Anda di halaman 1dari 5

Protobiont

2013
Vol 2 (3): 141 - 145

Jenis-Jenis Jamur Entomopatogen Dalam Usus Rayap Pekerja


Coptotermes curvignathus Holmgren

Sekar Puri Indria1, Siti Khotimah1, Rizalinda1


1
Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi,
Pontianak, email korespondensi : purisekar388@yahoo.co.id

Abstract
Entomopathogenic fungi can be developed as pest termites control that is environmentally friendly. The
aim of this research was to determine the types of entomophatogenic fungi that were isolated from
Coptotermes curvignathus Holmgren worker termite gut. This research has been done from April to July
2013. Termites C. curvignathus were collected from Arboretum area on Faculty of Forestry in Tanjungpura
University Pontianak. Isolation was done in 10 worker termite's guts using direct planting method. This
research obtained 3 genera of fungi namely: Aspergillus, Curvularia and Penicillium, two of them can be
used as entomophatogenic fungi, namely Aspergillus and Penicillium.
Keywords : Entomopathogenic fungi, gut, termites (Coptotermes curvignathus Holmgren)

PENDAHULUAN sebagai sumber makanan dengan memodifikasi


kayu, rayap dapat membantu jamur dengan
Indonesia sebagai negara beriklim tropis
mengangkut dan menyebarkan jamur ke lokasi
merupakan tempat hidup yang sesuai bagi
baru. Namun tidak semua jamur menguntungkan
berbagai organisme perusak kayu seperti rayap,
rayap karena jamur dapat menghasilkan metabolit
cendawan maupun serangga lainnya. Diperkirakan
toksik yang menyebabkan kematian pada rayap
sekitar 8085% dari luas daratan di Indonesia
(Jayasimha, 2006).
merupakan habitat yang sesuai bagi kehidupan
rayap (Nandika, 1999). Rayap menjaga
Dewasa ini pengendalian rayap dilakukan secara
keseimbangan alam dengan menghancurkan kayu
kimiawi yaitu menggunakan bahan kimia yang
dan bahan organik lainnya dan mengembalikannya
meninggalkan residu berbahaya bagi lingkungan.
sebagai hara ke dalam tanah.
Akumulasi bahan kimia pada lingkungan dapat
mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh sebab
Perubahan kondisi habitat rayap dapat mengubah
itu dikembangkan metode pengendalian rayap
status rayap menjadi serangga hama yang
yang ramah terhadap lingkungan. Salah satunya
merugikan pada tanaman dan kayu konstruksi
adalah memanfaatkan agen hayati sebagai
bangunan. Terdapat 20 spesies rayap di Indonesia
biokontrol terhadap serangan hama dan serangga
yang dikelompokkan sebagai hama perusak kayu
perusak lainnya. Pengendalian rayap secara
dan hama hutan atau pertanian. Rayap yang
biologi menggunakan agen hayati dari golongan
tercatat sebagai hama antara lain rayap tanah
jamur entomopatogen merupakan alternatif lain
seperti C. curvignathus, Macrotermes gilvus
pengendalian rayap tanah (Pearce, 1997).
Hagen, serta Schedorhinotermes javanicus
Kemner dan jenis rayap kayu kering yaitu
Penggunaan agen hayati jamur entomopatogen
Cryptotermes cynocephalus Light (Tarumingkeng,
merupakan suatu upaya untuk mengurangi
2001).
penggunaan pestisida sintetik yang selama ini
dapat menyebabkan masalah lingkungan. Tujuan
C. curvignathus merupakan salah satu rayap
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-
subteran yang makanan utamanya berupa kayu
jenis jamur entomopatogen yang diisolasi dari
dan bahan lain yang mengandung selulosa. Rayap
usus rayap pekerja C. curvignathus.
mendegradasi selulosa dengan menghasilkan
enzim selulase dan dibantu oleh organisme
simbion pada saluran pencernaannya (Normasari,
2011). Salah satu organisme simbion yang
terdapat di usus rayap yaitu jamur. Jamur berperan
141
Protobiont
2013
Vol 2 (3): 141 - 145

BAHAN DAN METODE HASIL DAN PEMBAHASAN

Waktu dan Tempat Penelitian HASIL


Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu pada
bulan April 2013 sampai dengan Juli 2013 mulai Berdasarkan hasil identifikasi secara makroskopis
dari persiapan penelitian hingga penyusunan dan mikroskopis ditemukan jamur yang berasal
laporan. Pengambilan sampel rayap dilakukan di dari 3 genus dan 2 jenis jamur belum dapat
Kawasan Arboretum Fakultas Kehutanan diidentifikasi (Tabel 1)
Universitas Tanjungpura. Kegiatan isolasi dan Tabel 1 Jenis-jenis jamur yang ditemukan dari usus rayap
identifikasi Jamur dilakukan di Laboratorium pekerja C. curvignathus
Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas No. Genus Spesies
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 1. Aspergilus A. fumigatus
Universitas Tanjungpura. A. niger
2. Curvularia Curvularia sp
Bahan 3. Penicillium P. expansum
4. Sp1 Belum dapat diidenifikasi
Bahan yang digunakan adalah rayap pekerja C. 5. Sp2 Belum dapat diidentifikasi
curvignathus yang ditemukan pada pohon karet
(Havea sp.), akuades, alkohol 70%, NaClO 1%,
media Potato Dextrose Yeast Agar (PDYA), dan 1.Aspergillus fumigatus
streptomisin.

Cara Kerja e d
Rayap C. curvignathus diambil dengan metode
jelajah yaitu langsung mencari pohon yang
c
terserang rayap dan mengambil 10 ekor rayap b
pekerja yang ditemukan, kemudian dimasukkan ke
dalam wadah (Pebriyana, 2011).

Isolasi dan identifikasi Jamur dilakukan di


Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
a
Universitas Tanjungpura. Isolasi dilakukan secara
aseptis di dalam enkas dengan metode tanam
langsung. Sebanyak 10 ekor rayap disterilisasi
dengan NaClO 1%, selanjutnya dibilas dengan Gambar 1. A. fumigatus: a. Konidiofor, b. Vesikel,
akuades steril. Seluruh usus rayap dikeluarkan dari c. Metula, d. Fialid, e. Konidia
(Perbesaran 10x40)
perut menggunakan pinset steril, kemudian usus
diletakkan ke dalam petri yang berisi media
Aspergillus yang diperoleh dari hasil pengamatan
Potato Dextrose yeast Agar (PDYA) yang telah
memiliki ciri yaitu, inkubasi hari ke-7 bentuk
ditambah 25 mg/liter streptomisin. Petri yang telah
koloni bertepung dengan permukaan berwarna
berisi usus rayap ditutup rapat dan diinkubasi
hijau tua keabu-abuan, sebalik koloni berwarna
selama 7 hari pada suhu 25oC. Pemurnian
kekuningan dan tepi koloni tidak rata. Menurut
dilakukan setelah masa inkubasi dengan cara
Samson et al., (1995) jamur A. fumigatus
memindahkan koloni jamur yang sejenis dan
membentuk koloni halus tepung berwarna hijau
terpisah dari koloni jamur lain ke dalam media
keabu-abuan dan warna koloni dibagian bawah
baru sehingga didapatkan isolat murni.
media kekuningan.
Biakan murni jamur yang didapatkan, kemudian
Pengamatan secara mikroskopis preparat jamur
diidentifikasi berdasarkan Raper and Fennel
A.fumigatus diperoleh hifa bersekat dan berwarna
(1965), Bessey (1979), Samson et al., (1995) dan
kehijauan dengan bentuk hifa silindris, konidia
Alexopoulos et al., (1996). Identifikasi jamur
tunggal bergerombol. Konidiofor berbentuk
dilakukan dengan mengamati beberapa karakter
morfologi baik secara makroskopis maupun secara tunggal, dengan adanya metula dan fialid
mikroskopis. (Gambar 1). Samson et al., (1995) menyatakan A.
fumigatus memiliki konidium bertipe kolumnar
142
Protobiont
2013
Vol 2 (3): 141 - 145

dengan bentuk semi bulat yang terbentuk oleh hitam kecoklatan dan permukaan bawah koloni
fialid dan fialid dibentuk oleh metula dengan hitam dan tepi tidak rata. Menurut Wilhelmus dan
warna hijau gelap dan vesikel berbentuk semi Jones (2001) dalam Widawati et.al., (2005)
bulat. menyatakan koloni jamur Curvularia sp. tumbuh
dengan cepat seperti wol, setelah umur 7 hari
Aspergillus niger menutupi seluruh cawan petri.
e
Pengamatan secara mikroskopis dari preparat
d jamur Curvularia sp. dibawah mikroskop dengan
c perbesaran 400x memiliki karakter, hifa bersekat
dan berwarna cokelat, bentuk hifa silindris,
konidia berbentuk elips dan bersekat. Menurut
b Wilhelmus dan Jones (2001) dalam Widawati et
f al., (2005) jamur Curvularia sp. memiliki konidia
yang disebut porokonidia, bentuk agak elips,
a memiliki sekat berwarna yang membagi konidia
menjadi beberapa sel.
Gambar 2. A. niger: a. Konidiofor, b. Vesikel,
c. Metula, d. Fialid, e. Konidia, f. Sel kaki
Penicillium expansum
(Perbesaran 10x40)

Pengamatan secara makroskopis pada hari ke 7 c


d
masa inkubasi koloni memiliki ciri : berwarna
hitam dengan bagian tepi berwarna putih, bentuk
koloni pada bagian tengah kasar berpasir dan
bagian tepi seperti kapas. Pengamatan secara
mikroskopis preparat A. niger dengan perbesaran b
400x, hifa berbentuk silindris, konidia berbentuk
bulat berduri. Konidiofor tunggal dengan adanya a
metula dan fialid. Pada A.niger memiliki sel kaki
(foot cell) yang terdapat dibagian dasar, yang
merupakan tempat terbentuknya konidiofor Gambar 4. Penicillium expansum : a. Konidiofor,
tunggal. Rapel dan Fennel, 1965; Samson et al., b. Konidia, c. Fialid, d. Metula
1995 menyatakan jamur A. niger memiliki
konidiofor tunggal, konidia bentuk bulat berduri, Pengamatan pada hari ke 7 masa inkubasi
adanya fialid yang terbentuk dari metula, dan menunjukkan ciri, koloni jamur berbentuk tepung
vesikula berbentuk bulat hingga semi bulat. berpasir dan kasar, warna koloni kuning dengan
tepi putih, tepi koloni tidak rata, permukaan
Curvularia sp. bawah koloni kuning kecoklatan. Menurut
Samson et al., (1995) koloni jamur P. expansum
pada media PDYA tumbuh dengan cepat sampai
e diameter 4-5 cm dalam 14 hari, koloni berwana
kuning dan warna sebalik koloni kuning
kecoklatan.

Pengamatan secara mikroskopis dari hasil


a
c pembuatan preparat jamur pada perbesaran 400x
b memiliki karakter hifa bersekat, konidiofor
d silindris bersekat dengan konidia berbentuk bulat,
konidiofor bercabang dengan metula dan fialid.
Gambar 3. Curvularia sp. : a. Sekat pada porokonidia, Menurut Bessey (1986) dan Samson, et al., (1995)
b. Porokonidia, c. Fialid, d. Hifa bersekat, P. expansum merupakan jamur yang besifat
e. Konidiofor saprofit, memiliki konidiofor tunggal dengan
percabangan satu tingkat, konidiofor ini
Pada hari ke 7 koloni jamur ini sudah memenuhi memproduksi konidia.
media dengan bentuk kapas dengan tengah
menggunung dan tepi agak menyusut, berwarna
143
Protobiont
2013
Vol 2 (3): 141 - 145

Sp1 diisolasi dari tubuh rayap C. curvignathus yang


telah mati dan pada penelitian Jayasimha dan
Henderson (2007) dalam usus rayap C.
formosanus. Penelitian Gontha et al., (2013)
berhasil mengisolasi jamur genus Penicillium dari
pencernaan rayap Coptotermes sp. Penelitian Arif
et al., (2009) berhasil mengisolasi jamur dari
genus Aspergillus dan Penicillium dari 19 sumber
isolat yang berbeda dan merupakan jamur patogen
a terhadap rayap Coptotermes sp.

Jamur entomopatogen dari genus Aspergillus


merupakan jamur saprofit yang dapat menginfeksi
Gambar 5. Sp1 : a. Kumpulan hifa steril serangga pada rentangan jenis yang luas, terdiri
dari banyak spesies seperti A. flavus, A.
Pengamatan secara makroskopis pada hari ke 7 parasiticus, A. tamari, A. ochraceus, A. fumigatus,
menunjukkan koloni jamur sudah memenuhi A. repens dan A. vesicolor (Tanada dan Kaya,
media dengan bentuk kapas padat, dengan warna 1993). Menurut Indrayani et al., (2009) dengan
koloni putih, tepi koloni tidak rata, permukaan menggunakan metode kontak, isolat jamur
bawah koloni kuning kecoklatan. Pengamatan Aspergillus sp dapat menyebabkan mortalitas
secara mikroskopis menunjukkan ciri sebagai rayap lebih dari 50%.
berikut, hifa bentuk silindris, terdapat percabagan
pada hifa, tidak ditemukan spora/konidia. Menurut Jamur genus Curvularia merupakan jamur yang
Bessey (1987), jamur yang membentuk miselium bersifat saprofit dan secara alami terdapat di
rhizomorf tanpa spora atau konidia termasuk serasah serta berperan dalam proses dekomposisi
kelompok miselia steril. awal serasah daun. Belum banyak penelitian
mengenai pemanfaatan jamur Curvularia sebagai
Sp2 entomopatogen terhadap rayap maupun serangga
lainnya. Namun penelitian Assaf et al., (2011)
menemukan jamur dari genus Curvularia yang
diisolasi dari tubuh serangga Dolycoris baccarum
yang telah mati. Rombach (1988) menyatakan
a bahwa spesies jamur yang ditemukan pada
serangga mati merupakan jamur saprofit yang
menyerang setelah serangga mati, dan hanya
jamur entomopatogen yang dapat secara aktif
menyerang serangga hidup, membunuh inang dan
bersporulasi pada inang yang telah mati.

Gambar 6. Sp2 : a. Kumpulan hifa steril Masing-masing jenis jamur entomopatogen


membutuhkan proses untuk dapat menginfeksi
Pengamatan pada hari ke 7 masa inkubasi sampai mematikan serangga. Infeksi dimulai
menunjukkan ciri, koloni bentuk kapas padat, dengan penempelan konidia pada tubuh serangga,
dengan warna koloni putih, tepi koloni tidak rata. perkecambahan, penetrasi dan invasi serta
Pengamatan secara mikroskopis dari hasil kolonisasi dalam haemocoel, jaringan dan organ.
pembuatan preparat dari miselium jamur pada Kelembapan yang tinggi pada sarang rayap sangat
perbesaran 400x yaitu hifa tidak bersekat dan baik untuk pertumbuhan jamur yang dapat
memiliki percabangan, tidak ditemukan menginfeksi rayap. Adanya interaksi fisik antar
spora/konidia. Menurut Bessey (1987), jamur individu dalam koloni rayap, seperti kegiatan
yang membentuk miselium rhizomorf tanpa spora saling menyuapi (trophallaxis) dan bersentuhan
atau konidia termasuk kelompok miselia steril. (grooming), memungkinkan terjadinya penularan
spora jamur dari rayap yang terinfeksi dengan
Pembahasan rayap yang sehat dalam koloni tersebut (Kramm et
Jamur dari genus Aspergillus dan Penicillium juga al., (1982).
ditemukan pada penelitian Desyanti (2007) yang
144
Protobiont
2013
Vol 2 (3): 141 - 145

Usus merupakan organ pencernaan tempat Entomopathogen Metarhizium anisopliae


pengolahan dan penyerapan berbagai makanan Betwen Reticulitermes sp. Termites, Journal.
yang masuk ke dalamnya. Pencernaan dalam usus Invertebrate Pathology, vol. 40, no. 1, hal. 1-6
rayap dibantu dengan adanya mikroorganisme. Nandika, D, 1999, Status Bahaya Serangan Rayap pada
Bangunan Gedung, Makalah Seminar Nasional
Menurut Batubara (2002) hubungan jamur dengan
Pemantapan Sistem Pengendalian Rayap pada
sistem pencernaan serangga adalah dalam Bangunan Gedung, Jakarta
mengasimilasi makanan, mengubah atau Normasari, R, 2011, Karakterisasi Gen Endo--
menghancurkan zat yang terdapat dalam 1,4Glukanase Pada Rayap Coptotermes
pencernaan serta mampu menghasilkan dan curvignathus, Tesis, Institut Pertanian Bogor,
melepaskan enzim. Selain itu, jamur juga dapat Bogor
menghasilkan zat beracun yang dapat membunuh Pearce, MJ, 1997, Termites: Biology and Pest
serangga. Beberapa zat beracun yang dihasilkan Management, CAB International, Wallingford.
jamur yaitu, Aflatoxins oleh Aspergillus dan Pebriyana, UD, 2011, Isolasi dan Karakterisasi Bakteri
Restrictocin oleh A. fumigatus (Desyanti, 2007). Selulotik dalam Usus Belakang Rayap Pekerja
Macrotermes gilvus Hagen dan Coptotermes
curvignathus Holmgren, Skripsi, FMIPA
Universitas Tanjungpura, Pontianak
DAFTAR PUSTAKA Raper, KB and Fennell, DI, 1965, The Genus
Alexopoulos, CJ & Mims, CW, 1979, Introductory Aspergillus, The Williams & Wilkins Company,
Mycology, Third Edition, NewYork, Jhon Wiley Baltimore, USA
& Sons Rombach, 1988, Entomogenous Fungi, Laporan
Arif, A, Syahidah & Sitti, N, 2009, Identifikasi Jenis Khusus Singkat Isolasi Pencirian dan
Jamur Patogen Untuk Pengendalian Rayap Pengawetan Biakan Murni Mikroorganisme,
Tanah Coptotermes sp. Jurnal Parenial, vol. 6, Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB???
no. 1, hal. 33-38 Samson RA., Hoekstra ES, Frisvad J.C, & Filtenborg
Assaf, LH, Raed, AH & Samir, KA., 2011, Association O, 1995, Introduction to Food Borne Fungi,
Of Entomopathogenic And Other Opportunistic Ponsen & Looyen, Netherlands
Fungi With Insect In Dorman Locations, Jordan Tanada, Y, & Kaya HK, 1993. Insect Pathology,
Journal of Biological Sciences, vol. 4, no. 2, hal Academic Press, California
87-92 Tarumingkeng, RC, 2001, Biologi Dan Perilaku Rayap,
Batubara, R. 2002, Biologi Serangga Penggerek Kayu, PSIH IPB, Bandung
Fakultas Pertanian, Program Ilmu Kehutanan, Widawati, S, Suliasih, Latupapua, H.J.D & Arwan S,
Universitas Sumatera Utara, USU Digital 2003, Biodiversity of Soil Microbes from
Library Rhizosphere at Wamena Biological Garden
Bessey, EA, 1979, Morphology and Taxonomy of (WBiG), Jayawijaya, Papua Microbiology
Fungi, New Delhi Bombay, Vikas Publishing Division, Research Center of Biology,
House PVT LTD Indonesian Institute of Sciences, Bogor. Jurnal.
Desyanti, 2007, Kajian Pengendalian Rayap Tanah Biodiversitas vol. 1, no.4, hal 18-23
Coptotermes Spp. (Isoptera: Rhinotermitidae)
dengan Menggunakan Cendawan
Entomopatogen Isolat Lokal, Disertasi, Institut
Pertanian Bogor
Indrayani, Y & Yusuf, S, 2009, Isolasi dan Identifikasi
Jamur kelas Hypomycetes Sebagai Bio-Kontrol
Untuk Menghambat Aktifitas Rayap Terhadap
Kayu. Jurnal Penelitian UNTAN, vol. 14, no. 2,
hal 73-87
Jayasimha, P, 2006, Interactions Between Formosan
Subterranean Termites, Brown Rot Fungus
(Gloeophyllum trabeum) and Some Of The
Fungi Present On The Termite Integument and
Gut, B.Sc., Acharya N. G. Thesis, Ranga
Agricultural University, India
Jayasimha, P & Henderson, G, 2007, Fungi Isolated
from Integument and Guts of Coptotermes
formosanus and Their Antagonistic Effect on
Gleophyllum trabeum, Journal Entomological
Society of America, vol. 100, no. 5, hal. 703-710
Kramm, K.R, West, DF & Rockenbach, PG, 1982,
Termites Pathogens: Transfer of the
145