Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I

PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pengayakan adalah sebuah cara pengelompokan butiran yang akan
dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan demikian, dapat
dipisahkan antara partikel lolos (butiran halus) dengan partikel tertahan di
ayakan itu (butiran kasar). Teknik pengayakan dapat dilakukan untuk
campuran heterogen khususnya campuran dalam fasa padat. Proses pemisahan
didasari atas permukaan dan perbedaan partikel dari ukuranna, di dalam
campuran tersebut. Sehingga ayakan memiliki ukuran pori atau lubang
tertentu. Ukuran pori dinyatakan dalam satuan mesh. Metode pengayakan
dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain. Pada pengayakan manual,
bahan dipaksa melewati lubang ayakan umumnya dengan bantuan bilah kayu
atau bilah bahan sintetis atau dengan sikat. Sedangkan pada pengayakan
mekanik dilakukan dengan mesin, yang umumnya mempunyai satu set
ayakan, dengan ukuran lebar lubang standar yang berlainan.
Prosedur dari praktikum pengukuran butiran padatan adalah sebagai
berikut. Pertama, menyiapkan alat ayakan dengan ukuran 10,30, dan 50 mesh.
Kedua, menimbang jinten yang sudah halus seberat 600 gram. Ketiga, ayak
jinten dengan menggunakan screen ukuran 10 mesh, kemudian timbang berat
oversizenya. Selanjutnya, produk undersize dari screen ukuran 10 mesh
diayak kembali dengan menggunakan screen ukuran 30 mesh, dan timbang
produk oversizenya. Kemudian, produk undersize dari screen 30 mesh diayak
menggunakan screen ukuran 50 mesh, dan timbang berat produk undersize
dan oversize dari jinten. Terakhir, hitung hasil percobaan prosentase oversize
dan undersize dari jinten.
Tujuan dari percobaan pengukuran butiran padatan adalah sebagai
berikut. Untuk mengetahui keseragaman partikel setelah melewati ayakan.

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
1
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

Untuk mencegah masuknya partikel oversize ke dalam proses selanjutnya.


Untuk mencegah masuknya partikel undersize ke permukaan.

I.2 Tujuan Percobaan


1. Untuk mengetahui keseragaman partikel setelah melewati ayakan.
2. Untuk mencegah masuknya partikel oversize ke dalam proses selanjutnya.
3. Untuk mencegah masuknya partikel undersize ke permukaan.

I.3 Manfaat Percobaan


1. Agar praktikan dapat mengetahui mekanisme pada pengayakan.
2. Agar praktikan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
pengayakan.
3. Agar praktikan dapat mengetahui nilai fraksi massa partikel yang
tertahan (oversize) dan lolos (undersize).

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
2
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Secara Umum


Sebuah ayakan atau pengayakan adalah sebuah alat untuk memisahkan
suatu elemen yang diinginkan dari partikel yang tidak diinginkan atau untuk
menyamakan ukuran partikel, biasanyasering mnegguankan layar tenun seperti
jala atau jaring logam. Kata menyaring berasal dari kata saringan.
Pengayakan adalah teknik sederhana untuk memisahakan partikel dari
ukuran yang berbeda. Sebuah saringan seperti yang digunakan untuk memilah
tepung memiliki ukuran yang sangat kecil. Partikel kasar dipisahkan atau rusak
dengan menggiling terhadap satu sama lin. Bergatung pada jenis partikel yang
akan dipisahkan atau rusak dengan dipisahkan pada berbagai jenis lubang yang
digunakan.
(Anonim,2017)
II.1.1 Karakteristik partikel zat padat
Di antara segala macam bentuk dan ukuran yang mungkin ditemukan pada
zat padat, bentuk yang paling penting dari sudut pandang kimia teknik adalah
partikel-partikel halus. Pemahaman ini mnegenai karakteristik massa zat padat
butiran sangat penting dalam perancangan proses dan peralatan yang diperlukan
untuk menagani arus yang mengandung zat padat.
Partikel zat padat secara individu di karakteristikkan dengan ukuran,
bentuk, dan densitasnya. Partikel zat padat homogen mempunyai densitas yang
sama dengan bahan bongkahan. Partikel-partikel yang didapatkan dengan
memecahkan zat padat campuran, misalnya bijih yang mengandung logam,
mempunyai berbagai densitas, biasanya mempunyai densitas yang berbeda dari
bahan induknya. Untuk partikel yang bentuknya beraturan, misalnya berbentuk
kubus dan bola, ukuran dan bentuknya dapat dinyatakan dengan mudah. Tetapi
partikel yang ebntuknya tak beraturan (seperti butir-butir pasir dan serpih kaca),

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
3
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

istilah ukuran (size) dan bentuk (shape) tidak begitu jelas dan harus didefinisikan
secara acak.
II.1.2 Bentuk partikel
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bentuk setiap partikel
perlu dikarakteristikkan dengan sterisitas atau kebolaan (sptericity) s, yang tidak
bergantung pada ukuran partikel. Untuk partikel berbentuk bola dengan diameter
Dp, = 1; untuk partikel yang tidak berbentuk bola sterifitas didefiniskan oleh
hubungan

...................................................................(1)

Keterangan:

Dp = diamter ekivalen atau diameter nominal partikel (mm)

Sp = luas permukaan suatu partikel (mm2/g)

Vp = volume satu partikel (partikel/gram)


s = sterifitas (partikel/ mm3)
Diameter ekivalen kadang-kadang didefinisikan sebagai diameter bola
yang volumenya sama dengan volume partikel itu.

II.1.3 Ukuran Partikel


Pada umumnya, diameter dapat ditentukan untuk setiap partikel yang
ekidimensional. Partikel yang tidak ekidimensional, yaitu lebih panjang pada satu
arah ketimbang pada arah lain. Partikel itu dikarakterisasi dengan dimensi utama
yang kedua terpanjang. Untuk partikel berbentuk jarum, umpamanya Dp, akan
menunjukkantebal partikel dan bukan pada panjangnya.
Ukuran partikel, menurut konvensi, dinyatakan dalam berbagai satuan,
bergantung pada jangkauan ukuran yang trelibat. Partikel-partikel kasar diukur
dalam inci atau milimeter; partikel yang ultrahalus kadang-kadang diberikan

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
4
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

dengan luas permukaannya per satuan luas, dan massa, biasanya dalam meter
persegi per gram.
Ukuran partikel campuran dan analisis ukuran. Dalam contoh yang
ukurannya seragam; dengn diameter Dp. Volume total partikel ialah m/p ,
dimana m dan p masing-masing ialah massa contoh dan densitas partikel. Oleh
karena itu, volume satu partikel adalah Vp , banyaknya partikel di dalam contoh N
ialah

...........................................(2)

Keterangan :
N = Banyaknya partikel dalam contoh
m = Massa contoh (gram)
p = Densitas partikel (gram/cm3)
Vp = Volume satu partikel (cm3)

II.1.4 Ukuran Pertikel Rata - Rata


Ukuran partikel rata - rata untuk campuran partikel didefinisikan menurut
berbagai cara. Barangkali, yang paling lazim dipakai ialah diameter pukul rata
volume - permukaan (volume - surface mean diameter) . Yang dibutuhkan dengan
luas permukaan spesifik. Diameter itu didefinisikan oleh :

..........................................(3)

Keterangan :

Ds = Diameter pukul rata volume - permukaan (mm)

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
5
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

= Sperisitas partikel

Aw = Luas permukaan spesifik (mm2/gram)

p = Densitas partikel (gr/mm3)

Untuk contoh yang terdiri dari partikel seragam, diameter rata - rata tentu saja
sama. Tetapi, untuk campuran yang terdiri dari partikel berbagai ukuran, masing -
masing diameter rata - rata yang ada itu mungkin sangat berlainan satu sama lain
II.1.5 Jumlah Partikel Dalam Campuran

Untuk menghitung dari analisis deferensial, jumlah partikel yang terdapat


di dalam campuran , dapat digunakan persamaan 2 yaitu persamaan untuk
menghitung jumlah partikel yang terdapat di dalam setiap fraksi, kemudian Nw
yaitu populasi total didalam suatu massa konstan, didapatkan dengan
menjumlahkan semua fraksi. Untuk suatu bentuk partikel tertentu, volume setiap
partikel itu sebanding dengan diameternya pangkat tiga atau

.......................................................(4)

Keterangan

Vp = Volume setiap partikel (mm3)

a = Faktor bentuk volume

D3p = Diameter partikel pangakt tiga

Dengan mengandaikan bahwa a tidak bergantung pada ukuran, maka :

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
6
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

Keterangan :

a = Faktor bentuk volume

p = Densitas partikel (g/mm3)

D3v = Diameter partikel (mm)

II.1.6 Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengayakan

Faktor - faktor yang mempengaruhi kecepata material pada proses


pengayakan adalah :

1. Ukuran bahan ayakan

Semakin besar diameter lubang ayakan akan semakin banyak material yang

lolos

2. Ukuran relatif partikel

Material yang mempunyai diameter yang sama dengan panjangnya akan

memiliki kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya

berbeda - beda, yaitu yang satu melintang dan lainnya membujur

3. Pantulan dari material

Pada waktu material jatuh ke screen, maka akan membentur kisi - kisi screen

sehingga akan terpental ke arus dan jatuh pada posisi yang tidak teratur

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
7
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

4. Kandungan air

Kandungan air yang banyak akan sangat membantu tapi, bila hanya sedikit

akan menyebabkan sumbatan pada screen

(Juliyanto,2015)

II.1.7 Definisi dan Cara Mengkonversi Satuan Mesh ke Milimeter

Mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam ayakan tiap 1 inchi persegi.
Jadi jika ada ayakan yang memiliki keterangan 5 mesh artinya tiap 1 inchi persegi
terdapat 5 lubang. Kesimpulannya, makin besar jumlah mesh berarti ukuran
lubang semakin kecil. Untuk konversi dari mesh ke milimeter disajikan pada tabel
berikut :

Tabel 1. konversi dari mesh ke milimeter

U.S. Mesh Milimeter

3 6,730

4 4,760

5 4,000

6 3,360

7 2,830

8 2,380

10 2,000

12 1,680

14 1,410

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
8
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

16 1,190

18 1,000

20 0,841

25 0,707

30 0,595

35 0,500

40 0,400

45 0,354

50 0,297

60 0,250

70 0,210

(Anonim, 2015)

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
9
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

II.2 Sifat Bahan

1. Jinten
Sifat fisika dan kimia jinten
a. Warna : krem
b. Berat : 0,2773 g/100 butir
c. Densitas : 0,6082 g/100 ml
d. Daya air air pada 80oC : 0,345
e. Rasio pengembangan : 1,26
II.3 Hipotesa
semakin besar ukuran lubang ayakan, maka hasil underize yang didapat
belum memiliki ukuran yang seragam. Jadi, semakin kecil ukuran lubang ayakan
maka hasil undersize yang didapat akan memiliki ukuran yang lebih seragam.

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
10
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

II.4 Diagram alir

Siapkan ayakan dengan


ukuran 10,30,dan 50 mesh

Timbang berat kacang tanah


yang sudah dihaluskan
seberat 600 gram

Ayak kacang tanah dengan


screen 10 mesh, timbang
produk oversizenya

Ayak kacang tanah


undersize dari screen ukuran
10 mesh dengan screen
ukuran 30 mesh. Timbang
produk oversizenya

Ayak kacang tanah


undersize dari screen ukuran
30 mesh dengan screen
ukuran 50 mesh. Timbang
produk oversize dan
undersizenya

Hitung prosentase oversize


dan undersize dari kacang
tanah

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
11
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan yang Digunakan


1. Jinten 600 gram
III.2 Alat yang Digunakan
1. Neraca analitik
2. Ayakan
3. Loyang

III.3 Gambar Alat

Neraca Analitik Ayakan

Loyang

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
12
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

III.4 Rangkaian alat

Penampung

III.5 Prosedur Praktikum


1. Siapakan alat ayakan dengan ukuran 10 mesh, 30 mesh, 40 mesh dan 60
mesh.
2. Timbang jinten yang telah dihaluskan seberat 700 gram.
3. Ayak jinten dengan menggunakan ayakan 10 mesh timbang produk
oversizenya.
4. Ayak jinten undersize dari screen ukuran 10 mesh dengan screen ukuran
30 mesh, dan timbang berat oversizenya.
5. Ayak jinten undersize dari screen ukuran 30 mesh dengan screen ukuran
40 mesh, dan timbang berat undersize dan oversizenya.
6. Ayak jinten undersize dari screen ukuran 40 mesh dengan screen ukuran
60 mesh, dan timbang berat undersize dan oversizenya.
7. Hitung hasil percobaan presentase oversize & undersize.

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
13
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan


Berat awal jinten = 700 gram
Bahan Berat awal Mesh Undersize Oversize
(gram) (gram) (gram)
Jinten 10 - 50
700 30 - 520
40 - 40
60 60 30
Jumlah 60 640

Diameter ayakan 10 mesh = 0,2 cm


Diameter ayakan 30 mesh = 0,0595 cm
Diameter ayakan 40 mesh = 0,04 cm
Diameter ayakam 60 mesh = 0,025 cm

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
14
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

IV.2 Tabel Hasil Perhitungan dan Perhitungan


IV.2.1 Tabel Hasil Perhitungan
Mesh Berat Fraksi D D3 Massa Partikel Ni X/D X/D3 X/C.D3
Partikel
(X) (inchi) (inchi3) (gram)
(N)

Bahan 10 50 0,0714 0,0787 4,874x10-4 2,71x10-4 13173,4 0,90724 146,49 280,099

Jinten 30 520 0,7429 0,0232 1,248x10-5 6,94x10-5 5566397,7 32,0216 59527,24 113818

600gram 40 40 0,0571 0,0165 4,492x10-6 2,5x10-6 913600 3,4606 12711,49 24304,9

60 30 0,0429 0,0098 9,411x10-7 5,24x10-7 2456106,87 4,37755 45584,95 87160,5


Oversize

60 60 0,0857 0,0098 9,411x10-7 5,243x10-7 9812977,1 38,7449 169,2839 323,679


Undersize

Jumlah 700 1 0,138 5,062x10-4 2,82x10-4 18762255, 49,5118 118139,5 225888


1

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
15
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

IV.2.2 Perhitungan

1. Fraksi Massa (X)

Fraksi massa partikel =

a. Oversize pada screen 10 mesh =

b. Oversize pada screen 30 mesh =

c. Oversize pada screen 40 mesh =

d. Oversize pada screen 60 mesh =

e. Undersize pada screen 60 mesh =

2. Presentase Massa
Presentase massa = fraksi massa x 100%

a. Oversize pada screen 10 mesh = 0,0714 x 100% = 7,14 %

b. Oversize pada screen 30 mesh = 0,7429 x 100% = 74,29 %

c. Oversize pada screen 40 mesh = 0,0571 x 100% = 5,71 %

d. Oversize pada screen 60 mesh = 0,0429 x 100% = 4,29 %

e. Undersize pada screen 60 mesh = 0,0857 x 100% = 8,57%

Presentase massa total = Oversize 10 + Oversize 30 + Oversize 40 + Oversize 60

Undersize 60

= 7,14% + 74,29% + 5,71% + 4,29% + 8,57%

= 100%
LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
16
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

3. Massa Partikel

Oversize pada screen 10 mesh = x C x D3

= 1,064 x 0,523 x 4,874 x 10-4

= 2,71x10-4 gram

Oversize pada screen 30 mesh = x C x D3

= 1,064 x 0,523 x 1,248 x 10-5

= 6,94 x10-6 gram

Oversize pada screen 40 mesh = x C x D3

= 1,064 x 0,523 x 4,492 x 10-6

= 2,5 x10-6 gram

Oversize pada screen 60 mesh = x C x D3

= 1,064 x 0,523 x 9,411 x 10-7

= 5,24 x10-7 gram

Undersize pada screen 60 mesh = x C x D3

= 1,064 x 0,523 x 9,411 x 10-7

= 5,24 x10-7 gram

Massa partikel total = Oversize 10 + Oversize 30 + Oversize 40 + Oversize 60

Undersize 60

= 2,71x10-4 + 6,94 x10-5 + 2,5 x10-6 + 5,24 x10-7 +


5,24 x10-7

= 2,82 x10-4 gram


LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
17
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

4. Jumlah Partikel (Ni)

Jumlah partikel =

a. Oversize pada screen 10 mesh = = 13173,4

b. Oversize pada screen 30 mesh = = 5566397,7

c. Oversize pada screen 40 mesh = = 913600

d. Oversize pada screen 60 mesh = = 2456106,87

e. Undersize pada screen 60 mesh = = 9812977,1

Jumlah partikel total = Oversize 10 + Oversize 30 + Oversize 40 + Oversize 60

Undersize 60

= 18762255,1

5. D average

a.

= 0,05095 inchi

b.

= 0,01985 inchi

c.

= 0,01315 inchi

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
18
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

6. TAAD =

= = 7,35519 x 10-9

7. Mean surface diameter(Dp) =

= 0,02047

8. Mean volume diameter(Dv) =

= 0,02014

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
19
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

IV.3 Grafik

(Tidak ada)

IV. 4 Pembahasan
Percobaan pemisahan butiran padatan bertujuan untuk memisahkan
kemudian mengelompokkan butiran padatan sesuai ukuran yang dikehendaki
untuk kemudian diayak dengan menggunakan screen yang ukuran meshnya lebih
besar ataupun diproses dengan menggunakan proses lain. Selain itu, melalui
praktikum ini praktikan akan mampu menghitung fraksi massa undersize dan
oversize sehingga dapat mengetahui total fraksinya serta untuk mencegah
masuknya produk oversize ke pengolahan berikutnya (secondary crushing) dan
mencegah masuknya undersize ke permukaan.
Bahan yang digunakan dalam percobaan adalah jinten yang telah
dihaluskan dengan berat 700 gram yang diayak di atas ayakan dengan mesh yang
berbeda-beda. Semakin besar ukuran mesh, maka semakin kecil partikel bubuk
jinten yang didapat, begitu pula sebaliknya. Jinten diayak dengan menggunakan
screen berukuran 10 mesh kemudian ditimbang produk oversizenya. Produk
undersize dari ayakan 10 mesh diayak lagi dengan menggunakan ayakan 30 mesh
dan ditimbang produk oversizenya sedangkan produk undersizenya diayak lagi
dengan screen berukuran 40 mesh dan ditimbang berat oversizenya, produk
undersizenya diayak lagi dengan screen berukuran 60 mesh dan ditimbang berat
oversize dan undersizenya.
Setelah dilakukan pengayakan didapat produk jinten yang sangat halus
dengan ukuran yang seragam. Didapat fraksi massa pada produk oversize ayakan
10 mesh sebesar 0,0714 Pada produk ayakan 30 mesh sebesar 0,7429. Pada
produk oversize ayakan 40 mesh sebesar 0,0571. Pada oversize ayakan 60 mesh
sebesar 0,0429 serta pada produk undersize ayakan 60 mesh sebesar 0,0857.
Sehingga didapat total fraksi sebesar 1. Persentase yang didapat dari oversize 60
mesh, oversize 40 mesh, oversize 60 mesh dan undersize 60 mesh berturut-turut
LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
20
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

sebesar 7,14%, 7,429%, 5,71%, 4,29% dan 8,57% sehingga didapat total
persentase sebesar 100%.
Neraca massa berlaku pada percobaan pengukuran butiran padatan ini
dimana massa jinten yang masuk haruslah sama dengan massa jinten yang keluar.
Sehingga harus didapat produk jinten yang keluar sebanyak 700 gram. Jika tidak
didapat produk jinten yang sama dengan massa jinten yang masuk maka dapat
dipengaruhi oleh kesalahan praktikan saat pengayakan seperti ada jinten yang
tumpah saat pengayakan ataupun ada sebagian jinten yang menempel pada screen.

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
21
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
1. Semakin besar ukuran mesh pada screen maka semakin banyak pula partikel
yang ukurannya sangat kecil dapat menjadi produk undersize sehingga produk
yang didapatkan semakin banyak dan ukurannya lebih seragam.
2. Semakin kecil ukuran mesh pada screen maka semakin sedikit produk jinten
sebagai undersize yang didapatkan.
3. Fraksi massa paling tinggi terdapat pada ayakan 30 mesh yaitu sebesar 0,7429.
V.2 Saran
1. Pada saat melakukan penimbangan seharusnya praktikan lebih teliti agar tidak
mengakibatkan kesalahan perhitungan.
2. Sebaiknya praktikan berhati-hati saat melakukan pengayakan agar tidak ada
produk undersize yang tumpah berceceran.
3. Sebaiknya praktikan memahami konsep dasar screening sehingga mampu
mengambil kesimpulan yang sesuai dengan teori.

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
22
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. jual pasir silika di cilegon . (http://azzamfa ujimadiri1.blogspot


.co.id/2015/04/jual-pasir-silika-di-cilegon.html). diakses pada tanggal 12
Maret 2017 pukul 09.22 WIB

Anonim. 2017. Sieve. (https://en.wikipedia.org/wiki/Sieve). Diakses pada 12


Maret 2017 pukul 09.15 WIB

Faradhyta, dhyta. 2011. serealia dan kacang-kacangan. (http://dithafaradytha


.blogspot.co.id/2011/10/serealia-dan-kacang-kacangan.html). diakses pada
tanggal 12 Maret 2017 pukul 10.20 WIB

Juliyanto, wahyu . 2015. pengertian screening (pengayakan).


(https://tambangumb13.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-screening-
pengayakan.html). Diakses pada 12 Maret 2017 pukul 10.00 WIB

McCabe, Waren L, dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga

McCabe, Waren L, dkk. 1993. Operasi Teknik Kimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
23
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
PENGUKURAN BUTIRAN PADATAN

APPENDIX

Fraksi Massa (X)

Fraksi massa partikel =

a. Oversize pada screen 10 mesh =

b. Oversize pada screen 30 mesh =

c. Oversize pada screen 40 mesh =

d. Oversize pada screen 60 mesh =

e.Undersize pada screen 60 mesh =

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
24