Anda di halaman 1dari 33

PENUNTUN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR

TAHUN AJARAN 2017/2018

TIM PENYUSUN
Rifan Fathoni, S.T., M.T.
Ari Susandy Sanjaya, S.T., M.T.
Novy Pralisa Putri, S.T., M.Eng.
Mardiah, S.T., M.T.
Helda Niawanti, S.T., M.T.

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA

2017

i
NAMA

..........................
NIM

..........................
PROGRAM STUDI

..........................

ii
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat-Nya sehingga penyusunan Penuntun Praktikum Kimia Dasar Tahun Ajaran 2017/2018
dapat terselesaikan.

Penuntun praktikum ini disusun untuk mempermudah kegiatan praktikum Kimia Dasar yang
dilaksanakan oleh mahasiswa fakultas teknik Universitas Mulawarman tahun ajaran 2017/2018.
Penuntun ini terdiri dari 8 judul praktikum yang masing-masing diawali dengan pemaparan
tujuan percobaan secara umum serta teori yang mendasari percobaan. Selanjutnya terdapat
metodologi percobaan yang terdiri dari pemaparan bahan dan alat yang digunakan maupun
prosedur kerja yang telah dijabarkan sejelas mungkin. Data pengamatan yang diperoleh selama
melaksanakan praktikum dapat diisikan pada laporan sementara untuk kemudian digunakan
sebagai data yang valid dalam melakukan perhitungan.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut aktif membantu
penyusunan Penuntun Praktikum Kimia Dasar ini. Penyusun menyadari bahwa dalam buku ini
masih jauh dari sempurna. Dengan kerendahan dan ketulusan hati, penyusun akan terbuka untuk
menerima kritik yang membangun demi kesempurnaan penuntun ini.

Semoga Penuntun Praktikum Kimia Dasar ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Samarinda, September 2017

Tim Praktikum
Kimia Dasar

iii
TATA TERTIB PRAKTIKUM
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN

1. Semua praktikan wajib mematuhi dan mengikuti rangkaian kegiatan praktikum yang telah
dijadwalkan sebelumnya. Apabila tidak dapat mengikuti rangkaian kegiatan praktikum,
maka harus ada pemberitahuan secara lisan dan tertulis.
2. Semua praktikan wajib mengisi daftar hadir sebagai bukti kehadiran.
3. Praktikan wajib hadir 10 menit sebelum praktikum dimulai. Keterlambatan lebih dari 10
menit tanpa alasan yang jelas tidak diperkenankan mengikuti praktikum.
4. Semua praktikan wajib menggunakan alat pelindung diri berupa jas lab, sepatu tertutup,
masker dan sarung tangan.
5. Sebelum melaksanakan kegiatan praktikum, praktikan wajib mengikuti responsi selambat-
lambatnya satu hari sebelum jadwal praktikum dilaksanakan.
6. Praktikan diwajibkan membuat laporan sementara setelah praktikum selesai dan telah
disetujui oleh asisten yang bersangkutan.
7. Untuk dapat mengikuti kegiatan praktikum selanjutnya, praktikan wajib mengumpulkan
laporan mingguan dari praktikum sebelumnya kepada asisten yang bersangkutan.
8. Tidak ada inhall atau penjadwalan ulang praktikum bagi praktikan yang tidak dapat
mengikuti kegiatan praktikum.
9. Peralatan yang telah digunakan, wajib dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya.
Bahan-bahan yang digunakan wajib dikembalikan ke tempat semula.
10. Praktikan yang meninggalkan ruang laboratorium, harus melapor pada asisten atau
koordinator praktikum.
11. Selama berada di area praktikum atau berlangsungnya praktikum, dilarang makan dan
minum serta handphone dinonaktifkan atau dalam mode silent.
12. Setiap kerusakan atau pemecahan alat, baik dilakukan perorangan maupun kelompok wajib
melaporkan pada asisten dan diwajibkan untuk mengganti hingga batas waktu akhir
praktikum. Apabila praktikan masih mempunyai tanggungan untuk mengganti alat yang
rusak, praktikan tidak dapat mengikuti ujian akhir praktikum.
13. Peraturan yang belum tercantum dalam tata tertib ini, akan diatur oleh asisten atau
koordinator praktikum.
14. Peraturan ini akan tetap berlaku sampai adanya peraturan baru.

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................................................. iii
TATA TERTIB PRAKTIKUM ............................................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ v

PERCOBAAN I PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ............................................................. 1


PERCOBAAN II PEMBUATAN LARUTAN ........................................................................ 5
PERCOBAAN III KROMATOGRAFI .................................................................................... 7
PERCOBAAN IV STOIKIOMETRI ..................................................................................... 11
PERCOBAAN V LAJU REAKSI .......................................................................................... 14
PERCOBAAN VI SIFAT-SIFAT UNSUR ............................................................................ 18
PERCOBAAN VII REAKSI OKSIDASI DAN REDUKSI .................................................. 23
PERCOBAAN VIII ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI .................................................. 26

v
PERCOBAAN I
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

1.1 Tujuan Percobaan


Untuk mengetahui zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau telah tercampur.

1.2 Dasar Teori


Campuran adalah suatu bahan yang terdiri dari atas satu lebih zat berlainan yang bergabung
menjadi satu yang masih mempunyai sifat zat asalnya. Campuran dibeakan menjadi dua yaitu
campuran homogen dan heterogen.

Dalam praktikum kimia, seringkali berbagai campuran zat harus dipisahkan menjadi zat murni.
Cara pemisahan dapat digolongkan menjadi:
a. Pemisahan zat padat dari zat cair
b. Pemisahan zat padat dari zat padat

Pemisahan zat padat dari zat cair, dapat dilakukan dengan cara:
a. Untuk zat padat yang tidak larut dalam zat cair:
1. Dekantasi
2. Filtrasi
b. Untuk zat padat yang larut dalam zat cair:
1. Penguapan
2. Kristalisasi

Pemisahan zat padat dari zat padat, dapat dilakukan dengan cara:
a. Pelarutan yang diikuti dengan penyaringan
b. Kristalisasi bertingkat
c. Sublimasi

1
1.3 Alat dan Bahan
Alat
a. Spatula f. Batang pengaduk
b. Gelas kimia 100 mL g. Hot plate
c. Corong kaca h. Mortar dan alu
d. Corong pisah i. Erlenmeyer
e. Cawan penguap

Bahan
a. NaCl e. Pasir
b. Minyak goreng f. Kertas saring
c. CaCO3 (Kapur Tulis) g. Aquadest
d. Naftalena h. Padatan CuSO4

1.4 Prosedur Percobaan


a. Dekantasi
1. Dimasukkan 100 gram pasir ke dalam gelas kimia yang telah diisi aquadest dan
diaduk.
2. Didiamkan pasir hingga mengendap kemudian dituang cairan bagian atas.

b. Filtrasi
1. Dihaluskan kapur tulis menggunakan mortar dan alu.
2. Dimasukkan bubuk kapur tulis ke dalam gelas kimia yang telah diisi aquadest dan
diaduk.
3. Disaring campuran menggunakan corong kaca yang telah dilapisi dengan kertas
saring.

c. Kritalisasi
1. Dimasukkan sebanyak 20 mL aquadest ke dalam gelas kimia.
2. Dimasukkan sedikit padatan CuSO4 ( 1 gram), kemudian diaduk hingga padatan larut
dalam aquadest.
3. Diuapkan larutan hingga cairan hampir mengering, kemudian didinginkan.

2
d. Sublimasi
1. Dimasukkan 1 gram naftalena yang telah dihaluskan ke dalam cawan penguap.
2. Ditambahkan 1 gram NaCl ke dalam cawan penguap kemudian diaduk.
3. Ditutup cawan penguap dengan menggunakan kertas saring yang telah diberi lubang-
lubang kecil dan ditutup dengan corong kaca yang diletakkan dengan posisi terbalik
dengan leher corong disumbat dengan kertas.
4. Dipanaskan hingga kedua zat mengalami penyubliman.

e. Ekstraksi
1. Dimasukkan 100 mL aquadest dan 100 mL minyak goreng ke dalam corong pisah.
2. Dihomogenkan dan dibiarkan hingga cairan tersebut kembali terpisah.
3. Dipisahkan cairan lapisan bawah dengan cara membuka kran pada corong pisah.

3
1.5 Data Pengamatan
No. Judul Percobaan Hasil Pengamatan
1.

2.

3.

4.

5.

4
PERCOBAAN II
PEMBUATAN LARUTAN

2.1 Tujuan Percobaan


Untuk mengetahui cara pembuatan larutan dari bahan cair dan padat dengan konsentrasi
tertentu.

2.2 Dasar Teori


Dalam percobaan ini akan dilakukan beberapa percobaan yang berkaitan erat dengan
keterampilan dasar dalam bekerja di laboratorium kimia. Hal-hal yang perlu diketahui dalam
bekerja adalah terlebih dahulu harus mengenal beberapa alat yang diperlukan untuk membuat
larutan.

Untuk menyatakan kepekatan atau konsentrasi suatu larutan dapat dilakukan dengan berbagai
cara bergantung pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk
menentukan kepekatan larutan adalah molaritas, molalitas, persen berat, persen volume, ppm
dan sebagainya.

2.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Neraca f. Gelas kimia 100 mL
b. Labu ukur 100 mL g. Corong kaca
c. Pipet tetes h. Spatula
d. Pipet volume 10 mL i. Kaca arloji
e. Batang pengaduk j. Botol semprot

Bahan
a. Aquadest c. Padatan Na2CO3
b. Larutan H2SO4 pekat

5
2.4 Prosedur Percobaan
1. Ditimbang dengan tepat 1 gram padatan Na2CO3 dengan menggunakan kaca arloji.
Dipindahkan secara kuantitatif padatan Na2CO3 ke dalam gelas kimia 100 mL.
Ditambahkan 25 mL aquadest dan diaduk hingga padatan larut sempurna. Dipindahkan
secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 mL dengan menggunakan corong kaca. Dibilas
gelas kimia, batang pengaduk dan corong kaca, dimana hasil bilasan dimasukkan dalam
labu ukur 100 mL. Ditambahkan aquadest hingga batas tinggi permukaan larutan 0,5
hingga 1 cm dari tanda batas. Dikeringkan aquadest yang menempel pada leher labu ukur
dengan menggunakan tisu. Dengan menggunakan pipet tetes, ditambahkan aquadest
hingga tanda batas pada labu ukur. Tutup labu ukur kemudian dihomogenkan.
2. Dipipet 2 mL H2SO4 pekat dan dimasukkan dalam labu ukur 100 mL yang telah diisi
dengan aquadest sekitar 50 mL. Diamkan hingga labu ukur terasa dingin kemudian
ditambahkan aquadest hingga batas tinggi permukaan larutan 0,5 hingga 1 cm dari tanda
batas. Tutup labu ukur dan dihomogenkan.

2.5 Data Pengamatan


No. Larutan Hasil Pengamatan
1. Larutan Na2CO3
Molaritas ...............M

Persen (b/v) ...............%

2. Larutan H2SO4
Molaritas ...............M

Persen (v/v) ...............%

6
PERCOBAAN III
KROMATOGRAFI

3.1 Tujuan Percobaan


Untuk mengetahui cara memisahkan campuran yang didasarkan pada perbedaan kecepatan
migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fasa (fasa diam dan gerak).

3.2 Dasar Teori


Prinsip percobaan kromatografi adalah memisahkan suatu zat yang berdasarkan perbedaan
migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.

Kromatografi adalah salah satu metode pemisahan kimia yang didasarkan pada adanya
perbedaan partisi zat pada fasa diam (stationary phase) dan fasa gerak (mobile phase).
Kromatografi berasal dari bahasa yunani yaitu choromos yang berarti penulisan dan graver
yang berarti warna. Kromatografi dapat bersifat preparatif maupun analitik. Tujuan preparatif
biasanya adalah untuk memisahkan senyawa dalam campuran (biasanya digunakan untuk
pemurnian). Kromatografi analitik digunakan untuk mengetahui perbandingan senyawa dalam
campuran.

Terdapat berbagai cara penggolongan metode kromatografi penggolongan kromatografi yang


didasarkan pada jenis fasa yang terlibat, dibedakan menjadi:
a. Kromatografi gas-cair, bila fasa geraknya berupa gas dan fasa cair berupa cairan yang
dilapiskan pada padatan pendukung yang inert.
b. Kromatografi gas-padat, bila fasa geraknya berupa gas dan fasa diamnya berupa padatan
yang dapat menyerap.
c. Kromatografi cair-cair, bila fasa gerak dan fasa diamnya berupa cairan, dimana fasa
diamnya dilapiskan pada permukaan padatan pendukung yang inert.
d. Kromatografi cair-padat, bila fasa geraknya berupa gas sedangkan fasa diamnya berupa
padatan yang amorf yang dapat menyerap.

7
Penggolongan kromatografi yang didasarkan pada teknik yang digunakan, dapat digolongkan
menjadi:
a. Kromatografi kolom, apabila komponen yang akan dipisahkan bergerak bersama fasa
gerak melalui sebuah kolom kemudian setiap komponen terpisahkan berupa zona-zona
pita.
b. Kromatografi planar (kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas), apabila komponen
yang akan dipisahkan bergerak bersama fasa gerak dalam sebuah bidang datar.

Pada kromatografi kertas peralatan yang dipakai tidak perlu alat-alat yang teliti dan mahal.
Hasil-hasil yang baik dapat diperoleh dengan peralatan dan materi-materi yang sangat
sederhana. Senyawa-senyawa yang dapat dipisahkan dapat diambil dari kertas dengan jalan
memotong noda (spot) yang kemudian melarutkannya secara terpisah.

Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis.
Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada
kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. Harga Rf didefinisikan
sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik
awal.

3.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Gelas kimia 100 mL d. Penggaris
b. Penjepit tabung reaksi e. Pensil
c. Gunting f. Botol semprot

Bahan
a. Tinta spidol biru e. Aqudest
b. Tinta spidol hijau f. Alkohol
c. Tinta spidol merah g. n-Heksana
d. Kertas saring

8
3.4 Prosedur Percobaan
1. Dipotong kertas saring dengan panjang 10 cm dan lebar 2 cm. beri garis batas sekitar 1 cm
dari batas bawah dan atas kertas. Beri noda (titil) tinta spidol warna biru pada garis batas.
Dimasukkan kertas tersebut kedalam helas kimia yang telah diisi dengan aquadest yang
tingginya sekitar 0,5 cm sedemikian rupa sehingga posisi kertas tercelup dengan aquadest.
Biarkan aquadest merembes naik hingga sekitar 1 cm di bawah batas atas kertas, ambil dan
keringkan. Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen-komponen noda yang
terpisahkan. Dihitung harga Rf dari masing-masing noda.
2. Diulangi langkah diatas untuk tinta warna hijau dan merah.
3. Diulangi langkah (1) untuk dengan pelarut masing-masing alkohol dan n-heksana.

9
3.5 Data Pengamatan
Jarak
Pelarut Warna Noda Jarak Noda Rf
Pelarut
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.

10
PERCOBAAN IV
STOIKIOMETRI

4.1 Tujuan Percobaan


Untuk menentukan titik maksimum dan titik minimum sesuai dengan titik stoikiometri sistem.

4.2 Dasar Teori


Dasar percobaan ini adalah metode variasi kontinyu. Dalam metode ini dilakukan serangkaian
pengamatan yang kuantitas molarnya sama tetapi masing-masing molar pereaksinya berubah-
ubah (bervariasi). Salah satu sifat tertentu dipilih untuk diperiksa seperti misalnya massa,
volume, suhu atau daya serap. Oleh karena kuantitas pereaksinya berlainan, maka perubahan
harga sifat fisika dari sistem ini dapat digunakan untuk meramalkan stoikiometri sistem. Bila
digambarkan grafik antara sifat fisika yang diukur terhadap kuantitas pereaksinya, maka akan
diperoleh titik maksimum atau titik minimum sesuai dengan titik stoikiometri sistem yaitu
menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksinya.

Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari kuantitas produk dan reaktan dalam reaksi kimia.
Perhitungan stoikiometri paling baik dikerjakan dengan menyatakan kuantitas yang diketahui
dan yang tidak diketahui dalam mol dan kemudian bila perlu dikonversi menjadi satuan lain.
Pereaksi pembatas adalah reaktan yang ada dalam jumlah stoikiometri terkecil. Reaktan ini
membatasi jumlah produk yang dapat dibentuk. Jumlah produk yang dihasilkan dalam suatu
reaksi (hasil sebenarnya) mungkin lebih kecil dari jumlah maksimum yang mungkin diperoleh.
Pada perhitungan kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu
kimia.

4.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Gelas kimia 100 mL c. Termometer
b. Gelas ukur 25 mL

11
Bahan
a. Larutan NaOH 0,1 M c. Larutan H2SO4 0,1 M
b. Larutan HCl 0,1 M

4.4 Prosedur Percobaan


1. Stoikiometri sistem NaOH-HCl
Dimasukkan kedalam gelas kimia 100 mL secara bergantian berturut-turut larutan NaOH
0,1 M volume 2,5 mL, 5 mL, 7,5 mL, 10 mL dan 12,5 mL kemudian ukur masing-masing
suhunya. Selanjutnya dimasukkan larutan HCl 0,1 M kedalam gelas kimia berturut-turut
dengan volume 12,5 mL, 10 mL, 7,5 mL, 5 mL dan 2,5 mL kemudian ukur masing-masing
suhunya. Dicampurkan larutan HCl kedalam NaOH sehingga volume campurannya
menjadi 15 mL dan ukur suhu campuran larutan tersebut.
2. Stoikiometri sistem NaOH-H2SO4
Dimasukkan kedalam gelas kimia 100 mL secara bergantian berturut-turut larutan NaOH
0,1 M volume 2,5 mL, 5 mL, 7,5 mL, 10 mL dan 12,5 mL kemudian ukur masing-masing
suhunya. Selanjutnya dimasukkan larutan H2SO4 0,1 M kedalam gelas kimia berturut-turut
dengan volume 12,5 mL, 10 mL, 7,5 mL, 5 mL dan 2,5 mL kemudian ukur masing-masing
suhunya. Dicampurkan larutan H2SO4 kedalam NaOH sehingga volume campurannya
menjadi 15 mL dan ukur suhu campuran larutan tersebut.

12
4.5 Data Pengamatan
1. Sistem NaOH-HCl
Suhu
No. mL NaOH mL HCl Suhu NaOH Suhu HCl
Campuran
1. 2,5 12,5
2. 5 10
3. 7,5 7,5
4. 10 5
5. 12,5 2,5

2. Sistem NaOH-H2SO4
Suhu
No. mL NaOH mL H2SO4 Suhu NaOH Suhu H2SO4
Campuran
1. 2,5 12,5
2. 5 10
3. 7,5 7,5
4. 10 5
5. 12,5 2,5

13
PERCOBAAN V
LAJU REAKSI

5.1 Tujuan Percobaan


Untuk menentukan laju reaksi suatu reaksi kimia.

5.2 Dasar Teori


Cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan
sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi per satuan waktu. Konsentrasi
biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fasa gas satuan konsentrasi dapat
diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer (atm), millimeter merkurium (mmHg) atau
Pascal (Pa). Satuan waktu dapat detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun bergantung pada
reaksi itu berjalan cepat atau lambat.

Perubahan konsentrasi
Laju Reaksi =
Satuan waktu

Untuk mengukur laju reaksi, perlu menganalisis secara langsung maupun tak langsung
banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa setelah penggal-
penggal waktu tertentu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah:


1. Konsentrasi
Jika konsentrasi suatu zat semakin besar maka laju reaksinya semakin besar pula dan
sebaliknya jika konsentrasi semakin kecil maka laju reaksinya semakin kecil pula. Untuk
beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan matematik yang dikenal
dengan hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi. Pangkat-pangkat dalam persamaan
laju reaksi kimia dinamakan orde reaksi. Menentukan orde reaksi dari suatu reaksi kimia
pada prinsipnya menentukan seberapa besar pengaruh perubahan konsentrasi pereaksi
terhadap laju reaksinya.

14
2. Luas Permukaan
Reaksi yang berlangsung dalam sistem homogen sangat berbeda dengan reaksi yang
berlangsung dalam sistem heterogen. Pada reaksi yang homogen, campuran zatnya
bercampur seluruhnya, hal ini dapat mempercepat berlangsungnya reaksi kimia karena
molekul-molekul ini dapat bersentuhan satu sama lainnya. Dalam sistem heterogen, reaksi
hanya berlangsung pada bidang-bidang perbatasan dan pada bidang-bidang yang
bersentuhan dari kedua fasa.

Reaksi kimia dapat berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom, atau ion-ion dari zat-
zat yang bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus suatu zat, maka makin luas
permukaannya sehingga makin besar kemungkinan bereaksi dan makin cepat reaksi itu
berlangsung.

3. Temperatur
Laju reaksi meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikan suhu sebesar 10 oC akan
menyebabkan kenaikan laju reaksi sebesar dua atau tiga kali. Kenaikan laju reaksi ini
disebabkan suhu akan menyebabkan makin cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak
sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya tabrakan antar molekul. Energi yang
diperlukan untuk menghasilkan tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi
disebut energi pengaktifan kinetik.

4. Katalis
Katalis dapat mempercepat laju reaksi dengan jalan menurunkan energi pengaktifan suatu
reaksi. Katalis adalah zat kimia yang dapat meningkatkan laju reaksi tanpa dirinya
mengalami perubahan kimia secara permanen.

5.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Gelas kimia 100 mL d. Hot plate
b. Gelas ukur 25 mL e. Stopwatch
c. Termometer

15
Bahan
a. Larutan Na2S2O3 0,1 M d. Larutan HCl 0,2 M
b. Larutan Na2S2O3 0,2 M e. Kertas
c. Larutan HCl 0,1 M f. Aquadest

5.4 Prosedur Percobaan


a. Pengaruh konsentrasi pada laju reaksi
1. Disiapkan kertas yang telah diberi tanda silang dan letakkan dibawah gelas kimia 100
mL.
2. Diukur larutan sebanyak 10 mL Na2S2O3 0,1 M di gelas ukur lalu tuang ke gelas kimia.
3. Diukur larutan sebanyak 10 mL HCl 0,2 M di gelas ukur lalu tuang ke gelas kimia
yang berisi 10 mL Na2S2O3 0,1 M.
4. Dihitung waktu yang diperlukan sejak penuangan HCl 0,2 M tadi menggunakan
stopwatch.
5. Diamati sampai tanda silang tidak terlihat lagi dan dicatat waktu.
6. Diulangi langkah yang sama untuk larutan 10 mL Na2S2O3 0,2 M dengan larutan 10
mL HCl 0,1 M dan 10 mL Na2S2O3 0,2 M dengan larutan 10 mL HCL 0,2 M.

b. Pengaruh suhu pada laju reaksi

1. Disiapkan kertas yang telah diberi tanda silang.


2. Diukur larutan sebanyak 10 mL Na2S2O3 0,1 M di gelas ukur lalu tuang ke gelas kimia.
3. Diletakkan gelas kimia diatas hot plate kemudian diukur sampai suhu 25oC
menggunakan termometer.
4. Diukur larutan sebanyak 10 mL HCl 0,2 M di gelas ukur.
5. Setelah mencapai 25oC, gelas kimia diletakkan diatas kertas yang diberi tanda silang.
6. Dituang larutan 10 mL HCl 0,2 M ke gelas kimia yang dipanaskan tadi.
7. Dihitung waktu yang diperlukan sejak penuangan HCl 0,2 M tadi menggunakan
stopwatch.
8. Diamati sampai tanda silang tidak terlihat lagi dan dicatat waktu.
9. Diulangi langkah yang sama untuk larutan 10 mL Na2S2O3 0,2 M dengan larutan 10 mL
HCl 0,1 M dengan suhu 40oC dan 10 mL Na2S2O3 0,2 M dengan larutan 10 mL HCL
0,2 M dengan suhu 60oC.
10. Dibandingkan data ini dengan jika tanpa pemanas (perlakuan 1).
16
5.5 Data Pengamatan
1. Pengaruh Konsentrasi
No. Konsentrasi Na2S2O3 Konsentrasi HCl Waktu (detik)
1. 0,1 M 0,2 M
2. 0,2 M 0,1 M
3. 0,2 M 0,2 M

2. Pengaruh Suhu
No. Konsentrasi Na2S2O3 Konsentrasi HCl Suhu Waktu (detik)
1. 0,1 M 0,2 M 25oC
2. 0,2 M 0,1 M 40oC
3. 0,2 M 0,2 M 60oC

17
PERCOBAAN VI
SIFAT-SIFAT UNSUR

6.1 Tujuan Percobaan


Untuk mempelajari mengenai beberapa unsur golongan IA dan IIA.

6.2 Dasar Teori


Sistem periodik adalah susunan unsur-unsur berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan
sifat yang dimiliki oleh masing-masing unsur. Sistem periodik modern diresmikan oleh IUPAC
pada tahun 1923. Sistem periodik disusun berdasarkan kenaikan nomor atom (jumah proton
atom muatan inti). Sistem periodik dibagi menjadi periode, yaitu unsur-unsur yang terletak
dalam baris yang horizontal (mendatar) dan golongan yaitu unsur-unsur yang terletak dalam
kolom vertikal (atas ke bawah).

Menurut aturan Amerika unsur-unsur dibagi dalam dua kelompok besar yaitu golongan A dan
B, unsur-unsur yang terletak pada golongan A disebut sebagai unsur-unsur golongan utama.
Golongan utama biasanya dinamai berdasarkan nomor kelompok mereka dalam tabel periodik
seperti pada golongan IA, IIA, IIIA, IVA, dan seterusnya. Namun untuk memudahkan beberapa
golongan memiliki nama khusus seperti golongan IA disebut golongan alkali, sedangkan
golongan IIA disebut golongan alkali tanah.

Berikut adalah pengelompokkan sistem periodik unsur antara lain:


1. Hukum Triad-Triad Dobreiner
2. Hukum Oktaf Newlands
3. Hukum Mendeleev

Golongan IA
Unsur yang termasuk dalam golongan IA (alkali) adalah Li, Na, K, Rb, Cs, dan Fr. Unsur- unsur
ini mempunyai susunan elektron pada kulit terluar ns1 dan merupakan reduktor kuat karena
mudah melepaskan satu elektron pada kulit terluarnya.

18
Reaktifitas unsur-unsur ini bertambah dari atas ke bawah, hal ini dapat dilihat pada reaksinya
dengan air. Litium yang dalam golongan IA terletak paling atas bereaksi lambat dengan air,
sedangkan logam alkali lainnya bereaksi dengan cepat dan eksoterm.
2M + 2H2O 2MOH + H2
Reaksi ini demikian eksotermiknya, sehingga gas H2 yang terbentuk segera terbakar dan
menyala disertai dengan ledakan. Hidroksida (MOH) yang ada dapat dideteksi dengan suatu
indikator seperti fenoltalien (pp).

Golongan IIA
Unsur-unsur yang termasuk dalam golongan IIA (alkali tanah) adalah Be, Mg, Ca, Sr, Ba, dan
Ra. Unsur-unsur ini mempunyai susunan elektron terluar ns2 dan sama halnya dengan golongan
IA bersifat reduktor karena mudah melepaskan dua elektron pada kulit terluarnya. Jika
dibandingkan dengan unsur golongan IA, unsur golongan IIA sifat reduktornya lebih lemah.
Reaktifitasnya bertambah dari atas ke bawah dan hal ini juga dapat dilihat pada reaksinya
dengan air membentuk suatu basa dan gas hidrogen.
M + 2H2O M(OH)2 + H2
Logam-logam alkali tanah dapat bereaksi dengan air dingin, Mg sedikit bereaksi dengan air
panas, sedangkan berelium (paling atas dalam golongan IIA) tetap tidak bereaksi dengan air
mendidih. Hidroksida-hidroksidanya hanya sedikit larut dalam air dan kelarutannya bertambah
dari atas ke bawah. Sebaliknya kelarutan garam sulfatnya makin ke bawah makin kecil, mulai
dari berelium sulfat mudah larut sampai dengan radium sulfat yang tidak larut dalam air.

6.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Rak tabung reaksi e. Penjepit tabung reaksi
b. Gelas kimia 100 mL f. Tabung reaksi
c. Bunsen g. Pipet volume
d. Pipet tetes

Bahan
a. Logam Kalium e. Larutan CaCl2 0,5 M
b. Pita Mg f. Larutan SrCl2 0,5 M
c. Indikator PP g. Larutan BaCl2 0,5 M
d. Larutan MgCl2 0,5 M h. Larutan H2SO4 0,5 M
19
i. Larutan NaOH 0,5 M k. Aquadest
j. Kertas saring

6.4 Prosedur Percobaan


a. Reaktifitas Unsur
a.1. Uji Kereaktifitasan Logam Kalium (Golongan IA)
1. Disiapkan gelas kimia yang berisi 100 mL aquadest.
2. Disiapkan kertas saring dan bentuk hingga menyerupai kerucut dan masukkan kertas
saring ke dalam gelas kimia yang telah diisi air sebelumnya hingga ujung kertas saring
menyentuh atau terendam di atas permukaan air.
3. Diambil logam kalium dengan menggunakan pinset (dilarang mengambil secara
langsung dengan menggunakan tangan). Dimasukkan logam kalium ke dalam gelas
kimia. Dibiarkan hingga terjadi ledakan kecil (jangan terlalu dekat). Diteteskan
indikator PP dan catat perubahan yang terjadi.

a.2. Uji Kereaktifitasan Logam Magnesium (Golongan IIA)


1. Disiapkan tabung reaksi yang berisi 2 mL air dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.
2. Dipotong kecil logam Mg dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Diamati reaksi
yang terjadi (ditandai dengan adanya gelembung-gelembung gas).
3. Dipanaskan tabung reaksi di atas nyala api bunsen. Dicatat perubahan yang terjadi.

b. Kelarutan Garam Sulfat


1. Disiapkan 4 tabung reaksi.
2. Diisi masing-masing tabung reaksi berturut-turut dengan MgCl2, CaCl2, SrCl2 dan
BaCl2 dengan volume masing-masing 1 mL.
3. Ditambahkan 1 mL larutan H2SO4 0,5 M ke dalam masing-masing tabung reaksi.
4. Diperhatikan dan catat perubahan yang terjadi, kemudian bandingkan perubahan yang
terjadi pada tiap-tiap tabung reaksi.

c. Kelarutan Garam Hidroksida


1. Disiapkan 4 tabung reaksi.
2. Diisi masing-masing tabung reaksi berturut-turut dengan MgCl2, CaCl2, SrCl2 dan
BaCl2 dengan volume masing-masing 1 mL.
3. Ditambahkan 1 mL larutan NaOH 0,5 M ke dalam masing-masing tabung reaksi.
20
4. Diperhatikan dan catat perubahan yang terjadi, kemudian bandingkan perubahan yang
terjadi pada tiap-tiap tabung reaksi.

6.5 Data Pengamatan


1. Reaktifitas Unsur
+ Aquadest &
Unsur Dipanaskan Pengamatan
Indikator PP

K - -

Mg

2. Kelarutan Garam Sulfat


Larutan + H2SO4 Pengamatan
MgCl2
CaCl2
SrCl2
BaCl2

3. Kelarutan Garam Hidroksida


Larutan + NaOH Pengamatan
MgCl2
CaCl2
SrCl2
BaCl2

21
Reaksi
1. Reaktifitas Unsur
K + H2O
Mg + H2O

2. Kelarutan Garam Sulfat


MgCl2 + H2SO4
CaCl2 + H2SO4
SrCl2 + H2SO4
BaCl2 + H2SO4

3. Kelarutan Garam Hidroksida


MgCl2 + NaOH
CaCl2 + NaOH
SrCl2 + NaOH
BaCl2 + NaOH

22
PERCOBAAN VII
REAKSI OKSIDASI DAN REDUKSI

7.1 Tujuan Percobaan


Untuk mengetahui pengertian reaksi reduksi dan oksidasi serta reduktor dan oksidator.

7.2 Dasar Teori


Reaksi setengah sel yang melibatkan hilangnya elektron disebut reaksi oksidasi. Istilah
Oksidasi pada awalnya berarti kombinasi unsur dengan oksigen. Namun, istilah itu sekarang
memiliki arti yang lebih luas. Reaksi setengah sel yang melibatkan penangkapan elektron
disebut reaksi reduksi. Dalam contoh diatas, kalsium bertindak sebagai zat pereduksi karena
memberikan elektron pada oksigen dan menyebabkan oksigen tereduksi. Oksigen tereduksi
bertindak sebagai zat pengoksida karena menerima elektron dari kalsium dan menyebabkan
kalsium teroksidasi. Dalam persamaan reaksi redoks tingkat oksidasi harus sama dengan tingkat
reduksi yaitu jumlah elektron yang hilang oleh zat pereduksi harus sama dengan jumlah
elektron yang diterima oleh suatu zat pengoksida.

Reduksi, sebaliknya adalah suatu proses yang melibatkan diperolehnya satu elektron atau lebih
dari suatu zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah
menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi zat pereduksi merupakan zat yang kehilangan
elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi. Definisi reduksi juga sangat umum dan berlaku
juga untuk prosess dalam zat padat, lelehan, maupun gas.

7.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Pipet tetes f. Pipet volume 10 mL
b. Buret 50 mL g. termometer
c. Erlenmeyer 250 mL h. tabung reaksi
d. Labu ukur 25 mL i. Hot plate
e. Gelas kimia 100 mL j. Statif dan klem

23
Bahan
a. Vitamin C d. I2
b. KMnO4 0,1 N e. H2SO4 0,1 M
c. H2C2O4 0,1 M f. Aquadest

7.4 Prosedur Percobaan


a. Kualitatif
1. Diambil 1 mL vitamin C di dalam tabung reaksi. Ditambahkan 5 tetes KMnO4 0,1 N.
Diamati perubahan yang terjadi.
2. Diambil 1 mL vitamin C di dalam tabung reaksi. Ditambahkan 5 tetes I2. Diamati
perubahan yang terjadi.
3. Diambil 5 mL H2C2O4 ke dalam gelas kimia. Ditambahkan 2 mL KMnO4 0,1 N.
Dipanaskan hingga suhu 70oC. diamati perubahan yang terjadi.

b. Kuantitatif
1. Dituang larutan KMnO4 0,1 N sebanyak 50 mL ke dalam buret.
2. Diambil 10 mL H2C2O4 dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
3. Ditambahkan 3 mL H2SO4.
4. Dipanaskan pada suhu 70oC.
5. Dititrasi dengan KMnO4 0,1 N hingga terjadi perubahan warna.
6. Diamati perubahan yang terjadi. Dilakukan triplo pada titrasi.
7. Dicatat volume KMnO4 yang digunakan.

24
7.5 Data Pengamatan
1. Kualitatif
Perlakuan Pengamatan

2. Kuantitatif
Perlakuan Pengamatan

25
PERCOBAAN VIII
ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

8.1 Tujuan Percobaan


Untuk menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan cara mengukur volume yang diperlukan
untuk bereaksi dengan larutan CH3COOH dengan volume dan konsentrasi tertentu..

8.2 Dasar Teori


Titrasi merupakan suatu proses analisis dimana suatu volum larutan standar ditambahkan ke
dalam larutan dengan tujuan mengetahui komponen yang tidak diketahui. Larutan standar
adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui secara pasti. Salah satu cara dalam
penentuan kadar larutan asam basa adalah dengan melalui proses titrasi asidi-alkalimetri. Cara
ini cukup menguntungkan karena pelaksanaannya mudah dan cepat, ketelitian dan ketepatannya
juga cukup tinggi. Titrasi asidi-alkalimetri dibagi menjadi dua bagian yaitu asidimetri dan
alkalimetri. Asidimetri adalah titrasi dengan menggunakan larutan standar asam untuk
menentukan basa. Asam-asam yang biasanya dipergunakan adalah HCl, asam cuka, asam
oksalat, asam borat. Sedangkan alkalimetri merupakan kebalikan dari asidimetri yaitu titrasi
yang menggunakan larutan standar basa untuk menentukan asam.

Asidi-alkalimetri berfungsi untuk menentukan kadar asam-basa dalam suatu larutan secara
analisa volumetri. Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion
hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk
menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara
donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).

8.3 Alat dan Bahan


Alat
a. Pipet tetes e. Bulb
b. Buret 50 mL f. Erlenmeyer 250 mL
c. Statif dan klem g. Gelas Ukur 25 mL
d. Pipet volume 10 mL

26
Bahan
a. Larutan CH3COOH 0,1 N c. Larutan asam oksalat 0,1 N
b. Larutan NaOH 0,1 N d. Indikator PP

8.4 Prosedur Percobaan


a. Asidimetri
1. Dituang asam oksalat 0,1 N sebanyak 50 mL ke dalam buret.
2. Dengan menggunakan pipet ukur, dimasukkan 10 mL larutan NaOH ke dalam
erlenmeyer dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.
3. Dilakukan titrasi. Dihentikan titrasi pada saat timbulnya warna merah muda yang tidak
menghilang jika erlenmeyer diguncangkan. Dicatat volume asam oksalat pada
pembacaan buret.
4. Diulangi titrasi hingga 3 kali. Dihitung konsentrasi larutan NaOH dari hasil titrasi rata-
rata.

b. Alkalimetri
1. Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi sebanyak 50 mL ke dalam buret.
2. Dengan menggunakan pipet ukur, dimasukkan 10 mL larutan CH3COOH ke dalam
erlenmeyer dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.
3. Dilakukan titrasi. Dihentikan titrasi pada saat timbulnya warna merah muda yang tidak
menghilang jika erlenmeyer diguncangkan. Dicatat volume asam oksalat pada
pembacaan buret.
4. Diulangi titrasi hingga 3 kali. Dihitung konsentrasi larutan CH3COOH dari hasil titrasi
rata-rata.

27
8.5 Data Pengamatan
1. Asidimetri
Perlakuan Pengamatan

2. Alkalimetri
Perlakuan Pengamatan

28