawa karbon organik. Apabila limbah tersebut langsung
dibuang, maka akan menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. PT
BP Petrochemicals Indonesia mengolah limbah air yang dihasilkan secara
mandiri pada unit waste water treatment (WWT). Unit WWT terdiri dari
beberapa unit yaitu : kolam ekualisasi, reaktor anaerobik, kompresor biogas,
tangki aerasi, clarifier, thickener, belt press, dan incinerator.
2.1 Kolom Ekualisasi
Seluruh limbah cair dari pabrik akan diolah pada unit waste water
treatment. Sumber limbah cair berasal dari unit oksidasi, unit purifikasi,
dan sump, yaitu air yang berasal dari kegiatan keseharian. Zat-zat yang
terkandung pada limbah tersebut dapat berupa asam tereftalat, p-tol, 4-
CBA, HAc, Na, Co, Mn, dan parasilena. Namun, sebisa mungkin
kehadiran parasilena perlu dihindari karena membahayakan untuk bakteri.
Laju alir limbah cair yang harus diolah adalah 165 ton/jam. Konsentrasi
(Total Organic Carbon) TOC rata-rata air limbah adalah 2000-2500 ppm.
Sebagai langkah awal, seluruh limbah cair akan ditampung dan
dikumpulkan pada kolam ekualisasi I, AM-701. Aliran keluar dari kolom
ekualisasi I akan dialirkan ke kolom ekualisasi II, AM-702 dimana akan
ditambahkan nutrien berupa makronutrien (urea, asam fosfat, NaOH) dan
mikronutrien (Ferrous Sulfate, K2SO4, MgO) kondisi asam pada limbah
cair yang disebabkan oleh HAc dan asam terftalat menciptakan suasana
yang kurang baik untuk pertumbuhan mikroba, oleh karena itu dilakukan
netralisasi dengan penambahan NaOH yang sebelumnya telah
diencerkandari 48% menjadi 20%. Penambahan NaOH ditambahkan
disuction pompa menuju anaerobik reaktor.
Aliran keluaran dari kolom ekualisasi II akan dialirkan menuju heat
exchanger dengan menggunakan pompa AG-701. Heat exchanger yang
digunakan terdiri dari 3 HE plate and frame yang dipasang secara paralel.
Penggunaan HE ini bertujuan untuk mendinginkan aliran yang akan
memasuki reaktor anaerobik agar temperaturnya sesuai dengan temperatur
optimal bakteri.
Hasil pendinginan dengan HE ini akan menghasilkan temperatur
sebesar 39,24 oC. Kolam ekualisasi lainnya disebut surge basin. Surge
basin disediakan untuk menamoung limbah cair yang memiliki
karakteristik khusus, seperti kandungan TOC yang tinggi dan memiliki
kandungan kaustik basa. Limbah cair jenis ini akan ditampung terlebih
dahulu pada surge basin untuk menghindari I load bakteri yang terlalu
besar dengan menurunkan konsentrasi TOC dan temperatur cairan dalam
reaktor.
2.2 Reaktor Anaerobik
Laju alir limbah yang keluar dari kolom ekualisasi II sebesar 165
ton/jam, namun terdapat aliran recycle yang berasal dari aliran keluaran
reaktor anaerobik. Akumulasi aliran tersebut menghasilkan aliran masuk
reaktor anaerobik dapat mencapai 600 ton/jam. Tujuan recycle aliran
tersebut adalah untuk stabilitas load yang akan dikelola oleh bakteri.
Bakteri yang digunakan dalam reaktor anaerobik adalah bakteri
acetogenesis yang dapat megkonversi senyawa organik menghasilkan
asam asetat.
Bakteri lain yang digunakan adalah bakteri metanogenesis yang dapat
mengkonversi asam asetat menjadi gas metana. Senyawa senyawa
organiktersebut menjadi seumber karbon bagi bakteri dan dengan
kemampuan metabolism bakteri, senyawa organik tersebut dapat
terkonversi menjadi senyawa lain.
Bakteri memiliki kondisi lingkungan yang optimal dimana kondisi
tersebut akan berpengaruh secara langsung terhadap kinerja bakteri.
Beberapa parameter yang perlu diperhatikan dalam menjaga kinerja
bakteri diantaranya :
a. Temperatur
Bakteri bekerja optimal pada rentang temperatur antara 35-40 oC.
Oleh karena itu, sebelum memasuki reaktor anaerobik dilakukan
pendinginan aliran limbah dengan HE dari 52 oC menjadi 39,24 oC.
b. pH
Bakteri bekerja optimal pada pH netral. Sementara itu, limbah cair
yang dihasilkan dari unit proses bersifat asam karena kandungan
beberapa senyawa, terutama asam asetat dan asam tereftalat.
Penambahan NaOH 20%-b pada kolam ekualisasi II bertujuan untuk
menciptakan kondisi netral yang mendukung kinerja bakteri.
c. Nutrien
Keberlangsungan hidup bakteri ditentukan oleh makronutrien dan
mikronutrien yang tersedia pada lingkungan hidupnya. Unsur makro
berupa C,H dan O telah tersedia pada senyawa organik yang
terkandung pada limbah, sementara unsur lain seperti N dan P perlu
ditambahkan. Oleh karena itu, penambahan makronutrien dan
mikronutrien pada kolom ekualisasi merupakan hal penting yang
sangat menentukan berlangsungnya proses pengolahan limbah cair di
unit WWT.
Berdasarkan hasil analisis kandungan limbah, TOC yang terkandung
dalam limbah sebelum pengolahan di reaktor anaerobik adalah 2000-2500
ppm. Analisis kandungan limbah setelah pengolahan oleh baketri direaktor
anaerobik menunjukkan nilai 550-650 ppm. Produk yang dihasilkan
berupa gas CO2 dan biogas berupa metana (CH4). Jumlah biogas yang
diproduksi adalah sebesar 500- 600 Nm3/jam. Reaksi yang terjadi dapat
dinyatakan berdasarkan persamaan reaksi berikut :
TOC + Bakteri CH4 + CO2 + bakteri baru
2.3 Sistem Penanganan Biogas
Biogas dari reaktor anaerobik mengandung CH4 dan CO2. Biogas
dapat digunakan sebagai bahan bakar di incinerator atau hot oil furnace.
Sistem penanganan biogas tersusun atas Knock Out (KO) drum primer
untuk memisahkan uap dari gas, kompresor biogas, aftercooler, KO drum
sekunder, dan flare. Sistem perpipaan dan peralatan untuk biogas terbuat
dari material 304 SS (Stainless Steel) yang bersifat tahan asam. Biogas
yang dihasilkan pada reaktor anaerobik berada dalam keadaan jenuh oleh
uap air. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan asam karbonat apabila
terjadi kondensasi. Biogas akan dialirkan melewati KO drum primer untuk
memisahkan kondensat dari biogas. Selanjutnya biogas akan dialirkan
menuju kompresor akan terlindung dari tetesan air.
2.4 Tangki Aerasi
Aliran keluaran dari reaktor anaerob dipompakan ke kolam aerasi.
Kolam aerasi dirancang untuk mengolah kira-kira 15% dari limbah yang
dihasilkan pada kondisi normal. Kolam aerasi ini menggunakan populasi
mikroorganisme aerob (lumpur aktif/ activated sludge) sebagai media
pengolah limbah. Kolam aerasi juga dilengkapi dengan aerator yang
berfungsi sebagai penyuplai oksigen dan sebagai mixer agar lumpur aktif
dan limbah tercampur secara merata. Berbeda dengan reaktor anaerob,
pada kolam aerasi tidak terjadi reaksi apapun. Padakolam aerasi,
mikroorganisme mengolah limbah dengan cara memakan TOC yang
tersisa. Untuk mendukung aktivitas bakteri, diperlukan oksigen dalam
jumlah yang sesuai. Oleh karena itu, kadar DO (dissolved oxygen) dalam
kolam aerasi harus dijaga agar tidak kurang dari 2 ppm. Reaksi yang
terjadi dalam kolam aerasi adalah
TOC + bakteri + O2 CO2 + H2O + bakteri baru

Kolam aerasi memiliki dua buah keluaran, yaitu overflow yang


langsung mengalir ke dalam tiga clarifier dan underflow yang mengalir
menuju thickener. Aliran-aliran yang masuk ke dalam kolam aerasi adalah:
1. TOC
TOC yang belum terkonversi dalam reaktor anaerob akan
mengalami aerobic digestion.
2. Nutrien
Nutrien terdiri dari asam fosfat dan amonium hipoksida yang
berfungsi sebagai nutrisi pertumbuhan mikroorganisme aerob.
3. Aliran daur ulang
Aliran daur ulang berfungsi untuk mengontrol jumlah lumpur aktif
dalam kolam aerasi.
4. Oksigen
Oksigen dilarutkan dalam kolam aerasi dengan bantuan aerator
yang jugamembantu mendistribusikan pH secara merata (7-8),
temperatur, padatan tersuspensi, oksigen terlarut, dan TOC dalam
kolam aerasi.
2.5 Clarifier
Overflow air limbah dari kolom aerasi akan mengalir menuju unit
clarifier. Clarifier merupakan suatu tangki pengendap yang berfungsi
untuk memisahkan padatan tersuspensi dari fasa cair, memekatkan lumpur
yang mengendap dan mengumpulkan lumpur tersebut untuk dikembalikan
pada kolam aerasi. Overflow dari clarifier berupa air bersih yang
kualitasnya ditentukan oleh efisiensi operasi clarifier. Efisiensi operasi
clarifier dipengaruhi oleh beban padatan (solid load) dan karakteristik
pengendapan lumpur (sludge settling characteristic). Karakteristik
pengendapan lumpur bergantung pada parameter operasi dikolam operasi
seperti jumlah nutrient, nilai DO, dan waktu tinggal lumpur. Sebelum
memasuki clarifier, ditambahkan bahan kimia berupa PAC (Poly
Aluminium Chlorate). Selain bersifat sebagai koagulan, PAC digunakan
untuk mengikat senyawa Co sehingga kandungannya dalam effluent tidak
besar. Overflow yang berasal dari clarifier akan ditampung dikolam
effluent yang berkapasitas 4000 m3 . Aliran ini sudah dapat dibuang kelaut
secara aman karena kandungan limbahnya telah mencapai nilai ambang
batas bawah yang sudah ditetapkan pemerintah. Air efluen juga dapat
digunakan sebagai air servis dan air pemadam kebakaran.
2.6 Thickener
Underflow dari tangki aerasi akan mengalir menuju thickener.
Thickener merupakan unit yang berfungsi untuk meisahkan lumpur dari
larutan induk dan mengatur jumlah populasi bakteri pada tangki aerasi.
Thickener dirancang pada konsentrasi lumpur berlebih sekitar 1-1,5 %,
laju alir lumpur maksimum sebesar 24 m3/jam, dan konsentrasi padatan
tersuspensi sebesar 2000-4000 mg/L pada masukan, 10000 mg/L pada
keluaran. Prinsip pengendapan digunakan dalam proses kerja thickener.
Endapan lumpur yang dihasilkan pada thickener akan dipompa menuju
sludge belt press dengan menggunakan thickener underflow pump.
Sementara aliran overflow dari thickener akan didaur ulang menuju kolam
aerasi atau dibuang menuju kolam effluent. Apabila kandungan padatan
tersuspensi pada reactor aerasi terlalu tinggi, maka laju aliran daur ulang
dari thickener menuju tangki aerasi akan dnaikkan.
2.7 Belt Press
Endapan lumpur dari thickener akan mengalir menuju belt press
dengan menggunakan pompa AG-720 dan AG-722A/B. Aliran lumpur
yang akan masuk ke belt press ditampung pada sebuah tangki polimer
(AF-727A/B) dan ditambahkan zat aditif kimia untuk membantu
penggumpalan lumpur. Belt press merupakan alat berkapasitas 71 kg/jam
dan digunakan sebagai alat untuk proses sludge dewatering. Gumpalan-
gumpalan yang masuk pada belt press akan dilirkan pada cloth yang
memiliki pori-pori sehingga airnya keluar. Proses ini terus dilakukan
hingga kelembapannya mencapai 87,6 %-b. Lumpur berbentuk cake akan
jatuh dan dibawa conveyor menuju sludge hoper (AF-724).

2.8 Incinerator
Sebuah unit incinerator digunakan untuk membakar dewatered
sludge dan limbah asam tereftalat yang dikirim dari belt press.
Incinerator mampu menangani lumpur dengan laju 60 kg/jam dan limbah
asam tereftalat dengan laju 90 kg/jam. Bahan bakar yang digunakan
incinerator ini adalah LPG, minyak diesel, atau biogas. Pada incinerator
ini digunakan media pemanas berupa pasir bertemperatur 800oC yang
terfluidisasi oleh udara yang dimasukkan dari bagian bawah incinerator.
Gas buangan dari incinerator masih mengandung debu dan pasir sehingga
tidak boleh langsung dibuang ke udara. Oleh karena itu, unit incinerator
ini dilengkapi dengan cyclone untuk memisahkan pasir silika dari gas
buangan. Pasir silika yang tertangkap dikembalikan lagi ke dalam
incinerator, sedangkan gas buangan didinginkan untuk diambil panasnya.
Setelah didinginkan, gas buangan tersebut harus dilewatkan ke ash
cyclone untuk dipisahkan dari abu yang masih terkandung di dalamnya.
Abu yang sudah terpisah dari gas ditampung ke dalam hopper dan dibawa
oleh PT Mechema, sedangkan gas buangan selanjutnya dialirkan ke dalam
scrubber untuk di-treatment sebelum dibuang ke atmosfer melalui
cerobong.
Di dalam scrubber, gas buangan dikontakkan dengan soda kaustik
dan air servis untuk memisahkan gas buang dari pasir dan debu yang
mungkin masih terbawa oleh gas sehingga gas benar-benar bebas dari
pasir dan debu. Sebelum dibuang ke atmosfer, gas buang dikontakkan
dengan udara panas untuk mencegah terbentuknya white smoke ketika
gas buangan dilepas ke atmosfer.
3. Pengolahan Limbah Gas
Pengolahan limbah gas di PT AMI adalah dengan mengumpulkan semua off
gas yang keluar dari unit-unit proses tertentu seperti reaktor lalu mengalirkannya
ke unit scrubber untuk dilucuti dari paraxylene dan asam asetat. Pada unit
scrubber, paraxylene dilucuti dengan asam asetat, sedangkan asam asetatnya
dilucuti dengan air. Setelah melewati unit scrubber, campuran gas yang masih
mengandung CO, VOC, dan komponen bromin organik diolah dalam suatu sistem
catalytic oxidation (CATOX).
Pada unit CATOX, VOC dan CO diubah menjadi CO2 yang dapat dibuang
ke lingkungan atau digunakan sebagai gas inert. Sementara itu, komponen organik
bromin, yaitu metil bromin dikonversi menjadi CO2, air, dan campuran Br2-HBr.
Campuran Br2-HBr ini kemudian dibawa ke unit bromine scrubber dan dilucuti
dengan larutan natrium format dan soda kaustik (NaOH).

Sumber : PT BP Petrochemical Oxidation


Gambar 1. Sistem Catalytic Oxidation
Penanganan fuel gas yang dihasilkan oleh unit incinerator adalah dengan
mendinginkan fuel gas untuk memperoleh kembali panasnya dengan udara
sebagai fluida penerima panas. Fuel gas kemudian masuk menuju siklon dan bag
house atau scrubber sebagai upaya mengurangi jumlah gas dan partikulat
berbahaya sebelum dibuang ke udara melalui cerobong. Recovery solvent
merupakan salah satu upaya untuk mengurangi emisinya ke atmosfir.
Pengurangan emisi limbah ke atmosfir juga dilakukan dengan cara menggunakan
alat pengendali pencemaran udara yang memiliki efisiensi tinggi seperti absorber,
scrubber, dan bag hours.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Waste Water Treatment Unit Overview PT BP Petrochemicals


Indonesia.

https://argokhoirulanas.wordpress.com/2009/05/09/apa-itu-limbah/ Apa itu


Limbah? (diakses pada 07 Mei 2017 pukul 13:50)

http://www.ecostargrp.com/limbah-industri/ LIMBAH INDUSTRI (diakses


pada 07 Mei 2017 pukul 11:53)

https://www.scribd.com/doc/136619677/Asam-Terepthalat Asam Terephtalat


diakses pada Minggu, 07 Mei 2017 pukul 12.35