Anda di halaman 1dari 18

OCEANOGRAFI DAN SUMBERDAYA KELAUTAN

ANALISIS TIPOLOGI DAN PERMASALAHAN PESISIR TERHADAP


POTENSI DAN SUMBER DAYA LAUT DI PANTAI BALI LESTARI

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Oceanografi dan Sumberdaya Kelautan
Dosen : Eni Yuniastuti, S.Pd., M.Sc.

Oleh :

KELOMPOK
MAHARANI (3153131019)
SUIB (3152131023)
ADELINA SORMIN (3151131004)
BELLA OKTAVIA SIREGAR (3151131007)
SAHRIAL PASARIBU (3152131019)

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setelah memepelajari semua materi yang ada pada mata kuliah Oceanografi dan
Sumberdaya Kelautan. Maka kami mendapatkan tugas untuk menganalisis tipologi, matei
penyusun, potensi atau sumber daya alam dan permasalahan di daerah pesisir Pantai Bali Lestari,
sebagai bentuk penerapan dari hasil belajar yang telah kami ikuti selama ini.

Pantai Bali Lestari, merupakan Tipologi pantai Tipe A, pantai berupa teluk dan
tanjung yang panjang dan beberapa pulau terletak di mulut teluk, kemiringan dasar yang curam
(>0,1) dan terbentuk dari kerikil, daratan pantai yang berbukit, tinggi ombak datang di bawah 1
meter, kecepatan arus di bawah 1 meter/detik tipe pasang surut adalah setengah harian, priode
ulang kejadiaan badai di atas 1 tahun. Pantai tipe A sangat potensial dikembangkan menjadi
kawasan perdagangan, jasa pelayanan, pergudangan, pelabuhan, industri, permukiman dan
resort/pariwisata.

Pada pantai ini di kembangkan potensi wisata dan potensi perikanannya, dimana pantai
ini memiliki panorama pantai yang indah dan pasirnya yang abu-abu, membuat wisatawan
tertarik pada pantai ini. Di satu sisi pantai ini juga kaya kan sumberdaya laut seperti ikan,
sehingga banyak nelayan yang menggantungkan hidupnya pada panati ini.

Permasalahan pesisir yang terjadi di pantai Bali Lestari adalah abrasi, yang membuat
material pasir pada pinggir pantai terbawa ketengah dan membentuk beting kira-kira 10m dari
bibir pantai. Akibat abrasi juga membuat bibir pantai semakin menjorok kedaratan sehingga
dulunya yang menjadi bibir panati sekarang menjadi lautan. Oleh sebab itu pengelola panati
membuat batu atau dinding pada pinggir bibir panatai agar abrasi tidak terjadi terlalu parah.

Oleh sebab itu maka kami mengambil Pantai ini sebagai materi yang akan kami kaji, di
karenakan pantai ini cukup menarik untuk di bahas dari sisi topologi pantainya yang
menyebabkan adanya potensi dan masalah tertentu pada pantai ini.
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana tipologi Pantai Bali Lestari?


2. Bagaimana potensi dan sumberdaya kelautan di Pantai Bali Lestari?
3. Apa permasalahan pesisir yang terdapat di Pantai Bali Lestari?
4. Bagaimana Potensi wisata di Panati Bali Lestari?
5. Bagaimana rekomendasi terhadap pengelolaan Panatai Bali Lestari?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui tipologi Pantai Bali Lestari.


2. Mengaetahui potensi dan sumberdaya kelautan di Pantai Bali Lestari.
3. Mendeskripsikan permasalahan pesisir yang terdapat di Pantai Bali Lestari.
4. Mendeskripsikan potensi wisata di Pantai Bali Lestari
5. Mendeskripsikan rekomendasi terhadap pengelolaan Panatai Bali Lestari.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai materi penunjang bagi mahasiswa Geogerafi.


2. Sebagai acuan/referensi untuk pengembangan ilmu Oceanografi.
3. Memberikan informasi bagi para pembaca mengenai Pantai Bali Lestari.
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan batas ke arah
darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh
sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh
vegetasinya yang khas, sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas
terluar daripada daerah paparan benua (continental shelf), dimana ciri-ciri perairan ini masih
dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,
maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan
pencemaran (Bengen, 2002). Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut;
ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi
sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut
meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat
seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat
seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001). Berdasarkan
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman
Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai wilayah
peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil
dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi) untuk
kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota.

Mendasarkan pada batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah pesisir merupakan
wilayah peralihan (interface) antara daratan dan laut. Oleh karena itu, wilayah pesisir merupakan
ekosistem khas yang kaya akan sumberdaya alam baik sumberdaya alam dapat pulih (renewable
resources) seperti ikan, terumbu karang, hutan mangrove, dan sumberdaya tak dapat pulih (non-
renewableresources) seperti minyak dan gas bumi, bahan tambang dan mineral lainnya. Selain
itu diwilayah pesisir juga terdapat berbagai macam proses yang sangat khas pula, seperti
gelombang, erosi dan pengedapan, dan proses lainnya yang dapat membentuk wilayah pesisir
menjadi lebih komplit.
Ekosistem alami di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang (coral reefs), hutan
mangrove, padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky
beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna, delta dan ekosistem pulau kecil.
Sedangkan ekosistem buatan dapat berupa tambak, pemukiman, pelabuhan, kawasan industri,
pariwisata dan sebagainya.

2.2 Batas Wilayah Pesisir

Sampai sekarang belum ada defenisi wilayah pesisir yang baku namun terdapat
kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan
dan lautan, sehingga wilayah pesisir memiliki dua macam batas yaitu batas yang sejajar dengan
garis pantai dan batas yang tegak lurus dengan garis pantai. Penetapan batas-batas wilayah
pesisir yang tegak lurus dengan garis pantai sejauh ini belum ada kesepakatan, sehingga batas-
batas wilayah pesisir berbeda dari satu dengan negara lainnya terlebih lagi dengan adanya
perbedaan karakteristik lingkungan, sumberdaya dan sistem pemerintahan sendiri(Rokhmin
Dahuri dkk, 2001:5).
Wilayah pesisir juga merupakan pertemuan antara darat dan laut. Ke arah darat wilayah
pesisir meliputi wilayah daratan, baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh
sifat-sifat laut seperti pasang surut perembesan air asin. Ke arah laut wilayah pesisir mencakup
bagian laut yang masih dipengaruhi oleh bagian laut yang terjadi di darat seperti sedimentasi,
dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti
penggundulan hutan dan pencamaran (Soegiarto dalam Rokhmin Dahuri, dkk, 2001 : 8).
Secara fisik, kawasan pesisir dapat terdiri dari daerah-daerah daratan (terrestial
atauinland areas), lahan-lahan pantai (coastal waters), perairan lepas pantai (offshore waters) dan
perairan di luar yurisdiksi nasional. Peran dan pengaruh manusia di tiga daerah sangat nyata
terlihat. Oleh karena itu daerah-daerah tersebut biasanya merupakan fokus perhatian
pengelolaan. Namun batas-batas wilayah pesisir yang ditetapkan tiap negara berbeda-beda.
Di Indonesia ada semacam kesepakatan tentang defenisi kawasan ini, namun belum
resmi yaitu kawasan pesisir adalah wilayah daratan dan lautan yang bertemu di garis pantai.
Wilayah daratan merupakan wilayah yang mencakup daerah yang tergenang atau tidak tergenang
air yang dipengaruhi oleh proses-proses laut, seperti pasang surut, angin laut dan intrusi garam.
Sedangkan wilayah laut mencakup wilayah perairan yang dipengaruhi oleh proses-proses alami
daratan seperti sedimentasi dan aliran air tawar ke laut dan perairan yang dipengaruhi oleh
kegiatan manusia di darat. Dengan demikian jarak batas-batas dan laut dari garis pantai suatu
kawasan pesisir di Indonesia dapat berbeda-beda tergantung kekuatan pengaruh masing-masing
faktor darat dan laut.

2.3 Tipologi Pengembangan Kawasan Pesisir Pantai

Penanganan kawasan pantai dilakukan dengan mempertimbangkan tipologi pantai.


Pembagian tipe pantai kawasan perencanaan didasarkan pada klasifikasi tipologi pantai yang
disusun oleh PSDAL UNHAS dengan Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Pedesaan Departemen
Pekerjaan Umum, Tahun 1997, secara garis besar dapat diklasifikasikan kedalam 5 (lima) jenis,
yaitu :

1) Tipe A, pantai berupa teluk dan tanjung yang panjang dan beberapa pulau terletak di mulut
teluk, kemiringan dasar yang curam (>0,1) dan terbentuk dari kerikil, daratan pantai yang
berbukit, tinggi ombak datang di bawah 1 meter, kecepatan arus di bawah 1 meter/detik tipe
pasang surut adalah setengah harian, priode ulang kejadiaan badai di atas 1 tahun. Pantai tipe
A sangat potensial dikembangkan menjadi kawasan perdagangan, jasa pelayanan,
pergudangan, pelabuhan, industri, permukiman dan resort/pariwisata.

2) Tipe B, pantai berupa teluk tanpa pulau terletak di mulut teluk, kemiringan dasar yang landai
(0,01 Pantai tipe B cukup potensial dikembangkan menjadi kawasan perdagangan dan
prasarana penunjang pantai tipe A, namun perlu dilakukan rekayasa khusus untuk
meningkatkan aksesibilitas terhadap pusat kota misalnya pembuatan dermaga, reklamasi
pantai dan sebagainya.

3) Tipe C, pantai berupa laguna, kemiringan dasar yang datar (s<0,01) dan terbentuk dari
lumpur, memiliki lingkungan rawa pantai, tinggi ombak datang di bawah 1 meter, kecepatan
arus di bawah 0,5m/detik, tipe pasang surut adalah setengah harian, periode ulang kejadiaan
badai di atas 15 tahun. Pantai tipe C tidak potensial untuk kegiatan binaan penduduk, perlu
rekayasa khusus melalui penguatan dan peningkatan khusus untuk meningkatkan aksesibilitas
terhadap pusat kawasan kota misalnya pembuatan dermaga, reklamasi pantai dan sebagainya.

4) Tipe D, pantai terbuka, kemiringan dasar yang landai (0,01<1) dan terbentuk dari pasir,
memiliki lingkungan muara, tinggi ombak datang diantara 1<2 meter, kecepatan arus diantara
0,5 dan 1 m/detik, tipe pasag surut campuran, periode, kejadiaan ulang badai 5 sampai 15
tahun. Pantai Tipe D pada umumnya dimanfaatkan untuk budidaya air payau, hutan rawa,
pengambangan ecoturisme, penikmatan penjelajahan hutan pantai dan melihat flora dan fauna
langka serta permukiman.

5) Tipe E, pantai terbuka kemiringan dasar yang curam (s<0,1) dan terbetuk dari kerikil
memiliki lingkungan muara, tinggi ombak datang di atas 2 meter, kecepatan arus di atas 1
m/detik, tipe pasang surut harian, periode kejadiaan ulang badai di antara 5-15 tahun Tipe E,
umumnya dimanfaatkan untuk pelabuhan dengan rekayasa break water yang lebih panjang
untuk membuat kolam pelabuhan yang lebih luas, pengembangan ecoturisme, memancing dan
permukiman.

3.4 Pembagian Zona Pesisir

Setiap zone perairan dipesisir mengalami proses mengahasilkan struktur sedimen yang
khas dan berbeda satu sama lainnya.Berdasarkan hal ini zone pesisir dibagi menjadi backshore,
foreshore, shoreface, dan offshore.

1) Backshore terletak diantara batas bawah gumuk pasir (sand dune) hingga ke garis air pasang
paling tinggi (mean high water line). Jadi Backshoreterdapat di amabang pantai (beach bar).
2) Foreshore yaitu zone pasang surut, kawasan yang terletak di antara batas atas dan bawah
pasang air laut disebut. Backshore dan foreshoremerupkan bagian atas dari pesisir pantai.
Dikawasan ini terdapat zone pemecah, zone swash dan arus sepanjang pantai (longshore
current). Sehingga kawasan ini menerima tenaga aliran yang kuat. Sedimensedimen yang ada
diwilayah ini kebanyakan terdiri dari material pasir.
3) Shoreface yaitu zone yang berbatasan dengan zone peralihan. Batas bawah
shoreface bergantung pada rata-rata dasar gelombang maksimal (average maximum wave
base). Di kawasan shoreface sedimennya terdiri dari pasir bersih, dibagian
atas shoreface terdapat arus pesisir pantai. Pada saat cuaca buruk arus ini akan bertambah
kuat dan akan mengkikis bagian atas shoreface dan mengendapkannya semula di bagian
bawah shoreface atau membawanya kearah daratan seperti laguna. Jadi dibagian shoreface
sedimennya makin kasar kearah daratan dan riak simetri berubak menjadi tak simetri dan
gumuk (Clifton, 1967). Bagian bawah shoreface terdiri dari lapisan dan percampuran antara
lumpur dan pasir, tetapi pada saat cuaca buruk bagian bawahnya mengalami tindakan
gelombang dan akibatnya endapan pasir akan percampuran lumpur dan pasir akan terbentuk
di kawasan ini.
4) Offshore merupakan zone lepas pantaiyang mengarah kelaut.

Gambar B.1 Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Strukturnya

Selain pembagian diatas wilayah pesisir juga dapat dibagi berdasarkan

kedalamannya, yaitu:
1. Zona Lithoral, adalah wilayah pantai atau pesisir atau shore. Di wilayahini pada saat air
pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh karena itu
wilayah ini sering disebut juga wilayah pasang surut.
2. Zona Meritic (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga
kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga wilayah
ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuhan-
tumbuhan, contoh Jaut Jawa, Laut Natuna, Selat Malaka dan laut-laut disekitar kepulauan
Riau.
3. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara
150 hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus sinar matahari, oleh karena itu
kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di zona meritic.
4. Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman lebih
dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, jenis
hewan yang hidup di wilayah ini sangat terbatas.

Gambar B.2 Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Kedalamannya

3.5 Proses yang Terjadi di Wilayah Pesisir

Daerah pesisir merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena daerah
tersebut menjadi tempat bertemunya dua kekuatan, yaitu berasal dari daratan dan lautan.
Perubahan lingkungan pesisir dapat terjadi secara lambat hingga sangat cepat, tergantung pada
imbang daya antara topografi, batuan dan sifat-sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan
angin. Perubahan pesisir terjadi apabila proses geomorfologi yang terjadi pada suatu segmen
pesisir melebihi proses yang biasa terjadi. Perubahan proses geomorfologi tersebut sebagai
akibat dari sejumlah faktor lingkungan seperti faktor geologi, geomorfologi, iklim, biotik, pasang
surut, gelombang, arus laut, dan salinitas (Sutikno, 1993 dalam Johanson D. Putinella, 2002).
Iklim mempengaruhi gelombang dan juga aktivitas biologi serta proses-proses kimia di
permukaan atau dekat dengan permukaan seperti evaporation, penyemian dan lain-lain. Menurut
Dahuri (1996) dalam Johanson. D. Putinella (2002), ombak merupakan salah satu penyebab yang
berperan besar dalam pembentukan pesisir. Ombak yang terjadi di laut dalam pada umumnya
tidak berpengaruh terhadap dasar laut dan sedimen yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya
ombak yang terdapat di dekat pesisir, terutama di daerah pecahan ombak mempunyai energi
besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi pesisir, seperti menyeret sedimen
(umumnya pasir dan kerikil) yang ada di dasar laut untuk ditumpuk dalam bentuk gosong pasir.
Di samping mengangkut sedimen dasar, ombak berperan sangat dominan dalam menghancurkan
daratan (erosi laut). Daya penghancur ombak terhadap daratan atau batuan dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain keterjalan garis pesisir, kekerasan batuan, rekahan pada batuan,
kedalaman laut di depan pesisir, bentuk pesisir, terdapat atau tidaknya penghalang di muka
pesisir dan sebagainya.

Berbeda dengan ombak yang bergerak maju ke arah pesisir, arus laut, terutama yang
mengalir sepanjang pesisir merupakan penyebab utama yang lain dalam membentuk morfologi
pesisir. Arus laut terbentuk oleh angin yang bertiup dalam selang waktu yang lama, dapat pula
terjadi karena ombak yang membentur pesisir secara miring. Berbeda dengan peran ombak yang
mengangkut sedimen tegaklurus terhadap arah ombak, arus laut mampu membawa sedimen yang
mengapung maupun yang terdapat di dasar laut. Pergerakan sedimen searah dengan arah
pergerakan arus, umumnya menyebar sepanjang garis pesisir. Bentuk morfologispit, tombolo,
beach ridge atau akumulasi sedimen di sekitar jetty (dermaga atau tembok laut) dan tanggul
pantai menunjukkan hasil kerja arus laut. Dalam hal tertentu arus laut dapat pula berfungsi
sebagai penyebab terjadinya abrasi pesisir.

Keseimbangan antara sedimen yang dibawa sungai dengan kecepatan pengangkutan


sedimen di muara sungai akan menentukan berkembangnya dataran pesisir. Apabila jumlah
sedimen yang dibawa ke laut dapat segera diangkut oleh ombak dan arus laut, maka pantai akan
dalam keadaan stabil. Sebaliknya apabila jumlah sedimen melebihi kemampuan ombak dan arus
laut dalam pengangkutannya, maka dataran pesisir akan bertambah. Selain itu aktivitas manusia
yang memanfaatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan juga dapat merubah morfologi
pesisir menjadi rusak apabila pengelolaannya tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.
Proses-proses lainnya yang terjadi di wilayah pesisir antara lain:
1. Proses Fisika yaitu proses-proses fisik yang mempengaruhi pembentukan pesisir seperti
gelombang, rombakan arus (rip current), arus pasang surut, pasang surut dan sebagainya.
Gelombang merupakan parameter utama dalam proses erosi atau sedimentasi .
2. Erosi dan atau abrasi merupakan proses pengikisan batuan yang diakibatkan oleh tenaga
eksogen seperti air, angin, ombak, dan lainlainnya.
3. Sedimentasi yang dibawa melalui sungai, arus sepanjang tepi pantai (longshore drift), dan
arus pasang surut. Sedimen ini terbentuk dari lumpur, pasir, hingga kerikil. Sedimen
bertekstur kasar terdapat di kawasan bertenaga tinggi.
4. Arus laut pasang surut yang disebabkan oleh pasang surut air laut (subsidence) adalah proses
naik turunnya muka laut secara hampir periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa,
terutama bulan dan matahari. Naik turunnya muka laut dapat terjadi sehari sekali (pasang
surut tunggal), atau dua kali sehari (pasang surut ganda). Ketika pasang surut terbentuk
dilautan luas merambat sebagai gelombang menuju lereng benua (continental slope) dan
paparan benua (continental shelf), gelombang tersebut akan mengalami proses perubahan
karena nakin dangkalnya perairan.

2.6 Jenis-Jenis Pantai

Bentuk-bentuk pantai ada berbagai macam sebagai akibat dari berbagai proses geologi
yang membentuknya dan batuan serta struktur geologi yang mengendalikannya. Ada pantai yang
berbentuk dataran yang landai baik yang sempit maupun yang lebar, atau pantai yang bertebing
terjal dan berbatu-batu, dan berteluk-teluk. Berikut ini beberapa ulasan mengenai hal tersebut.

Bentuk Dan Genesa Pantai

Johnson mengenali berbagai bentuk pantai antara lain :

1) Pantai bertebing terjal dan berteluk-teluk (fyord) :

Pantai berbatasan langsung dengan kaki bukit/gunung atau dengan dataran yang sempit. Teluk-
teluk berselingan dengan punggungan bukit dengan berbagai struktur geologi seperti struktur
lipatan, patahan, komplex, atau gunungapi. Dasar laut umumnya terjal, langsung ke laut dalam.
Gejala demikian terlihat di Dalmasia, Spanyol, Pasifik Selatan, dan mungkin juga di Indonesia
bagian Timur. Hal tersebut disebabkan oleh tenggelamnya wilayah tersebut oleh genangan
airlaut (submergence).
2) Pantai berdataran yang luas dan panjang :

Pantai ini mempunyai ciri adanya dataran yang luas. Banyak yang lurus, dasar laut yang
relatif dangkal dan merupakan hasil endapan sedimen dari daratan, dengan kemiringan kearah
laut dalam secara gradual. Kerja gelombang di pantai menghasilkan berbagai morfologi seperti
pematang pantai (barrier bars) laguna (lagoon) dengan tidal inlet, dan delta. Banyak dari gejala
tersebut di atas dibentuk karena munculnya dasar laut, ke permukaan. Dalam perkembangannya,
kedua jenis pantai tersebut dapat berelevasi ke berbagai bentuk pantai.

3) Delta, dataran aluvial, dan Outwosh Plain.

Delta merupakan dataran di muara sungai yang terbentuk sebagai akibat dari endapan
sedimen di laut yang berasal dari sungai. Berbagai bentuk delta dikenal tergantung kepada
kondisi morfologi sungai, morfologi dataran, arah gelombang laut, kedalaman laut, dsb. Dataran
Aluvial merupakan wilayah yang datar atau hampir datar yang terbentuk oleh endapan yang
dibawa air. Beberapa jenis bentuk dataran aluvial antara lain :

a. Kipas aluvial, berbentuk kipas dengan apex berada pada bagian hulu dan kakinya berada di
bagian hilir. Umumnya berada pada perbatasan antara wilayah pegunungan/perbukitan dengan
wilayah dataran. Kemiringan lereng bervariasi antara 0o 30 o, makin ke hilir makin mendatar.

b. Dataran sungai; merupakan dataran di dalam tubuh sungai yang terbentuk oleh sedimentasi
(point bars). Endapan dapat berupa bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lanau, danlempung.

c. Dataran banjir; berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk
oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.

d. Dataran pantai; suatu dataran di tepi pantai yang terbentuk oleh endapan akibat gelombang
laut di saat kondisi pasang dan surut. Umumnya berupa bongkah, kerakal, dan pasir.

e. Dataran rawa; merupakan dataran bekas rawa-rawa dekat pantai, terbentuk sebagai akibat dari
kondisi surut muka laut atau naiknya permukaan daratan (emmergence). Terdiri dari tanah pasir
halus, lumpur, dan lumpur/tanah organik, gambut.

Segala jenis endapan di wilayah dataran tersebut dia tas umumnya bersifat lepas, lunak, lembek,
belulm tersemen kuat sehingga bersifat lolos air, mudah terkikis, mudah ambles khususnya yang
bersifat lempung dan organik.
2.7 Potensi Sumberdaya lautan dan Pemanfaatannya

A. Perikanan

Sumber daya perikanan laut adalah salah satu potensi sumber daya laut di indonesia yang
sejak dulu telah dimanfaatkan penduduk. Laut Indonesia memiliki angka potensi lestari yang
besar, yaitu 6,4 juta ton per tahun. Yang dimaksud dengan potensi lestari adalah potensi
penangkapan ikan yang masih memungkinkan bagi ikan untuk melakukan regenerasi hingga
jumlah ikan yang ditangkap tidak mengurangi populasi ikan. Umumnya, perikanan dimaksudkan
untuk kepentingan penyediaanpangan bagi manusia. Selain itu, tujuan lain dari perikanan
meliputi olahraga, rekreasi (pemancingan ikan), dan mungkin juga untuk tujuan
membuat perhiasan atau mengambil minyak ikan.

B. Hutan Mangrove

Hutan mangrove (hutan bakau) adalah tipe hutan yang berada di daerah pasang surut air
laut. Saat air pasang, hutan mangrove digenangi oleh air laut, sedangkan pada saat air surut,
hutan mangrove bebas dari genangan air laut. Umumnya hutan mangrove berkembang baik pada
pantai yang terlindung, muara sungai, atau laguna. Tumbuhan yang hidup di habitat hutan
mangrove tahan terhadap garam yang terkandung di dalam air laut. Ada dua fungsi hutan
mangrove sebagai potensi sumber daya laut di indonesia yaitu fungsi ekologis dan ekonomis.

Fungsi ekologis hutan mangrove adalah sebagai habitat (tempat hidup) binatang laut
untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Fungsi ekologis yang lain dari
hutan mangrove adalah untuk melindungi pantai dari abrasi air laut.
Fungsi ekonomis hutan mangrove berupa nilai ekonomis dari kayu pepohonan dan
makhluk hidup yang ada di dalamnya. Biasanya penduduk memanfaatkan kayu sebagai
bahan kayu bakar atau bahan pembuat arang. Kayu bakau juga dapat dijadikan bahan
pembuat kertas. Selain kayu, hutan mangrove juga dihuni oleh beragam jenis fauna yang
bernilai ekonomis, misalnya udang dan jenis ikan lainnya yang berkembang biak dengan
baik di wilayah ini.
C. Terumbu Karang

Terumbu karang adalah terumbu (batuan sedimen kapur di laut) yang terbentuk dari
kapur yang sebagian besar dihasilkan dari koral (binatang yang menghasilkan kapur untuk
kerangka tubuhnya). Jika ribuan koral membentuk koloni, koral-koral tersebut akan membentuk
karang.
Adapun gambaran dari manfaat terumbu karang tersebut adalah sebagai berikut:

a Manfaat ekonomi : sebagai sumber makanan, obat-obatan, dan objek wisata bahari.
b Manfaat ekologis : mengurangi hempasan gelombang pantai yang dapat berakibat terjadinya
abrasi.
c Manfaat sosial ekonomi : sebagai sumber perikanan yang dapat meningkatkan pendapatan
para nelayan. Terumbu karang juga dapat menjadi daya tarik objek wisata yang dapat
meningkatkan pendapatan penduduk sekitar dari kegiatan pariswisata.
d Rumput Laut Sebagai negara maritim, Indonesia mempunyai potensi besar dalam
memanfaatkan berbagai jenis rumput laut yang hidup di perairannya. Berbagai jenis rumput
laut telah dikenal memiliki manfaat baik sebagai bahan pembuat agar-agar, keragian, maupun
alginat. Berbagai jenis rumput laut pun telah berhasil dibudidayakan di pelbagai wilayah
Indonesia.

Berikut adalah manfaat rumput laut.

1) Penghasil agar-agar; manfaat yang paling dikenal ini berasal dari rumput laut jenisGracilaria
spp, Gelidium spp., dan Gelidiopsis spp.
2) Penghasil Peragian; proses kimia peragian dapat memanfaatkan rumput laut dari
jenis Eucheuma spp.
3) Penghasil algin atau alginat; alginat dapat dihasilkan dari rumput laut berjenis
seperti Sargassum spp.
4) Manfaat lainnya, antara lain sebagai obat tradisional, bahan makanan dan sayuran, bahan
kosmetik dan kecantikan, penyerap karbondioksida.
5) Air Laut
a Laut Sebagai Alat Perhubungan dan Pengangkutan

Laut dapat dimanfaatkan sebagai jalur lalu lintas kapal-kapal angkutan dari pulau yang satu ke
pulau yang lain sehingga arus transportasi barang dan manusia dapat berlangsung dengan baik.
Di samping itu, akan terjadi hubungan timbal balik antara negara yang satu dengan negara yang
lain, baik dalam lapangan sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain.

b Laut Sebagai Sumber Tenaga

Arus laut dapat memperingan tenaga perahu, sebab adanya arus laut perahu dapat meluncur
dengan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Selain itu, gerak pasang surut air laut juga
dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik.
c Laut Sebagai Daerah Perikanan

Sumber daya hewan dari laut dapat memberi kehidupan kepada penduduk. Sumber daya hewan
tersebut berupa berbagai jenis ikan, kerang, kepiting, udang, mutiara, dan lain-lain. Hasil ikan di
Indonesia per tahun 1,7 ton. Jenis ikan yang ditangkap antara lain tongkol, tengiri, cucut, paus
kecil, dan tuna. Daerah penangkapan ikan laut berada di Dangkalan Sahul, Dangkalan Sunda,
Laut Jawa, Selat Bali, dan Selat Malaka. Daerah perikanan di Indonesia yang terbesar terdapat di
Bagan Siapiapi, Riau.

d Laut Sebagai Tempat Rekreasi/Pariwisata

Kawasan laut dengan relief pantainya yang indah banyak didatangi para wisatawan. Objek
wisata laut di Indonesia yang terkenal, yaitu Pantai Pangandaran (Jawa Barat), Maluku, Laut
Banda, Parangtritis (Yogyakarta), Ancol (Jakarta), dan lain-lain.

e Laut Sebagai Tempat Pertahanan dan Keamanan

Pemanfaatan laut sebagai tempat pertahanan dan keamanan terutama bagi negara-negara yang
dikelilingi lautan atau negara yang bersifat maritim.

f Laut Sebagai Pengatur Iklim

Perbedaan sifat fisik air laut dan sifat fisik daratan dapat menimbulkan gerakan udara (angin).
Bersama-sama dengan angin tersebut maka uap air laut terbawa dan dapat menyejukkan atau
memanaskan tempat yang dilalui, serta dapat menimbulkan turun hujan.

2.8 Permasalahan di Daerah Pesisir

Pemanfaatan sumber daya pesisir di satu sisi berdampak pada kesejahteraan masyarakat,
yaitu dengan penyediaan lapangan pekerjaan seperti penangkapan ikan secara tradisional, budi
daya tambak, penambangan terumbu karang , dan lain sebagainya. Namun di sisi lain,
pemanfaatan sumber daya alam secara terus menerus dan berlebihan akan menimbulkan dampak
negatif terhadap kelangsungan ekosistem pesisir.
Ada beberapa masalah yang terjadi dalam pembangunan di kawasan pesisir dan lautan di
Indoneisa antara lain:

A. Pencemaran

Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya
menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan
baku mutu dan/atau fungsinya.

B. Kerusakan Fisik Habitat.

Hal ini terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang, dan rumput laut atau padang
lamun. Kebanyakan rusaknya habitat di daerah pesisir adalah akibat aktivitas manusia seperti
konversi hutan mangrove untuk kepentingan pemukiman, pembangunan infrastruktur, dan
perikanan tambak. Ekosistem lainnya yang mengalami kerusakan cukup parah adalah ekosistem
terumbu karang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan rusaknya terumbu karang antara lain
adalah: (1) penambangan batu karang untuk bahan bangunan, jalan, dan hiasan, (2) penangkapan
ikan dengan menggunakan bahan peledak, racun, dan alat tangkap ikan tertentu, (3) pencemaran
perairan oleh limbah industri, pertanian dan rumah tangga, (4) pengendapan dan peningkatan
kekeruhan perairan akibat erosi tanah di darat, penggalian dan penambangan, (5) eksploitasi
berlebihan sumber daya perikanan karang (Dahuri, 2001).Ekosistem padang lamun secara
khusus rentan terhadap degradasi lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. Beberapa
aktivitas manusia yang dapat mengrusak ekosistem padang lamun adalah (1) pengerukan dan
pengurugan untuk pembangunan pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran
navigasi, (2) pencemaran logam industri terutama logam berat, dan senyawa organoklorin,
pembuangan sampah organik, pencemaran oleh limbah industri, pertanian, dan minyak (Bengen,
2000).

C. Eksploitasi sumber daya secara berlebihan.

Ada beberapa sumber daya perikanan yang telah dieksploitir secara berlebihan
(overfishing), termasuk udang, ikan demersal, palagis kecil, dan ikan karang. Menipisnya stok
sumber daya tersebut, selain karena overfishing juga dipicu oleh aktivitas ekonomi yang baik
secara langsung atau tidak merusak ekosistem dan lingkungan sehingga perkembangan sumber
daya perikanan terganggu. Disamping itu, kurangnya apresiasi dan pengetahuan manusia untuk
melakukan konservasi sumber daya perikanan, seperti udang, mangrove, terumbu karang, dan
lain-lain.
D. Abrasi Pantai

Ada 2 faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi pantai, yaitu : (1)proses alami (karena gerakan
gelombang pada pantai terbuka), (2) aktivitas manusia. Kegiatan manusia tersebut misalnya
kegiatan penebangan hutan (HPH) atau pertanian di lahan atas yang tidak mengindahkan konsep
konservasi telah menyebabkan erosi tanah dan kemudian sedimen tersebut dibawa ke aliran
sungai serta diendapkan di kawasan pesisir. Aktivitas manusia lainya adalah menebang atau
merusak ekosistem mangrove di garis pantai baik untuk keperluan kayu, bahan baku arang,
maupun dalam rangka pembuatan tambak.

E. Konversi Kawasan Lindung ke Penggunaan Lainnya.

Dewasa ini banyak sekali terjadi pergeseran penggunaan lahan, misalnya dari lahan
pertanian menjadi lahan industri, property, perkantoran, dan lain sebagainya yang terkadang
kebijakan persegeran tersebut tanpa mempertimbangkan efek ekologi, tetapi hanya
mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek.

Demikian juga halnya yang terjadi di kawasan pesisir, banyak terjadi pergeseran lahan
pesisir dan bahkan kawasan lindung sekalipun menjadi lahan pemukiman, industri, pelabuhan,
perikanan tambak, dan parawisata. Akibatnya terjadi kerusakan ekosistem di sekitar pesisir,
terutama ekosistem mangrove. Jika ekosistem mangrove rusak dan bahkan punah, maka hal
yang akan terjadi adalah (1) regenerasi stok ikan dan udang terancam, (2) terjadi pencemaran
laut oleh bahan pencemar yang sebelumnya diikat oleh hutan mangrove, (3) pedangkalan
perairan pantai, (4) erosi garis pantai dan intrusi garam.

Kerangka Berfikir dan Penelitian

Daerah Pesisir Pantai Bali


Lestari

Tipologi

Potensi di Daerah Pesisir Permasalahan


Rekomendasi

- Pengelolaan Solusi Permaslahan


- Analisis Masalah

http://auranuranti.blogspot.co.id/2015/09/potensi-sumber-daya-laut-dan.html di akses tanggal 10


November pukul 0.43

http://azissyahban2005.blogspot.co.id/2012/12/tipologi-pengembangan-pesisir.html di akses
tanggal 9 November 2016 pukul 22.00

http://ferosiska.blogspot.co.id/2013/01/geomorfologi-pantai-wilayah-pesisir_8744.html di akses
tanggal 9 November 2016 pukul 23.57

Tesis Fenti Novita, Pengaruh Perkembangan Ekonomi Kota Bandar Lampung


Terhadap Perkembangan Kawasan Pesisir (Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan
Kota Universitas Deponegoro Tahun 2003