Anda di halaman 1dari 38

4

Evaluasi Penggunaan Obat Pada Penyakit Tubercolosis di


Rumah Sakit Anutapura Pada Tahun 2017

Proposal

RISKY MAULINA TOME

G 701 14 234

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

AGUSTUS 2017

3
4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit yang menjadi
masalah di tingkat dunia termasuk Indonesia. Dalam laporan Word Health
Organization (WHO) tahun 2012 diperkirakan 8,7 juta orang terjangkit TB
paru dan 1,4 juta orang meninggal. Dilaporkan terdapat 6.216.513 TB paru
kasus baru, dan 2.621.308 merupakan BTA positif. Kasus terbanyak TB
paru antara umur 15-44 tahun, didapatkan 734.908 kasus (WHO, 2012).
Menurut laporan WHO tahun 2012 Indonesia berada di peringkat keempat
dunia setelah India, China, dan Afrika Selatan. Indonesia terdapat 321.308
TB paru kasus baru dengan 197.797 BTA positif. Melihat tingginya angka
kematian karena TB paru maka WHO menepakan strategi yaitu Milenium
Development Goal (MDG). Dampak dari penerapan MDG Angka
kematian turun sampai 41% sejak tahun 1990 (WHO, 2012).
Indonesia sebagai salah satu penyumbang kasus TB paru terbanyak
juga menerapkan strategi penanggulangan TB paru. Salah satu indikator
yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate
(CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan
dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang
diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Pencapaian CDR di Jawa
Tengah tahun 2008 sampai dengan 2012 masih dibawah target yang
ditetapkan sebesar 100%. Capaian CDR tahun 2012 sebesar 58,45%
lebih rendah dibanding tahun 2011 (59,52%) dan kota Surakarta pada
tahun 2012 sebesar 128,17%. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
2012).
Banyaknya konsumen yang berada di indonesia membuat rokok
menjadi barang yang lumrah dan biasa untuk diperjualbelikan baik di desa
maupun kota. Sekarang ini kalangan perokok tidak memandang usia
maupun jenis kelamin

3
4

Baik anak yang masih sekolah sampai orang lanjut usia dari laki-
laki sampai perempuan dengan bebas mengkonsumsi barang itu, padahal
disebagian besar produsen rokok besar telah membuat iklan dan bahakan
di depan pembungkus rokok tersebut telah terdapat bagaimana bahayanya
jika kita mengkonsumsi rokok secara terus menerus. Tapi hal itu tidak
membuat para konsumen perokok jerah malah lebih bertambah jumlah
penggunaanya dari yang hanya 1 hari sebungkus sekarang malah sehari
saja bisa dua bungkus.
Umumnya para konsumen yang mengkonsumsi rokok dalam
suasana hati yang kurang senang seperti: stress,banyak pikiran dan lain
sebagainya. Hal inilah yang menjadi pemicu masyarakat senang
mengkonsumsi rokok . Dengan adanya kandungan sedatif yang
termasuk dalam kelompok golongan narkotika yang memiliki khasiat
sebagai penenang dan dapat membuat penggunanya merasa senang dan
merasa suasana hatinya selalu bahagia untuk sesaat.
Tingginya angka kematian karena TB paru terdapat hubungan
dengan merokok. Data WHO dalam laporan mortality attributable to
tobacco tahun 2012 secara global 5% didapatkan kematian akibat penyakit
menular dan 14% penyakit tidak menular dikaitkan dengan penggunaan
tembakau termasuk merokok. Diperkirakan 70% kematian pada penyakit
menular karena tuberkulosis paru ada hubunganya dengan penggunaan
tembakau (WHO, 2012). AfrikaSelatan terdapat 50% kematian akibat TB
paru telah dikaitkan dengan merokok. Sementara hubungan antara
merokok dan TB paru dalam berbagai studi masih kurang jelas sampai
sejauh mana merokok meningkatkan resiko infeksi Mycobacterium
tuberculosis, resiko perkembangan dari infeksi penyakit, dan resiko
kematian di antara pasien tuberkulosis (Boon S.D et al, 2005). Dalam studi
pada lebih dari 1,3 juta warga Korea Selatan, perokok laki- laki saat ini
memiliki 40% peningkatan resiko terjangkit tuberkulosis paru
dibandingkan dengan bukan perokok dan 55% lebih mungkin untuk
meninggal karena TB paru. Mantan perokok, baik pria maupun wanita

3
4

juga mengalami peningkatan resiko kematian dan kejadian terjangkit TB


paru. Perokok juga memiliki resiko yang lebih besar terhadap terjadinya
kekambuhan ( Jee S. H et al, 2009).
Roya Alavi dan kawan-kawan melakukan penelitian pada tahun
2012 di Iran dengan hasil, dari 253 pasien Tb paru terdapat 104 pasien
yang merupakan perokok. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa
merokok meningkatkan resiko 3,1 kali terinfeksi TB paru (Roya A.N et al,
2012).
Penelitian Barber dan kawan-kawan pada tahun 2008 menyebutkan
prevalensi perokok di Indonesia adalah 34%. Data Departemen kesehatan
tahun 2011 menyebutkan bahwa di Indonesia terdapat 67,4% laki-laki dan
4,5% perempuan perokok dari populasi (61.4 juta) (DEPKES,2011).
Terlepas dari kenyataan bahwa merokok adalah masalah kesehatan utama
di Indonesia, rokok adalah penyebab dari 57.000.000 kematian (Barber et
al, 2008).
Dengan demikian, sesuai data-data yang telah diuraikan tersebut
menjadikan latarbelakang dan dasar untuk melakukan penelitian tentang
Evaluasi Penggunaan Obat Pada Penyakit Tubercolosis di Rumah Sakit
Anugtapura Pada Tahun 2017.

B. Rumusan Masalah

Apakah penggunan obat untuk penderita Tubercolosis yang berada di


Rumah Sakit Anatapura telah sesuai dengan prosedur yang baik dan benar

C. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur


pengobatan pada penderita tubercolosis bagi konsumen perokok

D. Tujuan Penelitian

3
4

Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis data penggunaan obat


pada penderita Tuberculosis yang berada di Rumah Sakit Anatapura

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian penggunaan obat pada penderita


Tuberculosis yaitu :

1. Dari hasil data tersebut kita dapat mengetahui apakah obat dan dosis
yang diberikan pada penderita Tuberculosis telah tepat dan benar sesuai
dengan prosedur yang ada
2. Presantse perokok lebih rentan terkena penyakit Tuberculosis
dibandingkan bukan perokok

3
4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007). Tuberkulosis paru
mencakup 80% dari keseluruhan kejaadian penyakit tuberkulosis,
sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmoner
(Djojodibroto D.R, 2007).
1. Klasifikasi
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis
kompleks ini biasanya mempengaruhi paru, meskipun organ lain yang
terlibat dalam sepertiga kasus. Bagian tubuh lain yang sering terkena
adalah TB kelenjar getah bening, pleura, saluran genitourinari, tulang dan
sendi, meninges, peritoneum, dan perikardium (Loscalzo J, 2010).
Berdasarkan letak anatomi tuberkulosis dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Tuberkulosis Paru adalah tuberkulosis yang mengenai parenkim paru.
Pleura tidak termasuk sedangkan TB milier di klasifikasikan sebagai
TB paru karena lesinya berada di dalam paru.
b. Tuberkulosis ekstraparu adalah tuberkulosis yang mengenai bagian
tubuh lain selain paru(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011).

Untuk menegakkan diagnosis perlu ditinjau dari gejala klinis


pemeriksaan dahak, dan foto toraks. Selain untuk diagnosis gejala klinis,
pemeriksaan dahak, dan foto toraks dapat untuk menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk
penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan tiga spesimen
dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa
Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)(DEPKES, 2007).

3
4

Berdasarkan pemeriksaan dahak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Tuberkulosis paru disebut BTA (+) apabila minimal satu dari


sekurang-kurangnya dua kali pemeriksaan dahak menunjukan hasil
positif. Dengan syarat laboratorium harus sesuai dengan Quality
external assurance (EQA). Dua kali pemeriksaan dahak baru bisa
dinyatakan sebagai BTA(+) apabila laboratorium belum sesuai
dengan EQA atau salah satu dari pemeriksaan dinyatakan positif
dan didukung dari hasil pemeriksaan foto toraks berdasarkan
gambaran TB paru yang sudah ditetapkan oleh klinisi. Satu hasil
pemeriksaan dahak positif ditambah dengan hasil kultur positif
maka bisa dinyatakan sebagai BTA (+).
b. Tuberkulosis paru BTA (-) apabila hasil dari pemeriksaan dahak
negatif tetapi hasil kultur positif. BTA (-) dinyataka jika hasil dari
pemeriksaan dahak dua kali negatif dan belum ada fasilitas
pemeriksaan kultur dengan syarat hasil foto toraks sesuai dengan
gambaran TB paru aktif dan mencantumkan hasil pemeriksaan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif atau jika status HIV
negatif, tidak diketahui, tidak menunjukkan perbaikan setelah
pemberian antibiotik sepektrum luas kecuali antibiotik yang
mempunyai efek anti TB seperti fluorokuinolon dan
aminoglikosida(PDPDI, 2011). Riwayat pengobatan penting
diketahui untuk melihat adanya resiko resistensi obat. Diperlukan
pemeriksaan kultur dan uji kepekaan terhadap Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) jika ada indikasi resistensi. Berdasarkan
riwayat pengobatan sebelumnya dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa jenis seperti :
- Kasus baru adalah pasien yang belum pernah mendapat
pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT
kurang dari satu bulan.

3
4

- Kasus kambuh (relaps) adalah pasien tuberkulosis yang


sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan
telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif atau biakan positif.
- Kasus defaulted atau drop out adalah pasien yang telah
menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak mengambil obat 2
bulan berturut- turut atau lebih sebelum masa pengobatannya
selesai.
- Kasus gagal adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif
atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan
sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
- Kasus kronik adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA
masih positif setelah selesai pengobatan ulang dengan
pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
- Kasus Bekas TB adalah dengan ditentukan dari hasil
pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif,
atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap
(PDPI,2011).
2. Patogenesis
Paru merupakan port dentre lebih dari 98% kasus infeksi TB.
Karena ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik
(droplet nuclei) yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman
TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik.
Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup
menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada sebagian
kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman
akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus
berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut.

3
4

Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer


GOHN.
Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe
menuju kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai
saluran limfe ke lokasi focus primer. Penyebaran ini menyebabkan
terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe
(limfadenitis) yang terkena. Jika focus primer terletak di lobus paru bawah
atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe
parahilus, sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru, yang akan
terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan
gabungan antara focus primer, kelenjar limfe regional yang membesar
(limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga
terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa
inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian masa inkubasi pada
proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman
hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB biasanya
berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai
jumlah 103-104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons
imunitas seluler. Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi
pertumbuhan logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya
belum tersensitisasi terhadap tuberculin, mengalami perkembangan
sensitivitas. Pada saat terbentuknya kompleks primer inilah, infeksi TB
primer dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya
hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu timbulnya respons positif
terhadap uji tuberculin. Selama masa inkubasi, uji tuberculin masih
negatif. Setelah kompleks primer terbentuk, imunitas seluluer tubuh
terhadap TB telah terbentuk. Pada sebagian besar individu dengan system
imun yang berfungsi baik, begitu system imun seluler berkembang,
proliferasi kuman TB terhenti. Namun, sejumlah kecil kuman TB dapat

3
4

tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas seluler telah terbentuk, kuman
TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru biasanya
mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi
setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe
regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi
penyembuhannya biasanya tidak sesempurna focus primer di jaringan
paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun
dalam kelenjar ini.
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Komplikasi
yang terjadi dapat disebabkan oleh focus paru atau di kelenjar limfe
regional. Fokus primer di paru dapat membesar dan menyebabkan
pneumonitis atau pleuritis fokal. Jika terjadi nekrosis perkijuan yang berat,
bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui bronkus sehingga
meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Kelenjar limfe hilus atau
paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi, akan
membesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat
terganggu. Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat
menyebabkan ateletaksis. Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis
perkijuan dapat merusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus,
sehingga menyebabkan TB endobronkial atau membentuk fistula. Massa
kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada bronkus sehingga
menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis, yang sering disebut
sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler,
dapat terjadi penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran
limfogen, kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk
kompleks primer. Sedangkan pada penyebaran hematogen, kuman TB
masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Adanya
penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai
penyakit sistemik.

3
4

Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam


bentuk penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread).
Melalui cara ini, kuman TB menyebar secara sporadic dan sedikit demi
sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian
akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. Organ yang biasanya
dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik, misalnya otak,
tulang, ginjal, dan paru sendiri, terutama apeks paru atau lobus atas paru.
Di berbagai lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan membentuk
koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi
pertumbuhannya.
Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi
pertumbuhannya oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk
dormant. Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit,
tetapi berpotensi untuk menjadi focus reaktivasi. Fokus potensial di apkes
paru disebut sebagai Fokus simon. Bertahun- tahun kemudian, bila daya
tahan tubuh pejamu menurun, focus TB ini dapat mengalami reaktivasi
dan menjadi penyakit TB di organ terkait, misalnya meningitis, TB tulang,
dan lain-lain.
Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran
hematogenik generalisata akut (acute generalized hematogenic spread).
Pada bentuk ini, sejumlah besar kuman TB masuk dan beredar dalam
darah menuju ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya
manifestasi klinis penyakit TB secara akut, yang disebut TB diseminata.
TB diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi infeksi.
Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB
yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran. Tuberkulosis
diseminata terjadi karena tidak adekuatnya system imun pejamu (host)
dalam mengatasi infeksi TB, misalnya pada balita.
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized
hematogenic spread dengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel
yang dihasilkan melalui cara ini akan mempunyai ukuran yang lebih

3
4

kurang sama. Istilih milier berasal dari gambaran lesi diseminata yang
menyerupai butur padi-padian/jewawut (millet seed). Secara patologi
anatomik, lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm, yang secara
histologi merupakan granuloma.
Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah
protracted hematogenic spread. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu
focus perkijuan menyebar ke saluran vascular di dekatnya, sehingga
sejumlah kuman TB akan masuk dan beredar di dalam darah. Secara
klinis, sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan dengan
acute generalized hematogenic spread. Hal ini dapat terjadi secara
berulang.
Pada anak, 5 tahun pertama setelah infeksi (terutama 1 tahun
pertama), biasanya sering terjadi komplikasi. Menurut Wallgren, ada 3
bentuk dasar TB paru pada anak, yaitu penyebaran limfohematogen, TB
endobronkial, dan TB paru kronik. Sebanyak 0.5-3% penyebaran
limfohematogen akan menjadi TB milier atau meningitis TB, hal ini
biasanya terjadi 3-6 bulan setelah infeksi primer. Tuberkulosis
endobronkial (lesi segmental yang timbul akibat pembesaran kelenjar
regional) dapat terjadi dalam waktu yang lebih lama (3-9 bulan).
Terjadinya TB paru kronik sangat bervariasi, bergantung pada usia
terjadinya infeksi primer. TB paru kronik biasanya terjadi akibat reaktivasi
kuman di dalam lesi yang tidak mengalami resolusi sempurna. Reaktivasi
ini jarang terjadi pada anak, tetapi sering pada remaja dan dewasa muda.
Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 25-30% anak yang
terinfeksi TB. TB tulang dan sendi terjadi pada 5-10% anak yang
terinfeksi, dan paling banyak terjadi dalam 1 tahun tetapi dapat juga 2-3
tahun kemudian. TB ginjal biasanya terjadi 5-25 tahun setelah infeksi
primer.

Tuberkulosis Paru ditularkan melalui udara secara langsung dari


penderita kepada orang lain. Droplet yang mengandung basil TB dapat

3
4

melayang di udara hingga kurang lebih satu jam tergantung dari ventilasi
ruangan. Droplet tersebut kemudian terhirup masuk ke dalam saluran
pernapasan (Djojodibroto D.R, 2007).
Menurut PDPI patogenesis berawal dari kuman yang masuk dan
proses perjalanan kuman sampai dapat menimbulkan penyakit tuberkulosis
dapat di bagi menjadi dua yaitu :
a. Tuberkulosis Primer Kuman tuberkulosis masuk melalui saluran napas
kemudian bersarang di jaringan paru, sehingga akan terbentuk suatu
sarang pneumoni, yang disebut sarang primer atau afek primer. Sarang
primer ini bisa timbul di semua bagian pada paru, berbeda dengan
sarang reaktivasi. Sarang primer akan kelihatan peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut
diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis
regional). Sarang primer bersama-sama dengan limfangitis regional
dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan
mengalami sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali
(restitution ad integrum) atau sembuh dengan meninggalkan sedikit
bekas (seperti sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus).
Kuman Mycobacterium tuberculosis dapat menyebar dari sarang
primer dengan cara
1) Perkontinuitatum, yaitu kuman menyebar ke daerah
sekitarnya,
2) Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan
maupun ke paru sebelahnya atau tertelan,
3) Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini
juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya,
misalnya tulang, ginjal, genitalia dan sebagainya.
b. Tuberkulosis Postprimer Tuberkulosis postprimer akan muncul
bertahun-tahun kemudian setelah tuberkulosis primer, biasanya terjadi
pada usia 15- 40 tahun. Bentuk tuberkulosis inilah yang dapat menjadi
masalah kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi sumber

3
4

penularan. Tuberkulosis postprimer dimulai dengan sarang dini, yang


umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus
inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni
kecil.
3. Gejala Tuberculosis
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala
khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara
klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit
untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
1. Gejala sistemik/umum:
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai
dengan darah)
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul
Penurunan nafsu makan dan berat badan Perasaan tidak
enak (malaise), lemah
2. Gejala khusus:
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-
paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar,
akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang
disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru),
dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi
tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan
bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar
cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus
otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak),

3
4

gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran


dan kejang-kejang.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat


terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa.
Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa
memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan 5 tahun
yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA
positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

4. Diagnosis Tuberculosis
Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa
hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak). *
Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
Rontgen dada (thorax photo).
Uji tuberkulin.
1) Diagnosis TB Paru

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3


minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu
dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu
makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari
tanpa kegiatan fisik,demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala
tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti
bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.
Mengingat prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih tinggi, maka
setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap
sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan

3
4

pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung pada pasien remaja dan


dewasa, serta skoring pada pasien anak.

Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis,


menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan.
Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis pada semua suspek TB
dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan
dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-
Sewaktu (SPS):

S(sewaktu): Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB


datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek
membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak
pagi pada hari kedua.
P(Pagi): Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari
kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan
diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
S(sewaktu): Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua,
saat menyerahkan dahak pagi.

Diagnosis TB Paru pada orang remaja dan dewasa ditegakkan


dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional,
penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan
diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji
kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai
dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya
berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu
menunjukkan aktifitas penyakit.

Indikasi Pemeriksaan Foto Toraks Pada sebagian besar TB paru,


diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara

3
4

mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi


tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi
sebagai berikut:

Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.


Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan
untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif.
Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3
spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya
hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT(non fluoroquinolon).
Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas
berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti:
pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau
efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat
(untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).

2) Diagnosis TB Ekstra Paru
Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku
kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis),
pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan
deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-
lainnya.
Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja
dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat
(presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Ketepatan diagnosis bergantung pada metode pengambilan bahan
pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji
mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks, dan lain-lain.

Uji Tuberkulin Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan yang


paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mycobacterium

3
4

tuberculosis dan sering digunakan dalam Screening TBC. Efektifitas dalam


menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Penderita
anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif
100%, umur 12 tahun 92%, 2 4 tahun 78%, 46 tahun 75%, dan umur 612
tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak
maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.

Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara
mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada
bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam
kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan
diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi:

a. Pembengkakan (Indurasi) : 04mm, uji mantoux negatif. Arti klinis : tidak


ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.
b. Pembengkakan (Indurasi) : 59mm, uji mantoux meragukan. Hal ini bisa
karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mycobacterium atypikal
atau pasca vaksinasi BCG.
c. Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif. Arti klinis :
sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
5. Pemeriksaan
Penunjang Penegakan diagnosis TB paru diperlukan pemeriksaan
penunjang. Menurut Intenational Standadarts For Tuberculosis Care
(ISTC) pemeriksaan yang dilakukan yaitu (Tuberculosis Coalition for
Technical Assistance, 2006) :
a. Pemeriksaan sputum Semua pasien dewasa, remaja, dan anak-
anak yang mampu menghasilkan dahak dan diduga menderita
tuberkulosis paru harus melakukan pemeriksaan sputum minimal
duakali, dan sebaiknya tigakali, setidaknya satu spesimen pagi
harus diperoleh. Interprestasi hasil pemeriksaan mikroskopis
dibaca dengan skala IUATLD (International Union Against

3
4

Tuberculosis and Lung Disease) beerdasarkan rekomendasi


WHO, sebagai berikut:
1) Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang disebut
negatif.
2) Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis
jumlah kuman yang ditemukan.
3) Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut
+ (positif 1). 4) Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang
pandang disebut + + (positif 2). 5) Ditemukan > 10 BTA
dalam palang pandang disebut + + + (positif 3).
b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi memiliki keunggulan sensitivitas
yang tinggi tetapi tidak spesifik untuk mendeteksi tuberkulosis.
Pemeriksaan radiografi (film atau fluoroskopi ) dari toraks yang
ada indikasi untuk dilakukan pemeriksaan mungkin berguna
untuk evaluasi lebih lanjut. Namun diagnosis TB tidak dapat
berdasarkan radiografi saja. Bahwa penggunaan pemeriksaan
radiografi saja untuk mendiagnosis TB bukanlah hal yang
rasional. Radiografi toraks berguna untuk mengevaluasi penderita
yang memiliki BTA negatif untuk mencoba untuk menemukan
bukti untuk tuberkulosis paru dan mengidentifikasi kelainan lain
yang mungkin memberikan gejala. Berkenaan dengan
tuberkulosis, pemeriksaan radiografi sangat berguna bila
diterapkan sebagai bagian dari pendekatan sistematis dalam
evaluasi orang yang gejalanya dan atau dalam temuan
menunjukkan tuberkulosis , tetapi memiliki BTA negatif.

6. Algoritma Penyakit Tuberculosis

3
4

B. Rokok
1) Pengertian

3
4

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara


70 hingga 120 mm(bervariasi tergantung negara) dengan diameter
sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah.
Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara
agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.
Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak
atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke
dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-
bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang
memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat
ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-
paru atauserangan jantung (walaupun pada kenyataannya itu hanya
tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).
Di Indonesia pemasaran rokok adalah pemasaran produk
yang paling heboh! Gencar menyelusup kesegenap wilayah
kehidupan masyarakat disemua strata. Tua, muda, miskin dan kaya
bisa menikmati rokok. Hal yang biasa, produsen rokok menjadi
sponsor acara musik, sehingga masyarakat, kawula muda
khususnya bisa menikmati pertunjukkan musik artis idolanya
dengan cuma-cuma. Sponsor acara olahraga. Meskipun didunia
olahraga, merokok adalah hal yang tabu. Menjadi donatur
sponsor untuk pengelolaan, keindahan taman suatu kota, kegiatan
seminar dan lain sebagainya.
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya
adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual
seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa
menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa
itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa
tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul
di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian
yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok

3
4

hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang


Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai
masuk negara-negara Islam
Menurut WHO, merokok akan menciptakan beban ganda,
karena merokok akan menganggu kesehatan sehingga lebih banyak
biaya harus dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Disamping
itu meropok juga menghabiskan uang yang seharusnya digunakan
untuk membeli makanan yang bergizi.Untuk
mengurangi/menghilangkan kemiskinan, pemerintah perlu segera
mengatasi masalah konsumsi tembakau. Karena itu Kepala
Perwakilan WHO untuk Indonesia mendorong pemerintah
Indonesia untuk lebih serius lagi mempertimbangkan untuk
menandatangani global FrameworkConventiononTobaccoControl
(FCTC) akhir masa penandatangan akhir Juni 2004. Dengan
demikian Indonesia dapat menjadi pemimpin regional dalam
gerakan pengawasan tembakau.
Selain meluncurkan buku, Menkes menyerahkan
penghargaan Manggala Karya Bakti Husada Arutala kepada
Pondok Pesantren Langitan karena jasanya dalam menciptakan
Kawasan Tanpa Rokok serta penyerahan hadiah kepada 4
pemenang Quitand Win (Lomba Berhenti Merokok) yang
diselenggarakan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok
(LM3).

2) Jenis Rokok
Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini
didasarkan atas bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi
rokok, proses pembuatan rokok, danpenggunaan filter pada rokok.

3
4

Rokok berdasarkan bahan pembungkus.

Klobot : rokok yang bahan pembungkusnya


berupa daun jagung.
Kawung : rokok yang bahan pembungkusnya
berupa daun aren.
Sigaret : rokok yang bahan pembungkusnya
berupa kertas.
Cerutu : rokok yang bahan pembungkusnya
berupa daun tembakau.

Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.


Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya
daun tembakau yang diberisaus untuk mendapatkan efek rasa dan
aroma tertentu.
Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun
tembakau dancengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek
rasa dan aroma tertentu.
Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun
tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk
mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
Rokok berdasarkan proses pembuatannya.
Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya
dengan caradigiling atau dilinting dengan menggunakan tangan
dan atau alat bantu sederhana.
Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya
menggunakan mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan
ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin
pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat
rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu
sampai delapan ribu batang rokok per menit.
Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan
dengan mesin pembungkus rokok sehingga keluaran yang
dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam

3
4

bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu


menghasilkan keluaran berupa rokok dalam pres, satu pres berisi
10 pak. Sayangnya, belum ditemukan mesin yang mampu
menghasilkan SKT karena terdapat perbedaan diameter pangkal
dengan diameter ujung SKT. Pada SKM, lingkar pangkal
rokok dan lingkar ujung rokok sama besar.
Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2 bagian :
- Sigaret Kretek Mesin FullFlavor (SKM FF): rokok yang dalam
proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa yang khas. Contoh:
Gudang Garam International, Djarum Super dan lain-lain.
- Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang
menggunakan kandungan tar dan nikotin yang rendah. Rokok jenis
ini jarang menggunakan aroma yang khas. Contoh: A Mild,
ClasMild, Star Mild, U Mild, L.A. Lights, Surya Slims dan lain-lain.
Rokok berdasarkan penggunaan filter.
- Rokok Filter (RF) : rokok yang pada bagian pangkalnya
terdapat gabus.
- Rokok Non Filter (RNF) : rokok yang pada bagian pangkalnya
tidak terdapat gabu
Dilihat dari komposisinya :
- Bidis: Tembakau yang digulung dengan daun temburni kering dan
diikat dengan benang.Tar dan karbon monoksidanya lebih tinggi
daripada rokok buatan pabrik. Biasaditemukan di Asia Tenggara dan
India.
- Cigar: Dari fermentasi tembakau yang diasapi, digulung dengan daun
tembakau. Adaberbagai jenis yang berbeda di tiap negara. Yang
terkenal dari Havana, Kuba.
- Kretek: Campuran tembakau dengan cengkeh atau aroma cengkeh
berefek mati rasa dan sakit saluran pernapasan. Jenis ini paling
berkembang dan banyak di Indonesia.
- Tembakau langsung ke mulut atau tembakau kunyah juga biasa
digunakan di AsiaTenggara dan India. Bahkan 56 persen perempuan
India menggunakan jenis kunyah. Adalagi jenis yang diletakkan

3
4

antara pipi dan gusi, dan tembakau kering yang diisap denganhidung
atau mulut.
- Shisha atau hubblybubbly: Jenis tembakau dari buah-buahan atau
rasa buah-buahanyang disedot dengan pipa dari tabung. Biasanya
digunakan di Afrika Utara, TimurTengah, dan beberapa tempat di
Asia. Di Indonesia, shisha sedang menjamur seperti dikafe-kaf

3) Zat- Zat Berbahaya Pada Rokok

Pernahkah anda membayangkan bahwa kandungan zat kimia yang


terdapat didalam sebatang rokok itu berjumlah tiga ribu macam menurut
Terry dan Horn. Tetapi hanya tujuh ratus macam zat saja yang
dikenal. Sedikit info tentang rokok yang berkenaan dengan bahan pokoknya,
tembakau : Tembakau berasal dari kata Indian tobago mengandung sekitar
2.000 unsur kimiawi! Yang sepuluh (10) diantaranya berbahaya bagi
kesehatan, yakni : Tar [belangkin], karbon monoksida, nikotin, hidrogen
sianida, benzopyrene, dimethylnitrosamine, N-Nitrosonor nikotin, catechol,
phenol dan acrolein. Di beberapa negara telah dikenakan ketentuan-ketentuan
pembatasan kadar tar, nikotin dalam pembuatan rokok. Bahkan di Norwegia,
Swedia dan Finlandia, pembatasan merokok telah tegas diatur dengan
undang-undang. Tahun 1971 pemerintah Norwegia mensahkan pendirian
National CouncilonSmokingandHealth atau Dewan Nasional untuk
Merokok dan Kesehatan . Disini ada 15 macam zat berbahaya yang bisa
andaketahui yaitu :

a. ACROLEIN ; zat berbentuk cair tidak berwarna diperoleh dengan mengambil


cairan dari glyceril atau dengan mengeringkannya. Pada dasarnya zat ini
mengandung alkohol yang pasti sangat mengganggu kesehatan.
b. KARBON MONOXIDA ; gas yang tidak berbau. Karbon monoksida adalah
bahan kimia beracun ditemukan dalam asap buangan mobil. Hal inilah yang

3
4

kemudian bisa menurunkan jumlah oksigen dalam darah dan menghalangi semua
kinerja organ pensuply oksigen di dalam tubuh. Karena tubuh kurang oksigen
membuat jantung mengalami penebalan dan bekerja lebih keras memompa darah.
Inilah penyebab utama seorang perokok bisa mengalami serangan jantung secara
mendadak. Zat ini dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat
karbon. Jika karbon monoxida ini masuk ke dalam tubuh dan dibawa oleh
hemoglobin ke dalam otot-otot tubuh. Satu molekul hemoglobin dapat membawa
empat molekul oksigen. Apabila didalam hemoglobin itu terdapat karbon
monoxida, berakibat seseorang akan kekurangan oksigen.
c. NIKOTIN ; cairan berminyak tidak berwarna. Zat ini bisa menghambat rasa
lapar. Jadi menyebabkan seseorang merasa tidak lapar karena mengisap rokok.
d. AMMONIA ; gas yang tidak berwarna, terdiri dari nitrogen dan hidrogen.
Memiliki bau yang sangat tajam dan merangsang. Zat ini sangat cepat memasuki
sel-sel tubuh dan kalau disuntikkan sedikit saja pada aliran darah akan membuat
pingsan atau koma.
e. FORMIC ACID ; cairan tidak berwarna, tajam baunya, bisa bergerak bebas dan
dapat membuat lepuh.
f. HYDROGEN CYANIDE ; gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak ada rasa.
Zat ini paling ringan dan mudah terbakar. Cyanide mengandung racun berbahaya
dan jika dimasukkan langsung ke dalam tubuh akan berakibat kematian.
g. NITROUS OXIDE ; gas tidak berwarna dan jika diisap dapat menyebabkan
hilangnya pertimbangan dan membuat rasa sakit. Zat ini awalnya adalah untuk
zat pembius pada saat operasi. FORMALDEHYDE ; gas tidak berwarna dan
berbau tajam. Gas ini bersifat pengawet dan pembasmi hama.
h. PHENOL ; zat ini terdiri dari campuran kristal yang dihasilkan dari distilasi zat-
zat organik misalnya kayu dan arang. Phenol bisa terikat didalam protein dan
menghalangi kerja enzyme.
i. ACETOL ; zat ini adalah hasil dari pemanasan aldehyde dan menguap dengan
alkohol.
j. HYDROGEN SULFIDE ; gas yang mudah terbakar dan berbau keras. Zat ini
menghalangi oxidasienxym (zat besi berisi pigmen).
k. PYRIDINE ; cairan tidak berwarna dan berbau tajam. Zat ini mampu mengubah
alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama.

3
4

l. METHYL CHLORIDE : merupakan campuran zat-zat bervalensa satu atas


mana hidrogen dan karbon sebagai unsur utama. Zat ini merupakan compound
organis yang sangat beracun dan uapnya bersifat sama dengan pembius.
m. METHANOL ; cairan ringan yang mudah menguap dan terbakar. Jika diminum
dan diisap dapat berakibat pada kebutaan dan kematian.
n. TAR ; cairan kental berwarna coklat tua atau hitam didapatkan dengan cara
distilasi kayu dan arang juga dari getah tembakau.Tar itu sendiri mengandung
banyak bahan beracun ke dalam tubuh. Ini adalah substansi, tebal lengket, dan
ketika menghirup itu melekat pada rambut-rambut kecil di paru-paru. Organ ini
melindungi paru-paru dari kotoran dan infeksi, tapi ketika tertutup tar organ ini
tidak dapat melakukan fungsinya. Tar juga melapisi dinding sistem respirasi
secara keseluruhan, mempersempit tabung yang transportasi udara (yang
bronchioles) dan mengurangi elastisitas paru-paru. Yang pada akhirnya
menyebabkan kanker paru-paru dan penyakit pernafasan kronis.

Kandungan Zat Pada Rokok Beserta Efeknya Terhadap Kesehatan

Rokok mengandung kurang lebih 4000 lebih elemen-elemen dan


setidaknya 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok
adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Selain itu, dalam sebatang rokok juga
mengandung bahan-bahan kimia lain yang tak kalah beracunnya.

No Nama zat Defenisi& efek terhadap kesehatan

1 ACROLEIN Zat berbentuk cair tidak berwarna diperoleh


dengan mengambil cairan dari glyceril atau
C3H4O
dengan mengeringkannya. Pada dasarnya zat ini
mengandung alkohol yang pasti sangat
mengganggu kesehatan.

2 KARBON MONOXIDA Gas yang tidak berbau. Zat ini dihasilkan dari
pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat
CO
karbon. Jika karbon monoxida ini masuk ke dalam
tubuh dan dibawa oleh hemoglobin ke dalam otot-
otot tubuh. Satu molekul hemoglobin dapat

3
4

membawa empat molekul oksigen. Apabila


didalam hemoglobin itu terdapat karbon
monoxida, berakibat seseorang akan kekurangan
oksigen.

3 NIKOTIN Cairan berminyak tidak berwarna. Zat ini bisa


menghambat rasa lapar. Jadi menyebabkan
C10H14N2
seseorang merasa tidak lapar karena mengisap
rokok.

4 AMMONIA Gas yang tidak berwarna, terdiri dari nitrogen dan


hidrogen. Memiliki bau yang sangat tajam dan
NH3
merangsang. Zat ini sangat cepat memasuki sel-
sel tubuh dan kalau disuntikkan sedikit saja pada
aliran darah akan membuat pingsan atau koma

5 FORMIC ACID Cairan tidak berwarna, tajam baunya, bisa


bergerak bebas dan dapat membuat lepuh.
HCO2H

6 HYDROGEN CYANIDE Gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak ada
rasa. Zat ini paling ringan dan mudah terbakar.
HCN
Cyanide mengandung racun berbahaya dan jika
dimasukkan langsung ke dalam tubuh akan
berakibat kematian.

6 HYDROGEN CYANIDE Gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak ada
rasa. Zat ini paling ringan dan mudah terbakar.
HCN
Cyanide mengandung racun berbahaya dan jika
dimasukkan langsung ke dalam tubuh akan
berakibat kematian.

7 NITROUS OXIDE Gas tidak berwarna dan jika diisap dapat

3
4

N2O menyebabkan hilangnya pertimbangan dan


membuat rasa sakit. Zat ini awalnya adalah untuk
zat pembius pada saat operasi.

8 FORMALDEHYDE Gas tidak berwarna dan berbau tajam. Gas ini


bersifat pengawet dan pembasmi hama.
CH2O

9 PHENOL Zat ini terdiri dari campuran kristal yang


dihasilkan dari distilasi zat-zat organik misalnya
C6H5OH
kayu dan arang. Phenol bisa terikat didalam
protein dan menghalangi kerja enzyme

10 ACETOL Zat ini adalah hasil dari pemanasan aldehyde dan


menguap dengan alkohol.
C2H4O2

11 HYDROGEN SULFIDE Gas yang mudah terbakar dan berbau keras. Zat
ini menghalangi oxidasienxym (zat besi berisi
H2S
pigmen).

12 PYRIDINE Cairan tidak berwarna dan berbau tajam. Zat ini


mampu mengubah alkohol sebagai pelarut dan
C5H5N
pembunuh hama.

13 METHYL CHLORIDE Merupakan campuran zat-zat bervalensa satu atas


mana hidrogen dan karbon sebagai unsur utama.
CH2=CHCl
Zat ini merupakan compound organis yang sangat
beracun dan uapnya bersifat sama dengan
pembius.

14 METHANOL Cairan ringan yang mudah menguap dan terbakar.


Jika diminum dan diisap dapat berakibat pada
CH3OH
kebutaan dan kematian.

15 TAR Cairan kental berwarna coklat tua atau hitam


didapatkan dengan cara distilasi kayu dan arang

3
4

C6H6 juga dari getah tembakau. Zat inilah yang


menyebabkan kanker paru-paru.

C. Merokok
Merokok adalah suatu tindakan yang merugikan bagi
perokoknya ataupun lingkungannya terutama dalam kesehatan karena
suatu proses pembakaran tembakau yang dapat menghasilkan polusi
udara dan diserap oleh tubuh bersama udara pernapasan (Situmeang,
2002). Perokok adalah orang yang merokok lebih dari 100 sigaret
sepanjang hidupnya dan saat ini masih merokok atau telah berhenti
merokok kurang dari satu tahun (Kang et al, 2003).
Kandungan dalam rokok Dari hasil pembakaran rokok akan timbul
asap dan asap itulah yang dihirup. Asap tersebut mengandung gas dan
partikel. Gas yang dihirup mengandung senyawa hidrokarbon, nitrogen,
karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida,oksigen, amoniak.
Kandungan dalam rokok selain gas adalah partikel yaitu tar, nikotin,
kadmium, benzopiren, dan fenol (Syahdrajat, 2007). Nikotin dapat
mengakibatkan ketagihan dan gangguan pada jantung serta paru-paru
(Tirtosastro S et al, 2010). Zat ini juga merupakan zat psikosktif yang
dapat meningkatkan aktivitas motorik, menurunkan intelegensi anak
yang dikandung oleh ibu yang merokok (Setyohadi, 2006). Nikotin
merupakan bahan adiktif yang menimbulkan ketergantungan atau
kecanduan (Aditama, 2001).

D. Hubungan Rokok dan Tuberculosis


Hasil penelitian ternyata menghubungkan kebiasaan merokok
dengan terjadinya serta proses perjalanan penyakit tuberkulosis paru.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara prevalensi

3
4

reaktifitas tes tuberkulin (tes untuk mengetahui seseorang terinfeksi TB)


dan kebiasaan merokok. Mereka yang merokok 3-4 kali lebih sering
positif tesnya, artinya 3-4 kali lebih sering terinfeksi TB daripada yang
tidak merokok. Penelitian lain menunjukkan hubungan antara kebiasaan
merokok dengan aktif tidaknya penyakit tuberkulosis, serta faktor risiko
terjadinya tuberkulosis paru pada dewasa muda, dan terdapat dose-
responserelationship dengan jumlah rokok yang dihisap per harinya.
Penelitian lain menemukan bahwa anak yang terpapar asap rokok
(perokok pasif) ternyata juga lebih sering mendapat TB nantinya.
Juga ditemukan bahwa TB pada perokok lebih menular daripada
penderita TB yang tidak merokok, kebiasaan merokok juga merupakan
faktor dalam progresivitas tuberkulosis paru dan terjadinya fibrosis. Secara
umum, perokok ternyata lebih sering mendapat TB dan kebiasaan
merokok memegang peran penting sebagai faktor penyebab kematian pada
TB. Kebiasaan merokok membuat seseorang jadi lebih mudah terinfeksi
tuberkulosis, dan angka kematian akibat TB akan lebih tinggi pada
perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Di India tuberkulosis
adalah salah satu penyebab utama kematian para perokok. Sekitar 20
persen kematian akibat tuberkulosis di India berhubungan dengan
kebiasaan merokok mereka. Kita belum punya angka serupa untuk
Indonesia, tetapi diperkirakan masalahnya tentu juga akan besar pula.
Mengapa merokok memperburuk tuberkulosis? Kebiasaan
merokok akan merusak mekanisme pertahanan paru yang disebut
muccociliaryclearance. Bulu-bulu getar dan bahan lain di paru tidak
mudah "membuang" infeksi yang sudah masuk karena bulu getar dan alat
lain di paru rusak akibat asap rokok. Selain itu, asap rokok meningkatkan
tahanan jalan napas (airwayresistance) dan menyebabkan "mudah
bocornya" pembuluh darah di paru, juga akan merusak makrofag yang
merupakan sel yang dapat me-"makan" bakteri pengganggu. Asap rokok
juga diketahui dapat menurunkan respons terhadap antigen sehingga kalau
ada benda asing masuk ke paru tidak lekas dikenali dan dilawan. Secara

3
4

biokimia asap rokok juga meningkatkan sintesaelastase dan menurunkan


produksi antiprotease sehingga merugikan tubuh kita.
Pemeriksaan canggih seperti gas chromatography dan mikroskop
elektron lebih menjelaskan hal ini dengan menunjukkan adanya berbagai
kerusakan tubuh di tingkat bio molekuler akibat rokok. ( Tjandra yoga
adiutama,EGC)

BAB III

METODE PENELITIAN

3
4

III.1 Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Anatapura Palu. Waktu penelitian


ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari bulan april sampai
dengan bulan juni 2017.

III.2 populasi dan sampel

Populasi pada penelitian adalah pasien TB paru dan penghantar atau


penunggu yang berada di Rumah Sakit Anatapura. Kelompok kasus adalah
penderita TB paru yang terdiagnosis di Rumah Sakit Anatapura sedangkan
kelompok kontrol adalah penghatar atau penunggu berada di Rumah Sakit
Anatapura yang tidak terdiagnosa TB paru.

III.3 Metode Penelitian

Rancangan Penelitian adalah observasional analitik yang dilakukan


dengan metode cross sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Anatapura
pada tahun 2017.

III.4 Teknik pengumpulan data

Teknik pengambilan sampel adalah Purposive dan Consecutive sampling,


yaitu teknik pengambilan sampling yang diambil dengan kriteria restriksi dan
tidak mengindahkan prinsip-prinsip probabilitas dan pemilihan elemen
berdasarkan pada kebijakan peneliti (Dhlan S, 2009). Besar sampel adalah 35
sampel pada setiap pasien diagnosis TB Paru yang memeriksakan diri dan
penghatar atau penunggu di Rumah Sakit Anatapura yang tidak terdiagnosis TB
paru.

Kriteria Restriksi

1. Kritreria Inklusi
a. Sampel kasus adalah pasien terdiagnosis TB paru berdasarkan
gejala klinis, pemeriksaan BTA, gambaran radiologi toraks,
dan kultur BTA. Kelompok kontrol adalah penghantar atau

3
4

penunggu berada di BBKPM Surakarta yang tidak terdiagnosa


TB paru.
b. Pasien berumur >18 tahun untuk kelompok kontrol dan kasus.
c. Bersedia mengikuti penelitian, berupa mengisi surat
persetujuan, di wawancarai, dan mengisi kuesioner.

2. Kriteria Eksklusi
a. Seorang perokok setelah menderita tuberkulosis.
b. Seseorang yang hidup dengan 1 atau lebih seorang perokok di
lingkungan yang sama, atau disebut perokok pasif (Leung Chi. C
et al, 2010).
c. Mempunyai riwayat terhadap pajanan industri.
d. Pasien yang menolak melanjutkan penelitian.

Definisi Operasional

1. Perokok adalah seseorang yang mempunyai riwayat merokok lebih


dari 100 batang sepanjang hidupnya dan masih merokok (Kang et al,
2003).
2. Bukan perokok adalah orang yang selama hidupnya tidak pernah
merokok atau merokok kurang dari 100 batang(Kang et al, 2003).
3. Mantan perokok adalah Orang dewasa yang telah merokok sedikitnya
100 batang rokok dalam hidup mereka dan telah berhenti merokok
lebih dari setahun(US Centers for Disease Control and Prevention,
2010).
4. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis. Diagnosis tuberkulosis dapat
ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan BTA, radiologi
toraks dan pemeriksaan kultur BTA(DEPKES ,2006).

3
4

5. Tuberkulosis paru BTA (+) apabila minimal satu dari sekurang-


kurangnya dua kali pemeriksaan dahak menunjukan hasil positif.
Dengan syarat laboratorium harus sesuai dengan Quality external
assurance (EQA). Dua kali pemeriksaan dahak baru bisa dinyatakan
sebagai BTA(+) apabila laboratorium belum sesuai dengan EQA atau
salah satu dari pemeriksaan dinyatakan positif dan didukung dari hasil
pemeriksaan foto toraks berdasarkan gambaran TB paru yang sudah
ditetapkan oleh klinisi. Satu hasil pemeriksaan dahak positif ditambah
dengan hasil kultur positif maka bisa dinyatakan sebagai BTA
(+)(PDPDI, 2011).
6. Tuberkulosis paru BTA (-) apabila hasil dari pemeriksaan dahak
negatif tetapi hasil kultur positif. BTA (-) dinyataka jika hasil dari
pemeriksaan dahak dua kali negatif dan belum ada fasilitas
pemeriksaan kultur dengan syarat hasil foto toraks sesuai dengan
gambaran TB paru aktif dan mencantumkan hasil pemeriksaan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) positif atau jika status HIV negatif,
tidak diketahui, tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian
antibiotik sepektrum luas kecuali antibiotik yang mempunyai efek anti
TB seperti fluorokuinolon dan aminoglikosida(PDPDI, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Abebe D. S, et al. 2011. Prevalence of Pulmonary Tuberculosis and


Associated Risk Factor in Eastern Ethiopian Prisons. INT J

3
4

TUBERC LUNG DISC. 15(5) : 671-672 Alsagaff H, Mukty A.H.


2009. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
University Press pp. 85-87
Arief M., 2008. Pengantar Metodologi Penelitian Untuk Ilmu
Kesehatan. Edisi pertama. Surakarta. UNS press. Pp 62-3 Barber S,
et al. 2008. Tobacco Economics in Indonesia. International Union
Against Tuberculosis and Lung Disease. 68 : 1-2
Boon S.D, et al. 2005. Association Berwen Smoking and
Tuberculosis Infection: A Population Survey In High Tuberculosis
Incidence. Thorax. 60 : 557-559
Departemen Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2012. Profil
Kesehatan provinsi Jawa Tengah Tahun 2012.(4 oktober 2013)
DEPKES. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan TB.2:4-20
Djojodibroto, D.R 2009. Respirologi (Respiratory Medicine).
Jakarta : EGC pp.151-2
Feng Yan, et al. 2011. Exposure to Cigarette Smoke Inhibits the
Pulmonary T- Cell Response to Influenza Virus and
Mycobacterium Tuberculosis. Infection and Immunity. 79 : 235-
236 Godoy Pere, et al. 2013. Smoking in Tuberculosis Patien
increase The Risk of Infection in Their Contact. INT J TUBERC
LUNG DIS. 17(6) : 772-776
Guyton A.C., Hall J.E., 2006. Textbook of Medical Physiology.
11th ed. Philadelphia, PA, USA:Elsevier Saunders. Jee S.H, et al.
2009. Smoking and Risk of Tuberculosis Incidence, Mortality, and
Recurrence in South Korean Men and Woment. Am. J. Epidemiol.
170 : 3-7
Kang M J, et al. 2003. Lung matrix metalloproteinase-9
corelates with cigarette smoking and obstruction of airflow. J
Korean Med Sci pp. 821-2.

3
4

Leffondre K, et al. 2002. Modeling Smoking History: A


Comparation of Different Approaches. Am. J. Epidemiol. 156 :
813-820
Leung Chi. C, et al. 2010. Passive Smoking and Tuberculosis. Arc
Intern Med. 170(3) : 287-292
Lin Hsien Ho, et al. 2009. Association between Tobacco Smoking
and Active Tuberculosis in Taiwan. Am J Respir Crit Care Med.
180 : 476-479
Loscalzo J.2010.Pulmonary and critical care medicine.17.
Newyork.Mc Grand Hill Medical pp. 121-2 Munir S.R, et al. 2010.
Pengamatan Pasien Tuberkulosis Paru dengan Multidrug Resistant
(TB-MDR) di Poliklinik Paru RSUP Persahabatan. J Respir Indo.
30 : 97-98 Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.2011.Pedoman
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia.2.4-8
Price S.A., Wilson L.M. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta. EGC. PP 784-5 Rao G Vikans,
et al. 2011.
Selected Risk Factor Associated with Pulmonary Tuberculosis
Among Saharia Triber of Mahdya Pradesh, Central India. Eur J
Public Health. 22 : 272273
Salim Hamid et al. 2004. Gender different in tuberculosis : a
prevalence survey done in Bangladesh. INT J TUBERC LUNG
DIS. 8(8) : 955-956 Singh N.P, et al. 2013. Cigarette Smoking and
Tuberculosis in Cambodia: Finding From a National Sample.
Tobbaco Induced Disease. 11 : 5-6 Situmenang T, et al. 2002.
Hubungan Merokok Kretek dengan Kanker Paru. Jurnal
Respirologi Indonesia. 22 : 109-116
Swtiyohadi B, 2006. Kesehatan Remaja Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam. Fakultas Kedoteran Indonesia

3
4

Syahdrajat T. 2007. Merokok dan Masalahnya. Dexa Media. 20:


184-186
Tirtosastro S,. Murdiyanti A.S. 2010. Kandungan Kimia Tembakau
dan Rokok. Buletin Tanaman Tembakau, Serat, dan Minyak. 2(1) :
34-36 US Centers for Disease Control and Prevention (2010).
Health behaviors of adults : United States, 20052007.
Vital and Health Statistics, Series 10, Number 2 45, Appendix II,
p. 80 WHO. 2012. Global tuberculosis report.(25 Agustus 2013)
WHO.2012. Mortality Atributable to Tobacco. Zumla H, et al.
2013. Tuberkulosis. N. ENGL. J. MED. 368 : 3-5