Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN

A. PENGERTIAN
1. Pengertian Aman dan Nyaman
a. Nyaman adalah keadaan ketika individu mengalami sensasi yang tidak
menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang
berbahaya. (Lynda Juall Carpenito-Moyet edisi 10).
b. Kolcaba (1992, dalam Potter & Perry, 2006) megungkapkan
kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu
kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan
(kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang sesuatu
yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang secara
holistik yang mencakup empat aspek yaitu:
1) Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.
2) Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan
sosial.
3) Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam
diri sendiri yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna
kehidupan).
4) Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman
eksternal manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna, dan
unsur alamiah lainnya.
Secara umum dalam aplikasinya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman
adalah kebutuhan rasa nyaman bebas dari rasa nyeri, dan hipo/hipertermia.
Hal ini disebabkan karena kondisi nyeri dan hipo/hipertermia merupakan
kondisi yang mempengaruhi perasaan tidak nyaman pasien yang ditunjukan
dengan timbulnya gejala dan tanda pada pasien.
c. Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan psikologis atau
bisa juga keadaan aman dan tentram yang merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Lingkungan pelayanan
kesehatan dan komunitas yang aman merupakan hal yang penting untuk
kelangsungan hidup klien. (Potter&Perry edisi 4 volume 2, 2006)
d. Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar
dari ancaman bahaya/kecelakaan. Pemenuhan kebutuhan keamanan dan
keselamatan dilakukan untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan baik
pada pasien, perawat, atau petugas lainnya yang bekerja untuk
pemenuhan kebutuhan tersebut. (Potter & Perry, 2006).

2. Gangguan Rasa Nyaman Akibat Nyeri


a. Pengertian Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial
(Smatzler & Bare, 2002). Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan
pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam
kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan IASP (dalam Potter & Perry,
2006). Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri
tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa
nyeri (Mc Caffery dalam Potter & Perry, 2006).
Nyeri adalah nyeri sangat tidak menyenangkan dan merupakan
sensasi yang asangat personal yang tidak dapat dibagi dengan orang lain.
Nyeri dapat memenuhi pikiran seseorang. Namun nyeri adalah konsep
yang sulit untuk dikomunikasikan oleh seorang klien. Nyeri lebih dari
sekedar sebuah gejala:nyeri merupakan masalah yang memiliki prioritas
tinggi. Nyeri menandakan bahaya fisiologis dan psikologis bagi kesehatan
dan pemulihan. Nyeri berat dianggap sebagai situasi darurat yang patut
mendapat perhatian dan penanganan yang tepat.
Nyeri dapat diklasifikasikan menjadi nyeri akut dan nyeri kronis.
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit atau
intervensi bedah dan memiliki awitan yang cepat, dengan intensitas yang
bervariasi ( ringan sampai berat) dan berlangsung singkat ( kurang dari
enam bulan dan menghilang dengan atau tanpa pengobatan setelah
keadaan pulih pada area yang rusak. Nyeri kronis adalah nyeri konstan
atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri yang
disebabkan oleh adanya kausa keganasan seperti kanker yang tidak
terkontrol atau non keganasan. Nyeri kronik berlangsung lama (lebih dari
enam bulan ) dan akan berlanjut walaupun pasien diberi pengobatan atau
penyakit tampak sembuh. Karakteristik nyeri kronis adalah area nyeri
tidak mudah diidentifikasi, intensitas nyeri sukar untuk diturunkan, rasa
nyeri biasanya meningkat, sifat nyeri kurang jelas, dan kemungkinan kecil
untuk sembuh atau hilang. Nyeri kronis non maligna biasanya dikaitkan
dengan nyeri akibat kerusakan jaringan yang non progresif atau telah
mengalami penyembuhan.
b. Sifat Nyeri
Walaupun nyeri merupakan sebuah pengalaman universal,sifat
pastinya tetap menjadi sebuah misteri. Diketahui bahwa nyeri sangat
bersifat subjektif dan individual dan bahwa nyeri merupakan salah satu
mekanisme pertahanan tubuh yang menandakan adanya masalah. Nyeri
yang tidak ditangani menyebabkan bahaya fisiologis dan psikologis bagi
kesehatan dan penyembuhannya.
c. Fisiologi Nyeri
Menurut Potter & Perry (2006), terdapat tiga komponen fisiologis
dalam nyeri yaitu resepsi, persepsi, dan reaksi. Stimulus penghasil nyeri
mengirimkan impuls melalui serabut saraf perifer. Serabut nyeri
memasuki medula spinalis dan menjalani salah satu dari beberapa rute
saraf dan akhirnya sampai di dalam masa berwarna abu-abu di medula
spinalis. Terdapat pesan nyeri dapat berinteraksi dengan sel-sel saraf
inhibitor, mencegah stimulus nyeri sehingga tidak mencapai otak atau
ditransmisi tanpa hambatan ke korteks serebral, maka otak
menginterpretasi kualitas nyeri dan memproses informasi tentang
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki serta asosiasi kebudayaan
dalam upaya mempersiapkan nyeri.
d. Teori Pengontrolan Nyeri (Gate Kontrol)
Teori Gate Kontrol dari Melzack dan Wall (1965), mengusulkan
bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme
pertahanan disepanjang sistem saraf pusat. Mekanisme pertahanan dapat
ditemukan di sel-sel gelatinosa substansia di dalam kornu dorsalis pada
medula spinalis, talamus, dan sistem limbik. Suatu keseimbangan aktivitas
dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur
proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi P untuk
menstransmisikan impuls melalui mekanisme petahanan. Neuron beta-A
yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter
penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A,
maka akan menutup mekanisme pertahanan. Apabila masukan yang
dominan berasal dari serabut delta-A dan serabut C, maka akan membuka
pertahanan tersebut dan klien akan mempersepsikan nyeri.
Saat impuls diantarkan ke otak, terdapat pusat korteks yang lebih
tinggi di otak yang memodifikasi persepsi nyeri. Alur saraf desenden
melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh
nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromodulator ini menutup
mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P.
e. Respon Terhadap Nyeri
1) Respon fisiologis
Pada saat impuls nyeri naik ke medula spinalis menuju ke batang
otak dan talamus, sistem saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai
bagian dari respon stres. Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang
dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi flight-atau-fight,
yang merupakan sindrom adaptasi umum. Stimulasi pada cabang
simpatis pada sistem saraf otonom menghasilkan respon fisiologis.
Apabila nyeri berlangsung terus-menerus secara tipikal akan
melibatkan organ-organ viseral, sistem saraf parasimpatis
menghasilkan suatu aksi. Respon fisiologis terhadap nyeri sangat
membahayakan individu. Kecuali pada kasus-kasus nyeri berat yang
menyebabkan individu mengalami syok, kebanyakan individu
mencapai tingkat adaptasi, yaitu tanda-tanda fisik kembali normal.
Dengan demikian klien yang mengalami nyeri tidak akan selalu
memperlihatkan tanda-tanda fisik.
2) Respon Perilaku
Sensasi nyeri terjadi ketika merasakan nyeri. Gerakan tubuh
yang khas dan ekspresi wajah yang mengindikasikan nyeri dapat
ditunjukkan oleh pasien sebagai respon perilaku terhadap nyeri.
Respon tersebut seperti mengkerutkan dahi, gelisah, memalingkan
wajah ketika diajak bicara.
f. Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri
1) Usia
Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri,
khususnya pada anak-anak dan lansia. Anak kecil mempunyai
kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang
menyebabkan nyeri. Anak-anak juga mengalami kesulitan secara
verbal dalam mengungkapkan dan mengekspresikan nyeri. Sedangkan
pasien yang berusia lanjut, memiliki resiko tinggi mengalami situasi
yang membuat mereka merasakan nyeri akibat adanya komplikasi
penyakit dan degeneratif.
2) Jenis kelamin
Beberapa kebudayaan yang mempengaruhi jenis kelamin
misalnya menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus berani dan
tidak boleh menangis, sedangkan anak perempuan boleh menangis
dalam situasi yang sama. Namun secara umum, pria dan wanita tidak
berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri.
3) Kebudayaan
Beberapa kebudayaan yakin bahwa memperlihatkan nyeri adalah
sesuatu yang alamiah. Kebudayaan lain cenderung untuk melatih
perilaku yang tertutup (introvert). Sosialisasi budaya menentukan
perilaku psikologis seseorang. Dengan demikian hal ini dapat
mempengaruhi pengeluaran fisiologis opial endogen sehingga
terjadilah persepsi nyeri.
4) Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri berbeda-beda apabila nyeri
tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan
tantangan. Makna nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara
seseorang beradaptasi terhadap nyeri.
5) Perhatian
Tingkat seorang pasien memfokuskan perhatiannya pada nyeri
dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat
dihubungkan dengan nyeri yang meningkat sedangkan upaya
pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang
menurun.
6) Ansietas
Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri tetapi nyeri
juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Apabila rasa cemas
tidak mendapat perhatian dapat menimbulkan suatu masalah
penatalaksanaan nyeri yang serius.

7) Keletihan
Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan
menurunkan kemampuan koping sehingga meningkatkan persepsi
nyeri.
8) Pengalaman sebelumnya
Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri sebelumnya
namun tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima
nyeri dengan lebih mudah di masa datang.
9) Gaya koping
Individu yang memiiiki lokus kendali internal mempersepsikan
diri mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan
mereka dan hasil akhir suatu peristiwa seperti nyeri. Sebaliknya,
individu yang memiliki lokus kendali eksternal mempersepsikan
faktor lain di dalam lingkungan mereka seperti perawat sebagai
individu yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir suatu peristiwa.
10) Dukungan keluarga dan sosial
Kehadiran orang-orang terdekat pasien dan bagaimana sikap
mereka terhadap pasien mempengaruhi respon nyeri. Pasien dengan
nyeri memerlukan dukungan, bantuan dan perlindungan walaupun
nyeri tetap dirasakan namun kehadiran orang yang dicintai akan
meminimalkan kesepian dan ketakutan.
g. Perbedaan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis
NYERI AKUT NYERI KRONIS

1. Ringan sampai berat 1. Ringan sampai berat


2. Respons sistem saraf simpatik : 2. Respons sistem saraf
a. Peningkatan denyut nadi parasimpatik :
b. Peningkatan frekuensi a. Tanda-tanda vital normal
pernapasan b. Kulit kering,hangat
c. Peningkatan tekanan darah c. Pupil normal atau dilatasi
3. Klien tampak gelisah dan cemas d. Terus berlanjut setelah
4. Klien menunjukkan perilaku yang penyembuhan
mengindikasikan rasa nyeri : 3. Klien tampak depresi dan
menangis,menggosok area menarik diri
nyeri,memegang area nyeri 4. Klien sering kali tidak
5. Terlokalisasi menyebutkan rasa nyeri kecuali
6. Tajam : seperti ditusuk, disayat, di ditanya
cubit, dll 5. Menyebar
6. Tumpul : ngilu,linu,nyeri,dll
Tabel 1 : perbedaan nyeri akut dan nyeri kronis

h. Pengukuran Nyeri
a. Skala Deskriptif
Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS)
merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata
pendeskripsian yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang
garis. Pendeskripsi ini dirangking dari tidak terasa nyeri sampai
nyeri yang tidak tertahankan.
b. Skala penilaian numerik
Numerical Rating Scale (NRS) menilai nyeri dengan
menggunakan skala 0-10. Skala ini sangat efektif untuk digunakan saat
mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik.
c. Skala Analog Visual
Visual Analog Scale (VAS) merupakan suatu garis lurus yang
mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberikan
kebebasan penuh pada pasien untuk mengidentifikasi keparahan nyeri.
Untuk mengukur skala nyeri pada pasien pra operasi
apendisitis, peneliti menggunakan skala nyeri numerik. Karena skala
nyeri numerik paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri
sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi progresif. Selain itu
selisih antara penurunan dan peningkatan nyeri lebih mudah diketahui
dibanding skala yang lain.

B. TANDA DAN GEJALA


1. Ansietas
Menurut NANDA, 2012 batasan karakteristik dari ansietas adalah :
Batasan karakteristik
a. Perilaku
1) Penurunan produksivitas
2) Gerakan yang irelevan
3) Melihat sepintas
4) Insomnia
5) Kontak mata yang buruk
6) Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa hidup
7) Agitasi
8) Mengintai
9) Tampak waspada
b. Afektif
1) Gelisah
2) Kesedihan yang mendalam
3) Distress
4) Ketakutan
5) Perasaan adekuat
6) Berfokus pada diri sendiri
7) Peningkatan kewaspadaan
8) Iritabilitas
9) Gugup
10) Senang berlebihan
11) Rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan
12) Peningkatan rasa ketidakberdayaan yang persisten
13) Bingung
14) Menyesel
15) Ragu/tidak percaya diri
16) Khawatir
c. Fisiologis
1) Wajah tegang
2) Tremor tangan
3) Peningkatan keringat
4) Gemetar
5) Tremor
6) Suara bergetar
d. Simpatik
1) Anoreksia
2) Eksitasi kardiovaskuler
3) Diare
4) Mulut kering
5) Wajah merah
6) Jantung berdebar debar
7) Peningkatan tekanan pembuluh darah
8) Peningkatan denyut nadi
9) Peningkatan reflek
10) Peningkatan frekuensi pernapasan
11) Pupil melebar
12) Kesulitan bernapas
13) Vasokontriksi superficial
14) Kedutan pada otot
15) Lemah
e. Parasimpatik
1) Nyeri abdomen
2) Penurunan tekanan darah
3) Penurunan denyut nadi
4) Diare
5) Vertigo
6) Letih
7) Mual
8) Gangguan tidur
9) Kesemutan pada ekstremitas
10) Sering berkemih
11) Anyang anyangan
12) Dorongan segera berkemih
f. Kognitif
1) Menyadari gejala fisiologis
2) Bloking pikiran
3) Konfrusi
4) Penurunan lapang persepsi
5) Kesulitan berkonsentrasi
6) Penurunan kemampuan untuk belajar
7) Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah
8) Ketakutan terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
9) Lupa
10) Gangguan perhatian
11) Khawatir
12) Melamun
13) Cenderung orang lain

2. Nyeri akut
Menurut NANDA, 2012 batasan karakteristik dari nyeri akut adalah :
Batasan karakteristik
a. Perubahan selera makan
b. Perubahan tekanan darah
c. Perubahan frekuensi jantung
d. Perubahan frekuensi pernapasan
e. Laporan isyarat
f. Diaphoresis
g. Perilaku distraksi (mis., berjalan mondar mandir, mencari orang lain dan/ aktivitas
lain, aktivitas yang berulang)
h. Mengekpresikan perilaku (mis., gelisah, merengek, menangis, waspada, iritabilitas,
mendesah)
i. Masker wajah (mis., mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan mata berpencar
atau tetap pada satu focus, meringis)
j. Sikap melindungi area nyeri
k. Fokus menyempit (mis., gangguan persepsi nyeri, hambatan proses berpikir,
penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
l. Indikasi nyeri yang dapat diamati
m. Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
n. Sikap tubuh melindungi
o. Dilatasi pupil
p. Melaporkan nyeri secara verbal
q. Fokus pada diri sendiri
r. Gangguan tidur
3. Nyeri kronis
Menurut NANDA, 2012 batasan karakteristik dari nyeri kronis adalah :
Batasan karakteristik
a. Hambatan kemampuan meneruskan aktivitas sebelumnya
b. Anoreksia
c. Atrofi kelompok otot yang terserang
d. Perubahan pola tidur
e. Skala keluhan (mis., penggunaan skala nyeri)
f. Dedresi
g. Masker wajah (mis., mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan mata terpencar
atau tetap meringis)
h. Letih
i. Takut terjadi cedera berulang
j. Sikap melindungi area nyeri
k. Iritabilitas
l. Perilaku protektif yang dapat diamati
m. Penurunan interaksi dengan orang lain
n. Keluhan nyeri
o. Gelisah
p. Berfokus pada diri sendiri
q. Respon yang diperantarai saraf simpatis (mis., suhu dingin, perubahan posisi tubuh,
hipersensitivitas)
4. Ketidakberdayaan
Menurut NANDA, 2012 batasan karakteristik dari ketidakberdayaan adalah :
Batasan karakteristik
a. Bergantung pada orang lain
b. Defresi karena gangguan fisik
c. Tidak berpartisipasi dalam perawatan
d. Menyatakan asing
e. Menyatakan keraguan tenmtang kinerja peran
f. Menyatakan frustasi terhadap ketidakmampuan untuk melaksanakan aktivitas
sebelumnya
g. Menyatakan kurang control
h. Menyatakan rasa malu
5. Ketidakefektifan Koping
Menurut Lynda Juall Carpenito-Moyet,2012 batasan karakteristik dari ketidakefektifan
koping adalah sebagai berikut
a. Mayor (Harus ada, satu atau lebih)
1) Pernyataan ketidakmampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan
2) Penggunaan mekanisme pertahanan yang tidak sesuai
3) Ketidakmampuan memenuhi peran yang diharapkan
4) Perilaku destruktif terhadap diri sendiri atau orang lain
b. Minor (Mungkin ada)
1) Rasa khawatir kronis, ansietas
2) Melaporkan kesulitan menghadapi stress kehidupan
3) Ketidakefektifan partisipasi sosial
4) Manipulasi verbal
5) Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
6) Pola respons nonasertif
7) Perubahan dalam pola komunikasi yang biasa
6. Hambatan Mobilitas Fisik
Batasan karakteristik
a. Penurunan waktu reaksi
b. Kesulitan membolak balik posisi
c. Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan (mis., meningkatkan
perhatian pada aktivitas orang lain, mengendalikan perilaku, focus pada
ketunadayaan/aktivitas sebelum sakit)
d. Dispnea setelah beraktivitas
e. Perubahan cara berjalan
f. Gerakan bergetar
g. Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik halus
h. Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik kasar
i. Keterbatasan rentang pergerakan sendi
j. Tremor akibat pergerakan
k. Ketidakstabilan postur
l. Pergerakan lambat
m. Pergerakan tidak terkoordanisi

7. Disfungsi seksual
Batasan karakteristik
a. Keterbatasan aktual akibat penyakit
b. Keterbatasan aktual akibat terapi
c. Perubahan dalam mencapai persepsi peran seks
d. Perubahan dalam mencapai kepuasan seks
e. Perubahan minat terhadap orang lain
f. Perubahan minat terhadap diri sendiri
g. Ketidakmampuan mencapai kepuasan yang diharapkan
h. Persepsi perubahan pada rangsangan seksual
i. Persepsi defisiensi hasrat seksual
j. Persepsi keterbatasan akibat penyakit
k. Persepsi keterbatasan akibat terapi
l. Mencari konfirmasi tentang kemampuan mencapai hasrat seksual
m. Mengungkapkan masalah
8. Gangguan Pola Tidur
a. Dewasa
1) Data Mayor : Kesulitan untuk tertidur atau tetap tidur
2) Data Minor
a) Keletihan saat bangun atau letih sepanjang hari
b) Perubahan mood
c) Agitasi
d) Mengantuk sepanjang hari
b. Anak
1) Gangguan pada anak sering kali dihubungkan dengan ketakutan, enuresis, atau
respons tidak konsisten dari orang tua terhadap permintaan anak untuk mengubah
peraturan dalam tidur seperti permintaan untuk tidur larut malam.
2) Keengganan untuk istirahat, keinginan untuk tidur bersama orang tua.
3) Sering bangun saat malam hari.
C. POHON MASALAH BERDASARKAN PATOFISIOLOGI

er
Mekanik Stimulus Nyeri Kram abdomen,
1. Kerusakan diare, muntah
integumen
2. trauma jaringan
3. perubahan Tumor/kanker Termal Dingin
Spasme otot

Impuls Nyeri Panas


0 : Tidak Nyeri

Saraf Perifer Konsus dorsalis 1-3 : Nyeri Ringan

4-6 : Nyeri Sedang


Medulla spinalis
7-9 : Nyeri Berat Terkontrol

10 : Nyeri Berat Tak Terkontrol


Thalamus

Korteks serebri
Resistensi ketidakseimbangan Skala nyeri
nutrisi
Timbul nyeri
Krisis situasi
Gangguan tidur
Akibat nyeri
Keterbatasan
Ruang
Defisit perawatan
Perubahan nafsu Gangguan
diri (ADL)
makan mobilitas

Gambar 1 : Pathway gangguan rasa aman dan nyaman


D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Riwayat Penyakit dan Keluhan
Pada riwayat penyakit, penting ditentukan dahulu keluhan utama
misalnya nyeri, rasa baal, kelemahan dan lokasi keluhan. Ditanyakan pula
aktivitas maupun posisi kepala yang meningkatkan maupun mengurangi
keluhan,maupun adanya riwayat cedera.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi :
a. Observasi, perhatikan sikap tubuh pasien saat menanyakan riwayat
penyakit
b. Palpasi, pada palpasi, apabila didapatkan kekakuan dan nyeri pada
sisi otak maupun radiks saraf yang terkena, dapat pula disertai
hipertonus maupun spasme pada sisi otot yang nyeri
c. Pemeriksaan USG untuk data penunjang apabila ada nyeri tekan di
abdomen
d. Rontgen untuk mengetahui tulang atau organ yang abnormal
e. Pemeriksaan lab sebagai data penunjang
f. Ct- Scan ( cedera kepala ) untuk mengetahui adanya pembuluh
darah yang pecah di otak

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Farmakologi
Pemberian obat analgesik, yang dilakukan guna mengganggu atau
memblok transmisi stimulus agar terjadi perubahan persepsi dengan cara
mengurangi kortikal terhadap nyeri. Jenis analgesiknya adalah narkotika
dan bukan narkotika.
a. Analgesik Narkotik
Jenis narkotika digunakan untuk menurunkan tekanan darah
dan menimbulkan depresi pada fungsi vital,seperti respirasi.
Analgesik narkotik terdiri dari berbagai derivate opium seperti
morfin dan kodein. Narkotik dapat memberikan efek penurunan
nyeri dan kegembiraan karena obat ini mengadakan ikatan dengan
reseptor opiat dan mengaktifkan penekan nyeri endogen pada
susunan saraf pusat (Tamsuri, 2007). Namun, penggunaan obat ini
menimbulkan efek menekan pusat pernafasan di medulla batang
otak sehingga perlu pengkajian secara teratur terhadap perubahan
dalam status pernafasan jika menggunakan analgesik jenis ini
(Smeltzer & Bare, 2001).
b. Analgesik Non Narkotik
Jenis bukan narkotika yang paling banyak dikenal di
masyarakat adalah aspirin,asetaminofen,dan bahan antiinflamasi
nonsteroid. Golongan aspirin digunakan untuk memblok
rangsangan pada sentral dan perifer,kemungkinan menghambat
sintesis prostagladin yang memiliki khasiat setelah 15 sampai 20
menit dengan efek puncak obat sekitar 1-2 jam. Aspirin juga
menghambat agregasi trombosit dan antagonis lemah terhadap
vitamin K, sehingga dapat meningkatkan waktu perdarahan dan
protombin bila diberikan dalam dosis yang tinggi.
Analgesik non narkotik seperti aspirin, asetaminofen, dan
ibuprofen selain memiliki efek anti nyeri juga memiliki efek anti
inflamasi dan anti piretik. Obat golongan ini menyebabkan
penurunan nyeri dengan menghambat produksi prostalglandin dari
jaringan yang mengalami trauma atau inflamasi (Smeltzer & Bare,
2001). Efek samping yang paling umum terjadi adalah gangguan
pencernaan seperti adanya ulkus gaster dan perdarahan gaster.
2. Non Farmakologi
a. Relaksasi progresif
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari
ketegangan stres. Teknik relaksasi memberikan individu kontrol
diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri, stres fisik, dan
emosi pada nyeri (Potter & Perry, 2006). Pasien dianjurkan untuk
menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara,
menghembuskannya secara perlahan, melemaskan otot-otot tangan,
kaki, perut, dan punggung, serta mengulangi hal yang sama sambil
terus berkonsentrasi hingga didapat rasa nyaman, tenang, dan
rileks.
c. Stimulasi Kutaneus Plasebo
Plasebo merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam
bentuk yang dikenal oleh klien sebagai obat seperti kapsul, cairan
injeksi, dan sebagainya. Placebo umumnya terdiri dari larutan gula,
larutan salin normal, atau air biasa (Tamsuri, 2007).
d. Teknik Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan nyeri
dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal yang lain
sehingga pasien akan lupa terhadap nyeri yang dialami ( Priharjo,
1996 ). Teknik ini dapat dilakukan dengan cara menonton televisi,
berbincang-bincang dengan orang lain dan mendengarkan musik.
e. Stimulasi Kulit
1) Menggosok dengan halus pada daerah nyeri
2) Menggosok punggung
3) Menggunakan air hangat dan dingin
4) Memijat dengan air mengalir
f. Mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri, misalnya
ketidakpercayaan, kesalahpahaman, ketakutan, kelelahan, dan
kebosanan
1) Ketidakpercayaan. Pengakuan perawat akan rasa nyeri yang
diderita pasien dapat mengurangi nyeri. Hal ini dapat
dilakukan melalui pernyataan verbal, mendengarkan
dengan penuh perhatian mengenai keluhan nyeri pasien,
dan mengatakan kepada pasien bahwa perawat mengkaji
rasa nyeri pasien agar dapat lebih memahami tentang
nyerinya.
2) Kesalahpahaman. Mengurangi kesalahpahaman pasien
tentang nyerinya akan mengurangi nyeri. Hal ini dilakukan
dengan memberitahu pasien bahwa nyeri yang dialami
sangat individual dan hanya pasien yang tahu secara pasti
tentang nyerinya.
3) Ketakutan. Memberikan informasi yang tepat dapat
mengurangi ketakutan pasien dengan menganjurkan pasien
untuk mengekpresikan bagaimana mereka menangani nyeri.
4) Kelelahan. Kelelahan dapat memperberat nyeri. Untuk
mengatasinya,kembangkan pola aktivitas yang dapat
memberikan istirahat yang cukup
5) Kebosanan. Kebosanan dapat meningkatkan rasa nyeri.
Untuk mengurangi nyeri dapat digunakan pengalih
perhatian yang bersifat terapiutik. Beberapa teknik pengalih
perhatian adalah bernapas pelan dan berirama,memijat
secara perlahan,menyanyi berirama,aktif mendengarkan
musik,membayangkan hal-hal yang menyenangkan .

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Respon yang mungkin muncul :
1. DS
a. Pasien mengeluh tidak nyaman
b. Pasien mengeluh nyeri
2. DO
a. Respon otonom pada nyeri akut
b. Wajah menahan nyeri
c. Perut kembung
d. Mual, muntah
e. Malaise / anoreksia
Riwayat pengkajian nyeri :
1. Provoking ( pencetus )
2. Quality ( kualitas )
3. Region ( lokasi )
4. Severe ( derajat beratnya )
5. Timing ( durasi )
Hal yang perlu dikaji :
1. Lokasi untuk menentukan lokasi nyeri yang spesifik, minta klien
untuk menunjukkan area nyerinya
2. Intensitas nyeri, metode ini mudah dan terpercaya untuk
menentukan intensitas nyeri pasien
3. Kualitas nyeri, perawat perlu mencatat kata-kata pasien untuk
menggunakan pasien untuk menggambarkan nyerinya
4. Pola perawat perlu mengkaji kapan nyeri dimulai, berapa lama
nyeri berlangsung, apakah nyeri berulang, dan kapan nyeri terakhir
muncul
Faktor presipitasi, terkadang aktivitas tertentu dapat memicu munculnya nyeri,
contohnya aktivitas fisik yang berat dapat menimbulkan nyeri dada selain itu,
faktor lingkungan sangat dingin atau panas, stressor fisik dan emosional juga
dapat memicu munculnya nyeri.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas
a. Definisi
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar
disertai respons otonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu) ; perasaan takut yang disebabkan oleh
antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan
yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan
individu untuk bertindak menghadapi bencana (NANDA, 2012).
b. Batasan Karakteristik
Menurut NANDA,2012 batasan karakteristik dari ansietas adalah
sebagai berikut
1) Perilaku
a) Penurunan produktivitas
b) Gerakan yang irelevan
c) Gelisah
d) Melihat sepintas
e) Insomnia
f) Kontak mata yang buruk
g) Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam
peristiwa hidup
h) Agitasi
i) Mengintai
j) Tampak waspada
2) Afektif
a) Gelisah
b) Kesedihan yang mendalam
c) Distress
d) Ketakutan
e) Perasaan tidak adekuat
f) Berfokus pada diri sendiri
g) Peningkatan kewaspadaan
h) Iritabilitas
i) Gugup
j) Senang berlebihan
k) Rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan
l) Peningkatan rasa ketidakberdayaan yang persisten
m) Bingung
n) Menyesal
o) Ragu/tidak percaya diri
p) Khawatir
3) Fisiologis
a) Wajah tegang
b) Tremor tangan
c) Peningkatan keringat
d) Peningkatan ketegangan
e) Gemetar
f) Tremor
g) Suara bergetar
4) Simpatik
a) Anoreksia
b) Eksitasi kardiovaskuler
c) Diare
d) Mulut kering
e) Wajah merah
f) Jantung berdebar-debar
g) Peningkatan tekanan darah
h) Peningkatan denyut nadi
i) Peningkatan reflex
j) Peningkatan frekuensi pernapasan
k) Pupil melebar
l) Kesulitan bernapas
m) Vasokonstriksi superficial
n) Kedutan pada otot
o) Lemah
5) Parasimpatik
a) Nyeri abdomen
b) Penurunan tekanan darah
c) Penurunan denyut nadi
d) Diare
e) Vertigo
f) Letih
g) Mual
h) Gangguan tidur
i) Kesemutan pada ekstremitas
j) Sering berkemih
k) Anyang-anyangan
l) Dorongan segera berkemih
6) Kognitif
a) Menyadari gejala fisiologis
b) Bloking pikiran
c) Konfusi
d) Penurunan lapang persepsi
e) Kesulitan berkonsentrasi
f) Penurunan kemampuan untuk belajar
g) Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah
h) Ketakutan terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
i) Lupa
j) Gangguan perhatian
k) Khawatir
l) Melamun
m) Cenderung menyalahkan orang lain
c. Faktor yang Berhubungan
Menurut NANDA 2012-2014 faktor yang berhubungan dari ansietas
adalah sebagai berikut
1) Perubahan dalam :
a) Status ekonomi
b) Lingkungan
c) Status kesehatan
d) Pola interaksi
e) Fungsi peran
f) Status peran
2) Pemajanan toksin
3) Terkait keluarga
4) Herediter
5) Infeksi/kontaminan interpersonal
6) Penularan penyakit interpersonal
7) Krisis maturasi
8) Krisis situasional
9) Stress
10) Penyalahgunaan zat
11) Ancaman kematian
12) Ancaman pada :
a) Status ekonomi
b) Lingkungan
c) Status kesehatan
d) Pola interaksi
e) Fungsi peran
f) Status peran
g) Konsep diri
13) Konflik yang tidak disadari mengenai tujuan penting hidup
14) Konflik yang tidak disadari mengenai nilai yang esensial/penting
15) Kebutuhan yang tidak dipenuhi
2. Nyeri Akut yang berhubungan dengan :
a. Cedera fisik atau trauma
b. Penurunan suplai darah ke jaringan
c. Proses melahirkan normal
3. Nyeri Kronik yang berhubungan dengan :
a. Jaringan parut
b. Kontrol nyeri yang tidak adekuat
4. Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan :
Nyeri maligna kronik; perasaan tidak berdaya dalam berbagai tingkatan di
sejumlah situasi berbeda; berespon terhadap hilangnya kendali dengan
menunjukkan sikap apati, marah atau depresi; status ketidakberdayaan yang
berkepanjangan dapat mengarah pada keputusasaan.
5. Ketidakefektifan Koping Individu
a. Definisi
Ketidakefektifan koping adalah keadaan ketika individu mengalami
atau berisiko mengalami ketidakmampuan untuk menangani stressor
internal atau lingkungan secara adekuat karena sumber daya (fisik,
psikologis, perilaku dan/atau kognitif) yang tidak memadai (Lynda
Juall Carpenito-Moyet, 2012).
Ketidakefektifan koping adalah ketidakmampuan untuk membentuk
penilaian valid tentang stressor, ketidakadekuatan pilihan respon yang
dilakukan dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya
yang tersedia (NANDA, 2012).
b. Batasan Karakteristik
Menurut Judith M.Wilkinson, 2011 batasan karakteristik dari
ketidakefektifan koping adalah sebagai berikut
1) Subjektif
a) Perubahan dalam pola komunikasi yang biasanya
b) Kelelahan
c) Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatasi atau
meminta bantuan secara verbal
2) Objekif
a) Penyalahgunaan zat-zat kimia
b) Penurunan penggunaan dukungan sosial
c) Perilaku merusak terhadap diri sendiri dan orang lain
d) Tingginya angka kesakitan
e) Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
f) Ketidakmampuan untuk memenuhi harapan peran
g) Ketidakadekuatan menyelesaikan masalah
h) Kurangnya perilaku yang mengarah pada tujuan dan
penyelesaian masalah, termasuk ketidakmampuan untuk
mengikuti dan mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan
informasi
i) Konsentrasi buruk
j) Berani mengambil risiko
k) Gangguan tidur
l) Menggunakan bentuk koping yang menghambat perilaku
adaptif
Menurut NANDA 2012-2014 batasan karakteristik dari
ketidakefektifan koping adalah sebagai berikut
1) Perubahan dalam pola komunikasi yang biasa
2) Penurunan penggunaan dukungan sosial
3) Perilaku destruktif terhadap orang lain
4) Perilaku destruktif terhadap diri sendiri
5) Letih, angka penyakit yang tinggi
6) Ketidakampuan memerhatikan informasi
7) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar
8) Ketidakmampuan memenuhi harapan peran
9) Pemecahan masalah yang tidak adekuat
10) Kurangnya perilaku yang berfokus pada pencapaian tujuan
11) Kurangnya resolusi masalah
12) Konsentrasi buruk
13) Mengungkapkan ketidakmampuan meminta bantuan
14) Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah
15) Pengambilan risiko, gangguan tidur
16) Penyalahgunaan zat
17) Menggunakan koping yang mengganggu perilaku adaptif
c. Faktor yang Berhubungan
Menurut NANDA 2012-2014 faktor yang berhubungan dari
ketidakefektifan koping adalah sebagai berikut
1) Gangguan dalam pola penilaian ancaman, melepas tekanan
2) Gangguan dalam pola melepaskan tekanan/ketegangan
3) Perbedaan gender dalam strategi koping
4) Derajad ancaman yang tinggi
5) Ketidakmampuan untuk mengubah energy yang adaptif
6) Sumber yang tersedia tidak adekuat
7) Dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh
karakteristik hubungan
8) Tingkat percaya diri yang tidak adekuat dalam kemampuan
mengatasi masalah
9) Tingkat persepsi control yang tidak adekuat
10) Ketidakadekuatan kesempatan untuk bersiap terhadap stressor
11) Krisis maturasi, krisis situasi, ragu
Menurut Lynda Juall Carpenito-Moyet,2012 faktor yang
berhubungan dari ketidakefektifan koping adalah sebagai berikut
1) Patofisiologis
a) Berhubungan dengan kronisitas kondisi dan/atau regimen
perawatan diri yang kompleks
b) Berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh
c) Berhubungan dengan biokimia di otak
d) Berhubungan dengan pemikiran yang salah
2) Terkait-Penanganan
a) Berhubungan dengan perpisahan dengan keluarga dan rumah
(mis., perawatan di rumah sakit, tinggal di panti wreda)
b) Berhubungan dengan cacat karena operasi
c) Berhubungan dengan perubahan penampilan akibat obat-
obatan, radiasi, atau pengobatan lain
3) Situasional (Personal, Lingkungan)
a) Berhubungan dengan peningkatan konsumsi makanan sebagai
respons terhadap stress
b) Berhubungan dengan perubahan lingkungan fisik
c) Berhubungan dengan gangguan ikatan emosional
d) Berhubungan dengan kelebihan beban sensori
e) Berhubungan dengan sumber daya psikologis yang tidak
adekuat
f) Berhubungan dengan keterampilan menyelesaikan masalah
yang tidak efektif
g) Berhubungan dengan sistem keluarga yang tidak teratut
h) Berhubungan dengan toleransi terhadap frustasi dan control
impuls yang tidak adekuat
4) Maturasional
a) Anak atau remaja, berhubungan dengan : metode disiplin yang
tidak konsisten, ketakutan akan kegagalan, trauma masa kanak-
kanak, orang tua yang melakukan penyalahgunaan obat-obat
terlarang, Penolakan oleh orang tua, ansietas yang ditekan,
ansietas tingkat panic, control impuls buruk, keterampilan
sosial buruk, penolakan oleh teman sebaya.
b) Remaja, berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber daya
psikologis untuk beradaptasi terhadap perubahan fisik dan
emosional, kemandirian dari keuarga, hubungan, kesadaran
sosial, kebutuhan pendidikan, pilihan karier.
c) Dewasa Muda berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber
daya psikologis untuk beradaptasi terhadap pilihan karier,
kebutuhan pendidikan, meninggalkan rumah, menikah, menjadi
orang tua.
d) Dewasa Menengah berhubungan dengan ketidakadekuatan
sumber daya psikologis untuk beradaptasi terhadap tanda-tanda
fisik penuaan, tekanan karier, masalah dalam membesarkan
anak, masalah dengan kerabat, kebutuhan akan status sosial,
orang tua yang semakin lanjut
e) Lansia berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber daya
psikologis untuk beradaptasi terhadap perubahan fisik,
perubahan status financial, perubahan tempat tinggal, masa
pension dan respons orang lain terhadap individu lansia.
d. Hambatan mobilisasi fisik yang berhubungan dengan :
a. Nyeri muskuloskeletal
b. Nyeri insisi
c. Keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih
ekstremitas secara mandiri dan terarah.
e. Risiko Cedera yang berhubungan dengan :
Penurunan resepsi nyeri; berisiko mengalami cedera sebagai akibat kondisi
lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber defensive
individu.
f. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan :
Nyeri muskuloskeletal; hambatan kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan aktivitas.
g. Disfungsi seksual yang berhubungan dengan :
Nyeri artritis panggul; individu mengalami perubahan fungsi seksual selama
fase respons seksual hasrat, terangsang dan/atau orgasme, yang dipandang
tidak memuaskan, tidak berharga atau tidak adekuat.
h. Gangguan pola tidur
Menurut NANDA, 2012 yang menjelaskan tentang gangguan pola tidur
sebagai berikut.
1) Definisi
Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal.
2) Batasan Karakteristik
a) Perubahan pola tidur normal
b) Penurunan kemampuan berfungsi
c) Ketidakpuasan tidur
d) Menyatakan sering terjaga
e) Menyatakan tidak mengalami kesulitan tidur
f) Menyatakan tidak merasa cukup istirahat.
3) Faktor yang Berhubungan
a) Kelembapan lingkungan sekitar
b) Suhu lingkungan sekitar
c) Tanggung jawab memberi asuhan
d) Perubahan pajanan terhadap cahaya-gelap
e) Gangguan (mis., untuk tujuan terapeutik, pemantauan,
pemeriksaan laboratorium)
f) Kurang control tidur
g) Kurang privasi
h) Pencahayaan
i) Bising
j) Bau gas
k) Restrain fisik
l) Teman tidur
m) Tidak familier dengan perabot tidur.
H. INTERVENSI
1. Ansietas
Tujuan :
a. Ansietas berkurang
b. Menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas

Intervensi Rasional
Bimbingan antisipasi Mempersiapkan pasien menghadapi
kemungkinan krisis perkembangan dan
atau situasional
Penurunan ansietas Meminimalkan kekhawatiran,
ketakutan, prasangka, atau perasaan
tidak tenang yang berhubungan dengan
sumber bahaya yang diantisipasi dan
tidak jelas
Teknik menenangkan diri Meredakan kecemasan pada pasien
yang mengalami distress akut
Peningkatan koping Membantu pasien untuk beradaptasi
dengan persepsi stresor, perubahan atau
ancaman yang menghambat pemenuhan
tuntutan dan peran
Dukungan emosi Memberikan penenangan, penerimaan,
dan bantuan/dukungan selama masa
stress
Tabel 2 : intervensi untuk diagnosa ansietas

2. Nyeri Akut
Tujuan : Setelah dilakukan selama 1x24 jam tindakan diharapkan nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
a. Nyeri berkurang
b. Ekspresi wajah tenang
c. Tanda-tanda vital (TD: 120/80 mmHg, N: 60-100 x/menit, R: 16-20
x/menit).
d. Klien dapat istirahat dan tidur normal sesuai dengan usianya.

Intervensi Rasional
1. Pantau karakteristik nyeri, 1. Variasi penampilan dan
catatan laporan verbal, perilaku pasien karena nyeri
petunjuk nonverbal dan respon terjadi sebagai temuan
hemodinamik pengkajian
2. Ambil gambar lengkap 2. Nyeri sebagai pengalaman
terhadap nyeri dari pasien subjektif dan harus
termasuk lokasi dan intensitas digambarkan oleh pasien.
lamanya, kualitas( dangkal Bantu pasien untuk menilai
atau menyebar) dan nyeri dengan membandingkan
penyebaran dengan pengalaman nyeri
3. Anjurkan pasien untuk 3. Penundaan pelaporan nyeri
melaporkan nyeri dengan menghambat peredaran
segera nyeri/memerlukan peningkatan
4. Bantu melakukan teknik dosis obat. Selain itu nyeri
relaksasi misalnya : nafas berat dapat menyebabkan syok
dalam perlahan perilaku dengan merangsang system
distraksi syaraf simpatis,
5. Visualisasi dan bimbingan mengakibatkan kerusakan
imajinasi lanjut dan mengganggu
6. Periksa tanda-tanda vital diagnostic serta hilangnya
sebelum atau sesudah nyeri
penggunaan obat narkotik 4. Membantu dalam penurunan
7. Berikan obat analgesic sesuai persepsi/respon nyeri
indikasi 5. Memberikan control situasi,
meningkatkan perilaku positif
6. Hipotensi/depresi pernafasan
dapat terjadi sebagai akibat
pemberian narkotik
7. Membantu proses
penyembuhan pasien
Tabel 3 : intervensi untuk diagnosa nyeri akut

3. Nyeri kronis
Tujuan : Setelah dilakukan selama 2x24 jam tindakan diharapkan nyeri
teratasi sebagian. Kriteria hasil :
a. Skala nyeri dalam rentang 1-3.
b. Raut muka tidak menahan nyeri.
c. Klien sudah tidak memegangi area yang nyeri.

Intervensi Rasionalisasi
1. Catat karakteristik nyeri 1. Mempermudah dalam
2. Berikan posisi semi fowler tindakan pengobatan kepada
3. Ajarkan teknik relaksasi klien
4. Kolaborasi pemberian obat 2. Membantu memberikan rasa
analgesic sesuai dengan nyaman kepada
indikasi klienmenambah pengetahuan
pasien dalam mengurangi
rasa nyeri
3. Membantu pasien dalam
mengurangi rasa nyeri
Tabel 4 : intervensi untuk diagnosa nyeri kronis

4. Ketidakberdayaan
Tujuan :
a. Mendemonstrasikan pengendalian diri terhadap depresi
b. Menunjukkan partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang perawatan
kesehatan
Intervensi Rasional
Restrukturisasi kognitif Mendorong pasien untuk mengubah
distorsi pola pikir dan memandang diri
sendiri serta dunia secara lebih realistis
Dukungan emosional Memberikan penenangan, penerimaan,
dan dorongan selama periode stress
Bantuan sumber finansial Membantu individu/keluarga untuk
mengamankan dan mengelola keuangan
untuk memenuhi untuk memenuhi
kebutuhan perawatan kesehatan
Manajemen alam perasaan Memberikan keamanan, stabilisasi,
pemulihan dan pemeliharaan pasien
yang mengalami disfungsi alam
perasaan baik depresi maupun
peningkatan alam perasaan
Perlindungan hak pasien Melindungi hak perawatan kesehatan
pasien, terutama pasien dari kelompok
minoritas, pasien yang tidak memiliki
kapasitas, atau tidak kompeten untuk
mengambil keputusan
Peningkatan harga diri Membantu pasien untuk meningkatkan
penilaian diri terhadap harga dirinya
Fasilitasi tanggung jawab diri Mendorong pasien untuk lebih
bertanggung jawab terhadap
perilakunya sendiri
Tabel 5 : intervensi untuk diagnosa ketidakberdayaan

5. Ketidakefektifan Koping Individu


Tujuan :
a. Menunjukkan koping yang efektif yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut ( sebutkan 1-5 : tidak pernah, jarang, kadang-
kadang, sering atau selalu)
b. Menunjukkan pengendalian diri terhadap impuls dengan
mempertahankan penegndalian diri tanpa pengawasan secara
konsisten.

Intervensi Rasional
Bimbingan antisipasi Mempersiapkan pasien untuk
mengantisipasi krisis perkembangan
dan/atau situasional
Peningkatan Koping Membantu pasien untuk beradaptasi
dengan persepsi stesor, perubahan,
atau ancaman yang mengganggu
pemenuhan tuntunan dan peran
hidup
Konseling Menggunakan proses bantuan
interaktif yang berfokuspada
kebutuhan, masalah atau perasaan
pasien atau orang terdekat
untukmeningkatkan atau mendukung
koping, penyelesaian mesalah, dan
hubungan interpersonal
Dukungan untuk mengambil Memberikan informasi dan dukungan
keputusan kepada pasien yang mengambil
keputusan mengenai perawatan
kesehatan
Bantuan emosi Memberikan penanaman,
penerimaan, dan dorongan selama
periode stress
Panduan system kesehatan Memfasilitasi lokasi pasien dan
penggunaan layanan kesehatan yang
sesuai
Layanan pengendalian impuls Membantu pasien untuk memediasi
perilaku impulsive melalui penerapan
strategipenyelesaian masalah pada
situasi social atau interpersonal
Peningkatan peran Membantu pasien orang terdekat
pasien atau anggota keluarga untuk
memperbaiki hubungan dengan
mengklarifikasi dan menambahkan
perilaku peran tertentu.
Peningkatan harga diri Membantu pasien untuk
meningkatkan penilaian personal
terhadap harga dirinya
Pencegahan penggunaan zat Mencegah gaya hidup alkoholik atau
penggunaan obat-obatan
Tabel 6 : intervensi untuk diagnosa ketidakefektifan koping individu
I. REFERENSI

Wilkinson, Juidith M dan Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosa


Keperawatan NANDA Nic Noc Edisi 9. Jakarta : EGC

Alimul H, A.Aziz. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia. Surabaya : Salemba Medika

Lippincott dan Williams&Wilkins. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan


Lynda Juall Carpenito-Moyet Edisi 13. Jakarta: EGC

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta :
EGC

Kozier, Erb, dkk. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &
Praktik Edisi 7 Volume 2. Jakarta : EGC

Nanda International. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA 2012-2014. Jakarta :


EGC

Hidayat, AAA., Musifatul Uliyah. 2004. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar
Manusia, Jakarta: EGC.
Tarwoto, Wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan,
Jakarta: Salemba Medika.

Smeltzer, S.C., Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & suddarth, Edisi 8, Jakarta: EGC
Mengetahui Denpasar,2015

Pembimbing Praktik Mahasiswa

NIP. NIM.

Mengetahui

Pembimbing Institusi

NIP.