Anda di halaman 1dari 5

PERKEMBANGAN BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DI INDONESIA

PENDAHULUAN

Siapa yang tidak tahu lembaga pemerintahan dan akuntansi? Semua pasti pernah mendengar kata
tersebut. lembaga pemerintahan atau "Civilizated Organization" di mana lembaga tersebut dibuat
oleh negara, dari negara, dan untuk negara di mana bertujuan untuk membangun negara itu sendiri.
Lembaga negara terbagi dalam beberapa macam dan mempunyai tugas masing-masing antara lain
menciptakan suatu lingkungan yang kondusif, aman, dan harmonis, menjadi badan penghubung
antara negara dan rakyatnya, menjadi sumber insipirator dan aspirator rakyat, memberantas
tindak pidana korupsi, kolusi, maupun nepotisme, membantu menjalankan roda pemerintahan
negara.
Lembaga Pemerintahan sendiri memerlukan akuntansi dalam membuat laporan laporan
keuangan. Akuntansi dikelompokan dalam beberapa konsentrasi keilmuan, Baswir (1995)
mengelompokan akuntansi menjadi 3 bidang, yaitu : akuntansi perusahaan, akuntansi nasional dan
akuntansi pemerintahan. Sedangkan Kusnadi, dkk (1999) mengelompokan akuntansi menjadi 11
bidang, yaitu : Akuntansi Keuangan, Pemeriksaan, Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen,
Akuntansi Perpajakan, Sistem Akuntansi, Akuntansi Anggaran, Akuntansi Internasional,
Akuntansi Non Profit, Akuntansi Sosial, Instruksi Akuntansi. Berapapun banyaknya pembagian
konsentrasi akuntansi, sebenarnya hanya bermuara pada 2 kelompok akuntansi, yaitu akuntansi
komersial dan akuntansi pemerintahan. Akuntansi Pemerintahan bisa juga dikatakan sebagai
Akuntansi Sektor Publik.

Akuntansi Pemerintahan adalah bidang akuntansi yang berkaitan dengan lembaga


pemerintahan dan lembaga lembaga yang tidak bertujuan mencari laba. Walaupun lembaga
pemerintahan senantiasa berukuran besar, namun sebagaimana perusahaan dia tergolong sebagai
lembaga mikro. Sehingga akuntansi pemerintahan, sebagaimana akuntansi perusahaan,
digolongkan pula sebagai akuntansi mikro.

Fungsi akuntansi pemerintahan lebih ditekankan pada pelaksanaan anggaran negara serta
pelaporan realisasinya. Karena fungsinya tersebut maka Akuntansi Pemerintah dapat juga disebut
Akuntansi Anggaran. Perlu ditambahkan, sebagaimana di dalam akuntansi perusahaan, di dalam
akuntansi pemerintahan juga terdapat unsur akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.

LATAR BELAKANG

Lembaga pemerintahan memang lebih terkesan sebagai lembaga politik daripada lembaga
ekonomi, namun sebagaimana dengan bentuk bentuk lembaga lainnya, lembaga pemerintahan
juga memiliki aspek sebagai lembaga ekonomi. Seperti yang disebutkan dalam tugas pokok
pemerintahan bagian ke enam yang berbunyi pemerintahan menerapkan kebijakan ekonomi yang
menguntungkan bagi masyarakat luas, seperti mengendalikan inflasi, mendorong penciptaan
lapangan kerja baru, memajukan perdagangan domestik dan antar bangsa, serta kebijakan lain
yang secara langsung menjamin peningkatan ketahanan ekonomi negara dan masyarakat. Sebagai
lembaga ekonomi, lembaga pemerintahan melakukan berbagai bentuk pengeluaran guna
membiayai kegiatan kegiatan yang dilakukannya.

Berdasarkan aktivitas ekonominya itu, maka lembaga pemerintahan juga membutuhkan


jasa akuntansi untk meningkatkan mutu pengawasannya, maupun untuk menghasilkan informasi
keuangan yang akan digunakannya sebagai dasar dalam pengambilan keputusan keputusan
ekonomi. Dikarenakan lembaga pemerintahan tidak memiliki sifat dari perusahaan yaitu mencari
laba, maka sifat dari akuntansi pemerintahanan berbeda dari sifat akuntansi perusahaan. Oleh
karena sifatnya yang berbeda, maka akuntansi pemerintahan dikelompokkan sendiri, terpisah dari
akuntansi perusahaan.

Perlu diketahui yang termasuk didalam lembaga pemerintahan adalah salah satunya
BUMN. Di tahun 1959 pemerintahan orde lama mulai melakukan kebijakan-kebijakan berupa
nasionalisasi perusahaan asing yang ditransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara
(BUMN). Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun
2003 tentang BUMN, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah badan usaha yang seluruhnya
atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang
berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. BUMN merupakan salah satu pelaku ekonomi
dalam sistem perekonomian nasional, di samping badan usaha swasta dan koperasi. Dalam
menjalankan kegiatan usahanya, BUMN, swasta dan koperasi melaksanakan peran saling
mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi.
PERMASALAHAN

Dilihat dari latar belakang diatas, dapat ditarik suatu rumusan permasalahan yaitu Bagaimana
perkembangan status lembaga pemerintahan BUMN di di Indonesia.

TUJUAN

Karya ilmiah ini dibuat bertujuan untuk mengetahui perkembangan status lembaga pemerintahan
BUMN di Indonesia.

PEMBAHASAN

Penjelasan mengenai Badan badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat ditemui dalam
UU No. 9 tahun 1969 yang sudah diubah menjadi UU No. 19 Tahun 2003. Dimana didalam pasal
1 diuraikan bentuk BUMN yaitu:

a. Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN yang berbentuk
perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51
% (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang tujuan
utamanya mengejar keuntungan.
b. Perusahaan Perseroan Terbuka, yang selanjutnya disebut Persero Terbuka, adalah Persero
yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang
melakukan penawaran umum sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar
modal.
c. Perusahaan Umum, yang selanjutnya disebut Perum, adalah BUMN yang seluruh
modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan
umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus
mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan.

Sedangkan Sebelum UU no 9 tahun 1969 diuraikan dalam pasal 1 dan 2 dijelaskan bahwa terdapat
3 bentuk BUMN, yakni:

a. Perusahaan Jawatan, adalah perusahaan negara yang dimiliki negara yang memiliki ciri
ciri bersifat memberi pelayanan kepada masyarakat, statusnya berlainan dengan hukum
ublik, dan modalnya merupakan bagian dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang
dikelola oleh departemen yang membawahinya. Perusahaan Jawatan (Perjan) sampai tahin
1989 memiliki 2 perusahaan yaitu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dibawah
Departemen Perhubungan, dan Perusahaan Jawatan Penggadaian dibawah Departemen
Keuangan. Namun sejak diubahnya UU No. 9 Tahun 1969 Perusahaan Jawatan diubah
menjadi Perusahaan Umum, maka saat ini sudah tidak ada lagi BUMN yang memiliki
bentuk Perusahaan Jawatan ini.
b. Perusahaan Umum Negara atau Perum adalah perusahaan negara yang memiliki ciri ciri
bersifatmelayani kepentingan umum, namun juga diharapkan dapat memupuk keuntungan,
berstatus badan hukum dan diatur dalam ketentuan UU No. 19 Tahun 1969, sampai tingkat
tertentu menerima subsidi dari pemerintah dan seluruh modalnya merupakan milik negara
yang diambil dari kekayaan negara yang dipisahkan dan tidak terbagi ke dalam bentuk
saham saham. Sampai tahun 1989 jumlah perum masih tercatat 32 perusahaan, seperti
Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN), Perusahaan Umum Pos dan Giro, dan
Perusahaan Umum Telekomunikasi (PERUMTEL). Pada tahun 1990 jumlah perum
meningkat menjadi 34 perusahaan, dan pada tahun 1991 jumlah perum menurun menjadi
24 perusahaan. Ini disebabkan karena diubahnya beberapa bentuk BUMN dari Perusahaan
Umum menjadi Persero.
c. Perseroan Negara adalah perusahaan negara yang memiliki ciri ciri bersifat mengejar
keuntungan, berstatus badan hukum dan berbentuk Perseroan Terbatas (PT), tidak
menerima subsidi dan fasilitas dari pemerintahan, serta seluruh atau sebagian modalnya
dimiliki oleh pemerintah dan terbagi dalam bentuk bentuk saham. Sampai Tahun 1992
tercatat jumlahnya sebanyak 164 perusahaan salah satunya adalah PT Garuda Indonesia,
PT Krakatau Steel, PT Indosat, dan PT ITPN.
Tabel 1

Perkembangan Status BUMN 1988 1992


No. Status 1988 1989 1990 1991 1992
PERSERO
1 a.TUNGGAL 121 115 119 134 143
b. PATUNGAN 17 19 19 18 18
2 PN 7 6 4 1 1
3 PT LAMA 3 2 2 1 1
STATUS
4 8 8 8 8 1
KHUSUS
5 PERUM 32 32 34 24 20
6 PERJAN 2 2 0 0 0
Jumlah 189 184 186 186 184

Sumber : Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI, 16 Agustus 1993