Anda di halaman 1dari 11

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK)

PENYUSUNAN DOKUMEN INDIKATOR


DAERAH RAWAN PANGAN
KABUPATEN KONAWE

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA)


KABUPATEN KONAWE
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
2014
1. Judul Pekerjaan : Penyusunan Dokumen Indikator Daerah Rawan Pangan
Kabupaten Konawe

2. Latar Belakang

Kerawanan pangan merupakan isu multi-dimensional yang memerlukan analisis dari


berbagai parameter tidak hanya produksi dan ketersediaan pangan saja. Kompleksitas
ketahanan pangan dapat disederhanakan dengan menitikberatkan pada tiga dimensi
yang berbeda namun saling berkaitan yaitu ketersediaan pangan, akses pangan oleh
rumah tangga dan pemanfaatan pangan oleh individu.

Kabupaten Konawe terdiri atas 30 kecamatan dan jumlah Jumlah penduduk sampai
tahun 2012 sebanyak 250.491 jiwa, yang tersebar pada 356 desa dan 59 kelurahan.
Jumlah penduduk cenderung meningkat setiap tahunnya sebagaiaman dapat dilihat
pada laju pertumbuhan penduduk tahun 2000 sampai 2010 sebesar 1,97% pertahun.
Meningkatnya jumlah penduduk akan berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan
konsumsi penduduk terhadap pangan, lahan, perumahan, dan lain sebagainya.

Adanya peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan konsumsi dan disatu sisi
ketersediaan lahan tetap atau semakin terbatas untuk pemenuhan pangan penduduk,
maka bagian konsumsi penduduk harus dipenuhi dari luar dan hal ini akan
menyebabkan ketergantungan yang besar terhadap dari lain. Semakin besar
ketergantungan pangan penduduk dari daerah lain, dapat menyebabkan timbulnya
persoalan rawan pangan bagi penduduk di Kabupaten Konawe.

Berdasarkan peta ketahanan dan kerentanan pangan Indonesia tahun 2009,


Kabupaten Konawe termasuk dalam skala prioritas 5 tingkat kerwanan pangannya.
Ketersediaan pangan atas dasar rasio konsumsi normatif perkapita terhadap produksi
pangan yaitu kurang dari 0,5 (surplus tinggi pada produksi serelia dan umbi-umbian).
Akses pangan penduduk relatif terbatas yang dapat diukur dari jumlah penduduk
miskin sekitar 20 25% dari total penduduk, sekitar 10% desa memliki jalan yang
belum bisa dilalaui kendaraan roda 4, sekitar 20-30% rumahtangga belum terlayani
oleh listrik. Dalam hal pemanfaatan pangan, diketahui bahwa 30-40% rumahtangga
tidak dapat mengakses air bersih, perempuan buta huruf 10-20% penduduk
perempuan, Berat Badan Anak ( < 5 tahun) dibawah standar yaitu 20-30% dari anak
usia Balita kategori buruk. Angka harapan hidup antara 64-67 tahun,

1. Indikator ketersediaan pangan, terdiri atas: produksi rata-rata tanaman serelia


(Padi, Jagung, Ubi Kayu & Ubi Jalar), produksi bersih serealia perkapita perhari,
rasio konsumsi normatif terhadap produksi persih perkapita.

2. Indikator-Indikator Akses terhadap Pangan: Penduduk Dibawah Garis Kemiskinan,


rumah tangga tanpa akses ke listrik, desa tanpa akses ke jalan.

3. Indikator-Indikator Akses terhadap Kesehatan dan Gizi: perempuan buta huruf,


angka harapan hidup, berat badan balita dibawah standar, tinggi badan balita
dibawah standar, rumah tangga dengan jarak 5 km dari fasilitas kesehatan,
rumahtangga tanpa akses ke air bersih.

Salah satu bidang ilmu statistik yang disebut analisa multivariat atau analisa faktor
menyediakan beberapa teknik untuk analisa data multi dimensi yang dapat melihat
hubungan antara macam-macam indikator ketahanan pangan. Principal Component
Analysis (PCA-Analisis Komponen Utama) adalah sebuah teknik analisa multivariat
yang dapat diterapkan pada variabel kontinu. Tujuan PCA adalah untuk melihat dan
menggambarkan hubungan mendasar antar variabel dengan cara membuat indikator
baru (disebut faktor atau komponen utama) yang menggambarkan hubungan
asosiasi antar variabel. PCA dapat diterapkan pada indikator-indikator ketahanan
pangan (mencakup ketersediaan pangan, akses dan pemanfaatan pangan).

Kebutuhan pangan semakin meningkat dari waktu ke waktu sebagai akibat jumlah
penduduk yang semakin bertambah sehingga diperlukan usaha untuk meningkatkan
produksi pangan baik kuantitas maupun kualitas, serta perlunya pemantapan
cadangan pangan khususnya pangan pokok.
Ketersediaan pangan yang stabil pada suatu daerah merupakan faktor yang sangat
menunjang pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat sehingga diperlukan suatu
usaha untuk mengetahui situasi pangan/bahan pangan di wilayah tersebut.

Pengelolaan cadangan pangan yang selama ini ditangani pemerintah melalui Badan
Urusan Logistik (Perum Bulog) masih sangat terbatas sehingga tidak dapat dijadikan
tumpuan harapan untuk menjamin ketersediaan pangan sehingga diperlukan
kemandirian masyarakat untuk mengatur dan mengelola cadangan pangannya untuk
memenuhi kebutuhan setiap waktu.

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang
tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,
merata dan terjangkau. Dalam perkembangannya, terjadi perubahan paradigma
pengertian ketahanan pangan yang lebih luas sebagaimana ditegaskan dalam
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan yang menuntut perubahan,
peningkatan, penyempurnaan, dan pengembangan seluruh aspek dalam koridor
ketahanan pangan. Perubahan tersebut antara lain juga menuntut semakin tingginya
upaya yang harus dilakukan untuk mengkoordinasikan, mengapresiasi, serta
merepresentasikan aspirasi dan partisipasi masyarakat. Dalam rangka menggerakkan
serta membangun partisipasi dan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam
mewujudkan ketahanan pangan wilayah.

Luas wilayah Kabupaten Konawe 6.666,52 Km2 dengan jumlah penduduk 250.491
jiwa dan rumah tangga sebanyak 56.545 RT. Dari lahan tersebut penggunaan untuk
lahan pertanian pangan seperti persawahan hanya sekitar 6%, tegalan 4%, dan ladang
3%. Kondisi ini tentunya belum ideal didalam meningkatkan produksi pangan serta
ketersediaan pangan bagi penduduk. Hal ini dapat dilihat dengan kemampuan
menyediaan beras secara lokal pada tahun 2012 sebanyak 10.305 ton (Konawe Dalam
Angka, 2013)

Dilihat dari sisi produktivitas tanaman pangan, tanaman padi sawah sekitar 4,29 ton/ha
dan padi ladang 2,9 ton/ha, masih lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas
secara nasional, demikian pula produktivitas tanaman jagung 2,63 ton/ha, ubi kayu
18,36 ton/ha dan ubi jalar 8,03 ton/ha. Dari data-data tersebut bahwa potensi
ketersediaan pangan cukup tersedia, namun tidak terlepas dari potensi terjadinya
kerentanan terhadap kerwanan pangan, baik yang bersifat kerawanan pangan
sementara (tansient) maupun kerawanan pangan kronis.
Dilihat dari indikator dari akses penduduk terhadap pangan seperti: jumlah penduduk
yang hidup dibawah garis kemiskinan sebanyak 14,65%; sekitar 13% rumah tangga
yang tidak terlayani listrik; dan sekitar 27% rumah tangga belum terlayani oleh air
bersih. Sementara dilihat dari indikator pemanfaatan pangan, antara lain terdapat bayi
dengan berat badan kurang dari standar dan kekurangan gizi dibeberapa kecamatan;
angka harapan hidup rata-rata 67,55 tahun; dan pengeluaran perkapita penduduk
sebesar Rp 612.010/bulan.

Angka Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Konawe tahun 2012 sebesar


70,42 dan berada diperingkat keempat setelah Kota Kendari, Kota Bau-Bau, dan
Kolaka.

Adanya variabel yang bisa mempengaruhi terjadinya kerawanan pangan di Kabupaten


Konawe, baik dilihat dari indikator ketersediaan pangan, akses terhadap pangan
maupun pemanfaatan pangan, maka perlu dilakukan evaluasi penyusunan Indikator
Kerawanan Pangan di Kabupaten Konawe, sebagai dasar dalam menentukan tingkat
kerawanan pangan dan sekaligus sebagai dasar dalam menentukan upaya dan
kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah kerawanan pangan guna
menucptakan ketahanan pangan secara mandiri oleh pemerintah kabupaten Konawe.

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian,
perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah
maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan
bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau
pembuatan makanan atau minuman (UU No. 18 tahun 2012).

Sebagaimana FIA 2005, FSVA dibuat berdasarkan tiga pilar ketahanan pangan: (i)
ketersediaan pangan; (ii) akses terhadap pangan; dan (iii) pemanfaatan pangan.

Kerawanan pangan dapat bersifat kronis atau sementara/transien. Kerawanan pangan


kronis adalah ketidakmampuan jangka panjang atau yang terus menerus untuk
memenuhi kebutuhan pangan minimum. Keadaan ini biasanya terkait dengan faktor
strukural, yang tidak dapat berubah dengan cepat, seperti iklim setempat, jenis tanah,
sistem pemerintah daerah, kepemilikan lahan, hubungan antar etnis, tingkat
pendidikan, dll.

Kerawanan Pangan Sementara (Transitory food insecurity) adalah ketidakmampuan


jangka pendek atau sementara untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum.
Keadaan ini biasanya terkait dengan faktor dinamis yang berubah dengan cepat
seperti penyakit infeksi, bencana alam, pengungsian, berubahnya fungsi pasar, tingkat
besarnya hutang, perpindahan penduduk (migrasi) dll. Kerawanan pangan sementara
yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan menurunnya kualitas
penghidupan rumah tangga, menurunnya daya tahan, dan bahkan bisa berubah
menjadi kerawanan pangan kronis.

Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Kronis Berdasarkan Indeks Ketahanan


Pangan Komposit dapat di tentukan berdasarkan 9 indikator yang berhubungan
dengan ketersediaan pangan, akses pangan dan penghidupan, serta pemanfaatan
pangan dan gizi.

Berbsarakan

Luas wilayah Kabupaten Buton Utara adalah 1.923,03 km2 atau sekitar 192.303 hektar,
dimana Kecamatan Bonegunu merupakan wilayah terluas yakni sekitar 22,56 % dari
total luas Kabupaten Buton Utara. Potensi yang dimiliki Kabupaten Buton Utara cukup
besar, dimana hingga saat ini jumlah penduduk di wilayah ini adalah 48.184 jiwa yang
terdiri dari 24.000 jiwa perempuan dan 24.184 jiwa laki-laki dengan jumlah kepala
keluarga (KK) sebesar 11.988 KK. Tingkat kepadatan penduduk masih sangat rendah
dengan kepadatan 25 jiwa per km2 (BPS Kabupaten Muna, 2008). Jumlah penduduk
yang cukup besar tersebut akan sangat berperan dalam pelaksanaan pembangunan
daerah karena penduduk merupakan salah satu modal dasar pembangunan daerah.

Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu wilayah yang mengandalkan sektor
pertanian dalam arti luas dalam menopang perekonomian wilayah. Sebagai wilayah
yang mempunyai potensi pertanian yang cukup besar, maka seyogyanya tumbuh dan
berkembang dengan pesat.
Potensi wilayah di sektor pertanian yang cukup besar seyogyanya dapat memenuhi
kebutuhan pangan yang cukup bagi masyarakat di wilayah ini dan kalau
memungkinkan dapat dipasarkan ke wilayah lain di luar Kabupaten Buton Utara.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kerawanan pangan antara lain


adalah kondisi lingkungan (tanah dan iklim) yang ekstrim, teknologi produksi yang tidak
dapat diterapkan, sarana produksi pertanian yang tidak tersedia secara memadai,
minimnya modal usaha dibidang pertanian, bencana alam, stabilitas sosial politik, dan
kebijakan pemerintah yang tidak berorientasi pada pengembangan sektor pertanian
dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Infrastruktur pendukung seperti jalan, pasar,
pelabuhan, terminal dan lain-lain dapat pula menyebabkan terjadinya kerawanan
pangan akibat pemasaran hasil yang tidak optimal.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas maka perlu dilakukan studi tentang


penetapan indikator dan pemetaan daerah rawan pangan yang dapat dijadikan acuan
dalam merumuskan langkah-langkah antisipatif penanggulangan masalah rawan
pangan.

3. Tujuan
a) Menyusun indikator-indikator daerah rawan pangan di Kabupaten Buton Utara
yang meliputi indikator biofisik wilayah, indikator sosial ekonomi, kebijakan dan
infrastruktur pendukung.
b) Memetakan daerah-daerah rawan pangan berdasarkan indikator yang telah
disusun.
c) Menyusun strategi penanggulangan masalah rawan pangan Kabupaten Buton
Utara.

4. Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini adalah adanya indikator dan peta daerah rawan pangan
Kabupaten Buton Utara.

5. Output
Output dari kegiatan ini adalah:
a) Indikator rawan daerah pangan Kabupaten Buton Utara
b) Peta penyebaran daerah rawan pangan Kabupaten Buton Utara.
c) Rencana strategi penanggulangan masalah rawan pangan di Kabupaten Buton
Utara.
6. Lokasi
Kegiatan ini akan dilaksanakan di seluruh wilayah Kabupaten Buton Utara yang
meliputi enam kecamatan yakni Kecamatan Kulisusu, Kulisusu Utara, Kulisusu Barat,
Bonegunu, Kambowa dan Wakarumba Utara.

7. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan penyusunan indikator dan pemetaan daerah rawan pangan
Kabupaten Buton Utara adalah sebagai berikut:
a) Kajian dan analisis indikator daerah rawan pangan Kabupaten Buton Utara.
b) Kajian dan pemetaan penyebaran daerah rawan pangan Kabupaten Buton
Utara.
c) Kajian strategi penanggulangan masalah rawan pangan Kabupaten Buton Utara.

8. Metode Pelaksanaan Kegiatan


Kegiatan penyusunan indikator dan pemetaan daerah rawan pangan Kabupaten Buton
Utara mencakup persiapan, review pustaka dan hasil-hasil penelitian yang relevan,
mobilisasi tenaga ahli, survei pendahuluan, penyusunan laporan pendahuluan,
pengumpulan data sekunder dan data primer, pengolahan dan analisis data,
penyusunan draft laporan akhir, seminar dan penyusunan laporan akhir.
a) Persiapan : kegiatan ini meliputi persiapan administrasi dan surat-menyurat,
perizinan, persiapan bahan dan peralatan.
b) Review pustaka: kegiatan ini dilakukan oleh tim ahli guna mendapatkan
referensi awal berkaitan dengan penyusunan indikator dan pemetaan daerah
rawan pangan Kabupaten Buton Utara.
c) Mobilisasi tenaga ahli: kegiatan ini diawali dengan rekruitmen tenaga ahli yang
diperlukan, selanjutnya tenaga ahli akan melakukan overview lapangan guna
mendapatkan pemahaman awal tentang lokasi kegiatan.
d) Survei pendahuluan: kegiatan ini dilakukan oleh tenaga ahli guna mendapatkan
gambaran kondisi umum lokasi kegiatan. Selanjutnya gambaran lokasi ini akan
menjadi acuan dalam menyusun rencana kerja detail.
e) Penyusunan laporan pendahuluan: dilakukan oleh tim ahli berkonsultasi
dengan Bappeda Kabupaten Buton Utara. Laporan memuat tanggapan tim ahli
terhadap KAK, metodologi pelaksanaan pekerjaan dan rencana kerja detail.
f) Pengumpulan data: dilakukan oleh tenaga ahli dibantu oleh asisten tenaga ahli
dengan tujuan untuk mengumpulkan data baik data sekunder maupun data
primer. Pengumpulan data primer dilakukan memalui observasi lapangan dan
wawancara dengan responden. Sedangkan pengumpulan data sekunder
dilakukan melalui kunjungan ke instansi terkait.
g) Pengolahan dan analisis data: dilakukan oleh tenaga ahli dengan tujuan
mengolah data baik data sekunder maupun data primer termasuk membuat
peta penyebaran daerah rawan pangan Kabupaten Buton Utara.
h) Penyusunan draf laporan akhir: dilakukan oleh tenaga ahli setelah tahap
pengolahan dan analisis data selesai dilaksanakan.
i) Seminar hasil: dilakukan oleh tenaga ahli bekerjasama dengan Bappeda
Kabupaten Buton Utara. Tujuannya adalah untuk mendapatkan masukan dari
pihak-pihak terkait.
j) Penyusunan laporan akhir: dilakukan oleh tenaga ahli setelah mendapatkan
masukan dari pihak-pihak terkait.

9. Jadwal Kegiatan

10. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 4 (Empat) bulan yaitu bulan Juli s/d Oktober,
dengan waktu pelaksanaan sebagai berikut :

11. Tabel Jadwal Kegiatan


Juli Agustus September Oktober
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Persiapan (Administrasi
& Tim)
2 Survey dan
Pengumpulan Data
(Primer dan Sekunder)
3 Analisis Data
4 Penyusunan Data Base
dan Pemetaan
5 Pelaporan :
a. Laporan Pendahuluan
b. Laporan Antara
b. Laporan Akhir
6 Seminar
a. Laporan Pendahuluan
b. Laporan Antara
(Konsultasi Publik)
c. Laporan Akhir

10. Sumber Dana dan Pagu Anggaran


Biaya untuk kegiatan ini berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) Kabupaten Buton Utara Tahun Anggaran 2011. Jumlah biaya yang
dialokasikan untuk kegiatan tersebut adalah Rp. 192.900.000 (seratus sembilan puluh
dua juta sembilan ratus ribu rupiah).

11. Kebutuhan Tenaga Ahli


Tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu 5 (lima) orang,
pendidikan minimal S2 (strata 2) dengan pengalaman dibidangnya masing-masing
minimal 5 (lima) tahun. Bidang keahlian dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) Ahli Agronomi/Pertanian
(2) Ahli Sosial Ekonomi
(3) Ahli Klimatologi
(4) Ahli Tanah
(5) Ahli Perencanaan Wilayah

12. Penyajian Hasil Pekerjaan

a) Pelaporan:

1) Laporan Pendahuluan, berisi antara lain: Latar belakang, tujuan dan sasaran,
ruang lingkup kegiatan, output, pemahaman terhadap pekerjaan, gambaran
umum, metodologi pelaksanaan pekerjaan; rencana kerja, susunan tenaga ahli
dan tenaga penunjang serta pendayagunaannya, tahapan pelaksanaan kegiatan
tata waktu kegiatan; dan tools/instrument/alat bantu yang digunakan untuk
pengumpulan data dan informasi. Laporan ini dibuat sebanyak 10 (sepuluh)
eksemplar dan dipresentasikan kepada pihak pemrakarsa.
2) Laporan Antara : berisi antara lain : penyempurnaan laporan pendahuluan dan
analisa indikator rawan pangan
3) Laporan Akhir, berisi antara lain: penyempurnaan dari laporan pendahuluan,
ditambah dengan hasil analisis indikator rawan pangan serta kesimpulan dan
rekomendasi. Laporan Akhir dibuat sebanyak:

1. 15 (lima belas) Eksemplar Laporan,

2. 5 (lima) CD softcopy Laporan


4) Laporan Harian berisi antara lain : tentang catatan kemajuan fisik pekerjaan,
penggunaan bahan, kegiatan yang dilaksanakan, dan penyerapan dana yang
dilakukan oleh pelaksana pekerjaan swakelola.
5) Laporan Mingguan, berisi antara lain : rekapitulasi dan evaluasi dari pekerjaan
yang bersumber dari laporan harian yang disesuaikan dengan penyerapan dana
oleh pelaksana swakelola.
6) Laporan Bulanan, berisi antara lain : rekapitulasi dan evaluasi dari laporan
mingguan dan evaluasi tentang kemajuan non fisik atau perangkat lunak dari
kegiatan swakelola.

13. Pagu Anggaran dan Sumber Dana

a) Pagu Anggaran
Pagu anggaran kegiatan ini sebesar Rp. 142.800.000,- (Seratus empat puluh dua
juta delapan ratus rupiah)

b) Sumber Dana
Biaya untuk kegiatan ini berasal dari APBD Kabupaten Buton Utara Tahun
Anggaran 2011.

Demikian KAK ini disusun untuk menjadi acuan dalam rangka pelaksanaan kegiatan
Penyusunan indikator Rawan Pangan di Kabupaten Buton Utara.

Buranga, Juni 2011


Mengetahui : Pejabat Pembuat Komitmen,
Kepala Bappeda dan Penanaman Modal,

Drs. SYARIFUDDIN MADI Ir. HASRUDDIN


NIP. 130679938 NIP.